LSO Mekatronik UMM Sabet Juara KMHE Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui Lembaga Semi Otonom (LSO) Mekatronik Fakultas Teknik. Dalam ajang Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025 yang diselenggarakan di Universitas Jember pada 23–26 Oktober lalu, tim Mekatronik UMM berhasil meraih Juara 2, bersaing dengan puluhan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Farelian Izzata Anantara selaku Manager Tim Mekatronik menerangkan bahwa keikutsertaan UMM dalam KMHE merupakan bagian dari komitmen tim untuk terus mengembangkan riset dan inovasi di bidang teknologi transportasi ramah lingkungan. Ia menjelaskan bahwa tim Mekatronik secara konsisten mengikuti kompetisi nasional sebagai sarana pembelajaran, penguatan riset mahasiswa, sekaligus kontribusi nyata terhadap isu efisiensi energi. Farel sapaan akrabnya melanjutkan bahwasanya kategori lomba yang diikuti tim UMM adalah mobil hemat energi, yang menuntut ketelitian tinggi dalam perancangan sistem kendaraan. Mobil yang dilombakan menggunakan bahan bakar hemat energi, sehingga setiap aspek, mulai dari desain bodi, sistem pembakaran, hingga manajemen energi, harus dirancang seefisien mungkin. Tantangan ini menjadikan KMHE sebagai ajang yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga sarat nilai inovasi dan keberlanjutan. Dalam proses persiapan, tim Mekatronik UMM sempat mengalami sejumlah kendala, khususnya pada aspek teknis dan pengujian performa kendaraan. Farel mengungkapkan bahwa kendala tersebut menuntut tim untuk melakukan evaluasi berulang dan perbaikan menyeluruh. Meski demikian, tim berhasil mengatasi seluruh tantangan melalui kerja kolektif, riset berkelanjutan, serta disiplin tinggi selama masa persiapan. “Kami menghadapi tantangan pada stabilitas prototipe etanol, integrasi sistem, dan manajemen waktu, namun berhasil mengatasinya melalui pembagian tugas yang terstruktur, pengujian berkala, serta koordinasi intensif tim dan dosen pembina,” ujar Farel. Menariknya, tim Mekatronik UMM juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas penunjang, hingga dukungan moral. Dukungan ini menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi dan semangat tim selama mengikuti rangkaian kompetisi. Kehadiran UMM sebagai institusi pendukung dinilai mampu menciptakan ekosistem prestasi yang sehat dan berkelanjutan bagi mahasiswa. Sementara itu, Andi Nusa salaku pembina LSO Mekatronik UMM menilai capaian Juara 2 KMHE 2025 sebagai hasil yang baik, namun masih menyisakan ruang evaluasi dan peningkatan. Ia menegaskan bahwa prestasi tersebut harus dipandang sebagai pijakan awal untuk mendorong riset yang lebih mendalam, khususnya dalam pengembangan kendaraan hemat energi agar mampu bersaing secara lebih optimal di kompetisi berikutnya. Andi sapaan akrabnya juga mendorong tim untuk terus melakukan penelitian dan pengembangan di luar musim lomba, mengingat periode kompetisi biasanya berlangsung pada Oktober hingga Desember. Di luar rentang tersebut, mahasiswa diharapkan fokus pada riset teknis, peningkatan efisiensi energi, serta penguatan performa kendaraan agar hasil yang dicapai semakin maksimal. Terakhir, ia berpesan agar capaian ini tidak membuat mahasiswa cepat berpuas diri. Menurutnya, keseimbangan antara peningkatan kemampuan teknis dan pembinaan sumber daya manusia menjadi kunci agar tim Mekatronik UMM mampu melangkah lebih jauh dan konsisten mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang di ajang nasional maupun internasional. (alg/faq) Penulis: Musthafa Ahmad Al-Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Maraknya Balap Liar, Dosen UMM Soroti Minimnya Ruang Ekspresi Anak Muda

Maraknya balap liar di sejumlah ruas jalan Kota Malang kembali menjadi sorotan. Fenomena yang banyak melibatkan anak muda ini tidak hanya menimbulkan keresahan masyarakat, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang ruang ekspresi dan pembinaan generasi muda di kota yang dikenal sebagai kota pendidikan. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai persoalan ini perlu dilihat lebih dalam, tidak sekadar sebagai pelanggaran lalu lintas. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ibu Luluk Dwi Kumalasari, M.Si., menegaskan bahwa balap liar merupakan bagian dari masalah sosial yang dalam kajian sosiologi kerap dikategorikan sebagai kenakalan remaja. Fenomena ini, menurutnya, tidak lahir dari satu faktor tunggal, melainkan dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkait. Mulai dari kurangnya pengawasan orang tua, kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil, pergaulan yang keliru, hingga minimnya pengawasan pemerintah dan aparat. Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah keterbatasan fasilitas motorsport yang legal serta kuatnya pengaruh media sosial. “Dari beragam faktor tersebut, pergaulan menjadi pemicu yang paling dominan. Anak muda secara alamiah memiliki dorongan untuk mencari teman sebaya, mencoba hal baru, dan mendapatkan pengakuan sosial. Dalam konteks ini, balap liar kerap dijadikan ajang adu gengsi sekaligus sarana pembentukan jati diri,” ujarnya saat diwawancara tim humaa UMM 16 Desember lalu. Lebih lanjut, persoalan ekonomi juga berperan signifikan. Tidak sedikit pelaku balap liar berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah dan melihat aktivitas tersebut sebagai peluang memperoleh penghasilan, baik melalui taruhan maupun bayaran sebagai joki. Sebagai kota pendidikan, maraknya balap liar menyimpan ironi tersendiri. Fenomena ini menjadi potret realitas sosial yang seharusnya tidak dilegitimasi oleh generasi muda. Balap liar menghadirkan risiko besar, tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga bagi masyarakat luas. “Malang, seharusnya mampu berfungsi sebagai kota yang mengedukasi warganya dengan melibatkan berbagai pihak agar balap liar tidak dimaknai sebagai bentuk keberanian, kebebasan, atau jalan sah dalam pencarian identitas,” ujarnya. Pencarian jati diri dan kebutuhan akan pengakuan sosial memang tidak dapat dipisahkan dari fase remaja. Secara emosional, remaja berada pada fase ingin diakui dan dihargai. Ketika pengakuan itu diperoleh meski melalui cara yang berisiko, mereka merasa “ada” dan bernilai di mata lingkungan sosialnya. Latar belakang kelas sosial turut memperkuat kecenderungan tersebut, sebab balap legal membutuhkan biaya besar yang tidak terjangkau oleh semua kalangan. “Penertiban dan razia yang selama ini dilakukan memang belum mampu menghentikan balap liar secara berkelanjutan. Jumlah pelaku cukup banyak dan mereka kerap berpindah-pindah lokasi. Bahkan, tidak sedikit yang sudah memahami pola patroli aparat. Karena itu, penegakan hukum perlu diperkuat agar benar-benar menimbulkan efek jera. Namun, upaya tersebut tidak boleh berhenti pada penindakan saja. Media sosial juga harus diarahkan menjadi agen perubahan dengan menampilkan risiko dan dampak nyata dari balap liar, bukan justru mengglorifikasinya,” ujarnya. Dampak sosial balap liar meluas, mulai dari gangguan ketertiban, rasa tidak aman bagi pengguna jalan, hingga ancaman hilangnya nyawa. Untuk menjaga citra Malang sebagai kota pelajar, diperlukan langkah komprehensif yang bersifat preventif, represif, dan edukatif. Terakhir, Luluk berharap kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat bekerja sama membangun ruang ekspresi yang sehat bagi anak muda, termasuk penyediaan sarana penyaluran bakat yang legal agar energi, keberanian, dan kreativitas generasi muda tidak lagi tumpah di jalanan, melainkan diarahkan ke ruang yang lebih aman dan bermakna. (vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mimpi Kuliah Semakin Dekat, UMM dan Pemkot Batu Hadirkan Program 1000 Sarjana

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mempercepat pembangunan sumber daya manusia di Kota Batu melalui kolaborasi strategis. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UMM dan Pemerintah Kota Batu untuk pelaksanaan Program 1000 Sarjana. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan indeks pembangunan manusia ini dilaksanakan di GOR Gajah Mada Kota Batu pada 9 Desember lalu. Menandai komitmen bersama antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan akses pendidikan tinggi. Inisiatif Program 1000 Sarjana Pemerintah Kota Batu digagas sebagai upaya konkret untuk mendorong remaja daerah agar melanjutkan studi pada program-program unggulan. Terutama yang menopang keunggulan sumber daya alam lokal seperti pertanian dan pariwisata. UMM, sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di Kota Pendidikan. Digandeng sebagai mitra strategis untuk menjadi support system bagi daerah Kota Batu. Wali Kota Batu, Nurochman, menyebut investasi pendidikan tak bisa ditawar dan pemerintah akan terus memastikan setiap pelajar memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. Ia menegaskan bahwa komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan program beasiswa sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. “Pendanaan beasiswa menjadi prioritas untuk melahirkan SDM yang lebih kompetitif,” ujarnya Disisi lain, Muhammad Fath Mashuri, M.A., Kepala Bagian Kerjasama UMM pada Bidang IV, menjelaskan bahwa UMM tidak hanya ingin berdampak luas untuk Indonesia, tetapi juga ingin memberikan dampak nyata pada wilayah terdekat, salah satunya Kota Batu. “UMM tidak hanya mengandalkan anggaran dari Pemerintah Kota Batu, tetapi juga turut memberikan subsidi tambahan. Bentuk dukungan tersebut berupa potongan biaya studi bagi mahasiswa asal Kota Batu, di mana sebagian biaya SPP ditanggung oleh UMM dan sisanya dibayarkan oleh Pemerintah Kota Batu,” ujar Fath, menyoroti peran UMM yang proaktif dalam kemitraan ini. Dalam mekanisme Program 1000 Sarjana, proses seleksi penerima beasiswa melibatkan verifikasi dua pihak. UMM dan Pemerintah Kota Batu yang bekerja sama dalam mengidentifikasi mahasiswa aktif ber-KTP Batu. Untuk menjamin kualitas penerima, program ini menerapkan filter IPK minimum dan batas maksimal studi semester 8. Fath sapaan akrabnya menjelaskan, batasan ini penting untuk menjamin bahwa benar-benar penerima award ini adalah mahasiswa yang memiliki komitmen serius dalam menjalani proses perkuliahan. Fath yang juga merupakan dosen psikologi UMM itu juga menambahkan, bahwa Pemerintah Kota Batu secara rutin menerima laporan perkembangan studi mahasiswa dari UMM. Hal ini menjadi bahan evaluasi yang ketat untuk memastikan keberlanjutan program beasiswa setiap semesternya. Sistem evaluasi ini diselaraskan dengan visi UMM dalam mendukung percepatan pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan. “Sektor ini menjadi fokus utama karena UMM dikenal kuat dalam program-program tersebut, dan Pemerintah Kota Batu secara langsung menyoroti efektivitas kinerja UMM di bidang ini sangat mumpuni,” pungkas Fath, oleh karena itu lulusan UMM diharapkan memiliki kesiapan kompetensi yang mumpuni untuk langsung mendukung program-program unggulan Kota Batu. Selain beasiswa pendidikan, pengembangan soft skill dan karakter juga telah terintegrasi dalam kurikulum UMM melalui program P2KK (Pengembangan Kepribadian dan Kepemimpinan) serta bimbingan teknis bahasa pemrograman Python. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan kepemimpinan, etika, kerja sama, serta kompetensi digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Terakhir, Fath berpesan bahwa penting bagi generasi muda Kota Batu agar memanfaatkan peluang besar ini. “Pemerintah daerah Kota Batu dalam hal ini memberikan kepedulian yang besar, terhadap pembangunan manusia dan pengembangan soft skill generasi muda. Oleh karena itu generasi muda di Kota Batu harus memanfaatkan dan menyerap sebanyak mungkin pengetahuan yang bisa didapatkan di perguruan tinggi,” pungkasnya.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
PAI UMM Dorong Guru Masa Depan lewat Magang CoE dan Kolaborasi Pendidikan

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menutup program magang Center of Excellence (CoE) sekaligus menandatangani kerja sama dengan Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro serta empat sekolah Muhammadiyah, Kamis (11/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Aula PDM Bojonegoro ini menjadi langkah strategis memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan di daerah. Penutupan magang CoE PAI UMM dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Prodi PAI UMM dengan PDM Dikdasmen Bojonegoro dan empat sekolah mitra, yakni SMP Muhammadiyah 2 Bojonegoro, SMP Muhammadiyah 4 Balen Bojonegoro, MTs Muhammadiyah 1 Banjaranyar, serta MI Muhammadiyah 26 Mudung Bojonegoro. Kerja sama ini diharapkan menjadi fondasi penguatan pelaksanaan pendidikan, pengembangan pembelajaran, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ketua Prodi PAI UMM, Zulfikar Yusuf, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penutupan magang bukanlah akhir dari proses pembelajaran mahasiswa. Menurutnya, pengalaman langsung di sekolah mitra selama program CoE merupakan bekal penting bagi mahasiswa untuk menjadi pendidik yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Ia juga menegaskan bahwa kerja sama yang terjalin harus berorientasi pada program konkret dan berkelanjutan. “Pengalaman lapangan inilah yang akan membentuk mahasiswa menjadi guru yang kontekstual dan siap menghadapi dinamika dunia pendidikan,” tegasnya. Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UMM, Dr. Imamul Hakim, M.Sh., menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata komitmen FAI UMM dalam mewujudkan konsep link and match antara dunia akademik dan praktik pendidikan di lapangan. Kampus, lanjutnya, tidak boleh terjebak pada teori semata, melainkan harus hadir langsung untuk menjawab tantangan pendidikan di masyarakat. “Kampus harus turun tangan dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan pendidikan yang dihadapi sekolah-sekolah,” ujarnya. Dari pihak mitra, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro, Mustadjid, S.Ag., menyambut positif kerja sama tersebut. Ia berharap program magang dan kolaborasi ke depan dapat diperluas ke lebih banyak sekolah, tidak hanya terbatas pada kegiatan magang, tetapi juga mencakup riset bersama dan inovasi pembelajaran. “Kehadiran mahasiswa PAI UMM membawa semangat baru dan kami berharap kerja sama ini terus berlanjut secara berkesinambungan,” tuturnya. Melalui penutupan magang CoE dan penandatanganan kerja sama ini, Prodi PAI UMM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan Islam yang berlandaskan nilai keislaman dan kemuhammadiyahan, sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. (faqih) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Turunkan Tim Koas Kedokteran untuk Pemulihan Pascabencana di Kabupaten Agam

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberangkatkan tim bantuan kebencanaan ke Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 16 Desember 2025. Tim ini akan menjalankan program bertajuk Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana yang dijadwalkan berlangsung hingga 27 Desember 2025, sebagai bagian dari kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek). UMM dipercaya menjalankan program secara penuh dengan menangani langsung lokasi terdampak bencana di Kabupaten Agam. Salah satu koordinator kegiatan, Dr. Arina Restian, M.Pd., menjelaskan bahwa program di Agam bertujuan melanjutkan serta memaksimalkan layanan yang telah ada, khususnya di bidang kesehatan. Kebutuhan utama masyarakat meliputi layanan medis, kefarmasian, dan dukungan kedokteran, termasuk pemulihan psikososial bagi warga terdampak bencana. “Sebelumnya pada tanggal 8 Desember lalu sudah ada tim yang datang kesana, nah ini merupakan lanjutannya. Yang sekarang ini kami fokuskan kepada ranah kesehatan” ungkapnya Tim yang diberangkatkan terdiri atas 10 mahasiswa koas (calon dokter muda) Fakultas Kedokteran serta berbagai element kesehatan yang ada di UMM. Mereka membawa berbagai logistik bantuan berupa alat kesehatan, obat-obatan, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, serta perangkat pemeriksaan darah. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menyampaikan bahwa kondisi pascabencana di Agam masih membutuhkan perhatian serius. Ribuan penyintas yang terdampak bencana dan proses pemulihan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. “Program ini menjadi semangat bagi kami untuk hadir langsung membantu para penyintas yang terdampak bencana. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keterlibatan UMM dalam program ini merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Salis sapaan akrabnya juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai Muhammadiyah, kode etik, serta nama baik institusi selama menjalankan misi kemanusiaan. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah. Fokus pada kebermanfaatan dan hindari segala bentuk kerugian,” pesannya kepada tim. Melalui program yang berlangsung hingga akhir Desember ini, UMM membuktikan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan masyarakat Agam sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam respons kebencanaan berbasis kemanusiaan dan keilmuan. (faqih) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Lewat Kuliah Praktisi, EKOS UMM Kupas SIAPIK untuk UMKM

Program Studi Ekonomi Syariah (Ekos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Kuliah Praktisi bertema “Peran SIAPIK dalam Menentukan Keputusan Bisnis serta Akses Pembiayaan bagi UMKM” dengan menghadirkan Konsultan PUMKM Bank Indonesia Malang, Elviera Dewiyanti Surya Putri, sebagai narasumber, pada 9 Desember lalu di Aula GKB 4 Lantai 4 Kampus 3 UMM. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap praktik pengelolaan keuangan UMKM yang akuntabel dan berkelanjutan, khususnya dalam konteks ekonomi syariah. Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa Ekos dan menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman lapangan yang dirancang untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas dunia usaha. Melalui kuliah praktisi ini, mahasiswa diajak menjembatani teori ekonomi syariah yang dipelajari di ruang kelas dengan praktik pengelolaan usaha mikro dan kecil yang dihadapi pelaku UMKM di lapangan. Dalam pemaparannya, Elviera menjelaskan bahwa aplikasi SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan) yang dikembangkan oleh Bank Indonesia dirancang untuk membantu UMKM melakukan pencatatan keuangan secara sederhana, sistematis, dan terstruktur. Aplikasi ini memungkinkan pelaku usaha mencatat arus kas, laporan laba rugi, hingga posisi keuangan secara berkala, sehingga dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan perencanaan usaha. “Tanpa pencatatan yang baik, usaha sulit berkembang secara berkelanjutan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa penggunaan SIAPIK mampu meningkatkan kualitas dan kredibilitas laporan keuangan UMKM, yang menjadi salah satu syarat utama dalam mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan. Dengan laporan yang tertata, pelaku usaha dinilai lebih siap dan layak untuk memperoleh pembiayaan, baik dari perbankan konvensional maupun lembaga keuangan syariah, termasuk KUR dan skema pembiayaan berbasis bagi hasil. “Lembaga keuangan membutuhkan data yang valid dan dapat dipercaya,” tegasnya. Kuliah Praktisi ini mendapat respons positif dari mahasiswa yang aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan seputar mekanisme pembiayaan UMKM, tantangan literasi keuangan, serta penerapan prinsip syariah dalam pengelolaan usaha. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud komitmen Prodi Ekonomi Syariah UMM dalam memperkuat kolaborasi dengan lembaga strategis guna mencetak lulusan yang adaptif dan solutif. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori ekonomi syariah, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dalam mendampingi dan memberdayakan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional. “Ekonomi syariah harus hadir sebagai solusi nyata bagi pelaku usaha,” pungkas Elviera.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Karya Ilmiah Santri PPI AMF Tembus Ajang Internasional, Sabet Dua Medali

Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional. Dua tim santri PPI AMF berhasil meraih medali emas dan perak dalam ajang Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) yang diselenggarakan oleh Indonesia Young Scientist Association (IYSA). Kompetisi ini diikuti oleh peserta jenjang SD, SMP, dan SMA dari berbagai negara. Pada ajang tersebut, PPI AMF mendelegasikan dua tim dari jenjang SMP dan SMA. Tim SMP yang terdiri atas Luvena Bellvania Az-Zahra, Cira Araceli Wahyudi, Selma Karamy Az Zahra, Syafira Aulia Rahma, dan Tsurayya Kamila Ali sukses meraih medali emas melalui penelitian berjudul “Utilization of Orange Peel Waste Based Eco-Gel to Retain Moisture in Dry Soil”. Penelitian ini mengangkat inovasi pemanfaatan limbah kulit jeruk menjadi eco-gel yang berfungsi menjaga kelembapan tanah kering. Perwakilan tim, Luvena Bellvania Az-Zahra, menjelaskan bahwa ide penelitian tersebut berangkat dari banyaknya sampah kulit jeruk yang terbuang di lingkungan sekitar. Melalui riset yang dilakukan, tim menemukan bahwa kulit jeruk mengandung pektin yang mampu menyimpan dan menjaga kelembapan. “Kami melihat tanah di Indonesia mulai banyak yang mengering. Dari situ kami ingin membuat inovasi sederhana yang bisa membantu menjaga kestabilan kelembapan tanah,” ungkapnya di PPI AMF, Sabtu (13/12/2025). Ia menambahkan, pemilihan bentuk gel terinspirasi dari penggunaan silica gel pada sepatu. Eco-gel berbahan dasar kulit jeruk ini cukup diaduk ke dalam tanah kering. Berdasarkan uji coba selama tujuh hari, tanah yang diberi eco-gel terbukti tetap lembap. Sementara itu, tim SMA PPI AMF yang terdiri atas Thaariq El Haq Bahtiar, Muhammad Kuffih Taqiyuddin, Naufal Azka Fathony, Khairunnisa Aqila Nurrahima, Lintang Zhafira Nuha, dan Naila Hana Rosyida berhasil meraih medali perak. Mereka mengusung penelitian berjudul “Revitalization of the Javanese Language in the Modern Era Through a Digital Learning App, Aksara” yang berfokus pada pelestarian bahasa Jawa melalui pengembangan aplikasi pembelajaran digital. Pembina Kelas Karya Tulis Ilmiah (KTI) PPI AMF, Nabila Almayda, mengaku sangat bangga atas proses dan capaian para santri. Menurutnya, prestasi ini menjadi langkah awal yang sangat baik untuk pengembangan potensi santri ke depan. “Lebih membanggakan lagi, ini merupakan event pertama yang mereka ikuti, tetapi mereka sudah mampu menunjukkan usaha dan potensi terbaiknya,” ujarnya. Dalam proses pembinaan, Nabila mengenalkan penulisan karya tulis ilmiah beserta strukturnya sejak awal pembelajaran. Para santri juga dibekali kemampuan menulis artikel ilmiah, mengingat I2ASPO mewajibkan pengiriman karya dalam bentuk artikel. Untuk tim SMP, pembinaan juga mencakup analisis laboratorium, mulai dari pembuatan eco-gel hingga pengujian kelembapan, pH, dan intensitas cahaya tanah selama tujuh hari. Sementara tim SMA lebih banyak melakukan konsultasi terkait desain aplikasi serta pengembangan konten dan fitur. Ke depan, Nabila berharap artikel ilmiah yang disusun para santri dapat dipublikasikan di jurnal bereputasi, minimal terindeks Sinta. Ia juga berencana mendorong santri mengikuti berbagai kompetisi lain, baik nasional maupun internasional, agar semakin banyak inovasi yang lahir. Rasa bangga turut dirasakan oleh Khairunnisa Aqila Nurrahima dari tim SMA. Ia mengaku tidak menyangka penelitian yang dikerjakan bersama timnya mampu meraih prestasi di ajang internasional. “Semoga penelitian kami bisa benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat,” pungkasnya. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Pakar UMM Soroti Kekeliruan Menyamakan Sawit dengan Hutan

Ramainya pemberitaan mengenai rencana pemerintah membuka ratusan ribu hektare lahan sawit memunculkan kembali perdebatan mengenai dampak ekologis komoditas tersebut. Ada sekelompok masyarakat yang masih menganggap bahwa sawit memiliki fungsi yang serupa dengan pohon hutan dalam hal penyerapan air dan pencegahan banjir. Dalam hal ini, Febri Arif Cahyo Wibowo, M.Sc., akademisi kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti bahwa penyamaan fungsi tersebut justru dapat menyesatkan pemahaman publik mengenai ekosistem hutan dan daya dukung lingkungannya. Dalam pandangannya, perbedaan paling mendasar antara sawit dan pohon hutan terletak pada struktur akar dan karakter vegetasi. Ia menjelaskan bahwa akar sawit bersifat serabut dengan kedalaman rata-rata hanya sekitar satu meter sehingga kemampuan menyerap dan menyimpan air sangat terbatas. Sebaliknya, pohon hutan memiliki akar yang dapat menjangkau kedalaman dua hingga tiga meter, dan pada kondisi tertentu bahkan mencapai sepuluh meter. Perbedaan struktur ini membuat pohon hutan jauh lebih efektif dalam menjaga keseimbangan hidrologi dan kestabilan tanah. “Sawit adalah tanaman perkebunan bukan tanaman hutan. Masyarakat tidak bisa begitu saja menyamakan kapasitas ekologis sawit dengan pohon hutan alam. Kalau soal mempertahankan air, pohon jelas lebih unggul,” ujarnya saat diwawancara tim humas UMM 12 Desember lalu. Lebih jauh, dosen kehutanan tersebut menerangkan bahwa sistem tanam sawit yang bersifat monokultur turut memperbesar kerentanan ekologis. Lantai kebun sawit yang bersih dari tumbuhan bawah membuat air hujan jatuh langsung menghantam permukaan tanah tanpa peredam alami. Sementara itu, hutan alam memiliki struktur vegetasi berlapis yang mampu menahan, memperlambat, dan menyebarkan aliran air hujan sebelum mencapai tanah. Kondisi ini tidak hanya menjaga kelembapan tanah, tetapi juga mengurangi peluang terjadinya erosi. “Dalam konteks kebijakan ekspansi sawit, risiko erosi merupakan ancaman paling dekat terutama pada kawasan dengan topografi miring. Banyak penelitian menunjukkan tingkat erosi di lahan sawit pada lereng tergolong tinggi. Kalau intensitas hujan tinggi dan tidak ada vegetasi penahan, dampaknya bisa sangat besar. Regulasi sebenarnya sudah sangat jelas, tinggal ditaati saja,” tuturnya. Menurut Febri, meningkatnya intensitas hujan akibat perubahan iklim dapat memperburuk kerentanan lingkungan ini apabila perluasan sawit dilakukan tanpa memperhatikan karakteristik lahan. Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu memastikan pengembangan sawit tidak terjadi di kawasan rawan bencana dan harus mempertimbangkan daya dukung tanah. Ia juga menambahkan bahwa kementerian terkait sebenarnya sudah memiliki aturan tentang pengelolaan hutan produksi dan hutan tanaman industri, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan aspek ekologis. Pemerintah, kata dia, harus menghindari keputusan yang mengorbankan fungsi ekologis hutan demi kepentingan ekonomi jangka pendek. “Buat blok-blok khusus untuk sawit, dan kembalikan fungsi hutan pada kawasan yang secara ekologis tidak cocok untuk kebun. Jangan memaksakan sawit tumbuh di tempat yang memang bukan habitatnya. Kalau konservasi ingin berjalan, fungsikan hutan sesuai peruntukannya,” tegasnya. Ia berharap diskusi tentang sawit dapat ditempatkan dalam perspektif yang seimbang antara ekonomi dan konservasi. Febri mengingatkan bahwa sawit memang memberi keuntungan ekonomi, tetapi tidak dirancang oleh alam untuk menggantikan fungsi ekologis hutan alam. Karena itu, kebijakan ke depan harus memastikan bahwa ekspansi sawit tidak mengganggu ketahanan ekologis kawasan hutan, apalagi mengancam keselamatan masyarakat di wilayah rawan bencana.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
CoE Kehutanan UMM Buka Jalan Global, Tiga Mahasiswa Lolos Internship Jepang

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tiga mahasiswa yang berhasil lolos pada program International Internship melalui Center of Excellence (CoE) Forest Industry dan akan menjalani magang profesional di perusahaan Kyushu Bark, Jepang. Mereka adalah Adib Minanur Rohman, Ahmad Hafidh Ramadhan, dan Muhammad Hafidz Alfanani, yang semuanya merupakan mahasiswa angkatan 2022. Internship ini menjadi bagian dari kerja sama Forest Industry CoE dengan NOSUTA Jepang yang memfasilitasi mahasiswa kehutanan Indonesia untuk belajar langsung mengenai industri hutan di Jepang. Salah satu peserta, Adib Minanur Rohman, menceritakan proses hingga dirinya dinyatakan lolos. Ia mengatakan bahwa dirinya mengikuti seleksi pada batch kedua, dengan tahapan penilaian yang cukup ketat. “Kami melewati beberapa tahap seleksi, termasuk mensetsu atau wawancara langsung oleh pihak perusahaan menggunakan bahasa Jepang, dibantu penerjemah bahasa Inggris. Untuk batch dua ini juga diutamakan menyertakan tes fisik,” jelasnya saat diwawancara tim Humas UMM pada 10 Desember lalu Kyushu Bark merupakan salah satu perusahaan yang berfokus pada bidang kehutanan, khususnya dalam proses pemanenan kayu. Adib mengatakan bahwa selama magang mereka akan terlibat langsung pada aktivitas lapangan. “Contoh kegiatannya seperti pemanenan menggunakan alat senso, teknik grass cutting atau pembersihan lahan sebelum panen kayu, hingga memahami sistem kehutanan di Jepang”. Selama mengikuti program CoE, para peserta mendapatkan berbagai pembekalan awal sebagai persiapan sebelum terjun ke industri Jepang. Pembelajaran yang diterima tidak hanya seputar teknis kehutanan, tetapi juga kemampuan bahasa dan budaya kerja Jepang. “Kami belajar bahasa Jepang, materi kehutanan yang tidak diajarkan di kelas biasa, serta praktik penggunaan alat senso,” terang Adib. Selain magang internasional, CoE Forest Industry juga menargetkan peserta untuk memperoleh SSW (Specified Skilled Worker), yaitu sertifikasi keterampilan kerja spesifik bidang kehutanan yang akan membuka peluang karier lebih luas di Jepang. “Setiap peserta diharapkan nantinya bisa mendapatkan sertifikasi SSW. Kalau sudah mempunyai sertifikat itu, kesempatan bekerja di Jepang makin besar,” tambah Adib. Program internship ini rencananya akan mulai diberangkatkan pada pertengahan Februari 2026 mendatang. Saat ini para peserta tengah menyiapkan berbagai dokumen administrasi seperti visa, paspor, hingga tes JFT sebagai syarat untuk keberangkatan. Mereka akan menjalani internship selama enam bulan, yaitu Februari hingga Agustus 2026. Melalui CoE ini, harapannya semakin banyak mahasiswa yang mampu menembus industri global dalam pengelolaan sumber daya kehutanan yang berkelanjutan. Program internship ini tidak hanya menjadi wadah belajar saja bagi peserta, tetapi juga membuka jalan karier mahasiswa dalam persaingan dunia profesional internasional di dunia kerja.(*abm/faq) Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dosen UMM Tegaskan Peran Perempuan sebagai Kekuatan di Medan Bencana

Banjir bandang yang melanda Sumatera pada akhir November lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan secara fisik, tetapi juga luka sosial yang mendalam. Di tengah situasi yang terus berubah dan kabar kehilangan yang datang setiap jamnya, peran perempuan dalam respons bencana semakin terlihat menonjol. Salah satu di antaranya adalah Ir. Iis Siti Aisyah, M.T., Ph.D., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang terjun langsung sebagai relawan. Iis sapaan akrabnya mengaku naluri keibuannya membuatnya sulit berpaling dari kabar bencana. “Sebagai ibu, hati saya langsung tertegun ketika melihat kondisi para penyintas,” ujarnya saat diwawancarai tim Humas UMM pada 11 Desember lalu,. Ia menegaskan bahwa dorongan untuk membantu muncul dari keinginan melakukan apa pun yang dapat meringankan beban masyarakat terdampak. Keterlibatannya ini merupakan bagian dari kolaborasi resmi UMM dan Universitas Brawijaya (UB) dalam tanggap darurat yang berangkat pada 8 Desember lalu. Tim relawan fokus membantu di Kabupaten Agam, terutama di Malalak, Palembayan, dan Maninjau. Dari UMM, ada 3 dosen dan 16 mahasiswa Maharesigana yang diterjunkan. Iis dipercaya menjadi Koordinator Dapur Umum, posisi yang membutuhkan ketelitian, manajemen logistik, serta kepekaan membaca kondisi sosial penyintas. Di dapur umum, relawan perempuan bergerak cepat menyiapkan makanan dan mengatur alur kerja agar semuanya tetap tertib. Kepekaan mereka membuat penyintas merasa lebih diperhatikan, bahkan hanya lewat sapaan singkat saat mengambil makanan. Kehadiran mereka membuat dapur umum terasa lebih teratur dan hangat.“Kadang orang lupa, perempuan itu bukan hanya bantu masak. Tapi kami juga membaca kebutuhan, menenangkan yang gelisah, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Di situ letak kekuatan kami.” Ungkapnya. Iis menegaskan bahwa kontribusi perempuan bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi merupakan bagian vital dari kerja kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa perempuan memiliki keunggulan seperti adaptif, teliti, empatik, serta kemampuan membangun bonding yang kuat serta semua sifat yang berpengaruh besar terhadap efektivitas tim di lapangan. Sensitivitas perempuan, menurutnya, juga menjadi kekuatan yang dapat mempercepat proses pemulihan sosial, terutama bagi masyarakat yang sedang berada dalam kondisi trauma. “Kadang masyarakat yang mengalami trauma lebih mudah membuka diri kepada perempuan, dan hal itu membuat komunikasi serta penanganan psikososial menjadi jauh lebih optimal.” katanya Dosen teknik itu juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan di daerah rawan bencana. Menurutnya, masyarakat perlu membangun budaya kesiapsiagaan, sementara pemerintah harus memperkuat sistem respons awal ketika tanda-tanda bencana muncul. “Kita tidak boleh menunggu sampai terlambat. Begitu ada indikasi bahaya, harus ada langkah cepat, terukur, dan jelas,” ucapnya. Di akhir keterangannya, ia menyampaikan harapan agar sistem peringatan dini di Indonesia dapat diperbaiki dan diperkuat. Baginya, teknologi peringatan dini yang lebih akurat akan memberi kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. “Saya hanya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena telat mendapat informasi. Empati, persatuan, dan kemampuan bergerak cepat adalah kunci agar kita bisa bertahan menghadapi bencana serupa di masa depan,” pungkasnya.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman