Festival Bahasa Arab UMM Gandeng Ratusan Pelajar untuk Bersaing

Pendidikan Bahasa Arab UMM gelar ajang tahunan Al Arabiya Festival Expo (ALEPO) yang dilaksanakn 19 Februari lalu. Ada sederet kegiatan yang dilangsungkan, mulai dari debat bahasa arab, pidato, puisi, dan lainnya. Ada ratusan siswa dari berbagai daerah yang bersaing dan berlomba untuk mendapatkan juara. Nabilatin Nadif selaku ketua pelaksana mengatakan, event ALEPO ini diadakan dengan harapan dapat menarik minat para siswa-siswi dari sekolah lain untuk mengetahui potensi yang bisa diraih ketika berkuliah di PBA. Ia berharap ALEPO dapat berkembang dan semakin meningkatkan minta siswa untuk belajar bahasa Arab. Apalagi mengingat bahwa Indoensia juga menjadi salah satu negara dengan penganut muslim terbesar di dunia. Sehingga Bahasa Arab akan selalu dibutuhkan. “Ada berbagai lomba yang bisa diikuti. Ini menjadi cara kami untuk mendorong siswa untuk mendalami bahasa Arab,” katanya menambahkan. Adapun, salah satu aktivitas yang menarik adalah seminar yang dilaksanakan pada pembukaan ALEPO 2025 ini. Turut hadir Dewantoro Ratri, Founder Mainkata Translation Production dan aktor voice over profesional yang memberikan motivasi. Ia mendorong para mahasiswa untuk menggali berbagai potensi pekerjaan yang nantinya dapat dilakukan oleh para lulusan dari jurusan PBA. “80% lulusan mahasiswa di Indonesia memilih pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusannya. Namun, apabila kalian mengambil jurusan pendidikan bahasa arab (PBA), dijamin kalian tidak akan tersesat saat mencari pekerjaan. Karena, bahasa arab akan tetap selalu dibutuhkan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, utamanya di Indonesia,” katanya menambahkan. Ia juga menjelaskan terkait dunia voice over. Dewo sapaan akrabnya mengatakan, terdapat tiga elemen komunikasi yang harus diperhatikan yakni kata-kata, intonasi, dan artikulasi suara. Sementara itu alat penunjang seperti microphone dan sound card juga sangat dibutuhkan oleh seorang voice over. Sehingga dalam kegiatan ini, Dewo juga mengenalkan dan mengajarkan banyak hal baru mengenai dunia voice over, seperti halnya tes vokal. “Mempunyai keterampilan mengisi suara (voice over) merupakan keterampilan yang luar biasa. Maka dari itu kita harus sering melakukan latihan vokal, agar dapat menggali kemampuan vokal yang telah dimiliki. Segmen suara tertentu dapat mewakili emosi tertentu dan emosi tertentu. Ini akan berpengaruh pada produk iklan tertentu,” Ujarnya. Ia mengatakan, menjadi seorang voice over tentu bukan hal yang mudah. Mendapatkan voice over yang luar biasa dengan durasi 2 menit membutuhkan usaha yang keras. Bahkan memerlukan waktu perekaman hingga satu jam. Maka dari itu ia menyampaikan  bahwa ke depannya industri ini akan tetap selalu dibutuhkan. “Apakah ada kemungkinan untuk digantikan dengan AI? Tergantung, tapi saya meragukannya karena kualitas suara seorang manusia lebih keren,” tambahnya. (zaf/wil)

Tim Mahasiswa UMM Latih Siswa SMA Cara Menanggulangi Bencana Alam

Menebar manfaat untuk masyarakat menjadi motto mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya dilakukan Fathur Reyhan Rahayanto dan tim yang ajari anak-anak SMA tentang cara menanggulangi bencana alam, pada 18 Februari lalu. Menariknya, mereka bekerjasama dengan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM dalam memberikan materinya. Fathur menjelaskan bahwa seminar hadir untuk meningkatkan kesadaran serta pemahaman masyarakat, khususnya para siswa dan pemuda, tentang cara menghadapi dan mengelola bencana alam dengan lebih baik. Sehingga nanti para siswa dapat memahami apa yang harus dilakukan ketika berada di situasi bencana. “Ada beberapa materi yang diberikan seperti macam-macam strategi mitigasi bencana, teknik evakuasi, serta pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat,” katanya menambahkan. Beberapa tips yang diberikan oleh Maharesigana terkait strategi evakuasi di antaranya menghindari panik dan selalui mengikuti instruksi serta bekerja sama dengan petugas. Selain itu, kalau bisa, alat-alat kerja yang ebrhubungan dengan listrik dimatikan dan tidak menunda untuk meninggalkan gedung jika berada di dalam. Menyimpan nomor telepon penting seperti polisi, BPBD, pemadam kebakaran, dan rumah sakit juga menjadi hal yang penting. Ke depannya, Fathuer berharap program ini  bisa terus berlanjut ke berbagai sekolah. Paling tidak para generasi muda bisa tahu cara yang benar dalam menghadapi bencana. Kehadiran Maharesigana UMM juga menjadi bukti berkomitmen UMM untuk terus mengedukasi masyarakat melalui berbagai program pelatihan dan seminar lainnya. Pelatihan ini juga jadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya berperan dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki peran aktif dalam membantu masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana. Di sisi lain, kolaborasi untuk keselamatan bersama kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta, termasuk para siswa SMK Muhammadiyah Pagak. Mereka sangat antusias dalam mengikuti diskusi dan simulasi yang diberikan. Mereka diberikan pelatihan dasar dalam menghadapi berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, banjir, dan kebakaran. “Seminar ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai generasi muda untuk lebih memahami langkah-langkah yang harus diambil saat terjadi bencana. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan di masa mendatang,” ujar Ketua IPM SMK Muhammadiyah Pagak. Adapun Fathur tidak sendiri, ia ditemani teman-teman lain di tim tersebut. Di antaranya Devi Anggraini, Stella Nuri Putri Sinaga, Ditya Achmarian Sagriya Bangga, dan Mohamad Fakhri. Mereka saling bahu membahu untuk menjalankan program ini dengan bimbingan dari dosen Havidz Ageng Prakoso, S.IP, M.A. (*/wil)

Kesos UMM Gandeng FILANTRA, Latih Perusahaan Metode SROI untuk CSR

FILANTRA bersama Program Studi Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sukses menyelenggarakan Training Social Return on Investment (SROI) di Rayz Hotel UMM. Kegiatan yang dilaksanakan pada 19 Februari ini diikuti oleh 15 perusahaan BUMN dan swasta yang berkomitmen memperkuat strategi implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang berkelanjutan. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazarudin Malik, S.E., M.Si., secara resmi membuka pelatihan ini. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya investasi sosial sebagai upaya strategis perusahaan dalam menjaga kesinambungan bisnis. Selain itu juga menciptakan dampak positif bagi masyarakat. “Investasi sosial yang dikelola dengan baik tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan, tetapi juga aset jangka panjang yang memperkuat daya saing dan reputasi perusahaan di tengah dinamika global saat ini,” tegas Nazar. Adapun Pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai SROI, tetapi juga memberikan ruang diskusi intensif dalam menyusun strategi CSR yang terukur dan berdampak luas. Melalui studi kasus dan praktik langsung, diharapkan para peserta mampu mengimplementasikan SROI secara optimal di perusahaan masing-masing. SROI merupakan metode untuk mengukur dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi dari suatu program dan dapat digunakan untuk menilai keberhasilan program CSR. Adapun SROI dapat membantu di sederet aspek. Misalnya mampu membantu memahami nilai sosial dari program, membantu investor membuat keputusan investasi yang tepat, hingga mendorong perubahan positif terhadap masyarakat dan lingkungan. Metode ini juga diharapkan bisa memberikan pemahaman akan pengetahuan tentang dampak sosial apa yang akan terjadi serta strategi apa yang harus digunakan. SROI juga memiliki prinsip-prinsip utama, yakni turut melibatkan pemangku kepentingan, memahami perubahan yang terjadi dan menghargai hal-hal penting. SROI juga harus transparan dan selalu melakukan verifikasi lingkungan terhadap hasilnya. Di sisi lain, Manager FILANTRA Azlia menyampaikan bahwa kepercayaan dari 133 mitra FILANTRA selama ini menjadi dorongan utama untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan. “Kami bangga bisa bermitra dengan universitas-universitas ternama, termasuk Universitas Muhammadiyah Malang. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara dunia usaha dan dunia akademik mampu menghasilkan solusi sosial yang efektif dan berkelanjutan,” tutur Azlia. Hal serupa juga disampaikan Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si. yang menyatakan bahwa kerja sama dengan FILANTRA adalah salah satu kemitraan nasional produktif yang selama ini mendukung program studi dalam pelaksanaan praktikum, magang, dan kuliah profesi. Ke depan, kerja sama ini akan dikembangkan dalam bentuk riset kolaboratif, penyelenggaraan lembaga sertifikasi, dan proyek-proyek inovatif untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi mahasiswa dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Dengan semangat kolaborasi ini, FILANTRA dan Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program inovatif yang mendukung pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan. (*/wil)

Dua Mahasiswa HI UMM Jadi Delegasi dalam Youth Diplomacy Forum

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Romil Sahab Putra dan Infitahul Khoir terpilih sebagai delegasi dalam Youth Diplomacy Forum. Agenda yang dilaksanakan pada Januari 2025 itu diselenggarakan oleh Organisation of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia bekerja sama dengan Islamic Cooperation Youth Forum (ICYF) di Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), Masjid Istiqlal, Jakarta. Sederet tokoh penting hadir dalam forum tersebut. Di antaranya Presiden Islamic Youth Forum dan Dewan Pembina OIC Ahmad Fauzan. Turut hadir duta besar dari sederet negara-negara seperti H.E. Talip Küçükcan dari Republik Turki, H.E. Zuhair Al-Shun dari Palestina, H.E. Abdelouahab Osane dari Aljazair, dan H.E. Yassir Mohamed Ali Mohamed dari Sudan. Adapun Romil menjelaskan bahwa forum ini diikuti oleh 67 mahasiswa dari berbagai universitas serta dihadiri oleh delegasi dari negara-negara anggota OKI. Dengan tema ‘The OIC’s Responsibility Through Youth Role in Promoting Interfaith Dialogue’, forum ini membahas pentingnya dialog lintas agama dalam menciptakan perdamaian dan pemahaman global. Para peserta terlibat dalam diskusi dan debat yang membangun, memperdalam wawasan mereka tentang misi diplomatik OIC. Ia melanjutkan, MOIC merupakan simulasi diplomasi yang meniru dinamika pertemuan resmi OIC, di mana peserta berperan sebagai delegasi negara-negara anggota OIC. Mereka mendiskusikan isu-isu global seperti perdamaian, dialog lintas agama, pendidikan, dan pembangunan ekonomi. Forum ini bertujuan memperkenalkan generasi muda pada mekanisme kerja Organisasi Kerjasama Islam (OKI/OIC) sekaligus membangun pemahaman mereka mengenai tantangan global di dunia Islam. Dalam forum ini, ditekankan peran strategis pemuda dalam mendorong dialog lintas agama sebagai salah satu jalan menciptakan harmoni global. Peserta juga mendapatkan pelatihan untuk mengasah keterampilan diplomasi mereka, yang diharapkan dapat diterapkan dalam menyelesaikan berbagai tantangan dunia di masa depan. Lebih lanjut, Romil menilai bahwa anak muda harus berperan dalam diplomasi internasional, termasuk di ruang organisasi Islam dunia. Forum ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan negara-negara anggota OIC serta memberikan dampak positif bagi perdamaian dan kesejahteraan umat Islam secara global. Menurutnya, agenda ini merupakan komitmen anak muda untuk memperkuat hubungan diplomatik serta membangun jaringan pemuda dunia Islam. “Semoga keikutsertaan kami bisa memberikan dampak dan mengajak anak-anak muda untuk berperan. Tidak hanya di tingkat nasional tapi juga internasional. Ini juga menjadi wadah kami untuk menerapkan ilmu yang sudah didapat dari UMM, “ tegasnya mengakhiri. (*/wil)

Mahasiswa Informatika UMM Ini Juarai Ajang Motocross Bergengsi

Tidak jarang, hobi pada akhirnya membawa pada rentetan prestasi. Hal itu pula yang dirasakan mahasiswa prodi Tenik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Javier Bhagawanta. Berkat hobinya, ia sukses memenangkan banyak kejuaraan motocross. Terbaru, Javier berhasil meraih juara 2 dalam ajang Dewo Mx Iwak Grasstrack and Motocross Open Campionship Nassi Series 2025, 1-2 Februari lalu di Kediri. Uniknya, dalam perlombaannya kali ini, Javier tidak menyangka apabila lawan mainnya banyak yang memiliki jam terbang lebih tinggi dibanding dirinya. Namun hal itu tidak membuatnya ragu ataupun menyerah sedikitpun dalam ajang ini, karena menurutnya hal tersebut semakin memotivasinya untuk dapat menjuarai ajang ini. Javier mengungkap, pengalaman unik ini menjadi hal berkesan selama mengikuti ajang motocross, mengingat selama ini ia hanya dapat melihat lawan mainnya tersebut melalui berita ataupun media sosial saja. Javier mengatakan, ia memang menyukai dunia motocross sejak belia. Ia selalu bersemangat menonton pertandingan motocross melalui televisi. Namun ia belum memiliki keberanian untuk terjun menjadi pembalap. Hingga akhirnya saat menginjak usia SMP, ia mulai mencoba berlatih motocross dan mendapat dukungan dari orang tuanya. Menurutnya, dukungan orangtua merupakan hal penting dalam setiap kegiatan dan mimpi anak-anak. “Perbanyak latihan, olahraga fisik, tidur teratur, dan menjaga pola makan yang teratur agar mendapat kondisi tubuh yang fit saat mengikuti perlombaan. Meski harus menjalani kuliah dan banyak tugas, saya menyempatkan diri untuk berlatih. Kegiatan ini membuat saya jadi lebih bersemangat dan proses refreshing,” katanya. Javier mengakui, menjalankan hobi sembari menjadi mahasiswa Teknik Informatika memberinya sebuah tantangan tersendiri. Ketika sedang memiliki banyak tugas, ia harus memanajamen waktu agar bisa berlatih dan memenangkan kompetisi. Ia sering menghabiskan malam hari untuk mengerjakan tugas danberaltih setelahnya. Menurutnya, potensi dan studinya harus sama-sama berjalan beriringan. Terakhir, Javier berpesan pada generasi muda untuk selalu mengusahakan apa saja yang diimpikannya. Tidak hanya diam menunggu waktu habis berlalu, tapi benar-benar mencoba. Lebih baik sedikit bergerak daripada tidak sama sekali. “Ke depan, saya berharap bisa banyak memenangkan kejuaraan. Terutama di tingkat provinsi dan nasional seperti PON. Saya yakin dengan dukungan penuh UMM dan orangtua, mimpi ini bisa terwujud,” pungkasnya. (zaf/wil)

Empat Mahasiswa Teknik Mesin UMM Lolos Program Fast-Track Bergengsi di Taiwan

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Empat mahasiswa terbaik dari Program Studi Teknik Mesin UMM berhasil lolos seleksi ketat Program Fast-Track Beasiswa Formosa TIP (Talent Internship Program) di National Formosa University (NFU), Taiwan. Program ini hanya menyediakan 15 kuota beasiswa untuk mahasiswa dari 18 universitas mitra NFU di Asia, dan mahasiswa Teknik Mesin UMM sukses menembus persaingan tersebut. Ketua Program Studi Teknik Mesin, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., Ph.D. menjelaskan, program Fast-Track ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa tingkat akhir Teknik Mesin untuk menjalani perkuliahan satu semester di Taiwan. Kemudian juga mengambil tiga mata kuliah serta mengerjakan proyek penelitian di bawah bimbingan profesor NFU. Hasil dari proyek ini nantinya akan dikonversi sebagai skripsi di UMM, sehingga setelah menyelesaikan program, mahasiswa akan mendapatkan ijazah S1 dari UMM dan dapat langsung melanjutkan studi S2 di NFU dengan beasiswa penuh. Lebih lanjut, Iis menegaskan bahwa keberhasilan ini membuktikan kualitas dari mahasiswa Teknik Mesin UMM di tingkat global. Program Fast-Track ini adalah jalur percepatan bagi mahasiswa yang tidak hanya untuk menyelesaikan studi S1, tetapi juga langsung meraih beasiswa S2 di salah satu universitas terbaik di Taiwan. Ini adalah bukti bahwa Teknik Mesin UMM mampu bersaing dan menjadi yang terbaik. “Manfaatkan kesempatan ini untuk menggali ilmu, memperluas jejaring, dan membawa pulang pengalaman yang bisa menginspirasi mahasiswa lainnya,” pesannya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, Ph.D., memberikan motivasi dan arahan kepada mahasiswa sebelum keberangkatan. Menurutnya, kesempatan ini bukan hanya soal akademik, tetapi juga soal bagaimana para mahssiwa membangun jaringan yang luas. Sehingga ke depan, akan uncul berbagai kesempatan lain. “Perluas pergaulan, tetapi tetap jaga batasannya. Jangan lupa untuk menjaga disiplin, integritas, dan yang terpenting, tetap menjalankan ibadah, termasuk sholat. Tunjukkan bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berakhlak baik,” pesannya. Acara pelepasan ini menjadi momen penting dalam perjalanan pendidikan mereka. Bukan sekadar seremoni, tetapi juga wujud apresiasi atas usaha, kerja keras, dan semangat para mahasiswa yang telah berjuang hingga mendapatkan kesempatan luar biasa ini. Keberangkatan mereka ke Taiwan bukan hanya kebanggaan bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi keluarga, universitas, dan bangsa. Adapun Keberhasilan mahasiswa Teknik Mesin UMM dalam Program Fast-Track Formosa TIP ini semakin memperkuat reputasi UMM sebagai kampus yang mendukung pengembangan mahasiswanya di kancah internasional. Program ini juga sejalan dengan visi Internasionalisasi UMM 2030 yang menargetkan peningkatan mobilitas akademik, kolaborasi riset global, serta peningkatan jumlah mahasiswa dan dosen yang berpartisipasi dalam program akademik internasional. (*will)

Berbekal Ilmu dari IP UMM, Nada Sukses Jadi DPRD di Usia Muda

Usia tidak menentukan kapasitas dan kemampuan. Hal itu pula yang terlihat dari salah satu alumnus Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) Lutfitunnada Purwaningrum. Meski usianya masih muda, namun ia sukses berkarir di dunia politik. Bahkan berhasil meraih posisi sebagai anggota DPRD Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kepercayaan publik terhadapnya semakin kuat, terbukti dengan keberhasilannya mempertahankan kursi legislatif untuk periode kedua dalam Pemilu 2024. Sejak masa kuliah, Nada yang kini baru 29 tahun memang dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan organisasi. Minatnya terhadap pemerintahan dan politik mendorongnya untuk lebih banyak terlibat dalam aktivitas sosial serta kepemudaan. Bekal pengalaman ini menjadi modal penting yang membantunya meniti karier politik hingga berhasil menjadi wakil rakyat di usia muda. Dalam wawancara, Nada mengungkapkan bahwa dunia politik merupakan arena penuh tantangan, terutama bagi perempuan muda. “Banyak yang meragukan kapasitas saya saat pertama kali mencalonkan diri. Namun, saya percaya bahwa kerja keras, komitmen, dan niat yang baik akan membawa hasil. Apalagi ada banyak pengalaman dan materi yang saya kuasai saat menjadi mahasswa di IP UMM,” ujarnya. Selain berkarier di dunia politik, Nada juga menjalankan peran sebagai ibu satu anak. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan tanggung jawab sebagai anggota dewan. Menurutnya, menjadi wakil rakyat adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Meski begitu, ia juga tetap berkomitmen menjalankan peran sebagai ibu. Keduanya sama-sama penting dan saling melengkapi. Keberhasilan Nada menjadi anggota DPRD di usia muda menjadi inspirasi bagi anak-anak muda dan alumni UMM. Khususnya bagi mereka yang bercita-cita berkarier di bidang pemerintahan dan politik. Ketua Program Studi IP UMM Muhammad Kamil, S.IP., M.A. turut mengapresiasi pencapaian Nada. Ia merasa sangat bangga melihat alumni IP UMM mampu bersaing di dunia politik dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Nada adalah bukti bahwa lulusan IP UMM memiliki kompetensi dan daya saing yang tinggi. “Harapannya, tentu kesuksesan RA Lutfitunnada Purwaningrum dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berkarya, berkontribusi, dan berperan aktif dalam membangun daerah serta bangsa. Tidak hanya di bidang politik, tapi juga di berbagai bidang lainnya,” pungkasnya mengakhiri. (*/wil)

Ke Banyuwangi, Magister Sosiologi UMM Ajari Guru Pemberdayaan Sosial

Program Studi Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana (DPPS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ajak diskusi puluhan guru sosiologi Banyuwangi, 4 Februari lalu. Ini menjadi cara Sosiologi UMM untuk memperkuat pengajaran Sosiologi di sekolah menengah dan membangun sinergisitas materi pembelajaran dengan bangku universitas. Adapun agenda yang berkolaborasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Banyuwangi itu dilangsungkan di SMAN 1 Rogojampi, Banyuwangi. “Lebih dari 36 guru sosiologi hadir dan mengobrol bersama. Kita berdiskusi juga terkait aspek pemberdayaan, termasuk strategi agar pemberdayaan bisa diterapkan secara efektif di lapangan. Kita membahas bagaimana mencapai nilai dari pemberdayaan, isu-isu utama yang perlu diperhatikan, serta bagaimana mengajarkan konsep ini secara menarik kepada siswa,” jelas Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D. selaku ketua prodi magister sosiologi UMM. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan perubahan sosial dan pembangunan. Oleh karena itu, siswa tidak hanya perlu memahami teori, tetapi juga harus mampu mengkritisi dan merancang strategi pemberdayaan sesuai kondisi sosial di lingkungan mereka. Adapun di Banyuwangi, pariwisata berbasis ekologi menjadi sektor penting. Guru dapat mengajarkan siswa bagaimana mengembangkan pariwisata tanpa merusak lingkungan, sehingga mereka memahami konsep sekaligus berpikir kritis. Rachmad juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas guru agar pembelajaran Sosiologi lebih menarik dan kontekstual. “Kita ingin memfasilitasi guru agar tidak hanya mengajarkan teori dari buku teks, tetapi juga membawa realitas sosial praktis dan praxis ke dalam kelas. Dengan begitu, siswa lebih kritis dalam melihat permasalahan sosial dan mencari solusinya,” katanya. Melihat antusiasme peserta, Rachmad menegaskan bahwa kegiatan ini akan terus berlanjut. Ia berencana menerapkan metode pembelajaran berbasis lapangan dan memperluas kerja sama dengan semua MGMP di berbagai kota di Jawa Timur. “Ini bukan awal dan bukan akhir. Kami akan terus berkomunikasi dengan MGMP untuk menghadirkan materi lain yang relevan. Dengan begitu, pembelajaran Sosiologi lebih kreatif, menarik, dan berorientasi pada pemecahan masalah,” pungkasnya. Menariknya, kegiatan ini mendapat respons positif dari pihak sekolah dan guru-guru. Sekretaris MGMP Mei Rita menilai pendekatan berbasis pengalaman lapangan lebih relevan dibanding sekadar teori dalam buku. Sehingga para siswa diharapkan tidak hanya menguasai ilmunya, tapi juga bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (nam/wil)

Kiprah sebagai Mendikbud dan Menko PMK: Muhadjir Effendy Dikukuhkan Guru Besar

Pada 13 Februari 2025 nanti, Penasihat Presiden bidang Haji Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. akan menyampaikan orasi ilmiah dalam pengukuhan guru besarnya di Universitas Negeri Malang. Banyak kiprah dan kontribusi yang sudah ia berikan, salah satunya saat ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Indonesia pada 2016-2019 dan menjadi Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada 2019-2024. Sebelumnya, ia juga sudah berkiprah lama di dunia pendidikan, termasuk sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama tiga periode dan memberikan inovasi-inovasi dalam dunia pendidikan. Hal itu yang akhirnya membawanya ke panggung nasional dan memegang amanah penting untuk Indonesia. Muhadjir Effendy dikenal sebagai sosok yang memiliki peran signifikan dalam berbagai kebijakan pendidikan di Tanah Air. Dengan latar belakang akademik dan pengalaman panjang di dunia pendidikan, Muhadjir membawa berbagai inovasi yang bertujuan meningkatkan pemerataan dan kualitas pendidikan di Indonesia. Selama masa kepemimpinannya, Muhadjir menggagas beberapa kebijakan strategis, salah satunya penguatan pendidikan karakter (PPK) yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017. Program ini unggul pada pembangunan karakter siswa melalui pendekatan berbasis sekolah, keluarga, dan masyarakat. Selain itu, ia juga memperkenalkan sistem zonasi pendidikan guna memastikan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh daerah. “Pendekatan zonasi tidak hanya digunakan untuk PPDB saja, tetapi untuk membenahi berbagai standar nasional pendidikan, mulai dari kurikulum, sebaran guru, hingga kualitas sarana prasarana,” kata Muhadjir di salah satu kesempatan. Selain itu, ia turut mempercepat distribusi Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang telah memberikan manfaat bagi 18,69 juta siswa, sebagai bagian dari Program Indonesia Pintar (PIP). Revitalisasi pendidikan vokasi juga menjadi prioritasnya, sebagaimana diamanatkan dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2016 yang bertujuan meningkatkan daya saing lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di dunia kerja. Di bawah kepemimpinannya, Muhadjir berhasil membawa Indonesia ke panggung internasional melalui perannya sebagai Presiden Southeast Asian Ministers for Education Organization (SEAMEO) pada 2017-2019. Dalam kepemimpinannya, ia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam kemajuan pendidikan, sains, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Di tingkat nasional, ia juga mendorong peningkatan kompetensi siswa melalui berbagai ajang seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), Festival Literasi Sekolah (FLS), dan Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI). Kebijakan ini membuktikan dedikasinya dalam menyiapkan generasi unggul yang siap bersaing di tingkat global. Berbagai kebijakan yang diterapkan Muhadjir terus menjadi pondasi pendidikan Indonesia hingga saat ini. Berkat kerja kerasnya, Muhadjir juga meraih penghargaan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Joko Widodo. Ia meninggalkan jejak yang kuat dalam upaya pemerataan pendidikan, peningkatan kualitas guru, serta penguatan karakter siswa sebagai generasi penerus bangsa. Bahkan, Prof. Arief Rachman, seorang tokoh pendidikan Indonesia, memberikan apresiasi terhadap kepemimpinannya dengan mengatakan bahwa Muhadjir adalah seorang pendidik yang memiliki filosofi pendidikan yang luas, berorientasi pada pendidikan berbasis karakter, dan memiliki wawasan global. Di sisi lain, selama mengemban tugas sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir telah banyak menorehkan pencapaian dan penghargaan bergengsi. Dalam kepemimpinannya, Kemenko PMK berhasil menurunkan prevalensi stunting di tanah air. Indonesia berhasil mengurangi angka stunting sebesar 9,3% dalam lima tahun terakhir. Prevalensi stunting turun tajam dari 30,8% pada 2018 (Riskesdas) menjadi 21,5% pada 2023. Hal itu tak lepas dari strateginya seperti distribusi alat kesehatan standar ke posyandu dan puskesmas serta pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita. Program menarik lainnya adalah Pengukuran dan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting pada Juni 2024. Dalam program tersebut, lebih dari 300.000 posyandu terlibat, dengan lebih dari 16 juta balita berhasil diukur. Program ini diharapkan dapat mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia. Berkat kebijakan Muhadjir, peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia juga tercermin dalam hasil yang dicapai dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2019, IPM Indonesia tercatat sebesar 71,92 poin, yang kemudian meningkat 74,39 poin pada 2023. Ini menunjukkan hasil positif dari berbagai kebijakan pemerintah yang berfokus pada sektor pendidikan, kesehatan, dan peningkatan standar hidup yang layak. Kiprah panjang Muhadjir sebagai Mendikbud dan Menko PMK juga mengantarkannya pada sederet penghargaan. Di antaranya Pioneer of National Education and Social Empowerment Pasca Award (2024), Tanda kehormatan Lencana Jer Basuki Mawa Beya (2024), Penghargaan Extraordinary Attention Towards The Welfare Of The Young Generation (2024), Anugerah Parahita Ekapraya (APE) (2020), Tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Joko Widodo (2020), Penghargaan Best Ministers Obsession Award (2020), Tokoh Penggerak Local Heroes hingga UNESCO-Hamdan bin Rashid Al-Makhtoum (2020). Melalui berbagai pencapaian ini, Muhadjir telah membuktikan dedikasi dan kontribusinya dalam memajukan pendidikan dan pembangunan manusia Indonesia. Membangun sistem yang lebih inklusif dan membangun manusia unggul untuk menyiapkan generasi emas 2045 yang kompetitif di era globalisasi. (vin/nam/wil)

UMM-Al Azhar Mesir Sebut Pentingnya Peran Kepemimpinan Perempuan

Hubungan bilateral antara Mesir dan Indonesia telah terjalin sangat baik, mengingat dua negara ini merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Hal itu yang melatarbelakangi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Al-Azhar Mesir untuk berkolaborasi adakan kuliah umum yang menghadirkan Nahla Shabry Elsiedy selaku penasehat Syekh Al-Azhar Mesir, 11 Februari ini. Adapun agenda itu mengkaji mengenai perempuan muslimah dan kepempimpinan pelajaran dari sirah Nabi SAW dan sejarah Islam tersebut. Nahla menyampaikan, penting untuk memahami ajaran agama Islam secara komprehensif untuk mengetahui peran perempuan. “Kita tidak lagi membicarakan apakah perempuan bisa menjadi pemimpin. Tetapi bagaimana perempuan dapat memimpin dan mengabdi,” tegasnya. Menurutnya, dalam Islam, perempuan secara kodratnya telah memiliki tanggung jawab. Kini kepemimpinan tidak lagi mengenai kekuasaan dan penguasaan, akan tetapi mengenai amanah, optimalisasi potensi, tanggungjawab serta pengabdian. Apabila seorang perempuan diberikan kesempatan untuk dapat mengatur dengan kesempatan yang setara, maka mereka juga berpotensi untuk berhasil mengelolanya. Apalagi memikul tanggungjawab juga merupakan fitrah dari Allah. Sejarah Islam telah mencatat banyak kisah keteladanan dalam kepemimpinan perempuan. Salah satunya adalah kisah Khadijah binti Khuwailid yang mendukung awal perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam di Makkah. Kemudian dapat mengatur serta menenangkan suaminya tatkala mendapatkan amanah yang besar dari Allah. Tidak hanya itu, Khadijah juga memiliki kepribadian yang ramah, suka menolong, penuh empati, dan sangat bijak. Itu semua menjadi representasi dari kekuatan aqidah yang dimilikinya. “Ada juga kisah perempuan lainnya, seperti Aisyah RA, yang telah meriwayatkan lebih dari 2000 hadits dan menjadi sandaran umat para bidang fiqh, hadist, tafsir, dan pengajaran. Pada intinya, kepemimpinan senantiasa memprioritasan pengabdian kepada masyarakat, namun jangan sampai tanggungjawab rumah, anak dan suami menjadi terbengkalai. Perempuan bukanlah batu sandungan kemajuan, melainkan batu loncatan peradaban,” tegas Nahla. Terkait Kampus Putih, Nahla menilai bahwa UMM mempunyai visi misi yang bagus dalam mengelola lingkungan pendidikan dan memiliki kualitas pendidikan yang sangat luar biasa. Termasuk pengajaran bahasa asing seperti Inggris dan Arab. Maka, ia berharap UMM dapat menjalin kerjasama dengan Al-Azhar dalam pengajaran Bahasa Arab. Apalagi mengingat Al-Azhar memiliki kualitas SDM pengajar Bahasa Arab yang sangat bagus. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM Prof. Tri Sulistyaningsih mengatakan, persoalan perempuan menjadi isu yang menarik untuk dikaji karena adanya perbincangan hangat terkait peran perempuan di lingkungkan domestik maupun publik. Di sisi lain, UMM memang berkomitmen dalam menyiapkan lulusan yang unggul dengan selalu menjamin kualitas pendidikan yang diberikan sebaik-baiknya. Tri berharap, agar kedepannya hubungan kerjasama dengan Al-Azhar ini dapat terus berjalan di berbagai bidang. (zaf/wil)