Bukti Nyata Wujud Kampus Berdampak, UMM Terima Penghargaan dari Kemendukbangga

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menoreh penghargaan, kali ini dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga). Penghargaan tersebut diberikan pada 10 Desember lalu pada forum “GENTING COLLABORATION SUMMIT TAHUN 2025” dengan tema “Sinergi Untuk Negeri, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting”. Kampus Putih mendapat penghargaan Gold Kategori Perguruan Tinggi berkat dedikasinya dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Sebagai Kampus Berdampak, UMM konsisten menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui riset terapan dan program pengabdian yang langsung menjawab persoalan di lapangan. Berbagai kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membawa perubahan yang dapat dirasakan. Penghargaan dari Kemendukbangga semakin meneguhkan komitmen UMM untuk terus hadir dan berkontribusi dalam memajukan bangsa. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD. Mengatakan bahwa penghargaan tersebut diaraih tidak lain mengingat kontribusi UMM dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Salah satunya yang baru-baru ini dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini berupakan komitmen nyata bahwa riset itu sejatinya tidak boleh hanya secara konseptual, namun juga secara konkret dirasakan oleh masyarkat. “Beberapa waktu lalu, kami kirimkan lebih dari 50 dosen UMM ke NTT. Disana ada banyak persoalan masyarakat terkait dengan stunting, kemiskinan ekstrim, serta ada juga persoalan di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan” jelasnya. Banyak sekali program yang dilakukan tim dosen UMM saat di NTT, mulai dari Pelatihan Pengolahan Nutricorn yang secara inovatif memanfaatkan kekayaan bahan baku lokal NTT. Pendampingan pada komoditas hortikultura, padi, dan jagung. Pendampingan pakan ternak dan kesehatan hewan. Penataan kembali praktik budidaya dan manajemen perikanan, dan masih banyak lagi. “Semua itu awalnya hasil riset dari para akademisi di UMM, kami punya program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat. Harapannya itu semua mampu memberikan dampak positif langsung kepada masyarakat” ujarnya Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) UMM merupakan inisiatif strategis UMM untuk mendorong pembangunan daerah melalui pendampingan langsung oleh para profesor dan tenaga ahli. Program ini mengintegrasikan riset, inovasi, serta pengabdian masyarakat dengan fokus pada sektor-sektor prioritas seperti pertanian, peternakan, dan perikanan. Melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat, P3M UMM bertujuan meningkatkan produktivitas, pendapatan, serta kesejahteraan warga, sekaligus mengatasi persoalan mendesak seperti kemiskinan dan stunting di berbagai wilayah Indonesia. Terakhir, ia berharap melalui penghargaan ini mampu memberikan motivasi kepada seluruh akademisi UMM untuk terus berinovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Salis menegaskan bahwa kampus itu harus berdampak menyelesaikan persoalan di masyarakat. Ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa kampus putih selalu siap sedia untuk hadir dalam memajukan bangsa. “tentu kami ucapkan terimakasih kepada Kemendukbangga karena telah memberikan penghargaan ini kepada kampus putih. Kami berkomitmen penuh untuk terus mengabdi dalam meningkatkan dan menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat.” Tutupnya (*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Soroti Peran Tersembunyi Pekerja Sosial Medis dalam Sistem Kesehatan Indonesia

Program Studi Kesejahteraan Sosial (Prodi Kesos) Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan forum akademik strategis melalui Kuliah Tamu Nasional bertajuk “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial”. Acara yang berlangsung pada Rabu (10/12/2025) di Aula BAU Kampus III UMM itu dihadiri ratusan peserta, mulai dari dosen, mahasiswa, hingga mitra Prodi Kesos dari berbagai lembaga dan institusi praktik. Dalam pemaparannya, dr. Yuniar, Sp.KJ, MMRS selaku Direktur RS Radjiman Wedyodiningrat menjelaskan bahwa kontribusi pekerja sosial di rumah sakit masih sering tidak terlihat oleh masyarakat, padahal perannya sangat vital. Ia mencontohkan kasus pasien dengan gangguan jiwa yang kerap mengalami penolakan dari keluarga maupun lingkungan. Pada situasi seperti itu, pekerja sosial berperan sebagai garda terdepan dalam penanganan kasus. Yuniar menambahkan bahwa rumah sakit yang ia pimpin telah menerapkan model pelayanan multidisiplin, khususnya untuk menangani pasien dengan kebutuhan kompleks. “Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas profesi adalah kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa pekerja sosial berkontribusi dalam edukasi masyarakat, asesmen kebutuhan, hingga advokasi akses layanan kesehatan. Sejak 2022, penguatan peran mereka dilakukan melalui berbagai kerja sama, termasuk dengan platform kitabisa dalam membantu pasien yang menghadapi kendala biaya. “Mulailah dari hal kecil, bangun portofolio, dan tunjukkan dampak kalian. Apapun pilihanmu, cintai bidang itu,” pesannya. Sementara itu, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, memaparkan peluang sekaligus tantangan praktik pekerja sosial medis di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kebutuhan terhadap profesi ini semakin meningkat seiring kompleksitas persoalan kesehatan masyarakat. Pekerja sosial medis, lanjutnya, menjadi penghubung antara kebutuhan medis dan sosial pasien, mencakup manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga penyusunan rencana keberlanjutan layanan. “Masih banyak kendala yang muncul, seperti regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis, minimnya tenaga terlatih, serta pemahaman antarprofesi yang belum merata mengenai kontribusinya,” jelasnya. Melihat kondisi tersebut, Rinikso mendorong adanya langkah strategis untuk memperkuat kompetensi pekerja sosial medis serta penguatan kebijakan agar perannya semakin diakui. Ia menilai peningkatan kapasitas, advokasi regulasi, dan kolaborasi lintas profesi merupakan kunci mewujudkan layanan kesehatan yang komprehensif. Kuliah tamu ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa, bukan hanya sebatas teori pelayanan sosial, tetapi juga peluang peran pekerja sosial dalam ranah medis dan layanan publik. Kolaborasi antarprofesi menjadi elemen penting untuk menghadirkan layanan sosial yang memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (*bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Borong Penghargaan Bergengsi di KKI: Bukti Keunggulan Inovasi Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui Tim Mekatronik dalam ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI) pada 04-06 Desember lalu. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga mampu bersaing dalam inovasi teknologi maritim di level nasional. Tim Mekatronik UMM berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Juara 3 race FERC, Juara 1 poster FERC, Best Speed FERC dan Tim Favorite. Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus berdampak yang aktif melahirkan inovator muda di bidang teknologi perkapalan dan energi. Dewi Fatmawati selaku Manager Tim Mekatronik UMM mengaku bahwa menuju titik ini sangatlah tidak mudah. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang timnya lakukan, mulai dari latihan, riset, hingga trial and error yang selalu terjadi. “Berbahan bakar bensin menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami, itu membuat perancangan mesinnya harus dilakukan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi demi menjaga stabilitas dan kecepatan kapal di lintasan air. Dalam proses persiapan, kami memulai seluruh tahapan dari nol, mulai dari penyusunan proposal, riset perhitungan, pembuatan bodi kapal, hingga produksi video presentasi yang kami unggah ke YouTube. Semua proses itu memakan waktu sekitar enam bulan penuh, sejak Juni hingga Desember.” Jelasnya Fatma sapaan akrabnya mengaku bahwa timnya sempat mengalami kendala serius, terutama pada aspek teknis mesin dan kestabilan kapal saat uji coba. Namun berkat kerja keras tim, evaluasi berulang, serta pendampingan dosen, seluruh kendala tersebut berhasil diatasi hingga kapal dapat tampil optimal di arena perlombaan. Menariknya, mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas pendukung, sistem pembinaan, hingga dukungan moral dan doa. Dukungan ini menjadi faktor penting yang menjaga semangat dan konsistensi tim selama proses panjang menuju kompetisi. UMM dinilai tidak hanya hadir sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai penyedia ekosistem prestasi mahasiswa. Terakhir, Fatma berpesan kepada mahasiswa UMM, khususnya generasi penerus Tim Mekatronik, agar tidak hanya berorientasi pada popularitas organisasi, tetapi juga fokus pada keseimbangan antara penguasaan teknis (how to build) dan pengembangan diri serta manajemen tim (how to grow). Ia menekankan bahwa keberhasilan tim hanya bisa terwujud jika seluruh aspek tersebut berjalan secara seimbang dan berkelanjutan. “Jangan hanya mengejar nama besar tim. Kuasailah teknisnya, kembangkan diri kalian, dan bangun manajemen tim yang solid. Semua itu harus berjalan bersama-sama kalau kalian ingin benar-benar berhasil.” Pesannya(*alg/faq)   Penulis: Musthafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Pertahankan Gelar Pojok Statistik Terbaik Tiga Tahun Beruntun

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi nasional yang membanggakan setelah Pojok Statistik UMM dinobatkan sebagai Pojok Statistik Terbaik 3 Nasional 2025. Penghargaan yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini melengkapi deretan penghargaan serupa yang telah diraih pada 2023 dan 2024. Prestasi ini menjadikan UMM satu-satunya kampus yang berhasil mempertahankan gelar selama tiga tahun berturut-turut. Pengumuman penghargaan ini diberikan dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional pada 3 Oktober lalu. Pojok Statistik UMM ini lahir dari kerja sama dengan BPS sejak 14 Desember 2022. Sejak itu, program ini menjadi pusat pembelajaran statistik yang menyediakan akses data, pendampingan riset, dan pelatihan literasi data bagi seluruh mahasiswa. Selain menjadi tempat konsultasi skripsi berbasis statistik, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari langsung cara menghasilkan dan mempublikasikan data sesuai standar lembaga statistik nasional. Menurut Kepala Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, Hendra Kusuma, S.E., M.SE., keberhasilan meraih predikat terbaik tiga tahun berturut-turut berasal dari konsistensi inovasi, produktivitas mahasiswa, dan pemanfaatan maksimal kerja sama dengan BPS. Salah satu indikatornya adalah jumlah infografis berbasis data yang diproduksi mahasiswa UMM yang dinilai terbanyak di tingkat nasional. Selain itu, program joint research bersama BPS setiap tahun dan publikasi internasional di jurnal SINTA oleh mahasiswa juga menjadi faktor utama. “Yang membawa pojok statistik UMF bisa mendapatkan 3 tahun berturut-turut adalah konsistensi kami dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh BPS, publikasi di jurnal SINTA di international conference, infografis yang dihasilkan mahasiswa dari data-data yang ada, dan joint research bersama BPS,” ujarnya. UMM juga dinilai unggul berkat kontribusinya dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Tidak hanya aktif menjalankan program, Pojok Statistik UMM bahkan mengembangkan sistem informasi evaluasi kinerja pemerintah desa yang membantu desa mengolah data dan memanfaatkannya untuk penyusunan kebijakan. Inovasi ini menjadi salah satu nilai tambah yang diapresiasi oleh BPS Pusat. Penghargaan ini melui proses penilaian yang berlangsung selama satu tahun kerja, mulai bulan Agustus hingga bulan Juli. Menurut Henrda, indikator penilaian yang dilakukan oleh BPS mulai dari fasilitas, produk, hingga edukasi. “Penilai itu, pertama fasilitas yang kita sediakan, kedua produk yang dihasilkan seperti inovasi itu tadi, termasuk infografis, videografis, dan edukasi,” jelasnya. Prestasi beruntun ini semakin mengukuhkan Pojok Statistik UMM sebagai model pengelolaan layanan statistik kampus yang efektif, inovatif, dan berkelanjutan. UMM menargetkan program ini tidak hanya mempertahankan prestasi nasional, tetapi juga menjadi pusat rujukan literasi data di tingkat yang lebih luas. Hendra berharap prestasi ini semakin memperkuat posisi Pojok Statistik UMM sebagai fasilitas unggulan kampus. “Kita sudah membuktikan kualitas program ini secara nasional. Tinggal bagaimana mahasiswa semakin memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan kompetensi berbasis data,” ujarnya. (*rka/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kreatif! Santri PPI AMF Ciptakan Teh Putri Malu untuk Atasi Insomnia

Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) kembali menghadirkan inovasi bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, sejumlah santri kelas 7 SMP AMF berhasil menciptakan teh herbal berbahan dasar daun putri malu yang diklaim mampu membantu mencegah insomnia. Aqeela Ahmad Darun, salah satu santri pencetus ide, menjelaskan bahwa inovasi ini berawal dari praktikum mata pelajaran IPA. Guru IPA mereka mendorong para siswa untuk menghasilkan produk kreatif, sehingga lahirlah teh herbal berbahan putri malu tersebut. Ahmad sapaan akrabnya menilai, produk ini sangat sesuai dengan kebutuhan banyak orang, termasuk para santri PPI AMF yang kerap mengalami kesulitan tidur. “Efeknya sangat terasa, kualitas tidurnya terasa lebih baik. Kami bangun tetap segar dan tidak mengantuk di kelas,” ujar santri asal Bali itu. Pemilihan tanaman putri malu dilakukan karena tanaman ini mudah ditemukan namun sering diabaikan. Ketersediaannya yang melimpah membuatnya efisien sebagai bahan inovasi para santri. Untuk membuat teh herbal ini, para santri menggunakan daun putri malu yang dipadukan dengan madu, jahe, kayu manis, dan air. Seluruh bahan direbus selama dua hingga tiga jam untuk mendapatkan sari teh terbaik. Dari segi tampilan, teh ini tidak berbeda dengan teh pada umumnya, berwarna cokelat. Rasanya cukup manis sehingga mudah diterima anak-anak dan remaja. Produk ini telah diuji coba oleh teman-teman sekelas Ahmad dan mendapat respons positif. “Ada satu teman yang sering mengantuk di kelas. Setelah minum teh ini, dia jadi lebih segar,” tuturnya. Guru IPA SMP AMF, Zumrotin Firdaus, yang juga Wakil Kepala SMP–SMA AMF Bidang Kurikulum, turut membimbing proses pembuatan produk ini. “Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” ujarnya. Ia mengarahkan siswa sejak tahap pencarian tanaman, pemilihan daun, pencucian, hingga pembuatan ekstrak herbal sesuai prosedur praktikum. Ke depan, Firda dan para santri berencana memproduksi teh herbal ini secara massal. Saat ini mereka tengah menyiapkan konsep kemasan yang menarik. “Harapan kami, teh herbal ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami insomnia agar memperoleh tidur yang lebih berkualitas,” tuturnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kuliah Tamu FISIP UMM Bersama Kedubes Kosta Rika, Kaji Perdamaian Global

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas wawasan global mahasiswa melalui penyelenggaraan Kuliah Tamu Internasional bersama Kedutaan Besar Republik Kosta Rika pada 04 Desember lalu. Mengusung tema “Realizing a Global Culture of Peace Through the Costa Rica Experience”, kegiatan ini menghadirkan perwakilan diplomatik Kosta Rika, H.E. Fransisco José Masís Holdridge, untuk memaparkan pengalaman negaranya dalam membangun perdamaian tanpa kekuatan militer. Diawal, Holdridge menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada UMM atas kesempatan berdiskusi mengenai isu perdamaian global. “Kami merasa terhormat dapat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang. Kampus merupakan ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pendidikan perdamaian, terutama bagi mahasiswa sebagai generasi penerus,” ujarnya. Selain itu, ia mengaitkan konsep Bhinneka Tunggal Ika dengan karakter masyarakat Kosta Rika. Menurutnya, kedua negara memiliki kesamaan dalam menjunjung persatuan di tengah keberagaman. “Indonesia dan Kosta Rika sama-sama kaya dengan perbedaan budaya dan etnis. Perbedaan bukan pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian,” tuturnya. Kosta Rika dikenal sebagai negara kecil yang mengambil langkah besar dengan menghapus sistem militer pada tahun 1949 melalui konstitusinya. Kebijakan ini menjadi titik balik pembangunan negara, mengalihkan fokus anggaran dari pertahanan menuju pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan peningkatan kualitas manusia. “Perdamaian bagi kami bukan tentang kekuatan militer, melainkan bagaimana negara membuka peluang bagi warganya untuk hidup aman, sehat, dan terdidik,” jelasnya. Menurutnya Kebijakan tersebut terbukti membawa banyak capaian positif. Kualitas kesehatan meningkat signifikan, angka kematian anak menurun, dan akses pendidikan berkembang, melahirkan berbagai fasilitas akademik termasuk medical faculty. Kosta Rika kini diakui sebagai negara peace-oriented dan berhasil naik dari kategori upper-middle income menjadi high-income country, berdasarkan pengakuan World Bank pada 1 Juli 2025. Holdridge juga membuka kesempatan bagi pelajar internasional, termasuk dari Indonesia, untuk mempelajari langsung praktik pembangunan damai di negaranya. Dalam pemaparannya, ia menegaskan dua poin utama yakni tentang kebijakan penghapusan militer, dan praktik keberhasilan pembangunan Kosta Rika yang berfokus pada kesejahteraan manusia. “Kebijakan ini mampu membawa banyak kemajuan bagi masyarakat kami. Contohnya dalam sektor kesehatan dan pendidikan, dampaknya terlihat nyata pada peningkatan kualitas hidup warga,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa semakin memahami bahwa perdamaian global dapat diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan militer, tetapi melalui pendidikan, kolaborasi, dan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan manusia.(*bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Tampil Gemilang di Abdidaya Ormawa 2025 Lewat Inovasi SolarSonic IoT Guard

Tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih predikat terbaik Nasional pada Abdidaya Ormawa 2025 berkat inovasi “Integrasi Smart Farming 5.0 Berbasis SolarSonic IoT Guard untuk Efisiensi Pengendalian Hama Tikus dan Burung pada Padi di Desa Ampeldento.” Mereka berhasil menoreh prestasi pada kategori Realisasi Kemitraan Terkuat serta Poster Paling Lengkap. Inovasi tersebut membuka arah baru bagi pengembangan teknologi pertanian di Indonesia. Inovasi tersebut dibangun oleh mahasiswa lintas jurusan yakni Agribisnis,Teknik Elektro, dan Teknik Informatika. Ketua tim, Muhammad Hafizh Abdurrahman menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan mampu mengusir hama melalui gelombang suara dan sensor pendeteksi termal. Menariknya alat tersebut menggabungkan panel surya, baterai, dan sistem IoT sehingga alat dapat bekerja 24 jam tanpa henti. Abdur menegaskan keunggulan lainnya. “Cara kerja alat ini dengan mengeluarkan frekuensi yang mengganggu pendengaran tikus, sehingga mereka pergi dari lahan. Kami juga menambahkan mikrofon khusus untuk mengusir burung. Alat kami juga bisa mendeteksi tikus menggunakan sensor termal dan image processing berbasis Raspberry pi 5. Kami memasukkan puluhan ribu data agar sensor mampu mengidentifikasi hama secara akurat. Ini pertama kali ada di Indonesia,” tuturnya. Pada proses penilaian, Abdur bersama dengan timnya menampilkan beragam elemen, mulai dari miniatur alat, booth kreatif, hingga permainan untuk audiens. Selain itu, dekorasi yang digunakan juga banyak menggunakan bahan bekas. Hal tersebut menjadi salah satu komitmen untuk mendukung semangat SDGs. Terakhir, ia berharap kedepan melalui inovasi yang timnya buat ini mampu untuk membantu petani secara keseluruhan dalam menghadapi hama. “Fokus kami saat ini adalah pengoptimalan alat untuk meningkatkan produktivitas petani, dan ke depan harpaan kami bahwa alat ini bisa diproduksi secara masal” harapnya. Sementara itu. Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BAK) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, M.Sc., menyampaikan apresiasi besar atas capaian tersebut. . Ia juga menekankan bahwa UMM berkomitmen kuat mendukung potensi mahasiswa “Kami sangat bangga. Proses yang dilalui adik-adik ini sangat panjang dan penuh hambatan, tetapi mereka tidak menyerah hingga mencapai titik ini.” Ungkapnya Ia melanjutkan bahwa UMM juga punya Program percepatan prestasi, salah satunya dengan melibatkan mahasiswanya untuk mengikuti ajang Abdidaya Ormawa 2025. Hal itu menjadi salah satu bukti bahwa UMM memberi ruang luas bagi mahasiswa untuk berkembang. Tatag sapaan akrabnya juga berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tidak ragu mengikuti ajang prestasi. “Jangan malu-malu untuk menunjukkan minat dan bakat. Banyak sekali peluang apresiasi di UMM, dan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama. Kemahasiswaan mendukung penuh setiap minat dan bakat yang dimiliki,” pesannya. (*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

KKI dan Abdidaya Ormawa 2025 Ditutup Meriah di UMM: Inovasi Mengakhiri Laga, Solidaritas Menguatkan Bangsa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup giat Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025 dalam sebuah acara akbar yang digelar meriah di Hall Dome UMM pada Sabtu, 6 Desember 2025. Gelaran yang untuk pertama kalinya disatukan dalam satu panggung ini bukan hanya menjadi penanda berakhirnya kompetisi inovasi maritim dan pengabdian masyarakat, tetapi juga momen refleksi dan solidaritas kebangsaan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., memuji kompetensi yang dimiliki para peserta KKI dan Abdidaya Ormawa, menyebut mereka sebagai kelompok terpilih dari jutaan mahasiswa Indonesia. “Saudara adalah representasi dari jutaan mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas diri, jadikan kompetisi ini sebagai latihan mental dan intelektual. Negara membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan peduli” ungkapnya Ia juga menegaskan bahwa penutupan KKI dan Abdidaya Ormawa ini bukanlah titik akhir, melainkan pemantik perjalanan kehidupan selanjutnya. Fauzan berpesan agar para pemenang tidak cepat puas, dan bagi yang belum meraih kemenangan untuk tetap menjaga determinasi. “Ini adalah modal untuk melakukan transformasi kehidupan yang lebih baik,” Menariknya dari acara penutupan ini juga terdapat momen kemanusiaan, di mana seluruh hadirin diajak menggalang dana dan berdoa bersama sebagai wujud solidaritas terhadap korban bencana banjir di Pulau Sumatera. Fauzan sapaan akrabnya mengajak seluruh hadirin untuk mengheningkan cipta sejenak dan mendoakan para korban bencana banjir di Pulau Sumatera. Ia juga menekankan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari pengabdian Disisi lain, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., Penasihat Khusus Presiden RI untuk Urusan Haji sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UMM menyampaikan motivasi yang membangkitkan semangat para mahasiswa agar terus berjuang dan tidak cepat merasa puas. “Jangan segera puas, dan yang menang juga tidak boleh jumawa (angkuh),” tegasnya. Ia turut mengobarkan semangat pantang menyerah, meyakinkan para peserta bahwa keyakinan dan keteguhan merupakan bekal penting untuk meraih keberhasilan, mencontohkan kegigihan Presiden RI dalam berbagai perjuangan nasional. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan bahwa menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci lahirnya karya akademik dan pengabdian masyarakat yang mampu mempercepat terwujudnya Indonesia Maju 2045. Ia juga berharap penyelenggaraan terpadu ini dapat menumbuhkan inspirasi bagi sivitas akademika UMM mengenai pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi. “Semoga ini semua menjadi energi baru dan semangat baru kita untuk terus mengabdi kepada bangsa,” tutupnya. (*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sarasehan Abdidaya Ormawa 2025 di UMM: Wawali Kota Malang Ajak Mahasiswa Jadi Agen Solusi Bangsa

  Generasi muda kini memikul tanggung jawab yang semakin kompleks, hal itu disampaikan langsung oleh Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin di Gedung Basement Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada acara Sarasehan Abdidaya Ormawa 2025, 05 Desember lalu. Dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguran tinggi se-Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang berupaya meningkatkan kualitas Ormawa dan membentuk karakter mahasiswa yang tangguh, Pancasilais, dan inovatif yang Pria yang juga merupakan alumnus UMM itu menyoroti potensi Bonus Demografi yang akan dihadapi Indonesia di tahun 2030, disebutnya bisa menjadi nikmat atau ancaman, tergantung pada kesiapan generasi. “Indonesia akan mengalami bonus demografi yang luar biasa di tahun 2030, mengingat bahwa ditahun tersebut, banyak generasi Z sudah memasuki usia produktif” ujar Ali sapaan akrabnya. Lebih lanjut, ali menegaskan, peran aktivis saat ini tidak hanya berkutat pada isu politik lokal, tetapi juga harus memahami isu geopolitik global, dampak kemajuan teknologi seperti AI, dan tantangan lingkungan. Ali mengingatkan bahwa kebijakan di Indonesia tidak bisa lepas dari dinamika luar negeri. Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri, tidak hanya fokus pada pengorbanan organisasi. “Kita semua harus menyiapkan dan menyadarkan diri kita semua, bahwa ke depannya negara ini baik tidaknya, meningkat tidaknya, tergantung pada generasi hari ini,” tegas Ali. Ia berpesan bahwa Ormawa harus menjadi agen solusi, termasuk dalam mengatasi masalah lokal seperti banjir, dengan menawarkan rekomendasi yang dapat dieksekusi oleh pemerintah. Disisi lain, Tim Pelaksana Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Dr. Ir. Surfa Yondri, M.Kom. Akrab disapa Surfa, memaparkan pentingnya strategi implementasi program PPK Ormawa yang menekankan kolaborasi, dampak, dan keberlanjutan. Surfa, berbagi pengalaman tentang upaya evakuasi mahasiswa di daerahnya yang terdampak bencana. Menyampaikan bahwa mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Mengingat bahwa PPK Ormawa adalah wadah yang diberikan kementerian untuk mahasiswa agar belajar berorganisasi dengan dampak nyata di masyarakat. “Mahasiswa akan belajar bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat, mahasiswa belajar bagaimana melihat kontensi yang ada di masyarakat, mengingat bahwa kunci keberhasilan Ormawa terletak pada kolaborasi dan empati.” jelasnya Terakhir Surfa menegaskan bahwa mahasiswa adalah bagian dari solusi yang akan membangun bangsa menuju Indonesia Emas 2045. “Kami sangat yakin, mahasiswa akan selalu berserah terangi, mengeterangkan desa, dan berserah dengan pemerintahan desa maupun pemerintahan daerah,” harapnya.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Abdidaya Ormawa 2025: UMM Jadi Panggung Lahirnya Solusi Inovatif

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi saksi bisu pertemuan gagasan terbaik bangsa pada Anugerah Abdidaya Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) 2025. Digelar bersamaan dengan Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 pada 4-6 Desember 2025, ajang yang diinisiasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi ini tak sekadar menjadi panggung apresiasi, tetapi juga perayaan kolaborasi, inovasi, dan semangat pemberdayaan. Sebagai tuan rumah, UMM tampil melalui tim mahasiswanya yang menyuguhkan inovasi konkret untuk problem pertanian lokal. Kolaborasi lintas disiplin antara Himpunan Mahasiswa Agribisnis, Teknik Elektro, dan Teknik Informatika menjadi magnet perhatian pengunjung hari kedua. Tim ini memperkenalkan alat Smart Farming berbasis IoT bertenaga surya yang mampu mengusir hama burung dan tikus menggunakan gelombang ultrasonik, solusi yang lahir dari observasi mereka terhadap keluhan kelompok tani. Salah satu anggota tim, Muhammad Firdaus, menjelaskan bahwa keluhan petani mengenai hama menjadi titik awal lahirnya inovasi tersebut. “Kami turun langsung ke lahan dan melihat sendiri bagaimana burung dan tikus merusak hasil panen. Dari situ kami sadar, harus ada teknologi yang bisa membantu tanpa membebani petani,” ujarnya. Firdaus juga mengungkapkan kebanggaan timnya ketika akhirnya bisa melaju hingga tahap Abdidaya. “Tahun sekarang ini kami pecah rekor! Ini pertama kalinya Himpunan Mahasiswa Agribisnis mencapai titik ini,” tuturnya. “Kami ingin membuktikan bahwa inovasi dari mahasiswa UMM bukan hanya konsep, tapi benar-benar bisa menyentuh kebutuhan masyarakat.” Sejak pagi, kompleks kampus UMM dipenuhi energi. Aroma kopi dan masakan dari bazar UMKM berbaur dengan semangat para peserta yang hilir mudik. Sorotan utama tertuju pada kegiatan Lokakarya dan Expo Poster, galeri terbuka yang menampilkan luaran wajib dan produk tambahan dari ratusan tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Area pameran menjadi ruang penilaian karya terbaik. Dewan juri menyeleksi poster dan video berdasarkan unsur informatif, kreatif, visual menarik, kelengkapan, serta inovasi. Persaingan ketat terlihat, mengingat pemenang Anugerah Abdidaya akan diumumkan pada sesi penganugerahan malam nanti. Kategori penghargaan mencakup Tim Pelaksana (13 kategori), Ormawa (7 kategori), Mitra Keberlanjutan (3 kategori), hingga Perguruan Tinggi (5 kategori). Euforia masih terasa sejak pembukaan Abdidaya Ormawa di UMM pada Kamis malam, 4 Desember 2025. Rizal, salah satu peserta dari UNDIP, mengenang hangatnya suasana yang tercipta. “Kesan dari teman-teman sih seru banget ya kemarin. Bahkan hampir gak mau pulang,” ujarnya. Keseruan itu hadir karena semangat kebersamaan yang terbangun, di mana seluruh tim saling bahu-membahu tanpa hanya membebankan pada satu penanggung jawab. Menutup hari yang penuh inspirasi, Rizal menyampaikan harapan agar Abdidaya Ormawa terus hadir setiap tahun. “Impact-nya bukan cuma ke individu, tapi benar-benar ke pemberdayaan masyarakat.” Doa agar pemerintah terus mendukung penyelenggaraan ini menjadi penutup manis dari rangkaian kegiatan hari kedua di Bumi Arema.(*bil/faq)   Penulis: Zlatan Abil Ibrahim | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman