Dosen UMM Jelaskan Pentingnya Green Building, dari Manfaat hingga Biaya

Bangunan ramah lingkungan atau green building concept adalah keseluruhan konstruksi dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemakaian produk konstruksi yang ramah lingkungan. Bangunan ini merupakan gedung yang memenuhi standar teknis bangunan gedung dan memiliki kinerja terukur secara signifikan. Mulai dari penghematan air, energi, dan sumber daya lainnya. Terkait hal itu, Dr. Ir. Sunarto, M.T. selaku dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa green building memiliki dampak yang sangat positif bagi lingkungan dan harus diwujudkan. Ia menjelaskan, manfaat utama dari green building adalah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Menurut data Climate Watch, pada 2020 Indonesia menghasilkan emisi gas rumah kaca sekitar 1,48 miliar ton/gigaton ekuivalen karbon dioksida (Gt CO2e). Angka itu setara dengan 3,1% dari emisi gas rumah kaca global, yang total volumenya mencapai 47,5 Gt CO2e. “Tentunya persentase tersebut berasal dari beberapa sektor seperti energi listrik, transportasi, bangunan, dan sebagainya,” jelasnya. Terdapat enam aspek yang diterapkan dari green building. Yakni meliputi penataan dan penggunaan lahan yang berkelanjutan, penghematan dan diversifikasi sumber daya energi, hingga konservasi sumber daya air untuk menjamin keberlanjutan penyediaan air bersih. Selain itu, pemilihan material yang memiliki daur hidup ramah lingkungan, peningkatan kesehatan dan kenyamanan dalam ruang yang sehat dan nyaman serta sistem bangunan yang mendukung keberlanjutan lingkungan juga penting untuk dipertimbangkan. “Sayangnya, penerapan green building di Indonesia masih kurang diperhatikan. Hingga 2022, terhitung baru ada 60 gedung di Indonesia yang mendapat sertifikat bangunan hijau atau memenuhi kriteria greenship dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Gedung ini mencakup bangunan rendah atau low rise, sedang atau mid rise, dan tinggi high rise,” tambahnya. Peduli akan hal tersebut, UMM menjadi salah satu instansi yang mengaplikasikan konsep green building. Selain pada Gedung Kuliah Bersama (GKB 4) yang sudah menerapkan konsep tersebut, proyek GKB 5 UMM yang saat ini dalam proses pembangunan juga dirancang menggunakan konsep tersebut. Tujuannya untuk mengurangi emisi gas kaca dan menghemat energi. “Salah satu hambatan penerapan konsep ini adalah biaya karena memerlukan anggaran lebih tinggi dibanding dengan bangunan konvensional. Namun hal itu bisa membantu meringankan pengeluaran berkelanjutan. Misalnya dengan mengurangi penggunaan air conditioner (AC) yang bisa meminimalisir penggunaan energi listrik setiap harinya,” tandasnya. Di akhir, Sunarto berharap semua pihak bisa mendukung kebijakan pemerintah maupun dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan melindungi lingkungan. “Jika semua pihak mendukung, maka harapannya dampak negatif terhadap lingkungan bisa berkurang,” tutupnya. (dit/wil)
Lagi, Teknik Mesin UMM Luncurkan CoE Baru Digital Manufacturing

Menjawab tantangan era dunia industri 4.0, dunia pendidikan semakin didorong untuk terus bergerak maju. Banyak dari institusi pendidikan mencoba bekerjasama dengan Dunia Kerja Dunia Industri (DUDI) untuk mencetak generasi yang siap menghadapi dunia kerja profesional. Menjawab hal tersebut, Program Studi (Prodi) Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meluncurkan Center of Excellence (CoE) Digital Manufacturing pada 9 Maret lalu. Acara itu sekaligus menjadi kuliah perdana CoE Welding Inspector, CoE Construction & Vehicles Simulation yang sebelumnya sudah dijalankan. Turut hadir dalam acara tersebut Dr. Farkhan, ST., MT. selaku Direktur PT. CNC Controller Indonesia. Ia mengatakan bahwa ia bangga karena UMM berhasil menggagas CoE di bidang digital manufacturing. Apalagi pemerintah Indonesia memang mencanangkan 4.0. yang sasaran terbesarnya adalah industri manufaktur. Hal itu tak lepas dari industri manufaktur yang menyumbang 64% GDP Indonesia. Selain itu, penyerap tenaga kerja 64 persen juga dari manufaktur. “Sayangnya, saat ini masih banyak institusi yang belum aware mengenai digital manufacturing. Jadi saya sangat mengapresiasi UMM karena aware dengan membentuk CoE Digital Manufacturing ini,” tambahnya. Sebagai tambahan, digital manufacturing merupakan pendekatan dunia industri melalui digitalisasi proses pembuatan produk. Misalnya dalam proses produksi motor yang dulunya membutuhkan waktu lama. Namun, sekarang, untuk membuat hal yang sama hanya membutuhkan waktu singkat berkat bantuan dari alat dan robot. “Inilah yang disebut dengan Cobot atau Robot collaboration di industri 4.0,” ucap praktisi digital manufacturing tersebut. Adapun pasar dunia saat ini memiliki permintaan atas kualitas produk yang tinggi dengan waktu produksi yang cukup singkat dan harga diskon yang murah. Kebutuhan konsumen yang cepat berubah, peningkatan varietas produk, dan distribusi global juga berpengaruh. Maka dari itu, efisiensi dalam penciptaan produk sangat penting dilakukan dan memerlukan skill khusus. Maka dari itu, Farkhan menambahkan, usaha yang dilakukan oleh UMM khususnya prodi Teknik Mesin ini sudah sangat baik untuk menjawab tantangan dunia. Di sisi lain, Zulfatman, M.Eng., Ph.D selaku Wakil Dekan I juga mengatakan bahwa peluncuran program CoE Digital Manufacturing merupakan salah satu upaya UMM untuk menjawab tantangan dunia kerja saat ini. Zulfatman berharap, mahasiswa yang mengikuti program CoE nantinya tak hanya mendapat skill yang dibutuhkan saja, namun juga berbagai pengalaman yang didapat saat magang di dunia industri. “Karena kelas CoE memiliki kata excellence, di mana artinya adalah mahasiswa terpilih yang mengikuti kelas ini merupakan SDM yang akan menjadi excellence. Siap memantaskan dirinya untuk dunia industri,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)
Sekum PP Muhammadiyah di UMM: Ramadan Jadi Momen Kontribusi Selesaikan Masalah Masyarakat

Ramadan tidak hanya jadi momentum bagi peningkatan spiritual, tetapi juga sebagai bulan islah (perbaikan) dan transformasi diri untuk ikut berkontribusi menyelesaikan masalah-masalah sosial. Hal itu ditegaskan langsung oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. dalam Tarhib Ramadhan Ceria dengan tema Bermuhammadiyah dengan Kepedulian Sosial. Adapun agenda itu dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 8 Maret lalu. “Bulan puasa itu bulan pendidikan bagi kita semua. Banyak nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya dan saudara harus sadar akan hal ini,” jelasnya. Lebih lanjut, dia mengutip teori dari Charles Duhigg dalam buku The Power of Habit tentang cara membangun dan menciptakan kebiasaan baru yang positif. Setidaknya ada tiga poin penting yang harus dilakukan, yaitu memiliki niat, rutin dalam menjalankan, dan yang terakhir adalah pemberian reward (hadiah). Lantas, ia juga memberikan analogi teori tersebut dengan nilai-nilai keislaman dalam bulan Ramadhan. “Pertama yakni niat yang sudah pasti menjadi landasan awal kita dalam melakukan perubahan dalam diri, innamal a’malu binniyat. Lalu rutin, selama bulan ramadhan kita diajarkan untuk berpuasa, lalu ada juga tarawih, kemudian ada i’tikaf dan amalam-amalan sunnah yang lain. Dan yang terakhir reward yang ini puncaknya, bisa diartikan kalau secara umum hadiahnya itu saat idul fitri. Namun kalau dari sisi personal, yaitu perbaikan diri secara individu menjadi lebih baik,” jelasnya. Menurutnya, suatu perubahan yang dilakukan itu tidak perlu langsung secara ekstrim. Namun bisa dilakukan dan dimulai dari hal yang mudah dan sederhana tapi dilakukan secara rutin. Apalagi mengingat bahwa kebiasaan yang ingin dibangun merupakan hal baru dna butuh proses. Cara itu juga bisa digunakan dan diterapkan di segala lini kehidupan demi membangun kebiasaan dan pribadi yang lebih bagus. Terakhir, ia berpesan kepada seluruh auidens yang hadir untuk tetap mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik serta meninggalkan kebiasaan buruk. “Kebiasaan itu harus dibangun. Kebiasaan yang baik dipertahankan dan ditingkatkan, sementara yang kurang baik ditingkatkan. Hal itu kita lakukan secara terus menerus hingga akhir hidup,” tutupnya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. menyatakan bahwa UMM siap memberikan atmosfer bulan suci yang kental. Salah satu bukti nyata yakni dengan adanya acara Tarhib Ramadhan Ceria sebagai hidangan pembuka memasuki bulan suci Ramadan. “Setiap bulan ramadhan, UMM selalu mengadakan kegiatan islami untuk mengisi dan memeriahkan bulan tersebut. Ada kajian rutin bagi mahasiswa, dosen, maupun karyawan. Bahakn ad abanyak agenda unik yang sudah digelar. Semoga seluruh sivitas akademika Kampus Putih mendapatkan berkah dari acara ini, lebih luas yakni dari bulan Ramadan ini,” pungkasnya. (faq/wil)
Jelang Ramadhan, Ketua Umum Aisyiyah Beri Pengajian di UMM

Beberapa hari lagi, kita akan memasuki bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. Untuk menyambut itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Pengajian Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah, 6 Maret lalu. Pengajian ini menguaung tema ‘Ramadhan Ceria: Spirit Meneguhkan Kebersamaan antar Sesama’ yang diisi langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Dr. apt. Salmah Orbayyinah, M. Kes. Menurut Salmah, bulan Ramadhan harus disambut dengan ceria, ikhlas, penuh sambut dan kerinduan sebagaimana menyambut sang kekasih. Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling istimewa sebab Allah memberikan segala macam rahmatnya dibulan ini. Doa dikabulkan, dosa dimaafkan, kebaikan diterima, dan ada rasa kerinduan terhadap surga. “Bulan yang penuh berkah ini juga mengandung nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kesuksesan hidup di dunia, nilai-nilai kepasrahan yang tinggi, nilai-nilai sosial, dan masih banyak nilai yang bisa mengantarkan kita agar sukses hidup di dunia,” ucap Salmah. Lebih lanju, ia menjelaskan bahwa puasa bukan hanya kegiatan menahan haus dan lapar, namun juga bagamana kita bisa mengendalikan hawa nafsu, amarah, dan melatih kesabaran. Maka, perlu ada persiapan untuk menyambut bulan suci. Dimulai dengan menjaga kesehatan agar mampu menjalankan rangkaian kegiatan selama sebulan penuh. Lalu beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah kita lakukan baik sengaja maupun tidak. Jadi saat masuk bulan Ramadan, kita sudah dalam keadaan bersih. “Kemudian, buatlah rancangan kegiatan yang harus dilakukan. Dengan begitu, segala sesuatunya bisa berjalan dengan efektif. Jangan lupa siapkan dana infak yang cukup,” jelasnya. Salmah juga menekankan akan pentingnya menambah intensitas membaca Alquran di bulan Ramadan. Apalagi kitab suci tersebut juga memang diturunkam di bulan itu. Ia tidak hanya mendorong untuk banyak membaca Alquran, tapi juga memahami dan mempraktekannya di kehidupan sehari-hari. “Mari jangan sia-siakan bulan Ramadan ini dengan hal-hal yang kurang baik seperti berghibah atau membicarakan hal yang tidak penting. Jadikan bulan ini sebagai kesempatan untuk terus beribadah, belajar, dan meningkatkan kualitas hidup kita,” tuturnya. (dev/wil)
Aris Dikukuhkan Guru Besar bersama Mendiang Istrinya

Dikukuhkan menjadi guru besar di waktu yang bersamaan dengan pasangan adalah impian banyak orang. Hal itu pula yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 9 Maret lalu. Sepasang suami istri berhasil meraih gelar tertinggi dalam aspek akademik, mereka adalah Prof. Dr. Ir. Aris Winaya, M.M., M.Si., IPU, ASEAN Eng. dan Prof. Dr. Ir. Maftuchah, M.P. Keduanya sama-sama mengabdi di Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM dan memiliki fokus penelitian yang menarik di bidangnya. Meski begitu, hari pengukuhan tersebut masih diselimuti duka karena Maftuchah harus berpulang beberapa minggu sebelumnya. Sehingga Aris yang juga Dekan FPP UMM tersebut dikukuhkan sendiri tanpa istrinya. Sementara Maftuchah dianugerahi dan dikukuhkan sebagai guru besar anumerta. Selain itu, berkat teknologi AI, Maftuchah juga ‘dihadirkan’ dan orasinya tersampaikan di hadapan para tamu. Dalam paparannya, Aris menjelaskan mengenai aplikasi teknologi DNA dalam penguatan strategi konservasi sumber daya genetik ternak di Indonesia. Ia melanjtukan bahwa beberapa negara yang telah berkomitmen untuk mempertahankan potensi genetik ternak lokal akan terus mengamati tren perkembangan bidang peternakan. Di sisi lain, teknik genetika molekuler diperkirakan akan memiliki dampak yang cukup besar di masa depan. Misalnya tes berbasis DNA untuk gen yang mempengaruhi sifat kualitatif yang sulit diukur saat ini, seperti kualitas daging atau ketahanan terhadap penyakit. “Hal Ini juga akan membuka jalan menuju kemungkinan kemajuan dalam evolusi biologi, pemuliaan hewan dan hewan model untuk penyakit manusia. Misalnya saja, seleksi genomik yang seharusnya bisa meningkatkan dua kali lipat keuntungan genetik dalam industri susu. Meski begitu, ada tantangan tersendiri. Seperti terjadinya revolusi dalam bidang pemuliaan ternak sebagai alat dan teknik yang berbeda dengan pemuliaan konvensional selama ini,” tambahnya. Terkait ternak Indonesia, Aris yakin bahwa studi tentang keragaman breed sapi lokal Indonesia berbasis DNA akan mencerminkan variasi genetik mereka dari sisi esensi. Apalagi, saat ini sumber daya genetik sapi-sapi asli Indonesia semakin menurun tajam. Maka studi tentang keragaman breed sapi asli Indonesia semakin penting. “Konservasi keanekaragaman genetik ternak lokal harusnya sudah menjadi program yang wajib diimplementasikan,” tegasnya. Selain menyajikan orasi ilmiah menarik, prosesi pengukuhan tersebut juga menceritakan bagaimana Aris dan Maftuchah saling mendukung satu sama lain hingga mencapai titel guru besar. Aris menceritakan kisah pada tahun 1994, di mana ia dan istri menikah. Kemudian penantian panjang selama sembilan tahun untuk mendapatkan amanah buah hati. Bahkan juga perjuangan Maftuchah yang harus menyelesaiikan studi di Bogor saat masih hamil serta upaya Aris bolak balik Malang-Bogor untuk menemani sang istri sembari menjalankan tugas sebagai dosen di UMM. Di sisi lain, orasi ilmiah yang sudah disusun Maftuchah juga berhasil tersampaikan melalui teknologi AI. Orasinya membahas mengenai pengembangan teknologi budidaya tanaman jarak pagar (jatropha curcas linn) untuk mendukung ketersediaan sumber bahan bakar biodiesel. Tanaman jarak pagar memiliki sejarah panjang, terutama pemanfaatannya sebagai bahan bakar nabati. Saat penjajahan Jepang, biji dari buah tanaman jarak ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar penerangan maupun minyak bakar. “Namun, hingga saat ini pengembangan tanaman jarak pagar masih belum signifikan, bahkan cenderung tidak diutamakan, terutama terkait pemanfaatannya untuk sumber energi,” jelasnya. Menurut orasinya, penanaman tanaman jarak pagar perlu diupayakan pada daerah-daerah marginal Jika ditanam pada lahan produktif, maka akan berkompetisi dengan tanaman pangan sehingga nilai ekonomisnya menjadi rendah dan petani tidak tertarik untuk budidaya tanaman jarak pagar. Edukasi tentang pemanfaatan biji buah jarak untuk bahan bakar nabati juga harus tetap dilakukan, diikuti dengan pengembangan teknologinya, terutama dalam penggunaannya sebagai biofuel. (wil)
Raih Akreditasi dari Kemnaker, LPK UMM Buka Sederet Pelatihan

Kabar gembira kembali didapatkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) milik UMM berhasil mendapat akreditasi yang setara dengan A yang dikeluarkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Surat akreditasi tersebut dikeluarkan pada akhir tahun lalu dan dan diberikan langsung oleh Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi kepada Kepala Divisi Alumni UMM Rahmawati Khadijah Maro, S.Pd., M.P.Ed. Akreditasi tersebut sekaligus sebagai tanda legalitas yang dimiliki oleh lembaga LPK untuk menjalankan pelatihan di lingkungan kampus. Rahma, panggilan akrabnya, mengatakan, proses akreditasi LPK dimulai sejak beberapa bulan lalu. Beberapa aspek yang meliputi visi misi, sumber daya manusia, tata kelola pelatihan, dan lain sebagainya. “Kami sangat bersyukur dengan akreditasi yang dicapai LPK ini. Apalagi sejak vakum akibat Covid-19, kami jadi tidak dapat melaksanakan pelatihan bagi alumni atau mahasiswa seperti sebelumnya,” ucap dosen Program Studi Bahasa Inggris itu. Uniknya lagi, LPK UMM berhasil mendapat penghargaan lulus akreditasi tanpa revisi. Tak hanya itu, LPK UMM juga menjadi salah satu lembaga pelatihan yang dibiayai penuh oleh dinas ketenagakerjaan untuk melakukan akreditasi. Sebagai tambahan, LPK didirikan sejak tahun 2018. Lembaga ini memiliki misi untuk mengembangkan skill mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Sejak menerima legalitas dari pemerintah, LPK memiliki beberapa jenis pelatihan yang dapat diikuti masyarakat umum seperti manajemen, kewirausahaan, manajemen keuangan, pemasaran, public relation, perbankan syariah, dan lain sebagainya. Namun, karena Covid-19, pelatihan yang disediakan harus dihentikan terlebih dahulu. Saat ini, LPK menambah satu pelatihan baru yang diberi nama pembuatan roti manis dan roti sobek. Dalam penyelenggaraan pelatihan itu, LPK bekerjasama dengan Dunia Kerja Dunia Industri (DUDI) seperti Rayz Hotel Malang, Kapal Garden Hotel Malang, dan My Dormy Hostel. “Pelatihan tersebut akan diselenggarakan tanggal 8 sampai 9 Maret 2024 nanti. Ada beberapa materi yang diberikan, seperti teori dan praktik langsung dari praktisi. Jadi para peserta tidak kebingungan. Agenda itu terbuka untuk umum, jadi mahasiswa atau masyarakat bisa turut serta,” tegasnya. Tak hanya mengenai cara pembuatan, peserta nantinya juga akan mendapat pelatihan manajemen keuangan, promosi, praktik, hingga distribusi dan cara penyimpanan. Rahma mengatakan, target peserta dari pelatihan ini sebanyak 40 orang. Adapun kelebihan dari pelatihan yang diadakan oleh LPK UMM ini tak hanya dari segi skill yang diberikan, tapi juga adanya sertifikat, diajari langsung oleh para pakar dibidangnya, fasilitas untuk meminjam alat seteleh pelatihan berlangsung, hingga bertukar pikiran dengan anggota lain. “Jadi, semisal nanti setelah pelatihan peserta ada yang ingin membuka usaha namun tidak memiliki peralatan yang dibutuhkan, mereka dapat meminjam peralatan yang kami sediakan di LPK UMM ini. Tak hanya itu saja, alumni pelatihan juga diberikan akses diskusi dengan kami agar skill yang mereka dapatkan tidak cepat hilang,” tambahnya. (tri/wil)
UMM Gelar Diskusi, Soroti Regulasi Ketenagalistrikan Indonesia

Regulasi seputar ketenagalistrikan di Indonesia telah mengalami sejumlah perubahan signifikan sepanjang beberapa dekade terakhir. Dalam diskusi yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 4 Maret lalu, turut hadir beberapa pakar serta Badan Keahlian Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia. Diskusi itu berupaya menyelidiki sejarah dan perjalanan RUY ketenagalistrikan serta dampaknya bagi masyarakat dan pemerintah. Diawali dengan paparan ahli pertama, yakni Sumali, M.H. yang memandang bahwa preview RUU menjadi hal yang penting dan perlu diperhatikan. Sederet hak yang harus disoroti adalah partisipasi masyarajat dalam pembentukan undang-undang. dia merujuk pada putusan MK No.91/PUU-XVIII/2020 yang menetapkan tiga syarat utama untuk menciptakan partisipasi masyarakat. Di antaranya hak didengarkan, hak dipertimbangkan, dan hak mendapatkan penjelasan atas pendapat yang diberikan. “Tak hanya itu, saya juga menggarisbawahi bahaya autocratic legalism, yaitu serangan terencana oleh penguasa terhadap institusi pengawasannya dalam kerangka mandat demokratis. Selain itu, penting pula untuk mencegah Nashrudin Hoja Syndrome, yaitu fenomena di mana motif dan tujuan pembuatan UU tidak jelas atau bahkan bertentangan dengan prinsip demokrasi. Hal ini penting agar RUU tidak bersifat otonom, represif, atau autocratic legal, tetapi responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” tegasnya. Beberapa pasal dalam RUU Ketenagalistrikan menjadi sorotan dalam diskusi ini. Misalnya, Pasal 10A yang menimbulkan pertanyaan apakah ini akan membawa dampak seperti unbundling atau justru memungkinkan integrasi. Begitu pula dengan Pasal 11A yang menimbulkan kekhawatiran akan privatisasi atau liberalisasi karena memberikan kewenangan kepada badan usaha milik negara untuk dievaluasi dan diprioritaskan wilayahnya. “kompleksitas dalam merumuskan regulasi ketenagalistrikan yang tidak hanya mengakomodasi kebutuhan masyarakat dan pemerintah, tetapi juga mempertimbangkan prinsip-prinsip konstitusi dan perlindungan kepentingan nasional. Perlu adanya pemahaman yang mendalam dan dialog terbuka antara semua pemangku kepentingan untuk menciptakan regulasi yang efektif dan berkelanjutan bagi sektor ketenagalistrikan di Indonesia,” jelasnya Lain halnya dari perspektif Zulfatman selaku pakar dan dosen teknik. Ia menyoroti bagaimana kondisi ketenagalistrikan nasional menunjukkan beberapa tantangan, terutama terkait dengan emisi karbon dan dominasi pembangkit berbahan bakar fosil. Untuk mengatasi hal ini, fokus penguatan dalam RUU diperlukan untuk mendorong penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai pondasi pengembangan ketenagalistrikan masa depan. “Partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam mengawal perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan usaha ketenagalistrikan, khususnya terkait dengan isu lingkungan dan keberlanjutan. Selain itu, penetapan tarif tenaga listrik juga perlu memperhatikan beban ekonomi dan aspek lingkungan untuk menciptakan keadilan dan keberlanjutan,“ ungkapnya. Selain itu, pembelian dan penjualan tenaga listrik lintas negara harus dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan nasional, tidak menimbulkan ketergantungan, dan memperhatikan penggunaan energi bersih. Diskusi ini menegaskan perlunya dorongan kuat untuk mengembangkan EBT, menyusun regulasi yang adil dan berkelanjutan, serta melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Hanya dengan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, Indonesia dapat mencapai ketenagalistrikan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. (rev/wil)
Dosen Pendidikan Biologi UMM: Air Hujan Berpotensi Mengandung Mikroba

Musim penghujan menjadi berkah bagi daerah-daerah di Indonesia. Terutama daerah yang sepanjang kemarau mengalami kesulitan air bersih, juga bagi mereka yang tinggal jauh dari mata air. Tak jarang, saat musim penghujan datang beberapa masyarakat menampungnya untuk keperluan sehari-hari. Mulai dari bersih diri hingga memasak. Namun tak banyak yang tahu, ternyata air hujan tak selalu layak konsumsi. Prof. Dr. Ainur Rofieq, M.Kes. selaku dosen program studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyatakan bahwa air hujan bisa diminum tapi dengan beberapa faktor keamanan yang harus dipenuhi. Meski secara kasat mata terlihat bersih, namun ketika jatuh ke tanah atau atap, air hujan dapat tercemar polusi seperti debu, kotoran burung atau bahan kimia yang ada di udara. Tak hanya berpotensi mengandung mikroba dan zat kimia, Rofiq juga menyampaikan bahwa air hujan memiliki kandungan asam yang tinggi. Kondisi ini dapat merusak lingkungan dan mengurangi kualitas air. Sementara logam berat seperti timbal atau merkuri yang mungkin terdapat dalam air hujan juga berbahaya bagi kesehatan jika terkonsentrasi dalam jumlah tinggi. “Selama hujan deras, air tanah dapat terkontaminasi dengan berbagai bahan kimia dan mikroorganisme yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Mikroba seperti bakteri, virus, dan parasit dapat menyebabkan penyakit seperti diare, kolera, demam tifoid, infeksi kulit, infeksi saluran pernapasan, dan bahkan kolera,” tambahnya. Oleh karenanya, sebelum dikonsumsi penting untuk selalu memastikan bahwa air hujan telah dimasak dahulu untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme lain yang mungkin ada di dalamnya. Penggunaan alat penyaring atau pembersih air yang sesuai juga dapat membantu memastikan air hujan aman untuk diminum. “Dengan memahami risiko-risiko terkait dengan air hujan yang terkontaminasi, kita dapat menjaga kualitas air minum kita dan melindungi diri serta keluarga kita dari bahaya yang mungkin timbul. Jangan abaikan pentingnya pengujian dan langkah-langkah pencegahan, karena kesehatan kita adalah hal yang berharga,” pungkasnya. (bal/wil)
Ini Sosok Mutiara, Wisudawan Cantik UMM yang Berprestasi

Adalah Mutiara Mustofa Rahman, mahasiswi cantik nan berprestasi yang baru saja lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Program Studi (Prodi) Akuntansi. Ia merupakan salah satu dari sederet wisudawan berprestasi dari Kampus Putih, 29 Februari lalu. Selama berkuliah di UMM, Mutiara aktif di berbagai kegiatan di kampus, mulai dari putra putri kampus, Center of Excellence (CoE), hingga Digital Team. “Selama di kampus, aku ikut berbagai kegiatan karena memang UMM menyediakan banyak pilihan. Salah satunya ajang putra putri kampus. Alhamdulillah, aktivitas itu mengantarku ke dunia fashion seperti duta hijab Malang dan dapat ilmu baru seputar jurnalistik dan photoshoot,“ ceritanya. Selain itu, dia juga aktif menjadi digital team yang merupakan perkumpulan konten kreator di UMM. Dari situ, ia akhirnya memahami dan belajar banyak tentang pembuatan konten-konten edukatif yang menarik. Sekaligus mengasah skillnya dalam dunia videografi dan editing video. Dia juga aktif menjadi konten kreator tiktok @mutiaramrrr_ dengan jumlah followers 149 ribu dan instagram @mutiaramrrr_ dengan followers 33 ribu. “Aku juga salah satu bagian dari digital team UMM. Di situ, aku bertemu banyak sekai influencer dari UMM. Kami bisa saling sharing dan kolaborasi dalam membuat konten menarik,” katanya. Wisudawan asal Tebl, Provinsi Jambi itu juga mengikuti program CoE kelas profesional School of Sustainability Accounting yang ada di prodi akuntansi. Ia mengikuti program tersebut selama satu semester dan mendapat kesempatan magang profesional di PT. Petrokimia Gresik. Menariknya, dengan mengikuti program CoE itu, dia mendapatkan ekuivalensi tugas akhir yang menjadikannya lulus tanpa perlu mengerjakan skripsi. “Aku juga ikut CoE yang ada di prodi dan ditempatkan di PT. Petrokimia Gresik. Banyak hal yang aku dapatkan, seperti ilmu baru seputar akuntansi lingkungan. Saya juga sukses lulus tanpa skripsi berkat CoE,” ungkapnya. Sebagai tambahan, CoE merupakan salah satu program di UMM yang memberikan wadah kepada mahasiswa untuk secara langsung melakukan praktik bersama dengan berbagai Dunia Usaha Dunia Industri. Melalui CoE tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mendapat pengalaman langsung dari lapangan. Hal itu menjadi bekal mahasiswa saat lulus serta membuka kesempatan untuk langsung bekerja di DUDI yang ditempati. Terakhir, ia mengaku bahwa banyak sekali peran kampus yang memberikan kontribusi langsung kepadanya dalam mengembangkan minat dan bakat. Dia juga sangat bangga menjadi bagian dari jas merah Kampus Putih. “Pesanku kepada seluruh mahasiswa yakni jangan puas dengan apa yang diraih dan berdiam diri. Teruslah berusaha dalam mengembangkan minat dan bakat serta menunjukkannya. Aku yakin, kampus UMM akan mendukung dan mewadahi bakat kalian,” pungkasnya. (faq/wil)
Apakah Teh Sehat untuk Anak? Begini Penjelasan Dokter UMM

Rasa dan wangi teh yang khas membuatnya jadi salah satu minuman favorit banyak orang tanpa memandang usia. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun menyukai teh. Namun, apakah the sehat untuk anak-anak? Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Hawin Nurdiana, M.Kes., Sp.A. menjelaskan bahwa memang tidak ada larangan bagi anak-anak untuk mengonsumsi teh. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan para orang tua. Teh mengandung fitat dan tannin yang menyebabkan terhambatnya absorpsi atau penyerapan zat besi. Sedangkan zat besi sangat berguna untuk pertumbuhan maupun perkembangan. Utamanya pada anak usia 6 bulan hingga 2 tahun yang tergolong pada periode pertumbuhan cepat. Anak pada usia 0-6 bulan bisanya akan diberi asi ekslusif, kemudian pada usia 6-24 bulan bisa mengonsumsi Makanan Pendamping ASI (MPASI). Jika semisal MPASI tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan zat besi pada anak, maka dapat menyebabkan anemia pada anak tersebut. “Tidak hanya pada pertumbuhan, zat besi pun berpengaruh untuk kecerdasan otak. Ketika penyerapannya terhambat, kemudian zat besi yang masuk menjadi sedikit. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan pada anak,” jelasnya. Jika anak ingin mengkonsumsi theh, Hawin menyarankan untuk meminumnya diantara dua waktu makan, bukan setelah makan. Gunanya agar tidak menghambat penyerapan zat-zat besi yang sudah dikonsumsi. Pun jangan mengonsumsi teh kemasan yang mengandung gula secara berlebih. “Teh dalam kemasan dengan banyak kandungan gula, dapat menyebabkan anak obesitas,” tambahnya. Di sisi lain, teh mengandung polifenol yang berguna untuk anti radang dan antioksidan yang juga bermanfaat bagi tubuh. Namun minuman ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara rutin dan berlebihan. Teh juga mengandung kafein, teofilin dan teobromin yang berfungsi sebagai stimulan. Berbagai hal tersebut terkadang menyebabkan anak menjadi lebih hiperaktif. “Jika anak terlihat aktif bahkan hingga sulit tidur, disarankan untuk tidak mengkonsumsi teh,” tandas Hawin. Secara umum, sebetulnya teh tidak berbahaya bagi anak, tetapi manfaat konsumsi teh secara rutin pada anak belum terbukti. Masyarakat tetap dapat memberikan teh sebagai minuman bagi anak dengan memperhatikan jumlah dan waktu pemberian. Namun, Hawin menyarankan agar anak bisa mengonsumsi susu karena manfaatnya lebih banyak. “Teh itu tidak mengandung protein, lemak, karbohidrat, hanya mengandung sedikit mineral,” ucapnya mengakhiri. (dev/wil)