Cerita Seru Mahasiswa UMM Jadi Imam Masjid

Bulan Ramadhan mengukir kisah istimewa bagi siapa saja, tak terkecuali Fauzan Al Ziaulhaq seorang takmir dan imam masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) UMM. Fauzan, panggilan akrabnya menceritakan, bulan Ramadhan menghadirkan banyak cerita menarik. Mulai dari yang sedih hingga membahagiakan. “Sedihnya saat momen puasa pertama, tidak bisa sahur dan berbuka bersama keluarga. Apalagi saya rumah saya memang jauh dan berbeda pulau,” ujar pria yang telah menjadi takmir sejak tahun 2021 tersebut. Meski merasa sedikit berbeda karena tidak dapat mengawali Ramadhan bersama keluarga tercinta, namun mahasiswa asal Aceh ini mengaku hal itu tidak berlangsung lama. Kehadiran teman-teman sesama takmir dan imam dapat menambal rindunya. Apalagi teman-teman takmirnya berasal dari berbagai daerah yang berbeda dari seluruh Indonesia. Ada yang berasal dari Lombok, Sumbawa, Padang, dan Bima. Menjadi takmir merupakan hal yang sejak lama telah ia idam-idamkan. Selain dapat mengamalkan ilmu yang di dapat dari pondok pesantren, menjadi takmir memberikan peran yang cukup penting baginya untuk turut serta menjaga kebersihan, keamanan, kemakmuran masjid serta kenyamanan orang-orang yang beribadah. “Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya ditunjuk untuk menjadi imam sholat Idul Fitri di UMM 2023 lalu. Rasanya deg-degan tapi membanggakan. Alhamdulillah saat itu berjalan dengan lancar,” ujarnya bangga. Berawal dari keinginan untuk mendapatkan lingkungan sekitar yang baik, Fauzan mengaku banyak kebermanfaatan lain yang peroleh saat menjadi takmir masjid. Diantaranya adalah tempat tinggal yang nyaman, beasiswa dari Masiid AR Fachruddin serta teman-teman positif yang saling mendukung dalam kebaikan. “Kebetulan para takmir UMM juga dapat fasilitas seperti tempat tinggal bagi setiap pengurus dan beasiswa dari Badan Pemakmuran Masjid (BPM) AR. Fachruddin. Karena saya juga lulusan pondok, dengan menjadi takmir ini saya dapat menjaga hafalan yang sudah saya miliki,” ucapnya. Fauzan pun mengajak para anak muda lain khususnya teman-teman mahasiswa untuk tak segan-segan memakmurkan masjid. Ia menegaskan, akan ada banyak keberkahan dan kebaikan yang di dapat. Tidak hanya pahala, tpai juga circle yang baik, kajian-kajian menarik, dan lainnya. “Khusus untuk mahasiswa UMM yang ingin menjadi takmir, dapat terus memantau akun media sosial Masjid AR Fachruddin @umm.masjidarfachruddin. Calon takmir tidak harus memiliki hafalan yang banyak, asal istiqomah untuk melanjutkan tambahan hafalannya. Dengan menjadi takmir kita berkesempatan menjadi imam sholat lima waktu, imam sholat terawih, mengurus kajian-kajian jelang berbuka, kajian subuh dan segala kegiatan yang bersangkutan dengan masjid,” pungkasnya bahagia. (dev/wil)
Bukber Jalanan UMM, Gaet Seniman Jalanan dan Pengguna Jalan

Bahagia yang sebenarnya adalah ketika bisa membagi kebahagiaan itu ke orang lain. Hal itu pula yang mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Rayz Hotel UMM untuk melakukan buka bersama Ramadan Ceria, 19 Maret lalu di Jalan Ahmad Yani, Blimbing, Malang. Menggandeng seniman jalanan, UMM menghibur para pengendara motor serta mobil dan membagikan takjil dan makanan. Menariknya, ada live masak makanan bintang empat yang ditampilkan selama buka bersama serta keikutsertaan mahasiswa mancanegara. Kegiatan itu sesuai dengan apa yang disampaikan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. beberapa waktu lalu. Nazar menjelaskan bahwa aktivitas itu menjadi cara UMM menabar manfaat. Menurutnya, dalam menjalankan ibadah Ramadan, setiap insan memang harus bisa memasuki ruang publik Mewujudkan kesalehan sosial dan kesalehan lingkungan. Di samping itu, salah satu seniman musik jalanan Muhammad Aris Maulana mnegaku senang bisa berkolaborasi dengan UMM. Tidak hanya menyajikan hiburan musik untuk para pengendara dan warga, tapi benar-benar menyediakan menu makanan hotel bintang empat dari Rayz Hotel UMM. Sehingga, para warga yang datang merasa bahagia berkat musik yang dimainkan sekaligus santapan yang mengenyangkan saat berbuka puasa. Apalagi dengan kehadiran mahasiswa asing Kampus Putih yang membantu menyemarakkan buka bersama. Mulai dari mahasiswa asal Vietnam, Afrika, Iran, dan lainnya. Terhitung, lebih dari seratus warga dan pengendara mampir dan menikmati hidangan hotel bintang empat itu. Terkait makanan dan minuman yang dihidangkan, Hery Damayanti selaku Senior Sales manajer Rayz Hotel UMM menjelaskan beberapa menu andalan nan lezat yang disediakan gratis dalam agenda itu. Mulai dari ayam bakar, buah-buahan, sayur, minuman segar, dan lainnya. Selama menikmati makanan, para warga juga dihibur dengan penampilan para seniman musik jalanan. “Tak jarang, para pengendara motor berhenti berkat penampilan seniman musik jalanan,” katanya. Salahs satu mahasiswa asing, Nguyễn Hoài Ngân atau akrab dipanggil Ningsih. Ia merasa senang bisa ikut dalam agenda unik itu. Apalagi di negaranya, budaya buka bersama belum pernah ia rasakan. “Saya merasa sangat bahagia sekali karena ini juga baru kali pertama saya mengikuti buka puasa bersama dengan banyak masyarakat lokal. Ketika mereka merasa bahagia, jujur saya juga turut merasakan kebahagiaan mereka,” ucapnya. Di sisi lain, Lastri selaku salah satu masyarakat mengungkapkan ketertarikannya. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat, terutama bagi mereka yang kurang beruntung dan tidak memiliki banyak uang untuk membeli makanan berbuka. Makanan yang disediakan oleh Rayz Hotel UMM juga enak karena memang benar-benar menyajikan hidangan hotel bintang empat. “Saya sangat berharap bahwa acara UMM ini kedepannya sukses dan berjalan lancar. Saya doakan agar tim UMM selalu diberikan kesehatan dan bisa menyelenggarakan hal seperti ini kembali ke depannya,” harapnya. (tri/wil)
Gaet Dua Lembaga Internasional, FKIP UMM Latih Dai Seluruh Indonesia terkait Literasi Keagamaan

Untuk membekali para dai, daiyah dan penyuluh agama dari seluruh Indonesia tentang literasi keagaman, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan program internasional bersertifikat. Menggaet Leimana Institute dan Templeton Religion Trust, FKIP UMM mengenalkan literasi keagamaan lintas budaya. Terhitung, ada 738 peserta yang turut serta dalam agenda yang dilaksanakan pada 4-8 Maret itu. Direktur Eksekutif Leimena Institute Matius Ho menyebutkan bahwa literasi keagamaan lintas budaya merupakan wujud inisiatif dan best practice pendekatan pendidikan dari Indonesia. Utamanya untuk mengatasi masalah intoleransi dan membangun relasi lebih baik antar penganut agama yang berbeda. “Dalam waktu kurang dari 2,5 tahun, Leimena Institute telah menggandeng 25 lembaga mitra untuk melatih lebih dari 7.000 pendidik di 34 provinsi di Indonesia tentang literasi keagamaan dan lintas budaya ini,” katanya. Adapun program ini bertujuan untuk menguatkan eksistensi dan kolaborasi damai antar agama di Indonesia dengan mengenalkan literasi keagamaan lintas budaya bagi guru dan penyuluh agama. Ada tiga kompetensi yang dikembangkan dalam kegiatan ini, yakni kompetensi pribadi, kompetensi komparatif, dan kompetensi kolaboratif. Kompetensi pribadi merujuk pada kemampuan memahami diri sendiri dan nilai-nilai yang memandu keterlibatan Anda dengan orang lain. Kompetensi komparatif merujuk pada kemampuan memahami orang lain sebagaimana dia memahami dirinya sendiri dan nilai-nilai yang memandu keterlibatan mereka dengan dirinya. Sementara kompetensi kolaboratif merujuk pada kemampuan dalam memahami konteksi potensi kolaborasi di antara aktor-aktor yang berbeda keyakinan. Dalam konteks Indonesia, menurut Dr. Nurbani Yusuf, kekerasan dan konflik yang disebabkan oleh perbedaan masih kerab terjadi. Bahkan, data menunjukkan, sebanyak 422 tindakan pelanggaran kebebasan beragama terjadi di Indonesia selama 2020. Menyikapi hal tersebut, peserta diajak untuk kembali pada ajaran Islam. “Kita harus menyadari bahwa Islam itu sumber damai dan nirkekerasan. Itu bisa kita lihat misalnya pada Q.Q. Al-Maidah ayat 32, Q.S. Al-Baqarah Ayat 256 dan Ayat 62, serta keteladanan yang telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW,” kata dosen senior Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa penanganan konflik agama dapat diatasi melalui pendekatan bina-damai (peacebuilding), jaga-damai (peacekeeping), dan cipta-damai (peacemaking). Bina damai yaitu membangun rasa percaya untuk mengurangi mispersepsi dan stereotipe berkaitan dengan hal mendasar untuk memutus rantai penyebab konflik dan kekerasan. “Sementara itu, jaga-damai berkaitan dengan penggunaan instrument negara seperti militer dan cipta-damai berkaitan dengan aksi nyata dan komitmen menolak kekerasan langsung atau structural dalam format apa pun,” kata founder komunitas Padang Makhsyar ini. Lebih lanjut, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si dalam paparannya mengatakan toleransi sosial keagamaan menjadi kunci dalam mengatasi konflik ini. Konsep harmoni sosial-keagamaan mencakup kerjasama lintas agama, hidup berdampingan secara damai, dan kebebasan beragama. Implementasinya terwujud dalam pembelajaran multikultural yang mengajarkan keberagaman, memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap budaya dana agama, serta meningkatkan kepekaan terhadap perbedaan. “Yang tidak kalah penting, kurikulum harus mengintegrasikan keragaman budaya, agama, dan kehidupan sosial dalam pembelajaran. Kegiatan ekstrakurikuler juga mengakaomodasi dialog antar agama dan pertukaran budaya,” pungkas Kadir. (wil)
Dirikan Amerta Bumi, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan di Ajang Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak pernah berhenti mengharumkan nama kampus di ajang bergengsi internasional. Terbaru, Muhammad Zair Baitil Atiq mahasiswa prodi Hubungan Internasional (HI) berhasil membawa pulang penghargaan sebagai juara 1 Best Project, Best Participant, dan Most Active Group dalam Fully Funded Istanbul Youth Summit yang diselenggarakan oleh Youth Break The Boundaries di Istanbul, Turki pada 3 hingga 7 Maret 2024 lalu. Zair, panggilan akrabnya mengatakan, program ini berfokus pada Sustainable Development Doals (SDGs) yang mempunyai 17 point utama. Namun pada kesempatan kali ini hanya berfokus pada empat poin, yaitu Good Health and Well-Being (SDGs 3), Equality Education (SDGs 4), Decent Work and Economic Growth (SDSs 8), dan Climate Action (SDGs 13). Dalam pelaksanaanya, ia dibagi menjadi beberapa kelompok dari setiap Universitas di berbagai negara. Adapun Zair memilih untuk mengambil tema dari SDGs 13 dan mempersiapkan beberapa program unggulan sejak bulan Desember 2023 lalu. “Kami menawarkan inovasi untuk kepentingan masyarakat. Inovasi tersebut ialah membentuk sebuah komunitas yang bernama Amerta Bumi yang berupaya menyadarkan manusia agar melakukan waste management. Terobosan ini juga berjalan berdasarkan riset yang sudah saya lakukan,” katanya. Lebih lanjut Zair menceritakan bahwa hasil penyusunan inovasi dipresentasikan secara langsung di Golden Tulip Hotel Istanbul. Selama empat hari kegiatan, ia bertemu dengan 152 partisipan dari 27 negara. “Pada hari ketiga, saya berkesempatan mempresentasikan Amerta Bumi ini. Beberapa kegiatan menarik yang kami tawarkan adalah internasional webinar, content education, membuat website, prototype alat, dan lainnya. Saat menginjak hari terakhir, saya tidak menyangka bisa memborong banyak penghargaan,” katanya. Adapun ide Bumi Amerta berdasarkan riset yang Zair lakukan. Ia menemukan bahwa angka kepedulian masyarakat Asia Tenggara cukup rendah. Yakni hanya mencapai 30% terkait pemilahan sampah plastik dan rumah tangga. Sedangkan di Indonesia kepedulian akan memilah sampah dan menciptakan iklim yang sehat hanya sebesar 31%. “Sampai saat ini, kami telah merealisasikan program internasional webinar yang membahas tentang weist management kepada teman-teman milenial dan gen Z. Apalagi mengingat mereka adalah target utama dari pembahasan ini,” tambahnya. Mahasiswa semester empat itu juga memanfaatkan kesempatan berharga ini dengan berkunjung ketempat bersejarah yang ada di Istanbul, seperti Makam Al-Fath, Museum Hagia Sophia, dan Blue Mosque. Menurutnya, ia adalah salah satu mahasiswa yang beruntung bisa mengikuti program tersebut. “Untuk teman-teman mahasiswa, cobalah mengikuti berbagai macam kegiatan karena investasi terbaik adalah pengalaman. Jangan takut gagal karena masih banyak kesempatan,” pungkas Zair. (ri/wil)
Dosen UMM Beri Cara Antisipasi Pelecehan Seksual di Sekolah

Kasus pelecehan seksual semakin merajalela, tak terkecuali di lingkungan sekolah. Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd. dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, ini dapat terjadi karena beberapa hal. Yang pertama yakni kurangnya kesadaran warga sekolah tentang pelecehan seksual itu sendiri. “Setiap sekolah harus ‘aware’ akan hal ini. Kesadaran seluruh warga sekolah mutlak diperlukan. Hal ini dapat dibangun dengan memberikan pendidikan dan kampanye tentang pentingnya melaporkan pelecehan seksual,” ujar perempuan yang akrab disapa Ima tersebut. Dalam hal ini, penting menyampaikan kepada siswa bahwa tidak ada yang salah atau memalukan saat seseorang menjadi korban. Oleh karenanya, jika mengalami pelecehan seksual, siswa dipahamkan agar tidak perlu malu atau takut melaporkan hal tersebut. “Siswa harus tahu bahwa tidak ada hal yang salah atau memalukan ketika menjadi korban,” ujarnya. Selain sosialisasi, pihak sekolah juga harus dapat memastikan bahwa proses pelaporan pelecehan seksual dilakukan dengan penuh kerahasiaan. Dengan demikian, korban dapat merasa aman untuk menceritakan tanpa rasa takut akan persepsi negatif atau pengungkapan informasi yang tidak diinginkan. “Langkah berikutnya sekolah harus cepat dan segera memberikan tanggapan jika ada laporan pelecehan seksual yang diterima. Baik memberikan dukungan kepada korban maupun menindak lanjuti laporan tersebut dengan melakukan penyelidikan. Selama proses berlangsung, penting menjaga privasi semua pihak yang terlibat dalam kasus tersebut,” tambahnya. Pelecehan seksual di sekolah mencakup berbagai perilaku yang tidak pantas, seperti komentar seksual yang tidak diinginkan, sentuhan yang tidak senonoh, atau bahkan pemaksaan aktivitas seksual. Ini adalah masalah serius yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan dan perkembangan siswa. Pelecehan seksual dapat terjadi di antara siswa, antara siswa dan guru, atau melibatkan pihak ketiga. “Selain berbagai langkah tadi, sekolah harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua untuk mencegah pelecehan seksual, termasuk memberikan informasi tentang cara melaporkan insiden yang terjadi di luar lingkungan sekolah. Kolaborasi ini juga dapat mencakup mengundang ahli ke sekolah untuk memberikan pelatihan dan informasi kepada siswa, guru, dan orang tua tentang pencegahan pelecehan seksual,” tambah Ima. Untuk mendukung pencegahan pelecehan seksual, orang tua dapat memberikan edukasi kepada anak tentang batasan-batasan tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain serta langkah-langkah menghadapi situasi yang tidak nyaman. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak juga penting untuk memastikan anak merasa nyaman berbicara tentang masalah yang dihadapinya. “Dengan membangun kepercayaan, anak akan lebih terbuka untuk berbagi pengalaman atau perasaannya. Melibatkan orang tua secara aktif juga dapat meningkatkan kesadaran dan perlindungan terhadap anak dari risiko pelecehan seksual,” tandasnya. (bal/wil)
Kenapa Bukber Sering Jadi Ajang Pamer? Ini Kata Dosen UMM

Tradisi buka bersama (bukber) yang menjadi momen kebersamaan dan ajang mempererat silaturahmi, tak jarang dihindari oleh sebagian orang. Pasalnya, obrolan yang berlangsung pada kesempatan itu kerapkali menjadi ajang untuk memamerkan diri. Fenomena ini menarik perhatian banyak kalangan, termasuk Awan Setia Dharmawan, S.Sos., M.Si, selaku dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Orang bukber itu membawa kepentingan yang berbeda. Ada yang murni ingin menjalin silaturahmi atau justru show off dengan menampilkan apa yang dipunya. Ini merupakan salah satu bentuk ekspresi diri selama masih dalam batas yang wajar,” ujar Awan, sapaannya. Menurutnya, terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan pamer saat bukber. Salah satunya adalah sebagai upaya balas dendam dari pengalaman masa lalu. “Mungkin dulu sempat dibully dan sekarang ingin membuktikannya. Tapi, ini secara tidak langsung atau eksplisit,” ujar awan. Selain itu, momen berkumpul dalam bukber seringkali dijadikan platform untuk menegaskan siapa diri seseorang di hadapan orang lain. Ini sejalan dengan konsep personal branding yang bertujuan untuk mengendalikan atau mempengaruhi bagaimana citra diri seseorang dilihat oleh orang lain. “Dalam perspektif sosiologis, fenomena pamer dalam bukber dapat dipahami sebagai bagian dari teori hyper consumption, di mana masyarakat cenderung mengonsumsi barang lebih dari kebutuhan untuk mengekspresikan identitas dan status sosialnya,” ungkapnya. Fenomena ini semakin dipicu dengan kebutuhan untuk berfoto dan mengunggahnya di media sosial. Ini memunculkan tekanan untuk tampil menarik dalam setiap kesempatan. Bahkan, jika itu berarti harus mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang baru atau mempersiapkan bukber dengan segala kemewahan. Ironisnya, hal tersebut dapat memunculkan rasa iri di kalangan individu tertentu karena merasa terpinggirkan atau tidak mampu mengikuti gaya hidup yang lainnya. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana individu dapat mengelola emosinya di tengah tekanan sosial tersebut. “Bahkan, kadang ada pertanyaan yang lebih personal, seperti ‘Kapan lulus? Penghasilanmu berapa? Kerja di mana?’. Pertanyaan itu efeknya bisa mengerikan, seperti halnya menutup komunikasi kembali atau justru bunuh diri,” tegasnya. Karenanya Awan berharap, jangan sampai momen yang seharusnya penuh kebersamaan dan keberkahan, berubah menjadi ajang pamer dan persaingan. “Kurangi perilaku pamer, karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Show off lah pada circle-mu yang imbang,” pungkasnya. (lai/wil)
Dua Buku tentang Malik Fadjar Diluncurkan

Buku-buku yang membahas pemikiran dan sosok Abdul Malik Fadjar kembali diluncurkan. Kali ini, dua karya berjudul ‘Visi dan Praksis Pengembangan Pendidikan Islam’ dan ‘Inspiring Lecturer Empirisme Pengembangan Lembaga Pendidikan’ diluncurkan dalam agenda Kajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM). Kajian itu dilaksanakan pada 16 Maret 2024 ini di Umsida Sidoarjo. Adapun kedua buku tersebut diluncurkan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Selain itu, kedua buku juga merupakan karya yang diedit dan dieksekusi menjadi sebuah buku setelah Malik Fadjar wafat, pada September 2020 lalu. Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. yang merupakan putra Malik Fadjar menjelaskan, semua berawal dari diskusi di perpustakaan Pak Malik yang bernama Rumah Baca Cerdas (RBC). Kemudian Nazar melembagakan RBC dan mendirikan Malik Fadjar Institute. “Di situlah kita mengjaki berbagai pemikiran Pak Malik, termasuk terkait modernisasi dan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Sampai saat ini kami sudah menerbitkan smebilan buku tentang Pak Malik,” tambah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu. Nazar menjelaskan, buku pertama sebenarnya merupakan disertasi karya Prof. Dr. M. Idris dari IAIN Manado yang diserahkan kepada kami. Idris merasa bahwa disertasinya memang ditulis tentang Pak Malik dan mendapatkan banyak inspriasi dari prosesnya. Kemudian, tim RBC mengeditnya dari tulisan yang cukup berat menjadi karya yang lebih renyah dan mudah dibaca. “Buku ini sangat berisi praksis bagaimana mengurus sekolah dengan mudah dan memiliki visi yang jauh ke depan. Ini Menarik bagi teman-teman yang mengelola skeolah-sekolah Muhammadiyah,” katanya. Pada kesempatan itu, adapula buku kedua yang berjudul Inspiring Lecture. Buku tersebut juga sebenarnya murni karya mantan ketua IPM Abdullah Mukti M.Pd. Ia memang banyak mengikuti malik Fadjar dalam berbagai kesempatan. Karya tersebut bercerita tentang bagaimana pengalaman Mukti bersama orang-orang dan tokoh pendidikan Muhammadiyah mengikuti Malik Fadjar. Utamanya dalam upaya mendorong sekolah-sekolah Muhammadiyah di berbagai daerah untuk maju. “Mudah-mudahan apa yang kami sajikan untuk masyarakat melalui buku ini, khususnya untuk kader-kader Muhammadiyah, dapat menginspirasi dan menjadi kekuatan untuk berkhidmat tanpa pamrih di Muhammadiyah,” katanya mengakhiri. (wil)
Konsumsi Alkohol Sebabkan Kerusakan Mata? Ini Penjelasan Dokter UMM

Belakangan, banyak masyarakat yang bertanya-tanya kaitan konsumsi alkohol dan pengaruh buruknya untuk mata. Apakah alkohol benar-benar memperburuk penglihatan? Apa zat yang juga berdampak negatif untuk indera penglihatan kita? dr. Aryani Vindhya Putri, Sp.M selaku dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut angkat bicara mengenai hal ini. Untuk menjawab hal tersebut, Aryani memberikan edukasi secara umum terkait penurunan penglihatan secara mendadak. Sebagai gambaran umum, penyakit mata dapat disebabkan oleh banyak hal. Seperti misalnya infeksi mata, trauma akibat benturan, konsumsi zat tertentu, atau bisa jadi ada gangguan pada saraf optik. Gejala yang dapat dialami oleh pasien dengan penurunan penglihatan mendadak biasanya disertai mata merah atau tidak merah, mual, muntah, pusing, nyeri pada mata, ataupun penglihatan menjadi putih seketika. Selain itu, perlu adanya pemeriksaan menyeluruh seperti riwayat penyakit, CT-scan otak, pemeriksaan laboratorium, dan lain sebagainya. Lebih khusus, jika hal ini disebabkan karena konsumsi zat tertentu maka akan berbeda cara penanganan dan gejala yang dialami oleh pasien. Semisal, orang yang meminum alkohol, satu dengan lain bisa jadi memiliki gejala atau bisa juga mengalami hal yang berbeda. Alkohol ada yang memiliki kandungan methanol maupun ethanol, di mana jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama dan jumlah yang banyak, maka dapat menumpuk dan menyebabkan gangguan seperti gangguan pada mata. Terutama alkohol oplosan yang biasanya terdapat kandungan methanol, yang memiliki sifat lebih beracun. Apalagi jika tidak diketahui kadar alkoholnya secara pasti, yang mana justru dapat memperburuk efek yang dialami oleh pasien. “Efek paling fatal dari mengonsumsi alkohol ialah ketika zat methanol tersebut sampai menyerang saraf optik kita. Bisa jadi, hal ini akan mengakibatkan papilledema atau pembengkakan pada saraf mata dan susah untuk kembali normal dan bahkan mengancam nyawa,” tambahnya Jika sudah dalam kondisi seperti ini, untuk mengembalikan penglihatan seratus persen tergantung dari kondisi pasien, jumlah zat yang dikonsumsi, berapa lama zat tersebut telah dikonsumsi, dan kondisi atau reaksi pasien sendiri. Maka dari itu, bila terjadi kerusakan saraf mata lanjut, maka penanganan yang dilakukan adalah mempertahankan sisa penglihatan seperti memberi vitamin dan memberi obat lain yang diperlukan. Jika masih pada fase awal, penanganan yang dilakukan dapat berupa cuci darah ataupun pemberian obat secara teratur. Sementara, jika disebabkan karena adanya kekeruhan atau pendaharan, maka penanganannya ialah pembersihan dengan jalan operasi. Untuk itu, dokter spesialis mata tersebut menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi zat berbahaya seperti alkohol. Tak hanya itu, beberapa zat lain seperti obat yang diminum rutin untuk penyakit tertentu, NAPZA, atau bahkan tembakau juga dapat menjadi cikal bakal penyakit pembengkakan mata. Tips yang bisa diberikan Aryani ialah selalu rutin melakukan pengecekan pada mata. Apalagi bagi pasien yang memiliki riwayat penyakit lain seperti hipertensi atau TBC. Mereka memang diharuskan untuk mengonsumsi obat secara rutin untuk mengatasi penyakti itu. Maka, Aryani menjelaskan bahwa wajib hukumnya bagi mereka untuk memeriksakan mata secara rutin. (tri/wil)
Sahur on The Road UMM di Jodipan, Sajikan Masakan Hotel Bintang Empat

Terus menebar manfaat di bulan Ramadan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kunjungi Kampung Jodipan bersama dengan Hotel Rayz UMM dan melaksanakan sahur bersama warga. Tim Kampus Putih UMM mengajak warga untuk sahur bersama, live cooking oleh chef hotel bintang empat Rayz, mendongeng cerita rakyat, hingga membuat konten Tiktok. Adapun kegiatan sahur on the road UMM itu dilaksanakan pada 15 Maret 2024 ini. Terkait kegiatan itu, Parin selaku Ketua RW Kampung Jodipan mengatakan bahwa kedatangan UMM selalu dinanti para warga. Isi kegiatan yang luar biasa dan menarik membuat para warga senantiasa menanti kedatangan tim Kampus Putih. “Kami selalu diberikan kejutan dari UMM beberapa kali. Bahkan sekarang para warga diberikan menu makanan khas hotel bintang empat UMM. Tentu saja para warga di sini jarang mendapatkan jamuan seperti ini,” katanya menjelaskan. Rangkaian aktivitas sahur bersama ini menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat kampung Jodipan karena dapat berkumpul antar tetangga dan makan bersama. Chef Sobari Abdul yang memasak menu spesial kali ini juga menegaskan bahwa menu-menu yang ia masak dibuat dengan sepenuh hati. Hidangan yang dihadirkan juga merupakan menu favorit yang ada di Rayz Hotel. Live cooking yang ia lakukan sukses menarik banyak perhatian dari para ibu dan anak-anak. Permainan api dan beberapa atraksi memasak ia tampilkan. Hal itu sontak membuat para warga berdecak kagum, termasuk tentang rasa dan sajian makanan yang ada. Selain itu, anak-anak yang turut serta juga merasa senang berkat adanya sesi mendongeng. Dengan alat peraga boneka dan cara penyampaian yang asyik, membuat anak-anak lebih mudah mengerti akan pesan yang diberikan. Hal itu juga diapresasi para warga yang ramai datang. “Alhamdulillah, kegiatan UMM tiap tahun di sini seru sekali. Selalu ada hal unik yang diberikan. Para warga juga menyukai masakan ayam panggang ala Rayz. Ditambah dengan games dan cerita rakyat dengan boneka tangan,” kata Rini, salah satu warga setempat. Terakhir, digital team UMM juga tak lupa mengajak para warga untuk membuat konten. Hal itu sebagai cara untuk menyambut Ramadan dengan ceria dan bahagia. Dengan begitu, berbagai ibadah bisa dilakukan dengan lebih ringan dan memberikan banyak manfaat. Menariknya, para warga Jodipan juga mudah untuk memahami berbagai gerakan Tiktok karena memang sering menghabiskan waktu di aplikasi tersebut. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa ini menjadi cara UMM menabar manfaat. Menurutnya, dalam menjalankan ibadah Ramadan, setiap insan memang harus bisa memasuki ruang publik Mewujudkan kesalehan sosial dan kesalehan lingkungan. “Semoga apa yang sudah dilakukan mampu memberikan manfaat dan kesan bagi warga. Kegiatan ini akan terus dilaksanakan di berbagai titik di daerah Malang dengan konsep yang berbeda. Mulai dari ngabuburit bareng seniman jalanan, sahur di kampung tematik, dan sahur barbeque bersama komunitas difabel,” katanya mengakhiri. (ri/wil)
Baca Penjelasan Dosen UMM Ini sebelum Beli Rumah dengan KPR

Dalam menghadapi lonjakan harga properti yang semakin tinggi, generasi muda semakin banyak yang memilih memanfaatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai solusi untuk memiliki rumah impian mereka. Namun, seperti halnya keputusan finansial lainnya, penggunaan KPR juga memiliki potensi untung dan rugi yang perlu dipertimbangkan dengan matang. Iqbal Ramadhani Fuadiputra, S.E., M.SM., selaku dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa fenomena ini bisa saja terjadi karena hasil ketidakseimbangan antara lonjakan harga rumah dengan pertumbuhan pendapatan. “Sehingga, sistem KPR ini dipilih dengan tujuan untuk membantu pembiayaan terkait pembelian rumah. Serta, dinilai dapat membantu memotong beban bulanan dengan jangka waktu tertentu,” ungkapnya. Salah satu pertimbangan utama dalam memutuskan untuk mengambil KPR adalah memperkirakan pendapatan per bulan yang akan digunakan untuk mencicil angsuran. “Alangkah lebih baik untuk membuat pos anggaran dan rencanakan secara matang agar cicilan dapat dibayarkan sebelum jatuh tempo. Alasannya, jika kredit macet, aset rumah dapat diambil atau dilelang oleh bank,” jelasnya. Lebih lanjut, ternyata penggunaan KPR juga membawa sejumlah peluang. Sebagai contoh, sisa uang dari pembayaran cicilan dapat dialokasikan untuk investasi lainnya atau kebutuhan bisnis. Bahkan, dengan harga tanah yang terus meningkat, kepemilikan properti dapat menjadi alternatif investasi yang menjanjikan bagi pemilik rumah. Meski demikian, Sekretaris UPT. Penerimaan Mahasiswa Baru UMM ini juga mengingatkan akan risiko fluktuasi suku bunga yang tidak bisa diabaikan. Sistem KPR dapat menjadi fluktuatif tergantung pada suku bunga yang ada di Bank Indonesia. “Jika bunga tetap, akan mendapatkan keuntungan. Namun, jika bunga fluktuatif maka akan menghadapi risiko tambahan, sehingga dapat mempengaruhi stabilitas keuangan rumah tangga,” terangnya. Menurut Iqbal, beberapa orang berpendapat bahwa membayar cicilan KPR lebih cepat dapat mengurangi beban finansial. Sehingga, bisa lebih tenang dan leluasa dalam mengalokasikan pendapatan bulanan. Namun, hal ini memunculkan kerugian lainnya, seperti halnya adanya penalti KPR yang dipengaruhi oleh lamanya pinjaman yang sudah berjalan. “Tidak ada masalah jika KPR dibayar lunas sebelum jangka waktu yang sudah ditetapkan. Tapi nanti ada denda penaltinya. Bahkan, bisa saja jumlah biaya denda ini jadi sangat besar. Tentu, hal ini berpotensi untuk menguras penghasilan dan tabungan,” tambahnya. Sebagai alternatif, Iqbal juga menyarankan tentang alternatif lain dalam pemilikan rumah, seperti rumah subsidi. “Terlebih, rumah subsidi menawarkan kemudahan pembiayaan dari pemerintah dan pemilik. Meskipun tidak selalu memiliki kualitas yang terbaik,” pungkasnya. (lai/wil)