Menunda Bikin Berat Selesaikan Tugas Akhir Mahasiswa

Tugas akhir menjadi salah satu persyaratan yang harus diselesaikan oleh mahasiswa sebelum dinyatakan lulus oleh suatu universitas. Dalam perjalanan menyelesaikan tugas tersebut, mahasiswa akan mengalami berbagai dinamika. Mulai daru proses penulisan, pengumpulan data, bimbingan, hingga ujian. Tak jarang, hal ini menimbulkan dampak pada kesehatan mental. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nandy Agustin Syakarofath, S.Psi., M.A menyampaikan, ada banyak faktor yang bisa menurunkan kesehatan mental di tengah pengerjaan tugas akhir. Meski demikian, faktor utama yang berkontribusi paling besar adalah penundaan terus-menerus dalam pengerjaannya. “Ini menyebabkan banyak hal yang harus diselesaikan menumpuk dan membuat tanggungan tugas akhir semakin berat,” tambahnya. Tak hanya soal penundaan, pola hidup kurang baik seperti sering begadang juga ikut mempengaruhi hal ini. Kurangnya waktu istirahat, membuat mahasiswa sulit berkosentrasu. Bahkan hingga merasa pusing dan merasakan berbagai keluhan lainnya. Perlu diperhatikan juga bahwa kesehatan fisik dan asupan gizi juga turut berpengaruh. “Jangan lupa, jika kita jatuh sakit maka akan sulit untuk menulis atau datang bimbingan,” katanya. Karenanya, menurut Nandy, cara menjaga kesehatan mental agar tetap stabil atau semakin baik di tengah tugas akhir adalah dengan menghindari prokrastinasi atau penundaan. “Misalnya, saat menghadapi kesulitan menulis skripsi, segera mencari solusi atau insight saat bimbingan,” jelasnya. Selain itu, ia juga memaparkan pentingnya support system ditengah penyelesaian tugas akhir. Baik dari orang tua, sahabat, ataupun pasangan. Meski demikian, yang paling menentukan keberhasilan tugas ini adalah diri sendiri. “Yang utama adalah diri sendiri. Jangan terlalu bergantung pada orang lain, karena mereka hanya bisa memberikan dukungan berupa semangat dan tugas akhir sifatnya tanggung jawab pribadi,” katanya. Di akhir, Nandy berpesan agar mahasiswa semester akhir bisa terus semangat, fokus dan selalu mengingat tujuan dari berkuliah. Mahasiswa jangan sampai terlena dengan hal-hal di luar tugas utama. “Menjaga kesehatan mental tetap sehat di tengah tugas akhir itu sama seperti menjaga kesehatan fisik. Harus senantiasa dilakukan dan tidak perlu menunggu waktu tertentu,” tutupnya. (*)
Mengabdi untuk Negeri, Tim Dosen UMM Sukses Atasi Limbah Kotoran Ternak

Banyaknya warga yang memelihara ternak memunculkan masalah lingkungan bagi Desa Beji Tengah. Salah satunya tumpukan kotoran yang mengeluarkan bau tak sedap dan mengganggu kenyamanan warga. Tak hanya itu, hal ini juga memunculkan kekhawatiran tentang kondisi tanah yang menyerap air dari kotoran-jotoran ternak. Berangkat dari permasalahan tersebut, Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., dosen Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan timnya melaksanakan pengabdian masyarakat. Dilakukan sejak Oktober hingga Februari ini, pengabdian ini berfokus pada pengolahan limbah kotoran kambing domba dan recording ternak di kelompok tani ternak Sumber Makmur 01 Desa Beji, Kota Batu. “Kondisi ini juga menjadi ancaman potensial pada kesehatan hewan ternak. Kami mengkhawatirkan potensi infeksi cacing dan kudis pada ternak akibat pakan yang bercampur dengan kotoran ternak yang ditakutkan terdapat cacing di dalamnya. Apalagi desa tersebut termasuk kawasan padat penduduk,” ujar dosen yang akrab disapa Sujono tersebut. Bersama tim, Sujono lalu menginisiasi tiga program utama. Pertama, pembuatan pupuk dari kotoran ternak. Pembuatan pupuk ini melibatkan fermentasi yang diawali dengan pengumpulan kotoran pada rumah pupuk, lalu kotoran tersebut diolah menggunakan mesin penepung hingga halus. Setelah itu ditambahkan kapur kolomit yang berfungsi untuk menetralkan pH tanah yang sangat berfungsi bagi tumbuhan. “Berikutnya, ditambahkan pula batang pisang yang membusuk dan probiotik Em4. Proses fermentasi berlangsung selama dua hingga tiga minggu dan hasilnya dikemas dalam karung. Kemudian, diperjualbelikan dengan harga jual Rp1.500 perkilo. Keunggulan dari pengabdian ini terletak pada pendekatan inovatif dalam pembuatan pupuk. Tidak hanya memberikan solusi terhadap bau lingkungan, tapi juga meningkatkan pendapatan peternak melalui penjualan pupuk berkualitas,” tambahnya. Selain itu, program ini juga melakukan upaya pengobatan penyakit kudis pada ternak dan pencatatan reproduksi untuk memastikan kesehatan dan perkembangan optimal ternak. Sujono dan tim ingin memberikan manfaat ganda bagi lingkungan dan peternak. Pengabdian ini sukses memberikan dampak positif yang signifikan. Desa Beji kini tidak hanya terbebas dari bau tak sedap, tetapi juga mendapatkan tambahan pendapatan melalui penjualan pupuk berkualitas. Sujono dan timnya telah membuktikan bahwa inovasi dapat menjadi kunci untuk mengatasi tantangan lingkungan dan ekonomi di desa-desa. (*)
Dosen UMM Beri Tips Kelola Utang Modal Usaha dari Bank

Dalam dunia bisnis, opsi meminjam modal dari bank sering menjadi pilihan utama untuk mengembangkan usaha. Namun, pengelolaan utang modal usaha ini bukan perkara yang sepele. Dosen Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra. Siti Zubaidah, MM., menegaskan pentingnya mengelola pinjaman tersebut dengan efektif. Mulai dari perencanaan hingga strategi peningkatan penjualan. Menurutnya, pengusaha perlu memiliki cara berpikir yang taktis dalam mengelola modal usaha. Uang yang dipinjam dari bank harus dimanfaatkan secara efisien untuk memperoleh kembali modal tersebut dalam jangka waktu yang wajar. Oleh karena itu, strategi pemasaran yang tepat juga diperlukan agar modal tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal. “Bank itu serba pasti, apalagi angsuran dan bunga. Sementara itu, sebuah usaha belum tentu stabil, kadang naik atau bahkan turun. Sehingga, pengelolaan uang harus dikelola dengan baik,” ungkap Ida, sapaannya. Sebelum memutuskan untuk mengajukan pinjaman ke bank, para pengusaha sebaiknya melakukan pertimbangan matang terkait rencana keuangan dan usaha. Hal ini mencakup identifikasi kebutuhan pengembangan usaha serta dana tambahan yang diperlukan. Penting juga bagi pengusaha untuk melakukan uji coba dan memperhitungkan pemasukan serta pengeluaran setiap bulannya. Dengan cara ini, pengusaha dapat menentukan kebutuhan pinjaman dana yang tepat dan sesuai. Ida juga menyarankan, hendaknya mengenal bank yang akan dijadikan tempat mengambil pinjaman. “Setelah mengetahui besaran modal yang diperlukan, pertimbangkan bank yang akan dijadikan tujuan. Sebaiknya pilihlah bank yang memiliki suku bunga lebih rendah agar tidak memberatkan saat mencicil,” katanya. Setelah pinjaman disetujui bank, terdapat tanggung jawab finansial yang harus dipenuhi oleh pengusaha yakni membayar cicilan sebelum jatuh tempo. Disinilah pentinya mengelola keuangan agar tidak sampai menunggak. Ketersediaan dana untuk cicilan patut di prioritaskan. Menurut Ida, dalam proses mengelola finansial bisnis penting untuk membuat dan mencatat pos anggaran bisnis. Mulai dari total dana pinjaman, tagihan, keuntungan, hingga pengeluaran per bulan. Dengan membuat pembukuan yang rapi, pengusaha bisa memperhitungkan anggaran yang dirasa harus dikurangi atau ditambahkan. “Selain itu, hal ini juga berguna untuk menghindari risiko kredit macet atau denda karena terlambat membayar cicilan. Dengan pembukuan kita bisa mengetahui sisa dana pinjaman, tenor pinjaman dan berapa yang harus dialokasikan per bulannya untuk membayar cicilan,” terangnya. Lebih lanjut, penting untuk memanfaatkan keuntungan dari usaha tersebut. Laba sebaiknya dialokasikan untuk mengembangkan usaha, seperti menambah jumlah outlet, karyawan, hingga produk dan layanan. Selain itu, laba juga bisa disisihkan untuk membayar cicilan di bulan berikutnya. “Jangan berasumsi bahwa sebuah bisnis akan selalu naik. Oleh karena itu, terus berinovasi dalam pengembangan usaha sangatlah penting untuk mengantisipasi kemungkinan bisnis mengalami penurunan. Selain itu juga agar tidak terjebak dalam upaya membayar cicilan,” pungkasnya. (lai/wil)
Dokter UMM: Waspada Toksoplasma Menyerang Ibu Hamil

Menjaga kesehatan menjadi hal mutlak yang dilakukan ibu hamil. Kebersihan lingkungan, asupan gizi, kesehatan jasmani dan rohani serta dukungan dari orang sekitar sangat diperlukan. Selain itu, ibu hamil juga harus waspada dengan kemungkinan hadirnya virus yang berbahaya. Terutama bagi yang memiliki hewan peliharaan seperti kucing dan anjing. “Hewan peliharaan itu memang lucu. Terkadang dia juga menjadi teman kita di rumah, namun kita harus hati-hati, khususnya ibu hamil. Jangan sampai terkena parasit toksoplasma,” ujar Aida Musyarrofah, SpOG dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Oksoplasmosis atau yang lebih sering disebut tokso adalah penyakit infeksi akibat parasit toxoplasma gondi yang umumnya menular dari kotoran kucing. Infeksi ini pada umumnya tidak menyebabkan keluhan yang terlihat berat pada sang ibu. Hanya ada gejala ringan yang muncul seperti demam, sakit tenggorokan, kelelahan dan nyeri otot. Sebaliknya, pada janin virus ini akan berdampak pada tumbuh kembang yang tidak sesuai usia, kecacatan dalam pendengaran dan penglihatan, pubertas dini, hingga masalah pada kemampuan berpikir atau belajar. Selain ibu hamil, orang dengan daya tahan tubuh lemah juga rentan terhadap serangan virus ini. “Bagi ibu hamil, toksoplasma akan sangat berbahaya jika terserang pada trimester satu dan dua,” tandasnya. Toksoplasma dapat menular dari berbagai hal. Misalkan tanah saat berkebun, air yang tercemar hingga kotoran kucing yang makan sembarangan. Virus tokso adalah parasit yang hanya bisa menular dari makanan yang masuk ke tubuh manusia, tidak melalui udara. Oleh karena itu penting untuk membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan sebagai upaya pencegahan. “Bagi pemilik hewan peliharaan, penting memperhatikan makanan yang dikonsumsi peliharaannya. Jangan sampai hewan peliharaan memakan makanan yang mentah dan sembarangan,” tambah Aida. Adapun upaya yang dapat dilakukan jika sudah terinfeksi tokso adalah dengan pemberian obat khusus bagi ibu hamil. Apabila infeksi terjadi pada proses persalinan dan anak terlahir dengan kondisi cacat baik itu dari segi pendengaran, penglihatan hingga tumbuh kembang yang tidak normal maka bisa melakukan pengobatan dan penanganan sesuai dengan penyakit yang dialaminya. Di akhir, Aida menyampaikan, penting untuk selalu menjaga kesehatan ibu hamil dan melakukan pemeriksaan rutin hingga mendekati persalinan. Sehingga ketika virus toksoplasma terdeteksi selama masa kehamilan, maka dapat segera dilakukan pengobatan. “Untuk tokso ini memang sudah ada obatnya, jadi jika seorang ibu hamil terinfeksi maka bisa langsung diberikan penanganan yang tepat dan cepat,” tutup dokter Aida. (rin/wil)
Generasi Y dan Z Butuh Lebih Banyak Healing? Ini Penjelasan Dosen UMM

Healing menjadi tren yang melekat akhir-akhir ini, utamanya di kalangan Generasi Y dan Z. Bahkan muncul pandangan jika Generasi Y dan Z alah generasi yang paling membutuhkan healing di antara generasi lainnya. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Retno Firdiyanti, S.Psi., M.Psi. mengatakan arti healing dari konstruks psikologi dengan yang dipahami oleh khalayak umum itu berbeda. Healing dalam dunia psikologi artinya adalah proses penyembuhan mental. Sedangkan healing yang dipahami secara umum oleh generasi Y dan Z adalah upaya untuk menyenangkan diri, yang arahnya lebih ke upaya untuk mendapatkan kebahagiaan, serta hedonisme. “Dalam konteks psikologi, healing itu proses penyembuhan mental yang sakit seperti mental illness dan lainnya. Sedangkan healing yang diartikan oleh generasi Y dan Z lebih ke arah rekreasi,” jelas Retno, sapaan akrabnya. Terdapat sebuah pandangan yang menilai bahwa Gen Y dan Z merupakan generasi yang lemah, tidak kuat untuk mendapatkan beban sehingga selalu membutuhkan healing. Padahal jika kita berkaca pada generasi sebelumnya, mereka pun memiliki coping stress. Sehingga hal tersebut tidak bisa diinterpretasikan sebagai kelemahan, sebab tantangan setiap generasinya berbeda. Adapun istilah Generasi Y dan Z merupakan julukan generasi berdasarkan rentang waktu kelahiran. Gen Y atau milenial merupakan generasi pada rentang kelahiran 1981-1996, sedangkan Gen Z merupakan sebutan untuk kelompok dengan kelahiran 1997-2012. Generasi Y lahir di antara peralihan zaman dari dunia analog ke digital. Sehingga mereka memiliki karakteristik dan kemampuan adaptasi digital. Dapat dipahami kalau generasi Y ini punya kemampuan beradaptasi yang mungkin lebih baik dari generasi sebelumnya. Sedangkan Generasi Z, istilahnya sudah lahir dengan teknologi. Sedari kecil sudah terpapar dunia digital yang menawarkan bentuk-bentuk kemudahan. “Karena itu, mereka harus mendapatkan parenting yang mengajarkan bahwa tidak semua bisa serba instan. Kita juga perlu sedikit belajar tentang proses mendapatkan sesuatu dan belajar mengontrol diri dalam memanfaatkan teknologi digital,” pungkasnya. Jadi apakah hanya Generasi Y dan Z saja yang membutuhkan healing? Jika yang dimaksud healing adalah rekreasi, artinya semua generasi membutuhkan healing. Untuk dapat berpikir jernih dan meredakan stres, setiap generasi membutuhkan rekreasi. Namun, tidak semua masalah solusinya adalah rekreasi. Ada masalah psikologis yang akar masalahnya karena dia tidak didengarkan. Maka obatnya adalah bercerita kepada orang yang mau mendengarkan. Kemudian, ada yang masalahnya dia tidak punya waktu untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Maka obatnya adalah dilatih untuk bisa mengevaluasi diri sendiri. “Jadi, tidak semua penyakit obatnya jalan-jalan. Banyak juga mekanisme yang harus dilihat person to person atau secara individual,” ucapnya. (dev/wil)
Menarik, Mahasiswa UMM Ajarkan Cara Membatik Cap ke Murid SD

Saat ini, banyak anak muda yang kembali menekuni batik dan mampu memaknai arti pola dalam batik. Berbekal pengetahuan itu, tim mahasiswa psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda membatik bersama anak-anak SDN 2 Poncokusumo. Agenda yang dilaksanakan pada 19 Januari-17 Febrauri 2024 itu juga menjadi upaya mereka untuk self efficacy, motivasi dan kreativitas melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Ayra Alaila Putri Afandy selaku koordinator tim menceritakan bahwa batik yang diajarkan merupakan batik khas dari desa Poncokusumo yang baru saja dibuat tahun lalu. Dengan begitu, anak-anak yang diajari bisa mengenal dan melanjutkan pengetahuan dan kemampuan menciptakan batik. Apalagi mereka merupakan generasi penerus masa depan. “Kami sangat kagum dengan apresiasi dan kerjasama yang ditunukkan masyarakat desa. Adapun batik ini bukan sembarang batik, namun memiliki filosofi dan doa di setiap pola yang ada,” ucapnya. Ada beberapa pola yang diajarkan pada agenda tersebut. Salah satunya gambarr segitiga yang melambangkan desa Poncokusumo yang berada di pinggir kaki gunung semeru. Kemudian adapula pola berbentuk garudeya yang melambangkan mitologi dan menjadi inspirasi garuda pancasila. Selain itu, banyaknya bunga yang tumbuh di desa Poncokusumo juga diabadikan menjadi pola bunga wijaya kusuma. “Apalagi mengingat adanya kepercayaan masyarakat desa tentang bunga wijaya kusuma. Bungan yang tumbuh subur berkat air yang mengalir dari kaki gunung Semeru ke desa secara langsung. Bunga ini juga dipercaya dapat membawa nasib baik bagi yang merawat ataupun melihatnya,” tambahnya. Adapun anak-anak SD diajarkan batik dengan metode cap karena kemudahan dalam implementasinya. Apalagi semua perlengkapan sudah tersedia dengan rapi di kantor desa sehingga memudahkan kelompoknya untuk melaksanakan program tersebut. Di sisi lain, pihak desa dan sekolah sangat antusias dengan kegiatan yang diberikan kepada para murid. Menurut mereka, kegiatan membatik di era sekarang mulai meredup. Hal itu berkibat apda sedikitnya generasi penerus yang tahu dan memahami budayanya sendiri, termasuk batik. “Dengan adanya program ini, saya harap guru-guru dapat menerapkannya sebagai media pembelajaran, sehingga murid tidak belajar hal yang monoton,” kata Samsul Muliyo selaku kepala desa. (ri/wil)
Ponpes International Abdul Malik Fadjar Diresmikan

Pengembangan bidang pendidikan terus diupayakan oleh Muhammadiyah. Terbaru, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si. meresmikan Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), 21 Februari lalu di Kepuharjo, Malang. Turut hadir pula Ketua Badan Pembina Harian (BPH) sekaligus Menteri Koordinator PMK Prof. Dr. Muhadir Effendy, MAP. dalam peresmian tersebut. Dalam sambutannya, Haedar menyampaikan terimakasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang telah menyerahkan aset gedung kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim dan kemudian dikelola sebagai PPI AMF. Adapun penggunaan nama Abdul Malik Fadjar sebagai identitas ponpes itu tidak lain sebagai cara meneladani nilai perjuangan, kecerdasan, dan pengabdian seorang guru bangsa. “Beliau merupakan sosok yang saya takzimi. Kita semua juga tahu kiprah, perjuangan, dan kontribusi beliau. Bukan hanya bagi pendidikan di Muhammadiyah saja, tapi juga kontribusinya bagi pendidikan nasional. Termasuk di dalamnya usaha beliau untuk merintis pendirian UMM hingga menjadi universitas bertaraf internasional seperti sekarang,” tuturnya. Haedar juga sempat mengutip hadis tentang tiga amalan yang tidak akan terputus hingga akhir hayat. Hal itu menurutnya sangat relevan jika dibawa dalam konteks kiprah perjuangan sosok Malik Fadjar. “Sedekah jariyah, doa anak yang sholeh, serta ilmu yang bermanfaat. Ketiga itu adalah amalan yang tidak akan putus hingga akhir hayat yang mana sangat cocok dengan almarhum Abdul Malik Fadjar,” katanya. Ini juga menjadi cara Muhammadiyah untuk berkontribusi agar Indonesia Emas 2045 bisa tercapai. Menurut Haedar, untuk mewujudkannnya pasti membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, baik dari aspek agama, pancasila, global, serta menguasai teknologi. Dengan begitu, SDM Indonesia bisa bersaing di dunia internasional. Adapun PPI AMF ini merupakan hasil inisiasi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. yang merupakan rektor UMM periode 2016-2024. Beberapa keunggulan yang disediakan adalah adanya konsep living language, living quran and sunnah, hingga living learning. Dalam kesehariannya, para santri akan menggunakan bahasa Inggris dan arab, mengamalkan Alquran, dan belajar dengan alam. Ponpes internasional yang berlokasi di Jalan Pangestu, Dusun Telasih, Desa Kepuharjo, Karangploso Malang itu juga memiliki fasilitas lengkap dan mendukung. Misalnya saja asrama yang representatif, sport and arts center, laboratorium teknologi informasi, lingkungan yang bersih dan hijau, serta lainnya. Ponpes yang berdiri di lahan dengan luas 1,1 hektar ini juga bertujuan untuk menyiapkan calon pemimpin berwawasan global melalui berbagai program unggulannya. Di sisi lain, Muhadjir menegaskan bahwa UMM telah melakukan langkah konkret dalam dalam pengembangan persyarikatan Muhammadiyah. Hal itu dibuktikan dengan pemberian hibah gedung pondok pesantren ini kepada PWM Jatim. Ia berharap agar langkah ini bisa ditiru oleh amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang lain. “Jadi jangan selalu menunggu dapat sesuatu dari pimpinan Muhammadiyah. Tapi juga bisa ikut berkontribusi langsung seperti UMM ini. Semoga ponpes internasional ini mampu memberikna manfaat yang banyak dan luas,” ungkapnya. (wil)
Apa Saja Pemicu Skizofrenia? Ini Penjelasan Dosen UMM

Dari data Kementerian Kesehatan RI 2023, gangguan kesehatan mental atau depresi merupakan masalah kejiwaan yang rentan terjadi pada remaja. Data di Indonesia menunjukkan sebanyak 6,1% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental yang salah satunya adalah skizofrenia. Psikolog sekaligus Dosen Prodi Psikologi (FPsi) Universitas Muhammadiyah (UMM) Uun Zulfiana, M.Psi. menjelaskan bahwa skizofrenia merupakan gangguan psikotik berupa disorientasi realita. “Kontak terhadap kenyataan berkurang atau bahkan tidak berfungsi jika gangguan tersebut terlampau parah,” jelas dosen yang akrab disapa Uun tersebut. Selain itu, skizofrenia juga berdampak pada pemikiran, emosional, dan perilaku manusia. Jika ditelisik lebih dalam, gangguan ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama faktor biologis, artinya jika seseorang mempunyai riwayat keturunan atau silsilah keluarga yang terdiagnosa skizofrenia, potensi keturunannya lebih besar mengidap gejala tersebut. Apalagi jika lingkungannya tidak mendukung. Kedua adalah kepribadian diri sendiri artinya bagaimana dia melakukan problem solving, melihat dirinya (self-esteemnya) apakah ia termasuk introvert atau extrovert. “Dan ketiga yakni faktor lingkungan atau psikososial yang meliputi ekonomi, sosial masyarakat dan lainnya. Keempat adalah penggunaan obat terlarang yang cukup lama, hal itu yang menyebabkan kerusakan otak dan bisa mempengaruhi skizofrenia,” tambahnya. Uun juga memaparkan, terdapat beberapa gejala atau ciri penderita skizofrenia. Yang pertama, ia melakukan isolasi diri karena merasa mencapai agresif yang berlebihan. Kedua, emosionalnya tidak terkendali yaitu bisa sangat pasif seperti bermalas-malasan bahkah sebaliknya terlalu aktif. Ketiga, secara kognitif munculnya disorientasi ketidaknyambungan mengenai waktu dan suasana, yang mana ia bisa mengartikan sesuatu menjadi tidak benar. Terakhir, gejala yang paling menonjol adalah halusinasi atau delusi dengan munculnya bisikan atau ajakan melakukan hal yang sebenarnya tidak dilakukan oleh orang normal. “Namun, seseorang yang memenuhi ciri seperti diatas tidak bisa langsung dilakukan diagnosa sebelum ciri tersebut menetap selama enam bulan secara persisten dan konsisten,” ujarnya. Potensi kesembuhan pada pasien skizofrenia bergantung pada level gangguan. Artinya, banyak faktor yang mempengaruhi kesembuhannya. Semakin ia mudah mengalami gangguan dan sudah lama mengidapnya, maka kemungkinan penyembuhannya tidak bisa 100%. Namun, jika gangguan muncul saat usia tua dan terdeteksi dengan cepat, maka kemungkinan kesembuhannya lebih positif. Proses penyembuhan pasien bisa melalui sisi medis, fisiologis, dan psikoterapi dengan berbagai pendekatan. Tips dari Uun agar gangguan skizofrenia tidak terulang ke generasi penerus adalah dengan manajemen stres yang baik. Begitupun dengan proses relaksasi pikiran dengan refreshing dan menghindari faktor pemicu. “Langkah terbaik adalah menyelesaikan faktor pemicunya, namun jika tidak bisa lebih baik untuk menghindar,” tandasnya. Di akhir ia berharap penderita Skizofrenia bisa lebih peka dengan keadaan ketika merasakan ciri atau gejalanya. “Jangan malu untuk bercerita tentang masalah yang sedang dialami kepada orang terdekat atau yang paling dipercaya. Jika tidak, segera konsultasikan karena saat ini anda telah dimudahkan oleh teknologi yang membuat anda bisa melakukan konsultasi dengan tenaga profesional hanya melalui gawai,” tutupnya. (dit/wil)
Apa Itu Urban Farming dan Manfaatnya? Begini Penjelasan Dosen UMM

Dalam beberapa dekade terakhir, pertanian perkotaan telah muncul sebagai solusi inovatif untuk tantangan yang dihadapi oleh komunitas perkotaan. Dengan ruang yang terbatas dan ketersediaan lahan yang sulit, urban farming telah membuka peluang baru bagi penduduk kota untuk memanfaatkan lahan sebagai kegiatan pertanian. Ary Bakhtiar, SP.,M.Si, selaku dosen program studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyatakan, urban farming merupakan salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat perkotaan. Bisa menjadi solusi yang cocok dengan menggunakan metode tanam sekam hidroponik dalam berbagai bentuknya. Urban farming juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat perkotaan. Hasil panen tidak hanya dapat dijual untuk mengurangi pengeluaran harian, tetapi juga dapat dikonsumsi sendiri. “Mayoritas tanaman yang ditanam adalah produk-produk pangan yang dibutuhkan sehari-hari, sehingga dapat menekan jumlah pengeluaran dengan mengalihkannya ke pos-pos pengeluaran lain,” tambah Ari. Menurutnya, urban farming memberikan berbagai manfaat, termasuk peningkatan kualitas udara dengan penyerapan karbondioksida dan produksi oksigen melalui fotosintesis. Praktek pertanian organik dan manajemen limbah juga membantu mengurangi polusi air dan tanah. Selain aspek lingkungan, pertanian perkotaan berperan dalam memperkuat komunitas dengan memfasilitasi interaksi berbagi pengetahuan dan membangun hubungan yang kuat. “Dampak positif dari urban farming melibatkan aspek minimisasi berbagai hal. Misalnya meningkatnya edukasi masyarakat, terutama anak-anak yang senang bercocok tanam. Selain itu, urban farming dapat berfungsi sebagai sarana rekreasi keluarga,” ucapnya. Urban farming menurut Ari, juga memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan keluarga. Melibatkan berbagai jenis tanaman dan ternak yang terintegrasi, seperti lele yang dapat diintegrasikan dengan bayam dan kangkung melalui budidaya dalam ember, urban farming dapat mendukung kebutuhan keluarga dalam berbagai aspek. Meski demikian, ada sejumlah tantangan saat melakukan kegiatan urban farming. Beberapa diantaranya yakni keterbatasan lahan yang dapat diatasi dengan teknik pertanian vertikal dan atap. Kualitas tanah yang terpengaruh oleh polutan dapat diatasi melalui penerapan pertanian organik dan manajemen limbah. Ketergantungan pada pasokan air teratasi dengan teknik penghematan air seperti irigasi tetes dan penangkapan air hujan. “Yang lebih berat, tantangan utama dalam urban farming adalah konsistensi dalam niat, perencanaan, dan implementasi. Kegiatan ini memerlukan perawatan rutin, dan konsistensi dalam menjaga tanaman atau hewan menjadi tantangan. Terutama di tengah kesibukan masyarakat perkotaan,” jelasnya. Penerapan teknologi, seperti hidroponik dan aeroponik, dapat meningkatkan efisiensi dan hasil produksi urban farming. Penggunaan teknologi menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran bahwa bercocok tanam tidak selalu memerlukan lahan yang luas. Ia berharap, masayarakat semakin sadar akan manfaatnya, karena urban farming menjadi salah satu upaya efektif untuk menekan biaya hidup dan mengembangkan perubahan positif dalam gaya hidup. Terakhir, Ari mengatakan bahwa urban farming memiliki potensi besar untuk terus berkembang di masa depan. Dengan inisiatif dan dukungan yang tepat, kegiatan urban farming dapat berkontribusi pada pembangunan perkotaan yang berkelanjutan, meningkatkan kualitas hidup penduduk, dan menciptakan lingkungan yang sehat serta menguatkan komunitas. “Melalui eksplorasi dan pengembangan praktik pertanian perkotaan yang inovatif, kita dapat mencapai visi perkotaan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” pungkasnya.(bal/wil)
Lima Prodi FPP UMM Songsong Akreditasi Internasional ASIIN

Langkah internasionalisasi senantiasa diupayakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, lima program studi Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM menyongsong akreditasi internasional, yakni prodi yakni Agroteknologi, Peternakan, Budidaya Perairan, Teknologi Pangan dan Kehutanan. Adapun lembaga internasional yang melakukan proses akreditasi adalah Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik (ASIIN) pada pertengahan Februari ini. Lembaga tersebut berasal dari Jerman yang memiliki fokus disiplin ilmu rekayasa, matematika dan sains, pertanian, biologi. Pada kunjungannya ke UMM, salah satu penilai Dr. Sonja Kleinerts mengapresiasi berbagai program unggulan yang ada di FPP UMM. Apalagi melihat fakta bahwa sektor pertanian dan peternakan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Misalnya terkait pemenuhan kebutuhan pokok. “Terkait program inovasi yang dilakukan UMM, saya sangat mengapresiasinya. Apalagi mengingat bahwa bidang pertanian dan peternakan merupakan komoditas primer bagi manusia,” tambah Kleinerts. Sementara itu, dalam sharing session bersama pihak ASIIN, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. Rektor UMM menyampaikan akan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan. Sampai saat ini, Kampus Putih uga terus mengusahakan hal tersebut melalui berbagai cara. Mulai dari peningkatan kualitas pengajar hingga pemberian fasilitas yang mumpuni bagi mahasiswa, baik dari segi fasilitas fisik maupun non fisik. “Sudah saatnya UMM untuk melakukan internasionalisasi secara menyeluruh. Beberapa prodi sudah dapat akreditasi internasional FIBAA, AUN-QA dan lain-lain. UMM juga pernah jadi universitas Islam swasta nomor 1 di dunia versi Unirank dan prestasi-prestasi lain,” jelasnya. Lebih lanjut, Nazar juga menjelaskan bahwa UMM memiliki program terobosan yang diberi nama Center of Excelence (CoE). Program unggulan Kampus Putih itu memiliki peran untuk meningkatkan skill profesionali bagi mahasiswa. CoE juga sudah dijalankan oleh lima program studi yang sudah diajukan ke ASIIN. Bahkan banyak lulusan program CoE tersebut yang sudah diterima di dunia profesional bersama dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). “Di FPP UMM, terdapat CoE kelas profesional ruminansia, unggas, kakao, udang, koi, industri produksi benih tanaman, dan essential oil. Itu semua kelas profesional yang menjadi program unggulan yang membentuk dan mengajari mahasiswa langsung di dunia kera selama satu semester,” ungkap mengakhiri. Ada berbagai manfaat yang diperoleh dengan adanya akreditas internasional. Mulai dari pengakuan dari dunia pendidikan internasional hingga peningkatan mutu pendidikan. Selain itu juga dapat menarik perhatian pengajar dari luar negeri untuk memberikan ilmunya di kampus tersebut. (faq/wil)