Unik, Mahasiswa UMM Kembangkan Prototipe Alat Deteksi Kantuk

Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Keselamatan Transportasi Indonesia (MTI), angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia 2023 mencapai 116 ribu kasus. Jika dibandingkan dengan tahun 2022, angka kecelakaan cenderung naik sebesar 6,8 persen. Dari anyaknya kasus, tertinggi kecelakaan dialami oleh pengendara motor dan mobil pribadi. Hal ini terjadi karena kelalaian pengendara, kelelahan, dan rasa kantuk. Melihat trend data ini, Faza Ega Agista dan timnya asal Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan alat deteksi kantuk. Alat yang diberi nama Drowsiness Detection ini memiliki sensor untuk mendeteksi gerak wajah pengguna saat merasa mengantuk. Adapun alat ini masih dalam tahap pengembangan dan masih berupa prototipe. Faza menjelaskan, prototipe buatannya ini dapat mengantisipasi pengendara saat kelelahan. Pasalnya, alat yang ia buat ini memiliki face recognition yang mana sensor tersebut akan mendeteksi gerakan pengendara apabila mengantuk. “Untuk saat ini, produk kami masih berupa kamera eksternal yang dipasangkan dengan program di komputer. Untuk programnya sendiri kami menggunakan pemograman python,” ucap Faza. Uniknya, Faza dan tim membuat program secara mandiri. Berbekal tutorial dari internet, ia dan tim membuat program yang dapat berjalan dengan baik. Program tersebut berisi database kondisi wajah yang mengantuk. Jadi, apabila pengendara menutup mata lima sampai sepuluh detik, maka secara otomatis sensor akan mendeteksi dan mengolah data kemudian merubahnya menjadi suara alarm. Tak hanya itu, Faza dan tim juga menambahkan sensor detak jantung yang ditautkan pada gelang. “Namun, untuk sekarang sensor detak jantung sendiri masih trial and error saja. Karena melihat masih banyak yang perlu dibenahi dan kami kembangkan dari alat ini,” tambahnya. Target utama dari alat ini nantinya adalah agen travel yang memiliki jam terbang tinggi ataupun pengendara umum. Hal ini diharapkan dapat mengantisipasi kecelakaan akibat kelelahan di perjalanan. Apalagi, bagi sopir travel yang menempuh perjalanan panjang pasti mudah merasa kelelahan. Nantinya, Faza dan tim akan menyempurnakan prototipe yang ia buat agar dapat segera diterapkan bagi masyarakat umum. Penyempurnaannya nanti berupa pemasangan kamera dan program pada kendaraan sehingga tidak memerlukan program melalui laptop. Selain itu, ia juga akan menyempurnakan sensor detak jantung dan menambahkan fitur pengereman otomatis jika pengendara terdeteksi mengantuk. Untuk itu, ia berharap agar prototype yang ia buat dapat dikembangkan dengan bekerjasama menggaet perusahaan untuk diimplementasikan secara langsung. “Besar harapan kami dapat bekerjasama dengan perusahaan kendaraan, agar Drowsiness Detection ciptaan kami dapat secara langsung diimplementasikan pada kendaraan dan dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya. (tri/wil)
Derlin, Mahasiswa UMM yang Juarai Jateng Kickboxing Championship

Mahasiswa D-III Teknologi Elektronika Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membawa kabar gembira. Adalah Derlin Julianto yang berhasil memperoleh juara 3 dalam Kejuaraan Jateng Kickboxing Championship pada di Surakarta, awal tahun ini. Adapun Derlin mewakili kota Malang untuk berlaga di kompetisi yang diikuti sebanyak 100 peserta dan terbagi menjadi kelas eksibisi low kick dan full contact, dan kelas turnamen low kick dan full contact. Derlin mengatakan bahwa ia tergabung kedalam kelas turnamen low kick yang berhasil menembus semifinal di kelas tersebut. Namun sayangnya, ia belum bisa menembus final karena terhambat masalah administrasi yang kurang lengkap, pelatih yang seharusnya mendampingi sedang berhalangan sehingga hanya dirinya sendiri yang mengurus. “Dari kota Malang yang berhasil berangkat hanya dua orang saja, namun kami berangkat tanpa didampingi oleh pelatih. Maka dari itu saat sedang mengurus administrasi, saya tidak mendengar panggilan untuk naik ke panggung, dan dinyatakan gugur,” ujarnya. Lebih lanjut, menurutnya pada kompetisi kali ini terdapat sedikit tantangan karena peraturan dan rundown kegiatan kurang sinkron. Sehingga beberapa kali ia harus berdiskusi kembali dengan panitia. “Berdiskusi dan berusaha menemukan titik tengah telah kami lakukan. Namun karena panitia juga berdiri di bawah sistem, maka dari itu kami para peserta tetap wajib menaatinya,” katanya. Derlin juga menyampaikan bahwa di awal pertandingan ia melawan kota Jakarta dan berhasil menaklukkannya. Kemudian mengalahkan beberapa kota lain hingga ia dapat masuk ke semifinal dan melawan kota Surakarta. Menurutnya, ajang kompetisi kali ini tidak banyak yang perlu disiapkan karena setiap hari ia rutin melakukan latihan. Namun, seperti atlet pada umumnya, Derlin menjaga kondisi kesehatannya dengan memakan makanan yang berprotein tinggi dan serat setiap hari. Ia juga mengatakan kalau cabang olahraga kickboxing ini telah ia tekuni dari tahun 2018. Ia bahkan telah banyak membawa pulang piala. Ia juga bersyukur bisa berkuliah di UMM karena pihak kampus sangat mendukung potensi mahasiswanya. Ia mendapatkan dukungan, baik dari segi biaya, akomodasi, hingga apresiasi. Selanjutnya, Derlin bertekad untuk selalu mencari ajang perlombaan kickboxing lainnya tanpa mengorbankan kewajibannya sebagai mahasiswa. Apalagi sekarang ia telah masuk di semester akhir. “Saat ini saya juga sedang mengurus konversi mata kuliah tugas akhir di jurusan dengan menggunakan sertifikat kejuaraan tingkat nasional yang pernah saya ikuti. Apalagi UMM memang membuka lebar kesempatan ini,” pungkasnya. (ri/wil)
Indonesia Kurangi Ketergantungan Dolar, Begini Penjelasan Dosen UMM

Bank Indonesia (BI) baru-baru ini mengumumkan langkah strategis dengan mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika sebagai mata uang utama dalam perdagangan internasional dengan skema de-dolarisasi. Adapun beberapa negara yang telah bersepakat untuk hal ini di antaranya, Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok dan kini Korea Selatan. Meskipun dolar diakui sebagai mata uang yang kuat di dunia, tetapi ketergantungan terhadapnya tidak lagi dianggap sebagai pilihan yang optimal. Menurut Syamsul Hadi, SE., M.Si. CRA, selaku dosen D-III Keuangan dan Perbankan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), langkah ini diperlukan untuk memperkuat kedaulatan mata uang lokal dalam persaingan ekonomi global. Terlebih, pengaruh dolar terhadap rupiah sangatlah signifikan, mengingat Amerika adalah mitra perdagangan utama bagi Indonesia dan negara lainnya. “Alasannya, dolar telah tersebar di berbagai negara dalam jumlah besar. Hal ini diakibatkan oleh perdagangan pembelian minyak Amerika ke Timur Tengah atau dikenal sebagai petro dolar. Namun, untuk mengantisipasi ekonomi dan politik Amerika yang semakin tersaingi oleh kekuatan Cina, maka perdagangan selain dengan Amerika sebaiknya menggunakan mata uang domestik masing-masing negara,” papar Syamsul. Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan keseluruhan intensitas perdagangan antar dua negara yaitu kurs atau nilai tukar. Kelebihan lainnya adalah prediksi nilai tukar yang dapat dikendalikan bersama kedua negara tersebut. Berbeda jika menggunakan mata uang dolar AS, maka pasti pedagang internasional masih menghitung penguatan atau pelemahan nilai tukar dolar. “Dua langkah perhitungan atau prediksi dan nilai tukar dolar AS ada di luar kontrol kita. Sehingga, tren penggunaan mata uang domestik masing-masing mitra dagang lebih ‘menyenangkan’ dan terkontrol dengan baik. Hal ini menjadi langkah yang paling aman, mudah, efisien dan win-win solution karena ditentukan berdasarkan kondisi ekonomi masing-masing negara,” tambahnya. Syamsul juga mengisyaratkan, jika Indonesia ingin menjadi negara kuat dan perekonomiannya maju di tingkat global, maka Indonesia harus mempunyai cadangan devisa dolar AS atau yuan dalam jumlah yang mencukupi dan kuat. Selain itu juga harus memiliki formulasi nilai tukar optimum bagi perdagangan. Dalam konteks strategi nasional, Ia juga menekankan perlunya berfokus untuk melakukan riset yang mendalam dalam menentukan strategi. Sehingga bisa mendapatkan nilai tukar mata uang yang memberi nilai optimum. Khususnya di bidang perdagangan sebagai salah satu pintu memenangkan persaingan global. “Jangan menjadi follower market. Kita harus punya target jangka pendek dan jangka panjang. Sebagai contoh, meniru Cina yang dimulai dari pengumpulan dolar AS hampir 12 tahun. Kemudian, baru bisa melakukan kebijakan fix exchange rate dengan melakukan peg (cantol) dolar AS yang menggunakan formulasi tertentu. Pengamatan fluktuasi nilai dengan standar deviasi saja tidak cukup, perlu formulasi dan negara mana yang mau disasar terlebih dahulu. Tentu, dengan mitra dagang utama yaitu Amerika, Cina dan Jepang,” jelasnya. Sayangnya, Indonesia masih abai mengenai masalah tersebut, bahkan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Alhasil, banyak riset yang menyatakan bahwa nilai ekspor di Tanah Air rendah karena nilai tukar terus melemah dari yang seharusnya. “Tapi, Indonesia juga telah menerapkan langkah-langkah untuk mengupayakan stabilitas pasokan dolar AS. Sebagai contoh, yakni mewajibkan transaksi di pelabuhan Indonesia menggunakan rupiah, gerakan cinta rupiah, pembatasan membawa dolar keluar negeri, melegalkan dan memperbanyak money changer, suku bunga acuan, dan sebagainya,” pungkasnya. (lai/wil)
Hati-hati Father Hunger, Begini Solusi Dosen UMM

Salah satu peran ayah adalah sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Seiring mobilitas yang semakin tinggi dan hadirnya beragam profesi, figur ayah di rumah terasa kurang dan membuat ikatan emosional antar ayah dan anak berkurang. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Nandy Agustin Syakarofath, S.Psi., M.A menjelaskan hal tersebut dapat menjadi salah satu penyebab anak mengalami “father hunger”. Father hunger adalah kondisi di mana anak merasakan tekanan psikologis karena ketiadaan figur seorang ayah. Entah karena meninggal, perceraian atau ketidakberfungsian peran dari ayah itu sendiri dalam pengasuhan. Akibatnya seperti melakukan kekerasan fisik atau psikologis. Riset terdahulu menyebutkan bahwa keterlibatan ayah dalam rumah tangga mampu berkontribusi dalam mewujudkan keluarga yang tangguh. Maksud dari tangguh adalah bisa membuat setiap individunya mampu mengatasi berbagai permasalahan. “Jika terjadi sebaliknya, maka keluarga akan menjadi rentan, bahkan dapat menjadi penyumbang berbagai persoalan psikologis yang dihadapi oleh setiap anggotanya termasuk istri dan anak,” ucap Nandy. Sejatinya, orangtua memiliki fungsi utama yang wajib diberikan pada anak, yaitu asah, asuh dan asih. Asah artinya memberikan bimbingan hidup atau pengajaran sehingga anak terlatih serta memiliki skill dan tuan yang jelas. Asih adalah pemenuhan kebutuhan dasar sebagai manusia untuk mendapatkan cinta kasih dari orang terdekatnya, yang dapat dirasakan melalui kontak fisik dan kontak batin. Sementara asuh adalah pemenuhan kebutuhan hidup dalam membersamai tumbuh kembang anak hingga dewasa dan seterusnya. Misalnya saja memberikan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan dan fasilitas yang layak bagi anak sehingga mereka merasa aman dan nyaman. Apabila ketiga fungsi atau peran tersebut tidak diberikan oleh ayah atau ibu, maka anak akan mengalami berbagai masalah atau isu kesehatan mental seperti masalah emosi, perilaku, konflik teman sebaya, hiperaktivitas hingga persoalan perilaku prososial. “Bahkan anak dapat mengalami kecemasan, depresi hingga bunuh diri. Jadi ayah dan ibu sama-sama memiliki kedudukan penting dalam kehidupan keluarga terutama bagi anak-anaknya,” jelasnya. Oleh karenanya, Nandy memberikan beberapa tips mencegah dampak negatif dari father hunger. Pertama, calon ayah dan calon ibu harus siap lahir dan batin dan dengan pertimbangan yang matang saat memutuskan akan menikah. Menikah adalah memulai lembar kehidupan yang baru dengan peran dan fungsi baru berikut juga permasalahannya. Mempersiapkan diri dengan cukup untuk membekali kehidupan rumah tangga sangat penting. Kedua, belajar mengenai pengasuhan atau cara-cara untuk meguatkan keluarga agar menjadi tangguh. Ketiga, bagi istri yang ditinggal suami, baik cerai hidup atau cerai mati, maka maksimalkan asah, asuh dan asih pada anak sehingga kebutuhan dasar anak dapat terpenuhi. “Umumnya, yang paling sulit dijalankan oleh perempuan pada kondisi tersebut adalah fungsi asuhnya. Terutama jika kurang mandiri secara finansial. Jadi, meski sudah menikah, tidak ada salahnya wanita juga memiliki penghasilan sendiri,” tandasnya. Tips terakhir, anak hendaknya bisa mengembangkan soft skill dan hard skill yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu mengoptimalkan potensi yang dimiliki, agar memiliki kemampuan beradaptasi menghadapi berbagai situasi sulit. “Meski demikian, tidak semua stres atau persoalan hidup bersifat negatif. Dalam kadar tertentu, stres dibutuhkan oleh manusia untuk meningkatkan keterampilan berdamai dengan berbagai persoalan hidup,“ pungkasnya. (dev/wil)
Unik, Fapsi UMM Rintis Laboratorium Psikologi E-Sport

Dari data riset agen komunikasi di Asia Tenggara yang bekerjasama dengan Decision Lab, jumlah penduduk Indonesia yang terlibat dalam olahraga elektronik (e-sport) pada 2021 mencapai 52 juta orang. Hal ini menarik perhatian Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan menggelar workshop dan rintisa lab E-Sport psikologi. Agenda itu dilaksanakan pada 5 Februari lalu. Turut hadir Alberta Listiyani Siegit, M.Sc. selaku coach Performance Psychologist. Ia mengatakan bahwa perkembangan E-Sport perlu diperhatikan lebih lanjut. Listi juga menjelaskan seluk beluk dunia E-Sport seperti misalnya peraturan-peraturan yang ada. Terdapat tiga rules yang terdiri dari tiga bagian yaitu players, manager, dan coaches. Pada bagian coaches terdapat tiga bagian lagi yaitu technical, physical dan performance. “Masih banyak team e-sport di Indonesia yang belum mengetahui pentingnya coaches dengan background psikologi. Padahal untuk meningkatkan performa dari team harus ada coach yang membimbing dari segi mental dan fisiknya. Oleh karena itu, peluang seorang psikolog menjadi lebih besar untuk masuk ke ranah e-sport pada masa ini,” jelasnya. Selain itu, ia memaparkan perbedaan dari mobile E-sport players dengan PC E-sport Players. Seseorang yang berkarir di mobile e-sport players bisa dibilang sangat singkat, karena mereka hanya bisa eksis mulai umur 16-23 tahun saja. Di samping itu, mobile e-sport players juga sangat fleksibel. Pemain dapat bermain menggunakan smartphone merk apapun, asalkan mendukung aplikasi. “Sayangnya, tak mudah menjadi seorang players dari mobile e-sport. Syarat utamanya adalah harus berhenti sekolah, banyak dari orang tua yang tidak setuju akan hal tersebut,” kata Listi. Menurutnya, kebanyakan pemain berasal dari kalangan menengah ke bawah. Terutama mereka yang kesulitan dengan biaya sekolah dan kurang dukungan dari orang tua untuk melanjutkan sekolah. Hal itu menjadi peluang besar bagi mereka untuk mengejar karir di dunia mobile e-sport ini. “Berbeda dengan mobile esport, PC esport players memiliki jenjang karir yang lebih lama yaitu mulai 17-29 tahun. Kebanyakan mereka dari PC players juga menempuh pendidikan tinggi ataupun sudah bekerja. Peminat PC players kebanyakan berasal dari kalangan menengah, karena dari alat yang diperlukan juga tidak murah. Mulai dari PC hig end sampai alat pendukung lainnya,” tambahnya. Paparan menarik juga disampaikan M. Salis Yuniardi, S.Psi, . M.Psi, PhD selaku Dekan Psikologi UMM. Ia menjelaskan latar belakang mengapa Psikologi mulai masuk ke dalam dunia E-sport. Menurutnya, pro players sangat membutuhkan seorang psikolog karena tingginya tekanan dari berbagai hal yang mereka alami. Di sisi lain, banyak asumsi mengenai e-sport yang mana belum jelas kebenarannya. Sehingga, membuat psikologi harus masuk untuk mempelajari dan meneliti di dalamnya. “Sudah seharusnya para pengajar psikologi memanfaatkan aspek pengajaran, penelitian, dan riset untuk mulai masuk ke dunia e-sport. Dari jutaan peminat e-sport yang ada, sangat disayangkan jika psikologi tidak membagi fokus ke sana. Psikologi tidak melulu hanya tentang perusahaan dan gangguan mental saja, namun harus bisa melebarkan sayapnya. Salah satunya melalui e-sport ini,” pungkasnya. (dit/wil)
Dosen IP UMM: Anggota KPPS adalah Pahlawan Demokrasi

Merujuk buku Panduan KPPS Tahun 2014 yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), KPPS adalah singkatan dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara. Ini adalah badan ad hoc yang dibentuk oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS) atas nama KPU Kabupaten/Kota untuk melaksanakan pemungutan suara dan penghitungan suara. Mendekati hari pemungutan suara, banyak konten di media sosial yang menyebutkan gurauan dan candaan tentang KPPS. Dosen Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu SOsial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A. menyampaikan, candaan tentang petugas KPPS adalah sebuah pelecehan. Padahal mereka adalah pahlawan demokrasi untuk Indonesia. “Candaan yang berseliweran di sosial media itu menurut saya adalah pelecehan terhadap demokrasi. Jangan lihat KPPS sebagai petugas pada tingkatan terendah, mereka itu pahlawan,” ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, meski hanya sebentar, tugas yang diemban oleh anggota KPPS itu sangatlah berat. Ibarat sebuah bangunan, jika pondasi awal sudah jelek maka akan berpengaruh terhadap yang lainnya. Berdasarkan pada pasal 30 ayat 1 PKPU nomor 8 tahun 2022, KPPS memiliki tugas dan wewenang yang besar. Di antaranya adalah mengumumkan daftar pemilih tetap di TPS, menyerahkan daftar pemilih tetap kepada saksi peserta pemilu yang hadir, pengawas TPS kepada peserta pemilu, hingga melaksanakan pemungutan dan penghitungan suara di TPS. Selain itu juga membuat berita acara dan sertifikat hasil pemungutan serta penghitungan suara hingga melaksanakan tugas tambahan yang di berikan oleh KPU, baik KPU Provinsi, KPU Kabupaten/kota, PPK dan PPS sesuai dengan peraturan per-undang undangan. Berdasarkan hal tersebut maka anggota KPPS berhak mendapatkan imbalan sebesar 1.1 juta bagi anggota dan 1.2 bagi ketua KPPS selama masa jabatan satu bulan. Salahudin pun menyampaikan, gaji yang diberikan sebanding dengan tanggungjawab yang diemban. “Saya rasa gaji yang diberikan sebesar 1,1 juta perbulan beserta jaminan kesehatan hingga kematian itu cukup. Bahkan kalau bisa dinaikkan mengingat amanat yang diemban sangat besar,” tambahnya. Salahudin juga memberikan apresiasi atas keinginan anak muda yang mau menjadi anggota KPPS. Baginya, kehadiran anak muda dalam pemilihan kali ini akan sangat berdampak pada demokrasi. Kehadiran anak muda dalam KPPS juga bisa menjadi proses belajar demokrasi secara langsung. “Batas minimal usia KPPS itu 17 tahun, maka saya rasa ini adalah kesempatan bagi anak muda untuk belajar tentang demokrasi yang baik,” ucapnya. Di akhir, ia menyampaikan bahwa sebagaimana diketahui bersama bahwa anak muda memegang kendali penuh di banyak aspek kehidupan saat ini. Banyak di antaranya yang menjadi influencer dan memiliki pengaruh besar melalui media sosial. Ia berharap, kondisi ini dapat memberikan banyak nilai positif pada pesta demokrasi kali ini. “Harapannya, dengan adanya anak muda bisa menjadi penangkis hoaks yang berseliweran,” pungkasnya. (rin/wil)
Keren, Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Deteksi Kebakaran

Peristiwa kebakaran lahan di kawasan Gunung Bromo 2023 lalu menyebabkan banyak kerugian bagi warga maupun pengunjung. Kebakaran lahan yang berlangsung sepuluh hari tersebut melahap kurang lebih 504 hektare padang rumput. Menurut perhitungan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), kerugian ditaksir mencapai Rp 5,4 miliar. Menanggapi hal tersebut, Ahmad Wildan Al Mauludi dan Tim dari Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan alat yang dapat mendeteksi kebakaran hutan. Wildan mengatakan, ide awal untuk membuat Flame Shield Forest (FSF) ini dikarenakan peristiwa kebakaran lahan di Kawasan Bromo yang mengakibatkan banyak kerugian bagi negara maupun warga sekitar. Selain itu, telatnya penanganan serta informasi adanya kebakaran juga menyebabkan meluasnya lahan yang terbakar. “Untuk itu, kami menciptakan alat ini agar hal tersebut tidak teradi. Alat ini juga bisa membantu pemadam kebakaran atau yang bertanggung jawab bisa segera mengetahui kondisi dan titik lokasi kebakaran terjadi,” tambahnya. Alat yang telah dipamerkan di Industrial Engineering Expo (IEE) pada Januari lalu ini mendapat banyak pujian. Pasalnya, FSF dilengkapi dengan Arduino ESP 32 sebagai sensor pendeteksi api, sensor gas, modul GPS, modul WiFi, dan penguat sinyal. Jika terjadi kebakaran, sensor api dan gas akan mendeteksi adanya kebakaran dan mengirimkan pesan peringatan pada gawai melalui fitur bot telegram. Nantinya, pesan yang dikirim melalui gawai akan memuat lokasi akurat dari peristiwa kebakaran. Sementara, untuk sistem kelistrikan, FSF masih mengandalkan listrik dari luar sehingga belum memiliki daya sendiri. Hal ini dikarenakan alat ini membutuhkan daya yang terbilang kecil, sehingga cukup dipasang pada powerbank untuk menjalankan alat ini. “Pada awalnya kami mau menggunakan panel surya, namun karena kurangnya budget dalam pembuatan sehingga kami memilih colokan USB yang cukup terjangkau,” tambahnya. FSF tak hanya mendeteksi kebakaran hutan saja, namun juga dapat difungsikan sebagai pendeteksi kebakaran di ruko atau pemukiman padat penduduk. FSF akan mendeteksi kebocoran gas atau percikan api dari konsleting listrik sehingga penanganan kebakaran dapat segera dilakukan dan tidak membahayakan penduduk sekitar. Ke depannya, Wildan dan tim akan mengganti fitur WiFi menjadi kartu GSM. Hal ini agar FSF dapat digunakan di hutan dan memiliki jangkauan sinyal yang lebih luas. Selain itu, ked epannya ia juga akan mengganti beberapa komponen sensor api dan gas agar jangkauan deteksi dapat lebih jauh. “Untuk itu, inovasi FSF tak akan berhenti sampai di sini saja. Semoga kami dapat menambahkan fitur baru agar FSF dapat digunakan pada hutan yang rentan kebakaran,” ucapnya mengakhiri. (tri/wil)
Prof. Nazaruddin Dilantik Jadi Rektor UMM 2024-2028

Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. resmi mengemban tugas menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Periode 2024-2028. Ia dilantik oleh Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Achmad Nurmandi, M.Sc. pada 12 Februari ini di Aula BAU UMM. Turut hadir dalam pelantikan tersebut Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, MSi. serta Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Nazar dalam pidato iftitahnya sebagai Rektor UMM, menyampaikan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) merupakan wadah strategis yang berperan progresif untuk meningkatkan sumber daya insani. “Menciptakan seorang Ululalbab (manusia cerdas) untuk melahirkan khairu ummah (umat terbaik) seperti yang digaungkan oleh Nabi Muhammad. Lewat UMM, kita optimis untuk melahirkan generasi-generasi unggul untuk menghadapi tantangan global yang dinamis dan tentu tidak meninggalkan nilai-nilai keislaman,” ungkapnya. Lebih lanjut, dia juga sempat menyinggung salah satu hadist yang memiliki arti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Menurutnya, itu tidak hanya urusan personal saja, namun juga menjadi tugas UMM sebagai instansi pendidikan. Tanpa disadari, UMM sudah menerapkan hal itu melalui Center of Excellence (CoE) dan berbagi program pengembangan mahasiswa. Apalagi mengingat bahwa anak muda adalah aset Muhammadiyah sekaligus aset bangsa. “Student today leader tomorrow menjadi semboyan kita. SDM Insani ini harus terus kita kembangkan. Bukan hanya tugas personal saja, tapi juga tugas kita bersama. Lewat UMM kita sudah melakukan itu dan budaya itupula yang sudah dilakukan oleh para pendahulu sebelum kita. Maka hal-hal ini harus kita rawat dan dikembangkan,” tegasnya. Di sisi lain, Rektor UMM Periode 2020-2024 Prof. Dr. Fauzan, M.Pd menyampaikan, sudah banyak sekali program rintisan yang dilahirkan oleh UMM. Seperti misalnya CoE, Center for Future Works (CFW) hingga Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Dia berharap, program-program tersebut nantinya tetap dimasifkan dan dikembangkan lebih jauh lagi. “CoE kita ini sudah bekerjasama dengan 189 perusahaan dan instansi dalam negeri, ada juga P3M yang itu juga dilirik oleh banyak dinas dan berbagai kepala daerah di Indonesia. Membuat program itu tidak boleh ngasal. Harus benar-benar ada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dan bangsa,” jelasnya. Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, MSi. mengapresiasi UMM dan memberikan predikat bahwa Kampus Putih merupakan PTMA yang terdepan dan mampu memberikan inovasi rintisan terbarukan. Hal itulah yang itu menjadikan UMM sebagai role model di PTMA se-Indonesia. Hal itu tak lepas dari prestasi UMM yang sangat banyak, mulai dari Akreditasi yang unggul serta memiliki trobosan yang benar-benar dibutuhkan oleh banyak pihak. Terakhir, dia berpesan kepada Rektor UMM yang baru serta seluruh PTMA se-Indonesia untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kualitas. PTMA harus menjadi dapur pemikiran dan pusat riset serta dapat memberikan prespektif baru perihal keummatan secara global serta kebangsaan dan kemanusiaan. Selain itu juga untuk tidak pernah merasa sungkan kepada para pendahulu (senior) untuk melakukan berbagai pengembangan di berbagai sektor. “Pak Nazar dan para pimpinan yang lain tidak perlu sungkan sama senior, ambil pelajaran dan ilmunya. Saya juga demikian, di atas saya masih banyak senior. Kalau masih ada sungkan itu biasanya agak ragu membuat trobosan pengembangan. Maka UMM harus mampi melanjutkan yang baik dan mengenbangkan terobosan-terobosan baru,” pesannya mengakhiri. (wil)
Gaet Warga, Dosen UMM Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

Inisiatif pengabdian masyarakat yang menarik dilakukan oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Diketuai oleh Fithri Mufriantie, M.P., tim tersebut mengajari cara membuat lilin aromaterapi dari bahan minyak jelantah pada kelompok PKK Kendalsari, Tulusrejo, Lowokwaru, Kota Malang. Adapun agenda itu dilaksanakan pada akhir tahun 2023 lalu hingga Februari ini. Fenty, sapaan akrabnya menjelaskan, tujuan pelatihan ini adalah untuk memberikan edukasi kepada para ibu-ibu terkait potensi positif dari limbah minyak jelantah. Minyak yang selama ini dianggap limbah, ternyata dapat diolah menjadi lilin aromaterapi yang bernilai ekonomis. Menurtunya, masyarakat desa sebenarnya sudah terbiasa mengumpulkan minyak jelantah dan menjualnya. Namun, mereka belum tahu bagaimana cara mengolah limbah tersebut sehingga menjadi produk bernilai. Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, melainkan juga mendukung konsep zero waste dan ekonomi kreatif. “Kami ingin memberikan edukasi bahwa minyak jelantah bisa menjadi bahan dasar lilin aromaterapi yang memiliki nilai ekonomis,” tambah Fenty. Pelatihan itu terdiri dari tiga tahap utama. Pertama, pemberikan edukasi kepada ibu-ibu mengenai manfaat positif dari minyak jelantah dan potensinya sebagai bahan dasar lilin aromaterapi. Kedua, yakni proses pembuatan lilin yang melibatkan penjernihan minyak jelantah, pemanasan, penambahan bahan dasar lilin, pewarna crayon, dan essential oil untuk memberikan aroma menenangkan. “Untuk penjernihan kami menggunakan arang atau kulit pisang yang di rendam dengan minyak jelantah selama satu malam. Untuk menghilangkan aroma kurang sedap, kita dapat menggunakan serai. Dari sini, tercipta lilin aromaterapi yang berkualitas. Kami juga menyarankan agar minyak jelantah yang digunkaan adalah minta yang telah dipakai dua hingga tiga kali proses memasak, sehingga penjernihan lebih mudah,” ujar Fenty. Pada akhir pelatihan, ibu-ibu PKK berhasil membuat lilin aromaterapi yang siap dipasarkan. Selanjutnya, Fenty dan tim berencana untuk melibatkan ibu-ibu PKK dalam program lanjutan berupa digital marketing. Dengan begitu, produk ini dapat dikenal oleh masyarakat luas. Menurut Fenty, inovasi pengabdian itu tidak hanya membuka peluang ekonomi baru bagi para ibu-ibu di PKK Kendalsari, tetapi juga memberikan solusi positif terhadap masalah lingkungan. Yakni dengan menjadikan limbah minyak jelantah sebagai bahan yang bernilai dan berguna. (rev/wil)
Mahasiswa UMM Ajari Baca Tulis ke Anak-anak WNI Ilegal di Malaysia

Menjadi seorang yang terdidik sudah seyogyanya mendorong diri untuk bisa bermanfaat untuk orang lain. Hal itu juga dirasakan oleh lima mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM). Dengan semangat mengajar dan berjuang mencerdaskan anak bangsa, mereka berkontribusi mengajar anak-anak melalui program KKN kemitraan internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Malaysia, November-Januari ini. Dalam prosesnya, mereka mengajar anak-anak yang tertahan tidak bisa pulang ke Indonesia karena terhambat proses administrasi. Hal itu tak lepas dari masalah perizinan tinggal dan proses izin lain. Bukan hanya kesulitan dalam mendapatkan fasilitas, para WNI ini juga harus merasakan hidup yang susah karena ekonomi yang rendah. Salwa Salsabila Naqqiyah Rafie, salah satu anggota tim menyampaikan, dalam berbagai keterbatasan itu timnya melakukan upaya peningkatan literasi dan pendidikan pada anak-anak yang termarjinalkan selama satu hingga dua bulan. “Walaupun secara hukum mereka ilegal, tapi kami rasa mereka sudah seharusnya memiliki akses pendidikan yang baik melalui pengajaran yang dilakukan di sanggar belajar,” ujar mahasaiswa yang akrab disapa Sabil tersebut. Karena tidak memiliki kekuatan hukum, anak-anak itu tidak bisa melakukan sekolah seperti anak-anak lain pada umumnya. Mereka tidak diizinkan untuk mendaftar di sekolah dasar dengan alasan identitas yang tidak jelas. Adapun program yang dilakukannya menjadi alternatif yang bisa dipilih oleh anak-anak akan menjadi alternatif mendapatkan pendidikan meski memang tidak melalui sekolah formal. “Saat mengajar, kami cukup sedih karena ada beberapa remaja yang bahkan tidak bisa membaca. Ini juga menjadi semangat kami untuk berkontribusi dan berbagi,” katanya. Ada beberapa program yang mereka lakukan saat mengajar. Mulai dari pengenalan budaya Indonesia melalui games dan lagu lagu daerah, program Rabu Literasi hingga English Vocab. Namun mengingat anak-anak di sanggar belajar belum mampu belajar mandiri, maka kegiatan ditekankan pada pembiasaan membaca dan menulis sebagai dasar literasi yang sangat penting. Sabil dan timnya menutup kegiatan dengan mengadakan pentas seni yang cukup meriah. Pentas seni ini juga menggambarkan keanekaragaman budaya Indonesia yang sangat mereka cintai dan selalu mereka rindukan. “Pentas seni sengaja kita buat agar anak-anak maupun orang tua siswa dapat melepas kerinduan ke negara tercinta, Indonesia. Apalagi dengan kondisi susahnya mereka untuk bisa kembali ke Indonesia lagi” tambahnya mengakhiri. (rin/wil)