Ini Tips Dosen UMM Atur Keuangan bagi Pasangan Muda

Keuangan seringkali menjadi sumber masalah dalam suatu rumah tangga. Bahkan telah menjadi pemicu terjadinya banyak perceraian. Padahal, keuangan adalah salah satu pondasi krusial yang harus dikelola dengan bijak, terutama oleh pasangan muda. Melihat hal ini, Ratya Shafira Arifiani, S.AB., M.M., selaku dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa untuk mewujudkan keuangan yang stabil perlu manajemen yang baik sedari awal pernikahan. Menurutnya, sebelum menikah, perlu membahas pandangan dan prioritas keuangan secara menyeluruh. Hal ini mencakup strategi mengelola tabungan, alokasi dana, dan pengeluaran. Tujuannya, agar terhindar dari perilaku boros yang dapat merugikan keuangan keluarga di masa depan. “Setiap pasangan memiliki pemahaman yang berbeda. Sehingga, keterbukaan menjadi kunci dalam mengelola keuangan keluarga. Hal ini bukan hanya soal penghasilan saja, melainkan juga mengenai tabungan, aset yang dimiliki, dan lain-lain,” tambahnya. Selanjutnya, penting untuk menetapkan anggaran bulanan yang terstruktur. Dalam hal ini, dapat melibatkan pasangan untuk mendiskusikan tentang pos anggaran yang menjadi prioritas dan yang perlu dibatasi.Contohnya anggaran untuk kebutuhan pokok seperti listrik, air, hingga alokasi dana untuk keperluan sosial setiap bulan. Lebih lanjut, Ratya menekankan pentingnya memiliki dana darurat yang hanya digunakan dalam keadaan genting atau mendesak. Menyisihkan sebagian gaji secara teratur untuk dana darurat sangat diperlukan, baik dalam bentuk tunai maupun rekening terpisah. Tentu, cara ini akan membantu membangun ketahanan keuangan keluarga. “Mengelola dana darurat juga bisa dalam bentuk investasi emas. Alasannya, investasi emas dengan harga yang stabil bisa menjadi alternatif bagi yang menginginkan tingkat risiko rendah. Namun, hal ini tetap disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing pasangan,” ungkapnya. Selain itu, adanya reksa dana memberikan kemudahan akses bagi pasangan muda untul merencanakan keuangan. Apalagi mengingat ada banyak aplikasi yang tersedia. Hal ini tentu memudahkan pasangan muda dalam proses membuka dana dan merencanakan investasi secara lebih efisien. Di akhir, ia menekankan pentingnya financial planning sejak sebelum menikah. Bukan hanya investasi keuangan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang dalam hubungan. “Konsistensi, komitmen, dan keterbukaan dalam mengelola keuangan akan membantu pasangan muda membangun masa depan yang kokoh,” pungkasnya. (lai/wil)

Mahasiswa UMM Sulap Limbah Kaset CD Jadi Panel Surya

Segudang inovasi tak ada hentinya dihasilkan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, inovasi datang dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri yang berhasil menciptakan panel surya eco-casset. Ciptaannya ini, berhasil dipajang pada acara Industrial Engineering Expo (IEE), Januari lalu. Umumnya, panel surya menggunakan bahan semikonduktor silikon untuk memproduksi energi. Namun, Anum Maharani Siregar dan tim mengganti bahan semikonduktor tersebut dengan limbah kaset CD yang dililit oleh tembaga untuk menghasilkan energi yang diubah menjadi listrik. Anum mengatakan, bahwa ide awal pembuatan panel surya ini didasari atas maraknya limbah kaset yang tidak terpakai lagi. “Kami juga melihat kalau saat ini kaset jarang digunakan lagi untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi, kaset juga sulit diurai tanah, sehingga kami memiliki ide untuk mendaur ulang kaset,” ucapnya. Selain itu, cara memperoleh kaset CD juga cukup mudah. Hal ini berbeda dengan bahan yang memiliki fungsi sama seperti tembaga dan baja yang memiliki harga lebih mahal. Arum menjelaskan bahwa kaset memiliki daya hantar panas yang cukup baik jika dijemur di matahari yang terik. Kemudian, jika dililit dengan kabel tembaga, energi panas yang dihasilkan oleh kaset dapat diubah menjadi energi listrik. Kaset CD akan memecah foton yang dibawa oleh energi panas menjadi ion positif dan negatif. Kemudian, kedua ion akan terus bergerak dan saling berikatan membentuk arus listrik searah atau DC. Anum menambahkan, arus DC yang dihasilkan oleh panel surya buatannya kemudian diubah oleh inverter menjadi arus AC yang lebih stabil untuk kebutuhan rumah tangga. Untuk saat ini, panel surya ciptaannya mampu menghasilkan listrik sebesar 300 watt atau setara dengan 12 volt listrik. “Karena target produk kami adalah untuk kebutuhan rumah tangga, untuk itu, listrik yang dihasilkan hanya cukup digunakan untuk mengecas smartphone,” tambahnya. Perbedaan mencolok antara panel surya miliknya dengan panel surya pada umumnya adalah pada kekuatan menyerap sinar matahari. Panel surya pada umumnya mampu menyerap sinar matahari di panas yang redup sekalipun. Sementara, produk milik Arum masih terbatas penyerapan pada panas yang terik. Hal inilah yang membuat timnya ingin terus mengembangkan produknya. Sehingga bisa menghasilkan listrik yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun daya yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh banyaknya lilitan kabel tembaga pada kaset tersebut. Untuk itu, ke depannya ia dan tim akan melakukan perbaikan demi menyempurnakan panel suryanya. Tak hanya perbaikan saja, namun juga pngembangan agar produknya dapat digunakan masyarakat dengan mudah dan efisien. Untuk itu, Anum berharap bahwa agar dapat bekerjasama dengan investor dan lembaga di UMM untuk mengembangkan panel surya garapannya hingga menjadi produk yang benar-benar siap digunakan. (tri/wil)

Ini Tiga Guru besar Baru FH UMM, Kaji Keadilan Eklektik, Pidana Sosial, hingga Agraria

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besarnya. Kali ini tiga guru besar baru dikukuhkan oleh Fakultas Hukum UMM. Mereka adalah Prof. Dr. Sidik Sunaryo, M.Si., M.Hum., Prof. Dr. Tongat, M.Hum. dan Prof. Dr. Fifik Wiryani, M.Si., M.Hum. Para guru besar yang dikukuhkan pada 7 Februari 2024 ini memiliki fokus penelitian masing-masing. Mulai dari keadilan eklektik, pidana sosial, serta hak menguasai negara dan agragria. Misalnya saja Sidik yang mengkaji lebih dalam terkait keadilan eklektik. Menurutnya, proses peradilan seringkali menjadi ajang kontestasi memperebutkan jumlah, bukan proses untuk mengerucutkan nilai hikmah. Sementara, keadilan eklektik mengutamakan nilai hikmah di atas nilai jumlah. “Nilai hikmah itu mengandung makna ajaran, sedangkan nilai jumlah hanya sekadar menjelaskan ujaran,” jelasnya. Saat ini, hilirisasi proses peradilan ditujukan untuk memperbanyak jumlah putusan, bukan untuk membangun nilai hikmah. Proses pemidanaan ditandai dengan jumlah bilangan yang bersifat penderitaan dan jumlah denda material yang bersifat kerugian. Sebaliknya, konsep keadilan eklektik memandang prinsip pemidanaan sebagai elaborasi nilai-nilai hikmah untuk memulihkan dan mengembalikan manusia. Utamanaya pada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat kesemestaan. Di sisi lain, dalam orasi ilmiahnya, Tongat membahas terkait pidana kerja sosial, urgensi, dan kontribusinya dalam hukum pidana Indonesia di masa mendatang. Menurutnya, ada berbagai keunggulan pidana kerja sosial ketimbang pidana perampasan kemerdekaan. Pertama, dapat menghindarkan pelaku dari dampak negatif akibat penempatan pelaku dalam lembaga, seperti stigmatisasi, interaksi negatif dengan narapidana lain, hingga dehumanisasi. “Kedua, pidana sosial bisa mengurangi populasi penghuni lembaga koreksi. Ketiga, kerja sosial juga akan menekan biaya hidup narapidana di dalam lembaga secara signifikan dan meringankan beban masyarakat sebagai pembayar pajak,” tambahnya. Tongat menambahkan, kelebihan yang keempat adalah memberikan manfaat yang menguntungkan bagi masyarakat berkat mobiliasi terpidana kerja sosial. Terakhir, pidana kerja sosial juga akan meringankan sekaligus membantu ekonomi keluarga. Terpidana kerja sosial tetap dapat menjalankan pekerjaannya, sehingga tetap bisa menjalankan fungsinya sebagai tulang punggung keluarga. Kajian menarik juga dipaparkan oleh Fifik yang menjelaskan mengenai hak menguasai negara (HMN), konfilk, dan keadilan agraria. Ia menjelaskan, meski Indonesia telah melewati transisi politik dari rezim otoritarian ke pemerintahan yang relatif demokratis, namun Indonesia masih mempertahankan konsep HMN yang diartikulasikan secara hegemonik oleh negara. Misalnya dalam sektor perkebunan, masyarakat hukum adat terpinggirkan karena harus mendapat rekognisi terlebih dahulu dari negara. Sehingga bisa timbul hka untuk mendapat ganti rugi atas tanah. “Saya berharap penelitian ini bisa mendorong terciptanya budaya baru dalam penyelenggaraan negara, khususnya di sektor agraria sehingga dapat menapai keadilan yang dicita-citakan. Output yang sebenarnya ingin saya capai adalah melakukan redefinisi mengenai konsep HMN yang semula penuh nuansa hegemonik beralih menjadi konsep HMN yang partisipatif dan berkeadilan,” pungkas Fifik. (wil)

Dosen UMM Beri Tips Cara Luapkan Marah Tanpa Menyakiti Orang Lain

Marah merupakan hal yang wajar sebagai salah satu cara untuk meluapkan emosi. Namun, kemarahan yang tidak terkontrol ternyata dapat mempengaruhi hubungan individu dengan orang lain. Misalnya  saat marah, seseorang kerap mengucapkan kalimat yang menyakitkan hati hingga melukai fisik orang lain. Melihat ini, Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi. selaku dosen program studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang  memberikan tips meluapkan emosi tanpa menyakiti orang lain. Pertama, regulasi emosi. Regulasi emosi ialah kemampuan untuk mengontrol dan menyesuaikan emosi yang timbul pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. “Usahakan untuk mengontrol emosi atau rasa marah tersebut, agar tidak dieskpresikan dalam bentuk perilaku-perilaku yang agresif, baik verbal maupun fisik. Meski demikian, meregulasi emosi itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, perlu latihan,” ucap Ratih. Ada berbagai macam cara untuk meregulasi emosi. Salah satunya dengan tarik nafas atau mengatur nafas. Saat emosi, seringkali ritme nafas seseorang jadi lebih cepat. Sehingga ketika nafasnya diatur, maka terdapat bagian di otak yang dapat meregulasi emosi serta secara otomatis dapat mengurangi ketegangannya. Kedua, berpikir secara altrernatif. Jika ada pikiran buruk yang muncul, otomatis emosi yang dirasakan pasti negatif. Namun jika berpikir hal yang sebaliknya, seperti memandang situasi dengan cara yang berbeda, kemungkinan emosi yang dirasakan pun akan berbeda. Ketiga, melakukan kegiatan yang menyenangkan. “Bisa journaling, tidur, berolahraga, melakukan art teraphy seperti menari, melukis, menggambar,” jelasnya. Dengan jurnaling, seseorang bisa meluapkan emosi diatas kertas tanpa perlu menyampaikannya secara langsung kepada yang bersangkutan. Tidur pun dapat menjadi salah satu solusi untuk meluapkan dan meredam emosi. Sebab ketika emosi kita perlu menenangkan diri sesaat, agar bisa lebih bijak dan jernih dalam berpikir. Namun emosi yang dirasakan tidak boleh didenial. Jika menumpuk, hal itu bisa menimbulkan akibat fisik yang disebut sebagai psikosomatis. Psikosomatis adalah istilah yang mengacu pada keluhan gejala fisik yang muncul akibat pikiran dan emosi yang dirasakan seseorang. Seperti nyeri pada bagian dada, sesak nafas, dan lain-lain. “Jadi journaling, tidur, dan sebagainya itu bukan untuk mengalihkan amarahnya. ‘Biar ngga marah aku lari-lari ah’, tidak seperti itu. Rasa kecewa, marah itu harus diakui. Penting diingat bahwa memendam emosi merupakan solusi terburuk. Sebab, idealnya emosi memang harus diekspresikan,” pesannya. (dev/wil)

Kuatkan Internasionalisasi, UMM-Western Sydney University Jajaki Kerjasama

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melebarkan sayap di dunia internasional. Terbaru, Kampus Putih menjajaki kerjasama dengan Western Sydney University (WSU) di banyak bidang. Turut hadir perwakilan dari WSU Prof. Amir Mahmood pada 5 Februari ini. Bersama ajaran rektor, ia berdiskusi dan membahas mengenai potensi kerjasama yang bisa dilakukan. Mahmood, sapaannya, mengapresiasi salah satu program futuristik UMM, yakni Center of Excellence (CoE) dan Center for Future Works (CFW). Menurutnya, banyak sarjana yang lulus dengan nilai IPK yang bagus tapi kesulitan menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri. Bahkan, sekalipun mendapatkan pekerjaan, banyak dari mereka susah mempelajari skill baru. “Namun, program CoE dan CFW UMM ini benar-benar memberikan solusi menarik. Tidak hanya menjembatani calon sarana dengan industri, tapi juga menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan dunia industri. Dengan begitu, para lulusan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan menyesuaikan kemampuan,” katanya. Usai berkeliling kampus, Ia juga menilai bahwa UMM memiliki lingkungan yang mendukung untuk belajar. Suasananya yang nyaman dan indah membuat proses belajar dan mengajar menjadi lebih menyenangkan. Ia juga tertarik dengan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) yang ada di UMM karena berhasil menyediakan energi baru terbarukan. Mahmood juga membuka kesempatan untuk menjadi speaker di konferensi atau diskusi yang dilaksanakan di UMM. “Kami juga akan mengajak para mahasiswa kami untuk datang ke UMM ketika mengunjungi Indoensia nanti. Semoga ada program bersama agar kita bisa saling mengenal dan berkolaborasi, termasuk dalam riset,” kata Mahmood. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa Kampus Putih selalu membuka ruang untuk melebarkan kerjasama internasional. Saat ini, mereka sudah memiliki banyak kerjasama di lingkup internasional. Mulai dari negara-negara di Eropa, Afrika, Amerika, Asia dan lainnya. “Tentu ini merupakan langkah UMM untuk menjadi kampus dengan kualitas internasional. Semoga diskusi ini bisa memberikan kerjasama yang apik bagi kedua belah pihak,” tambah Nazar mengakhiri. (wil)

Dosen UMM:Ibu dengan Baby Blues Berpotensi Alami Penurunan Kesehatan Mental

Baby blues adalah istilah yang tidak asing bagi ibu milenial bahkan gen-Z. Yang memprihatinkan, dalam beberapa pemberitaan, ibu dengan baby blues tak segan menyakiti diri sendiri maupun anaknya. Dari sisi psikologi, baby blues disebut dengan postpartum blues. Ini bukan termasuk gangguan mental, tetapi permasalahan psikologis. Hal ini disampaikan psikolog sekaligus Dosen Psikologi (FPsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi . “Dalam psikologi, permasalahan dan gangguan adalah hal yang berbeda. Permasalahan, belum menghasilkan diagnosis gangguan tertentu. Namun jika postpartum blues dibiarkan tanpa ada penanganan, maka nantinya akan menjadi postpartum depression dimana kondisi ini bisa disebut dengan gangguan psikologis,” tambahnya. Jika ditinjau dari sisi medis lanjut Atika, faktor pemicu ibu mengalami baby blues bisa berasal dari beberapa hal seperti perubahan hormon yang drastis setelah melahirkan, riwayat kondisi sebelum melahirkan, dan riwayat permasalahan di keluarga. “Terlebih bagi ibu yang memiliki riwayat gangguan psikologis seperti depresi akan berisiko lebih besar untuk mengalami baby blues,” tambahnya. Gejala yang paling kelihatan saat seorang ibu mengalami baby blues adalah berkaitan dengan emosi. Yakni emosi yang labil, merasa cemas, mudah marah dan bahkan beberapa menunjukkan gejala depresi ringan. Selain itu juga ada gejala dalam bentuk perilaku yaitu perubahan pola tidur dan perubahan pola makan. Bisa jadi makan lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya dan tidur lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya. Mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya, Atika menyampaikan bahwa Ibu yang mengalami baby blues akan mengalami penurunan kesehatan mental dan memiliki kualitas tidur yang buruk. Selain itu, hal ini juga akan berdampak pada sejauh mana ibu mampu menjalankan peran pengasuhan kepada anaknya. “Adanya pendampingan baik dari keluarga maupun tenaga profesional adalah hal penting. Mereka dapat memberikan dukungan kepada ibu pasca melahirkan. Hal ini terbukti dapat menurunkan kemungkinan baby blues berkembang menjadi postpartum depression. Selain itu, pendampingan juga meningkatkan kesehatan mental ibu,” tegasnya. Ada beberapa dukungan yang dapat dilakukan. Mulai dari dukungan instrumental seperti bergantian menjaga bayi, dukungan emosional seperti mendengarkan curhat istri, ataupun dukungan material seperti memberikan tambahan uang saku untuk istri.  “Baby blues wajar dialami dan biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah dua minggu pasca kemunculan pertama gejala. Ini juga dapat membaik tentunya dengan dukungan dari  orang-orang disekitar,” paparnya. Di akhir, Atika berharap semoga setiap ibu yang mengalami baby blues mempunyai cukup dukungan dalam proses pengasuhan anak. Ia pun berpesan kepada para ibu agar tidak segan-segan meminta bantuan kepada individu-individu di sekitar. “Jangan pernah merasa bersalah saat meminta bantuan dan menerima bantuan dari orang lain selama membesarkan anak. Seperti kata pepatah, ‘it takes a village to raise a child’, “ pungkasnya. (dit/wil)

Pemateri di Talkshow Pemilu UMM Sebut Mahasiswa Jadi Garda Terdepan

Merujuk pada Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pemilu, prosesnya harus diselenggarakan dengan asas-asas yang mengikat untuk mewujudkan pemilu yang bisa menjamin demokrasi. Tentunya, generasi muda memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan pemilu yang berasaskan Luber Jurdil. Hal itu disetujui oleh Mochammad Arifudin, S. Hum. selaku Ketua Bawaslu Kota Malang yang hadir dalam Talkshow Pemilu Damai 2024 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 1 Februari ini. Dalam agenda bertajuk ‘Peran Mahasiswa di Bumi Arema dalam Pemilu 2024 ‘ itu, ia menyebut bahwa mahasiswa memiliki peran mengkritisi dan melakukan pengawasan terhadap calon pemimpin. Jika melihat penyelenggaraan pemilu dari tahun sebelumnya, terdapat banyak perubahan sistem tata penyelenggaraan. Contohnya di pemilu saat ini, media sosial menjadi salah satu media yang banyak digunakan untuk kampanye maupun menyampaikan aspirasi. “Tapi minusnya, media sosial juga bisa menjadi ladang penyebaran hoaks dan ujaran kebencian,” ujarnya. Arifudin menambahkan, peran mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mengkritisi serta mengawasi penggunaan media sosial serta mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terserang hoaks. Selain itu juga dapat berkolaborasi dengan instansi pendidikan, komunitas, maupun pemerintah untuk menyelenggarakan pemilu yang damai. Dalam artian, mahasiswa tak hanya aktif dalam menyelenggarakan pemilu damai namun juga turut aktif 100% dalam pemilu. Turut hadir Tokoh Perempuan Kota Malang sekaligus Ketua Komunitas Perempuan Peduli Indonesia, Ya’qud Nanda Gudban. Iamenyatakan, mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki nilai pada dirinya. Nilai tersebut nantinya tidak berhenti hanya pada dirinya, namun juga harus dibagikan masyarakat lain agar menjadi pemilih yang cerdas. “Maksud pemilih cerdas yaitu pemilih yang mengetahui parameter dalam menentukan pilihannya. Jangan sampai hanya karena terbawa suasana sampai melupakan substansi dan program yang diberikan setiap calon pemimpin. Dari pemilih cerdas inilah dapat tercipta pemilu 2024 yang damai,” ucapnya. Menurutnya, salah satu kelmahan generasi muda saat ini adalah literasi. Pada zaman dahulu, informasi banyak didapatkan dari buku maupun televisi. Namun, saat ini penyebaran informasi banyak didapatkan di media sosial yang banyak memberikan informasi yang salah. Hal serupa juga disampaikan PJ Walikota Malang yang diwakili oleh Drs. Ali Mulyanto, M.M selaku Staf Ahli Bidang Pembangunan, Kesejahteraan Rakyat dan Sumber Daya Manusia Pemerintah Kota Malang. Ia menambahkan, mahasiswa berperan sebagai penegak dan penengah penyelenggaraan pemilu. Mereka juga perlu mengedukasi masyarakat untuk menyukseskannya. Suksesnya pemilu 2024 tidak hanya dari penyelenggara, namun juga mahasiswa sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi politik kepada masyarakat. (tri/wil)

Makin Diminati, Ini Kelebihan Kelas Social Media for Branding Komunikasi UMM

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki pilihan untuk ikut Center of Excellent (CoE). Sesuai program universitas, Komunikasi UMM menyelenggarakan CoE School of Creative Communication (SCDC). Salah satu kelas SCDC yang sudah berjalan dua tahun terakhir adalah kelas Social Media for Branding (SMB). Ketua Prodi Komunikasi UMM, Nasrullah mengungkapkan tahun ke-2 penyelenggaraan kelas SMB semakin baik dan makin diminati. Namun demikian, baik pelaksaan tahun lalu maupun sekarang sama-sama harus ditempuh dua semester. Satu semester dalam bentuk training dengan kurikulum khusus yang dirancang bersama prodi dan mitra dunia usaha dunia industri (DUDI). Satu semester berikutnya ditempuh internship di perusahaan mitra. “Lewat CoE ini mahasiswa mendapatkan keunggulan materi training yang lebih intens, praktek simulasi, hingga magang di tempat kerja yang sesungguhnya,” kata Nasrullah usai melepas 40 peserta internship kelas SMB ke 17 instansi mitra Komunikasi UMM pekan lalu. Nasrullah merinci, pada kelas SMB mahasiswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan terkait pemanfaatan dan pengelolaan media sosial sebagai sarana branding.  Materi ini meliputi strategi pemanfaatan fitur, Key Opinion Leader (KOL), optimasi konten, hingga implementasi dalam berbagai platform media sosial sesuai dengan kebutuhan. Nasrullah optimis CoE Komunikasi UMM dapat memberikan pembekalan lebih kuat lagi bagi mahasiswa. Selain yang menempuh kuliah regular, kuliah khusus di kelas CoE ini merupakan pilihan yang sangat tepat bagi yang telah memiliki kekhususan pilihan kerja di bidang digital communicaton. “Penciri Komunikasi UMM sekarang kan creative digital communication, jadi program khusus ini sekaligus menjadi pembeda dengan prodi-prodi Komunikasi di kampus lain,” tambahnya. Person in Charge (PIC) CoE SCDC Widiya Yutanti menerangkan kelas SMB diperuntukkan mahasiswa semester lima dan dibuka untuk prodi lain di UMM. Mode perkuliahan dilakukan secara hybrid dan blended. Tahun ini instruktur yang dilibatkan dari praktisi DUDI antara lain dari PT Sosialoka Indonesia, Cover Clearance, Archipelagroove dan CMLabs, serta dosen Komunikasi UMM. “Pertemuan kelas bisa dua sampai lima kali dalam seminggu, sehingga mencapai lebih kurang 84 kali pertemuan. Sedangkan internship selama empat bulan sesuai semester sehingga ini ekuivalen dengan 20 SKS tiap semester,” rinci Widiya yang juga kepala Lab Komunikasi UMM ini. Kelebihan mahasiswa yang mengikuti kelas SMB, kata Widiya, adalah memperoleh kuliah dengan nilai mata kuliah khusus yang tertera di transkripnya. Beberapa materi khusus yang disediakan adalah PESO, Target Audience of Social Media, Multiplatform Strategy, AI for Social Media Practices, Social Media Persona, dan lainnya. Bahkan mereka juga mendapatkan Copywriting for Social Media, Brand Storytelling for Social Media, KOL Optimization, Digital Performance Marketing, Dashboard Ads dan belasan materi lain. Di sisi lain, CEO PT Sosialoka Indonesia, Miftah Farid mengakui program CoE UMM ini sangat baik untuk mendekatkan calon lulusan pada dunia kerja. Tidak hanya materi di kelas, simulasi dan praktek di tempat kerja melalui magang juga sangat diperlukan untuk melatih keterampilan dan mental. (*/wil)

Prof. Nazaruddin Malik Resmi Pimpin UMM Periode 2024-2028 Mulai Hari ini

Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. resmi memimpin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai rektor definitif untuk periode 2024-2028. Hal itu berdasarkan surat keputusan (SK) pengangkatan rektor UMM yang sudah ditandatangani oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Adapun Nazaruddin akan mengawali kiprahnya sebagai rektor per 1 Februari 2024 sesuai SK pengangkatan Nomor 7/KEP/I.0/2024. Terkait hal itu, Nazaruddin mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran civitas akademika UMM, Senat Universitas, Badan Pembina Harian (BPH), dan PWM Jawa Timur atas terselenggaranya proses pemilihan rektor yang lancar dan elegan. Demikian juga kepada PP Muhammadiyah melalui ketua umum dan jajaran PP Muhammadiyah lainnya. “Semoga saya selalu diberikan kesehatan dan kekuatan menjalankan amanah yang sangat besar ini. Mohon doa dan dukungan kerja kolektif dari seluruh elemen yang ada di kampus. Seluruh dosen, karyawan, dan mahasiswa untuk bisa saling bahu membahu menuju UMM yang lebih baik,” katanya menambahkan. Menurutnya, kebesaran kampus UMM tak lepas dari kepemimpinan para pendahulu yang sudah bekerja ikhlas dan keras. Maka, berbagai program yang baik akan dilanjutkan dengan sentuhan inovasi baru agar UMM semakin besar dan berkembang. “Semoga Allah SWT terus memberikan petunjuk dan bimbingannya kepada kita semua,” harapnya. Sebelumnya, UMM telah melakukan berbagai proses dalam upaya pemilihan rektor. Diawali dengan pemilihan dan penetapan organ senat UMM. Kemudian dilanjutkan pembentukan panitia pemilihan rektor periode 2024-2028. Langkah selanjutnya yakni sosialisasi dan penjaringan di tiap-tiap fakultas yang memunculkan nama-nama calon kandidat. Dari situ muncul nama-nama yang bisa dijaring oleh masing-masing fakultas. Ada lebih dari 14 calon nama yang terjaring. Verifikasi calon kandidat juga dilakukan untuk memastikan semua calon telah memenuhi berbagai syarat. Kemudian para senat melakukan pertimbangan, pemilihan, serta penetapan calon rektor Kampus Putih. Berdasarkan data hasil penjaringan, Nazar mendapatkan jumlah pengusul mayoritas, yakni diusulkan oleh 11 fakultas. Sementara nama-nama di posisi dua dan tiga, masing-masing hanya mendapatkan tiga dan dua pengusul. Dari hasil itu, para senat dan peserta setuju serta akhirnya menetapkan Nazar untuk diusulkan ke PP Muhamamdiyah menjadi rektor UMM yang terpilih secara aklamasi.  Sambil menunggu seremonmial pelantikan oleh Ketum PP Muhammadiyah, Prof. Nazarudin Malik sudah resmi menjadi rektor yang dapat menjalankan roda kepeminpinan UMM untuk 4 tahun mendatang. “Iya benar. Sudah ada surat keputusan resmi terkati pengangkatan rektor UMM. SK-nya juga sudah sah ditandangani ketum dan sekum PP Muhammadiyah. Semoga Prof. Nazaruddin dapat membawa manfaat yang semakin baik bagi kemajuan UMM dan masyarakat luas,” jelas Moh. Isnaini, M.Pd. selaku Kepala Humas UMM. (*wil)

Dosen Kesos UMM Beri Cara Atasi Perceraian karena Faktor Ekonomi

Tercatat, ada lebih dari 516.000 kasus perceraian di Indonesia dalam rentang 2022-2023. Dari jumlah tersebut, faktor ekonomi menjadi pemicu kedua setelah faktor perselisihan antar pasangan. Melihat fenomena tersebut, Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW selaku dosen Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan pandangannya. Perceraian menurutnya, memiliki kaitan yang sangat erat dengan kesehjahteraan sosial, terutama tentang  anak yang pertumbuhannya tidak bisa jauh dari orang tua. Pertumbuhan anak dari segi psikologis bisa terpengaruh karena kasih sayang yang didapat kurang maksimal dari kedua orang tua. Banyak kasus di Indonesia yang ketika orang tua bercerai, maka anak akan dititipkan ke neneknya. Padahal cara didikan neneknya akan sangat berbeda dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. “Hal tersebut bisa menjadikan anak terjerumus ke hal-hal negatif maupun salah dalam pergaulan,” tambahnya. Eko melanjutkan, dari sisi pasangan, ada beberapa faktor yang akan terdampak jika suami istri bercerai yaitu ekonomi, psikologi, pendidikan, kesehatan, dan spiritual. Kelima faktor tersebut pasti akan dirasakan jika perceraian terjadi. “Psikologi tiap pasangan yang bercerai bisa terganggu, seperti depresi. Apalagi jika ditambah dengan keinginan mereka untuk menikah lagi. Pasti tidak akan mudah karena rasa traumatik terhadap pasangan yang sebelumnya,” tambahnya. Ada beberapa solusi dari Eko untuk mencegah perceraian dalam rumah tangga. Pertama, adanya keterbukaan finansial kepada pasangan, meliputi gaji suami atau istri, hutang jika salah satu masih ada tanggungan yang harus dibayar, atau masalah keuangan lain. Kedua. mempunyai perencanaan keuangan untuk masa depan, contohnya ingin membeli rumah atau membangun rumah, membeli mobil, asuransi dan yang lain. Ketiga, berhemat atau tidak bersikap konsumtif, seperti tidak membeli yang diinginkan saja melainkan mendahulukan kebutuhan terlebih dahulu. Keempat, yakni ada upaya menabung. “Terakhir, yakni mengurangi bermain media sosial. Kita tidak sadar bahwa hal itu bisa memicu sikap membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain. Hingga membuat diri merasa kurang dengan pemberian suami atau pasangan. Ini bisa menjadi penyebab munculnya cekcok karena permasalahan ekonomi,” tambahnya. Selain itu, akses teknologi juga dapat membuka ruang perselingkuhan, termasuk melalui media sosial. Maka dari itu, setiap pasangan harus bisa membatasi sendiri penggunaan media sosial agar tidak sampai merugikan. Di akhir, Eko berpesan, jika sepasang suami istri terbesit keinginan untuk bercerai apapun itu faktor pemicunya, sebaiknya berpikir panjang mengenai masa depan anak karena anak perlu menjadi prioritas dalam hal tersebut. (dit/wil)