Daur Ulang Daun Sereh, Mahasiswa CoE Essential Oil UMM Ciptakan Pembersih Lantai Alami

Salah satu upaya untuk mengurangi limbah organik adalah dengan menggunakan hal yang dianggap tidak berguna menjadi produk yang bermanfaat. Hal itu pula yang dilakukan oleh mahasiswa Center of Excellence (CoE) Essential Oil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka memanfaatkan daun sereh untuk dijadikan sebuah produk pembersih lantai. “Biasanya kita kan hanya memanfaatkan bagian batangnya saja untuk diolah menjadi bumbu dapur atau obat. Sementara daunnya dibuang begitu saja. Kali ini, mahasiswa CoE dari prodi kehutanan sukses membuatnya menjadi pembersih lantai,” kata Galit Gatut Prakosa, S.Hut., M.Sc. Selaku Kepala Program Studi Kehutanan UMM. Baca juga : Empathy Circle Bawa Mahasiswa UMM Ini Songsong Final Duta Kampus Jatim Galit, panggilan akrabnya, mengatakan, produk ini berawal dari proses magang profesional CoE. Mereka memang diharuskan ikut magang di sederet perusahaan penyedia bibit dan pembeli hasil panen. Misalnya yang perusahaan penyedia sereh ada di Blora dan juga mesin pnyulingan di Yogyakarta. Mereka tergerak ketika melihat banyaknya daun sereh yang dibuang begitu saja padahal bisa dimanfaatkan menjadi sebuah produk menarik. Ada beberapa tahap proses pembuatannya. Daun sereh diproses melalui penyulingan, diberi campuran zat lain seperti. Beberapa zat yang ditambahkan yakni biosoft 0,5%, EDTA, Citronella Oil, NP10 0,8%, BKC 0,5%, Aquadest. Kemudian didihkan hingga terjadi penguapan. Uap inilah yang didinginkan dan menghasilkan cairan. “Pembuatan karbol daun sereh ini telah mendapatkan izin dari Perbekalan Kesehatan Dalam Negeri (PKD)  yang telah diproses bersamaan dengan pembuatan produk itu sendiri. Proses izinnya sekitar bulan Maret tahun lalu, dan saat ini telah resmi dinyatakan aman,” katanya. Baca juga : MSG Mengandung Racun, Begini Kata Dosen UMM Galit juga mengatakan, produk karbol itu tentu aman untuk keluarga yang mempunyai balita. Apalagi melihat bahan bakunya yang alami yakni daun sereh. Selain itu, baunya yang alami juga menjadi kelebihan tersendiri. “Karena telah mendapatkan izin dari PKD, kami sudah memasarkannya ke beberapa tempat. Diawali dengan wilayah dekat kampus dan mengenakannya pada masyarakat,” jelasnya. Pihaknya memang sangat aktif dalam menelurkan inovasi. Utamanya dengan mendorong mahasiswa untuk mencoba berbagai hal dan mmenciptakan produk bermanfaat. Bahkan sebelumnya, ada beberapa mahasiswa yang sukses membuat minyak alami untuk relaksasi. (*ri/wil)

Dosen UMM: Meski Sehat, Tak Semua Sayur Organik Bebas dari Residu

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan kekhawatiran terhadap residu kimia pada bahan pangan, konsumsi sayur organik menjadi pilihan utama bagi masyarakat. Walaupun harganya terbilang lebih mahal, minat terhadap sayur organik terus melonjak. Dibudidayakan tanpa menggunakan bahan kimia, sayur organik dianggap lebih sehat dan ramah lingkungan. Meski demikian, perlu diingat bahwa tidak semua produk organik bebas dari residu. Prof. Dr. Ir. Rahayu Relawati, M.M., dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan, pertanian organik tetap menggunakan pestisida. Hanya saja berbahan herbal seperti daun paitan dan daun mimba. “Selain itu, pupuk kandang dari hasil olahan feses hewan juga umum digunakan. Tetapi, jika proses fermentasinya belum optimal, maka bakteri jahat pada pupuk tersebut masih hidup. Inilah yang menyebabkan potensi alergen dan risiko kontaminasi bakteri pada sayur organik,” jelasnya. Oleh karena itu, konsumen harus cermat dalam memilih sayur organik yang tepat, yakni yang telah bersertifikasi organik. Alasannya, produk bersertifikasi sudah melalui pengecekan tempat budidaya sehingga keamanan dan mutunya terjamin. “Sayur organik itu ukurannya kecil, karena produksinya tidak dipacu dengan pupuk kimia. Ciri lainnya adalah tampilan yang kurang cantik karena adanya lubang bekas gigitan hewan kecil. Itu jadi indikasi bahwa sayur tersebut tidak mengandung bahan kimia,” papar Guru Besar Agribisnis tersebut. Meskipun sudah membeli dengan selektif, tahapan proses pencucian sayur juga harus dilakukan dengan benar. Sayuran yang bertumpuk sebaiknya dicuci satu persatu dengan air mengalir dan menggunakan garam. Ini bertujuan untuk membantu membunuh hewan-hewan kecil seperti ulat yang menempel pada sayur. Rahayu juga menekankan, konsumen sebaiknya membeli sayur organik secukupnya agar kondisinya tetap segar. Dalam penyimpanannya pun harus menggunakan wadah organik. Contohnya seperti besek atau keranjang anyaman dari bambu dan ditutup dengan kain bersih yang telah dibasahi. “Sayur organik juga harus dimasak dengan tepat untuk mempertahankan kualitas nutrisi. Lebih baik dikukus dengan waktu sekitar dua menit saja, kecuali sayuran yang keras seperti wortel. Alasannya, agar kandungan vitamin, nutrisi, dan serat pada sayur tetap terjaga,” tambahnya. Di akhir, Rahayu menyampaikan, memilih sayuran organik tidak hanya menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan, tetapi juga menjadi langkah konkrit dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). “Konsumsi sayur organik juga sebagai upaya nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan,” tutupnya. (*lai/wil)

Guru Besar FAI UMM Dikukuhkan, Bikin Model EMAS Baca Kitab Gundul

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan guru besar, 13 Januari ini. Kali ini datang dari Fakultas Agama Islam (FAI), yakni Prof. Dr. Abdul Haris, MA. yang sukses meraih predikat sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan bahasa Arab. Menariknya, ia telah menciptakan metode ‘EMAS’ yang menjadi jalan pintas dalam pembelajaran membaca kita gundul. Adapun Haris merupakan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang serta merupakan alumnus dari Sudan. Dalam orasi ilmiahnya, Haris menjelaskan bahwa keterampilan membaca dan memahami kitab gundul sampai saat ini masih menjadi problem bagai mereka yang belajar bahasa Arab di Lembaga-lembaga pendidikan termasuk di pesantren. Ada dua problem utama yang menyebabkan problem dalam membaca kitab gundul, yakni kurang kekayaan kosa kata, dan kurang pemahaman terhadah kaidah-kaidah gramatika bahasa Arab yang fungsional. Maka, model ‘EMAS’ yang ia ciptakan menjadi kerangka konseptual yang bagus untuk menentukan langkah-langkah sistematis dalam proses pembelajaran membaca kitab gundul yang lebih mudah dan relatif lebih cepat. Ada empat langkah yang dilakukan dalam proses pembelajarannya. Diawali dengan E, yakni expand vocabularies. Tahap ini dilakukan untuk memberikan bekal kosa kata yang cukup. Hal ini dilakukan dengan mengajarkan beberapa teks Arab yang berharakat yang relevan dengan bidang studinya. Kedua, yakni M atau Mastery the Functional Grammar yakni kuasai gramatika yang fungsional. Di sini para peserta didik diajari berbagai kaidah-kaidah nahwu. Kemudian dilanjutkan dengan tahap A atau apply the jie sam soe, yakni terapkan analisis jie sam soe. Langkah ini merupakan langkah sederhana untuk menganilis struktur kalimat yang mudah yang berbasis pada pemahaman tentang tiga unsur utama pembentuk dan pengembang kalimat yakni SPP (Subjek, Predikat, dan Pelengkap). Dengan model analisis ini tidak banyak kaidah-kaidah gramatika yang harus dikuasi tapi cukup mendeteksi tiga peran kata terkait. Terakhir, yakni tahap S yaitu support with more exercises atau dibantu dengan banyak latihan. Pada tahap ini, latihan-latihan membaca teks bahasa Arab yang tidak berharakat dilakukan. Mulai dari kalimat yang sederhana sampai dengan teks-teks yang berhubungan dengan bidang yang menjadi kajiannya. “Semoga model ini bisa menjadi salah satu solusi dalam memberikan pengajaran terkait membaca kitab gundul. Utamanya mereka-mereka yang ingin membaca kitab gundul namun bingung mulai dari mana. Maka, model EMAS bisa dicoba untuk membantu dalam proses pembelajaran,” pungkasnya mengakhiri dalam proses pengukuhannya. (wil)

Aldin, Mahasiswa UMM yang Rasakan Serunya Magang di Kedubes Ceko

Tidak sedikit mahasiswa yang bermimpi ingin merasakan berkuliah hingga dapat bekerja di luar negri. Kuliah dan bekerja di luar Indonesia mempunyai privilese yang lebih dan banyak mendapatkan pengalaman dan ilmu baru yang dapat dibagikan saat kembali ke tanah air. Hal itu dikatakan Aldin Ulil Amri Ramadhan, Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berkesempatan untuk mewujudkan mimpinya dengan magang di Kedutaan Besar Indonesia untuk Ceko, Praha. Aldin, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa ia melaksanakan magang di kantor kedutaan besar Indonesia di kota Praha, Ceko selama kurang lebih 3 bulan dari September-Desember 2023 lalu. Tiap minggunya, ia diberikan tugas yang berbeda-beda. “Selama tiga bulan kemarin, ada sistem magang yang diberlakukan di kantor. Tiap tiga minggunya ada rotasi divisi, di mana terdapat 4 divisi yang mempunyai tantangan yang berbeda-beda,” Ujarnya. Minggu pertama, ia mendapatkan divisi Penerapan sosial dan Budaya. Mendampingi berbagai proyek film yang ingin memgambil gambar di Indonesia maupun sebaliknya merupakan kesehariannya saat itu. Aldin juga merekap dan mengurus segala proses perizinan pembuatan film, serta turut aktif ikut dalam melaksanakan pengenalan budaya Indonesia ke Masyarakat Ceko, dengan tujuan membangun hubungan diplomasi antar negara. Bahkan acara tersebut dihadiri langsung oleh Istri presiden negara Ceko dan duta besar dari berbagai negara. “Divisi Atase Politik jadi divisi saya berikutnya. Saya Banyak melakukan research mengenai kondisi politik Indonesia dan Ceko serta permasalahan dunia yang lagi memanas. Tidak hanya itu saya juga membuat laporan mingguan yang akan diserahkan langsung kepada kementerian luar negeri Indonesia,” Katanya. Ia juga banyak belajar saat di divisi Ekonomi Intelegent. Mencari tahu peluang ekonomi di Ceko untuk bisa bekerja sama dengan Indonesia dan merekap kegiatan ekspor impor antara dua negara. “Saya sangat bersyukur mendapatkan pengalaman itu. Saya juga diajari cara mendapatkan kecukupan data untuk mengelola keuangan,” tambahnya. Aldin juga menceritakan bahwa ia juga mengisi waktu luangnya dengan berkunjung ke beberapa tempat bersejarah di Ceko. Negeri dengan julukan 1000 kastil tersebut ia jelajahi dan belajar sejarahnya dengan berkunjung ke berbagai museum. Tak hanya itu, Anak tunggal di keluarganya itu pun mengisi waktu luangnya dengan berkunjung ke negara tetangga Ceko. Jerman, Polandia, dan Austria menjadi negara tujuannya. Di sana ia banyak mengunjungi Museum bersejarah dan tempat wisata alam yang sering dikunjungi oleh wisatawan. “Dengan magang ini, banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan di luar perkuliahan. UMM dan prodi saya sungguh mendukung penuh selama proses magang berlangsung. Magang ini dapat saya konversikan ke mata kuliah, sehingga dapat meringankan proses belajar di Kampus Putih,” pungkasnya. (ri/wil)

Dosen Hukum UMM Jelaskan Efektivitas Hukuman Mati untuk Koruptor

Tidak banyak yang tahu, bahwa ancaman hukuman mati mengintai pelaku tindak pidana korupsi di Indonesia. Wahyudi Kurniawan, S.H., M.H.Li., C.Me. Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyatakan bahwa pada dasarnya hukuman mati bagi koruptor di Indonesia telah diatur dalam Pasal 2 ayat (2) UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Hanya saja, sampai saat ini belum ada koruptor yang divonis hukuman mati oleh pengadilan. “Pelaksanaan hukuman mati di Indonesia untuk kasus-kasus korupsi sampai saat ini belum ada satu putusanpun, meski dalam regulasi sudah mengatur itu,” katanya. Implementasi hukuman mati untuk korupsi di Indonesia melibatkan banyak aspek hukum yang kompleks. Salah satu isu utama adalah kesulitan dalam mengumpulkan bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan seorang terdakwa dalam kasus korupsi. Bukti yang diperlukan dalam kasus korupsi sering kali bersifat tidak langsung, seperti rekaman percakapan, dokumen bisnis, atau jejak uang yang rumit. “Kendala utama dalam penerapan hukuman mati bagi terdakwa korupsi di Indonesia adalah ketidakberanian aparat penegak hukum untuk menuntut para terdakwa korupsi dengan tuntutan hukuman mati. Juga karena banyaknya pertimbangan hukum dalam pengambilan putusan bagi terdakwa korupsi. Selain itu, arus penentangan terhadap hukuman mati di Indonesia telah menjadi isu global. Indonesia menjadi salah satu negara yang masih menerapkan hukuman mati sedangkan beberapa negara didunia sudah menghapuskan hukuman mati karena melanggar hak asasi manusia yaitu hak untuk hidup,” urainya. Kendala lainnya adalah jumlah kasus korupsi yang terlalu banyak untuk ditangani secara efisien oleh sistem peradilan yang ada. Seringkali kasus-kasus tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama untuk diselesaikan. Ini mengakibatkan penahanan yang berkepanjangan bagi para terdakwa serta ketidakpastian bagi korban dan masyarakat. Selain itu, ada juga masalah sistematis dalam peradilan korupsi di Indonesia. Beberapa kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi pemerintah telah menunjukkan adanya kesalahan prosedur dan penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan kepentingan publik. Hal ini menyebabkan keraguan tentang keadilan sistem peradilan dalam menangani kasus korupsi. “Melihat berbagai hal tersebut, hukuman mati untuk terdakwa tindak pidana korupsi perlu ditinjau ulang. Selain tidak efektif, juga ada problematika tentang hak asasi manusia, di mana hak hidup itu menjadi hak dasar dari seorang manusia. Lalu apakah masih diperlukan? Bagi sebagian ahli hukum, hukuman mati masih diperlukan sebagai efek jera, tetapi bagi yang lain orang terpidana mati tidak perlu dihukum mati. Bisa diganti dengan hukuman lain yang menghadirkan efek jera pada masyarakat,” ucapnya mengakhiri. (bal/wil)

MSG Mengandung Racun, Begini Kata Dosen UMM

Meskipun telah digunakan bertahun-tahun dalam dunia kuliner, keberadaan Monosodium Glutamat (MSG) masih menyisakan kekhawatiran pada masyarakat. Hal ini terkait rumor bahwa MSG dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan yang berbahaya. Menanggapi hal tersebut, Nur Lailatul Masruroh, S.Kep. Ns., M.N.S. dosen Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES)  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan, MSG merupakan garam natrium dari asam glutamate. Ini suatu jenis asam amino yang secara alami ada dalam makanan seperti tomat, keju, dan daging. Untuk pembuatan MSG sendiri biasanya melalui proses ekstraksi sari tetes tebu. “MSG sebenarnya adalah garam natrium dari asam glutamat, suatu komponen alami yang dapat ditemukan dalam banyak makanan. Namun beberapa orang mungkin mengalami reaksi sensitivitas, ini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengeneralisasi MSG sebagai zat berbahaya secara umum,” ujar dosen yang akrab disapa Ila ini. Menurutnya, konsumsi MSG sebenarnya tidak berbahaya asalkan sesuai dengan takaran yang dianjurkan. Merujuk dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, takaran harian yang dianggap aman adalah sekitar 2 hingga 2,5 gram MSG per hari. Ini setara dengan 1/2 hingga 1 sendok teh. Namun tetap penting diingat bahwa takaran harian ini adalah panduan umum, dan toleransi terhadap MSG dapat bervariasi antar iindividu. “Banyak studi ilmiah menunjukkan bahwa konsumsi MSG dalam takaran yang wajar tidak menyebabkan efek samping signifikan pada sebagian besar orang. Namun beberapa individu mungkin mengalami reaksi seperti sakit kepala atau nyeri otot. Efek samping ini biasanya bersifat sementara dan tidak terjadi pada semua orang,” tambahnya. MSG yang dikonsumsi dalam jumlah banyak rentan juga menyebabkan “Chinese Restaurant Syndrome”. Gejala yang biasa muncul pasca konsumsi dapat meliputi sakit kepala, sensasi panas atau keringat berlebihan, nyeri otot atau sendi. Namun, penting untuk dicatat bahwa reaksi ini relatif jarang terjadi. “Sejauh ini, saya belum menemukan penelitian yg mengkaji secara khusus manfaat MSG bagi kesehatan, kebanyakan riset berfokus pada dampak negatif konsumsi MSG melebihi takaran normal dan jangka panjang. Namun dari efek utama MSG sebagai penyedap rasa sudah jelas bahwa MSG bermanfaat untuk membantu meningkatkan nafsu makan karena rasa makanan menjadi lebih sedap,” katanya. Di akhir Ila menghimbau walaupun MSG memiliki titik leleh yg tinggi yaitu 232 derajat celcius, sehingga tidak mudah terurai saat dipanaskan, namun hendaknya masyarakat menghindari hal tersebut.  Pemanasan melebihi batas berpotensi menyebabkan terurainya senyawa yang mengandung racun. “Tak hanya untuk makanan ber-MSG, secara umum pemanasan makanan berulang ulang tidak direkomendasikn untuk kesehatan. Selain karena nilai gizi yang rusak, aktivitas ini juga berpotensi terjadinya perubahan senyawa makanan menjadi beracun,” pungkasnya. (dit/wil)

Empathy Circle Bawa Mahasiswa UMM Ini Songsong Final Duta Kampus Jatim

Saat ini, kesehatan mental anak remaja menjadi pusat perhatian. Apalagi banyak remaja yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dan menyakiti diri sendiri ketika tidak menemukan jawaban dari masalahnya. Hal itu menjadi perhatian Ridho Ade Nugroho, mahasiswa Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang akan menyongsong final Duta Putra Putri Kampus Jawa timur 2024. Bahkan Ridho memfokuskan diri untuk mengangkat tema advokasi mental health. Ia merasa mempunyai tanggung jawab sebagai anak kesehatan yang paham akan kesehatan mental untuk memebrikan inovasi dan solusi bagi remaja di Indonesia. Ia bahkan membuat sebuah program yang mewadahi mahasiswa untuk dapat mencurahkan semua permasalahan yang dimiliki yaitu Empathy Circle. Program itu memberi ruang bagi anak muda untuk bercerita secara langsung dan ditangani langsung oleh seorang profesional. “Di program ini saya bekerjasama dengan dosen serta mahasiswa dari prodi Farmasi dan Psikologi. Dengan begitu, anak-anak muda yang merasa stres dan bingung bisa ditangani oleh orang yang tepat,” ujarnya. Ridho sapaan akrabnya, mengatakan bahwa pemilihan Duta Putra Putri Kampus Jawa Timur ini mempunyai dua tahapan seleksi yang dilaksanakan secara langsung di kota Malang dan kota Surabaya. Ridho sendiri menjadi finalis perwakilan domisili kota Malang. “Terdapat beberapa tahapan untuk bisa masuk ke tahap final, mulai dari penilaian grooming, lanjut ke penilaian personality, dan yang terakhir advokasi,” katanya. Ia akan mengikuti tahapan selanjutnya, yaitu seleksi Duta Putra Putri Kampus Jawa timur  pada 11 Februari 2024 nanti di Surabaya untuk penentuan juara. Ia bahkan sudah merencanakan program solutif, yakni program penanganan HIV AIDS pada remaja. Ini bukan kali pertama bagi Ridho untuk bersaing menjadi duta. Sebelumnya, ia telah terpilih menjadi Duta Olahraga kota Balikpapan pada tahun 2022/2023 lalu. Dengan pengalaman yang ada, ia ingin menjadi remaja yang produktif serta menjadi salah satu bagian penggerak mewujudkan Indonesia 2045. “Dengan menjadi seorang duta, saya dapat berkontribusi dan bermanfaat untuk masyarakat melalui program yang ada. Dengan begitu bonus demografi dapat dimanfaatkan sebaik mungkin,” ucapnya. Ridho juga sangat bersyukur karena Fakultas Kedokteran UMM sangat mendukungnya untuk maju menjadi Duta Putra Putri Jawa Timur 2024. Misalnya dengan membantu menyiapkan materi dan memberikan dukungan melalui media online prodi. “Semoga dengan upaya saya di ajang pemilihan Duta Putra Putri Kampus Jawa timur 2024 dapat menyadarkan remaja lainnya untuk selalu bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya. (ri/wil)

Pakar Bahasa Indonesia Soroti Buku Cetak dan E-book

Berbagai kemajuan teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Salah satunya kebiasaan membaca buku cetak yang kini tergantikan dengan buku elektronik. Apakah hal ini berbahaya dan dapat menyebabkan matinya budaya literasi masyarakat? Melihat fenomena tersebut, Prof. Dr. Ribut Wahyu, M. Si selaku dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ikut angkat bicara. Menurutnya, buku cetak maupun elektronik bukanlah masalah selama minat baca masyarakat tetap tinggi. “Perubahan itu hal yang pasti, jadi ya ikuti saja karena sebenarnya poinnya itu bukan pada buku cetak atau buku elektronik. Tetapi pada kemaun untuk membaca,” ujar Ribut, panggilan akrabnya. Ribut juga menjelaskan bahwa baik buku fisik ataupun buku elektronik sebenarnya memiliki peminatnya masing masing. Bagi anak muda, buku elektronik mungkin dinilai lebih mudah dan praktis apalagi jika mengingat buku elektronik bisa dibaca di mana saja dan kapan saja. Namun sebagian lainnya, khususnya orang tua, justru malah terbebani dengan buku elektronik yang dinilai ribet dan sulit dipahami. “Belum lagi kekhawatiran tentang dampaknya pada kesehatan, khususnya mata akibat pantulan cahaya dari layar smartphone. Intinya siapapun wajib membaca, karena dengan membaca kita bisa tahu segala hal,” tandasnya. Hal yang sebenarnya disoroti Ribut adalah tentang keinginan untuk mau membaca dan terus belajar. Baginya, membaca memiliki banyak manfaat diantaranya bisa memperoleh berbagai informasi, pengetahuan, dan gagasan tentang berbagai aspek kehidupan. Melalui kegiatan membaca, dapat dikembangkan pula kemampuan berpikir dan bernalar kritis, kreatif dan kemampuan berbahasa juga berkomunikasi. Jika banyak membaca, maka kosa kata yang kita miliki bertambah banyak. “Bahkan, dengan membaca kita bisa memperoleh kesenangan, hiburan, dan ketenangan,” tambahnya. Adapun tips yang ia berikan agar masyarakat cinta membaca adalah dengan sengaja meluangkan waktu serta memiliki kesabaran dan teknik-teknik yang tepat.  Agar senang membaca, bisa dimulai dari membaca teks yang sesuai dengan kebutuhan, seperti teks yang ringan dan menyenangkan serta bersifat hiburan. Membaca juga dapat membiasakan diri mencari informasi melalui bacaan, sebelum bertanya secara lisan kepada orang lain. “Teknologi itu bagus asalkan kita pintar menggunakannya. Makanya, coba berikan teknologi kepada orang- orang yang sudah dewasa secara pemikiran. Ini agar teknologi tidak digunakan untuk hal yang negatif,” pungkasnya mengakhiri. (nda/wil)

Seminar di UMM: Bedah Kenaikan Tarif Cukai Rokok

Awal Januari ini, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menetapkan kenaikan 10 persen atas bea cukai rokok. Hal ini tentu semakin membuat produsen rokok untuk menaikkan harga atau menurunkan biaya produksinya. Meruaknya isu ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kolaborasi dengan Kamar Dagang dan industri Jawa Timur (KADIN) untuk menyelenggarakan seminar nasional bertajuk cakap cukai dan bedah buku berjudul Kaki Diikat, Leher Dijerat DBH Cukai Rokok yang dikarang oleh Sunaryo selaku Kepala Kantor Bea Cukai Kediri. Pada acara yang diselenggarakan 4 Januari 2024 tersebut, turut hadir juga Adik Dwi Putranto, S.H selaku Ketua KADIN Wilayah Jawa Timur. Menurutnya, Adanya kenaikan tarif bea cukai ini karena pemerintah ingin mengendalikan laju konsumsi rokok. Saat ini, konsumsi rokok di Indonesia juga merambah anak-anak yang sangat berdampak buruk bagi kesehatan mereka, baik sekarang maupun masa depan. Namun, di balik isu ini, perdagangan industri tembakau dan rokok menjadi salah satu penyumbang dana penerimaan negara terbesar dibandingkan dengan sektor pertanian. Pada bulan Oktober tahun 2023 saja, industri rokok dan tembakau menghasilkan dana sekitar 160 triliun rupiah yang kemudian masuk ke dana negara. Di sisi lain, Nirwala Dwi Heryanto selaku Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai juga memberikan paparan. Menuruntya, naiknya tarif bea cukai berdampak langsung pada produsen rokok di seluruh Indonesia. Bahkan menimbulkan masalah baru berupa penjualan rokok ilegal yang meningkat. Lebih lanjut, ia mengatakan, penjualan rokok ilegal pada tahun 2023 mengalami kenaikan menjadi 6,9% yang sebelumnya sebesar 5,5%. Rokok ilegal yang dimaksud adalah rokok yang tidak terdaftar dan tidak memiliki pita cukai resmi. Pita atau label yang diberikan oleh bea cukai berfungsi sebagai tanda bahwa produk telah dikenakan tarif cukai dan sah untuk diperdagangkan. “Upaya yang kami lakukan untuk memberantai rokok ilegal adalah dengan operasi gempur rokok yang berdampak pada pengendalian rokok ilegal,” ujarnya. Menurutnya, naiknya cukai rokok tidak serta merta karena alasan kesehatan saja, tapi juga menyangkut variabel keberlangsungan tenaga kerja, penerimaan negara, dan pengawasan barang kena cukai (BKC) ilegal. Contohnya saja pada aspek kesehatan, yang mana per 31 Desember 2021 kenaikan tarif bea cukai menurunkan produksi rokok sigaret menjadi -1,77% atau menjadi 118,15 miliyar batang/tahun. Untuk itu, Rektor UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. membeirkan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pihak fakultas ekonomi dan bisnis UMM yang teah menyelengarakan seminar menarik. Apalagi, isu bea cukai tengah hangat diperbincangkan dan patut didiskusikan juga bersama mahasiswa agar memberikan pandangan dan wawasan baru. “Maka dari itu, kami terus bekerja sama dengan dunia kerja dan stakeholder untuk mencetak generasi unggul yang dapat memecahkan permasalahan-permasalahan serupa,” ucapnya mengakhiri. (tri/wil)

Viral Pembunuhan dengan Mutilasi, Begini Kata Dosen Psikologi UMM

Melalui media sosial, banyak terjadi kasus pembunuhan sadis di mana pelaku tega memutilasi korbannya. Terakhir, kasus pembunuhan yang dilakukan seorang suami kepada istrinya di Malang juga berhasil menggegerkan publik. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, adakah pemberitaan di berbagai media online menjadi inspirasi untuk seseorang melakukan tindak kejahatan? Menanggapi hal ini, Adhyatman Prabowo, S.Psi., M.Psi. selaku psikolog dan juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa  kecil kemungkinan media memberikan efek terhadap seseorang untuk meniru kejahatan yang sama. “Pemberitaan pada media massa sangat kecil kemungkinannya membuat orang dewasa untuk meniru atau menjadikan motivasi dalam bertindak untuk hal yang serupa,” ucapnya. Ia menambahkan, dalam teori sosial learning Albert Bandura, manusia mengambil informasi dan memutuskan tingkah laku yang akan diadopsi berdasarkan lingkungan dan tingkah laku orang lain yang ada disekitarnya. Namun teori tersebut berlaku untuk anak-anak yang masih belum bisa menyaring segala informasi yang didapatkan dari media sosial atau media massa dengan benar dan bijak. “Tidak berlaku bagi orang dewasa yang sudah dibekali pengetahuan, cara berpikir, dan norma sosial yang secara otomatis akan menyaring berbagai informasi serta sudah dapat memutuskan mana yang baik dan tidak baik untuk dilakukan,” tambahnya. Ia pun menjelaskan, pada dasarnya, secara umum ada 2 motif atau perilaku individu ketika mengalami kejadian yang mendadak dan alasan seseorang bisa melakukan pembunuhan hingga memutilasi korbannya. Pertama, pelaku ingin menghilangkan barang bukti atau tidak ingin memperlihatkan bahwa dia telah membunuh dengan melakukan pemotongan tersebut. “Bisa dibilang hal itu murni sikap untuk membela diri, karena bisa jadi awalnya pelaku tidak berniat membunuh namun korban sudah terlanjur kehilangan nyawa. Kedua, faktor psikologi seperti traumatis, seksual, dan permasalahan yang belum selesai,” tambahnya. Dalam pandangan psikologi, khususnya permasalahan keluarga, bisa disebabkan oleh banyak hal. Misalnya karena stres dan tekanan hidup yang dialami. Maka dari itu, peran komunikasi sangat penting dalam menjalin hubungan. Jika komunikasi antar pasangan terjalin dengan baik, maka saat mengalami permasalahan dalam rumah tangga kedua belah pihak bisa mengambil keputusan secara rasional tanpa emosional. Adi berpesan untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan mental. Secara sederhana, kesehatan mental diawali bagaimana cara berpikir, mengelola emosi, bersosial, dan berperilaku. Jika ada masalah dengan pasangan ataupun keluarga, sebaiknya segera diselesaikan. Masalah yang ditunda tanpa adanya penyelesaian akan menjadi rumit dan akhirnya sulit untuk diatasi. “Lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti mengikuti kegiatan positif atau saling sharing kepada orang terdekat yang dipercaya. Tujuannya untuk sedikit mengalihkan atau mengurangi beban yang sedang dialami. Ini bisa menjauhkan diri dari hal-hal negatif pemicu kejahatan,” pungkasnya. (dit/wil)