UMM Kukuhkan Dua Guru Besar FISIP, Teliti Politisi Perempuan dan Pranata Sosial

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan guru besar baru pada 6 Januari ini. Kali ini dua guru besar tersebut berasal dari dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. Mereka adalah Prof. Dr. Wahyudi, M.Si. serta Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si. yang masing-masing memiliki fokus penelitian tersendiri dalam bidang yang ditekuni. Misalnya saja Prof. Dr. Wahyudi, M.Si. yang dalam mengkaji kontribusi pranata sosial kelas menengah dalam proses produksi kesadaran profetik aktor gerakan sosial untuk kedaulatan rakyat. Dia melakukan studi kasus perjuangan masyarakat Samin melawan penjajah belanda, gerakan petani Kalibakar Malang Selatan, gerakan FKAUB Malang Raya, dan gerakan perhimpunan INTI Malang Raya. Menurutnya, ketercapaian kemuliaan, keluhuran, kebajikan, kemakmuran, keadilan sosial, dan kedaulatan rakyat dalam kehidupan merupakan urusan kita bersama. Sekaligus juga menjadi tanggungjawab bersama. Oleh karena itu, harus ada sinergisitas dharma antar semua pihak sebagai anak bangsa yang sama-sama bertempat tinggal di bumi pertiwi Indonesia. Dia juga menjelaskan hasil kajian tentang kontribusi kelas menengah dalam produksi kesadaran profetik aktor gerakan sosial. Dapat dijelaskan bahwa kesadaran profetik itu terbangun melalui siklus dialektik antar lima komponen, yakni diri aktor, pranata sosial, penjajahan atau tekanan dari sistem dan struktur makro. Begitupun dengan rasa keterjajahan atau ketertekanan yang dirasakan rakyat serta petunjuk ilahi. Sementara itu, Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si membahas terkait dengan model pendidikan politik partisipatif integratif plus bagi generasi emas yang merupakan formula untuk politisi perempuan dalam membangun kualitas keluarga Indonesia. Dia memaparkan, untuk menyiapkan politisi perempuan yang berkualitas, perlu diawali dengan pendidikan politik sejak awal sebagai anggota keluarga. Apalagi memang keluarga adalah tempat awal sosialisasi nilai sosial diberikan. “Di dalam keluarga kita belajar jujur, sopan dan saling menghargai. Dapat juga ditambahkan pengetahuan dan pemahaman tentang demokrasi dan wawasan kebangsaan sehingga akan melengkapi pengetahuan yang diterima di sekolah” ungkapnya lebih rinci. Menurutnya, mempersiapkan suatu generasi emas sangatlah penting untuk meningkatkan kesadaran dan sikap terbaik dalam membangun keluarga yang berkualitas. Upaya itu dapat dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan ruang kepada perempuan untuk berdaya secara ekonomi, sosial dan politik. Dengan begitu, harapan keluarga berkualitas tinggi akan memberikan kontribusi bagi tingginya poin Bangga seperti yang ditargetkan pemerintah “Politisi perempuan akan memiliki kesadaran dan kemampuan yang memadai untuk mencapai  target Bangga yang tinggi menuju Indonesia emas. Inilah yang saya sebut sebagai model pendidikan politik partisipatif integratif plus,” tutup Vina. (faq/wil)

Unik, 220 Mahasiswa Pertukaran di UMM Kenakan Baju Adat di Penutupan PMM UMM

Tepat akhir Desember kemarin, Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) melepas masa akhir studi mereka di kampus pertukarannya. Termasuk mereka yang mencicipi belajar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pelepasan sekaligus penutupan PMM Batch 3 itu dilakukan pada 30 Desember 2023 lalu. Ada hal unik yang disajikan dalam agenda itu, yakni 220 mahasiswa pertukaran yang hadir mengenakan pakaian adat dari berbagai wilayah di Indonesia. Rektor UMM memberi apresiasi sebesar-besarnya terhadap penyelenggaraan festival budaya yang menjadi agenda rutinan bagi mahasiswa pertukaran di seluruh Indonesia. Menurutnya, hal ini sebagai cara mengenalkan budaya sekaligus sebagai ajang untuk mempererat hubungan antar suku, ras, maupun agama. “Indonesia dibentuk atas dasar keberagaman. Keberagaman itulah yang mebentuk semboyan Bhineka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Hal ini merupakan visi misi yang harus ditegakkan oleh setiap individu mahasiswa PMM Batch 3 ini. Perbedaan inilah yang justru membuat kita menjadi satu dan saling bersosial,” tambahnya. Lebih lanjut, mahasiswa pertukaran tidak hanya belajar materi sesuai dengan penjurusan mereka saja. Lebih dari itu, mahasiswa PMM yang belajar di UMM juga turut belajar budaya, keyakinan, dan adat istiadat dari masing-masing daerah yang mereka singgahi untuk menciptakan keberagaman dalam bersosial masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa festival budaya menjadi ruang untuk mengartikulasikan identitas, ditandai dengan baju adat masing-masing. Sivitas akademika UMM dengan bangga melepas dan memberi apresiasi yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa PMM untuk kembali ke daerah asal dan mengimplementasikan apa yang telah didapat di Kampus Putih ini. Sementara itu, M. Ahnaf Raid Yosna selaku ketua panitia festival budaya turut berterima kasih kepada pihak UMM yang selalu mendukung jalannya program ini. Menurutnya, agenda rutinan ini memiliki peran vital menjaga keutuhan dan keberagaman. Apalagi dalam kesempatan itu, disajikan berbagai penampilan seperti tari yang dibawakan oleh masing-masing mahasiswa. Ia juga mengaku telah mendapat banyak pengalaman dan ilmu baru melalui PMM di UMM. Mulai dari bahasa walikan khas Malang, suasana dingin dan asri Malang, hingga adat istiadat dan bahasa Jawa yang kental. “Harapannya, program PMM 3 ini tak hanya menjadi sebuah pengalaman yang dikenang semata, namun menjadi pengalaman yang dapat menjadikan kami lebih dewasa lagi. Utamanya saat kembali ke daerah kami masing-masing,” tegasnya. (tri/wil)

Beragam Beasiswa dan Jalur Masuk UMM, Ada Jalur Content Creator Juga

Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu kampus swasta yang paling dicari calon mahasiswa di Indonesia. Apalagi dengan berbagai program dan kemudahan yang ditawarkan. Jika calon mahasiswa ingin menjadi bagian dari UMM di 2024, maka mereka  harus mengetahui jalur, tes seleksi, dan juga beasiswa yang bisa dicoba. Baca juga :  Dekan Fikes UMM: Rebahan Bikin Obesitas Sampai Kelainan Tulang Di 2024 ini, secara umum ada tiga jalur yang terbagi menjadi beberapa cara seleksi. Jalur-jalur tersebut dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan calon mahasiswa mendaftar dan mengikuti tes. Jalur Prestasi Akademik Jalur ini merupakan jalur tanpa tes yang patut dicoba. Para calon mahasiswa hanya perlu mengunggah foto nilai rapor semester 1-5 dalam bentuk pdf. Nilai rata-rata minimal 80 sejak smeester 1 hingga 5. Kemudian juga mencantumkan sederet foto piagam ataupun sertifikat prestasi akademik minimal di tingkat kota atau kabupaten. Jika diterima, calon mahasiswa akan mendapatkan beasiswa berupa bebas SPP semester 1 (potongan 100%). Khusus untuk program studi Fisioterapi dan Ilmu Keperawatan potongan SPP sebesar 50%. Semua jurusan bisa melalui jalur ini kecuali fakultas kedokteran, farmasi, dan psikologi internasional. Jalur ini dibuka mulai 1 November 2023 hingga 25 Juni 2024. Info pendaftaran lebih lanjut bisa dicek di online.umm.ac.id Jalur Prestasi Non-Akademik Bagi mereka yang punya prestasi di bidang non-akademik tidak perlu khawatir. UMM membuka pintu seluas-luasnya untuk mereka yang memenangkan prestasi di bidang non-akademik seperti juara olahraga, musik, pengurus organisasi, keagamaan, hingga hafiz yang hafal minimal 10 juz. Cukup dengan melampirkan piagam atau sertifikat, calon mahasiswa bisa mencoba jalur ini. Menariknya, para calon mahasiswa yang aktif sebagai content creator juga mendapatkan kemudahan. Melalui jalur content creator, mereka bisa langsung mendaftar dengan syarat memiliki minimal 5.000 subscriber di platform Youtube atau follower minimal 10 ribu di Instagram atau TikTok. Benefit yang diterima juga tidakjauh berbeda dengan jalur prestasi akademik. Para calon mahasiswa akan mendapatkan beasiswa bebas SPP semester 1 (potongan 100%). Khusus untuk program studi Fisioterapi dan Ilmu Keperawatan potongan SPP sebesar 50%. Semua jurusan bisa melalui jalur ini kecuali fakultas kedokteran dan farmasi. Jalur ini dibuka mulai 1 November 2023 hingga 25 Juni 2024. Info pendaftaran lebih lanjut bisa dicek di online.umm.ac.id Jalur Reguler Berbeda dengan dua jalur sebelumnya yang mengharuskan unggahan rapor dan piagam, pada jalur ini calon mahasiswa diharuskan untuk mengikuti tes. Meski begitu, tes yang ada bisa dikerjakan melalui online sehingga memudahkan para calon mahasiswa. Semua proses pendaftaran, tes, hingga daftar ulang dilakukan secara online sehingga lebih efektif dan mudah. Informasi hasil tes reguler online juga cepat yakni diumumkan 1×24 jam setelah selesai mengerjakan soal. Khusus untuk calon mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Farmasi, mereka diharuskan untuk mengikuti Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) di kampus UMM. Jalur ini dibuka sepanjang tahun sehingga para calon mahasiswa bisa mendaftar dengan cepat dan mudah. Info pendaftaran lebih lanjut bisa dicek di online.umm.ac.id Beasiswa-beasiswa Kampus Putih UMM juga menyediakan beragam beasiswa yang bisa diperoleh para calon mahasiswa.  Mulai dari beasiswa talenta unggul, beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa alumni sekolah Muhammadiyah, beasiswa yatim piatu, beasiswa saudara kandung, dan lain-lain. Bagi mereka yang ingin menjad ulama mumpuni, UMM juga menyediakan beasiswa program pendidikan ulama tarjih (PPUT). Selain itu, calon mahasiswa baru juga bisa mendapatkan beasiswa umum yang disediakan oleh instansi-instansi umum untuk membantu pembiayaan selama berkuliah. Bahkan mahasiswa juga bisa mendapatkan beasiswa berupa pertukaran pelajar ke berbagai negara di dunia, seperti Polandia, Spanyol, Turki, Jepang, dan lain sebagainya. (wil)

Dekan Fikes UMM: Rebahan Bikin Obesitas Sampai Kelainan Tulang

Hidup di tengah perkembangan zaman yang serba instan dan mudah, tak jarang membuat masyarakat modern menyukai rebahan. Apalagi hadirnya gadget mampu meminimalisir aktivitas fisik seseorang. Meski terasa nyaman dilakukan, kebiasaan rebahan ternyata memiliki dampak yang buruk. Hal ini disampaikan oleh Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. selaku dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Masalah rebahan dan dampaknya yang bahaya ini sudah menjadi isu keperawatan komunitas, oleh karena itu jangan sampai kita abai dengannya,” ucap Yoyok mengawali. Menurutnya, seringkali masyarakat mengabaikan sakit yang bersifat sementara akibat terlalu lama dalam posisi tertentu saat rebahan. Padahal tanpa mereka sadari, hal itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Hal ini bahkan dapat menjadi pemicu hadirnya berbagai penyakit kronik di kemudian hari. “Beberapa diantaranya adalah nyeri pada otot dan sendi, penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, kanker dan yang tak kalah berbahaya adalah obesitas,” kata Yoyok mencontohkan. Selain rebahan, tidur dengan kurun waktu yang tidak wajar atau terlalu lama juga bisa menjadi salah satu pemicu kenaikan berat badan yang signifikan. Hal ini juga berpotensi meningkatkan kadar gula dalam darah atau diabetes semakin tinggi. “Saat posisi rebahan, ada bagian tubuh yang mengalami tekanan besar. Hal ini juga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk tulang, pergeseran tulang, patah tulang hingga kelainan tulang seperti scoliosis, kifosis, dan lordosis,” ujar Dekan Fikes UMM tersebut. Tak hanya saat rebahan, saat bangun dari posisi rebahan, seseorang juga berpotensi merasakan pusing. Ini diakibatkan oleh tekanan darah yang berubah secara cepat atau sering disebut hipotensi ortotastik. Kondisi ini terjadi berkat tekanan darah rendah karena  posisi tubuh berubah secara cepat. Hipotensi ortostatik umumnya merupakan gejala dari penyakit tertentu, seperti gangguan jantung dan  penyakit pada syaraf. Karenanya, Yoyok berpesan agar masayarakat khususnya anak muda, menghindari kebiasaan ini dan meningkatkan aktivitas fisiknya. “Jangan rebahan dengan kurun waktu yang lama. Biasakan diri melakukan kegiatan fisik seperti berjalan dan olahraga tipis setiap harinya. Hindari juga makananan siap saji, dan terapkan pola hidup sehat agar kualitas hidup juga menjadi lebih baik,” pungkasnya. (nda/wil)

Kiat Ampuh Raih Resolusi Tahun Baru Ala Dosen UMM

Tahun baru memberikan semangat baru bagi banyak individu untuk merancang banyak hal baik. Tak terkecuali resolusi tahunan. Namun tak jarang, rencana yang dibuat kadang hanya menjadi daftar semata yang tidak berhasil direalisasikan. Melihat hal ini, Dr. Zainul Anwar, S.Psi, M.Psi. selaku psikolog dan dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa untuk mewujudkan semua daftar resolusi, seseorang perlu memastikan bahwa langkah yang akan diambil terarah. “Planning yang dibuat harus lebih realistis, konkrit dan terarah agar hasilnya sesuai tujuan. Jadi bukna hanya menetapkan target, tapi juga langkah-langkah untuk menggapainya,” katanya. Lebih lanjut, Zainul mengatakan bahwa sebelum membuat resolusi, seseorang dapat memulai untuk melakukan intropeksi diri di masa lalu. Hal ini penting dilakukan sebagai proses pembelajaran. Bukan untuk mengingat-ingat hal yang menyedihkan, tapi sebagai pengalaman hidup bagi rencana berikutnya. “Hal yang berhasil agar menjadi motivasi dan yang gagal bisa menjadi evaluasi diri untuk jadi lebih baik lagi,” tambahnya. Untuk membuat resolusi berhasil menurut Zainul, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Pertama, mengumpulkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang diterima. Ini menjadi poin di mana diri mendapatkan suntikan energi positif. Seseorang akan bersyukur jika ia selalu memandang suatu hal dengan positif. Sebaliknya, seseorang akan selalu mengeluh jika memandang sesuatu dengan negatif. “Yang kedua, perlu membuat skala prioritas yang ingin dicapai selama setahun ke depan, misalnya ingin lulus di 2024, menikah, dan membeli rumah. Skala prioritas menjadi sangat penting karena hal yang kecil akan selalu mengikuti. Analoginya ibarat kita memasukkan banyak barang ke dalam gelas, maka yang harus dimasukkan adalah yang besar terlebih dahulu. Dengan demikian, yang kecil akan mengikuti dan menjadi terpenuhi,” urainya. Ketiga, menuliskan apa yang menjadi keinginan atau target agar selalu ingat dan memikirkannya. Perlu diketahui bahwa pola kerja pikiran itu seperti magnet, yakni apapun yang selalu kita ingat dan pikirkan akan mendekat ke diri kita. “Berikutnya yang keempat, menjalin relasi yang berkaitan dengan resolusi diri. Misalkan ingin lulus, maka carilah lingkungan yang juga memiliki niatan lulus tepat waktu. Ini penting untuk menciptakan iklim yang baik,” tambahnya. Terakhir, restu orangtua dan doa. Keberadaan doa akan mengurangi rasa kecewa saat hal yang  diinginkan belum tercapai. Doa juga dapat menguatkan mental dan spiritual. “Bagi seseorang yang tidak memiliki resolusi atau meyakini bahwa hidup sudah ditakdirkan itu tidaklah salah. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang menjalani hidup mengalir saja tanpa ada pegangan atau dasar yang pasti. Hal itu bisa menjadikan seseorang mudah terombang-ambing, frustasi, dan stres karena tidak memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya,” tambahnya. Di akhir, ia berpesan akan pentingnya refleksi diri sebagai manusia yang mempunyai akal pikiran yang sehat. Apapun yang ingin dilakukan dan dicapai, harus dipikirkan secara logis dan rasional serta memperhatikan setiap konsekuensinya. “Jangan mudah terbawa emosi sebelum bertindak, agar tidak terjerumus kepada kesalahan yang sama dan menyesal kemudian,” pungkasnya. (dit/wil)

Bazar FLSP UMM, Produk Unik Hingga Harus Gunakan Bahasa Inggris

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini kembali menggelar hal unik. Setelah berhasil menyelenggarakan berbagai acara yang meriah dan menarik, kini UMM menggelar bazar yang berbeda. Pasalnya, penyelenggara bazar ini menuntut pengunjung dan penjual menggunakan bahasa Inggris dalam proses jual belinya. Bazar tersebut diikuti oleh mahasiswa Foreign Language Speaking Program (FLSP) dari empat Program Studi (Prodi) yaitu Teknik Sipil, Teknik Industri, Ilmu Pemerintahan, dan Hukum. Kholilurahman selaku Dosen FLSP Speaking mengatakan, adanya bazar ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan dan membiasakan bahasa inggris. Terhitung, ada 30 stand dengan berbagai produk unik yang dijual mulai dari makanan, minuman, kaos, maupun kerajinan tangan. “Bazar ini menjadi bentuk implementasi pembelajaran FLSP. Mahasiswa bebas berkreasi sesuai keinginannya. Mulai dari inovasi produk, gaya penjualan, pengiklanan, dan lain-lain,” tambahnya. Program yang digagas oleh Kholil dan ketiga rekannya berawal dari keinginannya menerapkan metode pembelajaran yang unik. Mahasiswa dituntut untuk lebih mengasah skill berbicara bahasa inggrisnya di khalayak ramai. Apalagi, pihak Direktur Language Center (LC) dan Kampus UMM juga mendukung penuh metode pembelajaran itu. Adapun LC merupakan lembaga pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa yang dinaungi oleh UMM. Lembaga ini melatih mahasiswa untuk dapat menerapkan bahasa Inggris sesuai dengan jurusannya masing-masing. Salah satu programnya yaitu FLSP. Uniknya, disini penjual maupun pembeli harus menggunakan bahasa Inggris saat melakukan transaksi. Sama seperti yang dilakukan oleh Resti Amelia Putri dari Fakultas Hukum. Ia dan rekannya menjual produk ranbow potato atau kentang goreng yang dibaluri oleh krim manis. “Jujur, saya dan tim sangat senang dengan adanya bazar ini. Awalnya memang kikuk karena jarang menggunakan bahasa Inggris. Tapi semakin lama semakin terbiasa dan malah bersemangat,” katanya. Selain mengembangkan skill bahasa Inggris, ia merasa bahwa kemampuan kewirausahaan juga tumbuh  berkat bazar ini. Ia dan tim bahkan benar-benar membuat produk yang enak dan menarik. Akhirnya munculah ide kentang goreng dengan krim manis. “Biasanya kan dikasih bumbu penyedap rasa yang menurut kami sudah biasa. Kami juga menyediakan tester yang menarik pembeli untuk datang. Kami juga tidak melayani mereka yang tidak menggunakan bahasa Inggris,” jelasnya. Para pengunjung ternyata bukan hanya dari kalangan UMM. Banyak anak muda dan masyarakat yang datang. Salah satunya  Nadila Riska Putri Zubaidah yang merupakan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Nadila mengaku mengetahui informasi adanya bazar ini melalui teman-temannya. “Bazar FLSP ini menurut saya seru sekali, apalagi saya harus menggunakan bahasa Inggris saat melakukan transaksi. Kaget sih awalnya, tapi jadi pengalaman yang unik,” ucapnya. (*tri/wil)

Beragam Prestasi Diraih Wisudawan UMM Ini, Duta Pendidikan hingga Bikin 8 Buku

Kabar bahagia mewarnai wisuda ke-111 Universitas Muhammadiyah malang (UMM) 19 Desember 2023. Pasalnya, Amira Syafana Wisudawan program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menjadi salah satu wisudawan berprestasi. Menariknya, ia juga memiliki segudang prestasi diantaranya best announcer podcast, runner up 2 putri pendidikan jawa Timur 2023, magang di rumah terapi autis, membuat kurikulum anak ABK, menerbitkan delapan buku, hingga mendapatkan beasiswa Kalimantan Timur. Butuh waktu lama hingga Amira bisa mencapai hal ini. Sejak masih menjadi mahasiswa baru ia memiliki ambisi untuk menorehkan prestasi selama berkuliah. Namun, karena adanya wabah Covid-19 yang melanda di akhir 2019, akhirnya ia mengubah segala rencana yang dibuat. Pada tahun 2021 ia mulai bangkit dan mencoba mendirikan program Teacher for Charity. Berdirinya program ini didasari atas nilai kemanusiaan dan keinginannya untuk memajukan pendidikan anak. Program yang ia jalankan sendiri kini telah berjalan hampir tiga tahun dan akan terus bergerak untuk memajukan pendidikan anak Indonesia. Program ini telah terlaksana di Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan akan dicoba menjelajah ke Jawa Tengah. Bentuk programnya yaitu berupa bagi-bagi buku dan sesi pembelajaran yang joyfull dan meaningfull mengenai pembelajaran umum dan edukasi seks. Wisudawan dengan IPK 4,00 itu mengaku bahwa dana yang digunakan untuk membuat program Teacher for Charity didapat dari hasil beasiswa Kalimantan Timur Tuntas. Tak hanya program itu, ia juga pernah mengikuti magang di rumah terapi autis, di mana ia dibekali cara untuk mendidik anak-anak spesial bermain dan mengenali lingkungan sosialnya. Dari program yang ia buat sejak 2021 ini, ia mampu mendapat predikat Runner Up 2 Duta Jawa Timur. Tak berhenti disitu, ia juga ditunjuk untuk mewakili Jawa Timur di Ajang Puteri Literasi Indonesia yang akan diadakan di Februari 2024 nanti. Ia mengaku senang dan tak bosan mengikuti serta melaksanakan berbagai kegiatan. “Rasa lelah pasti ada. Tapi semua tergantung bagaimana cara kita memanajemen waktu dan diri agar semua kegiatannya dapat berjalan dengan lancar,” katanya. Ia juga berbagi tips mengatur waktu dengan baik, yakni dengan membat skla prioritas. Amira memprioritaskan pendidikannya terlebih dahulu ketimbang kegiatan luar yang ia ikuti. Ia akan menyelesaikan tugas yang diberikan dosen atau berkuliah terlebih dahulu, baru kemudian melakukan kegiatan  atau hobi yang ia senangi. Mahasiswa yang memiliki konsentrasi di bidang pendidikan ini berharap agar dapat memajukan pendidikan Indonesia lebih baik. Apalagi, masih banyak anak-anak Indonesia yang membutuhkan pendidikan umum dan lebih layak seperti di daerah 3T. “Maka dari itu, dalam menuntut ilmu teman-teman mahasiswa jangan hanya mencari titel. Namun cobalah keluar dari zona nyaman dan memberikan manfaat lebih ke berbagai kalangan,” pungkasnya mengakhiri. (tri/wil)

Pertama di Indonesia, Dosen UMM Ciptakan Obat Alami Penanganan Diabetes

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) kerap diidap oleh berbagai kalangan masyarakat tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial ekonomi. Faktor penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup yang berdampak pada kebiasaan dan pola makan masyarakat. Melihat fenomena ini, Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si. selaku dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengeksplorasi potensi ekstrak daun kembang bulan (Tithonia diversifolia) sebagai alternatif pengobatan. Ia menggali potensi tanaman obat lokal karena tingginya biaya pengobatan diabetes dan potensi efek samping dari pengobatan konvensional. Hal ini juga didukung adanya tren masyarakat yang semakin tertarik pada pengobatan alami dan gaya hidup ‘back to nature’. Permintaan terhadap tanaman obat pun meroket, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. “Sayangnya, tanaman obat di Indonesia saat ini masih terbatas pada peran sebagai jamu. Kadang juga hanya direbus. Ironisnya, belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) dan fitofarmaka, yang merupakan obat berbahan alami dan telah terbukti keamanan serta khasiatnya. Padahal, jika berhasil mengembangkan potensi tanaman obat ini, nilai jualnya akan melonjak tinggi,” jelas Roro selaku ketua tim penelitian. Lebih lanjut, Roro menjelaskan penelitian ini juga bertujuan untuk membuktikan efektivitas ekstrak daun kembang bulan yang dapat menurunkan kadar glukosa darah berdasarkan uji coba pada tikus Wistar (Rattus norvegicus). Tanaman kembang bulan saat ini, menurutnya, telah banyak digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan seperti sakit perut, kembung, diare, dan anti inflamasi atau anti radang. Benar saja, temuan menarik ini mengindikasikan bahwa daun kembang bulan memiliki peran signifikan sebagai anti diabetes. Dalam penelitian ini, pemberian dosis ekstrak daun kembang bulan sebesar 5,14 ml/200g BB menunjukkan pengaruh paling efektif, dengan penurunan kadar glukosa darah rata-rata mencapai 136,80 mg/dl. Nilai ini tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol negatif atau normal yang memiliki rata-rata 122,20 mg. “Meskipun begitu, masih harus ada penelitian lanjutan. Langkah selanjutnya harus melibatkan penelitian yang mencangkup keamanan ekstrak terhadap fungsi hati dan ginjal,” tuturnya. Penelitian ini juga melibatkan Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., selaku dosen Pendidikan Biologi dan mahasiswa Pendidikan Biologi, Fithri Wening Sasmita. Menariknya, ini merupakan penelitian pertama di Indonesia yang  memanfaatkan kembang bulan sebagai obat diabetes. Bahkan, penelitian ini telah menjadi rujukan hampir 60 peneliti lain. Sehingga besar harapannya temuan ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas saat rampung nanti. “Untuk penelitian selanjutnya, perlu kajian farmakoekonomi. ‘Apakah dengan bentuk sediaan jamu cukup efektif atau ekonomis dibanding dengan obat kimia yang sudah ada?’. Perlu pula perbaikan metodologi, agar menghasilkan penelitian yang lebih baik lagi. Serta, pentingnya kolaborasi dengan industri atau BPOM agar hilirisasi lebih baik dan produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” pungkasnya. (Lai/Wil)

Gaet Trash Hero, Mahasiswa UMM Ajari Warga Bikin Kompos dengan Teknik Takakura

Di Indonesia, pengolahan dan pemilahan sampah di masing-masing rumah masih jarang dilakukan. Padahal kegiatan in sudah lumrah dilakkan negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Jepang. Melihat hal ini, tim mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakkan hal unik pertengahan Desember ini. Yakni berkolaborasi dengan Trash Hero Tumapel untuk mengajari ibu-ibu di Desa Bulukerto bagaimana cara membuat kompos menggunakan keranjang Takakura. Aulia Ramadhani, salah satu mahasiswa menjelaskan, composting merupakan rangkaian proses secara biologi untuk mengurai bahan-bahan yang organik, kemudian dijadikan suatu produk contohnya humus dan lebih dikenal sebagai kompos. Adapun metode yang mereka lakukan adalah Tarakura dari Jepang. Salah satu alat utama metode ini adalah keranjang yang berlubang dan berbahan plastik. Begitupun dengan pakan ayam, tanah, bekas sampah organik, air gula aren yang dicairkan. “Program sosialisasi ini tidak hanya mengajarkan masyarakat desa terkait cara mengelola sampah menjadi produk berguna saja. Tetapi juga menyadarkan mereka akan manfaat jangka panjang. Termasuk meningkatkan pemikiran dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkunga. Salah satu caranya dengan melaksanakan metode keranjang Takakura,” kata Aulia menjelaskan. Menurutnya, kegiatan ini merupakan contoh nyata bagaimana anak-anak muda sadar akan lingkungan dan berupaya menjaganya. Apalagi dengan menggaet organisasi lain yang membuat agenda ini mendorong anak muda lain untuk turut berkontribusi di berbagai aspek. Tidak hanya di bidang lingkungan, tapi bisa juga mengembangkan program di aspek ekonomi, sosial, religi, dan lainnya. Bahkan sosialisasi ini disponsori Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu dan Warung Wak Breng. “Sosialisasi ini sebenarnya juga merupakan implementasi mata kuliah gerakan sosial global yang diampu bapak Ruly Inayah Ramadhoan. Melalui program ini, kami semakin bersemangat untuk melahirkan aktivitas bermanfaat lainnya. Saya bersyukur UMM terus mendorong kami untuk memaksimalkan potensi dan kesempatan,” katanya. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Aulia tidak sendiri, ia ditemani oleh teman-teman mahasiswa lainnya. Ada Tuti Septichana, Fadiatul Maghfiroh, Navisa Septia,Liony Putri, Nur Rizqiah, Aisya Nazelina, Fariz Yanuar, Mareza Zulvan, dan Dimas Satria. (*/Wil)

Berbekal Ilmu Agribisnis di UMM, Wildan Berhasil Jalankan Bisnis Tebu

Peluang pekerjaan yang makin sempit, menuntut anak muda, termasuk mahasiswa untuk lebih kreatif dalam memperoleh cuan. Hal itu juga dilakukan Wildan Faris, salah satu alumni Prodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang baru saja diwisuda Desember ini. Ia bahkan sukses menjalankan bisnis tebu sedari muda di Bululawang. Wildan mengatakan bahwa bertani bukanlah hal baru baginya. Dari kecil ia telah dikenalkan oleh keluarganya untuk bertani buah pepaya. Namun, akibat pandemi yang saat itu sedang marak, ia sekeluarga beralih ke tanaman tebu. Menurutnya, selain perawatan yang mudah, tanaman tebu juga mudah dikelola karena tidak mudah untuk membusuk. “Saat ini aku sudah bekerja sama dengan kurang lebih 20 hingga 30 petani kecil untuk pemasokkan tebu. Alhamdulillah, saat ini usaha ini makin maju berkat  kerjasama dengan koperasi desa tempat saya tinggal,” katanya. Lebih lanjut, Wildan mengatakan, saat ini usahanya telah menjadi salah satu kelompok mitra yang ikut dalam Pabrik Gula (PG) milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya, banyak keuntungan yang didapatkan. Mulai dari pemasokan bibit hingga pupuk untuk budidaya tebu yang telah disediakan oleh PG. “Keuntungan yang aku terima lumayan besar, dari penyetoran ke PG nanti akan dibagi hasil denan petani lainnya. Tak hanya itu, pemberian pupuk gratis juga sangat membantu kami sebagai petani karena harga pupuk yang naik sehingga kami kesulitan mendapatkan pupuk yang bagus,” katanya. Adapun kerjasama inisudah berjalan sejak 2004 lalu hingga kini. Bahkan sampai hari ini, ia masih dipercaya untuk mengirim tebu ke PG sebesar 5-8 ton setiap harinya. Tebu yang dikirim bukan hanya miliknya, tapi juga milik para petani kecil yang ikut dalam kemitraan. “Dengan begitu, saya juga turut membantu para petani kecil untuk mendapatkan keuntungan,” tegasnya. Pemuda asli Malang itu juga memiliki inisiatif yang tinggi untuk membantu petani kecil. Misalnya saja saat ia menjalani proses magang di salah satu pemerintahan, ia mengajukan pemberantasan sistem refraksi yaitu pemotongan biaya panen jika hasil yang dihasilkan kurang memuaskan. “Sistem refraksi ini juga sekaligus saya angkat menjadi judul skripsi. Saya berharap, para masyarakat juga bisa memperhatikan petani kecil dan membantu mereka mendapatkan hidup yang lebih layak,” tegasnya mengakhiri. (ri/wil)