Banyak Kasus Bunuh Diri, Dosen UMM Sebut Nilai Pancasila Harus Dikuatkan

Baru-baru ini, banyak kasus bunuh diri muncul dengan alasan latar belakang ekonomi. Tak hanya membunuh diri sendiri, sejumlah kasus bahkan melibatkan beberapa anggota keluarga, seperi ayah, ibu dan anak. Dosen program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Prodi PPKn) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Moh. Wahyu Kurniawan, S.Pd., M.Pd. menyampaikan, kejadian ini seharusnya dapat dicegah. Utamanya dengan kepedulian antar tetangga dalam lingkungan sosial yang merupakan salah satu esensi dari Pancasila sila ke 2, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. “Jika kita ingin damai di masyarakat, maka kita harus memanusiakan manusia dengan hubungan yang harmonis antar tetangga, saling menghormati, memahami, dan toleransi,” ucap Wahyu. Jika tidak ada kepedulian di masaarakat, lanjut Wahyu, maka rasa persatuan dan kesatuan juga akan merenggang. Ini membuat terputusnya tali silaturahmi antar sesama, terutama warga di lingkup yang sama. Rasa damai tidak akan tercipta, hidup juga akan terasa lebih berat. “Maka dari itu sangat penting untuk mengimplementasikan nilai Pancasila di kehidupan bermasyarakat,” tuturnya. Untuk menghindari kejadian serupa di kemudian hari, Wahyu menuturkan pentingnya kedekatan dan keterbukaan. Jangan malu untuk menceritakan masalah yang sedang kita alami kepada orang terdekat serta jangan menganggap apa yang kita ceritakan adalah aib yang harus ditutupi. Aktif dalam kegiatan masyarakat juga dapat menjadi energi di dalam diri setiap individu, mendewasakan diri, dan membuka pola pikir yang luas dalam menghadapi suatu permasalahan. “Banyak bersosialisasi akan membuat kita mampu mengambil solusi yang tepat dalam sebuah masalah. Selain itu, memaksimalkan program kemasyarakatan baik secara formal maupun informal melalui civic engagement dapat peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif di dalam diri. Termasuk juga ikut berpartisipasi dalam hal pembuatan kebijakan baik di lingkungan tetangga ataupun masyarakat,” tambahnya. Di akhir, Wahyu berpesan agar masyarakat tidak meniru kejadian yang sudah terjadi. Setiap individu perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, manusia harus hidup berdampingan. Peka pada lingkungan sekitar dan terus bersosialisasi, melakukan komunikasi serta interaksi. Dengan demikian akan muncul values untuk saling peduli dan memahami. “Saling membangun diri untuk hidup bersama agar tidak mudah mencari solusi secara singkat dan menimbulkan dampak yang tidak baik bagi diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya. (dit/wil)
Muji, Sosok Maba UMM Juara Tilawah Tingkat Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyumbangkan prestasi membanggakan di ajang nasional. Kali ini Mujahidin, mahasiswa baru prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) berhasil meraih juara 3 pada lomba tilawah nasional UNNES Islamic Fair 2023. Adapun kompetisi ini diselenggarakan pada tanggal pertengahan Desember ini. Muji, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa kemenangan itu tak lepas dari keaktifannya di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musabaqah Tilawah Al-Qur’an (MTQ). Apalagi ia memang percaya diri bahwa ia mempunyai bakat dan potensi yang besar. Tidak hanya itu, dengan menjadi bagian MTQ UMM, Muji banyak mendapatkan benefit yang besar. “Alhamdulillah para coachnya profesional dan punya relasi yang luas. Jadinya ada banyak kesempatan lomba yang bisa saya coba,” katanya. Dalam proses latihan sebelum lomba, Muji sering berlatih hingga malam. Bukannya merasakan rasa bosan dan capek, Muji malah sangat menikmatinya. Mulai dari mengecek intonasi nada, menjaga cara menyebut tajwid dan makhroj, serta melatih lagu adalah hal yang ia lakukan saat latihan. “Tiap mau lomba, saya selalu fokuskan ke intonasi suara karena intonasi merupakan poin utama dalam tilawah. Saya juga telah membuktikan bahwa latihan keras pasti akan membuahkan hasil,” tegasnya. Lebih lanjut, Muji juga menjelaskan pentingnya menjaga suara dengan rahin latihan dan pola hidup. Jika sakit atau pilek, ia mengaku akan kesusahan untuk mengaji dan menikmati hobinya. Setiap kali mengikuti lomba, ia juga selalu menjaga fokus dan tekniknya. Misalnya dengan melenturkan otot agar tubuhnya tidak tegang. Menariknya, cara itu merupakan trik turun temurun yang dilakukan oleh keluarga besarnya. Mahasiswa asal NTB itu memang sudah lama menekuni bidang tilawah. Lahir di keluarga qori, membuatnya terdorong untuk mengikuti jejak keluarga. Menurut Muji, ayahnya merupakan inspirasi paling besar untuk selalu cinta kepada tilawah Alquran. Ayahnya selalu meyakini bahwa Alquran adalah mukjizat dan buku paling ajaib. Terakhir, Muji juga bertekad untuk selalu menyumbangkan prestasi bagi Kampus Putih. Ia ingin menjadi mahasiswa yang selalu mengharumkan nama kampus di bdiang tilawah. “Meyakini diri mempunyai potensi adalah salah satu bentuk rasa syukur kita sebagai makhluk ciptaan Allah. Maka dari itu, teman-teman harus bersemangat mengasah potensi dan menjadi bintang di bidang yang ditekuni,” pungkasnya. (*ri/wil)
Di Hadapan Wisudawan UMM, Pimpinan Sebuku Group Sebut Adaptasi Kunci Meriah Mimpi

Riuh kegembiraan para wisudawan serta wali mahasiwa terlihat dalam Wisuda Ke-111 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diselenggarakan pada 26 Desember 2023. Hadir dalam kesempatan tersebut Head Of Corporate Project Development Sebuku Group (Salim Group) Ir. Agung Jaka Raharja, ST., MW., CIPM, IPM, Asean. Eng. yang juga merupakan alumnus UMM jurusan Teknik Sipil. “Saya ingat sekali pada tahun 2001 lalu lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang ini. Rasanya tentu saja haru dan dan bangga sekali saat sudah menyelesaikan pendidikan S1. Hal yang sama pasti dirasakan oleh para wisudawan dan wali mahasiswa di Dome ini,” kisahnya di depan ribuan wisudawan. Agung, sapaan akrabnya, memberikan berbagai tips yang harus disiapkan bagi lulusan UMM untuk memenangkan dunia kerja. Terutama terkait sikap adaptasi yang harus ditekankan kepada seluruh wisudawan. Dia menegaskan bahwa adaptasi itu sangat penting, terutama dalam memasuki dunia kerja serta bermasyarakat. “adik-adiku, jangan pernah kalian naif dalam kehidupan terutama dalam sikap untuk beradaptasi. Idealisme itu bukan apa-apa saja yang ada di pikiran kita secara pribadi, namun adalah bisa memaknai segala perbedaan yang ada. Terutama kita harus mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar,” jelasnya. Tak lupa, bahwa dia menyampaikan bahwa wisudawan UMM harus mampu untuk menjadi pribadi yang berbeda dengan yang lain. Berbeda yang dimaksud adalah mampu menciptakan gagasan, inovasi, serta ide-ide cemerlang yang kosmopolit. Ia juga sempat menyinggung berbagai tantangan baru yang saat ini sudah terjadi, mulai dari geo-politik hingga digitalisasi. Mengapa itu dianggap sebagai ancaman? Hal itu tak lepas dari kenyatan bahwa masih banyak anak muda yang saat ini terlena dengan perkembangan digital dan hanya menjadi konsumen. Hal itu secara otomatis menciptakan alur kehidupan yang tidak produktif. Dia menekankan, anak muda saat ini harus berani dalam mengambil keputusan sekaligus mengambil peran dalam visi Indonesia emas 2045. Terakhir, dia menyatakan bahwa para wisudawan ini sangat beruntung menjatuhkan pilihan kepada UMM sebagai tempat menimba ilmu. UMM memberikan asuransi kepada seluruh mahasiwanya berupa jaringan yang luas serta nama besar yang tidak banyak dimiliki oleh kampus lain. Selain itu, UMM juga memberikan berbagai program pengembangan bagi mahasiswanya seperti Center of Excellence (CoE). “UMM ini keren, punya nama besar yang banyak sekali iketahui para pengusaha. Saya istilahkan itu sebagai ‘asuransi’ yang bisa dipakai oleh alumninya saat lulus dari kampus ini. Terlebih lagi. ada juga CoE yang itu diproyeksikan untuk DUDI. Kalau boleh jujur, kami memang salah satu perusahaan yang dalam proses perekrutan membutuhkan waktu 6-8 bulan untuk menyiapkan SDM. Dan kini, UMM sudah memberikan jawaban dan mampu menyiapkan lulusannya langsung bekerja di DUDI,” tutupnya. (*faq/wil)
FKIP UMM Kukuhkan Guru Besar Sastra Matematis

Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak berhenti menambah guru besarnya. Kali ini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) kembali mengukuhkan dua guru besar, yakni Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si. dan Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, M.M., 27 Desember. Keduanya memiliki pembahasan khusus terkait dunia pendidikan sesuai dengan bidang yang ia tekuni. Misalnya saja, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si yang membahas terkait apresiasi sastra dan penerapannya dalam kehidupan. Dia menegaskan bahwa peningkatan kualitas apresiasi terhadap karya sastra akan berdampak signifikan ;ada pencapaian literasi dan penerapannya dalam kehidupan. Ketepatan mengapresiasi berujung pada pencapaian membaca secara reading beyond in the line, dapat menyelamatkan ribuan orang dari tindakan negatif, tercela, pelanggaran peraturan, kehancuran masa depan bahkan jiwa. “Pembaca didorong untuk mampu menangkap pesan-pesan yang disampaikan pengarang lewat karyanya. Kemudian menjadikannya inspirasi dan menuangkannya dalam tindakan nyata berupa sistem yang bisa mencegah orang terjerumus dalam tindakan tercela. Aktivitas ini merupakan fungsi preventif,” tegasnya. Menurutnya, jika apresiasi dalam sastra diimplementasikan oleh orang-orang yang memiliki wewenang atau pengambil kebijakan, maka tentu bisa mencegah tidankan melanggar yang berakibat pada kerugian bagi diri sendiri dan masyarakat. Begitupun dengan peningkatan dalam aspek moral bagi masyarakat dan sebagai alat untuk mendidik. Dikaitkan dengan pesan dan muatannya, hampir secara keseluruhan karya sastra merupakan sarana-sarana etika. “Dengan demikian, memahami karya sastra pada gilirannya merupakan pemahaman akan nasihat dan peraturan, larangan dan anjuran, kebenaran yang harus ditiru, jenis -jenis kajahatan yang harus ditolak, dan sebagainya,” ungkap Joko. Di sisi lain, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, M.M. meneliti mengenai ‘Keterampilan Abad Ke-21: Tantangan Asesmen Kelas Yang Mencerdaskan”. Perkembangan abad ke-21 telah membawa perubahan dan tantangan yang signifikan dalam masyarakat. Untuk menavigasi perubahan positif, individu perlu memperoleh dan mengembangkan seperangkat keterampilan yang dikenal sebagai keterampilan abad ke-21. “Keterampilan ini mencakup berbagai bidang, termasuk pembelajaran dan inovasi, informasi dan teknologi, dan keterampilan hidup dan karir. Keterampilan abad ke-21 sangat penting bagi individu untuk berkembang di dunia saat ini,” jelasnya. Dalam bidang pembelajaran dan inovasi, individu perlu memiliki kreativitas, berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan kemampuan untuk belajar bagaimana belajar. Mereka harus mampu berpikir di luar kotak, menghasilkan ide-ide inovatif, dan beradaptasi dengan situasi baru. Dalam hal keterampilan informasi dan teknologi, individu harus mahir dalam menggunakan teknologi dan media, serta dapat menganalisis dan mengevaluasi informasi secara efektif. Terakhir, dia menyampaikan bahwa asesmen untuk kehidupan merupakan upaya mencapai kecerdasan spiritual. Yang mana memainkan peran penting pengembangan dimensi spiritual anak didik. “Salah satu hal penting lain dari asesmen yang mencerdaskan adalah bagaimana asesmen menuntun manusia untuk menuju tujuan hidup yang sesungguhnya. Tujuan hidup sesungguhnya manusia adalah kembali kepada Allah dalam keadaan husnul khotimah,” tutupnya. (*faq/wil)
Gelar Diskusi Akhir Tahun, RBC UMM Bahas Proyeksi Islam Sudut Pandang NU dan Muhammadiyah

Di penghujung 2023, Rumah Baca Cerdas (RBC) Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar diskusi menarik. Diskusi yang dilaksanakan pada 21 Desember itu bertajuk refleksi dan proyeksi Islam Indonesia dari perspektif NU dan Muhammadiyah. Turut hadir sebagai pembicara Direktur Bait Al-Hikmah Dr. Pradana Boy ZTF. Dan Founder Fahmina Institute Dr. Faqihuddin Abdul Kodir (Foaunder Fahmina Institute). Faqih, sapaan akrabnya, menjelaskan perbedaan dalam praktek Islam antara Indonesia dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan Malaysia. Meskipun Islam di Indonesia mampu menyatukan semua jenis kelamin (gender inclusivity), namun masih ada perasaan inferioritas yang terasa. “Ini menunjukkan bahwa meskipun Islam di Indonesia sering kali menjadi sorotan dalam informasi tentang Islam di dunia, tetapi ada dinamika internal yang mungkin belum sepenuhnya memperlihatkan kesetaraan dan penerimaan yang sebenarnya,” katanya. Sementara itu, Prada Boy menjelaskan bahwa inferioritas Islam di Indonesia disebabkan oleh pemaknaan literasi yang terbatas pada membaca. Mengasah literasi merupakan keharusan, bahkan hingga dalam konteks pergaulan. “Tantangan zaman yang seperti ini tentu dapat kita atasi sebagai proyeksi dunia Islam yang mengagumkan. Tetapi, jangan suka menepuk dada dan memuji diri sendiri,” katanya. Menurutnya, tidak selamanya sudut pandang barat itu benar. Perdamaian itu tidak ada gunanya jika tidak adil. Prinsip dasar muslim dalam bermuamalah yakni berdasarkan damai sehingga terbangunlah peradaban. Ada orang orang yang memilih perang (sebagai panggilan dan titik mula) karena berdasarkan tafsir yang ia pilih. Namun Boy mengatakan, prinsip dasar Islam dalam bermuamalah berdasarkan perdamaian sehingga jauh lebih memungkinkan untuk membangun peradaban. “Apapun hasil dari tafsir dapat dikatakan benar selama metodologinya benar. Tinggal tafsir yang mana yang kita pilih, dan pilihan itu adalah tanggung jawab diri sendiri,” terang Boy mengakhiri. Adapun program tersebut dilaksanakan dengan tujuan membahas dinamika kebangsaan dan keummatan yang terjadi selama satu tahun ke belakang. Selain itu, acara ini juga dimaksudkan untuk mempererat relasi RBC dengan berbagai mitra komunitas yang selama ini berkolaborasi. Dalam hal ini, sebagai upaya penguatan dan penyebarluasan pandangan Islam, RBC merasa perlu terlibat dalam membangun dan memperluas gagasan kebangsaan untuk Indonesia berkemajuan. Maka RBC mengundang generasi muda Muhammadiyah dan NU untuk memberikan pandangannya perihal wajah Indonesia masa depan. (*/Wil)
Debat Cawapres Panas, Ini Tanggapan Ekonom UMM

Tiga calon wakil presiden (cawapres) beradu gagasan dan pemikiran dalam debat pilihan presiden 2024 pada 22 Desember. Beberapa tema yang dibahas adalah ekonomi kerakyatan dan digital, keuangan, investasi, pajak, perdagangan, pengelolaan APBN-PBD, hingga pembangunan kontribusi infrastruktur dan kawasan urban (perkotaan). Momen debat kali ini juga merupakan panggung optimistis atas proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dan sebagai panggung serta janji terbuka atas program yang diusung. Terkait hal itu, Dosen Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan FEB UMM Setyo Wahyu turut menanggapi. Dimulai dengan Muhaimin Iskandar yang menjelaskan mengenai prioritas dalam pembangunan fiskal melibatkan investasi swasta. Ini menjadi bentuk rencana pembangunan 40 kota selevel Jakarta. Menurut Setyo, pemerataan wilayah sebaiknya dilakukan dengan konsisten dan memerlukan sasaran yang tepat. Utamanya dalam penggunaan kebijakan fiskal dalam bentuk belanja fiskal melalui penguatan investasi terukur. “Dalam jangka pendek, pembangunan fisik dapat mendorong kegiatan ekonomi melalui investasi infrastruktur di wilayah tertentu dan sekitarnya, mendorong perdagangan antarwilayah, serta penciptaan kesempatan kerja. Prioritas alokasi dana fiskal yang tepat sasaran, terencana, terukur dan syarat atas evaluasi kinerja juga diperlukan,” jelasnya. Setyo juga mengomentari istilah SGIE (State of the Global Islamic Economy) yang sempat membuat debat semakin panas. Menurutnya, SGIE merupakan bentuk dari keberanian Indonesia dan lompatan positif didalam pengembangan ekonomi Islam di Indonesia. Mulai sektor modest fashion, islamic finance, dan muslim friendly travel. Namun, sektor lainnya seperti makanan, media recreation, farmasi, dan kosmetik dirasa belum cukup di pasar global. Ia juga menyinggung terkaut Gibran yang menyoal pertumbuhan ekonomi berkualitas hingga hilirisasi berkelanjutan. Begitupun denan IKN dan peran anak muda dalam perkenomian. Setyo menjelaskan, dalam proses migrasi ekonomi akan ada perpindahan. Tidak hanya penduduk dan manusia, tapi juga faktor-faktor ekonomi lain seperti modal, tenaga kerja, dan teknologi. “Apalagi Indonesia kini mengalami bonus demografi usia produktif. Sehingga diharapkan mendorong penggunaan IPTEKS sebagai syarat atas keterlibatan kemajuan teknologi dalam perekonomian,” katanya. Ia setuju bahwa percepatan ekonomi dengan keberadaan IKN akan memunculkan investor baru yang turut andil dalam pengembangan pengoprasian dan komersialisasi wilayah IKN. Misalnya di dalam percikan ledakan ekonomi yang menciptakan kawasan sentral ekonomi hingga percepatan kawasan inti modal. Ke depan, kawasan urban fringe juga akan merasakan dampak percepatan ekonomi. Kawasan ini memiliki karakteristik daya dukung kawasan inti. Dalam debat itu, Setyo juga memperhatikan Prof. Mahfud MD. yang menjabarkan program unggulan paslon urut tiga. Yakni berupaya menciptakan rasa aman berekonomi dengan menciptakan lapangan pekerjaan, peningkatan taraf hidup masyarakat, peduli atas kesehatan, hingga menguatkan program sarjana dalam satu keluarga miskin, kesetaraan gender serta disabilitas, hingga peningkatan kualitas buruh dan UMKM. Terakhir, Setyo menilai, ketiga calon wakil presidek memiliki kapasitas masing-masing. Hal tersebut tergambar dengan baik di visi dan misi dari masing-masing calon. Mulai dari bidang hukum, kesehatan, kemakmuran dan lainnya. Pemilu 2024 juga menarik karena akan didominasi oleh masyarakat jenjang usia produkti yang memiliki wawasan luas dan keahlian digital. Aspek ini tentu akan memudahkan masyarakat untuk menentukan profil pimpinan di Pemilu 2024 yang sesuai dengan hati nurani masyarakat Indonesia. (*/Wil)
FISIP UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Kaji Terorisme, Politik, hingga Tata Kota

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus meningkatkan kualitas pendidikannya, termasuk upaya menambah guru besar. Kali ini tiga guru besar baru kembali dikukuhkan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, 23 Desember ini. Mereka adalah Prof. Dr. Gonda Yumitro, MA., Ph.D., Prof. Dr. Asep Nurjaman, M.Si., dan Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. Ketiganya memiliki fokus penelitian yang berbeda-beda serta memberikan pandangan baru dalam aspek ilmu sosial dan ilmu politik. Misalnya saja Prof. Dr. Gonda Yumitro, MA., Ph.D. yang fokus membahas isu terorisme dengan judul ‘Model Comprehensive Collaboration dalam Program Deradikalisasi Mantan Teroris Indonesia”. Ia menerangkan bahwa terorisme itu berkaitan dengan mentalitas dan pemahaman seseorang yang ekstrim. Mereka tidak bisa menerima moderasi dan perbedaan pemahaman dengan orang atau pendapat lain sehingga mendorong untuk terjadinya kekerasan politik. Dalam lingkup sosial, terorisme adalah ancaman yang nyata bagi masyarakat. “Mereka semakin berani menunjukkan identitasnya seiring dengan reformasi Indonesia yang memberikan lebih banyak kebebasan dalam kehidupan masyarakat. Isu terorisme transnasional juga tidak dapat dipisahkan dari posisi strategis Indonesia di politik internasional, termasuk ideologi jaringan yang telah dikembangkan,” jelasnya. Dalam penelitiannya itu, Gonda memberikan cara-cara yang dapat dilakukan untuk menggaungkan program deradikalisasi pada mantan teroris. Yakni dengan menggunakan pendekatan 3 H (heart, hand, head). “Dengan memahami akar persoalan, dan dinamika yang berkembang, maka program deradikalisasi yang dilakukan akan bisa lebih efektif berjalan. Berbagai tantangan yang ada dapat dijadikan acuan bagi pemerintah untuk memperbaiki program deradikalisasi terhadap mantan teroris Indonesia,” simpulnya. Sementara itu, kajian menarik disampaikan Prof. Dr. Asep Nurjaman, M.Si. Ia melakukan penelitian terkait rekam jejak partai islam pada dinamika sistem kepartaian di Indonesia setelah era Soeharto. Apalagi partai Islam juga memainkan peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi arah politik nasional. Kontribusi mereka melibatkan peran dalam pembentukan undang-undang, partisipasi dalam pemilihan umum, dan advokasi untuk kebijakan yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, dinamika sistem kepartaian di Indonesia pasca Soeharto tidak dapat dipisahkan dari peran sentral partai Islam. Penelitiannya menggambarkan hubungan kompleks antara merosotnya kinerja parta Islam dengan dinamika sistem kepartaian pasca lengsernya Soeharto. Bahkan menemukan bukti bahwa kemunduran partai Islam berakibat pada terjadinya perubahan pada sistem kepartaian. “Sifat transformatif dari sistem pemilu multipartai di Indonesia pasca Soeharto telah membuat struktur partai menjadi lebih dinamis dan cair. Hal ini berdampak pada partai-partai keagamaan, yang pernah mempunyai pengaruh besar dalam politik Indonesia. Namun belakangan ini mereka sudah tidak lagi bersaing dalam pemilu,” ungkapnya. Penelitian menarik dan bermanfaat juga dilakukan oleh Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. Ia membahas terkait new urban governance tata ruang kota untuk mewujudkan kota yang berkelanjutan. Dalam penelitiannya tersebut, ia menerangkan bahwa konsep ini tidak hanya membutuhkan kontrak untuk privatisasi fungsi pemerintahan, namun juga proses baru untuk menerapkannya. Termasuk musyawarah dan dialog untuk membuat kebijakan dan penyelesaian perselisihan. Dia juga menegaskan, tata kelola cerdas bergantung pada tata kelola yang baik seperti prinsip terbuka (transparan), akuntabel dan kolaboratif (melibatkan semua pemangku kepentingan). Begitupun dengan prinsip partisipatif (partisipasi warga) dan pemerintahan elektronik (e-government). Tri sapaan akrabnya juga mengungkapkan bahwa Smart city tidak hanya cerdas dalam hal tingkat layanan yang lebih tinggi, tetapi juga memiliki sistem yang efisien dan efektif. “Sekaligus dapat membawa pembangunan daerah yang seimbang. Institusi dengan tata kelola yang lebih baik adalah institusi yang prosedurnya transparan,” tegasnya. (*faq/wil)
Bawakan Beragam Tari, Mahasiswa UMM Juara dan Kenalkan Budaya Indonesia ke Mancanegara

Sederet mahasiswa Universitas Muhmmadiyah Malang (UMM) dari Fakultas Psikologi kelas Internasional angkatan 2021 kenalkan budaya Indonesia di kancah Intenasional sekaligus raih prestasi. Mereka adalah Audilia Safira Narullita, Silvyna Amalia Hidayati, Aida Fithri, dan Aisha Hari Mulyani Putri yang raih juara di ajang Year-End Party, AU’s Got Talent di Asia University, Taiwan. Dalam kompetisi yang dilaksankaan 15 Desember itu, mereka berhasil meraih posisi 2 dengan mengalahkan puluhan tim dari Mongolia, India, Taiwan, Vietnam, Eswatini, dan lainnya. Bersama perwakilan mahasiswa Indonesia lain, mereka membawakan berbagai tari khas budaya Indonesia yakni sajojo, manuk dadali, siksik, ampar-ampar pisang, cublak cublak suweng, rasa sayang, saman, kecak, hingga bubuy bulan. salah satu mahasiswa UMM, Audilia Safira Narullita menjelaskan salah satu alasan membawakan berbagai tari tersebut tidak lain untuk menunjukkan kepada dunia bahwa budaya Indonesia itu sangat beragam. “Indonesia ini kan negara yang luas dan sangat beragam suku dan budayanya. Kami dan tim sengaja memperbanyak tari-tari yang beragam dari berbagai daerah di Indonesia. Seihngga semakin banyak masyarakat internasional yang kenal Indonesia,” jelasnya. Lia, sapaan akrabnya, mengaku bahwa timnya melakukan latihan selama satu bulan pada hari Senin hingga Jumat. Adapun berbagai indikator penilaian para juri yakni kekompakan, kunikan, penampilan, serta pakaian yang dikenakan. Dia mengaku sangat puas dengan hasil yang diraih dalam kejuaraan tersebut dan bangga dapat mengenalkan budaya Indonesia di tingkat internasional Sebagai tambahan, Lia bersama dengan teman-temannya merupakan mahasiswa yang mengikuti program International Credit Transfer. Program yang dilaksanakan di Asia University, Taiwan, ini merupakan program wajib di Fakultas Psikologi kelas Internasional UMM. Terakhir, dia berpesan kepada mahasiswa UMM untuk berani mengembangkan minat dan bakat dengan semua kesempatan yang ada. Terutama dalam mengenalkan budaya Indonesia di kancah internasional. Mengingat Indonesia ini punya banyak sekali warisan-warisan, baik secara fisik maupun non-fisik. “Carilah pengalaman sebanyak mungkin karena ada banyak hal yang menunggu kita dengan segala keunikannya. Selalu berani untuk mencoba banyak hal karena kita tidak akan tahu sampai kit amencobanya. Nikmati dan hadapi serta tak lupa untuk selalu bangga dengan warisan budaya Indonesia ini,” tutupnya. (faq/wil)
Undang CEO Mitra Aviasi Perkasa, Cara UMM Inspirasi Wisudawannya

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar wisuda ke-111 periode 6. UMM meluluskan 2.460 wisudawan pada 21 Desember 2023 lalu. Pada kesempatan itu, turut hadir Septo Sudiro selaku CEO Mitra Aviasi Perkasa (MAP) yang memberikan motivasi agar anak-anak muda bisa terinspirasi menjadi orang yang sukses. Septo mengawali sambutannya dengan mengatakan, pencapaiannya sampai titik ini merupakan hal yang tak mudah untuk dilalui. Banyak halang rintang yang harus dijalani untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tahun 1989, ayahnya meninggal dan hal ini yang menjadi dorongan terkuatdalam menggapai impiannya. “Pada tahun 1989 itu, saya mau tak mau harus menjadi tulang punggung bagi keluarga dan memenuhi kebutuhan kuliah, biaya dua adik saya, beserta ibu,” ucapnya. Namun, hal itu tak menjadi masalah besar baginya karena ia selalu menanamkan prinsip “make it easy” agar apa yang ia kerjakan dimudahkan oleh Allah. Septo memang ingin menjadi yang terbaik, maka akhirnya ia memutuskan membuka bisnisnya sendiri pada 2004. Ia mencoba melihat berbagai peluang yang ada di masyarakat dan akhirnya menciptakan PT. Mitra Aviasi Perkasa yang bergerak di bidang sekolah penerbangan. Tak hanya itu, dirinya juga berhasil membuka anak cabang perusahaan seperti PT. Indo Aviasi yang bergerak di bidang privat jet, sekolah pilot yang memiliki banyak teknisi, dan lain sebagainya. Berdasarkan pengalamannya itu, Septo mendorong wisudawan untuk giat berusaha dan pantang menyerah. “Tapi, giat berusaha juga harus dibarengi dengan tawakkal kepada Allah dan restu orang tua. Yang menjadikan seseorang itu berhasil adalah keseimbangan antara doa, restu orang tua, dan usaha,” tegasnya Dalam dunia perkuliahan, usaha dapat diartikan dengan mengerjakan kewajibannya sebagai mahasiswa dengan baik. Hal ini dinyatakan oleh Ir. Tamhid Masyhudi selaku Wakil Ketua PWM Jawa Timur. Ia juga menyinggung bahwasannya Muhammadiyah memiliki usaha untuk mendorong agar pendidikan di Indonesia menjadi prioritas bagi bangsa dan negara. Hal ini diwujudkan dengan program Gerakan Infaq Pendidikan (GIP) yang diresmikan menjelang dengan Milad ke-111 Muhammadiyah. “Bantuan GIP ini akan diberikan untuk menunjang pendidikan khususnya di kawasan 3T. Yakni wilayah Indonesia yang memiliki kondisi geografis, sosial, ekonomi dan budaya yang kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional,” sebutnya. (tri/wil)
Prof. Nazaruddin Malik Terpilih jadi Calon Rektor UMM 2024-2028 secara Aklamasi

Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. terpilih secara aklamasi dalam pilihan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 20 Desember 2023. Dengan hasil itu, ia juga terpilih menjadi calon rektor Kampus Putih UMM untuk empat tahun ke depan yang akan diusulkan ke PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah untuk mendapatkan pengesahan sebagaimana ketentuan. Adapun hasil ini merupakan proses panjang yang dilakukan sejak di tingkat program studi dan fakultas pada Oktober lalu. Proses tersebut jauh diawali dengan pemilihan dan penetapan organ senat UMM. Kemudian dilanjutkan pembentukan panitia pemilihan rektor periode 2024-2028. Langkah selanjutnya yakni sosialisasi dan penjaringan di tiap-tiap fakultas yang memunculkan nama-nama calon kandidat. “Dari situ muncul nama-nama yang bisa dijaring oleh masing-masing fakultas. Ada lebih dari 14 calon nama yang akhirnya diusulkan,” jelas Kepala Humas UMM Moh. Isnaini, M.Pd. Verifikasi calon kandidat juga dilakukan untuk memastikan semua calon telah memenuhi berbagai syarat. Kemudian para senat melakukan pertimbangan, pemilihan, serta penetapan calon rektor Kampus Putih yang akan diusulkan ke PP Muhammadiyah. Berdasarkan data hasil penjaringan calon rektor tersebut, Nazar mendapatkan jumlah pengusul mayoritas, yakni diusulkan oleh 11 fakultas. Sementara nama-nama di posisi dua dan tiga, masing-masing hanya mendapatkan tiga dan dua pengusul. Sisa calon kandidat lainnya hanya mendapatkan satu suara. Dari hasil itu, para senat dan peserta menyetujui serta akhirnya menetapkan Nazar menjadi calon rektor yang terpilih secara aklmasi untuk diusulkan ke PP Muhammadiyah. Hasil pilihan ini selanjutnya akan dimintakan rekomendasi ke PWM Jawa Timur yang selanjutnya akan diusulkan ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk ditetapkan melalui SK resmi. “Iya tentu saja hasil ini harus melalui pengesahan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang memang menaungi UMM. Semoga hasil ini bisa memberikan manfaat lebih bagi sivitas akademika UMM, lebih umum juga untuk masyrakat secara luas,” pungkasnya mengakhiri. (wil)