Dosen UMM Beri Cara Atas Kecanduan Judi Online

Maraknya judi online di Indonesia semakin meresahkan masyarakat. Tidak hanya orang dewasa, remaja pun ikut terlibat di permainan judi online. Selain merugikan secara finansial, judi online ini cenderung membuat ketagihan. Diana Savitri Hidayati, S.Psi., M.Psi. selaku dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan apalagi sampai membuat ketagihan adalah hal yang tidak normal dan merupakan sebuah gangguan. Seseorang jika sudah ketagihan terhadap sesuatu akan merasa tidak nyaman kalau tidak melakukan hal itu, bahkan sehari saja. “Awalnya coba-coba karena penasaran, tapi malah kebablasan karena  self control-nya tidak jalan. Orang yang ketagihan sudah pasti memiliki emosi yang tidak matang. Karenanya, munculah irrational beliefes atau pikiran yang tidak logis yang membuat seseorang melakukan perilaku tersebut,” ucap Didi, sapaan akrabnya. Contoh irrational beliefes dalam kasus judi online ini misalnya, orang tersebut berpikir akan menang jika bermain sekali lagi. Pikiran tersebut akan terus muncul dan tanpa sadar membuat sang pemain ketagihan. Uang untuk berjudi akan mereka usahakan dengan berbagai macam cara demi berjudi. Di psikologi, umumnya terapi penyembuhan ketagihan ini menggunakan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT). CBT adalah psikoterapi yang mengintegrasikan dua pendekatan yakni terapi kognitif dan terapi perilaku atau behavior. Pertama, dibenarkan terlebih dahulu kognitifnya dengan diajak berdiskusi. “Jadi irrational beliefes seperti ‘kalo aku coba sekali lagi pasti bakal menang’ harus diperbaiki. Padahal logikanya, yang punya mesin judi online itu tidak mungkin memberikan kemenangan pada pemain sedangkan ia juga membutuhkan uang,” jelasnya. Kedua, melakukan modifikasi perilaku agar berhenti berjudi. Karena judi online ini erat hubungannya dengan internet dan gadget, maka solusinya bisa mengurangi penggunaan gadget dan internet. Namun, terapi ini akan bisa berjalan lancar jika yang bersangkutan juga mau berubah. Individu tersebut harus sadar terlebih dahulu bahwa ia membutuhkan bantuan pihak lain, baru psikolog dapat membantunya untuk lepas dari hal tersebut. Mungkin terlihat sederhana, namun sebenarnya perlu ada kolaborasi antar orang yang ingin diterapi, psikolog dan kerabat dekat yang bersangkutan. “Saya sangat menyarankan untuk tidak pernah mencoba bermain judi online, sepenasaran apapun anda. Apalagi kita tidak tahu sejauh mana kita bisa mengontrol diri nantinya,” sarannya. Didi pun berharap individu yang sudah terlibat judi online bisa segera berhenti bagaimanapun caranya. Sebab, yang dirugikan bukan hanya diri sendiri melainkan juga orang disekitarnya. “Jika ia adalah seorang ayah, maka ia tidak bisa berperan sebagai ayah yang baik sebab terlalu fokus pada judi,” pungaksnya. (*dev/wil)

FKIP UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar, Kajiannya dari Debu hingga Aliran Sungai

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besar baru pada 20 Desember 2023. Kali ini ada tiga profesor yang datang dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP). Mereka adalah Prof. Dr. Ainur Rofieq, M.Kes., Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., dan Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd. Ketiganya memiliki fokus penelitian berbeda-beda dan memberikan warna baru untuk dunia pendidikan. Misalnya saya Rofieq yang mengkaji terkait hidup berbahagia bersama debu, yakni strategi pengelolaan debu rumah berkelanjutan menuju pencapaian tujuan SDGs. Ia sudah menekuni tema debu sejak 1989 dan menemukan berbagai hal menarik. Menurutnya, pengelolaan debu rumah dan tungau debu penting untuk mencapai berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). “Debu memiliki potensi alergi yang tinggi dan menyebabkan sensitisasi. Padahal, untuk mencapai SDGs membutuhkan lingkungan yang sehat, dan mengendalikan faktor lingkungan seperti debu dan alergen sangat penting untuk memastikan kualitas hidup yang lebih baik,” katanya. Menurutnya, perlu adanya pengembangan praktik pembersihan spesifik konteks untuk mengurangi dampak paparan patogen dan resistensi antimikroba. Menciptakan lingkungan yang bersih dengan desain bangunan berkelanjutan dapat membantu mengurangi beban penyakit. Integrasi keberlanjutan ke dalam pengelolaan debu rumah sejalan dengan tujuan SDG untuk mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan yang baik (tujuan 3), kota dan masyarakat yang berkelanjutan (tujuan 11), dan konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Tujuan 12). Adapula Abdulkadir yang meneliti terkait kebersamaan masyarakat untuk konservasi daerah aliran sungai (DAS) berkelanjutan. Ia mengatakan, DAS menjadi ekosistem terbuka dengan pasokan energi yang berkesinambungan. Segala sesuatu yang terjadi pada ekosistem hulu akan berpengaruh pada ekosistem di hilir. Ia menjelaskan, pemahaman masyarakat pada sub sistem di DAS seperti pemahaman terhadap capung, vegetasi riparian, dan makroinvertebrata sungai dapat membangkitkan motivasi, niat, dan rasa memiliki di kalangan anggota masyarakat. Apabila masyarakat DAS mamahaminya dengan baik, pada akhirnya mereka bersama-sama menjaga menjaga lingkungan tersebut demi kelangsungan hidup,” katanya. Penelitiannya membuktikan, partisipasi masyarakat akan tumbuh dengan baik jika mereka mengetahui gejala alam dan respons organisme. Pada konteks SDGs, partisipasi masyarakat (SDG 17) pada konservasi DAS mencerminkan integrasi dan interdependensi pada semua sektor pelestarian alam dan Pembangunan. Kontribusi yang telah dibangun akan berpengaruh pada lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Serta sesuai dengan firman Allah SWT pada surah Ali Imran (3:104). Terakhir, ada Yuni yang dalam orasi ilmiahnya membahas asesmen autentik dan literasi sains untuk meningkatkan kemampuan berpikir dalam pendidikan biologi dan IPA. Menurutnya, dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan penilaian yang tepat mampu memperbaiki kualitas pembelajaran. Dalam konteks pendidikan biologi atau IPA, penilaian autentik dirancang untuk membantu peserta didik belajar bagaimana belajar. Sedangkan bagi pendidik, asesmen autentik membantu untuk melakukan penilailan secara holistik meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor. Penilaian autentik merupakan penilaian yang berhubungan dengan desain penilaian dengan konteks dunia nyata. Peserta didik didorong untuk berpikir dan bertindak kreatif dan kritis, terlibat dalam proses eksplorasi, mempertimbangkan dan menyikapi suatu permasalahan secara kritis, serta memecahkan  masalah secara realistis. “Prinsip asesmen ini sangat tepat digunakan dalam pembelajaraan yang menuntut peserta didik tidak sekadar memahai pengetahuan, tetapi juga diharapkan dapat memecahkan masalah kehidupan sepertinya hal tujuan pendidikan biologi dan IPA,” pungkasnya. (*wil)

Begini Pesan Direktur Garuda Indonesia untuk Wisudawan UMM

Nilai rata-rata di bangku kuliah tidak selalu menentukan kesuksesan. Hal itu disampaikan Direktur Utama PT. Garuda Indonesia (Persero) Irfan Setiaputra di hadapan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 19 Desember lalu. Dalam proses wisuda itu pula, turut hadir Rektor Universidade Dili Timor Leste Prof. Dr. Jose Agostinho da Costa Belo P. yang menandatangani kerjasama kolaboratif dengan Kampus Putih di berbagai bidang. Lebih lanjut, Irfan bercerita bahwa ia memerlkan 13 semester untuk bisa menyelesaikan dan meraih predikat sarjana informatika. Nilai yang ia peroleh juga hanya mencapai rata-rata. “Jenjang kuliah yang lama dan nilai selalu stuck rata-rata, membuat saya mendapatkan stigma bahwa saya tidak akan bisa menjadi orang besar. Namun saya bisa membuktikannya dan mematahkannya dengan menjadi CEO di PT. Garuda Indonesia,” katanya bercerita. Ia mengaku tidak pernah malu untuk selalu bermimpi tinggi. Diremehkan dan selalu dipatahkan oleh lingkungannya, tidak menghalangi dirinya untuk mewujudkan mimpi yang ia punya. Menurutnya, proses yang lama perlu disyukuri karena dari hal itu, dirinya bisa merasakan arti dari proses yang alami. Tidak hanya itu, berawal dari mimpi yang ia punya, ia memberanikan diri untuk mengambil tantangan yang menguji diri. Salah satunya saat pandemi Covid-19 lalu. ia mengambil berbagai keputusan berisiko bagi maskapai Garuda, hingga akhirnya bisa melewati masa krisis dengan baik. “Walaupun saya merasakan burn out dan stres yang luar biasa, namun saya berusaha berpikir positif sembari mencari jalan keluar. Saya selalu yakin masalah bisa terselesaikan meski membutuhkan waktu yang lebih lama. Saat itu saya mengambil keputusan restrukturisasi berdasarkan banyak hal. Berkat dukungan keluarga, saya bisa membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan saya, Garuda Indonesia bisa terselamatkan,” ungkapnya dengan bangga. Ia menilai, semua impian bisa ia wujudkan karena selama proses, ia selalu fokus dan bahagia dalam menjalaninya. Sehingga lingkungan sekitar bisa merasakan hal yang sama dan meningkatkan produktivitas mereka. Selain itu, kunci kesuksesan yang unik adalah dengan menikmati berbagai proses dan tidak mengeluh. Senantiasa menghargai dan berbuat baik pada semua orang akan mempengaruhi jalan yang ditempuh. “Kalina harus berani keluar dari zona nyaman dan memaknai setiap proses kehidupan. Dengan begitu, kalian bisa membentuk diri menjadi orang yang hebat. Mengemban gelar merupakan tanggung jawab yang besar bagi diri sendiri, maka dari itu mari bangkitkan semangat dan jadilan generasi yang lebih hebat dari orang-orang hebat yang kalian lihat sekarang. Saya sudah berhasil membuktikannya, sekarang giliran anda,” pungkasnya. (*ri/wil)

Viral Penyakit Pneumonia Mycoplasma, Ini Penjelasan Pakar UMM

Pada November 2023, dinas kesehatan DKI Jakarta melaporkan ada tiga anak yang terpapar pneumonia mycoplasma. Kejadian ini membuat masyarakat panik, mengingat kenangan buruk yang terjadi akibat Covid-19 beberapa tahun lalu. Melihat fenomena ini, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (UMM) dr. Thahri Iskandar Sp.P ikut angkat bicara. Menurutnya, setelah kasus Covid-19 mereda, masyarakat mulai meninggalkan kebiasaan hidup sehat. Mereka seolah acuh dengan penggunaan masker dan tidak memperdulikan kebersihan diri seperti rajin cuci tangan dan menjaga jarak. Hal ini yang menjadi alasan utama bakteri tumbuh dilingkungan sekitar tempat tinggal. “Pneumonia itu penyakit yang  sudah lama ada bahkan sebelum Covid-19 dan bukan penyakit misterius. Penyebab hingga pengobatanya pun jelas, tidak seperti Covid-19,” ujar  dr.Thahri. Pada dasarnya, pneumonia mycoplasma merupakan penyakit infeksi jaringan paru yang diakibatkan oleh mikroorganisme, bisa berupa virus, bakteri, jamur hingga parasit. Umumnya pneumonia ini menyerang anak. Hal ini terjadi karena daya tahan tubuh anak yang belum stabil dan berbeda dengan orang dewasa. Adapun beberapa gejalanya adalah demam, tenggorokan nyeri, sesak, batuk, nyeri otot, pusing, lemas, dan pada anak anak bisa disertai diare. “Perlu diingat bahwa pneumonia ini penyakit yang bersifat menular, oleh karena itu orang dewasa yang terpapar wajib menjaga jarak dengan anak dan menjaga lingkungan tetap bersih,” tandasnya. Ia melanjutkan, salah satu upaya pencegahan penyakit ini adalah dengan menjaga lingkungan sekitar. Lingkungan yang kotor, akan membuat banyak bakteri tumbuh dan berkembang. Hingga pada akhinya menyerang daya tahan tubuh manusia, utamanya anak. Pola hidup sehat seperti tidur cukup, makan makanan bergizi,  berprotein dan rajin olahraga juga bisa sangat mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang. “Masyarakat tidak perlu panik. Jika anak mulai merasakan gejala seperti di atas, cobalah bawa ke dokter dan jangan menduga-duga. Apalagi jika gejala berlangsung lebih dari satu munggu,” tegasnya mengakhiri. (rin/wil)

Kembangkan Ngaji.AI, Dosen Informatika UMM Raih Penghargaan Diktiristek Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang selalu menjadi langganan penerima penghargaan di berbagai kompetisi. Mulai dari kementerian, dunia usaha dunia industri, serta dari lembaga-lembaga milik persyarikatan Muhammadiyah. Adalah Aminudin, S.Kom., M.Cs. Kepala Divisi Sistem Informasi Biro Informasi Komunikasi UMM yang memperoleh penghargaan Anugerah Inovasi Nasional dalam bidang Ekonomi Digital. Penghargaan tersebut didapatkan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Diktiristek) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di Jakarta, 13 Desember lalu. Adapun penghargaan tersebut diberikan kepada penerima hibah Matching Fund 2023 dengan indikator keberhasilan yang cukup ketat. Yakni dengan memperhatikan kebermanfaatan program yang dikembangkan ini dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas. Aminudin bersama timnya sukses mengembangkan Aplikasi pembelajaran Al-Qur’an yakni Ngaji.AI. “Indikator utama dalam pemberian penghargaan ini yaitu kebermanfaatan yang dirasakan oleh masyarakat. Aplikasi kami yang bernama Ngaji.AI ini bisa diunduh di PlayStore dan bisa digunakan oleh seluruh kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” jelasnya Pemberian penghargaan tersebut tidak lepas dari kontribusi Aminudin yang menjadi ketua peneliti dalam proyek Aplikasi Ngaji.AI. Aplikasi tersebut merupakan aplikasi yang dapat mendeteksi kebenaran pelafalan alquran dengan menggunakan suara. Latar belakang dikembangkannya aplikasi itu adalah kebutuhan pembelajaran Alquran yang susah saat masa pandemi beberapa waktu lalu. Apalagi masyarakat tidak dibolehkan keluar rumah unutk menekan angka penularan. “Mekanisme penggunaan aplikasi Ngaji.AI ini mudah. Jadi tinggal membaca ayat dan nantinya aplikasi itu bisa mendeteksi dan membenarkan pelafalan, mulai dari panjang pendek harakat, hukum bacaan atau tajwid, hingga pelafalan huruf hijaiyahnya. Inovasi tersebut juga menjadi salah satu keunggulan aplikasi pembelajaran Al-quran ini dibandingkan dengan aplikasi-aplikasi yang lain,” ungkapnya. Setidaknya sudah terdapat ribuan pengguna aplikasi tersebut yang sudah menikmati kebermanfaatan dari adanya inovasi Ngaji.AI itu. Pria yang memiliki hobi bulutangkis tersebut berharap bahwa dengan aplikasi Ngaji.AI, masyarakat dapat lebih intens dalam mempelajari Al-quran secara mandiri. Namun juga tidak lupa untuk belajar langsung ke orang yang ahli. “Aplikasi ini adalah alat penunjang dalam pembelajaran Alquran. Kami tentu terus mengembangkan fungsi Ngaji.AI ke berbagai hal lain. Utamanya bagi mereka yang waktunya dihabiskan di perangkat digital,” pungkasnya. (faq/wil)

Mahasiswa Vokasi UMM Borong Piala di Kompetisi Bank Nasional

Kabar gembira kembali datang dari sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini dua mahasiswa prodi D3 Perbankan dan keuangan Fakultas Vokasi UMM berhasil membawa pulang dua gelar juara di ajang National Banking Competition (NBC), 9 Desember lalu. keduanya adalah Galuh Oktavianingtyas yang meraih Juara 3 Kategori Layanan Customer Service Bank dan Fena Nurmala meraih Juara Harapan 2 Kategori Layanan Teller Bank. Pada kompetisi itu, Galuh mengusung topik keuangan digital yang bersifat terbuka pada usaha UMKM. Sementara Fena membuat esai menarik terkait eksistensi industri perbankan syariah bagi generasi milenial di era 4.0. Terkait kemenangan yang sudah diraih, dosen pembimbing Eris Tri Kurniawati S.E., M.M. Ak. menerangkan, ajang tersebut merupakan acara yang bergengsi. Ada berbagai lomba yang disediakan, mulai dari lomba Customer service, Teller, Content Creator, Basket, Futsal, Mobile Legend dan PUBG Mobile. Menurutnya, dua mahasiswa tersebut mampu menguasai materi layanan frontliner dengan sangat baik. Apalagi didukung dengan pembelajaran bermuatan praktik riil yang disusun Prodi dan Laboratorium Vokasi Perbankan dan Keuangan UMM. Eris mengatakan, ada sederet proses yang harus dilewati anak didiknya. Mulai dari babak penyisihan melalui gabungan quiz dengan materi seputar layanan frontliner bank. Kemudian baru penyusunan esai yang berkaitan erat dengan perbankan di era saat ini yang memiliki bobot 70 persen. Sementara itu, Kepala Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM Syamsul Hadi Hadi, S.E., M.Si, CRA. Mengapresiasi raihan itu. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa project based learning berjalan dengan baik. Pembelajaran dengan praktik riil, kata Syamsul, memungkinkan mahasiswa menjadi bagian dari sistem perbankan itu sendiri sejak di bangku kuliah. Bahkan, bisa mendulang prestasi di bidang kerja. “Saya memberikan apresiasi dan ucapan selamat kepada mahasiswa yang berprestasi di ajang NBC 2023. Tetap semangat. Percaya diri dan berkompeten, yakinlah kamu pasti bisa,” pungkasnya. (*wil)

Penanggalan Jawa Masih Eksis, Dosen UMM Sebut sebagai Harmoni Budaya Indonesia yang Lestari

Kalender jawa di tahun 2023 dengan sistem penanggalan tradisional rupanya masih digunakan khususnya pada masyarakat Jawa. Tanpa disadari, kalender ini menjadi bagian dari identitas budaya Nusantara yang usianya sudah berabad-abad dan bertahan di tengah arus modernisasi. Tradisi dan kearifan lokal yang melekat pada penanggalan ini memiliki akar sejarah yang kuat. Hal tersebut  diungkapkan oleh Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. selaku dosen Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Kalender Jawa tidak lepas dari masa kerajaan Hindu-Budha, terutama di Kerajaan Mataram Kuno, Jawa Tengah. Terlebih, pada masa itu pengaruh agama Hindu dan Budha masih sangat dominan,” jelasnya. Seiring masuknya Islam, penanggalan Jawa diakulturasi dengan agama Islam, menciptakan harmoni unik dalam setiap aspek kalender ini. Dalam penanggalan jawa dengan perhitungan bulan, ada beberapa nama bulan yang menggunakan istilah Jawa dan istilah Islam. “Seperti misalnya bulan suro dalam Jawa yakni bulan Muharram dalam Islam yang merujuk pada tahun Hijriah. Selain itu, ada bulan safar, Mulud atau Rabiul Awal, poso atau Ramadhan, Ba’da yakni Syawal atau Hari Raya dan lainnya,” sebut dosen yang akrab disapa Arif tersebut. Ia juga menuturkan, penggunaan kalender Jawa tidak hanya sebagai alat pengukur waktu. Lebih dari itu, kalender ini mencerminkan filsafat hidup masyarakat Jawa yang erat kaitannya dengan siklus alam dan nilai-nilai keagamaan. Tradisi-tradisi unik seperti ‘Muludan’ pada bulan Rabiul Awal menjadi bukti bagaimana agama dan budaya saling menyatu dalam penanggalan ini. Selain itu, penanggalan Jawa sering digunakan untuk menentukan hari baik atau buruk dalam berbagai kegiatan. Mulai dari pekerjaan pertanian hingga upacara adat. Masyarakat Jawa meyakini bahwa keberhasilan suatu aktivitas sangat dipengaruhi oleh keselarasan dengan alam dan spiritualitas. “Namun, hal ini dipengaruhi oleh agama Hindu dengan tradisinya. Sebagai contoh, sebenarnya di Jawa tidak ada sesajen karena itu tradisi Hindu. Tapi, masyarakat Jawa meneruskan tradisi tersebut, sehingga saat ada acara khusus juga menggunakan sesajen,” tegas Kepala lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM ini. Sistem penanggalan Jawa menurut Arif, juga mencakup siklus pekan yang disebut “Pasaran.” Terdapat lima hari dalam satu pekan, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Setelah lima hari, siklus pekan akan berulang lagi. “Tradisi ini merupakan fakta tak terbantahkan yang harus dilestarikan. Meski demikian, penting untuk menyesuaikan tradisi yang tercermin dari penanggalan Jawa ini dengan keyakinan individu. Sama halnya dengan pemerintah yang tidak bisa menghentikannya, karena ini adalah bagian tak terpisahkan dari warisan budaya,” pungkasnya.(lai/wil)

Psikologi UMM Kukuhkan Guru Besar Baru, Kaji Irasionalitas hingga Kesehatan Mental Anak

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan guru besar baru pada 16 Desember lalu. Mereka adalah Prof. Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. dan Prof. Dr. Iswinarti, M.Si. yang memiliki masing-masing meneliti terkait sisi irasionalitas pikiran manusia dalam pengambilan keputusan dan membangun kesehatan mental anak melalui permainan tradisional. Tulus menjelaskan, pengambilan keputusan merupakan aktivitas mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Manusia secara terus menerus dihadapkan pada situasi-situasi yang memerlukan pemilihan tindakan dari berbaagai alternatif. Menurutnya, elemen penting dalam pengambilan keputusan meliputi berbagai hal. “Untuk memperoleh hasil optimal dalam mengambil keputusan, diperlukan rasionalitas yang membantu menciptakan lingkungan yang lebih terarah, efisien, dan responsif terhadap perubahan. Namun, rasionalitas tidak selalu sempurna dan memunculkan irasionalitas,” tambahnya. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengatakan bahwa hal ini disebabkan oleh faktor keterbatasan informasi, keterbatasan dalam pemrosesan informasi, tekanan kelompok, dan bias kognitif. Menurutnya, manusia rentan terhadap bias kognitif, seperti bias konfirmasi dan bias ketersediaan. Terjadinya irasionalitas dalam mengambil keputusan disebabkan karena terpengaruh oleh cara atau strategi penyampaian informasi. Cara atau strategi yang digunakan dalam suatu penyampaian informasi dapat mempengaruhi keputusan seseorang. “Orang cenderung bereaksi berbeda terhadap informasi yang disajikan dengan cara yang berbeda, meskipun substansinya sama. Konsep ini disebut sebagai efek framing atau pembingkaian informasi,” tegasnya. Di sisi lain, terkait fokus kajiannya, Iswinarti mengatakan bahwa membangun kesehatan mental anak dapat dilakukan melalui permainan dengan metode BERLIAN. Metode ini memiliki kepanjangan Bermain-ExpeRiential-LearnIng-Anak. Menurutnya, kesehatan mental merupakan hak asasi universal yang setiap individu berhak mendapatkannya. “Membangun kesehatan mental dapat dimulai pada usia  dini dengan menerapkan berbagai kegiatan bermain. Bermain mengandung nilai-nilai yang dapat mendukung terbentuknya kesehatan mental pada anak. Permainan tradisional adalah permainan yang mengandung nilai-nilai baik dan dapat dijadikan sebagai model intervensi untuk membangun kesehatan mental anak,” katanya. Ia mengatakan, beberapa contoh permainan tradisional telah terbukti dapat menjadi media dalam membangun karakter anak. Dalam penelitiannya, ia membuktikan bahwa permainan bekelan, congklak lidi, dan selentikan dapat meningkatkan kemampuan problem solving anak usia sekolah dasar. Permainan tradisional engklek juga dapat meningkatkan kemampuan problem solving dan dapat meningkatkan kemampuan kontrol diri. “Kami berharap orang tua, pendidik,  mahasiswa maupun para pemerhati anak untuk dapat menjadi fasilitator dalam metode BERLIAN. Utamanya dalam penerapan permainan tradisional agar kesehatan mental anak dapat dibangun lebih dini,” tegasnya mengakhiri. (wil)

Teliti Mikroplastik, Mahasiswa UMM Ini Sebut Makanan Banyak yang Terkontaminasi

Penggunaan kemasan berbahan dasar plastik sekali pakai di Indonesia menjadi dasar kekhawatiran terkait masalah mikroplastik. Padahal di negara maju, pembatasan penggunaan plastik sekali pakai telah diterapkan dengan ketat, termasuk melalui penerapan cukai plastik. Hal ini memantik Dr. Shazma Anwar M.Sc., selaku mahasiswa post doctoral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penelitian tentang kontaminasi mikroplastik pada tanaman pangan. Mahasiswa asal Pakistan itu menjelaskan, pada dasarnya mikroplastik adalah partikel kecil dengan diameter kurang dari 5 mm yang dapat mencemari lingkungan, terutama pada tanaman. “Kentang menjadi sampel penelitian saya karena menjadi salah satu makanan pokok di beberapa belahan dunia. Selain itu, kentang yang termasuk dalam kategori umbi-umbian dapat menjadi sasaran empuk dari mikroplastik,” ujarnya. Dalam prosesnya, ia juga ditemani alumnus doktoral UMM yakni Dr. Ir. Roy Hendroko Setyobudi, M.Si. Penelitian yang dilakukan selama lima bulan ini berlangsung di berbagai tempat budidaya kentang di Malang Raya. Mulai dari Desa Pujon Kidul, Desa Sumber Brantas, Desa Ngadas, dan Desa Ngantang. “Hasilnya menunjukkan bahwa sampel kentang di semua wilayah tersebut terkontaminasi mikroplastik dengan kelimpahan 0,02 sampai dengan 0, 24 partikel g–1. Bahkan, produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM olahan kentang yang dipilih secara acak pun mengandung mikroplastik,” jelas Shazma, sapaan akrabnya. Ia menyampaikan, bentuk mikroplastik yang paling mendominasi dari penelitian ini adalah filamen dan serat. Filamen bersumber dari kantong dan kemasan plastik, polybag, serta plastik UV, sementara serat mikroplastik berasal dari air cucian pakaian, deterjen, sabun, bahan kecantikan, filter rokok, sachet kopi dan teh,  pampers, dan berbagai hal lainnya. Selain itu, mulsa plastik (penutup lahan tanaman) yang sering digunakan dalam pertanian di Indonesia juga menjadi penyumbang cemaran mikroplastik. “Pada dasarnya, plastik berbasis minyak bumi tidak dapat musnah. Ukurannya dapat semakin mengecil seiring waktu, berdampak pada peningkatan pencemaran. Tanah yang tercemar dapat menyebabkan penyumbatan akar tumbuhan, mematikan organisme  tanah, menurunkan kesuburan tanah, dan mengganggu pertumbuhan tanaman. Dampak lebih buruk, dapat masuk ke buah yang dikonsumsi manusia, atau batang dan daun yang dimakan hewan. Sehingga, berpotensi membahayakan kesehatan,” tambahnya. Hal ini dibuktikan pada uji coba tikus yang diberikan kentang terkontaminasi mikroplastik. Dalam waktu tiga minggu, tikus tersebut mengalami kematian. Mengindikasikan risiko serius yang dapat ditimbulkan oleh mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan. Selain kentang, Shazma juga menemukan pencemaran mikroplastik pada tanaman padi dan jagung di wilayah Malang Raya. Penggunaan plastik di era baru memang  tidak dapat dihindari, namun penggunaannya harus dilakukan secara bijak. Antara lain dengan penerapan 4R (reduce, reuse, recycle, dan replace) atau mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan mengganti. “UMM harus bergerak cepat dalam penelitian dan penerapan tentang bioplastik yang dapat terurai secara alami. Mulai dari penggunaan metode biologi untuk pemulihan cemaran mikroplastik, pembuatan pupuk organik bebas mikroplastik, penggunaan tumbuhan hidup untuk membersihkan pencemaran lingkungan serta penggunaan zat padat untuk menyerap mikroplastik agar tak masuk ke perakaran tanaman,” pungkasnya. (lai/wil)

Pengemis Menjamur, Dosen UMM Sebut Pemberi Perlu Diberi Sanksi

Baru-baru ini, kembali viral di media sosial terkait konten pengemis yang pura-pura cacat. Hal ini menarik perhatian dosen program studi Kesejahteraan Sosial (Prodi Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW. Ia mengingatkan kepada masyarakat akan adanya aturan dari dinas-dinas terkait termasuk dinas sosial, bahwa masyarakat dilarang memberikan uang pada pengemis. Hal tersebut dapat membuat si pengemis menjadi ketergantungan. Ujungnya hal ini dapat dijadikan pekerjaan. Apalagi jika melihat  hasil dari mengemis jumlah yang di dapat cukup banyak dan dapat melebihi UMR. “Jika kita ingin menyalurkan jiwa filantropi atau kedermawanan, tidak harus memberikan uang kepada pengemis,” ucap Eko. Ia pun menuturkan, memberikan sumbangan atau bantuan melalui lembaga atau yayasan resmi yang telah diakui pemerintah membuat penyaluran jiwa filantropi kita lebih tepat sasaran. Misalnya kepada lembaga Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS), panti-panti asuhan, tempat ibadah, dan lembaga sosial lainnya. Eko menjelaskan, fenomena pengemis menjadi permaslaahan sosial yang tidak mudah diselesaikan. Semua pihak memiliki tanggungjawab untuk hal tersebut. Pemerintah, menurutnya, kurang tegas melakukan penindakkan hukum pada pengemis dan pemberi. “Agar populasi pengemis bisa berkurang atau hilang, aturan yang dibuat seharusnya dijalankan dengan baik dan benar. Orang yang memberi uang kepada pengemis, harus diberikan sanksi tegas sesuai dengan aturan agar merasakan efek jera. Jika pemberi jera terhadap kelakuannya, maka hal ini akan mengurangi populasi dari pengemis yang ada, “ tegasnya menambahkan. Eko pun mmenguraikan, hadirnya pengemis merupakan dampak dari faktor kemiskinan. Kemiskinan  sendiri disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya pendidikan. Maka dari itu pendidikan menjadi trisula untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan ini. Tidak mudah untuk mengurangi populasi pengemis di jalan. Walaupun dinas sosial telah melakukan rehabilitasi kepada para pegemis dan mencoba untuk mengurangai populasinya,  akan tetap muncul orang-orang baru yang menggantikan. Menurut Eko, salah satu hal yang dapat memutus rantai tersebut adalah hadirnya lapangan pekerjaan untuk menggantikan aktivitas mengemis tersebut. “Jika memungkinkan, para pengemis ini diberikan lapangan pekerjaan oleh pemerintah yang sesuai dengan kemampuan mereka. Jadi mereka benar-benar bisa menghasilkan dari pekerjaan-pekerjaan itu. Sehingga oada akhirnya bisa mengurangi bahkan menghilangkan aktivitas mereka di jalanan,” harapnya mengakhiri. (Dev/Wil)