Wiwin, Mahasiswa UMM yang Kembangkan Hobi Merajut jadi Bisnis

Belakangan ini, skill merajut tengah digandrungi oleh masyarakat. Banyak dari mereka mencoba belajar merajut untuk sekadar mengisi waktu luang atau membuka bisnis. Hal sama dirasakan oleh Wient Ramadhani, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahkan kini ia menjalankan berbagai workshop menarik, termasuk workshop merajut. Wiwin, sapaan akrabnya, telah menekuni rajutan sejak adanya wabah Covid-19 di 2020 lalu. Mulanya, ia mengaku bosan dan bingung ingin melakukan apa karena adanya peraturan pembatasan jam keluar (PPKM) yang dikeluarkan oleh pemerintah. “Karena tidak bisa kemana-mana dan kelasnya online, jadi lambat laun merasa bosan dan ingin mencari hobi baru selain membaca,” ucapnya. Berbekal hal ini, ia mulai mencari hobi baru untuk mengisi waktu luang dengan merajut yang dipelajari secara otodidak dari internet. Dari situ, ia berhasil berkolaborasi dengan event organizer untuk membuka workshop bertajuk Spotted Chunky Knit bag yang banyak digandrungi masyarakat. Hingga kini, selain mendapat keuntungan, hobi barunya itu juga memberikan banyak manfaat khususnya bagi masyarakat umum yang ingin belajar merajut dengan dirinya. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah 12 kali menyelenggarakan lokakarya untuk merajut tas di berbagai daerah. Tak hanya Malang Raya, lokakarya yang ia tekuni juga sudah berkeliling hingga Surabaya. Tak hanya merajut tas, ia juga gemar merajut pernak pernik seperti gantungan kunci, boneka dan lain sebagainya. “Saat pertama kali memberikan materi dan praktek, saya merasa agak takut. Apalagi belajar  merajut cukup sulit dan tidak bisa diajarkan dalam waktu dua jam saja. Maka dari itu, saya membatasi jumlah peserta hanya 10 sampai 15 peserta saja tiap workshopnya,” tambahnya. Bisa dibilang, dengan adanya lokakarya yang ia lakukan memunculkan banyak peluang yang bisa didapatkan. Mulai dari peluang menambah uang saku, rasa percaya diri, hingga membangun relasi antar sesama. Berkat hobinya merajut ini, ia berhasil membuka produksi rajutan homemade yang tersedia di platform komersil. Tak hanya baginya, adanya lokakarya ini juga bisa membangun peluang bagi para peserta. Mereka bisa membuka lapangan pekerjaan baru. Maka dari itu, ia terus berinovasi agar lokakarya yang ia laksanakan dapat berkembang secara nasional. Ia juga memiliki rencana untuk mengembangkan lokakarya lain selain merajut tas yang ia jalani saat ini. Tapi tentu hal ini tidak akan mudah, karena ia harus beberapa kali belajar dan mencoba sebelum berani membuka kelas lokakarya baru. Apalagi, ia juga harus memperhatikan antusias peserta. Pemilik akun instragram @ini.rajutanku berpesan kepada anak muda untuk terus berani mencoba dan jangan takut gagal. “Tidak ada salahnya untuk mencoba walaupun progresnya perlahan-lahan. Meski kita masih muda dan mahasiswa, bukan berarti kita tidak bisa berinovasi. Jangan lupa juga mengejar pendidikan. Harus ada pembatas antara hobi, pekerjaan, dan perkuliahan. Semoga apa yang kita usahakan bisa memberikan banyak manfaat, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga masyarakat,” ucapnya mengakhiri. (Tri/Wil)

Begini Menariknya Buku Diplomasi Tiga Zaman, Hasil 36 Karir Stafsus UMM

Menjadi seorang Diplomat adalah impian bagi beberapa kalangan muda, namun sayangnya saat ini banyak anak muda yang bercita-cita tinggi tetapi tidak mengetahui cara untuk mendapatkan dan proses yang akan dialami selama menjadi Diplomat. Hal itu ditegaskan Dubes Republik Indonesia Negara Tunisia tahun 2017-2021, Prof. (Ris) Ikrar Nusa Bhakti, Ph.D dalam bedah buku yang berjudul “Diplomasi Tiga Zaman”. Adapun buku itu ditulis oleh Staf Khusus Rektor Bidang Kerjasama Internasional Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Dr. Hc. Drs. Priyo Iswanto, S.Hum., M.H. Sebelumnya, Priyo merupakan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia. Kiprahnya juga sangat cemerlang dengan menadapat berbagai penghargaan, salah satunya mendapatkan penghargaan Carlos Lemos Simmonds. Baca juga : APTIKOM di UMM: Sertifikasi Profesi untuk Memajukan Bangsa Dalam bedah buku yang diselenggarakan pada 9 Desember lalu itu, Ikrar mengatakan bahwa buku yang ditulis Priyo sudah tersusun secara sistematis dan mengarahkan kalangan muda untuk beradaptasi pada pekerjaaan di era tiga zaman ini. Menurutnya, lahirnya buku ini memberikan manfaat yang menarik, utamanya dalam membantu setiap generasi untuk melek dalam berbagai permasalahan serta menemukan cara mengatasi masalah dengan kerangka berpikir yang cerdas. “Dari buku ini, bisa dilihat bahwa proses berdiplomasi bukanlah hal yang instan. Menjadi Dubes mempunyai tanggung jawab yang besar. Ada 18 topik menarik, salah satunya Perestroika dan Gasnus merupakan salah satu pergerakan yang menarik dalam pembahasan buku ini yang terinspirasi dari Presiden Soeharto. Dibahas melalui kisah nyata seorang Priyo dalam buku ini,” ujarnya. Menurutnya, buku ini mempunyai keunggulan dan karakteristik yang menarik karena up to date dan dibahasakan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Sehingga pembaca dapat dengan mudah mengerti isi pembahasannya dan mengajak berpikir lebih kreatif. “Mengajak pembaca untuk bisa merasakan apa yang mereka baca adalah sebuah kata yang cocok untuk buku ini. Ditulis berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi kehidupan bersama orang-orang hebat menjadikan isi buku ini sangat kaya akan pengalaman mahal. Priyo banyak menceritakan pahit manis kehidupan menjadi Dubes dan Diplomat, salah satunya ketika ia di culik supir taksi yang iseng,” katanya. Sementara itu, Priyo menjelaskan bahwa ia membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk merampungkan buku tersebut. Ada alasan mengapa buku itu diberi judul Diplomasi Tiga Zaman yakni isinya yang membahas mengenai pengalaman Priyo dalam tiga zaman besar. Dimulai dengan era bipolar di mana terjadi eprang dingin antara timur dan barat. Kemudian era kedua, yakni unipolar yang menurutnya mengarahkan pada globalisasi. Terakhir, pada era ketiga yakni era multipolar di mana Amerika Serikat mulai mengendur dan memunculkan peran Cina, Brazil, Indonesia, dan lain-lain. “Selama 36 tahun menjalani karir menjadi diplomat, ada berbaai pengalaman unik yang saya alami. Semoga buku ini bisa memberikan definisi diplomasi baru yang mungkin menarik bagi masyarakat, mahasiswa, atau akademisi hubungan internasional,” pungkasnya. (ri/wil)

Atlet Futsal Cantik UMM Menang di POMNAS

Adalah Mellenia Dinda Saputri, mahasiswi Magister Psikologi Angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih prestasi di tingkat Nasional. Dia terpilih menjadi perwakilan UMM untuk kontingen Jawa Timur dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XVIII di Kalimantan Selatan, akhir November lalu. Bahkan ia dan timnya berhasil menyabet medali perunggu di cabang olahraga futsal. Dinda, sapaan akrabnya, mengaku bahwa dulu ia merupakan seorang atlet voli. Sayangnya ia mengalami cedera dan harus beristirahat total. Meski begitu, hasrat unutk berprestasi terus menyala, utamanya di dunia olahraga. “Dulu sebenarnya atlet voli sempat cedera di bagian lengan, terus harus istirahat total. Kemudian pada 2018, saya diajak teman-teman untuk beralih ke dunia futsal. Ternyata setelan lama ikut latihan, banyak tim yang mengajak bergabung baik dari futsal maupun sepakbola,” kisahnya. Terlepas dari skill dan fisik yang bagus, keikutsertaannya dalam ajang POMNAS XVIII tidak lepas dari jaringan Dosen UMM yang luas. Ia mendapat dukungan penuh dari Ketua Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI). Mahasiswi asli Malang itu mengaku telah melakukan persiapan yang cukup ketat, mulai dari program Training Center (TC) hingga mengikuti Pra-PON.  Ia bahkan baru saja menyelesaikan turnamen Pra-PON di Sulawesi Selatan pada Oktober, kemudian dilanjut dengan TC selama sepuluh harian, hingga akhirnya terjun dalam ajang POMNAS. Dia mengaku sangat senang serta bahagia dapat mengikuti POMNAS tersebut, terlebih lagi kampus putih memberikan dukungan penuh kepadanya. Baik itu dari aspek transportasi, akomodasi, hingga segala kebutuhan saat mengikuti kejuaraan tersebut. “Tentu hasilnya terbayar lunas. Segala rangkaian kegiatan mulai dari latihan yang padat, ikut Pra-PON, dan akhirnya ikut POMNAS dan pulang membawa medali. Terlebih, banyak sekali dukungan dair teman-teman dan keluarga,” ungkapnya. Terakhir, dia berpesan pada para atlet wanita agar tidak ragu untuk unjuk skill dan kemampuan. Menurtnya, prestasi itu tidak hanya terkait hal-hal akademik saja. Namun juga bisa melalui sektor-sektor non akademik, termasuk olahraga. “Sebagai atlet perempuan, kita bisa kok membanggakan dan menorehkan prestasi. Sekalipun di olahraga-olahraga yang didominasi kaum laki-laki. Jangan sungkan-sungkan menunjukkan bakat dan skill,” pungkasnya. (faq/wil)

APTIKOM di UMM: Sertifikasi Profesi untuk Memajukan Bangsa

Untuk menjadi maju, tidak perlu mengikuti negara-negara yang sudah maju. Namun harus menemukan cara yang tepat dengan memaksimalkan kekuatan dan potensi sendiri. Cara itu juga yang dilakukan sederet negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Jerman. Hal itu dikemukakan Ketua Umum Ikatan Pengguna Komputer Indonesia (IPKIN) Prof. Dr. Ir. Eko Kuswardono Budiardjo, M.Sc. dalam materinya. Adapun ia menjadi pemantik dalam agenda rapat koordinasi Nasional (Rakornas) Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 7 Desember lalu. “Ada beberapa tahap yang bisa dilakukan. Tahapan pertama yakni kesadaran akan perlunya mendayagunakan teknologi. Kemudian memberikan literasi digital sleuas-luasnya sheingga semua orang dapat memanfaatkan teknologi digital secara tepat,” tambahnya. Tahapan yang ketiga yakni kompeten atau mahir dalam mendayagunakan teknologi. Bentuknya bisa melalui sertifikasi lembaga sertifikasi profesi (LSP) di bawah naungan badan nasionl sertifikasi profesi (BNSP). Gunanya untuk mendeskripsikan bahwa orang tersebut memang benar-benar kompeten di bidangnya. Kemudian yang keempat, sumber daya manusia menjadi inovator. Hal ini melalui proses inovasi yang dilakukan oleh kegiatan di industri maupun perguruan tinggi. Hingga akhirnya menuju tahapan kelima, yakni creator. Di sinilah ekonomi kita akan bertumbuh secara pesat karena mampu menceiptakan produk yang bermanfaat. “Perlu diketahui bahwa Indonesia telah memiliki peta okupasi yang mulai disusun tahun pada 2017 dan mulai di gunakan pada tahun 2018. Oleh karena itu, di empat bulan terakhir tahun 2023, dilakukan kegiatan pemutakhiran oleh Kominfo,” ucapnya. Sebagai informasi, pemutakhiran ini akan berakhir di ujung bulan Desember 2023 dan rencananya akan mulai dipergunakan pada tahun 2024. Eko merasa ini akan menjadi suatu tantangan tersendiri bagi orang-orang yang mengembangkan kurikulum Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI). Di sisi lain,  Dr. Ir. Yaya Heryadi, M.Sc., CDS., CDRAI selaku Komite Skema Sertifikasi LSP Informatika mengatakan, muncul dampak positif dan negatif dari berkembangnya Artificial Intellegent (AI). Positifnya, ada banyak orang yang membagikan ilmu pengetahuan dan dapat diakses dengan mudah. Namun, di sisi lain ini menjadi tantangan besar. “Terdapat ilmu-ilmu yang tidak terkontrol terkait benar salahnya. Hal ini berakibat fatal dan dapat membahayakan industri. Karena industri digital akan sangat mudah jatuh jika para ahli atau pegawainya membuat kesalahan-kesalahan walaupun kecil,” jelas Yaya. Bahkan, industri jadi kurang percaya dengan lulusan universitas. Sebab banyak output yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Sampai-sampai mereka rela habis milyaran untuk sekadar meyakinkan inputnya sesuai dengan kebutuhannya. Di sinilah SKKNI dibutuhkan, yang mana peserta sertifikasi benar-benar diuji melalui kasus dan pemahaman yang mendalam. Sehingga apabila ia telah lulus sertifikasi kompetensi tersebut, maka artinya ia benar-benar berkompeten dibidangnya. Yaya menyarankan untuk meleburkan SKKNI ke kurikulum. Jika tidak, mungkin akan ada beberapa konsekuensi yang biasanya terjadi. Pertama, adanya kurikulum tapi tidak sinkron dengan kebutuhan industri. Kedua, tidak sesuai dengan standar nasional. Ketiga, kesulitan dalam pengakuan kompetensi. Keempat, kurang keterlibatan stakeholder. Kelima, keterbatasan daya saing lulusan. Keenam, kurangnya fleksibilitas dalam mendukung pembaruan. “Update kurikulum itu tidak gampang dan cukup tricky. Namun perlu diingat bahwa sertifikasi kompetensi menjadi salah satu solusi untuk meyakinkan bahwa lulusan kita telah memenuhi standar profesional,” katanya mengakhiri. (*dev/wil)

Suka Minuman Bersoda? Dosen UMM Ingatkan Hal Ini

Meneguk minuman bersoda memang menyegarkan. Apalagi, ketika disajikan dalam keadaan dingin. Namun siapa sangka, kesegaran yang ditawarkan minuman bersoda menimbulkan berbagai efek merugikan bagi tubuh. Afifa Husna, S.TP., M.T.P., M.Sc, dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan bahwa kesegaran minuman soda berasal dari kandungan gas karbon dioksida (CO2). Gas ini menciptakan gelembung yang memberikan sensasi kesegaran saat diminum. “Namun, kesegaran ini sebaiknya tidak menggantikan konsumsi air putih yang tetap menjadi pilihan terbaik untuk menjaga hidrasi tubuh,” katanya. Selain gas CO2, minuman bersoda mengandung gula yang sangat tinggi. Bahkan, jumlah gula dalam minuman soda sering kali melebihi batas harian yang direkomendasikan oleh ahli kesehatan. “Kandungan gula yang tinggi ini memberikan rasa manis dan kenikmatan pada minuman. Namun di balik itu, terdapat risiko serius terkait kesehatan tubuh,” tegasnya. Kandungan gula yang tinggi dapat memaksa pankreas untuk menghasilkan lebih banyak insulin guna menghilangkan glukosa dari aliran darah. Hal ini meningkatkan risiko resistensi insulin yang merupakan pemicu utama diabetes. Tak hanya itu, minuman bersoda juga dapat menurunkan kepadatan tulang. “Kandungan gula yang tinggi dapat mengurangi densitas tulang, membuatnya lebih rentan terhadap kerapuhan. Sehingga dapat meningkatkan risiko osteoporosis,” jelas dosen yang akrab disapa Ifa tersebut. Parahnya, tingginya kadar gula dalam darah dapat mengakibatkan darah menjadi kental. Hal tersebut menyebabkan penyumbatan pembuluh darah di otak yang berpotensi memicu stroke. Sementara itu, penyumbatan pembuluh darah di jantung berisiko terkena serangan jantung. “Dan bukan hanya sampai di situ, kandungan gula dalam minuman bersoda juga dapat menyebabkan kerusakan pada penglihatan, sistem saraf, dan membawa berbagai masalah kesehatan lainnya. Banyak masalah kesehatan serius yang bisa ditimbulkan oleh minuman bersoda,” tambahnya. Dengan demikian, sambil tetap menikmati kesegaran minuman bersoda, penting bagi masyarakat untuk menyadari potensi dan risiko kesehatan yang terkandung di dalamnya. Kelebihan konsumsi minuman bersoda dapat membawa konsekuensi serius bagi tubuh. Maka, perlu adanya batasan khusus dan pemahaman menyeluruh terkait minuman bersoda. “Sehingga, penting untuk mempertimbangkan pilihan minuman yang lebih sehat dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan. Mungkin minuman bersoda yang biasa dikonsumsi bisa diganti dengan air dingin yang sama-sama menyegarkan,”pungkasnya. (lai/wil)

Maharesigana UMM Sukses Raih Juara Film Pendek Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengharumkan nama kampus di ajang internasional. Kali ini, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM sukses membawa pulang juara 3 kategori video di ajang U-Dare 1.0 USK Global Award On Disaster Resilience di Universitas Syiah Kuala Malaysia. Kompetisi ini dilaksanakan pada akhir November lalu. Berbekal film berjudul ‘Hijau’, mereka berhasil mengalahkan ratusan peserta lain dari berbagai negara. Fadhilah Azzahra Salsabila, salah satu produser menjelaskan bahwa film itu bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga alam. Apalagi belakangan banyak pohon yang ditebang secara liar dan mengakibatkan bencana banjir dan longsor. Adapun lokasi pengambilan gambar kebanyakan dilakukan di Gunung Bromo. Apalagi saat itu bertepatan dengan terbakarnya lahan Bromo beberapa waktu lalu. Timnya mengambil scene penanaman bibit pohon untuk memperlihatkan proses reboisasi kepada masyarakat. “Selain itu kami juga menampilkan beberapa scene yang memperlihatkan situasi gunung Bromo yang terbakar habis. Dhila, panggilan akrabnya, juga menceritakan bahwa mereka juga mengambil gamabr di salah satu rumah warga. Waktu pengambilan gambar memakan waktu sekitar dua hari dan proses editing selama satu minggu. “Short movie kami berdurasi enam menit. Meski terbilang lancar, tapi kami cukup kesulitan mencari talent utama yakni anak kecil. Namun berkat berbagai koneksi dan kenalan dari Maharesigana, akhirnya ada satu anak yang cocok memerankannya,” kata Dhila. Ia menegaskan, short movie yang mereka produksi cukup berbeda dengan peserta lain. Jika tim lain membuat video yang cenderung sebagai media edukasi, namun Maharesigana membuat film pendek yang memiliki alur cerita namun penuh dengan pesan yang bisa disampaikan. Menurutnya, hal itu mungkin jadi pertimbangan mereka bisa memenangkan penghargaan. Meski harus memeras keringat, namun ia dan tim merasa sangat bangga karena berbagai ilmu yang didapat di Maharesigana bisa disampaikan melalui sebuah film pendek. “Ilmu dan pengalaman yang kami miliki selama menjadi tim maharesigana bisa kami salurkan engan baik di short movie ini. Semoga bisa menjadi meia informatif bagi masyarakat untuk selalu menjaga alam sehingga anak cucu kita bsia menikmatinya juga,” pungkasnya. (ri/wil)

Dosen UMM: Hati-hati, Keluarga Tak Harmonis Cenderung Lahirkan Pribadi Pembully

Bullying atau perundungan merupakan masalah serius yang bisa terjadi di berbagai lingkungan. Tindakan ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi para korban, salah satunya adalah trauma. Hudaniah, S.Psi., M.Si. selaku dosen program studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan, terdapat beberapa hal yang menjadi penyebab seseorang menjadi pelaku bullying. Pertama yakni anak merasa tidak aman dan nyaman di rumah sendiri. “Bisa saja rumah tersebut tidak mewadahi kebutuhan-kebutuhan untuk mencapai kebahagiaannya. Rumah yang banyak terjadi keributan, bisa menjadi penyebab seseorang menjadi pelaku bullying,” jelasnya. Hudan menjelaskan, bullying merupakan cara bagi pelaku untuk mengekspresikan ketidaknyamanan dan ketidakberdayaannya di rumah. Biasanya, para pelaku melakukannya pada individu-individu yang mereka anggap lemah dan tidak berdaya. Kedua, keinginan untuk mendapatkan power atau kekuasaan. Beberapa orang membutuhkan pengakuan dari lingkungannya, salah satunya dengan melakukan tindak bullying kepada orang-orang tertentu. Ketiga, karena balas dendam. Keempat, untuk mendapatkan perhatian orang tua atau keluarga, serta teman-temannya. “Tentu saja bullying ini dapat dihentikan dengan berbagai cara. Namun dibutuhkan intervensi-intervensi yang menyeluruh, baik dari diri sendiri, hingga pihak-pihak terkait seperti keluarga, sekolah, bahkan pemerintah,” tegasnya. Menurut Hudan, ada beberapa langkah untuk menghentikan sikap ini. Pertama yakni mencari tahu alasan pelaku melakukan perundungan. Setelah diketahui, baru bisa dirancang penyelesaian-penyelesaian yang sesuai dengan penyebabnya. Namun apapun penyebabnya, tetap dibutuhkan kerja sama semua pihak seperti elemen sosial hingga pemerintah. “Kerja sama semua pihak sangat vital. Dengan begitu, tidak ada lagi tempat yang memungkinkan terjadinya perundungan,” tambah Hudan. Di akhir, Kepala UPT Bimbingan dan Koseling UMM ini berharap, kasus bullying tidak terjadi lagi dan orang-orang dapat lebih aware terhadap tindakan-tindakannya. Apalagi melihat dampaknya yang luar biasa bagi psikilogis korban maupun pelaku. Korban akan mengalami tekanan psikologi yang tidak mudah hilang, sedangkan pelaku akan mendapatkan sanksi sosial yang cukup memberatkan. “Semoga orang-orang lebih bisa menghargai kesejahteraan hidup bersama dan semoga ada penegakkan aturan-aturan, nilai nilai moral kepada generasi muda. Sehingga tindakan bullying dapat ditekan sedemikian rupa,” ujarnya mengakhiri. (dev/wil)

Seberapa Efektif Dakwah Online? Begini Kata Dosen FAI UMM

Di era yang semakin terkoneksi secara digital, berbagai sisi kehidupan mengalami kesesuaian. Tak terkecuali bidang dakwah. Mudahnya koneksi secara virtual, memberikan kesempatan untuk mengikuti kajian dakwah tanpa perlu hadir secara langsung. Bagi generasi milenial dan Z yang mahir teknologi, kajian keagamaan melalui jaringan menjadi jalan dakwah yang cukup efektif. Hal ini disampaikan Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nafik Muthohirin, S.Pd.I., MA. Hum. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya istilah “Ustaz Medsos” yang kerap tampil dengan gaya keren dan juga pembawaan dakwah yang mudah dipahami oleh kalangan muda. “Secara umum, hingga hari ini, dakwah Islam berbasis dalam jaringan sangat efektif menyasar kelompok menengah muslim, yang pada dasarnya pengguna aktif internet terbesar di Indonesia. Selain kehadiran ustaz medsos, kemunculan berbagai komunitas dakwah Islam di dunia maya, seperti One Day One Juz, Shift Pemuda Hijrah, dan fenomena anak muda hijrah lainnya, membuktikan bahwa media online sangat efektif sebagai ruang dakwah,” tambahnya. Meskipun Nafik setuju akan keefektifan dakwah melalui jejaring sosial, namun ia menyampaikan bahwa fenomena ini bukan tanpa tantangan. Menurut Nafik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Termasuk terkait fungsi pedagogis ustaz, kyai, ulama atau guru agama. “Kita bisa mendapatkan pengetahuan agama dari YouTube, Instagram atau berbagai potongan video ceramah yang bertebaran di grup-grup WhatsApp. Tapi sikap keteladanan dan pembentukan karakter dari seorang kyai atau ustaz di pesantren atau madrasah tidak akan kita dapatkan dari media-media tersebut,” tandasnya. Oleh karena itu, menurutnya, kajian Islam yang dilaksanakan secara online tidak bisa dijadikan sebagai pola pembelajaran agama yang utama karena menghilangkan aspek pedagogis tersebut. Selain itu, tidak semua konten dakwah Islam yang tersebar di media sosial memberikan pesan yang mendamaikan. Banyak juga konten dakwah Islam yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan permusuhan dan kebencian terhadap kelompok maupun agama lain. Bahkan juga mengampanyekan politik identitas, berisikan doktrin terorisme dan radikalisme keagamaan. “Konten maupun dakwah Islam berbasis online merupakan ruang belajar alternatif yang baik. Namun masyarakat masih perlu kedalaman literasi atau belajar dari seorang ahli agama yang otoritatif, misalnya dari ulama-ulama Muhammadiyah atau NU,” tegasnya. Di akhir, Nafik berpesan meskipun seorang ustaz telah popular dan digandrungi masyarakat, namun isi ceramahnya harus ditelaah lebih dalam. “Untuk memastikan hal tersebut seseorang dapat memperdalam melalui literatur keagamaan yang ada,” pungkasnya. (rev/wil)

Pakar UMM Sebut Puasa Media Sosial Jadi Langkah Jitu Atasi Gangguan Mental

Sama pentingnya dengan kesehatan fisik, kesehatan mental juga memiliki peran yang krusial bagi seseorang. Dewasa ini, banyak yang beranggapan bahwa generasi minelial dan Z adalah generasi yang mudah rapuh dan rentan terkena gangguan mental. Melihat fenomena tersebut, Alfiah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A. selaku dosen psikologi UMM ikut angkat bicara. “Hidup ditengah perkembangan zaman yang serba modern ini memang penuh tantangan, namun kita tidak bisa langsung menilai bahwa generasi milenial dan generasi Z adalah generasi yang lemah,” ujar Alifah mengawali. Setiap generasi, menurutnya, memiliki kesulitannya masing masing dalam menjalani hidup. Bagi kaum milenial dan gen Z, hidup dengan kondisi teknologi yang pesat adalah salah satu tantangannya. Mereka kerap dihadapkan pada kehidupan yang seolah-olah nyata, padahal itu hanya dunia maya. Semua sibuk mengunggah pencapaian dan kesuksesannya di media sosial. Tanpa sadar, hal itu membuat mereka sering membandingkan hidup dengan orang lain. Bahkan tak jarang membuat mereka merasa insekyur. Lebih lanjut, Alifah menjabarkan dalam sudut pandang psikologi, kondisi ini akan sangat berbahaya. Bukan tidak mungkin juga mengganggu kesehatan mental. “Kesehatan mental itu erat kaitannya dengan sejahtera atau wellbeing yang turunannya adalah menerima, bersyukur, juga iklas,” ujarnya Karenanya, hal yang paling penting dalam mental health menurut Alifah adalah menerima diri. Memahami  bahwa di dunia, ada beberapa hal yang memang tidak bisa dikontrol. Perlu disadari pula bahwa setiap diri memiliki kemampuan untuk memberikan batasan atas apapun. Demi menjaga kesehatan mental, seseorang berhak menarik diri dan bersikap cuek pada hal-hal yang memang menggangu tujuan hidup. Alifah juga mengingatkan bahwa kesehatan mental adalah kunci bahagia hidup. Menerima diri, kontroling emosi, hidup di lingkungan yang positif, bijak bersosial media dan tidak banyak membandingkan hidup dengan orang lain menjadi ‘keahlian’ yang perlu dikuasai seseorang. “Kalau sudah merasa mental kita rapuh bahkan mengarah ke stres yang berlebihan, cobalah untuk puasa sosial media,” tambahnya. Puasa sosial media merupakan salah satu terapi psikologis yang sudah  teruji dapat mengembalikan semangat serta kekuatan diri seseorang. Puasa media sosial merupakan upaya kongkret dalam menjaga kesehatan mental di tengah perkembangan teknologi. “Dengan berpuasa medsos, kita akan terbiasa untuk lebih bersyukur atas apa yang kita miliki, memiliki waktu untuk refleksi diri, fokus pada orang sekitar yang kita cintai, dan tidak membandingkin hidup dengan orang lain,” tutupnya. (rin/wil)

Maba UMM Ini Sukses Menangi Medali Voli di POMNAS Banjarmasin

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hentinya memberikan kabar gembira dengan membawa pulang prestasi membanggakan. Kali ini, mahasiswa baru jurusan informatika Fakhri Ziddan Akbar bersama timnya berhasil meraih medali perak pada Cabang Olahraga Voli Pasir Putra dalam ajangPekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XVII Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin November lalu. Ziddan, begitu ia kerap disapa, menjadi salah satu wakil dari Jawa Timur. Ia bercerita, saat karantina timnya berada di satu grup bersama dengan perwakilan DKI Jakarta Sulawesi Utara, dan Banjarmasin. Mereka berhasil lolos dari babak grup dan masuk babak semifinal melawan Sulawesi Selatan. “Alhamdulillah kami bisa sukses mengalahkan mereka. Sayangnya, pada babak final kami harus mengakui keunggulan tim Jawa Tengah. Meski begitu kami, khususnya saya masih bersyukur bisa membawa pulang medali perak,” katanya. Kemenangan itu tidak diraih dengan jalan yang mudah. Ziddan mengatakan bahwa mereka berlatih dengan keras. Hal itu juga didorong motivasinya untuk bisa membuktikan bahwa timnya bisa mengalahkan berbagai tim lain yang lebih kuat. “Berlari lebih dari empat kilo setiap hari kemudian dilanjutkan dengan bermain voli di pinggir pantai menjadi rutinintas yang harus kami jalani setiap hari. Ditambah lagi dengan latihan fisik yang menguras tenaga,” ujar Ziddan. Sebenarnya, latihan yang ia jalani tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukannya bersama atlet-atlet di UMM. Apalagi Kampus Putih juga senantiasa memberikan berbagai dukungan untuk pengembangan potensi dan minat mahasiswanya. Selain itu, makanan yang ia konsumsi saat persiapan harus dijaga dengan baik. Maka dari itu, selama karantina mereka dilarang memakan makanan tinggi minyak dan gula. Hal itu tak lepas dari efeknya yang bisa mengganggu performa atlet. Adapun voli juga bukan dunia yang baru bagi Ziddan. Apalagi mengingat ayahnya adalah atlet voli veteran di Jawa Timur. Ayahnya pula yang menjadi pendukung dan inspirasi paling besar baginya. “Ayah memberikan support yang luar biasa bagi saya dan bisa mengantarkan saya hingga titik ini. Saya ingin mengikuti jejaknya dan tekad ini sudah saya simpan sejak duduk di bangku SMP. Semoga akan ada banyak juara lain yang bisa saya raih di berbagai kompetisi, baik regional, nasional, bahkan juga internasional,” pungkasnya mengakhiri. (ri/wil)