PPG UMM Luluskan 468 Guru, Siapkan Hadapi Era Society 5.0.

Awal Desember ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kukuhkan 468 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). Menariknya, para mahasiswa PPG yang hadir merupakan pemuda-pemudi dari berbagai daerah seperti seperti Jawa Timur, Papua, Sulawesi, Sumatera, Nusa tenggara, dan daerah-daerah lain di Indonesia. Turut hadir Direktur dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Dr. Muhammad Zain, S.Ag., M.Ag. Dalam sambutannya, ia memberikan selamat kepada mahasiswa lulusan PPG dalam jabatan bagi guru madrasah mata pelajaran umum. Ia menegaskan bahwa sebagai seorang tenaga pendidik, mereka harus memiliki totalitas dalam mengajar. “Maksudnya, guru harus memberikan pendidikan yang terbaik dan mampu mencetak generasi yang mampu menghadapi perubahan,” tambahnya. Menurutnya, nantinya tenaga pendidik harus dapat mengkolaborasikan antara manusia dan kecerdasan buatan (AI). Apalagi mengingat bahwa dunia saat ini menginginkan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecanggihan teknologi. Era ini disebut dengan era society 5.0. Zain mengatakan, anak-anak usia dini kini sudah tersentuh dengan berbagai kecanggihan sehingga bisa dengan mudah mengakses miliaran informasi. Jika anak-anak didik tidak diarahkan dengan baik, maka kemungkinan besar mereka akan terjebak di hal-hal negatif. Psikis mereka juga terganggu dan akhirnya melahirkan aksi-aksi perundungan, pelecehan, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, Zain menyarankan bahwa teknologi seperti kecerdasaan buatan harus sedini mungkin dipahami oleh setiap individu guru. Hal ini juga dapat dikolaborasikan sebagai bahan ajar yang asyik di kelas. Apalagi dalam pembelajaran, seorang guru memang harus menghadirkan cinta agar dapat membangkitkan hipokampus pada otak, yang berperan untuk menghubungkan emosi ke dalam ingatan. “Ketika murid merasa bahagia, bagian kecil dalam otak yang disebut hipokampus akan aktif dan memudahkan anak untuk mengingat pelajarannya,” sebutnya. Di sisi lain, Sekretaris Panitia Nasional Kemenag RI Dr. H. Mustofa Fahmi, S.Pd., M.Ed. mengajak seluruh lulusan PPG UMM untuk terus istiqomah dalam memebrikan layanan pendidikan terbaik bagi anak bangsa. “UMM ini sejak 2018 sudah istiqomah mencetak lulusan PPG sebanyak lebih dari 2000 orang. Hal ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” katanya. Ia berharap, para lulusan bisa memanfaatkan ilmunya di berbagai daerah dan mampu memperlihatkan sikap responsif akan perubahan yang ada. Ia menegaskan bahwa alumni PPG UMM memang dikenal sebagai guru yang memiliki profesionalitas, etos kerja tinggi, semangat, dan komitmen di manapun ia bekerja. (tri/wil)

Teliti Obat untuk Udang, Mahasiswa UMM Menangi Dua Medali Pimnas

Kabar membanggakan kembali hadir. Kali ini tim perwakilan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rebut kemenangan dalam dua kategori sekaligus di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-36 di Bandung. Pada ajang yang dilaksanakan awal Desember itu, Tim tersebut sukses meraih medali emas kategori poster terbaik serta medali perunggu kategori presentasi program kreativitas mahasiswa riset eksakta (PKM-RE). Lely Ayu Puspandari selaku ketua tim sangat bangga dan bahagia atas prestasi yang timnya menangkan. Mereka mengangkat tema Potensi Bakteriofage Hepatopankreas dan Serasah Mangrove sebagai Inovasi Teknologi Kontrol Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease Penyebab Kematian Total Litopenaeus Vannamei. Latar belakang dilipihnya tema itu karena mereka melihat adanya penurunan jumlah produksi udang vaname beberapa tahun ke belekang. Salah satu alasan terbesarnya yakni penyalim AHPND yang terjadi di tambak udang. Padahal udang merupakan ekspor andalan Indonesia. “Pencegahan penyakit ini masih belum efektif. Sehingga kami menawarkan solusi lewat penelitian kami ini,” jelas Ayu. Terkait persiapan, mahasiswi akuakultur itu menjelaskan, timnya sudah melakukan persiapan yang matang sejak jauh-jauh hari. Termasuk berlatih presenstasi dan membuat desain poster yang menarik dan informatif. Ia merasa beruntung karena Kampus Putih UMM memebrikan dukungan penuh bagi mahasiswa yang lolos Pimnas. Baik dari aspek materiil maupun non materiil. “Bisa dibilang, persiapan kami cukup singkat namun kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Untungnya Biru kemahasiswa UMM menyediakan beragam kebutuhan sejak sebelum, saat, hingga pasca mengikuti rangkaian acara Pimnas. Kami juga berterimakasih pada Bapak Soni Andriawan yang membimbing kami dengan sabar dan juga atas arahan yang bagus,” ungkapnya. Terakhir, ia berpesan pada seluruh anak-anak muda, termasuk mahasiswa UMM, untuk terus menelurkna inovasi. Terutama penemuan-penemuan yang bisa memajukan dan membangun negeri. Menurutnya, tidak perlu ragu dan takut menunjukkan minat serta bakat yang dimiliki. “Apalagi UMM senantiasa memberikan wadah terbaik bagi mahasiswanya. Ada puluhan bahwan ratusan kegiatan yang bisa diikuti,” pungkasnya. Ayu tidak sendiri meraih kemenangan itu. Ia ditemani Ike Trisdayanti dan Thesa Lonicha Kitvirul A’ini dari prodi Akuakultur Salsabila Roihanah dari prodi Pendidikan Biologi. (*faq/wil)

Kepiting Halal atau Haram Dikonsumsi? Begini Kata Dosen FAI UMM

Kepiting, makanan laut yang lezat, telah lama menjadi incaran para pencinta kuliner di berbagai belahan dunia. Namun, bagi umat Islam, selain cita rasa yang lezat, ada pertimbangan yang lebih dalam terkait dengan hukum memakan kepiting. Lalu apakah konsumsi kepiting termasuk dalam ranah halal atau tidak? Jamal, S.HI., M.Sy., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan bahwa tidak ada dalil pasti yang mengatur terkait hukum membunuh serta mengonsumsi kepiting tersebut. Perbedaan pendapat mengenai kehalalan mengonsumsi kepiting timbul karena bunyi hadis Nabi Muhammad SAW mengenai keharaman membunuh katak. Sebagian ulama mengambil kesimpulan bahwa keharaman membunuh katak dikarenakan ia hidup dalam dua alam. “Nah berangkat dari kesimpulan tersebut, sebagian ulama berpendapat bahwa hewan yang hidup dalam dua alam dilarang untuk dibunuh sehingga secara tidak langsung pun dilarang untuk di konsumsi. Tapi yang perlu diingat bahwa sebenarnya seluruh makanan itu halal asalkan terdapat dalil yang mengharamkan nya,“ ujar dosen yang akrab disapa Jamal tersebut. Menurutnya, Allah SWT pun telah menjelaskan dengan gamblang mengenai kriteria hewan yang haram untuk di konsumsi. Diantaranya yakni bangkai hewan, darah, daging yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT, hewan bertaring dan ada beberapa hadis yang mengharamkan mengkonsumsi hewan yang memakan kotorannya sendiri. Beberapa kriteria tersebutlah yang harus diperhatikan sebelum mengkonsumsi daging hewan. “Mengenai kepiting itu sendiri, hasil daripada istinbath hukum menyatakan halal untuk dikonsumsi. Pernyataan tersebut berdasar pada hadis Rasulullah yang berbunyi, ‘ Telah dihalalkan bagi kamu dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dua darah itu adalah hati dan limpa’ Hadis Riwayat Ibnu Majah No. 3314. Nah, karena kepiting termasuk hewan laut maka ia dihalalkan untuk di konsumsi,” ungkapnya. Terakhir, Jamal menegaskan, meskipun kepiting halal di makan bukan berarti seseorang akan berlaku semena-mena dan berlebihan sehingga tidak memperhatikan aturan lainnya. Seseorang tetap perlu memperhatikan manfaat dari mengonsumsi makanan tersebut dan sangat menekankan agar tidak berlebihan. “Karna sesuatu yang berlebihan itu justru yang tidak baik dan tidak diperbolehkan,” pungkasnya. (rev/wil)

Belum Setahun Berdiri, Pojok Statistik UMM Raih Penghargaan dari BPS Nasional

Meski belum genap setahun berdiri, Pojok Statistik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mendulang prestasi di level nasional. Berkat kontribusi dan keaktifannya, Pojok Statistik UMM mendapatkan penghargaan bergengsi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional, 4 Desember 2023. Adapun penghargaan itu langsung diterima oleh Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. di Jakarta. Tim Pojok Statistik UMM Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, SE., ME. menjelaskan, ada beberapa kategori yang dilombakan dalam ajang tersebut. Kampus Putih UMM berhasil memberikan impresi baik dan mengalahkan 108 pojok statistik se-Indonesia. Semua itu berkat beragam kegiatan, aktivitas dan keterlibatan mahasiswa di setiap prosesnya. “Kami memang aktif melibatkan survey dan mendiseminasikan hasilnya. Berbagai data dikumpulkan para mahasiswa yang terlibat kemudian dibuat poster. Hingga akhirnya kami unggah di web pojok statistik. Kami sangat bangga pula karena melihat kenyataan bahwa meski pojok statistik UMM belum setahun berdiri, tapi kiprahnya sudah diapresiasi,” tambahnya. Yudi, begitu ia kerap disapa, melanjutkan bahwa aktivitas pojok statistik terinspirasi sistem Center of Excellence (CoE) yang sudah dijalankan UMM. Para mahasiswa disebar dan diminta turut aktif di BPS maupun survey-survey. Salah satunya survey terkait potensi desa dana memberikan rekomendasi apa saja potensi produk yang bisa dikemangkan di desa-desa terkait. Kegiatan ini, kata Yudi, juga menjadi embrio untuk mendirikan CoE baru di prodi Ekonomi Pembangunan (EP). “Satu dari sekian potensi desa yang menarik adalah potensi pengembangan anggrek di salah satu desa di Kota Batu. Kemudian nanti bisa ditindaklanjuti melalui pelatihan pengembangan produk hingga proses pemasaran,” katanya. Terakhir, Dosen EP itu berharap Pojok Statistik UMM bisa kembali meraih penghargaan di tahun depan. Apalagi dengan komitmennya untuk mengoptimalkan program satu data dan terintegrasi. Begitupun dengan jangkauannya yang semakin meluar ke berbagai daerah lain. Sementara itu, Direktur Diseminasi Statistik BPS Dwi Retno Wilujeng W.U. mengatakan, ada lebih dari 600 tamu yang hadir dan meramaikan malam penghargaan itu. Mulai dari pihak kementerian, lembaga, pemerintah daerah, akademisi, pengusaha, hingga para awak media. Menurutnya, agenda seperti ini diharapkan bisa meningkatkan koordinasi dan kerjasama BPS dengan berbagai pihak yang ada. Terutama dalam upaya penyediaan dan pemanfaatan data untuk membangun negeri bersama. (*wil)

Dosen HI UMM: Perlu Kajian Menyeluruh sebelum Membangun Smelter di Papua

Wacana pendirian smelter atau industri pemurnian hasil olahan PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan terus berdengung. Havidz Ageng Prakoso, S.IP., M.A. selaku Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, meski digadang-gadang menjadi salah satu jalan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, pembangunan smelter ini juga perlu diimbangi beberapa pemahaman. Salah satunya adalah kesadaran akan efek yang akan muncul. “Kesadaran terkait aktivitas pertambangan dari hulu sampai hilir akan selalu meninggalkan sisi positif dan negatif, tergantung perspektif masing-masing terkait ini. Hal tersebut harus dikaji secara menyeluruh ,” ujarnya. Ageng menjelaskan bahwa ada berbagai manfaat yang akan didapatkan jika smelter Papua ini terealisasi. Salah satunya sebagai kompensasi pemerintah pusat terhadap ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah, serta meminimalisir isu ketidakmerataan. Sejak berdirinya Indonesia sebagai negara kesatuan, ini menjadi isu yang cukup sentral bahkan menjadi isu internasional yang dibawa oleh para aktivis.  “Disinilah peran pemerintah dipertaruhkan dalam mengakomodir keinginan, kebutuhan dan tuntutan dari masyarakat Papua dan Papua Barat. Meskipun tentu akan selalu menimbulkan pro kontra dari berbagai pihak,” tambahnya. Ageng menambahkan, dalam perpektif global, wacana pembangunan smelter ini memiliki kesesuaian dengan program Sustainable Development Goals (SDG’s). Utamanya jika dinilai dari beberapa nilai yang sejalan, seperti pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, serta kemitraan untuk mencapai tujuan. Proses panjang tuntutan pembangunan smelter di Papua telah dikaji secara intensif. Pada tahun 2021 lalu menjadi tahap awal sinyal positif terhadap rencana pembangunan smelter di wilayah Papua. Pemerintah pusat telah merumuskan perencanaan pembangunan antar stakeholder, baik dari PTFI maupun dengan BUMN. “Saya yakin dalam setiap pembangunan yang dilakukan pemerintah selalu memiliki banyak pertimbangan atas apa yang akan terjadi kedepannya. Semoga saja pembangunan smelter Papua mampu memberikan kontribusi yang positif, tidak hanya bagi pemerintah tetapi juga bagi masyarakat lokal. Apalagi mereka yang berhadapan dan merasakan langsugn aktivitas smelter. Harapannya, langkah ini mampu meminimalisir konflik yang terjadi. Baik konflik horizontal maupun vertical serta konflik terhadap lingkungan,” pungkasnya. (*wil)

Percaya dengan Upaya Nyata Kampus Putih, Lemhannas gaet UMM

Kerjasama dan menjalin tali silaturahmi terus dilakukan untuk Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Baru-baru ini UMM kembali menjalin kerjasama dengan lembaga pemerintah untuk menambah jejaringnya di lingkup nasional. Pada 28 November lalu, Kampus putih UMM menggandeng Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) untuk memperkuat lini pelatihan dan pemantapan nilai kebangsaan. “Pemahaman nilai kebangsaan sangatlah penting, termasuk di lingkup pendidikan. Maka dari itu, kolaborasi ini menjadi cara kami memperkuat nilai itu, baik di level nasional maupun internasional,” kata Kepala Biro Kerjasama dan Hukum Lemhannas Brigjen TNI (Mar) Raja Erjan H.S. Girsang, S.E., M.M., M.Sc. Ada beberapa program yang sudah dicanangkan. Yakni berupa peningkatan nilai kebangsaan melalui pendidikan sivitas akademika, diskusi terarag, hinigga tukar informasi mengenai isu yang sedang hangat. Termasuk di dalamnya kajian isu-isu nasional dan internasional. Misalnya saja terkait perselisihan antara Palestina dan Israel yang sedang terjadi. “Kami juga siap jika sivitas akademika UMM membutuhkan pelatihan khusus demi menyukseskan dan menidikan generasi emas,” tambahnya. Girsang menyebutkan sederet implementasi program, seperti training of trainer yang dinaungi langsung oleh Lemhannas. Tujuannya tentu menyiapkan generasi masa depan dengan memperkuat mental dan nilai kebangsaan, sehingga mampu mencetak manusia unggul. Kemudian juga bisa menjawab tantangan dunia mendatang dengan cakap. “Beberapa kali Lemhannas juga sudah menggaet berbagai instansi, perusahaan dan berbagai pihak lain. Ini menjadi upaya kami untuk memperkuat pertahanan nasional serta keutuhan negara. Jika semua kolaborasi berjalan dengan baik, tentu akan menciptakan lingkungan pendidikan yang berwawasan kebangsaan. Apalagi untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Sehingga bisa saling membantu membuka pintu awal untuk menggapainya,” tegasnya. “Kami percaya bahwa kolaborasi kami dan UMM akan memberikan hal-hal menarik nan bermanfaat. Apalagi dengan kiprah UMM yang sudah banyak dilakukan. Semoga program yang kami ciptakan bisa memberikan terobosan baru di bidang ketahanan nasional,” pungkas Girsang mengakhiri. (tri/wil)

Perkuat Kualitas, FPP UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besar. Kali ini ada tiga guru besar dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) yang dikukuhkan pada 2 Desember 2023. Ketiganya adalah Prof. Dr. Ir. Damat, M.P., Prof. Dr. Ir Wehandaka Pancalaga, M.Kes., dan Prof. Dr. Rahayu Relawati, M.M. Ketiganya memiliki kepakaran masing-masing dan memberikan kontribusi bagi keilmuan dan masyarakat. Pengukuhan ini juga sekaligus menguatkan kualitas pendidikan yang diupayakan UMM. Misalnya ada Damat yang senantiasa mengkaji pangan fungsional berbasis sumber daya lokal. Tujuannya untuk mengembangkan produk pangan kaya pati resisten. Selain itu ia juga terus mendampingi sertifikasi halal produk makanan dan minuman. Sejak 2006 hingga 2021, Damat selalu mendapatkan dukungan pendanaan dari Dikti melalui beragam penelitian dan pengabdian. Ia menelurkan produk beras analog kaya antioksidan (Rasgadan), makaroni kaya pati resisten, cake dengan indeks glikemik rendah hingga pendirian UMM Bakery, serta produk penelitian lainnya. Damat juga mengembangkan produk berbahan baku lokal dan tidak mengandung gluten. Adapun gluten tidak baik dikonsumsi oleh orang yang intoleran terhadap gluten, karena dapat menyebabkan celiac. Berbagai penelitiannya berupaya mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional berbasis sumber daya lokal. Selai itu juga untuk menyediakan pangan fungsional. Di sisi lain, adapula Wehandaka yang meneliti di bidang teknik finishing kulit samak dengan pewarnaan alami. Produk tersebut dikenal dengan sebutan batik ecoprint. Ia memulai penelitiannya pada 2014 lalu dengan riset metode batik pada kulit samak. Kemudian pada 2016, ia mengembangkan teknik finishing kulit dengan metode pewarnaan ikat. Di 2018, ia bahkan mencoba metode ukir hingga akhirnya mengembangkan metode ecoprint yang sudah dijalankan sejak 2021. “Dengan batik ecoprint ini, saya juga mendampingi usaha-usaha masyarakat terkait barang-barang kulit di beberapa tempat. Misalnya di Bululawang, Malang hingga Magetan. Salah satu keunggulannya adalah motif yang bervariasi dan lebih unik,” jelas Wehandaka. Wehandaka juga menegaskan bahwa metode ecoprint ini juga sangat ramah lingkungan sehingga tidak menyebabkan kerusakan alam. Pengembangan itu juga sekaligus membantu produk UMK pengrajin barang-barang kulitdan lebih berdaya saing. Terakhir, ada Rahayu yang memiliki interest di bidang manajeen agribisnis. Seperti struktur pasar komoditas pangan dan hortikultura, strategi pemasaran, dan perilaku konsumen. Kepedulian pada sustainable agribusiness juga telah memotivasinya untuk mengkaji pemasaran produk pangan organik dan perilaku green consumer. Berbagai riset yang dilakukan telah mendapat dukungan pendanaan dari Dikti dan pendanaan internal UMM. Terhitung ada 21 penelitian yang sudah dijalan sejak tahun 2007 hingga 2022. Riset green marketing bidang agribisnis memberikan dampak positif bagi lingkngan maupun bisnis. Green marketing membukan jalan bagi perusahaan untuk memberikan layanan ramah lingkungan. Ada banyak kebermanfaatan dari penelitian tersebut. Termasuk terwujudnya sustainable development goals (SDGs). Misalnya pada SDG yang kedua yakni kontribusi terhadap tujuan pangan dan ketahanan pangan. Begitupun dengan SDG 1 dan 8 yang berkaitan denan pengentasan kemiskinan dan peningkatan pekerjaan layak. “Penelitian saya juga memberikan kontribusi greeen marketing dan perilaku green consumers. Manajemen agribisnis yang baik akan meningkatkan produktivitas, mengurangi limbah, dan akses yang adil akan sumber daya dan peluang,” kata Rahayu. (*wil)

Aktif Terbitkan Buku Berkualitas, UMM Press Menangkan Penghargaan dari Pemprov Jatim

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bosan-bosan meraih berbagai prestasi. Baik itu dari kalangan mahasiswa, dosen, prodi, fakultas, bahkan juga unit pelaksana teknis (UPT). Terbaru, UPT Penerbitan Buku UMM Press sukses meraih penghargaan sebagai penerbitan buku paling aktif yang berikan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur. Penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi bagi penerbit yang tertib menyerahkan Karya Cetak dan Karya Rekam (KCKR) Jatim tahun 2023. Penyerahan Penghargaan itu diberikan pada 27 November lalu di Hotel Samator Surabaya. Direktur UMM Press, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si. mengaku sangat gembira atas penghargaan yang merek raih. Penghargaan tersebut juga tidak luput dari hasil kerja keras para tim serta hasil inovasi-inovasi yang telah dibuat. Mulai dari melakukan design layout yang lebih modern dan melakukan penerbitan tidak hanya dengan buku fisik namun juga buku digital (E-Book). “UMM Press ini sudah cukup tua usianya, yakni sudah berdiri sejak 1990. Bisa dibilang UMM Press mampu bertahan di tengah situasi dimana buku saat ini minatnya semakin menurun. Setidaknya dalam setahun, kami menerbitkan lebih dari 70 judul buku secara konsisten,” ungkapnya. Novin, pihaknya tidak hanya menerbitkan buku-buku pendamping kuliah dan buku ajar kuliah saja. Namun juga sederet buku novel, puisi, serta cerpen hasil karya mahasiswa dan dosen yang menarik. Langkah itu sebagai upaya  Itu juga untuk membangun dan mendorong kreativitas sivitas akademika yang memiliki potensi dan bakat di kepenulisan. “Kami membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi yang ingin menerbitkan karya tulisannya. Ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa yang ingin karyanya terpublikasi secara luas. Bisa karya yang santai seperti cerpen, novel fiksi, puisi, dan lain sebagainya. Tentu harus melewati seleksi untuk menentukan karya tersebut layak atau tidak. Karya yang kami terbitkan juga bukan hanya mereka yang terafiliasi dengan UMM saja, tapi juga penulis-penulis di luar UMM,” katanya. Terakhir, Dosen Ilmu Komunikasi (Ikom) UMM tersebut berpesan kepada anak-anak muda untuk tidak bosan-bosan dalam membaca buku, mengingat bahwa buku merupakan salah satu sumber ilmu. Begitupun dengan menulis sebagai sarana menyalurkan kreativitas. Ia berharap UMM Press mampu maju dan go internasional di aspek publikasi buku-buku ilmiah. (*faq/wil)

Begini Solusi Atasi Perundungan ala Dosen UMM

Tingginya jumlah kasus bullying di tahun 2023 telah menjadi isu serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Ini sekaligus menjadi salah satu cermin pemahaman nilai mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewaarganegaraan (PPKn) yang masih kurang. Hal tersebut disampaikan oleh Moh. Wahyu Kurniawan, S.Pd. M.Pd., dosen Program Studi PPKn Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Wahyu, panggilan akrabnya, menyampaikan bahwa saat ini dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami darurat kekerasan dan krisis moral. Hal itu menjadi bukti bahwa pemahaman tentang nilai PPKn yang telah diajarkan belum maksimal. “Mata pelajaran PPKn seharusnya membantu siswa untuk mengembangkan sikap bijaksana, empati yang tinggi, dan kemampuan untuk membedakan perilaku yang baik dan buruk. Selain itu, PPKn juga seharusnya membentuk karakter siswa melalui kajian civic disposition atau karakter kewarganegaraan yang bertujuan untuk membentuk warga negara yang smart and good citizen,” tuturnya. Wahyu juga menyoroti faktor-faktor lain yang memicu maraknya kasus bullying. Ia menegaskan perlunya perubahan dalam pendekatan pembelajaran PPKn yang saat ini masih terlalu terfokus pada aspek kognitif. Sementara aspek sikap anak belum mendapatkan perhatian yang cukup. Selain itu, terjadi juga degradasi moral pada anak-anak. “Mereka cenderung menghafal Pancasila tanpa menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, penting untuk diingat bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memiliki relevansi erat dengan realitas kehidupan,” tambahnya. Sebagai contoh, ia menyampaikan, sila pertama mengarahkan setiap agama pada kebaikan dan ketentraman, dengan mengecam kekerasan fisik dan mental sebagai perbuatan dosa. Sila kedua menekankan bahwa setiap warga Indonesia harus mampu memperlakukan orang lain dengan penuh kemanusiaan, yang tercermin dalam sikap saling menghormati, saling menghargai, menghindari konflik, dan tolong menolong  kepada sesama. “Sementara sila ketiga mendorong semangat persatuan dan kerja sama untuk menjaga perdamaian dan kesatuan bangsa Indonesia. Begitu juga dengan peran sila keempat dan sila kelima Pancasila yang juga turut menjadi landasan moral dalam menghadapi tantangan maraknya kasus bullying di Indonesia,” ujar Wahyu. Ia menambahkan, untuk mengatasi masalah bullying, terdapat beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan mulai dari lingkup pendidikan. Mulai dari perlunya sekolah membangun atmosfer yang menerapkan prinsip anti kekerasan melalui kebijakan sekolah, peningkatan mutu pendidikan melalui kegiatan intra, ekstra, dan kukurikuler. Hingga yang tidak kalah penting, yaitu sekolah harus menciptakan suasana hangat dan menyenangkan untuk membangun sekolah ramah anak. “Namun, masalah bullying tidak bisa hanya ditangani dan bergantung pada lingkup sekolah semata. Semua stakeholder, termasuk orang tua dan masyarakat, memiliki tanggung jawab dalam meminimalisir kasus ini. Terlebih, orang tua harus menciptakan iklim keterbukaan kepada anak, menjadi tauladan yang baik, mengajarkan toleransi, dan mendukung nilai-nilai anti bullying dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya. (*lai/wil)

Dosen UMM: Ini Efek Positif Penetapan Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Resmi UNESCO

November lalu, bahasa Indonesia berhasil disahkan sebagai bahasa resmi pada The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNECO).  Disahkannya bahasa Indonesia ini membuat masyarakat gempar dan merasa bangga. Hal ini lantaran bahasa Indonesia menduduki bahasa resmi ke-10 yang diresmikan setelah bahasa Arab, Italia, dan Portugis. Atas capaian ini, M. Isnaini, S.Pd., M.Pd selaku dosen bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengaku turut bangga. Hal itu tak lepas dari upaya pemerintah mengusulkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi sidang umum UNESCO. “Memang sangat layak bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi sidang umum UNESCO. Penutur bahasa ini bahkan telah mencapai lebih dari 200 juta orang dan punya lebih dari 100.000 kosa kata,” tuturnya. Selain itu, Krisna, sapaannya, menjelaskan bahwa bahasa Indonesia juga sudah diajarkan di lebih dari 48 negara di seluruh dunia. Angka penuturnya juga mencapai 275 juta yang terdiri dari penutur lokal dan mancanegara. Keberhasilan ini juga selaras dengan pesan yang tertulis di Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 yang menjelaskan bahwa pemerintah meningkatkan fungsi bahasa Indonesia secara bertahap dengan dijadikan bahasa internasional yang berkelanjutan dan sistematis. Ada berbagai dampak atas ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi UNESCO. Misalnya saja pada aspek eknomi dan budaya masyarakat. Di bidang ekonomi, penetapan ini dapat meningkatkan kerjasama pelaku perdagangan, dimana para ekspatriat yang bekerja di Indonesia diharuskan menguasai bahasa Indonesia. Sementara di bidang budaya, ini menjadi jalan yang bagus untuk memperkenalkan budaya Indonesua yang begitu banyak, baik di dalam maupun di luar negeri. “Untuk mewujudkannya, pemerintah dan masyarakat perlu menguatkan atensi bahasa Indonesia agar semakin dikenal dunia. Salah satu program yang digalakkan pemerintah adalah program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang ada di berbagai universitas. Salah satunya BIPA UMM yang memfasilitasi mahasiswa asing dari berbagai negara untuk belajar banyak tentang Indonesia,” tambahnya. Menurutnya, penetapan ini harus diikuti dengan upaya masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, bukan malah meninggalkannya. Ia berpesan agar anak-anak muda tidak merusak citra bahasa asli Indonesia dengan bahasa-bahasa gaul yang cenderung merusak tatanan bahasa Indonesia. “Bukan berarti bahasa gaul seperti ini tidak boleh digunakan untuk berkomunikasi. Namun alangkah baiknya berupaya maksimal memakai bahasa Indonesia yang lazim dan baik sebagai bahasa komunikasi untuk menjaga keaslian bahasa,” tandasnya. (*tri/wil)