Pekerjaan Online Menggerus Karyawan Offline? Ini Kata Dosen UMM

Semakin berkembangnya zaman menuju era society 5.0. banyak profesi online yang bertebaran di masyarakat. Hal ini membawa dampak positif yang cukup masif. Happy Febrina hariyani, SP., M.Si. selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Program Studi Ekonomi Pembangunan (EP) menegaskan, profesi online memang mendatangkan banyak hal baik. Yakni pekerjaan yang tidak selalu harus dikerjakan di kantor. “Profesi online ini dapat menjadi salah satu opsi pekerjaan bagi orang-orang yang memang menyukai work from home, jadi tidak perlu datang ke kantor,” ujarnya. Tak hanya menjadi pekerjaan sampingan, Happy bahkan menegaskan bahwa beberapa profesi online seperti menjadi influencer, content creator, content writer hingga host livestreaming dapat menjadi sumber pendapatan yang cukup menjanjikan. “Di Linkedin pun banyak perusahaan-perusahaan yang menawarkan profesi serupa yang dapat dikerjakan secara work form home. Ini membuka peluang bagi para tenaga kerja yang ingin bekerja namun membutuhkan fleksibilitas waktu,” ucapnya. Happy pun menyebutkan, seiring berjalannya waktu, keberadaan berbagai profesi online akan semakin menyebar. Bukan tidak mungkin, suatu saat besarannya akan melebihi jumlah profesi offline yang sudah ada. Karenanya, dibutuhkan kemampuan adaptasi dengan teknologi. “Jangan leha-leha. Kita tidak boleh berhenti untuk belajar, terutama para generasi terdahulu yang pada saat itu dunia teknologi masih belum berkembang pesat. Karenanya, perlu adanya pendampingan dari generasi muda ke generasi sebelumnya. Ini untuk membuktikan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya membawa dampak negatif saja dan meyakinkan bahwa profesi online juga dapat dinilai menjanjikan ketika memang ditekuni dengan serius,” tambahnya. Mengawal hal ini, ia menambahkan perlu adanya sosialisasi mengenai teknologi di semua kalangan masyarakat. Hal ini sebagai upaya penegasan bahwa teknologi bukan suatu hal yang patut ditakuti, namun sesuatu yang dapat dimanfaatkan. “Dulu banyak orang yang menganggap remeh orang-orang yang melakukan live di e-comerce, influencer dan profesi online lainnya. Padahal, jika kita berkaca pada kondisi hari ini, dapat dilihat bahwa profesi-profesi tersebutlah yang dapat menjadi salah satu jalan sukses seseorang,” tandasnya. Di akhir, Happy berpesan agar para pekerja offline saat ini tidak khawatir dengan menjamurnya berbagai profesi online. “Para tenaga kerja di masa sekarang tidak perlu takut dengan adanya profesi online. Mereka justru harus terus belajar mengikuti berbagai perkembangan teknologi agar mampu beradaptasi. Memanfaatkan teknologi dengan bijaksana dan tepat guna agar membawa dampak positif bagi kelangsungan karir di masa yang akan datang,” pungkasnya. (Fat/Wil)
Kuliah Tamu Kehutanan UMM Beri Solusi Restorasi Lahan

Degradasi lahan merupakan salag satu tantangan terbesar yang harus dihadapi manusia. Hal itu ditegaskan Dr. Himlal Baral selaku Senior Scientist di CIFOR-ICRAF dalam kuliah tamu garapan prodi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 27 November lalu. Agenda yang bertajuk ‘Restorasi sebagai Solusi Iklim Alami’ itu turut dihadiri Ir. Kunto Hirsilo, M.E. selaku kepala BPDAS RH Brantas Sampean. Lebih lanjut, Himlal menjelaskan bahwa banyak sekali lahan yang telah terdegradasi dan lahan yang dimiliki semakin terbatas secara global. Di Indonesia, Jawa Timur dan Jawa Tengah juga memiliki jumlah lahan yang terbatas. Bahkan kini pemerintah Indonesia memiliki target yang sangat jelas untuk merestorasi 14.000.000 hektar pada tahun 2030. “Jadi yang kami coba lakukan adalah bekerjasama dengan banyak pemerintah, petani, universitas, kelompok masyarakat, dan pengelola lahan petani. Restorasi tidaklah murah, dibutuhkan biaya, waktu, dan tenaga untuk memulihkan lahan,” ucapnya. Untuk merestorasi satu hektar lahan, dibutuhkan biaya sebesar $100 hingga $1000. Restorasi relatif bukan merupakan prioritas utama pemerintah. Tidak seperti pendidikan atau pembangunan infrastruktur kesehatan yang memiliki perhatian lebih. Maka dari itu, agar pengelolaan lahan menjadi lebih baik, ia menyarankan untuk mengurangi penggunaan pestisida, lebih sedikit pupuk atau memanfaatkan pupuk organik. Selain itu, harus ada cara pemulihan lahan dan menjadikannya menguntungkan. Dalam hal ini, Himlal menyebut Climate Smart Agroforestry adalah solusi yang paling menguntungkan untuk memulihkan lahan. Ini disebut sebagai jasa ekosistem dan bukan hal yang baru bagi masyarakat Jawa Timur. Contohnya seperti jasa penyediaan, jasa pengaturan, jasa kebudayaan, dan jasa penunjang mulai dari produksi pangan hingga mineral. “Di Jawa Timur sangat padat penduduknya sehingga anda tidak memiliki banyak lingkungan alam di sini. Jadi Agroforestri bisa menjadi alat yang sangat besar dan berpotensi untuk menyediakan berbagai barang dan jasa bagi Anda,” katanya. Di sisi lain, Kunto Hirsilo juga menyebutkan beberapa strategi dalam menanggulangi kelemahan ini. Di antaranya, keterlibatan sumber daya manusia (SDM) instansi maupun lembaga setempat, memanfaatkan dana APBD dan dana internasional dan bekerja sama dengan masyarakat, korporasi maupun instansi lain. Begitupun dengan peningkatan kapasitas SDM dalam forum dan lembaga yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. (Dev/Wil)
Harga Kedelai Impor Melonjak, Dosen UMM Beri Strategi untuk Produsen Tahu Tempe

Tahun 2023 membawa tantangan serius bagi industri tempe dan tahu di Indonesia dengan lonjakan harga kedelai impor yang mencapai Rp. 13.200. Sebagai bahan baku utama, kedelai memegang peranan krusial dalam pembuatan dua makanan khas Indonesia ini. Ketidakpastian harga kedelai impor yang terus merangkak naik, menciptakan dampak signifikan terutama pada biaya produksi tempe dan tahu. Seiring dengan hal tersebut, dosen prodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ir. Anas Tain, M.M. menjelaskan, persoalan ini bukanlah isu baru di Indonesia. Sebab, setiap tahun harga kedelai impor mengalami kenaikan. “Di tahun 2023 ini, larangan impor dan maraknya boikot produk impor menciptakan disrupsi dalam keseimbangan supply and demand. Ketika permintaan tetap stabil dan penawaran berkurang, supply pun ikut menyusut,” paparnya. Dalam upaya untuk menutupi kenaikan biaya produksi, sejumlah produsen kerap melakukan perubahan di produknya. Beberapa langkah yang umumnya diambil adalah penyesuaian harga jual produk, pengurangan jumlah produksi, peningkatan harga, atau bahkan memperkecil ukuran produk. Namun, Anas menegaskan bahwa setiap tindakan ini harus selaras dengan karakteristik segmen pembeli. Tanpa terkecuali dengan memahami konsep elastisitas masyarakat terhadap kenaikan harga. “Terdapat konsumen yang sifatnya inelastis. Artinya, konsumen tidak terpengaruh dengan perubahan harga. Sementara, konsumen yang responsif terhadap perubahan harga dapat mengakibatkan penurunan daya beli, mendorong produsen untuk mengurangi produksi dan memperkecil ukuran produk,” jelasnya. Lebih lanjut, menghadapi kenaikan harga kedelai impor adalah tantangan yang tidak mudah. Namun hal itu bisa diatasi dengan kreativitas dan komitmen. Menurutnya, diversifikasi bahan baku dapat menjadi kunci utama untuk mengatasi kenaikan harga tersebut. “Sebagai contoh, uji coba membuat tempe dan tahu menggunakan bahan dasar kacang tunggak bisa menjadi langkah konkret dalam menyiasati lonjakan harga kedelai impor. Hanya saja, langkah ini masih belum diadopsi oleh industri,” resahnya. Selain itu, ia menegaskan pentingnya swasembada kedelai lokal agar tak menjadi kebijakan semata. Jika dapat memenuhi permintaan pasar, penggunaan kedelai lokal banyak membawa manfaat. Tidak hanya menghasikan tempe yang lebih lezat, tetapi juga bisa menjadi solusi jangka panjang untuk meminimalisasi dampak fluktuasi harga kedelai impor. Sayangnya, produsen cenderung lebih memilih kedelai impor karena kepraktisan dan ukuran yang lebih besar. Oleh karena itu, perlu adanya kolaborasi antara produsen, konsumen, dan pemerintah dalam mencari solusi untuk menghadapi kenaikan harga kedelai impor. “Dukungan penuh dibutuhkan untuk menciptakan keberlanjutan dalam industri tempe dan tahu di Indonesia. Inovasi, adaptasi, dan kesadaran bersama menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan industri tanah air,” tutupnya.(*lai/wil)
Berkat CoE, Mahasiswa UMM Ini Direkrut Perusahaan Sebelum Diwisuda

Adalah Moh Lutfi Masaid, mahasiswa Program Studi (Prodi) Akuakultur Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil direkrut kerja di PT Garin Agro Sejahtera sebelum diwisuda. Lutfi sapaan akrabnya mengaku bahwa kesempatan tersebut ia raih berkat dari pengalamannya mengikuti Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Udang yang ada di UMM. Mahasiswa yang memiliki hobi mendaki gunung tersebut memamparkan, ia berterimakasih kepada UMM yang telah memiliki program CoE. Selama ia mengikuti program tersebut, dia mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat dan bahkan ilmu tersebut langsung dapat ia implementasikan dalam Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). “Saya dulu ikut CoE Kelas Profesional Udang di PT Ghana Utamadi Dhuniara selama 1 semester. Selain dapat ilmu, saya juga mendapat konversi sebanyak 20 SKS pada semester tersebut. Itu juga sama seperti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang digaungkan oleh Kemendikbudristek,” jelasnya. Lebih lanjut, Lutfi sapaan akrabnya memaparkan saat mengikuti CoE, ditempatkan sebagai asisten teknisi tambak. Dia membantu berbagai tugas, seperti perhitungan pemberian pakan, penghitungan dosis vitamin dan obat yang akan diberikan kepada udang, hingga penghitungan pada total panen udang yang akan didapat. Berbagai tugas tersebut sangat berkolerasi positif terhadap pekerjaan yang saat ini dia lakukan. Sebagai tambahan, program CoE merupakan bentuk dari komitmen penuh UMM untuk mampu menyiapkan para mahasiswa untuk siap ditempatkan pada dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Hal itu juga menjawab tantangan kebutuhan DUDI terkait dengan tenaga professional yang siap untuk langsung bekerja saat masuk perusahaan. Terlebih, CoE yang dimiliki UMM sudah mencapai lebih dari 50 program. Adapun CoE ini juga bekerjasama langsung dengan beragam industri dan dunia usaha. Sehingga skill yang diberikan kepada peserta benar-benar sesuai dengan apa yang dibutuhkan industri. Terakhir, pemuda asal Situbondo tersebut juga berpesan kepada seluruh mahasiwa UMM untuk mampu memanfaatkan kesempatan dari berbagai program unggulan yang ada di kampus putih. “Untuk mahasiwa UMM, manfaatkan seluruh program yang ada di UMM, termasuk CoE. Sayang kalau tidak diikuti karena bisa memberikan jalan untuk mendapatakan pekerjaan. Bahkan jauh sebelum diwisuda,” pungkasnya mengakhiri. (*faq/wil)
Konferensi Internasional FPP UMM Beri Solusi SDGs Bidang Pangan

Perbaikan genetik menghasilkan banyak hal, seperti membuat tanaman dan hewan yang lebih efisien. Manusia juga perlu mengelola sumber daya genetik produksi hewan untuk meningkatkan hasil pangan, terutama untuk meningkatkan kesehatan manusia. Hal ini disampaikan oleh Dr. Jose Solis Ramirez selaku rektor Universidad Autónoma Chapingo Mexico, Amerika di 4th International Conference on Bio-Energy & Environmentally Agriculture Technology (ICONBEAT). Acara yang diinisiasi oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini dilaksanakan pada 22 November 2023 lalu, secara luring dan daring. Lebih lanjut, Jose mengatakan, jika ingin memastikan pasokan pangan aman untuk memberi makan populasi global, khususnya dalam hal produksi protein, maka penting untuk mengembangkan rencana pembiakan yang modern dan berkelanjutan. Rencana tersebut harus mempertimbangkan berbagai tren seperti produksi, transduksi, nilai gizi, serta informasi relevan lainnya yang mempengaruhi sistem produksi secara keseluruhan. Dengan melakukan hal ini, kita dapat berusaha mencapai tingkat keuntungan tertinggi. “Program ini merupakan program yang menguntungkan dan membawa perubahan berkelanjutan dalam rata-rata generasi, efisiensi, produktivitas, dan profitabilitas usaha peternakan,” ucap Jose. Ia mengatakan bahwa perlu adanya upaya memperkirakan parameter seleksi dan bobot ekonomi, memilih sistem perbaikan genetik, dan genotipe yang akan diproduksi. Sehingga bisa merancang sistem evaluasi, mengembangkan kriteria seleksi, merancang strategi guna menyebarkan perbaikan genetik, melakukan analisis ekonomi, dan mengkaji skema tersebut. Selain Jose, ada sederet pemateri internasional lain yang memberikan sumbangsih penelitiannya. Seperti misalnya Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, MP. selaku peneliti ahli senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Maximo Larry Lopez Caceres, Ph.D. dari Yamagata University, dan Prof. Francisco Alberto Garcia-Vazquez selaku Doctor of Veterinary Medicine Professor di University of Murcia. Dalam kesempatan itu, Budi Leksono membahas perkembangan terbaru dalam energi terbarukan, khususnya biofuel berbasis kehutanan di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa krisis energi global pada 2006 memicu peningkatan harga bahan bakar fosil. Sehingga mendorong perhatian pada biofuel yang ramah lingkungan. “Terdapat empat alasan utama untuk beralih ke biofuel. Yakni menyusutnya potensi bahan bakar fosil, peningkatan gas karon dioksida yang menyebabkan pemanasan global, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil, serta pencemaran tanah dan air,” jelasnya. Ia juga membahas pengembangan biofuel dari hutan Indonesia, dengan fokus pada tanaman seperti kelapa sawit, kastuba, dan lainnya. Perkembangan teknologi biofuel, terutama dari tanaman non-pangan, dihadapkan pada sejumlah kendala. Tantangannya termasuk di aspek sumber daya serta produktivitas rendah di usia awal tanaman. Selain itu juga biaya produksi tinggi dan kebutuhan untuk kerjasama lintas sektor. Langkah-langkah menuju pengembangan industri biofuel berbasis hutan diuraikan dalam presentasinya. Misalnya saja dengan penelitian genetika, propagasi tanaman, dan penggunaan limbah industri. Kemitraan dengan perusahaan perkebunan energi dan perusahaan perbenihan hutan diperlihatkan sebagai langkah konkrit untuk mewujudkan produksi biofuel skala industri. “Saya tentu berharap pengembangan biofuel dari hutan diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca dan mendukung keberlanjutan energi. Langkah ini juga sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam pemanfaatan energi terbarukan,” pungkas Budi. (*dev/wil)
Penulis Novel Laut Bercerita Beri Tips untuk Penulis Muda di UMM

Ada yang menarik dalam nonton bareng offline Laut Bercerita yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 24 November lalu. Terlihat ada penulis buku Laut Bercerita secara langsung, Leila S. Chudori, di hadapan ratusan peserta. Acara yang digarap program studi (prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia bekerjasama dengan New Book Store UMM itu juga dihadiri salah satu produser, Wisnu Darmawan. Dalam giat tersebut, Leila S. Chudori memaparkan bahwa novel yang ia luncurkan pada tahun 2017 lalu itu terinspirasi dari kisah dari keluarga korban tragedi tahun 1998. Namun dalam isi novel tersebut, digeser menjadi kisah fiksi namun tidak mengubah maksud dan esensi dari nyata. Hal itu ia maksudkan untuk lebih memperhalus dan mempermudah para pembaca dalam mencerna isi dari novel yang ia tulis. “Ini latar belakangnya dari tragedi 1998. Pasti para aktivis sudah paham bagaimana sejarahnya. Namun saya mengambil sudut pandang para korban khususnya dari ibu korban saat anaknya terlibat pada kejadian tersebut. Menurut saya, korban bukan hanya mereka yang terlibat di lapangan, tapi juga par akeluarga yang menunggu di rumah dan merasakan asmosfer kengeriannya,” kata Leila. Pada kesempatan itu, ia juga memberikan beberapa tips kepada para penulis muda untuk memperdalam serta memperluas wawasan dalam menulis sebuah karya fiksi. Antara lain dengan sering membaca novel para penulis yang terkemuka, menonton film, serta memperluas imajinasi untuk menemukan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan. Kemudian dilanjutkan dengan menuliskan segala yang sudah ditemukan dalma proses berpikir. Dia juga berpesan kepada anak muda untuk tidak bosan-bosan dalam menciptakan karya baru. Bisa dengan tulisan, film, produk atau yang lain. Apalagi mengingat bahwa karya itu tidak akan pernah hilang jika sudah jadi dan akan tetap abadi. Terlebih di era digital ini segala informasi bisa terekam bahkan ketika penciptanya sudah tiada. “Saya selalu menyisihkan waktu pada hari Sabtu dan Minggu untuk menulis naskah. Sesempit apapun waktunya, pasit saya sempatkan. Jadi, kalian yang masih muda dan punya banyak waktu harusnya bisa memanfaatkan waktu yang realtif lebih senggang. Ciptakan karya-karya baru yang menggugah,” pungkasnya mengakhiri. (*faq/wil)
Cara Mengatasi Sambaran Petir ala Dosen Teknik UMM

Musim hujan mulai tiba dengan intensitas ringan hingga lebat. Menghadapi perubahan cuaca ini, Machmud Effendy, ST., M.Eng. mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Utamanya saat hujan datang disertai petir. Dia mengatakan, secara prinsip, petir mengandung muatan listrik negatif sehingga akan selalu mengincar sesuatu yang memiliki muatan listrik positif, termasuk diantaranya bumi. Kelalaian masyarakat terhadap munculnya petir cukup berbahaya. Tak jarang pula, kehadirannya menimbulkan kerugian secara material hingga jatuhnya korban jiwa. “Petir kerap mengincar bangunan-bangunan yang tinggi dan luas serta memiliki banyak aliran listrik. Bangunan itu berpotensi lebih besar terkena sambaran petir, seperti misalnya rumah tempat tinggal, fasilitas perkantoran, gedung olahraga, gedung pemerintahan dan gedung-gedung sejenisnya,” jelasnya. Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Machmud menyampaikan, manusia yang merupakan aktor utama, perlu memiliki edukasi yang memadai terkait cara melindungi diri dari petir. Di antaranya dengan memantau ramalan cuaca secara berkala, menjauhi tempat terbuka ketika cuaca buruk, serta meminimalisir penggunaan listrik dan telepon genggam ketika sedang hujan. “Penggunaan listrik dan telepon genggam yang menimbulkan radiasi berpotensi juga menjadi jalur bagi arus petir yang dapat membahayakan manusia. Termasuk juga ketika mengoperasikannya saat berada di dalam mobil,” tambahnya. Selain menjauhi aktivitas yang berhubungan dengan kelistrikan, penggunaan penangkap atau penangkal petir juga menjadi salah satu solusi untuk mengurangi peluang terjadinya sambaran petir. Masyarakat kerap mengira bahwa kedua alat ini sama, tapi pada dasarnya berbeda. Penangkap petir bekerja dengan cara menangkap petir yang menyambar, kemudian menyalurkan ke tanah dengan tegangan serendah-rendahnya. Sementara itu, penangkal petir menggunakan listrik tegangan yang sangat tinggi sehingga petir dapat langsung dimentahkan. “Kesalahpahaan masyarakat ini menjadi bukti kurangnya edukasi dan mispersepsi tentang petir. Meski tujuannya sama, penangkap dan penangkal listrik memiliki fungsi yang berbeda. Penangkap listrik biasanya digunakan pada skala kecil menengah, seperti rumah tangga, industri mikro, hingga gedung perkantoran kecil. Penangkap listrik juga dinilai efisien karena jauh lebih terjangkau dari segi biaya,” ulasnya. Sementara itu, penangkal listrik membutuhkan biaya yang relatif lebih mahal, bahkan mencapai dua puluh kali lipat. Hal tersebut disebabkan oleh mahalnya biaya pembelian alat yang mampu memproduksi listrik hingga tegangan lebih dari 40.000 volt. “Di samping harganya yang cenderung mahal, alat penangkal listrik memiliki jangkauan yang sangat luas. 1 alat penangkal listrik dapat menjangkau bahkan hingga radius 50 meter, sehingga alat ini cocok untuk digunakan dalam lingkup yang lebih luas, seperti kawasan industri, kawasan perkantoran, pabrik dan gedung olahraga. Alat ini juga memiliki berbagai keuntungan lain seperti penggunaan sistem elektro statis, sehingga pantulan listrik yang dihasilkan tidak menimbulkan radiasi apapun yang dapat membahayakan lingkungan maupun manusia,” pungkasnya. (*hil/wil)
Bangun Jembatan Kaca Tidak Boleh Sembarangan, Dosen UMM Sebutkan Tiga Hal Penting

Jembatan dengan bahan dasar utama kaca menjadi tren dalam beberapa waktu ke belakang. Bentuk visual dengan nilai estetika yang tinggi seringkali menjadi pertimbangan utama bagi para developer untuk ikut mengembangkan jembatan yang saat ini sedang viral. Tidak jarang jembatan kaca juga menjadi ikon wisata yang seringkali dijadikan spot foto oleh masyarakat. Salah satunya yang ada di Banyumas, Jawa Tengah. Sayangnya, beberapa waktu lalu terjadi malapetaka, jembatan kaca tersebut pecah dan membuat beberapa pengunjung terperosok. Bahkan satu di antaranya hingga dan tewas seketika. Ironi tersebut menarik perhatian dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Andi Syaiful Amal, MT, IPM, ASEAN Eng. untuk menganalisis supaya kejadian serupa tidak terulang lagi ke depannya. Menurutnya, ada tiga hal mendasar yang perlu diperhatikan dalam membangun jembatan kaca. “Paling tidak, ada tiga hal fundamental ini yang harus diperhatikan, yaitu konstruksi, struktur, serta bahan atau materialnya. Apalagi jika pembangunannya dilakukan di lokasi yang cenderung ekstrem,” ujar pria yang akrab disapa Andi tersebut. Andi menjelaskan bahwa struktur jembatan harus melalui perhitungan yang matang, mulai dari bagaimana pemuaian dan penyusutannya. Baik ketika terkena terik panas matahari maupun hujan dengan suhu udara yang dingin. Bila tidak dipertimbangkan dengan baik, tak menutup kemungkinan jembatan akan sangat mudah mengalami keretakan, atau bahkan pecah dan mengancam keselamatan pengunjung. “Logika sederhana saja, kaca itu salah satu bahan yang rentan mengalami keretakan, jadi kalau tidak diperhitungkan bagaimana situasinya saat ada perubahan suhu yang beragam dalam jangka waktu lama, akan sangat berbahaya. Sekalipun jembatan ini merupakan jembatan penyebrang orang (JPO),” jelasnya. Secara material, jembatan kaca idealnya memiliki tingkat ketebalan kaca 1,5 centimeter. Perlu memperhatikan beban jembatan yang fluktuatif, tingkat keramaian dan berat badan pengunjung, serta pergantian cuaca antara panas dan dingin. Jika terjadi secara terus menerus menyebabkan kaca akan mudah retak. Di akhir, dosen program studi teknik sipil tersebut juga menjabarkan pentingnya melakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui kondisi terkini dari jembatan kaca itu sendiri. Harus ada standarisasi terkait kondisi jembatan. Misalnya dari aspek konstruksinya, apakah ada kaca yang bergeser atau tidak pas, kemudian apakah ada keretakan, apakah bautnya ada yang longgar, dan segala hal yang berkaitan dengan konstruksi. “Semua yang berkaitan dengan struktur, maupun material harus dijaga dan dievaluasi secara berkala sehingga dapat bertahan dan menjadi destinasi wisata yang benar-benar aman bagi masyarakat,” tutupnya. (*hil/wil)
Gabungkan Limbah Tapioka dan Bulu Ayam, Mahasiswa UMM Bikin Bahan Alternatif Makanan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghasilkan inovasi terbaru dengan membuat Xanthan Gum yang biasanya digunakan sebagai bahan pengental makanan untuk saus dan es krim. Saat ini, xanthan gum terbuat dari hasil fermentasi xanthomonas campestris melalui proses kimia substrat sintesis yang mengandung karbon dan nitrogen. Melihat hal tersebut, tim UMM menciptakan inovasi menggunakan limbah tapioka dan pepton ayam untuk pembuatan Xanthan Gum. Salsabila Tazkiyatul Kamila, selaku ketua tim mengatakan bahwa limbah tapioka digunakan untuk menggantikan peran menjadi sumber karbon pada Xanthan Gum. Sedangkan bulu ayam yang dihaluskan berperan sebagai pengganti nitrogen. Membutuhkan proses yang panjang untuk mendapatkan pepton bulu ayam yang diinginkan dalam inovasi ini . Mereka tentu memperhatikan kebersihan dalma pembuatan hal itu mengingat makanan tersebut akan dikonsumsi oleh manusia. “Maka dari itu, bulu ayam dicuci hingga bersih dan juga di keringkan dengan sempurna. Karena jika gagal akan terbuang sia-sia,” ujarnya. Bahkan Salsa menjelaskan bahwa proses ini memerlukan beberapa tahapan higienitas. Di antaranya ukuran bulu ayam diperkecil setelah dibersihkan menggunakan desinfektan dan air mengalir. Selesai dari itu, bulu ayam dihidrolisis di dalam water bath laboratorium yang menggunakan NaOH untuk menetralkan PH yang dimiliki bulu ayam. Kemudian ditambahkan larutan NaCl agar menetralkan bahan yang dipakai. Dilanjutkan menggunakan vacuum pump untuk menghilangkan gas dan udara yang dimiliki, terakhir menghaluskan bulu ayam untuk mendapatkan bubuk pengganti nitrogen. “Proses mendapatkan pepton yang diinginkan lumayan memakan waktu, karena perlu melihat cuaca dan juga lamanya dalam proses di laboratorium” ungkap mahasiswa jurusan Prodi Teknik Pangan angkatan 2020 tersebut. Tidak hanya itu, diperlukan pula takaran limbah tapioka sebanyak 0,4 gr serta suhu 80 derajat untuk dapat membangunkan bakteri sebanyak 5 ml yang akan digunakan dalam pembuatan inovasi ini. Paling tidak membutuhkan 80 menit untuk pengeringan pertama. Ia dan tim berharap, penemuannya ini bisa dilanjutkan ke tahap yang lebih serius seperti uji kelayakan. Apalagi melihat fakta bahwa bahan yang mereka gunakan tidak pernah terpikirkan oleh peneliti lainnya. “Tentu harus ada uji kelayakan sebelum digunakan. Sehingga inovasi ini tidak hanya bagus karena menggunakan limbah tapioka dan bulu ayam, tapi juga benar-benar bermanfaat dan tidak membahayakan,” pungkasnya. (*ri/wil)
Dosen UMM Soroti Guncangan sektor Pertanian di Israel Akibat Konflik

Perang berkepanjangan yang terjadi antara Israel dan Palestina tidak hanya meninggalkan jejak berdarah di medan pertempuran. Tetapi juga berdampak pada banyak aspek, termasuk sektor pertanian. Misalnya saja pertanian di Israel. Kini sektor pertanian Israel bergantung pada pada hasil panen, dengan sebagian besar sayuran dan seperlima buah-buahan. Namun sekarang, pertanian tersebut hanya bergantung pada kerja sukarelawan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Prof. Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si selaku dosen Agribisnis Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti bahwa konflik antara Israel dan Palestina membawa dampak yang mencangkup seluruh spektrum. “Konflik ini tidak hanya merugikan para petani, tetapi juga berdampak pada ketersediaan stok pangan secara keseluruhan di Israel,” ungkapnya. Jabal, sapaannya, menegaskan bahwa perang ini memberikan dampak langsung yang menyentuh jiwa para petani di Israel. Para petani tidak hanya merasakan ketidakpastian akibat konflik yang terus berlanjut, tetapi juga harus menghadapi ancaman nyata dari roket, tentara, dan bahkan ancaman terhadap keluarga mereka. Situasi ini membuat lingkungan kerja menjadi tidak stabil dan berisiko. “Sedangkan, dampak tidak langsung terletak pada suplai sarana produksi pertanian. Khususnya bahan pupuk yang diimpor dari Ukraina dan Italia. Apalagi, sebagian hasil pertanian di Israel juga diekspor. Sehingga, menghambat rantai transportasi, kelancaran ekspor hingga logistik secara keseluruhan,” jelasnya. Lebih lanjut, kenaikan drastis dalam biaya produksi menjadi momok bagi petani Israel. Jabal menekankan bahwa biaya impor bahan pupuk melambung tinggi. Terlebih, dengan nilai USD yang naik hampir mencapai 16 ribu pada 31 Oktober silam. Hal ini menciptakan beban finansial yang signifikan, karena Israel harus menggelontorkan lebih banyak uang lokal untuk mendapatkan mata uang dollar. Memang, saat ini Israel memiliki pola penjagaan ketahanan pangan yang cukup baik, mengoptimalkan produksi dalam negeri maupun luar negeri. Keberhasilan ini ditopang oleh pengelolaan gudang pangan yang tidak dijadikan sasaran oleh Hamas, memberikan stabilitas pada pasokan makanan di negara tersebut. Namun, perkembangan infrastruktur pertanian mengalami hambatan, menyebabkan penurunan produksi dan gangguan pada rantai distribusi keluar. Situasi ini menciptakan tantangan serius yang perlu segera diatasi untuk memastikan kelangsungan ketahanan pangan dan kestabilan ekonomi di masa depan. “Jika konflik ini terus berlanjut, skenario terburuk adalah pertanian di Israel akan menghadapi tantangan serius dalam jangka panjang. Hambatan pada sarana produksi dan ekspor berpotensi menyebabkan peningkatan biaya produksi, penurunan produktivitas, dan kerugian ekonomi yang lebih besar,” tutupnya. (*lai/wil)