UMM Gaet BYU Amerika, Kaji HAM dan Dunia

Konsep hak asasi manusia (HAM) sudah lama dikenal oleh masyarakat luas. HAM sendiri disahkan sejak ditetapkannya di Paris tahun 1948 melalui adanya diskusi dan konferensi. Yang mendasari adanya konsep HAM ialah human dignity atau menghargai antar sesama. Hal ini disampaikan oleh Brett G. Scharffs dalam acara yang diselenggararakan prodi Hubungan Internasional Unievrsitas Muhammadiyah Malang (UMM), November ini. Direktur the Law School’s Internasional center of law and religion studies (ICLRS) itu memberikan paparan di depan ratusan peserta dan mahasiswa. Dalam kesempatan itu adapula penandatanganan kerjasama antara UMM dengan Brigham Young university (BYU), Amerika Serikat. Lebih lanjut, Scharffs mengatakan, bukti konsep human dignity telah diadaptasi jauh sebelum adanya HAM yaitu adanya konstitusi Irlandia. Konstitusi itu mengatakan bahwa dignity dan kebebasan adalah hak individu, kemudian juga konstitusi Jerman yang mengatakan bahwa dignity tidak bisa dibendung. Konsep ini juga diterapkan oleh Indonesia melalui ideologi Pancasila sejak 1945. Adanya Deklarasi Universal Hak Asasi manusia (UDHR) juga menegaskan pentingnya dignity atau martabat. Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam UDHR tanpa terkecuali. Tidak memandang ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat yang berlainan. “Kebebasan hak manusia tertuang pada pasal 1 UDHR yang menyatakan, semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan,” jelas profesor di Brigham Young University itu. Human dignity tak hanya diterapkan pada konsep HAM dan saling menghargai saja, tapi juga diimplementasikan pada konsep beragama. Masayarakat bebas menganut agama yang ia percayai. Bahkan jila dilihat dari perspektif agama, human dignity menjadi dasar kebebasan beragama dan martabat manusia itu sendiri. Ia menyebut cerita Nabi Nuh dan anaknya dalam agama Islam. Saat banjir bandang, nabi nuh memerintahkan anaknya untuk ikut naik ke kapal, namun sang anak menolak dan akhirnya memilih untuk mendaki gunung. “Dari cerita itu dapat disimpulkan bahwa sebenarnya anak Nabi Nuh diberi kebebasan untuk memutuskan apa yang ia ingin lakukan. Begitupun dengan kita yang bebas memilih apa yang kita ingin lakukan dan tidak dapat diganggu gugat,” katanya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengapresiasi kuliah tamu internasional seperti ini. Menurutnya, hal tersebut dapat membuka jendela pengetahuan baru bagi para mahasiswa. Mereka bisa lebih memahami konsep human dignity yang telah diterapkan di Indonesia sejak dulu. “Tentu harapannya anak-anak muda, termasuk mahasiswa UMM bsia menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Saling menghormati dan menyayangi satu sama lain,” pungkasnya. (*tri/wil)
Afdhil, Mahasiswa UMM yang Bawa Pulang Juara di Ajang Tarik Suara

Adalah Afdhil, Mahasiswa Fakultas Psikologi (Fapsi) Angkatan 2021 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih terbaik 3 dalam kejuaraan Bintang Radio Malang yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. Ia menyabet juara tersebut pada 15 November lalu mengalahkan lebih dari 30 peserta lain. Pria yang memiliki hobi bermain basket tersebut mengaku bahwa persiapan yang dilakukannya hanya tiga hari menjelang kejuaraan. Ia mau tidak mau harus mengoptimalkan waktu tersebut untuk melatih dan menciptakan ciri khas sendiri dalam membawakan lagu. Begitupun dengan penguasaan panggung agar tidak grogi. “Dalam kejuaraan tersebut, saya membawakan lagu dari Fabio Asher dengan judul Bertahan Terluka. Untuk bisa menciptakan keuninkan dan karakter saya dalam bernyanyi, saya optimalkan tiga hari untuk menciptakan dan karakter suara itu untuk diri saya sendiri. Selain itu mengaransemen lagunya agar terdengar berbeda. Jadi tidak sama persis nada dan intonasi dari lagu originalnya,” ungkapnya. Dia merasa senang dan bahagia saat meraih penghargaan terbaik 3 tersebut. Terlebih lagi dia berkesempatan untuk lanjut mengikuti kejuaraan Bintang Radio di tingkat Nasional. Tentu, dalam setiap perlombaan pasti ada halangan, termasuk lomba yang diikuti Afdhil. Gugup merupakan salah satunya. Meski ia sering tampil dalam acara besar dan ebrgengsi di UMM, namun beberapa detik di panggung ia merasa grogi. “Saya kan tahu info lombanya cukup mepet dengan waktu pelaksanaan, jadi persiapan juga mendadak. Rasa gugup pasti ada, namun saya membayangkan menyanyi di event-event kampus yang biasa saya isi,” kata Afdhil. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh mahasiwa UMM untuk percaya diri untuk unjuk gigi kemampuan serta bakat dengan mengikuti berbagai kejuaraan. Menurutnya, kompetisi menjadi wadah untuk mengukur kemampuan diri dan melatih mental dalam berkontestasi. “Setiap bakat akan tumpul bahkan hilang jika kita tidak melatih dna mengembangkannya. Harus percaya diri dan berani mencoba hal baru. Apalagi di UMM ada banyak wadah yang bisa diikuti sesuai dengan minat, bakat, serta potensi yang kita miliki masing-masing,” pungkasnya. (*faq/wil)
SIBI UMM, Seminar Internasional Berbahasa Indonesia yang Kaji Lingkungan dan Sosial

Evolusi dunia industri menjadi post-industrial membawa tantangan baru bagi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi dan informasi pada era post-industrial tak dapat dihindari lagi dan menciptakan beberapa tantangan serius. Seperti perubahan sosial, perubahan pendidikan, dan yang paling krusial yaitu adanya perubahan pada alam. Sejalan dengan hal ini, Dr. Gautam Khumar Jha Ph.D. dari Jawaharlal Nehru University, India mengatakan bahwa revolusi ini melahirkan perubahan pola sosial bermasyarakat. Contohnya yaitu perubahan globalisasi yang melahirkan pola konsumsi di mana menunjukkan status sosial atau kekayaan seseorang. “Hal ini disebut dengan pola konsumsi yang mencolok, yakni tiap individu berlomba-lomba untuk membeli barang mewah demi status sosial di masyarakat,” ucapnya di Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 21 November ini. Agenda dengan tajuk ‘Efek Post Industrial dalam Krisis Perubahan Iklim’ itu diikuti ratusan sivitas akademika dari berbagai belahan dunia. Ada yang berasal dari Australia, Hawai, India, Thailand, Vietnam, dan lainnya. Para pakar yang dihadirkan juga dari banyak negara dengan beragam topik menarik yang disajikan. Lebih lanjut, Khumar menyampaikan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat yang berubah dapat menyebabkan beban berat terhadap lingkungan. Pola konsumtif masyarakat ini adalah hasil dari percepatan persebaran informasi dan komunikasi pada lini masyarakat global. Sebagai dampaknya, muncul kebutuhan-kebutuhan palsu dari masyarakat untuk memenuhi hasrat sosialnya. “Karenanya, industri perlu menciptakan produk-produk berkelanjutan untuk keberlangsungan dunia industri. Bukan hanya produk-produk yang cepat usang dan akhirnya mencemari lingkungan,” tambahnya. Salah satu solusi yang ia berikan adalah menerapkan kearifan lokal pada lini masyarakat global untuk menciptakan kearifan yang berkelanjutan. Sehingga mampu menyelesaikan masalah prebuahan iklim. “Misalnya saja seperti pengobatan tradisional di Indonesia dan India yang mencerminkan warisan budaya dan pemahaman lingkungan,” tambahnya. Sementara itu, Islahuddin, M.A. dari Fatoni University, Thailand membenarkan bahwa pendidikan dapat menjadi solusi pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan sosial. Pendidikan mengubah pemahaman masyarakat mengenai keberlanjutan lingkungan. Salah satu penerapannya adalah pendidikan Islam yang dapat menciptakan persaudaraan dan keadilan antar umat beragama. “Hal ini tentu menarik apabila dibawa ke perspektif agama dalam menciptakan sistem keberlanjutan lingkungan,” tambah Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si Wakil Rektor I UMM. Syamsul berharap, pendidikan agama tidak hanya menambah pemahaman mengenai lingkungan saja, tapi juga mengubah perilaku dan pola pikir dari masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah melalui Milad ke-111 kemarin. Memiliki tujuan dan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan hidup yang aman dan damai. Ia juga mengatakan bahwa seminar internasonal itu menjadi wadah yang tepat bagi para praktisi dan sivitas akademika untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Utamanya terkait lingkungan dan perubahan iklim. Selain itu juga menjadi tempat yang bagus untuk mempraktekkan bahas Indonesia, mengingat seminar ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. (*tri/wil)
Dokter UMM Jelaskan Hubungan Olahraga dan Serangan Jantung

Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Pada beberapa kasus, penyakit jantung terjadi pasca berolah raga. Apakah benar olahraga memiliki hubungan dengan terjadinya serangan jantung? Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Dedy Irawan, Sp.JP. memberikan penjelasan. Ia mengatakan benar adanya bahwa olah raga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan serangan jantung. Hal tersebut lantaran olahraga adalah aktivitas fisik yang menyebabkan aktivitas jantung meningkat. Meski demikian, tidak bisa dikatakan bahwa olahraga yang menyebabkan kematian. “Perlu diperhatikan, tidak semua olahraga yang dilakukan itu sudah benar. Jenis olahraga orang yang sehat dengan dengan yang tidak sehat pasti berbeda. Maka dari itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan saat ingin berolahraga,” ucap Dedy. Pertama, ketika berolahraga harus memilih yang sesuai dengan kemampuan. Bagi individu yang masih muda serta memiliki fisik yang kuat dan sehat bisa melakukan olahraga apapun. Berbeda dengan orang yang memiliki riwayat penyakit jantung. Kedua, olahraga rutin dan bertahap. Saat pertama kali berolahraga, kita tidak boleh langsung melakukan olahraga yang berat. “Jika kita memaksakan berolahraga di luar kemampuan, maka jantung tidak akan kuat dan hal ini merupakan salah satu penyebab terjadinya serangan jantung,” tambahnya. Ketiga, penuhi cairan dan nutrisi. Saat berolahraga, seseorang pasti akan kehilangan banyak cairan sehingga menyebabkan dehidrasi dan gangguan elektrolit. Jika terjadi gangguan elektrolit, maka akan terjadi gangguan irama jantung dan dapat menyebabkan serangan jantung. Gangguan irama jantung ialah kondisi dimana ritme jantung tidak teratur. “Terakhir yang mungkin terjadi adalah, memiliki faktor resiko lainnya sehingga menyebabkan orang tersebut meninggal saat berolahraga,” tambahnya. Dedy berkata bahwa belum dapat dipastikan dengan baik penyebab serangan jantung di Indonesia, dikarenakan kurangnya data. Tidak seperti di luar negeri yang memiliki data lengkap pasiennya, terutama data kematian pada atlet. “Memang ada atlet yang meninggal dikarenakan serangan jantung, namun tidak banyak. Penyebabnya bisa karena gangguan irama jantung, gangguan di struktur jantung, serta kelainan lain seperti konsumsi obat-obatan secara berlebih,” jelas Dedy. Gangguan struktur jantung ini dapat berupa jantung bocor, otot jantung menebal, atau pembengkakkan otot jantung. Gangguan struktur jantung ini dapat karena faktor bawaan dari lahir maupun karena faktor umur. Kelainan lain yang menyebabkan serangan jantung ialah mengonsumsi obat-obatan melebihi dosis yang diresepkan, merokok, serta karena pola hidup tidak sehat. Dedy menjealskan, mereka yang memiliki penyakit jantung dan ingin memilih olahraga, harus melakukan medical check up dan melakukan pemeriksaan yang dilakukan denga treadmill test sembari dipasangkan alat-alat. Misalnya seperti Elektrokardiogram (EKG). Setelah itu akan muncul resep yang disingkat dengan FITT (Frequency, Intensity, Type, Time). Frekuensi (frequency) ialah idealnya kita harus berolahraga berapa kali dalam seminggu. Intensitas (intensity) yang di maksud ialah berapa target detak jantung yang harus dicapai pada saat berolaharaga. Lalu, tipe (type) olahraga apa yang cocok dengan kondisi kita. Semisal memiliki penyakit jantung, maka olahraga yang dianjurkan adalah olahraga yang agak aerobik untuk meningkatkan detak jantung. Kemudian, waktu (time) ialah seberapa lama idealnya kita berolaharaga. Olahraga dilakukan secara rutin, yang awalnya dilakukan sekitar 30 menit maka ditingkatkan lagi menjadi 40 menit. Treadmill test ini untuk penilaian kemampuan awal. Hal ini berkelanjutan dan rutin sembari ditingkatkan pelan-pelan intensitasnya. Di akhir, Dedy menyampaikan bahwa penyakit jantung tidak bisa diprediksi dan dapat terjadi dimana saja. “Karenanya, masyarakat Indonesia harus bisa menguasai dan melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD.red), agar tidak bingung saat mengahadapi orang yang tiba-tiba terkena serangan jantung,” pungkasnya. (*dev/wil)
Ustad Dasad Latif Beri Pesan ini Pada Mahasiswa UMM

Menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh menjadi langkah pertama untuk meningkatkan derajat seorang muslim. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh ustad kondang Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D. Ia menyampaikan materi dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 18 November lalu. Menariknya, ada ratusan audiens yang datang, baik sivitas akademika UMM maupun dari peserta umum. “Coba kau tengok nama saya, ada berapa gelar akademisi yang saya miliki, panjang sekali bukan? Itu menjadi salah satu bentuk kecintaan saya dalam mencari ilmu,” sampainya dengan gelak tawa. Dalam acara dengan tajuk ‘Memperkuat Akhlak dan Prestasi Mahasiswa, Menyongsong Indonesia Emas 2024’ itu, ustad yang memiliki dua gelar doktor tersebut menjelaskan, proses dalam menuntut ilmu sangatlah berat, susah, capek, dan terkadang menderita. Namun, dia mengingatkan seluruh audiens dengan mengutip surat Al-Mujadalah ayat 11, yang mana ayat tersebut merupakan janji Allah kepada orang-orang yang berilmu. “Sudah jelas dan jangan ragu dengan janji Allah di Surat Al-Mujadalah ayat 11. Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan,” tegasnya. Menurutnya, salah satu tahap yang harus dipahami orang yang berilmu yakni harus mengedepankan akhlak serta adab yang baik. Akhlak serta adab merupakan bentuk realisasi manusia yang baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dia menggambarkan manusia yang berilmu namun tidak memiliki akhlak serta adab yang baik seperti koruptor dan lebih rendah derajatnya dari seekor binatang. Terakhir, Langkah terakhir yang harus dilakukan untuk meningkatkan derajat seorang muslim itu yakni harus berbakti kepada kedua orang tua. Orang tua telah melahirkan, memebsarkan, serta mendidik sejak kecil hingga dewasa. yang telah melahirkan, membesarkan, serta mendidik sejak kecil hingga dewasa. Hanya dengan rida serta doa kedua orang tua, seseorang bisa sampai pada tingkat kesuksesan. “Kedua orang tua itu kira itu yang paling berjasa. Kau lahir dan hidup sampai sekarang ini berkat orang tua, maka berbaktilah kepada mereka. Begitupun dengan guru atau dosen kalian yang sudah memberi ilmu selama menempuh pendidikan disekolah dan dikampus,” ungkapnya. Dia juga berpesan kepada seluruh peserta untuk tetap menjaga tali silaturahmi antar sesama umat muslim, terutama saat memasuki tahun politik seperti ini. Anak muda terutama mahasiswa, tidak hanya berilmu, tapi juga tidak apatis pad apolitik. Anak muda harus berkontribusi bagi bangsa, apalagi di era menyongsong Indonesia emas 2045. (*faq/wil)
Resmi Dibuka, Student Day UMM Sajikan Ratusan Kegiatan Positif

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu mempunyai cara memacu mahasiswanya untuk ters berprestasi. Salah satu usaha untuk mewujudkan visi tersebut yakni dengan menyelenggarakan Student Day yang dibuka ada 18 November lalu. Agenda tersebut dibuka langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan M.Pd. dan dihadiri oleh riban mahasiswa. Menariknya, ada lebih dari 50 unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bisa dicoba dan diikuti oleh para mahasiswa. Mulai dari UKM bola, futsal, basket, e-sport, golf, film dan lain sebagainya. Para peserta juga bersemangat mengikuti senam pagi setelah prosesi pembukaan terlaksana. Dalam sambutannya, Fauzan mengatakan bahwa kegiatan Student Day diselenggarakan setiap tahunnya untuk mewadahi potensi mahasiswa di berbagai bidang. Dengan begitu, potensi yang cemerlang dapat berkembang dan diharapkan menghasilkan prestasi yang membanggakan. “Student Day telah diselenggarakan dari tahun-tahun sebelumnya. Meski sempat terhalang Covid, hal itu tidak menjadi penghalang kami untuk mewadahi potensi dan minat saudara. Semoga dari kegiatan ini, muncul dan lahir para pemuda yang brilian serta unggul,” katanya. Fauzan juga menegaskan bahwa mahasiswa baru dipersilahkan untuk mengekspresikan dirinya dalam Student Day tahun ini. Maka berbagai hal bsia dicoba dan bisa berpartisipasi hingga akhir proses Student Day. Ada empat bidang yang menjadi fokus utama Student Day tahun ini. Mulai dari vreative thinking, innovation, sport dan art, hingga entrepreneurial. Keempatnya diharapkan bisa melahirkan kualitas akademik, kepemimpinan, dan kewirausahaan yang cemerlang. “Ini menjadi bekal yang bagus bagi para mahasiswa. Apalagi Kampus Putih juga mewadahi berbagai keinginan dna minat mereka melalui UKM, lembaga semi otonom, lembaga intra dan lainnya,” kataKetua Panitia Student Day Dr. Hariyadi, S.Pi, M.Si. Sederet UKM juga menampilkan atraksi dan keahliannya. Ada UKM Marching Band dengan dua lagu terbaiknya, Sansekerta dengan tariannya, Tapak Suci dengan atraksi dan lainnya. keseruan itu membuat para mahasiswa betah mencari UKM yang pas untuk diri masing-masing. Salah satunya mahasiswa baru prodi manajemen, Paul Teller. “Saya sampai bingung mau aktif di UKM apa karena ada puluhan kegiatan menarik. Jadi, tidak hanya berkuliah saja, tapi juga bsia mengembangkan hobi dan meluaskan koneksi. Semoga semua mahasiswa baru bisa mendapatkan UKM yang sesui dengan yang diinginkan,” pungkasnya. (*ri/wil)
Mahasiswa UMM Juara Esai Nasional berkat Solusi Atasi Masalah Laut Cina Selatan

Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di ajang kompetisi Indonesian Foreign Policy Review (IFPR) dengan tema “Indonesia’s ASEAN Chairmanship 2023 : What can Indonesia do?”. Kompetisi itu diselenggarakan di Jakarta oleh International Relation Project UI pada 3 November lalu. Tim UMM sukses meraih juara kedua pada ajang tersebut. Salah satu anggota tim, Gonzaga Alnabe menjelaskan bahwa lomba ini diikuti secara bertim. Terhitung ada puluhan tim yang bersaing. Adapun ia dan timnya menyusun esai dari Juli dan mengirim hasil esainya pada awal bulan November lalu. Topik yang mereka angkat juga menarik, yakni terkait tentang laut Cina selatan yang hingga saat ini masih hangat diperdebatkan di negara ASEAN dan Cina. Mereka juga menyinggung posisi atau peran ASEAN dalam bidang tersebut dan hubungannya dengan Indonesia. “Ada beberapa fokus yang kami tonjolkan. Seperti misalnya pembahasan tentang sejarah, peran dan posisi ASEAN dalam menyikapi peristiwa yang terjadi. Bagaimana peran ekonomi dalam mencegah dan meredakan konflik tersebut dan lain sebagainya,”Kata Gonzaga. Mahasiswa asli Kota Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur (NTB) itu mengatakan, mereka juga menawarkan solusi dalam permasalan tersebt. “Kami menganjurkan untuk membentuk forum komunikasi yang efektif antara ASEAN dan Cina agar terbentuk satu kesatuan suara. Tidak hanya itu, kami juga menawarkan penegakan hukum kelautan yang lebih jelas oleh UNCLOS sehingga ada kepastian hukum,” katanya. Dalam babak final, mereka tidak hanya dinilai oleh para juri tapi juga oleh salah satu anggota inti ASEAN. Hal itu membuat mereka harus menyiapkan mental yang kuat dan mengeluarkan critical thinking terbaik mereka. Berbagai pertanyaan juga sukses mereka jawab dengan baik dan lugas. Cara penyampaian yang menarik dan unik akhirnya membuat mereka membawa pulang juara dua kategori Best Public Speaking dalam ajang kompetisi itu. Saat ini, berbekal juara itu, Gonza dan tim sedang dalam proses pengajuan konversi mata kuliah di UMM. Apalagi UMM memang selalu mendukung mahasiswanya dalam mendulang prestasi. “UMM selalu memfasilitasi mahasiswanya dengan ratusan wadah yang ada. Saya juga bersyukur memiliki teman yang ramah dan mau berproses bersama,” pungkasnya. (Ri/Wil)
Raker MHH Muhammadiyah di UMM Rumuskan Solusi Masalah Bangsa

Berbagai permasalahan kehidupan berbangsa di Indonesia harus disikapi dengan perubahan positif, termasuk pada aspek hukum. Hal itu ditegaskan Ketua Majelis Hukum dan HAM (MHH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Trisno Raharjo, S.H., M.Hum. di Rapat kerja nasional MHH, 10 November lalu. Agenda yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu juga menghadirkan para pakar hukum untuk membahas dan memberikan solusi. Lebih lanjut, Trisno mengatakan, ada sederet penyimpangan hukum di Indonesia, termasuk terkait HAM. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjalankan pendidikan mengenai hukum, khususnya bagi kader Muhammadiyah. Langkah itu diharapkan bisa menyelesaikan problem di tingkat ranting, cabang, daerah, atau bahkan wilayah. “Dengan begitu, permasalahan di berbagai lini bsia diatasis ecara mandiri tanpa bantuan dari pusat secara langsung. Nanti pimpinan pusat akna membantu dalma hal pengawasan dan fasilitas untuk menyelesaikan masalah. Semoga dengan adanya forum ini, akna ada banyak diskusi-diskusi substantif yang sekaligus menjadi paya menemukan berbagai solusi masalah hukum,” katanya. Turut hadir Dr. H. M. Busyro Muqoddas, SH., M.Hum. dalam acara bertajuk ‘Membangun Hukum dan Demokrasi yang Berkeadaban, Berkeadilan untuk Kemajuan”. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah berdiri sejak 112 tahun lalu dan memiliki konsep yang disebut dengan Matan Kepribadian. “Konsep inilah yang menjadikan anggota Muhammadiyah memiliki sikap dan konsep independen dalma kehidupan,” ucapnya. Hal ini diwujudkan dalam bentuk unit-unit usaha bisnis muhammadiyah yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kesehatan. Seperti contohnya UMM yang menjadi salah satu kebanggaan Muhammadiyah dengan beragam unit usahanya. Ini menandakan bahwa Muhammadiyah telah mengimplementasikan konsep tersebut untuk kemajuan bangsa. “Adanya forum ini dapat menjadi bekal dalam merumuskan banyak solusi. Tak hanya itu, bisa juga digunakan sebagai ajang untuk kolaborasi demi membangun bangsa yang semakin baik,” tandasnya Hal serupa juga disampaikan Wakil Rektor IV Kampus Putih UMM, Prof. Dr. Sidik Sunaryo, S.H., M.Si., M.Hum. Menurutnya, saat ini ‘kertas’ menjadi bagian penting dari pengelolaan negara. kertas tersebut bahkan lebih tajam daripada keris atau pedang. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kertas tidak identik dengan kualitas, tidak mencerminkan integritas apalagi moralitas. “Kertas itu bisa berbentuk undang-undang, perpu, putusan MK, putusan pengadilan dan lainnya. Jangan sampai kertas-kertas itu menjelma menjadi keris Kebo Ijo dan memberikan efek negatif bagi negara. Maka, Muhammadiyah dengan para praktisi dan pakarnya harus berada di garis terdepan untukmenyuarakan dan memperjuangkannya,” katanya mengakhiri. (*faq/wil)
Belirefill, Inovasi Isi Ulang Produk Garapan Mahasiswa UMM

Penggunaan plastik masih menjadi permasalahan penting di Indonesia. Hal ini karena plastik merupakan sampah yang sulit terurai. Hal itu menggerakkan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan inovasi untuk mengurangi sampah plastik. Hafidhotudzarofah Sekarningtyas, mahasiswa prodi Psikologi UMM menjelaskan bahwa sebenarnya di Indonesia sudah ada upaya pengurangan penggunaan plastik melalui refill station. Namun, masih ada banyak kekurangan dalam penggunaannya, sehingga timnya ingin mengembangkan inovasi yang lebih baik dan menciptakan kebiasaan baru dengan adanya refill station di Indonesia. “Inovasi yang kami buat ini bernama Belirefill yang memiliki teknologi sinar ultraviolet dan kamera object detection. Alat ini menjadi refill station yang canggih, praktis, dan higienis di Indonesia,” terangnya. Adapun Belirefill merupakan alat isi ulang otomatis. Di mana nantinya alat ini dirancang untuk produk isi ulang produk cair dan padat. Menurutnya, saat ini masih jarang yang memiliki alat isi ulang produk otomatis untuk produk dengan massa jenis padat, karena kebanyakan alat isi ulang berfokus pada produk dengan massa jenis cair. Alat ini juga dilengkapi camera object detection yang bisa mendeteksi kapasitas wadah konsumen, sehingga bisa mengurangi kesalahan jumlah produk yang diisi dan tidak tumpah. Selain itu, terdapat pembersih wadah otomatis, yang bisa dipakai untuk membersihkan wadah konsumen. Dilengkapi juga dengan sinar ultraviolet untuk membunuh mikroorganisem, patogen, dan sterilisasi. Inovasi ini juga di lengkapi dengan adanya aplikasi khusus. “Aplikasi ini nantinya akan dapat mengetahui lokasi Belirefill, mengetahui jumlah produk yang tersedia, apa saja jenisnya, riwayat transaksi, merk, kode produksi, dan tanggal kadaluarsa sebagai upaya pencegahan apabila label pada kemasan telah rusak. Dengan begitu, konsumen tidak perlu membeli produk kemasan plastik. Cukup membawa wadah yang dimiliki dari rumah,” ungkapnya. Menariknya, inovasi ini mendapatkan pendanaan pada PKM 2023 dan mendapatkan Juara 1 Kategori PKM KC-KI-VGK Lomba PKP 2 PKM Pusat Prestasi Mahasiswa (Puspresma) PTMA ke 2 Tahun 2023. Sejauh ini, Belirefill telah menghasilkan alat prototipe yang sudah hampir jadi, tepatnya 99% sudah rampung. Begitupun dengan pengujian untuk sistem dari alatnya. Untuk prototipe aplikasinya sendiri telah sampai pada tahap UI/UX design. “Harapannya alat ini nantinya akan di tempatkan di supermarket atau toko-toko yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Sekaligus dapat mengurangi penggunaan plastik di Indonesia serta memudahkan masyarakat mengisi ulang produk tanpa takut melebihi kapasitas,” pungkasnya. (Nov/Wil)
Gaet Sekolah Korea, Dosen UMM Terapkan Kurikulum Pancasila dan Al-Islam

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, Tim Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gaet Rumah Muslimah Indonesia (Rumaisa) School, Korea Selatan. Tim tersebut terbang ke Korea Selatan dan melakukan penandatanganan MoU secara langsung pada awal November ini. Sebelumnya, mereka telah menyusun dan menjalankan program tersebut sejak Agustus lalu melalui pelatihan daring. Hingga kemudian melakukan pengabdian secara langsung selama satu minggu di sana. Ketua tim Arinta Rezty Wijayaningputri, M.Pd. menjelaskan, program tersebut dibuat untuk meningkatkan literasi berbasis pelajar Pancasila dan nilai Al-Islam yaitu akidah, akhlak, dan ibadah. Terdapat tiga pengajar yang berangkat untuk berkontribusi di Rumaisa School. “Selama satu minggu, kami melakukan pelatihan kepada para pengajar disana. Sistem yang kami gunakan menerapkan sistem kurikulum merdeka berbasis al-Islam. Tentu hal ini karena kami ingin menekankan nilai-nilai pancasila sekaligus ilmu agama,” jelasnya menambahkan. Arinta, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa mereka tergerak untuk membantu Rumaisa School karena melihat belum adanya kurikulum yang jelas dan cara pengajaran yang efektif. Maka, sistem merdeka berbasis Pancasila dan Al-Islam menjadi salah satu upaya yang diharapkan bisa memberikan manfaat lebih. “Di sana kami menerapkan literasi pada anak-anak kategori kelas bawah yaitu kelas 1,2, dan 3. Setiap minggu, kami mengadakan program membaca Alquran dan e-comic berbasis cerita-cerita Islami. Begitupun dengan cerita-cerita budaya Indonesia untuk menanamkan nilia-nilai,” katanya. Menurutnya, membuat dan membaca e-comic menjadi salah satu program penerapan untuk pengajar. Sehingga anak-anak didik bsia tertarik untuk membaca dan meningkatkan literasi. Arinta menambahkan, kerjasama MoU antara kedua belah pihak dinilai bsia berdampak baik bagi generasi dan anak-anak berdarah Indonesia yang bersekolah di Korea Selatan. “Harapannya, anak didik di sana tidak kehilangan nilai-nilai pancasila, budaya Indonesia, dan keislaman. Selain itu juga semoga sistem ini mampu mendorong adanya inovasi-inovasi dalam pendidikan sehingga melahirkan generasi emas penerus bangsa,” pungkasnya. (*ri/wil)