UMM Bangun Ekosistem Wisata Kuliner Halal di Kampus

Ketenangan batin saat menyantap hidangan kini menjadi prioritas utama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia, Kampus Putih terus memperkuat identitasnya sebagai Kampus Islami melalui inisiasi Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). Langkah strategis ini bukan sekadar pemenuhan label, melainkan wujud nyata visi UMM dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan standar kesehatan internasional. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS-P3H) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menegaskan bahwa Zona KHAS hadir untuk menjamin setiap suapan yang dikonsumsi civitas akademika dan tamu kampus telah memenuhi standar syariat sekaligus prosedur higienitas yang ketat. “Kami ingin memastikan ketenangan batin bagi siapa pun yang berkunjung. Melalui Zona KHAS, kualitas gizi dan keamanan pangan terjaga, sementara ekosistem wisata halal di lingkungan kampus semakin kuat,” ujarnya Sebagai langkah konkret, UMM menggelar Focus Group Discussion (FGD) Zona KHAS pada Rabu (15/4) di ruang sidang Wakil Rektor V. Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi lintas sektor yang menghadirkan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang sebagai mitra pendanaan. Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Warkoyo, MP., IPM, saat membuka acara menyatakan bahwa rintisan ini merupakan komitmen jangka panjang. Persiapan telah dimulai sejak delapan bulan lalu melalui serangkaian workshop bagi pelaku UMKM kantin dan pendampingan sertifikasi halal untuk tiga dapur hotel milik UMM. Pria yang juga Dekan Fakultas Pertanian Peternakan UMM itu menyebutkan bahwa untuk tahap awal, terdapat tiga titik prioritas yang akan menjadi pilot project, yakni kantin Fakultas Teknik di GKB III, Kantin Asri, dan kantin Rumah Sakit UMM. Ke depannya, program ini akan diperluas hingga ke area GKB I dan kawasan wisata Sengkaling. Disisi lain, ketua program, Dr. Ir. Asmah Hidayati, M.P., IPM., menjelaskan bahwa dalam waktu dekat akan dilakukan pelatihan Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi para pengelola kantin. Tak hanya itu, pengecekan kualitas air dan pengujian sampel makanan dari bahan tambahan berbahaya seperti boraks dan formalin juga akan dilakukan secara berkala. Targetnya, sekitar 25 tenant kuliner di area prioritas akan segera tersertifikasi. Jika seluruh tahapan berjalan lancar, Zona KHAS UMM dijadwalkan akan diluncurkan secara resmi oleh Gubernur Jawa Timur dalam kurun waktu 2 hingga 4 bulan ke depan. Melalui rintisan ini, UMM tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi pelaku usaha lokal, tetapi juga memantapkan posisinya sebagai pionir kampus yang menyediakan ekosistem halal yang profesional dan penuh keberkahan.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Jaring Pemimpin Muda, UMM Buka Beasiswa Jalur OSIS Tanpa Tes Masuk

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka pintu selebar-lebarnya bagi para pelajar berprestasi untuk meraih impian di bangku perguruan tinggi. Memberikan panggung bagi talenta kepemimpinan, kampus putih secara resmi membuka Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat) yang secara khusus menyasar para pemimpin muda di tingkat sekolah. Program unggulan ini ditujukan bagi para pelajar yang memiliki rekam jejak aktif sebagai pengurus organisasi, mencakup OSIS, MPK, maupun IPM. Menariknya, penerimaan melalui jalur beasiswa prestasi ini memungkinkan calon mahasiswa untuk masuk UMM tanpa harus melalui tahapan tes. Keuntungan yang ditawarkan melalui skema beasiswa ini sangat meringankan biaya pendidikan awal. Para penerima beasiswa berhak mendapatkan benefit berupa potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama dengan besaran mulai dari 50% hingga 75%. Besaran persentase potongan ini nantinya akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih oleh calon mahasiswa. Kesempatan emas ini diperuntukkan bagi lulusan SMA/sederajat dari rentang kelulusan tahun 2024 hingga 2026. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan Jalur prestasi ini disediakan secara khusus bagi calon mahasiswa yang telah membuktikan dedikasinya sebagai pengurus organisasi di tingkat sekolah. UMM sangat menghargai jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi yang diasah melalui keaktifan di OSIS. “Melalui potongan biaya studi ini, kami berharap dapat menjaring dan mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh sebagai pionir pemimpin bangsa di masa depan.” jelasnya Bagi pendaftar yang ingin mengikuti seleksi ini, syarat administratif yang ditetapkan cukup terukur. Calon mahasiswa wajib membuktikan keaktifannya dengan melampirkan Surat Tugas kepengurusan organisasi dari sekolah. Beberapa program studi spesifik seperti Biologi, Matematika, dan PGSD juga mensyaratkan adanya Surat Keterangan Dokter tidak buta warna. Beasiswa Jalur Prestasi ini dibuka pada 1 April hingga ditutup pada 25 Juni 2026. Calon mahasiswa dapat memantau hasil pengumuman kelulusan seleksi secara berkala melalui laman resmi online.umm.ac.id setelah tim seleksi selesai melakukan proses validasi berkas. “Mari bersama-sama mencetak sejarah baru dan menjadi pemimpin masa depan yang tangguh serta berdaya saing global melalui Universitas Muhammadiyah Malang,” tutupnya Juanda.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kebijakan Sapu Bersih Vape Ancam Pekerja Hulu-Hilir, Ini Peringatan Keras Pakar UMM

Wacana pemerintah untuk melarang peredaran rokok elektrik atau vape kini menuai polemik yang tajam. Di satu sisi, langkah represif ini diklaim otoritas kesehatan sebagai tameng pelindung masyarakat, terutama untuk membendung tren penggunaan di kalangan remaja. Namun, kebijakan sapu bersih ini justru memicu sebuah pertanyaan fundamental: apakah pelarangan mutlak ini benar-benar akan menjadi solusi final, atau sekadar bom waktu yang memindahkan krisis ke ruang gelap tak teregulasi sekaligus mematikan urat nadi perekonomian rakyat kecil? Wacana pengetatan produk tembakau alternatif ini sejatinya didorong kekhawatiran atas minimnya payung hukum dan dampak kesehatan. Sayangnya, rencana tersebut dinilai masih terlalu prematur. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. R. Iqbal Robbie, M.M., membedah isu kontroversial ini secara kritis dari kacamata ekonomi. Ia memperingatkan, kebijakan pelarangan tidak bisa dieksekusi dengan kacamata kuda, sebab ada ancaman konsekuensi finansial masif yang mengintai. Target pertama yang akan hancur lebur adalah pelaku usaha ritel yang napas operasionalnya bergantung penuh pada perputaran omzet harian. Ia menjelaskan bahwa tanpa masa transisi dan peta jalan regulasi pemerintah yang jelas, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak akan memiliki ruang untuk beradaptasi secara strategis. “Dampaknya bukan lagi sekadar grafik penjualan yang menukik, melainkan berpotensi memicu hilangnya sumber penghidupan pelaku usaha kecil yang selama ini menggantungkan hidupnya di sektor vape,” tegasnya 17 April lalu pada tim Humas UMM. Lebih jauh, pakar manajemen ini menyoroti ancaman efek domino yang tampaknya luput dari kalkulasi otoritas. Tekanan pelarangan ini bukan cuma menghantam etalase toko ritel di hilir, melainkan bakal meluluhlantakkan seluruh ekosistem rantai pasok industri di hulu. Mulai dari pekerja peracik cairan (liquid), hingga produsen perangkat alat hisap (device), semuanya akan merasakan guncangan struktural yang sama. “Sistem industri ini hidup layaknya sebuah mesin. Ketika satu roda gigi dipaksa berhenti berputar, maka komponen lain dalam rantai tersebut akan ikut rontok. Industri ini memiliki jaring keterhubungan yang kuat, sehingga daya rusak dari pelarangan ini pasti meluas tak terkendali,” paparnya. Masalah lain yang tak kalah pelik adalah asimetri informasi. Iqbal menilai, selama ini publik dijejali narasi ketakutan yang cenderung satu arah. Minimnya edukasi komprehensif membuat vape selalu diposisikan sebagai musuh tunggal tanpa melihat aspek pengurangan bahayanya. “Masyarakat sangat perlu mendapatkan penjelasan yang lebih utuh dan objektif, bukan sekadar pelarangan buta, agar tidak terbentuk persepsi keliru di ruang publik,” urainya. Dari perspektif bisnis, larangan mutlak justru memicu anomali pasar. Para pelaku usaha secara naluriah akan mencari celah (loopholes) demi bertahan hidup, termasuk bermanuver mengalihkan inovasi ke produk-produk modifikasi yang belum tersentuh radar regulasi. Pada akhirnya, sebuah kebijakan publik tidak seharusnya mengambil keputusan krusial secara sepihak dan arogan. “Apapun format kebijakannya, ruang dialog lintas sektoral untuk membicarakan hal ini adalah syarat mutlak. Dengan perumusan bersama, solusi yang dilahirkan tidak akan berpihak pada satu kubu saja, melainkan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan yang lebih luas,” tutupnya.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mesin Pengering Mie Otomatis Karya Mahasiswa UMM, Bisa Pangkas Biaya Produksi dan Waktu Produksi

Cuaca yang tak menentu dan tingginya biaya operasional oven listrik seringkali menjadi hambatan utama bagi produktivitas UMKM, khususnya produsen mie kering. Merespons kebutuhan mendesak masyarakat ini, tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer. Ini adalah solusi mesin pengering canggih, ekonomis, dan praktis yang dirancang khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi UMKM secara masif. Ketua tim, Hanum Salsabila Djirimu, memaparkan bahwa karya ini lahir dari empati dan observasi langsung. Bersama tim solidnya yakni Berlinda Amalia Diami, Aisyah Leilani Salsabillah, Nadhea Aurelie Salsabila, dan Frisca Shannon Alexandra. Mereka blusukan memantau pelaku UMKM mie kering. “Kami melihat mereka masih kewalahan menggunakan oven listrik berkapasitas kecil, di mana waktu pengeringannya bisa menyita waktu lebih dari tiga jam. Dari keresahan itulah, kami bertekad merancang jalan keluar yang lebih efisien,” papar Hanum. Berbeda dengan metode konvensional, alat ini cerdas memadukan sumber panas gas dengan sistem sirkulasi udara mutakhir. Blower di dalamnya memastikan panas tidak hanya mengendap di bawah, tetapi menyebar merata ke seluruh sudut ruang pengering. Lebih canggih lagi, mesin ini dibekali sensor pintar penstabil suhu dan timer otomatis. “Kalau suhu melebihi batas, sistem akan otomatis menyesuaikan. Hasil pengeringan pun jauh lebih konsisten dan pelaku usaha tidak perlu lagi pusing memikirkan cuaca buruk,” tambahnya. Aspek ekonomi juga dipikirkan matang-matang. Tim menyimpulkan bahan bakar gas jauh lebih ramah kantong bagi UMKM ketimbang listrik atau panel surya yang menuntut modal awal fantastis. Prototipe yang menghabiskan dana produksi sekitar tiga juta rupiah ini terbukti ampuh memangkas biaya operasional, menjadikannya investasi yang sangat realistis bagi usaha kecil. Terobosan ini kembali menegaskan komitmen Kampus Putih UMM yang terus mendorong mahasiswanya untuk peka dan hadir memberikan solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Kuncinya hanya berani mencoba dan peka terhadap masalah di sekitar kita. Dari sanalah, inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas bisa lahir,” pungkas Hanum memberikan pesan inspiratif. Keberhasilan tim ini tentu tidak lepas dari tangan dingin sang dosen pembimbing, Adhi Nugraha S.T., M.BA. Ia mengaku sangat bangga melihat anak didiknya mampu menerjemahkan teori-teori keteknikan di ruang kelas menjadi sebuah mesin tepat guna yang langsung menyelesaikan persoalan riil di masyarakat. Menurutnya, analisis tajam yang dilakukan oleh tim membuktikan kematangan mahasiswa dalam melihat masalah, tidak hanya dari segi teknis mesin, tetapi juga dari kacamata keberlangsungan bisnis UMKM. “Saya sangat mengapresiasi kepekaan sosial dan kerja keras tim ini. Mereka tidak sekadar mengejar gengsi dalam berinovasi, tapi juga memikirkan aspek keekonomian agar alat ini benar-benar realistis, bisa dijangkau, dan langsung diaplikasikan oleh pelaku usaha kecil. Inilah esensi sebenarnya dari pendidikan teknik kita, yakni hadir membawa solusi praktis yang mendorong ekonomi warga,” tegasnya. Pada akhirnya, lahirnya inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer ini menjadi bukti nyata kontribusi nyata civitas akademika UMM dalam mendukung kemandirian sektor UMKM. Harapannya, mesin pengering ramah kantong ini tidak hanya berhenti pada etalase pameran atau tahap prototipe, melainkan dapat segera diproduksi massal dan menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kecil di seluruh penjuru negeri untuk terus berkembang dan naik kelas.(*alg/faq)   Penulis: Musthofa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tapak Suci UMM Borong Medali di Paku Bumi Open

Teriakan lantang penuh semangat dalam setiap sesi latihan menjadi energi utama bagi tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kedisiplinan, kekompakan, dan mental juang yang terus diasah terbukti sukses mengantarkan seluruh delegasi atletnya memborong medali pada kejuaraan nasional Paku Bumi Open Championship yang digelar pada 4–5 April di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di kategori Seni Tunggal IPSI, gelar Juara 1 sukses diamankan oleh Nurmalita Aulia di sektor putri dan M. Abdul Rozzaq Naufal di sektor putra. Dominasi tersebut berlanjut pada nomor ganda, di mana pasangan M. Azwin Kurniawan dan M. Allam Imaduddin menyabet Juara 1 Ganda Putra, disusul oleh Balqies Al-Mulkiyah dan Rosyidatul Hasanah yang meraih Juara 1 Ganda Putri. Selain itu, Kelvin Putra Mahendra turut menorehkan prestasi sebagai Juara 2 Tanding Kelas G Putra. Melengkapi pencapaian luar biasa tim ini, medali perunggu masing-masing berhasil dibawa pulang oleh Nurdin Doni Tupen, Jesica Indira Fauzi, Jeryfer Rinda Salsabila, dan Dzakiyah Talita Saki. Ketua UKM Tapak Suci UMM, Rio Esa Prayoga, menjelaskan bahwa prestasi ini lahir dari persiapan panjang dan terencana. “Latihan dilakukan secara rutin lima kali dalam seminggu. Ritme latihan yang terjaga serta suasana kompetitif di internal tim menjadi faktor penting dalam meningkatkan performa,” ungkapnya. Keberhasilan ini juga didukung penuh oleh fasilitas menyeluruh dari pihak kampus—mulai dari pendanaan operasional, transportasi, hingga penyediaan sarana latihan memadai agar atlet bisa fokus mencetak prestasi. Meskipun seluruh atlet membawa pulang medali, Rio mengingatkan bahwa hasil ini tetap menjadi bahan evaluasi menuju target yang lebih optimal. “Tantangan utama dunia olahraga sering kali datang dari dalam diri atlet itu sendiri. Kuncinya adalah membiasakan diri disiplin, menjaga konsistensi, serta memperkuat doa dan ibadah,” tuturnya. Sementara itu, Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., mengungkapkan rasa bangganya atas capaian gemilang tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa universitas akan selalu hadir mendukung pengembangan potensi mahasiswa. “Kami sangat mengapresiasi kerja keras, kedisiplinan, dan mental juara yang ditunjukkan oleh tim Tapak Suci. Prestasi di ajang nasional ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh di bidang non-akademik. Jadikan hasil ini sebagai pemacu semangat untuk mendulang lebih banyak emas di The 1st Muhammadiyah Games 2026 mendatang,” tegasnya. UMM terus berkomitmen menyediakan ekosistem dan fasilitas terbaik guna mencetak generasi berprestasi yang berdaya saing. Melalui sinergi antara semangat pantang menyerah para atlet dan dukungan penuh kampus, tradisi juara ini diharapkan terus berlanjut dan mampu mengharumkan nama almamater di kancah nasional hingga internasional.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Program Terpadu UMM, Lulus S1-S2 Cuma 5 Tahun Biaya Terjangkau Hingga Gratis

Raih dua gelar sekaligus dalam lima tahun bukan lagi sekadar impian. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendobrak tradisi akademik dengan meluncurkan Program Pendidikan S1-S2 Terpadu 10 Semester. Terobosan ini menjadi jawaban atas kebutuhan efisiensi waktu dan biaya bagi mahasiswa yang ingin menuntaskan jenjang sarjana hingga magister secara maraton tanpa jeda. Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran UMM, Zulfatman, Ph.D., menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mempermudah transisi akademik mahasiswa sekaligus memangkas birokrasi dan biaya pendidikan. “Kita ingin membuka peluang selebar-lebarnya kepada alumni UMM untuk melanjutkan studi di kampusnya sendiri. Dengan begitu, adaptasinya lebih mudah, keberlanjutan riset dan publikasinya terjamin, dan yang terpenting pembiayaannya jauh lebih terjangkau dibandingkan jalur reguler,” ungkapnya. Salah satu keunggulan paling menarik dari skema ini adalah fasilitas perkuliahan transisi. Mahasiswa yang telah berada di semester tujuh atau delapan dan sedang fokus mengerjakan skripsi, sudah diperbolehkan mengambil mata kuliah S2 secara gratis. “Nantinya saat resmi menjadi mahasiswa S2, mata kuliah yang sudah diikuti sebelumnya akan langsung dikonversi. Selama masa transisi ini, biayanya jauh lebih murah karena hanya disetarakan dengan biaya semester delapan S1,” jelasnya. Kabar baiknya, jalur istimewa ini tidak bersifat eksklusif. Mahasiswa bertalenta dari berbagai perguruan tinggi luar kampus dipersilakan mendaftar saat mereka resmi menginjak semester tujuh, dengan peluang konversi mata kuliah yang ekuivalen. Mobilitas mahasiswa juga dijamin sangat fleksibel berkat penerapan sistem pembelajaran hybrid dan blended learning. Bahkan, mahasiswa berprestasi tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga uang. “Banyak kemudahan yang bisa dinikmati. Mulai dari proses studi yang cepat selesai, peluang mendapatkan hibah riset dalam maupun luar negeri bersama dosen, hingga potensi besar untuk kuliah S2 secara gratis,” tegas Zulfatman. Saat ini, jalur kesinambungan tersebut telah tersedia untuk 15 Program Studi Magister (S2) dari hampir seluruh rumpun keilmuan S1 di UMM. Pendaftaran program ini dibuka pada setiap awal semester 7 atau 8, bertepatan dengan jadwal pengisian KRS. Untuk dapat bergabung, pendaftar harus berstatus sebagai mahasiswa aktif yang telah menyelesaikan minimal 130 SKS dan telah mengantongi SK Tugas Akhir (Skripsi). Selain itu, calon peserta juga diwajibkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,25, serta membawa surat rekomendasi dari Ketua Program Studi asal yang dibarengi dengan persetujuan dari Kaprodi S2 tujuan. Melalui lompatan strategis ini, UMM menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengutamakan efisiensi. Program S1-S2 Terpadu ini diharapkan menjadi karpet merah bagi generasi muda dalam mengakselerasi diri menjadi tenaga profesional yang berdaya saing global.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantar | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Menjawab Krisis Ekonomi Global, Enam Doktor FEB UMM Rumuskan Strategi Pembangunan Inklusif

Di tengah arus perubahan ekonomi global yang semakin kompleks, kebutuhan pendekatan baru dalam pembangunan berkelanjutan menjadi sangat mendesak. Merespons tantangan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) menyelenggarakan Colloquium Post Doctoral bertajuk “Risalah Ekonomi dan Bisnis Berkemajuan: Integrasi Business Sustainability dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan”. Kegiatan ini digelar Selasa, 14 April 2026, di Aula GKB 4 UMM, sebagai ruang untuk mempertemukan gagasan dan mendiseminasikan hasil riset para dosen yang baru merampungkan studi doktoral. Terdapat enam dosen yang mempresentasikan disertasinya, yakni M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D., Dr. Ida Nuraini, M.Si., Yeyen Pratika, MBA., Ph.D., Dr. Sri Wahjuni L., M.M., Ak., CA., Fika Fitriasari, M.M., Ph.D., dan Novita Ratna Satiti, M.M., Ph.D. Kolokium ini bertujuan memetakan kepakaran dosen sekaligus memperkuat kontribusi keilmuan dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi yang inklusif. Forum ini juga memastikan agar hasil disertasi dapat diaplikasikan lebih luas oleh akademisi dan pemangku kebijakan. Dalam presentasinya, M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D., menyoroti persoalan kemiskinan dan ketimpangan global. Menurutnya, indikator kesejahteraan dari lembaga seperti World Bank dan UNDP masih terlampau materialistik dan belum mencakup aspek moral. Melalui perspektif Islam, ia menawarkan pendekatan holistik yang mengukur kesejahteraan lewat penjagaan terhadap lima dimensi utama: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. “Selama ini kesejahteraan sering diukur dari angka ekonomi semata. Kita perlu indikator utuh. Integrasi nilai spiritual adalah kunci agar pembangunan tidak sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga martabat manusia,” tegasnya. Sementara itu, Dr. Ida Nuraini, M.Si. membahas isu ketimpangan ekonomi wilayah, terutama kesenjangan kawasan barat dan timur Indonesia. Ia mengkritik kebijakan pembangunan daerah yang cenderung copy-paste tanpa menimbang potensi lokal, yang justru berisiko menghambat kesejahteraan masyarakat. “Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Perencanaan pembangunan harus berbasis data serta kebutuhan nyata lokal,” ungkap Ida. Ia kemudian mengusulkan pendekatan berbasis ekologi wilayah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai solusi mengatasi ketimpangan. Disisi lain, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa kolokium ini adalah agenda strategis untuk mengembangkan institusi dan mengidentifikasi kepakaran dosen. Ia mendorong para doktor baru agar segera mengakselerasi kenaikan jabatan akademik. “FEB memiliki potensi besar melahirkan banyak guru besar. Momentum ini penting diiringi inovasi seperti program mikrokredensial dan kolaborasi internasional untuk meningkatkan daya saing institusi,” ujarnya. Secara keseluruhan, kolokium ini menjadi refleksi kritis mengenai arah pembangunan ekonomi di Indonesia. Melalui penegasan akan pentingnya integrasi aspek ekonomi, sosial, dan spiritual, gagasan ini diharapkan berkontribusi nyata dalam mewujudkan ekosistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Buka Jalur Kuliah Tanpa Tes Khusus Konten Kreator

Kabar gembira sekaligus angin segar bagi para kreator muda yang ingin mengasah intelektualitas tanpa harus meninggalkan hobi kreatifnya. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru jalur khusus influencer dan konten kreator mulai 1 April hingga 25 Juni 2026 mendatang. Lewat gebrakan ini, puluhan ribu followers dan portofolio digital di dunia maya kini menjadi ‘paspor’ sakti untuk masuk Kampus Putih tanpa perlu pusing memikirkan ujian tulis. Syarat yang ditawarkan sangat relevan dengan keseharian anak muda masa kini. Para calon pendaftar cukup membuktikan diri dengan kepemilikan minimal 5.000 subscriber di platform YouTube, atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Namun, tingginya angka pengikut bukan satu-satunya tolok ukur. UMM tetap memasang filter ketat: konten yang diproduksi wajib bersifat kreatif, edukatif, dan menularkan energi positif. Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak sedang memburu popularitas semata, melainkan mencari substansi dan rekam jejak digital yang baik. Menanggapi terobosan ini, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa langkah ini adalah bentuk nyata adaptasi kampus terhadap literasi digital generasi Z. Menurutnya, institusi pendidikan tidak boleh tutup mata terhadap lahirnya profesi-profesi baru dari rahim teknologi. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi. Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan fondasi akademik yang matang dan berintegritas,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini adalah investasi strategis untuk mencetak lulusan yang cakap digital sekaligus beretika. “Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya. Dengan hadirnya jalur influencer ini diharapkan tidak hanya menjaring bibit-bibit unggul di ranah digital, tetapi juga mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang proaktif membaca zaman. Kini, saatnya mengubah karya kreatif di dunia maya menjadi tiket menuju masa depan yang cerah.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Women Empowerment Bukan Sekadar Tren, UMM Ajarkan Cara Perempuan Ambil Peran Nyata di Masyarakat

Momentum International Women’s Day kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor. Mewujudkan hal tersebut, Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI). Sinergi ini diwujudkan melalui webinar nasional bertajuk “Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan” pada Kamis (12/3/2026). Mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., webinar ini dihadiri oleh ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Rektor UMJ, Prof. Ma’mun Murod, M.Si., yang menegaskan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” tegasnya. Diskusi utama dalam webinar ini memfokuskan secara tajam pada urgensi pendidikan sebagai instrumen utama pemberdayaan perempuan. Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., selaku Tim Dewan Pakar PSP2A UMM, menegaskan bahwa akses pendidikan adalah langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” papar Tutik. Isu tersebut kemudian diperdalam oleh Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A., Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ia menyoroti secara khusus krusialnya realisasi pemerataan akses pendidikan tersebut hingga ke pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” tegas Rita. Sesi diskusi berlangsung sangat dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog komprehensif mengenai bagaimana cara mengukur kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDGs). Ia juga menyoroti ketersediaan dukungan anggaran pemerintah serta peran krusial masyarakat sipil dalam mengawasi implementasi kebijakan tersebut di lapangan. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi yang terbangun tidak berhenti pada forum diskusi akademik semata. Lebih dari itu, gagasan ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi mewujudkan bangsa yang inklusif, setara, dan berkeadilan.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Cek Anemia Kini Cukup Pakai Kamera HP Berkat Inovasi AI Dosen UMM

Di era yang serba digital, urusan cek kesehatan pun makin praktis dan di ujung jari. Menepis ketakutan banyak orang terhadap jarum suntik, Dosen Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T., sukses menciptakan aplikasi deteksi anemia mandiri. Hanya bermodal kamera smartphone dan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membaca citra mata, tes hemoglobin kini bisa dilakukan kapan saja dari rumah. Terobosan teknologi medis ini tidak digarap secara individual. Lailis menggandeng tim dosen dan mahasiswa Vokasi UMM lintas disiplin, termasuk La Febry Andira Rose Cynthia, S.T., M.T. dan Zulfatman, Ph.D. Lewat kolaborasi ini, mereka berupaya menghadirkan layanan deteksi dini kesehatan yang inklusif, praktis, dan mendobrak ketergantungan pada fasilitas klinis konvensional. “Selama ini banyak orang menunda pemeriksaan karena malas harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani prosedur ambil darah yang tidak nyaman. Padahal, deteksi dini itu krusial untuk mencegah kondisi yang lebih serius. Saya ingin membuat solusi praktis agar masyarakat bisa lebih sadar dan rutin mengecek kesehatannya secara mandiri,” tegas Lailis. Wanita yang juga Dekan Vokasi tersebut menjelaskan, bahwa secara teknis aplikasi tersebut bekerja dengan memanfaatkan citra konjungtiva (selaput lendir) mata sebagai indikator visual. Foto mata yang diambil lewat kamera ponsel akan langsung diproses oleh AI yang telah dilatih dengan basis data khusus. Sistem secara pintar membaca pola kecerahan dan karakteristik warna mata yang berkorelasi dengan kadar hemoglobin (Hb), lalu mengklasifikasikannya menjadi estimasi nilai. Mekanisme ini sukses menggeser praktik uji laboratorium menjadi sekadar sentuhan jari di layar perangkat pribadi. “Yang kami kembangkan bukan sekadar aplikasi, tetapi sebuah sistem canggih yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi kesehatan medis. Proses ini membutuhkan pemodelan yang sangat presisi agar hasilnya tetap akurat ketika dipakai oleh berbagai pengguna dengan kondisi berbeda,” jelasnya. Gagasan revolusioner ini bukan proyek instan. Risetnya bermula dari studi doktoral Lailis di bidang kedokteran yang berfokus pada pemodelan kesehatan melalui variabel citra. Dalam pengembangannya, sistem ini terus “belajar” menghubungkan kondisi mata dengan kadar hemoglobin. Hingga kini, tingkat akurasi aplikasi telah menyentuh kisaran 80 persen, sebuah indikator menjanjikan untuk riset yang masih dalam tahap pengembangan lanjutan. “Karena riset ini bertumpu pada machine learning, maka semakin banyak dan beragam datanya, hasil analisanya akan semakin tajam. Saat ini sistemnya terus kami sempurnakan agar klasifikasinya makin presisi untuk penggunaan massal,” ungkapnya. Ke depan, Lailis memproyeksikan aplikasi ini menjadi alat deteksi mandiri harian bagi masyarakat luas. Secara spesifik, pengembangannya juga difokuskan untuk membantu kelompok rentan yang membutuhkan pemantauan hemoglobin rutin tanpa rasa sakit, seperti ibu hamil. “Harapannya, teknologi seperti ini bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan. Deteksi dini tidak harus selalu menunggu antrean di rumah sakit, tetapi bisa dimulai dari kesadaran individu dari rumah masing-masing untuk memantau kondisi tubuhnya,” tutup Lailis optimis.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman