UMM Dipercaya UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air Dunia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen “Kampus Berdampak” ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Pertama, merespons krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi krisis ini mendesak petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM pun hadir memberikan solusi nyata melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis. Langkah strategis kedua, komitmen UMM turut menyasar pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 Akademisi kampus putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi utama pengerahan ahli ini berfokus pada pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan kapasitasnya sebagai eksekutor melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Lewat fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga berekspansi membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan level dunia dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Cetak Generasi Guru Berdampak, UMM Rancang Modul Ajar untuk Wujudkan Deep Learning

Sebagai wujud komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan abad ke-21, program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan terobosan pada Praktik Pengalaman Lapangan (PPL-1). Bertempat di Teater Dome UMM pada Sabtu (11/4), acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa ini dibuka secara langsung oleh Ketua Tim Kerja PPG UMM, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si. Pada giat tersebut, Dr. Nurwidodo, M.Kes. hadir memaparkan materi strategis bertajuk ‘Pengintegrasian STEM dalam Modul Ajar’. Dalam sesinya, ia menekankan pentingnya integrasi model pembelajaran PM-STEM-PjBL sebagai solusi pendidikan masa depan. Selain Nurwidodo, adapula sederet pemateri lainnya seperti Dr. Erna Yayuk, Fahdian Rahmandani, dan lainnya. Adapun Nurwidodo menjelaskan bahwa filosofi utama dari pembaruan ini adalah penyatuan berbagai pendekatan hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat. Menggunakan integrasi tipe nested atau tersarang, ia menjelaskan bahwa pembelajaran harus bermuatan keterkaitan antar materi untuk mewujudkan deep learning. “Tujuannya adalah menuju pemahaman yang bermakna, keterampilan yang menguat, dan sikap yang positif demi memberdayakan keterampilan hidup abad ke-21,” jelasnya. Model ini memadukan Pendekatan Makna (PM) yang berprinsip pada meaningful, mindful, dan enjoyful. Pendekatan tersebut kemudian dikombinasikan dengan konten STEM yang meliputi sains, teknologi, engineering, dan matematika, serta berproses melalui Project Based Learning (PjBL). Proses pembelajaran terpadu ini diimplementasikan melalui enam tahapan sintaks PjBL, mulai dari merumuskan pertanyaan mendasar, merencanakan proyek, menyusun jadwal, memonitor pelaksanaan, menilai produk, hingga melakukan refleksi. Dari keenam sintaks tersebut, ia menyoroti dua langkah awal sebagai fase paling krusial, yakni merumuskan pertanyaan mendasar dan merencanakan proyek. Menurutnya, fondasi ini sangat menentukan keberhasilan keseluruhan tahapan siswa. “Bila dua langkah ini benar, maka langkah berikutnya akan berada di jalur yang tepat,” tegasnya. Terkait perumusan masalah, ia mengibaratkan pertanyaan mendasar sebagai kunci eksplorasi yang tidak menghendaki jawaban singkat maupun dangkal. Pertanyaan yang baik justru akan mendorong siswa belajar secara mendalam melalui penyelidikan dengan bukti ilmiah, berbasis data, dan disimpulkan secara logis. Untuk merumuskan pertanyaan berkualitas tersebut, Widodo sapaan akrabnya, menyarankan pendidik untuk menggunakan prinsip Aristoteles. Langkah ini dapat dimulai dengan melakukan eksplorasi konsep secara komprehensif, lalu dilanjutkan dengan membuat skema atau peta konsep untuk memetakan potensi masalah. Di samping meningkatkan kualitas instruksional di kelas, implementasi integrasi PM-STEM-PjBL ini ternyata sangat mendukung pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi pengajar. Terdapat dua tujuan utama PTK dalam konteks ini, yaitu mendeskripsikan proses implementasi pendekatan tersebut dan menganalisis peningkatan kemampuan peserta didik. Melalui rancangan modul ajar yang terstruktur, kerangka inovasi pembelajaran ini diharapkan mampu mencapai visi akhirnya. Ia berpesan bahwa esensi sejati dari integrasi ini adalah untuk menjadikan peserta didik lebih baik.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Siap Cetak Generasi Petani Modern dengan Teknologi Berkelanjutan

Isu kedaulatan pangan menjadi tantangan global yang kian mendesak di tengah perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan lonjakan kebutuhan dunia. Menjawab persoalan ini, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk “Achieving Food Sovereignty through the Integration of Smart and Sustainable Agricultural Technologies” pada Rabu, 8 April 2026. Acara ini menghadirkan dua akademisi dari Shandong Agricultural University, China. Dalam paparannya, Zhang Chao, Ph.D. menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian tidak bisa lagi dipisahkan dari pemanfaatan teknologi cerdas. China sudah sukses mengembangkan sistem pertanian modern dengan mengintegrasikan Beidou Navigation, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan platform smart cloud. Integrasi ini memungkinkan pengelolaan lahan pertanian yang presisi, berbasis data, dan adaptif terhadap dinamika lapangan. “Sistem kami mampu menghubungkan sensor, drone, dan jaringan digital dalam satu ekosistem terpadu. Kita bisa menggunakan telepon atau komputer untuk melakukan kontrol jarak jauh. Kehadiran AI dan sistem otomatis menjadi kunci dalam menciptakan pertanian presisi yang minim ketergantungan pada tenaga manual,” jelas Zhang Chao. Ia menambahkan, teknologi ini adalah solusi strategis atas krisis iklim, menjadikan sektor pertanian lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Sementara itu, Xiaoyun Wang, Ph.D. memaparkan capaian teknologi pertanian China, khususnya pada industri sayuran. Pemanfaatan protected agriculture seperti greenhouse terbukti mampu memperpanjang masa tanam, menstabilkan produksi, dan meningkatkan kualitas panen. Didukung inovasi pengelolaan tanah yang komprehensif, China sukses mengukuhkan diri sebagai salah satu eksportir sayuran terbesar di dunia. “Fokus kita adalah bagaimana sistem teknologi China dapat diterapkan di Indonesia untuk mengembangkan industri sayur. Kami berharap inovasi ini tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan kolaborasi lintas negara,” ungkap Wang. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa adopsi teknologi di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi lokal, seperti tingginya curah hujan dan karakteristik khas tanah tropis, agar memberikan manfaat maksimal bagi sektor pertanian nasional. Disisi lain, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., turut menegaskan bahwa dinamika global menuntut kesiapan mahasiswa untuk bersaing di kancah internasional. “The world is getting borderless, yang menandakan bahwa batas geografis bukan lagi penghalang. So prepare yourself to compete in international level,” pesannya. Salis menekankan bahwa masa depan sangat bergantung pada sektor strategis seperti pangan, teknologi, dan energi. Melalui forum internasional ini, UMM tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga memperkuat kapasitas mahasiswa. Dengan sinergi antara teknologi canggih dan sumber daya manusia yang unggul, kedaulatan pangan akan menjadi target yang sangat realistis untuk diwujudkan.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Pakar UMM Jelaskan Alasan Ilmiah Mengapa Baliho “Aku Harus Mati” Membahayakan Kesehatan Mental

Bayangkan Anda sedang melintas di tengah hiruk-pikuk kota, lalu tiba-tiba dihadapkan pada sebuah baliho raksasa bertuliskan kalimat ekstrem “Aku Harus Mati”. Bagi sebagian orang, kalimat ini mungkin sekadar strategi promosi film yang mengundang rasa penasaran. Namun, bagi kelompok rentan yang tengah berjuang dengan kesehatan mental, deretan kata tersebut layaknya belati yang bisa menjadi pemicu fatal. Menyoroti fenomena shock marketing jalanan yang kian meresahkan ini, pakar psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melayangkan teguran keras dan menyebutnya sebagai tindakan ceroboh yang membahayakan nyawa. Dosen Psikologi UMM, May Lia Elfina, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menilai dari kacamata psikologi klinis bahwa pemasangan pesan ekstrem di ruang publik tidak bisa dibenarkan. Ia menekankan adanya perbedaan mendasar antara ruang publik dan bioskop. Bioskop adalah ruang privat di mana audiens secara sadar memilih untuk menonton, sementara ruang publik memaksa semua orang melihat tanpa bisa menghindar. Hal ini menciptakan paparan stimulus psikologis yang sama sekali tidak terkontrol. May menjelaskan bahwa kalimat “Aku Harus Mati” yang bersifat absolut dan tanpa konteks bisa menjadi pemicu yang sangat berbahaya. Bagi individu dengan riwayat depresi, trauma, atau ide bunuh diri, pesan ini seolah memvalidasi pikiran negatif mereka. Apalagi, manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan negativity bias, di mana otak secara otomatis lebih peka menyerap informasi negatif. “Pesan ini sangat berbahaya karena bisa memicu relapse atau serangan panik secara mendadak. Secara psikologis, manusia merespons ancaman melalui melawan, lari, diam, atau tunduk. Melihat pesan sekasar ini bisa langsung mengaktifkan amigdala dan memicu stres akut di tempat,” tegasnya 10 April lalu pada Tim Humas UMM. Ancaman ini menjadi lebih memprihatinkan jika baliho tersebut dilihat oleh anak-anak dan remaja. Mengingat kemampuan regulasi emosi mereka yang belum matang, mereka cenderung menangkap pesan tersebut secara harfiah. Paparan seperti ini berisiko membentuk pola pikir negatif dan menormalisasi gagasan tentang kematian sebagai jalan keluar dari masalah. Lebih lanjut, May menyoroti garis tipis antara edukasi kesehatan mental dan sekadar mencari sensasi. Edukasi yang benar seharusnya memberikan konteks, solusi, dan harapan. Sebaliknya, baliho tersebut dinilai murni mencari sensasi kejut tanpa memedulikan tanggung jawab moral. Promosi isu mental yang provokatif tanpa mencantumkan pesan solusi atau nomor hotline bantuan berisiko tinggi memunculkan Werther effect, yakni fenomena psikologis di mana paparan tentang bunuh diri justru memicu perilaku sugesti pada orang lain. “Mengingat kasus bunuh diri di Malang belakangan ini cukup tinggi, stimulus provokatif seperti ini bisa menjadi penguat risiko yang memperburuk kondisi psikologis masyarakat,” ungkap May memperingatkan dampak fatal dari strategi promosi tersebut. Sebagai solusi, May mendorong industri kreatif untuk lebih bijak. Mengangkat isu kesehatan mental dalam karya film adalah hal yang sah, namun pendekatannya tidak boleh eksploitatif. Pembuat konten harus menerapkan prinsip tidak membahayakan, di mana bentuk promosi wajib dibingkai secara positif dan bertanggung jawab. Melihat besarnya potensi dampak buruk ini, peran ahli dalam mengawasi izin reklame menjadi amat mendesak. Pemerintah daerah memegang kendali penuh untuk menyaring informasi di ruang publik demi keamanan bersama. Kolaborasi strategis dengan psikolog klinis sangat diperlukan untuk menilai tingkat risiko psikologis dari suatu desain iklan sebelum resmi ditayangkan. “Peran pemerintah daerah sangat krusial dalam menyeleksi konten visual reklame. Pelibatan pakar psikologi kini begitu mendesak agar ruang publik kita tetap aman dan ramah mental bagi siapa saja,” pungkas May.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kisah Adrian, Mahasiswa UMM Lolos Magang Internasional, Bikin Inovasi AI Hingga Dilirik Industri Global

Industri semikonduktor dunia menuntut presisi mutlak tanpa ruang untuk kesalahan. Di sinilah Adrian Mutu Hidayat, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengambil peran krusial. Melalui Formosa Talent Internship Program di National Formosa University (NFU) Taiwan, ia tidak sekadar belajar, melainkan meracik algoritma machine learning untuk memprediksi cacat produksi di salah satu sektor paling rahasia dan bernilai tinggi di dunia. Keterlibatan Adrian di NFU, kampus yang dikenal unggul dalam kecerdasan buatan dan industri cerdas membuktikan bahwa pengalaman internasional kini bukan sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan esensial. Sejak Februari 2026, ia terjun langsung dalam aktivitas riset di Lean Management Laboratory, laboratorium yang berfokus pada efisiensi industri dan proses manufaktur berbasis data. Bagi Adrian, atmosfer akademik di Taiwan memberikan kejutan tersendiri karena sangat terintegrasi dengan isu global dan kebutuhan nyata industri. “Di sini hampir semua hal berbasis riset dan data. Bahkan, isu global seperti perang atau kebijakan ekonomi internasional juga dibahas dalam konteks industri,” ungkap Adrian 10 April lalu pada Tim Humas UMM. Yang membuat pengalaman ini semakin signifikan adalah fokus risetnya pada defect prediction (prediksi cacat produksi) guna mengoptimalkan penggunaan bahan baku semikonduktor yang bernilai tinggi. Proyek ini terhubung langsung dengan perusahaan-perusahaan besar dengan tingkat kerahasiaan tinggi, menempatkan mahasiswa sebagai kontributor dalam ekosistem riset strategis. “Dulu saya belum sampai ke tahap ini. Sekarang saya belajar bagaimana melakukan sebuah fokus riset yang lebih spesifik,” jelasnya. Namun, pencapaian ini tentu tidak instan. Adrian mengakui adanya tantangan besar berupa perbedaan standar akademik dan budaya riset. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, dan pola pikir ilmiah yang jauh lebih kuat. “Integrasi internasional di sini sangat terasa. Semua topik diarahkan ke level global, dan itu yang menurut saya masih jarang saya temui sebelumnya,” ujarnya. Di balik keberhasilannya menaklukkan tantangan tersebut, Adrian menegaskan besarnya peran kampus. Dukungan akademik dan administratif dari UMM, khususnya dari pihak program studi yang memberikan fleksibilitas konversi SKS, menjadi kunci kelancaran studinya. “UMM sangat suportif, terutama dalam administrasi dan konversi akademik. Itu yang membuat kami bisa fokus menjalani program ini,” katanya. Langkah berani ini kini membuka jalan yang lebih lebar bagi Adrian. Ia mendapatkan kesempatan fast track menuju jenjang magister di NFU dengan durasi studi yang lebih singkat, sekaligus mengantongi modal penting untuk bersaing di pasar kerja global. Menutup ceritanya, Adrian memberikan pesan tegas kepada sesama mahasiswa UMM agar tidak ragu mengambil peluang internasional. “Kalau ingin merasakan dunia kerja global, program seperti ini sangat layak dicoba. Pengalamannya benar-benar berbeda dan membuka banyak peluang,” pungkasnya. Keberhasilan Adrian menjadi refleksi nyata bahwa UMM tidak hanya mencetak lulusan yang kuat secara teori, tetapi juga siap terjun ke dalam ekosistem riset dan industri global. Di tengah ketatnya persaingan pendidikan tinggi, langkah ini mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang adaptif, progresif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.(alg/faq) Penulis: Mushtafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kembangkan Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Borong Tiga Penghargaan Internasional

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) acapkali diwarnai kendala di lapangan, mulai dari keterlambatan distribusi hingga kasus keracunan. Menjawab keresahan ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Daffa Azmi, merancang inovasi NutriTrack MBG sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu memantau kualitas makanan, memastikan keamanan pangan, serta mencatat data distribusi makanan secara real-time. Berkat invasi tersebut, ia bersama timnya sukses membawa tiga penghargaan sekaligus di ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia–Singapore pada 23-26 Februari lalu. Pemuda asal Banjarbaru tersebut bersama timnya tak tanggung-tanggung memborong tiga kategori bergengsi, yakni First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Daffa menjelaskan, kompetisi tingkat internasional ini menantang pesertanya untuk merumuskan solusi konkret atas berbagai persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Ide timnya murni lahir dari realita evaluasi program MBG di Indonesia. “Program MBG ini adalah langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Tapi faktanya di lapangan masih ada beberapa kasus seperti keracunan, keterlambatan distribusi, sampai makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” jelas Daffa. Berangkat dari masalah tersebut, Daffa dan timnya mempresentasikan NutriTrack MBG di hadapan dewan juri internasional. Aplikasi digital ini dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang berfokus pada keamanan pangan dan ketepatan sasaran. Agar pengawasan dan evaluasi program MBG berjalan transparan, aplikasi ini dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Keunggulan utama dari aplikasi ini mencakup transparansi informasi gizi dan pelacakan distribusi secara real-time. Melalui fitur transparansi gizi, pengguna dapat mengetahui secara pasti kandungan nutrisi dari makanan yang diterima, termasuk rincian jumlah kalori dan protein. Sementara itu, sistem pencatatan distribusi real-time dirancang untuk memastikan transparansi waktu, yang mencakup informasi detail mulai dari jam keberangkatan pengiriman hingga tenggat waktu pesanan tersebut harus sampai di tangan siswa. Gagasan inovatif dan kerja sama tim yang solid ini pada akhirnya berhasil memukau dewan juri. Bagi Daffa, pencapaian ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di kancah global. Pengalaman kompetisi ini juga memberinya perspektif baru yang mendalam. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” tuturnya. Melalui keberhasilannya, Daffa menitipkan pesan bagi generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman. “Kita tidak boleh takut mencoba hal baru. Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” pungkasnya.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bukan Sembarang Pemeringkatan, Dosen UMM Raih Top 100 Dunia

Menembus jajaran elit akademisi tingkat dunia bukan sekadar perkara memperbanyak publikasi, melainkan pembuktian kedalaman dan dampak nyata sebuah karya keilmuan. Prinsip inilah yang mengantarkan Dr. Sholahuddin Al Fatih, M.H., Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menempati daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE baru-baru ini. Capaian prestisius ini menempatkannya sejajar dengan deretan peneliti top dari kampus bergengsi mancanegara, seperti Oxford University (Inggris) hingga Deakin University (Australia). Berbeda dengan ajang pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE secara spesifik menilai rekam jejak individu peneliti di kancah global secara objektif, tanpa memberlakukan skema subscribe berbayar. Fatih menjelaskan, pemeringkatan kredibel ini menggunakan tiga indikator metrik ketat untuk menyaring pilar intelektual sejati. Ketiganya meliputi Research Gravitas untuk mengukur kedalaman intelektual, Olympic Mean yang menyaring konsistensi mutu karya, serta Interaction Credit sebagai apresiasi atas kolaborasi substantif. Seluruh data tersebut dilacak secara murni dari profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. Saat pertama kali mengetahui capaian gemilang ini, pria yang akrab disapa Fatih tersebut sangat mengapresiasi sistem measuresHE yang benar-benar mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominatornya tanpa memandang label nama besar. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke 91” tegasnya 8 April lalu pada Tim Humas UMM. Bukti nyata dari prinsip “riset berdampak” itu tercermin dari salah satu karya unggulannya yang lahir pada masa pandemi 2021 lalu. Riset tersebut membedah tentang ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya. Meski topiknya sangat dekat dengan keseharian, justru di sanalah letak kekuatannya. Fatih mengkaji bagaimana ruang digital mampu memicu dampak nyata, mulai dari tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Kajian ini sekaligus menegaskan bahwa hukum harus hadir secara praktis, dan tidak boleh berhenti hanya di tataran teori. Sepanjang karier akademiknya, Fatih telah menelurkan sekitar 60 artikel terindeks Scopus, 5 artikel di Web of Science Core Collection, dan ratusan karya di Google Scholar. Dari deretan karya tersebut, ia konsisten membedah isu-isu yang bersinggungan langsung dengan masyarakat, seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. Kontribusinya terasa di dua sisi: memperkaya diskursus akademik sekaligus memberikan sudut pandang yang solutif dalam praktik di lapangan. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelas Fatih. Kesuksesan riset Fatih tentu tak lepas dari dukungan ekosistem mumpuni di UMM. Sebagai Kampus Putih yang mengedepankan inovasi, UMM menopang kelancaran riset para dosen melalui akses jurnal primer, fasilitas internet maksimal, hingga pemberian dana insentif publikasi. Ke depan, Fatih berharap kiprah akademisnya ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di kancah internasional. Ia pun membagikan rahasia suksesnya, yakni merawat konsistensi ide dengan rutin mencatat kerangka pemikiran setiap hari. “Capaian ini menjadi dorongan agar UMM semakin dikenal secara global, sekaligus memacu semangat menulis para dosen dan mahasiswa. Riset itu harus memberi dampak nyata. Jadi, mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju!” pesannya memotivasi.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Harga Plastik Meroket 100 Persen, Pakar UMM Beri Jurus Jitu agar UMKM Kuliner Tak Gulung Tikar

Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat imbas memanasnya konflik geopolitik global yang juga membuat melambungnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia kini mencekik operasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Malang. Menghadapi krisis fatal ini, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., mendesak penyelesaian strategis dari dua arah, UMKM harus segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri, sementara pemerintah secara paralel dituntut mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik. Di lapangan, tren kenaikan harga ekstrem ini telah bertransformasi menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek. Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini secara telanjang membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi kepada Tim Humas UMM, (8/4). Kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya memberikan solusi. Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban ini tidak bisa dipikul sendirian. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Intervensi negara adalah kebijakan mutlak yang tidak bisa ditawar. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” imbuh pakar ekonomi tersebut dengan penuh penekanan. Terakhir, Ia menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tak Sekadar Kuliah, FKIP UMM Tawarkan Kesempatan Mengajar Lintas Negara dan Beasiswa Jalur Internasional

Pengalaman belajar lintas budaya dan peluang mengajar di kancah global kini semakin mudah diakses oleh calon mahasiswa. Komitmen ini dibuktikan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui ajang Open House Internasional yang digelar pada Selasa (7/4/2026). Acara ini tidak hanya diikuti oleh siswa sekolah menengah atas dari berbagai sekolah mitra di Malang, tetapi juga dimeriahkan oleh kehadiran siswa internasional dari Attarkiah Islamiah Institute, Narathiwat, Thailand. Kehadiran para siswa disambut hangat oleh jajaran pimpinan FKIP UMM, di antaranya Dekan FKIP Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., Wakil Dekan I Dr. Husama, M.Pd., Wakil Dekan II Dr. Faizin, M.Pd., serta jajaran pimpinan program studi. Dalam sambutannya, Dekan FKIP menekankan bahwa jejaring internasional yang dibangun oleh FKIP UMM bukan sekadar formalitas, melainkan memberikan dampak nyata bagi pengembangan kompetensi mahasiswa. Salah satu program unggulannya adalah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional. “Sebagai bukti nyata komitmen internasionalisasi, FKIP UMM menawarkan kegiatan PLP di berbagai negara, salah satunya di Thailand. Kegiatan ini telah terlaksana sejak lama dan berjalan sukses, baik dalam bidang pendidikan maupun pengabdian oleh dosen-dosen FKIP UMM,” tegas Prof. Mahfud. Tidak hanya menawarkan pengalaman global, ajang ini juga dimanfaatkan untuk membedah peluang beasiswa, khususnya bagi calon mahasiswa internasional. Koordinator Program Mobilitas Internasional di International Relations Office (IRO) UMM, Very Kurnia Aditama, M.Pd., memaparkan berbagai kemudahan akses pendidikan di Kampus Putih. Very menjelaskan sejumlah skema beasiswa bergengsi dari pemerintah Indonesia yang bisa diakses, seperti Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship, The Indonesian Aid Scholarship (TIAS), dan Non-Alignment Movement (NAM) Scholarship. Selain itu, UMM juga memiliki jalur beasiswa mandiri bernama UMM SUMMIT Scholarship. “Beasiswa UMM SUMMIT ini seluruhnya dibiayai oleh kampus UMM dan terbagi dalam dua skema. Kategori A menawarkan pembebasan biaya kuliah penuh, biaya hidup (living allowance), dan program BIPA. Sementara Kategori B menawarkan pembebasan biaya kuliah dan program BIPA,” jelas Very. Rangkaian acara open house ini dirancang interaktif untuk memberikan gambaran utuh mengenai dunia pendidikan tinggi. Melalui sesi diskusi, presentasi program unggulan prodi, hingga campus tour, para peserta diajak melihat langsung fasilitas perkuliahan serta peluang pengembangan akademik dan non-akademik di FKIP UMM. Interaksi lintas budaya yang terjalin antara siswa lokal dan siswa dari Attarkiah Islamiah Institute Thailand selama acara berlangsung menjadi nilai tambah tersendiri. Lewat kegiatan ini, FKIP UMM berharap wawasan global para peserta dapat terbuka lebar, sekaligus semakin mempererat kerja sama pendidikan lintas negara di masa depan.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Soroti Komunikasi Publik Pemerintah, Akademisi UMM Ingatkan RI Masuk Jebakan Krisis Energi

Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman nyata, yakni jebakan krisis energi. Tekanan inflasi yang mengintai serta tren pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi trade-off yang dilematis. Di satu sisi, negara wajib memproteksi daya beli masyarakat kelas bawah yang makin tercekik, namun di sisi lain, kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dijaga agar tidak jebol akibat bengkaknya beban subsidi. Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fitri Rusdianasari, S.E., M.Si., menyebut fenomena ini sebagai ‘jebakan krisis energi’ sebuah kondisi pelik di mana setiap opsi kebijakan publik yang diambil sama-sama membawa risiko ekonomi yang besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan secara bersamaan. Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang seringkali saling bertolak belakang atau menjadi sebuah trade-off,” tegas Fitri pada Selasa (7/4) kepada Tim Humas UMM. Fitri memaparkan, krisis energi selalu memicu efek domino yang sistemik. Kenaikan harga energi sebagai komponen vital akan langsung memukul sektor produksi. Hal ini otomatis mengerek harga barang dan jasa (inflasi), yang pada ujungnya memukul telak daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Untuk meredam gejolak ini, pemerintah kerap menenggak ‘obat pereda nyeri’ berupa kucuran subsidi energi. Meski ampuh menahan gejolak sosial dalam jangka pendek, Fitri memperingatkan bahaya laten dari kebijakan populis tersebut jika tidak dikalibrasi ulang. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi, jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala masif akan menjadi bom waktu yang membebani fiskal, bahkan memicu lonjakan utang negara,” paparnya. Lantas, apa solusinya? Mencabut subsidi secara drastis dan menyerahkannya pada mekanisme pasar jelas bukan pilihan bijak karena akan memicu shock ekonomi di level akar rumput. Menurut Fitri, jalan tengah yang paling rasional adalah mengelola keseimbangan. Transformasi dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi langsung yang tepat sasaran mutlak diperlukan, agar jaring pengaman sosial tetap berfungsi tanpa membuat APBN berdarah-darah. Lebih jauh, pakar ekonomi ini menilai Indonesia sejatinya sudah menginjakkan kaki di jebakan krisis tersebut. Beruntung, Indonesia saat ini masih tertolong oleh bantalan fiskal (fiscal buffer) untuk menahan rambatan harga global. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. “Kita memang masih punya buffer, tetapi itu ada batasnya dan tidak bisa diandalkan terus-menerus. Harus ada langkah strategis dan reformasi struktural, terutama percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), agar kita tidak terus terjebak dalam lingkaran setan ketergantungan fosil ini,” ungkapnya. Sebagai penutup, Fitri menyoroti satu aspek krusial yang kerap luput dalam penanganan krisis: manajemen komunikasi publik pemerintah. Kebijakan sebaik apa pun berpotensi memicu kekacauan jika dibumbui informasi yang simpang siur. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat vital. Publik yang teredukasi dan memahami arah kebijakan pemerintah tidak akan mudah panik, sehingga fenomena kelangkaan semu akibat panic buying bisa dicegah sedini mungkin,” pungkas Fitri.(alg/faq) Penulis: Mushtafa Akmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman