Waspada Predator Berkedok Pembersih, Pakar UMM Bongkar Fakta Mengerikan Invasi Ikan Sapu-Sapu

Di balik tenangnya aliran sungai, tersimpan ancaman ekologis serius yang diam-diam melumpuhkan kelestarian perairan darat kita. Keberadaan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang kerap dianggap sepele, kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Pakar sekaligus Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP., memberikan peringatan keras bahwa ledakan populasi spesies invasif ini berpotensi memicu kolapsnya struktur rantai makanan sekaligus menyapu bersih eksistensi ikan-ikan endemik lokal. Fery sapaan akrabnya menjelaskan, proses perusakan ekosistem ini terjadi melalui tiga mekanisme utama yang saling berkaitan. “Pertama, terjadi kompetisi pakan yang tidak seimbang. Ikan sapu-sapu merebut sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar yang seharusnya menjadi pakan ikan lokal kita,” ungkapnya 23 April lalu pada Tim Humas UMM Mekanisme kedua adalah dominasi biomassa. Spesies invasif ini berkembang biak dengan sangat masif hingga mengambil alih ruang hidup ekosistem, seperti krisis yang kini melanda sungai-sungai di ibu kota Jakarta. Terakhir, kebiasaan ikan ini menggali lubang di tepian sungai menyebabkan erosi parah dan menghancurkan secara fisik tempat pemijahan alami ikan lokal. Yang lebih memprihatinkan, ikan sapu-sapu memiliki sifat omnivora oportunistik. Saat pakan utama menipis, mereka tak segan memangsa telur dan larva ikan endemik. Aktivitas mereka yang terus menyapu dasar perairan juga membuat telur-telur ikan lokal tertimbun sedimen hingga gagal menetas. Spesies perairan bawah seperti nilem, tawes, wader, dan betok pun kini berada di ambang kepunahan lokal. Sulitnya menekan laju populasi spesies ini tidak lepas dari kemampuannya sebagai super survivor. Tubuh ikan sapu-sapu dilindungi oleh pelat keras dan sirip berduri tajam, menjadikannya mangsa yang dihindari oleh predator alami lokal seperti biawak. Tingkat adaptasinya pun ekstrem; mereka mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen yang sangat minim. Merespons kondisi kritis ini, Laboratorium Perikanan UMM mengambil langkah taktis. Fery memaparkan, pihaknya kini tengah gencar melakukan upaya riset, pemijahan, dan pengembangan ikan lokal, khususnya jenis wader. “Tujuan utama kami adalah melakukan restocking. Hasil pemijahan ini nantinya akan kita lepas liarkan secara berkala di Kali Brantas untuk merehabilitasi populasi ikan endemik,” tegasnya. Namun, upaya akademisi saja tidak cukup. Fery mendesak adanya mitigasi komprehensif, mulai dari penangkapan massal untuk menekan biomassa, hingga pemanfaatannya secara ekonomi. Daripada dibuang, ikan ini dapat diolah menjadi bahan baku tepung ikan atau pakan ternak berprotein tinggi, dengan catatan tidak untuk konsumsi manusia jika berasal dari perairan tercemar logam berat. Edukasi publik juga menjadi kunci mutlak. Fery melarang keras kebiasaan masyarakat yang sering melepaskan ikan predator peliharaan dari akuarium ke alam liar. “Ini bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tapi menjaga keseimbangan alamiah. Jika tidak ada sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, kita berisiko besar kehilangan ikan lokal yang menjadi identitas serta penopang ketahanan pangan bangsa,” pungkasnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

​Bongkar Dinamika Konflik AS-Iran, Pakar HI UMM Sebut Nyali Diplomasi Indonesia Masih Tertinggal

Di Antara Konflik AS-Iran: Mampukah Indonesia Berhenti Menjadi Sekadar “Penonton” Global? ​Di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang terus mengguncang stabilitas ekonomi serta keamanan dunia, posisi strategis Indonesia kembali diuji. Pertanyaannya, akankah Indonesia terus bertahan di zona nyaman dengan sikap normatif “cari aman”, atau berani mendobrak batasan untuk tampil sebagai aktor utama dan juru damai dunia? ​Kegelisahan inilah yang memantik diskusi tajam dalam forum Ruang Gagasan bertajuk “Dinamika Geopolitik Global: Implikasi Konflik Amerika–Iran bagi Indonesia”. Acara kolaborasi antara Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, RBC A. Malik Fadjar Institute, dan Program Studi Hubungan Internasional UMM ini diselenggarakan di RBC A. Malik Fadjar Institute pada Kamis, 23 April 2026. Forum ini tidak sekadar membedah anatomi konflik, tetapi membongkar realitas kapasitas diplomasi Indonesia. Guru Besar Hubungan Internasional UMM sekaligus Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menyoroti kecenderungan Indonesia yang berlindung di balik payung hukum internasional. Keputusan untuk tidak secara eksplisit mengutuk Amerika Serikat dan Israel dinilai sebagai langkah menjaga peluang sebagai mediator. Namun, perang tidak dimenangkan oleh norma, melainkan oleh ketahanan sumber daya. ​“Kekuatan narasi yang dibangun Indonesia belum sepenuhnya berdampak pada level internasional. Kebijakan kita masih banyak berada pada tataran konseptual,” tegas Prof. Gonda. Ia juga menggarisbawahi posisi Indonesia yang tertinggal dari negara-negara Eropa dan ASEAN, di mana ketergantungan terhadap kekuatan eksternal masih menjadi kelemahan mendasar. ​ Realitas geopolitik ini juga berdampak langsung pada masyarakat. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D., menjelaskan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik akan cepat merembet ke seluruh ekosistem ekonomi domestik. ​“Dominasi negara-negara besar dalam rantai produksi global mempersempit ruang gerak negara berkembang. Sikap hati-hati Indonesia dinilai realistis, tetapi belum cukup menjadikan kita aktor strategis,” ujar Prof. Hikmahanto. Ambisi menjadi penengah berisiko menjadi wacana hampa tanpa diplomasi yang lebih tegas dan terbuka. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazruddin Malik, M.Si., membedah dinamika ini melalui gagasan “Islam Berkemajuan”. Ia menekankan pentingnya pendekatan moderat dan adaptif. Isu energi, konflik, dan relasi antarnegara menuntut pemahaman komprehensif, dengan peningkatan kapasitas intelektual generasi muda sebagai kuncinya. ​“Perubahan lanskap ekonomi global menempatkan Indonesia pada posisi yang belum kuat. Sebagai negara dengan pasar besar, potensi kita belum diimbangi kekuatan produksi yang memadai,” paparnya. Ia mendesak penguatan industri domestik hingga kemampuan negosiasi internasional agar Indonesia tidak terus bersikap reaktif. ​ Forum ini menegaskan pesan yang jelas bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar memahami konflik global, melainkan menentukan posisi yang tegas. Bersandar pada sikap normatif tanpa kekuatan implementatif berisiko membuat Indonesia terpinggirkan. Tanpa perubahan arah kebijakan yang terukur, Indonesia berpotensi hanya menjadi penonton dalam arena geopolitik yang kian kompetitif.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Fisioterapi UMM Hadirkan Sport Physio, Layanan Sigap Cedera Olahraga

Di balik sorak-sorai penonton dan gemilang prestasi para atlet, ada ancaman tak kasat mata yang selalu mengintai di lapangan: cedera olahraga. Dalam hitungan detik, karier seorang atlet bisa berubah drastis tanpa penanganan tepat. Di sinilah kehadiran tim fisioterapi menjadi sangat krusial sebagai pahlawan pertolongan pertama di arena. Menjawab urgensi tersebut, Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Sport Physio sebagai garda terdepan penanganan cedera. Berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA), Sport Physio UMM telah bertransformasi menjadi laboratorium terapan yang efektif. Peran mereka di lapangan bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu keselamatan atlet. Saat tensi pertandingan memuncak, tim ini dituntut memiliki ketajaman mata untuk mendeteksi gestur tubuh atlet yang mulai kelelahan atau mengalami trauma fisik ringan. Mereka adalah orang pertama yang berlari ke tengah lapangan saat seorang pemain terjatuh, membawa tanggung jawab besar untuk memutuskan apakah sang atlet layak melanjutkan perjuangan atau harus segera dievakuasi demi mencegah kerusakan permanen. Eksistensi Sport Physio UMM di berbagai ajang olahraga baik internal kampus maupun turnamen eksternal menunjukkan kematangan peran mereka. Fokus utama komunitas ini meliputi penguatan keilmuan, aspek kemanusiaan, dan kegawatdaruratan. Mereka bertugas melakukan pendampingan intensif, memastikan kesiapan fisik atlet melalui teknik stretching dan taping sebelum bertanding, serta memberikan intervensi cepat saat insiden terjadi. Ketua Komunitas, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menekankan bahwa di balik aksi sigap di lapangan, terdapat persiapan yang sangat rigidd. “Kami melakukan pembekalan materi dasar sport physiotherapy secara rutin sebelum terjun ke lapangan. Kesiapan alat medis, seperti perbaikan tandu hingga stok coolant spray dan perban, dipastikan dalam kondisi prima. Namun yang terpenting adalah kesiapan mental; kami melatih tim agar tetap tenang dan tidak panik di bawah tekanan atmosfer pertandingan yang provokatif,” ujarnya pada 22 April lalu. Pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., mengapresiasi komunitas ini sebagai wadah pembelajaran aplikatif. Pengalaman ini vital untuk membangun clinical reasoning atau nalar klinis mahasiswa sebelum memasuki dunia profesi. Mahasiswa belajar mengelola coping stress saat harus mengambil keputusan medis di depan ribuan penonton. Ke depan, diharapkan Sport Physio UMM terus melebarkan sayapnya sebagai rujukan utama layanan fisioterapi lapangan di Jawa Timur. Semoga komunitas ini tidak hanya mencetak tenaga medis yang ahli secara teknis, tetapi juga memiliki empati tinggi dalam melindungi impian para atlet. Dengan sinergi antara teori akademik dan praktik profesional, Sport Physio UMM diharapkan menjadi pilar utama dalam menciptakan ekosistem olahraga yang lebih aman dan berprestasi di Indonesia.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dari Penjual Hasil Bumi Hingga Menjadi Sekda, Kisah Inspiratif Akhmad Sugiharto Warnai Wisuda ke-121 UMM

Kesuksesan tidak pernah diraih dalam semalam. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Akhmad Sugiharto, S.T., M.T., Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak, saat membagikan kisah perjalanan hidupnya di hadapan ribuan lulusan pada pergelaran Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4). Berawal dari anak rantau dengan keterbatasan ekonomi yang bahkan sempat berjualan hasil bumi, Akhmad kini sukses memegang jabatan birokrasi strategis berkat ketangguhan mental yang ia tempa di Kampus Putih. Masuk ke Fakultas Teknik Sipil UMM pada tahun 1991, Akhmad merantau ke Malang dengan bekal pas-pasan. Menyadari bangku kuliah bukan sekadar tempat mengejar transkrip nilai, ia aktif berorganisasi dan sengaja memilih tempat kos yang memungkinkannya membaur dengan warga lokal. Ujian sesungguhnya datang pasca-kelulusan pada 1997. Penolakan lamaran kerja yang datang berkali-kali sempat memaksanya memutar otak dengan berjualan hasil bumi. Namun, berkat etos kerja keras warisan keluarga, ketaatan, serta doa orang tua, ia berhasil lolos seleksi CPNS pada tahun 1998 dari titik nol. Titik balik karier puncaknya terjadi pada tahun 2010. Mengawinkan keilmuan Teknik Sipil dari UMM dan kemampuan kolaborasi tim, ia mencetuskan inovasi pembangunan jalan beton (rigid pavement) di Demak. Inovasi yang terbukti jauh lebih awet dari aspal konvensional ini akhirnya sukses direplikasi oleh berbagai daerah di Jawa Tengah. “Pendidikan sejati di UMM adalah tentang belajar cara beradaptasi, bertahan di tengah kondisi yang sulit, serta membangun mentalitas pantang menyerah. Lulusan UMM harus memiliki ketahanan mental yang tangguh saat menghadapi realitas di lapangan. Jangan lupa untuk terus berinovasi, menjaga integritas, dan ingatlah bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, bukan semata-mata dari tingginya jabatan,” tegasnya. Lahirnya alumni berdaya juang tinggi seperti Akhmad selaras dengan sistem pendidikan UMM yang terus bertransformasi. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., menyoroti program Center of Excellence (CoE) UMM sebagai ekosistem penting yang mendidik mahasiswa menghadapi dunia nyata. “Kehadiran program CoE ini menjadi bukti nyata bahwa UMM telah melaju dan terus berkembang secara pesat. Inovasi ini tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa untuk memenangkan ketatnya persaingan di tingkat global, tetapi juga wujud nyata kontribusi Muhammadiyah dalam menghadirkan kebaikan bagi umat, bangsa, dan negara saat mereka terjun ditengah masyarakat,”ungkapnya. Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan komitmen universitas untuk mencetak generasi Thrivers, sosok yang tidak sekadar mampu bertahan di bawah tekanan, tetapi berkembang menjadi pribadi utuh dan cerdas secara emosional. Rektor menuntut lulusan UMM untuk memiliki jiwa juang kompetitif dan bertransformasi menjadi new collar workers yang lincah dan melek teknologi. “Pegang teguh semboyan student today, leaders tomorrow. Jangan hanya mengandalkan kecerdasan di atas kertas. Jadilah pembelajar tangguh yang siap menciptakan lapangan kerja produktif. Anggaplah UMM sebagai ibu kandung kedua kalian, jaga terus ikatan batin ini. Dengan bekal ketahanan mental, kemampuan kolaboratif, dan landasan takwa kepada Allah SWT, melangkahlah dengan penuh percaya diri menyongsong masa depan,” pesannya.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Wisudawan Berprestasi UMM, Kiprah Riri di Kampus Hingga Mengabdi untuk Masyarakat

Siapa sangka inovasi beras artifisial berbahan ekstrak daun bayam merah bisa menjadi tiket emas untuk lulus sarjana tanpa harus menyusun skripsi. Prestasi membanggakan inilah yang diraih oleh Nisrina Nabila Nasywa, mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022. Tak sekadar lulus melalui jalur ekuivalensi, inovasi yang ia buat terbukti nyata mampu menekan angka stunting di masyarakat. Capaian gemilang mahasiswi asal Makassar ini berawal dari keaktifannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Riri sapaan akrabnya menginisiasi proyek bertajuk Stunting Free Zone with Gen Z yang berfokus pada pengentasan stunting di Kelurahan Tlogomas. Bersama timnya, ia menciptakan inovasi pangan berupa beras yang diperkaya dengan ekstrak bayam merah serta berbagai bahan alami kaya zat besi. “Alhamdulillah, program kami tidak hanya sebatas riset di atas kertas, tapi membawa dampak yang sangat nyata. Dalam waktu empat bulan penerapan saja, angka stunting di wilayah tersebut berhasil menurun secara signifikan, dari yang awalnya 12 persen menjadi 6 persen,” ungkapnya. Seakan tak pernah puas berkarya, ia kembali menorehkan prestasi di ajang PKM pada tahun berikutnya. Kali ini, ia menggagas proyek bertajuk Elder-Greens, Partisipasi Gen Z dalam Degradasi Stres Lansia dengan Pendekatan Hydroponic Serenity. Luar biasanya, program ini sukses menembus tingkat nasional dan berujung pada kerja sama resmi dengan Pemerintah Kota Batu untuk diimplementasikan di lingkungan pondok lansia hingga hari ini. “Melalui keberhasilan dan keberlanjutan proyek Elder-Greens inilah, saya akhirnya mendapatkan ekuivalensi untuk lulus tanpa harus menulis skripsi. Rasanya sangat bangga bisa berkontribusi membantu menurunkan tingkat stres para lansia melalui kegiatan hidroponik,” tambahnya. Di balik kesuksesan riset dan pengabdiannya, Riri adalah sosok yang dinamis. Ia dikenal pandai menyeimbangkan kehidupan akademis dengan berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri di kampus. “Sejak semester dua, aku sudah bergabung di Humas sebagai Reporter. Aku juga aktif di BEMFA juga IMM. Selain itu aku juga pernah meraih Juara 1 dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) 2023,” ujarnya. Kepedulian sosial Riri juga tersalurkan melalui perannya sebagai relawan pendidikan. Ia rutin mengajar anak-anak dari kelompok marjinal, seperti anak pemulung dan kaum duafa, melalui program Sekolah Relawan. Agar materi lebih mudah dicerna, ia kerap menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, salah satunya melalui teknik mendongeng. Tak hanya jago di lingkungan kampus dan sosial, Riri juga membekali diri dengan pengalaman profesional lewat program magang di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta pada tahun 2025. Selama empat bulan, ia terlibat aktif dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) perusahaan. “Walaupun 4 bulan tapi aku merasa banyak pengalaman yang berkesan. Di sini aku berkesempatan untuk memberi pelatihan kepada karyawan BUMN dengan psikotes training yang aku berikan,” ceritanya. Bagi Riri, seluruh pengalaman yang ia kumpulkan selama masa kuliah menjadi bekal krusial untuk terus berkembang dan menebar manfaat bagi masyarakat luas. Menutup kisahnya, ia membagikan pesan inspiratif bagi rekan-rekan mahasiswa agar lebih berani mengeksplorasi potensi diri. “Kalau ada kesempatan, langsung dijalankan saja asalkan konsisten dan percaya diri. Jangan ragu-ragu, kalau ada lomba atau kegiatan yang bisa menambah pengalaman ikutin aja, karena dari situ kita akan menemukan peluang,” tutupnya.(rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Raih Penghargaan Bergengsi, UMM Buktikan Keberhasilan Sebagai Pelopor Edu-Sociopreneurship Hingga Kampus Mandiri

Komitmen kuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam memadukan inovasi pendidikan, kemandirian finansial, dan pengabdian masyarakat kembali berbuah manis. Kampus Putih ini resmi dianugerahi penghargaan bergengsi oleh Berita Jatim untuk Kategori Sektor Pendidikan dengan sub-kategori Pelopor Edu-Sociopreneurship dan Ekosistem Kampus Mandiri. Penyerahan penghargaan ini dilangsungkan secara meriah di Ballroom Grand City, Surabaya, pada Selasa (21/4/2026). Menanggapi raihan tersebut, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., menyebut penghargaan ini sangat selaras dengan nilai inti yang diusung kampus, yakni UMM Values. “Pada dasarnya, keberadaan UMM harus bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kami merancang program Tri Dharma Perguruan Tinggi yang pendekatannya adalah memanfaatkan inovasi yang kita hasilkan untuk kebermanfaatan umat,” ujarnya . Predikat Ekosistem Kampus Mandiri yang diraih UMM bukanlah isapan jempol belaka. Bukti nyata terlihat dari kemandirian energi yang telah diterapkan. Indah sapaan akrabnya memaparkan bahwa UMM telah memfungsikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan panel surya. Inovasi ini terbukti mampu menyuplai 40 hingga 50 persen kebutuhan listrik kampus di malam hari, termasuk penerangan jalan. Selain energi, UMM juga membangun kemandirian logistik. Kampus putih juga mengelola lahan pertanian sendiri untuk menyuplai kebutuhan pangan sehat seperti sayur dan telur langsung ke Rumah Sakit UMM. Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS), kemandirian finansial UMM juga ditopang oleh deretan unit bisnis komersial berskala besar. Saat ini, UMM mengelola tiga hotel beserta restoran, SPBU, bengkel yang rutin menjadi tempat magang siswa SMK, hingga Taman Rekreasi Sengkaling. UMM juga mengelola Rumah Sakit Kelas B yang melayani pasien umum maupun BPJS tanpa diskriminasi pelayanan. “Keuntungan dari unit-unit usaha ini mensupport operasional UMM. Sekaligus, unit produksi ini menjadi tempat magang anak-anak, sehingga bisnis dapat menopang kampus secara mandiri,” jelasnya. Menurutnya, penghargaan ini adalah apresiasi yang wajar mengingat rekam jejak UMM yang masif dalam memberdayakan masyarakat, sejalan dengan semboyan Dari UMM untuk Bangsa. “Kami bahkan memiliki program yang men-support pemerintah untuk mengatasi stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT. UMM tidak ragu mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk membantu ke sana,” tutup Prof. Indah menegaskan kiprah sosiopreneur UMM di tingkat nasional.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Hadirkan Peneliti Austria Bedah Teknologi Bioreaktor

Mengubah ruang laboratorium menjadi pusat inovasi kelas dunia bukan lagi sekadar wacana bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Guna mendongkrak kapasitas riset dosen eksakta, “Kampus Putih” menggandeng dua ilmuwan muda asal Austria untuk membedah kecanggihan teknologi bioreaktor mutakhir. Gebrakan ini tersaji apik dalam forum “Sharing Session: Microbial Growth and Data Analysis” pada Senin (20/4/2026). Pada sesi pertama, Edo Damilyan, M.Sc., peneliti dari University of Vienna, Austria, mengupas tuntas rahasia biologi sel lewat analogi yang segar. Ia mengibaratkan sel mikroba layaknya sebuah sistem ekonomi pabrik yang harus mengatur efisiensi sumber daya demi bertahan hidup. “Biologi sel mengandung banyak proses ekonomi, di mana sel mengubah input menjadi output di bawah batasan tertentu untuk memaksimalkan keuntungan pertumbuhannya,” papar Edo. Menurutnya, pemahaman tentang fase steady-state (kondisi stabil) pada bakteri sangat krusial, terutama bagi para peneliti di bidang farmasi dan biologi. Kondisi ini dibutuhkan untuk meneliti produksi metabolit aktif secara akurat. Edo menekankan bahwa pemanfaatan teknologi bioreaktor mutlak diperlukan agar eksperimen berjalan presisi dan efisien, tanpa harus membuang banyak tenaga manual. Melengkapi paparan tersebut, Catalin Rusnac, M.Sc. dari IMC Krems University, Austria, tampil membawakan demonstrasi alat secara langsung. Ia memamerkan purwarupa RepliFactory, sebuah bioreaktor otomatis bersistem open-source. Catalin memperlihatkan cara kerja pergerakan cairan medium dan bagaimana sensor optical density (OD) menembakkan cahaya untuk mengukur pertumbuhan sel. Teknologi canggih ini memungkinkan peneliti mengatur tingkat stres pada bakteri guna memantau mutasi genetik adaptif. Tak pelak, demonstrasi ini memantik antusiasme luar biasa dari para dosen yang hadir. “Dengan alat ini, kita dapat menjalankan program eksperimen simulasi selama berminggu-minggu secara otomatis, dan memantaunya langsung dari mana saja melalui koneksi internet,” ungkap Catalin. Kehadiran praktisi Eropa ini sejalan dengan peta jalan UMM yang bersiap memasuki fase daya saing internasional secara utuh. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menegaskan bahwa forum saintifik ini adalah jembatan strategis untuk memecahkan kendala teknis metodologi riset sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kampus. “Pertemuan ini menjadi langkah awal. Harapannya, keluar dari ruangan ini para dosen memiliki motivasi yang tinggi untuk segera menempuh studi lanjut doktoral di luar negeri,” tegas Tri. Ia juga memproyeksikan lahirnya peluang kolaborasi penelitian yang erat dan berkesinambungan antara UMM dengan kampus-kampus di daratan Eropa. Komitmen serupa disuarakan oleh Wakil Rektor IV UMM, Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menyoroti bahwa fokus riset ilmu eksakta akan diproyeksikan menjadi ujung tombak publikasi UMM di masa depan. Pengajar didorong untuk tidak hanya mengandalkan literatur lokal, melainkan berani terpapar wawasan global. “Internasionalisasi tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita selaku pengajar juga tidak memiliki kapasitas, kemampuan teknis, dan wawasan yang sifatnya benar-benar internasional,” pungkas Salis.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Memaknai Hari Kartini, Wisuda ke-121 UMM Optimis Lahirkan Perempuan yang Berdampak

Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026 ini menjadi konteks penting dalam pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga mengingatkan kembali pada gagasan emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka menjadi semakin relevan. Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM ini pun menghadirkan refleksi bahwa gelar akademik harus beriringan dengan tanggung jawab sosial yang konkret. Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang Makin Sejahtera, menjadi topik penting yang disampaikan Ira Puspadewi, Ph.D dalam orasinya. Ia menekankan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan sumber daya manusia, bukan semata faktor geografis. Ia menyoroti rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan serius yang harus segera direspons, terutama oleh kalangan terdidik yang memiliki akses dan kapasitas untuk mendorong perubahan. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Lebih lanjut, wanita yang merupakam Direktur ASDP Periode 2017-2024 itu menegaskan bahwa tantangan terbesar tidak hanya pada struktur sosial, tetapi juga pada persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting bagi setiap individu untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, ia juga menyoroti peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Pandangan yang sejalan juga disampaikan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kampus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap perubahan global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus mendorong lahirnya inovator dan problem solver di masyarakat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik berlangsungnya prosesi wisuda yang khidmat, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada capaian akademik semata. Para lulusan dihadapkan pada realitas bahwa tantangan sesungguhnya dimulai setelah menyandang gelar, ketika kemampuan, integritas, dan keberanian diuji di tengah masyarakat. Dengan demikian, wisuda tidak hanya menjadi penutup perjalanan pendidikan, tetapi juga titik awal untuk membuktikan peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia |  Editor:Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kiprah Lulusan CoE UMM, Giyang Sukses Bangun Tambak Udang Sendiri

Di saat banyak sarjana muda masih sibuk mencari lowongan kerja, Muh Giyang Van Permana justru mantap membangun lapangan kerjanya sendiri. Alumni Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini terbukti sukses mengelola tambak udang pribadinya di Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Kunci kesuksesannya bukanlah jalan pintas, melainkan buah dari tempaan ilmu praktis melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Udang di Kampus Putih. Pria yang akrab disapa Giyang ini sudah membidik jurusan perikanan sejak awal kuliah. Ia jeli melihat besarnya potensi pesisir tanah kelahirannya di Situbondo. Langkahnya untuk terjun ke industri ini semakin tajam saat ia memutuskan bergabung dengan kelas profesional CoE Udang UMM. Menurutnya, program inovatif tersebut memberikan ruang pembelajaran komprehensif yang jarang didapat di kelas teori konvensional. Giyang dibekali keahlian spesifik secara mendalam, mulai dari tata kelola kualitas air, manajemen budidaya, hingga praktik langsung menghadapi realitas lapangan. Bekal teknis tersebut menjadi senjata utama, ia saat ini mengelola tambaknya sendiri. Tak gentar saat harus berhadapan dengan dinamika cuaca ekstrem dan fluktuasi kondisi air tambak yang berisiko tinggi. Insting dan kemampuan analisisnya diuji langsung saat harus menjaga kestabilan air, menentukan racikan mineral dan probiotik yang presisi, hingga menjinakkan masalah plankton blooming. “Ilmunya benar-benar terpakai di dunia kerja. Apalagi untuk menjaga kualitas air dan menentukan treatment apa yang harus dipakai saat kondisi air berubah, itu semua menjadi lebih terarah berkat program CoE,” tegasnya. Meski demikian, merintis bisnis tambak mandiri bukan perkara ringan. Giyang mengaku sempat dihantui rasa kurang percaya diri saat harus memegang kendali penuh atas bisnis yang menuntut ketelitian dan adaptasi ketat ini. Namun, keraguannya terpatahkan oleh kuatnya dukungan keluarga dan jejaring solidaritas alumni UMM. “Awalnya saya sempat ragu karena merasa belum terlalu menguasai. Namun, berkat bimbingan senior-senior UMM yang sudah lebih dulu terjun menjadi teknisi tambak, ditambah pengalaman dari orang tua, saya jadi jauh lebih mudah beradaptasi dengan ritme kerjanya,” ujar Giyang. Kini, roda operasional tambak milik Giyang di Demung Barat terus berputar lancar. Strategi pemasarannya pun terbilang cerdik. Ia menerapkan sistem lelang panen kepada pengepul demi mengamankan harga jual tertinggi secara tunai. Pencapaian Giyang menjadi bukti autentik bahwa kurikulum praktis seperti CoE UMM tidak sekadar mencetak lulusan dengan ijazah, tetapi melahirkan wirausahawan tangguh yang siap bersaing di industri perikanan. Ia pun berharap mahasiswa lain mau memaksimalkan fasilitas dan program kampus agar memiliki daya saing yang sama. “Pesan saya, jangan pernah takut melangkah. Coba dulu saja, nanti kita pasti akan tahu hasilnya,” pungkasnya memotivasi.(rik)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kiprah Lulusan CoE UMM, Giyang Sukses Bangun Tambak Udang Sendiri

Di saat banyak sarjana muda masih sibuk mencari lowongan kerja, Muh Giyang Van Permana justru mantap membangun lapangan kerjanya sendiri. Alumni Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini terbukti sukses mengelola tambak udang pribadinya di Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Kunci kesuksesannya bukanlah jalan pintas, melainkan buah dari tempaan ilmu praktis melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Udang di Kampus Putih. Pria yang akrab disapa Giyang ini sudah membidik jurusan perikanan sejak awal kuliah. Ia jeli melihat besarnya potensi pesisir tanah kelahirannya di Situbondo. Langkahnya untuk terjun ke industri ini semakin tajam saat ia memutuskan bergabung dengan kelas profesional CoE Udang UMM. Menurutnya, program inovatif tersebut memberikan ruang pembelajaran komprehensif yang jarang didapat di kelas teori konvensional. Giyang dibekali keahlian spesifik secara mendalam, mulai dari tata kelola kualitas air, manajemen budidaya, hingga praktik langsung menghadapi realitas lapangan. Bekal teknis tersebut menjadi senjata utama, ia saat ini mengelola tambaknya sendiri. Tak gentar saat harus berhadapan dengan dinamika cuaca ekstrem dan fluktuasi kondisi air tambak yang berisiko tinggi. Insting dan kemampuan analisisnya diuji langsung saat harus menjaga kestabilan air, menentukan racikan mineral dan probiotik yang presisi, hingga menjinakkan masalah plankton blooming. “Ilmunya benar-benar terpakai di dunia kerja. Apalagi untuk menjaga kualitas air dan menentukan treatment apa yang harus dipakai saat kondisi air berubah, itu semua menjadi lebih terarah berkat program CoE,” tegasnya. Meski demikian, merintis bisnis tambak mandiri bukan perkara ringan. Giyang mengaku sempat dihantui rasa kurang percaya diri saat harus memegang kendali penuh atas bisnis yang menuntut ketelitian dan adaptasi ketat ini. Namun, keraguannya terpatahkan oleh kuatnya dukungan keluarga dan jejaring solidaritas alumni UMM. “Awalnya saya sempat ragu karena merasa belum terlalu menguasai. Namun, berkat bimbingan senior-senior UMM yang sudah lebih dulu terjun menjadi teknisi tambak, ditambah pengalaman dari orang tua, saya jadi jauh lebih mudah beradaptasi dengan ritme kerjanya,” ujar Giyang. Kini, roda operasional tambak milik Giyang di Demung Barat terus berputar lancar. Strategi pemasarannya pun terbilang cerdik. Ia menerapkan sistem lelang panen kepada pengepul demi mengamankan harga jual tertinggi secara tunai. Pencapaian Giyang menjadi bukti autentik bahwa kurikulum praktis seperti CoE UMM tidak sekadar mencetak lulusan dengan ijazah, tetapi melahirkan wirausahawan tangguh yang siap bersaing di industri perikanan. Ia pun berharap mahasiswa lain mau memaksimalkan fasilitas dan program kampus agar memiliki daya saing yang sama. “Pesan saya, jangan pernah takut melangkah. Coba dulu saja, nanti kita pasti akan tahu hasilnya,” pungkasnya memotivasi.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman