Etika dan Kesopanan Perlahan Luntur, Begini Solusi Dosen UMM

Seiring berkembangnya zaman, banyak anak muda yang mulai melupakan kesopanan dan etika terhadap lingkungan sosial mereka. Tata krama, peradaban dan kesusilaan perlahan juga mulai luntur dan hilang. Hal itu memunculkan banyak komentar, salah satunya dari Dr. Nurul Zuriah, M.Si. selaku dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Nurul, sapaannya, menilai bahwa hilangnya kesopanan dan etika pada anak-anak zaman sekarang terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya pengaruh media sosial, kurangnya pengawasan orang tua, tidak adanya pendidikan etika, dan meluasnya budaya konsumerisme. Termasuk juga kurangnya contoh positif serta perkembangan teknologi dan kehidupan yang berubah begitu cepat. “Dalam hal ini, lembaga pendidikan dan keluarga berperan besar. Utamanya untuk membentuk nilai-nilai, karakter, dan moral generasi muda. Kolaborasi antara keduanya sangat diperlukan untuk menghadapi fenomena ini,” tegasnya. Nurul menilai, ada beberapa strategi yang dapat diimplementasikan oleh lembaga pendidikan. Misalnya dengan pengajaran nilai etika dan sosial. Sekolah harus mampu mengintegrasikan pelajaran tentang nilai-nilai etika, kesopanan, dan keterampilan sosial dalam kurikulum. Ini dapat dilakukan melalui pelajaran khusus, seminar, atau bahkan pengalaman praktis. “Pada pengembangan program karakter, sekolah dan perguruan tinggi dapat membuat program khusus yang bertujuan mengembangkan kepribadian siswa. Di dalamnya memuat nilai-nilai kesopanan, empati, kerjasama, dan integritas,” tambahnya. Diskusi tentang isu-isu etika dan moral kontemporer juga bisa jadi salah satu pemantik yang melatih cara berpikir kritis. Utamanya tentang dilema moral dan mengasah kemampuan mengambil keputusan etis. Selain itu, siswa juga perlu dilatih dalam keterampilan sosial, seperti komunikasi yang efektif, penyelesaian konflik dan kerjasama. Ini agar mereka siap menghadapi interaksi dunia nyata. Dari sisi orang tua, Nurul menegaskan perlunya contoh atau teladan positif.  Baik dalam perilaku, etika, dan kesopanan. Orang tua harus mempraktikkan nilai-nilai ini dalam interaksi sehari-hari agar anak-anak bisa mencontoh perilaku yang benar. “Perlu dibangun pula komunikasi terbuka dengan anak-anak. Ini memungkinkan mereka untuk membahas isu-isu etika dan moral serta mengajukan pertanyaan,” tambahnya. Pengawasan konten digital juga harus dilakukan. Akses anak-anak ke konten digital yang tidak pantas dan tidak sesua dengan etika dan norma sosial harus dibatasi. “Penting untuk melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan dan keluarga, kita dapat mengatasi tantangan hilangnya kesopanan dan etika pada anak-anak zaman sekarang. Kesadaran dan pendekatan yang holistik sangat penting untuk membentuk generasi yang memiliki karakter beretika yang kuat dan mampu berinteraksi dengan sopan dan hormat,” pungkasnya. (Fat/Wil)

Hadir di Haul Akbar, Muhadjir Ajak Masyarakat Mendoakan Bangsa dan Mendoakan Para Pejuang

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. hadiri Haul Akbar dan Doa Bersama Untuk Negeri, 1 September 2023 lalu. Turut hadir ratusan ulama dan pemuka agama, para kyai dari berbagai pesantren serta ribuan jamaah, para santri, masyarakat umum, berbagai tokoh lainnya hingga kesultanan. Haul yang juga menjadi wadah silaturahmi dan doa bersama itu dilaksanakan di Ponpes Assalam, Sumberejo, Kandat, Kediri. Tidak banyak yang tahu bahwa Muhadjir merupakan keturunan ke-6 dari Kyai Ageng Basyariyah atau Raden Bagus Harun. Nenek moyang yang sama dengan Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Banyak pula tokoh-tokoh nasional dan pesantren yang dilahirkan, baik itu pada masa lampau maupun sekarang. Misalnya saja Mbah Sambu Lasem, Mbah Maimun Jubair KH. Ahfas Faishol Baidlowi Lasem, hingga Gus Baha, dan lainnya. Hal itu juga yang membuat Muhadjir sangat dekat dengan para kyai di kalangan Nahdhatul Ulama (NU). Pada kesempatan tersebut, Muhadjir  menyampaikan bahwa momen haul menjadi tempat untuk meneladani semangat nenek moyang yang telah mensyiarkan agama islam di tanah Indonesia. Selain itu, perjuangan itupula yang menjadi cikal bakal upaya mengangkat harkat dan martabat masyarakat pada zaman sebelum kemerdekaan Indonesia. “Tokoh-tokoh besar pendahulu kemerdekaan, para kyai, dan nenek moyang yang berjuang sebelum kemerdekaan memiliki peran penting dalam mencerdaskan bangsa. Salah satunya melalui ajaran Islam. Spirit itulah yang perlu kita semua teladani dan lakukan di era ini,” ungkapnya. Muhadjir juga bercerita bahwa ia baru saja datang dari Papua Tengah untuk menyelesaikan bencana kelaparan yang sedang terjadi. Maka dari itu, ia juga mengajak para jamaah untuk mendoakan saudara-saudara sebangsa dan negara yang ada di sana agar kondisinya bisa segera pulih dan stabil. Kunjugannya ke Papua Tengah juga menjadi momen pertama kali seorang pejabat datang untuk membantu dan mencari solusi masalah. Dalam kesempatan yang sama, turut hadir Pengasuh Ponpes Al-Hidayah KH.R. Mashadi Prawiranegara. Ia menyampaikan bahwa nasab dan nasib harus sama-sama baik. Kalau nasabnya baik, tapi nasibnya buruk, tentu akan susah. Maka dari itu, penting untuk menata dan mengatur nasib. Meski begitu, ia menyayangkan bahwa saat ini banyak orang yang hanya mengejar nasab. Saling mengaku keturunannya tokoh-tokoh besar. Padahal, yang paling penting adalah amal baik yang sudah dilakukan. “Tidak perlu kita memperebutkan keturunannya siapa, anaknya siapa, dan lain sebagainya, yang penting bagaimana upaya kita untuk melakukan amal baik sebanyak-banyaknya,” tegasnya. Momen haul ini juga menjadi wadah yang baik untuk kembali menyambung silaturahmi. Apalagi dihadiri oleh para kyai, sultan, tentara nasional Indonesia (TNI), bahkan dari pemerintahan seperti Menko PMK. Adapun Haul akbar tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Agus Sabuth Pranoto Projo. Mengajak para jamaah memanjatkan doa untuk kebaikan nusantara Indonesia. Sehingga segala hal yang baik bisa diraih oleh Indonesia serta dapat dijauhkan dari keburukan. (Faq/Wil)

Kata Dosen UMM tentang Rusaknya Kandungan Gizi pada Makanan Olahan

Makanan olahan seperti nugget dan sosis telah lama menjadi pilihan praktis dan lezat bagi banyak orang. Namun, seiring dengan kenyamanan dan kelezatan yang ditawarkan, bagaimana kandungan nutrisi di dalamnya? Afifa Husna, STP., M.TP., M.Sc, dosen Ilmu Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa beberapa kandungan berpeluang rusak dalam proses produksi makanan olahan tersebut. “Vitamin yang tidak tahan panas dapat mengalami kerusakan meskipun hanya sedikit. Tetapi meski rusak, bukan berarti tidak dapat dicerna. Justru ketika nutrisinya rusak, maka daya cernanya akan semakin tinggi,” ujar dosen yang akrab dipanggil Ifa tersebut. Ia menjelaskan, panas yang tinggi dalam proses pembuatan nuget dapat menyebabkan denaturasi protein dalam daging. Ini menyebabkan struktur protein daging kehilangan bentuk dan fungsi aslinya. Meskipun mempengaruhi beberapa sifat sensoris dan nutrisi dalam daging, proses denaturasi menjadikan nugget maupun sosis memiliki tekstur yang padat sehingga lebih mudah diolah dalam bentuk yang diinginkan. “Dampak positif lainnya dari denaturasi dalam produk olahan nuget yaitu produk jadi lebih tahan lama terhadap perubahan fisik dan kimia. Termasuk dalam proses penyimpanan atau pengolahan lebih lanjut. Ini memberikan rasa dan aroma yang lebih kuat dan khas, membantu pencampuran bahan, dan memberikan hasil yang lebih konsisten. Fungsi lainnya yakni membantu membunuh bakteri dan mikroorganisme yang mungkin ada dalam daging mentah,” tambahnya. Meski memiliki sisi positif, Ifa menegaskan, penting untuk dicatat bahwa denaturasi protein juga dapat mempengaruhi beberapa nutrisi dalam daging dan produk olahan. Oleh karena itu, sebaiknya makanan olahan sejenis ini tidak diandalkan sebagai satu-satunya sumber nutrisi. Sebagai konsumen yang bijak, penting untuk membaca label dengan teliti agar mengetahui takaran konsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh. “Mengamati besaran nutrisi yang tersedia pada produk olahan, dapat membantu kita menyesuaikan kebutuhan nutrisi dalam tubuh, dan menjaga pola makan yang seimbang,” pungkasnya. (Rev/Wil)

Mahasiswa UMM Teliti Jajanan Pencegah Stunting dari Tulang Ayam

Soal inovasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memang tak pernah berhenti. Terbaru, tim mahasiswa jurusan kedokteran UMM mengembangkan jelly squeeze berbahan dasar tulang ayam kampung. Ide tersebut dituangkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan telah mendapatkan pendanaan dari Kemenristek-Dikti. Ketua tim Atika Nopriana mengatakan, pemilihan ide jelly squeeze ini berawal dari banyaknya bahan by product tulang ayam yang tak terpakai. Kemudian, ia dan tim memiliki ide untuk mengolah bahan tersebut menjadi produk yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. “Sebenarnya semua berawal dari keinginan kami untuk menciptakan inovasi yang dapat disukai anak-anak. Kemudian, terbesit untuk membuat jelly squeeze ini. Apalagi banyak anak yang menyukainya. Saat ini masih dalam tahap diujikan ke tikus untuk melihat efeknya,” tambahnya. Mereka mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari para peternak ayam maupun tukang potong ayam. Atika mengatakan, produk tersebut berbahan dasar tulang ayam kampung, bukan ayam broiler. Hal itu dikarenakan ayam kampung memiliki konsentrasi mineral lebih tinggi ketimbang jenis ayam lain. Misalnya saja konsentrasi kalsium dan protein. Dalam proses pembuatannya, tulang ayam dipresto terlebih dahulu selama satu jam untuk mendapatkan tekstur yang lunak. Kemudian dikeringkan dengan dehidrator selama 24 jam dan dihaluskan dengan hammermilll dan blender. Kemudian diayak menjadi tepung tulang ayam kampung. Setelah itu, untuk membuat jelly squeeze, diperlukan campuran tepung tulang ayam dan karagenan yang telah dilarutkan dengan air panas. Perbandingan yang dipakai harus lebih banyak tulang ayam dibanding karagenan karena untuk mendapat tekstur seperti jelly. Saat ini, jelly tersebut masih dalma tahap percobaan dan diujikan ke tikus yang malnutrisi. Mereka juga terus mencari formulasi yang tepat. Nantinya, tikus yang mengidap malnutrisi akan diberi produk dan dilihat perkembangannya kurang lebih dua hingga tiga minggu. Seberapa besar pengaruh jelly squeee tersebut. Ke depannya, ia berharap bahwa penelitiannya dapat diimplementasikan langsung kepada masyarakat khsusunya anak-anak yang mengidap stunting. Untuk itu, timnya akan terus meneliti dan mengembangkan jelly squeeze itu. Dalam penelitian itu ia tidak sendiri. Atika ditemani mahasiswa kedokteran lain. Ada Avicena Mafatihul Asro Efendi, Muhamad Ridwan Prasetya, dan Muhammad Zaki Fahlevi, serta dibimbing oleh Dr. dr. Irma Suswati M.Kes. (Tri/Wil)

FH UMM-Mahupiki Jelaskan Perubahan KUHP Nasional

Beberapa waktu lalu, pemerintah mengesahkan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang menggantikan KUHP Nasional lama. Perubahan tersebut tak hanya terletak pada substansi hukum, namun juga pembaharuan terhadap struktur aparat, penegak hukum, hingga kultur masyarakat. Para praktisi hukum dan stakeholder yang berkonsentrasi pada hal tersebut juga wajib memahami perubahan tersebut. Maka dari itu, Fakultas Hukum UMM bersama Masyarakat Hukum Pidana dan kriminologi Indonesia (Mahupiki) Jawa Timur melaksanakan penataran hukum pidana nasional. Agenda itu dilaksanakan di rayz Hotel UMM pada 28-30 Agustus lalu. Dekna FH UMM Prof. Dr. Tongat, SH., M.Hum. menuturkan, perubahan pada KUHP Nasional dapat menjadi landasan pembelajaran baru bagi stakeholder dan praktisi yang berkonsentrasi pada bidang hukum. Setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, ia berharap para praktisi juga bisa memahami perubahan-perubahan yang ada. Kemudian mengimplementasikannya sebagai bahan ajar baru. Termasuk para akademisi yang mengajarkannya pada mahasiswa. Mau tidak mau, para praktisi harus mengikuti dan mempelajari kembali perubahan KUHP. Lebih lanjut, Tongat mengatakan, pembaharuan Undang-Undang Nomor 1 2023 Tentang KUHP mengacu pada rekodifikasi hukum pidana, demokratisasi hukum pidana, dan konsolidasi hukum pidana. Selain itu juga sebagai bentuk adaptasi dan harmonisasi terhadap berbagai perkembangan hukum yang terjadi. Secara ringkas, undang-undang ini dibagi ke dalam dua kitab yakni buku kesatu dan buku kedua. Sementara itu, turut hadir sebagai narasumber Prof. Dr Topo Santoso, S.H. M.H. selaku guru besar Universitas Indonesia. Ia menjelaskan bahwa m buku kesatu berisi tentang pedoman, asas, dan prinsip umum bagi para praktisi hukum. Sementara buku kedua berisi tentang implementasi dan penerapan dari pedoman buku pertama tersebut. “Untuk menguasai pembaharuan KUHP, hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah buku kesatu. Tidak bisa kita langsung loncat ke buku kedua. Takutnya nanti kita malah salah paham dalam menerapkannya. Kalau kita lihat ada beberapa perubahan yang terjadi, misalnya pada pasal 1,” tegas Topo. Adapun penataran hukum pidana nasional itu diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian merupakan praktisi hukum, seperti pengacara. Adapula para dosen serta mahasiswa yang turut mengikuti rangkaian agenda selama tiga hari. Melalui agenda itu, diharapkan peserta mendapatkan pemahaman utuh dan baru akan perubahan norma dna hukum dalam KUHP nasional. (Tri/Wil)

UMM Potato Seeds Kembangkan Teknologi Baru, Bisa Percepat Produksi Benih Kentang

Inovasi demi inovasi terus dikembangkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, unit bisnis Potato Seeds UMM mengembangkan teknologi baru dalam proses sproduksi benih kentang. Inovasi itu dikembangkan oleh manajer Potato Seeds UMM, Dr. Ir. Syarif Husen, M.P. Adapun inovasi itu adalah teknologi Temporary Immersion Bioreactor (TIB) yang merupakan hal baru dalam Kultur In Vitro, khususnya untuk produksi benih kentang. Di Indonesia, penggunaan teknologi ini belum pernah dilakukan untuk memproduksi benih kentang dalam bentuk plantlet. Jika dibandingkan dengan metode konvensional atau menggunakan media kultur padat, teknologi TIB ini sangatlah unggul dan efisien untuk produksi benih kentang. Syarif, sapaanya, menjelaskan bahwa dengan menggunakan TIB, plantlet benih kentang dapat tersedia dalam waktu yang lebih cepat yaitu hanya dalam kurun waktu tiga pekan. Padahal jika menggunakan metode konvensional membutuhkan waktu yang lebih lama, yaitu 1,5 bulan. Keunggulan lain dari teknologi tersebut ialah benih plantlet yang dihasilkan memiliki fisik yang kokoh, hijau, batang yang besar, serta tingkat keberhasilan aklimatisasi yang tinggi. “Jika menggunakan teknologi ini, kita jadi lebih efisien waktu. Kita juga tidak membutuhkan banyak tenaga karena sudah serba otomatis. Seperti penyinaran dan pemberian nutrisi yang dapat diatur dengan teknologi,” kata Syarif. Menariknya, unit bisnis UMM Potato Seeds ini turut membantu pemerintah untuk menyediakan dan memproduksi benih dalam skala besar, khususnya di wilayah Jawa Timur. “Jadi, kami membantu pemerintah untuk memproduksi benih kentang yang sudah ada. Kami memperoleh delegasi legalitas benih kentang Varietas Granola Lembang oleh Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Tanaman Sayuran, dan Varietas Granola Kembang oleh BSIP Jawa Timur,” jelasnya. Melalui Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK), produksi benih kentang tersebut mulai berjalan pada tahun 2017. Lalu pada tahun 2023 kembali mendapatkan dana hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui program Pengembangan Usaha Kampus untuk hilirisasi dan komersialisasi produk. Adapun UMM Potato Seeds sudah resmi berdiri di Sengkaling pada 2022 lalu melalui SK Rektor. Pada tahun yang sama, unit bisnis ini langsung mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai produsen dan pengedar benih oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Timur. Syarif berharap, teknologi TIB untuk benih kentang ini mampu berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan benih kentang nasional. Dengan begitu, petani kentang bisa dengan mudah mendapatkannya. Kelebihan lainnya yakni harganya yang relatif lebih terjangkau. (Dev/Wil)

Ada Apa Menteri Singapura Datang ke UMM?

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengundang Menteri Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura Mr. Masagos Zulkifli untuk berbicara di depan ribuan tamu dalam gelaran “Ministry Talk”, 30 Agustus lalu. Turut menemani Joko Kusnanto Anggoro selaku staf khusus bidang hukum dan kerjasama internasional Kemenko PMK Republik Indonesia yang menyampaikan materi menarik. Masagos, begitu ia kerap disapa, menjelaskan bahwa ada tiga tiang untuk mewujudkan masyarakat gemilang. Di antaranya yakni kepribadian yang baik, kemahiran agar bisa berkontribusi bagi sesama, serta kerukunan dalam menjalakan peran sebagai warga negara. Jika ketiganya bisa diraih dengan maksimal, maka masyrakat terbaik akan bisa diwujudkan. Menurutnya, kerukunan yang ada di tengah masyarakat merupakan hasil dari prinsip toleransi dan keadilan yang tinggi. Doktrin akan Integritas, meritocrucy, self reliant, serta mengakui kemajemukan suku, ras, dan budaya perlu dikembangkan dan ditumbuhkan. Semua hal itu merupakan pegangan yang harus dipahami setiap warga negara, utamanya untuk berinteraksi sosial. “Semua pihak harus berkontribusi untuk hal ini. Utamanya para pemuka agama untuk menguatkan sikap toleransi. Kemajemukan suku, ras, dan budaya harus diakui dan dijunjung tinggi. Apalagi ada meritocracy yang mengedepankan kemampuan dari seseorang, jadi tidak ada istilah privilese di berbagai sektor. Itu tentu mampu menciptakan kestarbilan dalam sosial masyarakat,” tambahnya. Ia juga sempat memberikan tips ke penonton terkait kiat menjadi seoarng pemimpin yang dan bijak. Salah satunya dengan membaca banyak hal dan buku. Kemudian juga harus menjadi pribadi yang merakyat dan memiliki tujuan jelas yang ingin dicapai. Menurutnya, pemimpin juga harus bisa menjelaskan dan menjalankan secara rinci strategi apa yang akan dilakukan untuk menggapai tujuan-tujuan yang sudah dicanangkan. “Saat ini, model atau pola kepemimpinan itu kebanyakan kita dapat dari literatur barat. Tapi sebenarnya, nilai-nilai kepemimpinan sudah ada di dalam Alquran. Satu di antaranya adalah nilai profetik Rasul. Bagaimana menjadi seseorang yang merakyat dan mampu berbaur dengan orang-orang lain. Tidak merasa dirinya elit dan berbeda,” tuturnya menegaskan. Hal tidak jauh berbeda juga disampaikan Joko Kusnanto. Menurutnya, tiga hal yang disampaikan Masagos menjadi hal vital untuk sebuah negara. Dari ketiganya, hal utama yang memiliki peran penting adalah keluarga yang baik. Pembangunan keluarga menjadi titik tolak yang penting dalam aspek kemakmuran, stabilitas, serta sikap saling menghormati. Baik itu dalam bermasyarakat atau bahkan kehidupan bernegara. Dalam kesempatan itu pula, ia mengapresiasi Kampus Putih UMM yang terus berinovasi menjalankan program. Misalnya saja banyaknya pendekatan terkait program studi yang tidak banyak dilakukan oleh kampus di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan, bisa menjadi pilot project untuk kerjasama di level internasional. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan. M.Pd. menegaskan bahwa UMM turut aktif berkontribusi dalam berbagai aspek, termasuk SDM. Salah satunya dengan menyiapkan bonus demografi melalui Program Center Of Excelence (CoE) berbasis program studi. Terobosan ino berupaya mencetak tenaga-tenaga profesional untuk Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). “Kalau kita dengar tadi, dalam lagu kebangsaan Singapura kata “Majulah” diulang beberapa kali yang menunjukkan bahwa itu menjadi hal penting. Maka dari itu, Indonesia juga harus bisa mnejadi Indonesia emas yang lebih maju. UMM menyambutnya dengan CoE dan Center for Future Work,” tegasnya mengakhiri. (Faq/Wil)

Ramai Kasus Terorisme di BUMN, Dosen FH UMM: Semua Pihak Harus Ikut Peduli

Terorisme menjadi salah satu ancaman besar bagi setiap negara, termasuk Indonesia. Paham terorisme bahkan berhasil masuk ke dalam sistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini dibuktikan dengan ditemukanya salah satu pegawai BUMN yang diduga terafiliasi dengan jaringan teroris ISIS. Lalu di manakah peran aturan hukum untuk mencegah adanya kasus seperti terorisme? Hal ini menarik perhatian dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Wahyudi Kurniawan, S.H., M.H.Li. Yudi, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa pelaku terorisme memiliki jaringan yang membahayakan dan berupaya merusak sistem yang sudah ada. “Tindak pidana terorisme itu bersifat laten, tidak menutup kemungkinan dapat masuk ke seluruh lini, termasuk BUMN sekalipun,” jelasnya. Secara definitif, terorisme merupakan perbuatan kejahatan yang menggunakan ancaman maupun kekerasan yang menimbulkan suasana teror dan menakutkan, hingga menimbulkan kerusakan atau kejatuhan korban. Menurut Yudi, terorisme adalah bahaya laten yang tidak bisa dilihat di permukaan kecuali diinvestigasi secara mendalam. Dari perspektif hukum, regulasi dan aturan sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. Undang-undang ini lengkap mengatur tidak hanya pemberasan saja, melainkan sampai pada upaya pencegahan. “Menurut saya, secara regulasi undang-undang yang kita miliki sekarang sudah memadai dan cukup mengakomodir. Namun regulasi harus terus di-update sesuai perkembangan kondisi yang ada, bisa jadi 10-20 tahun ke depan muncul gaya baru terorisme yang membahayakan,” tambahnya. Walaupun secara regulasi sudah memadai, masih terdapat celah hukum yang masih perlu diperbaiki. Salah satunya adalah aspek penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam menjalankan peraturan atau penangkapan pelaku terorisme. Harus dipertimbangkan apakah hukum yang sudah lama berlaku masih relevan dan masih selaras dengan HAM atau tidak. “Penegak hukum harus tetap berpegang pada prinsip HAM, sejahat dan separah apapun pelaku terorisme, sudah ada SOP yang mengatur. Setiap manusia memiliki hak asasi yang diberikan sejak lahir serta memiliki hak hukum yang sama. Kecuali jika mereka melawan, maka aparat berhak mengambil tindakan tegas,” tandas Yudi. Wahyudi menambahkan bahwa terorisme ini harus dicegah sedini mungkin. Memberikan nilai-nilai yang baik sejak kanak-kanak hingga menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mendorong masyarakat untuk tidak terjerumus dalam lingkaran terorisme. Tidak hanya penegak hukum, semua stakeholder harus turut andil mulai dari masyarakat, pemerintah, bahkan institusi pendidikan. “Harus terus mengedukasi dan menjauhi terorisme dengan berpegang teguh pada ideologi Pancasila dan keyakinan masing-masing. Maka peran masyarakat dan pemerintah dalam menguatkan ideologi pancasila harus terus ditekankan,” tutupnya. (Lib/Wil)

Menkominfo RI Beberkan Skill Hadapi Masa Depan di Wisuda UMM

Anak muda perlu keterampilan literasi dan kecakapan digital, kreativitas dan inovasi, komunikasi, serta problem solving untuk menghadapi tantangan zaman. Hal itu ditegaskan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Budi Arie Setiadi, S.Sos., M.Si. Ia memberikan orasi ilmiah dalam Wisuda Ke-109 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 29 Agustus lalu. “Saat ini Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif mencapai lebih dari 191 juta orang dan sebagian besar merupakan generasi Z. Di saat bersamaan, hingga tahun 2030, Indonesia diperkirakan membutuhkan talenta digital yang banyak, ” ungkapnya yang hadir secara daring. Menurutnya, anak muda harus menjadi pionir dalam mengembangkan dunia digital melalui inovasi serta gagasan yang diciptakan. Digitalisasi bukan hanya sebatas peralihan dari yang konvensional menuju digital, namun juga mendorong perubahan dari segi budaya, ekonomi, dan sosial budaya. Dalam hal ini, perlu peran aktif dari Gen Z untuk tidak buta dengan terjun langsung ke era digitalisasi di era modern. “Saat ini, kita menghadapi dua hal yakni keuntungan dan tantangan. Keuntungannya yakni kemudahan untuk mengakses informasi tidak terbatas untuk mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki. Kemudian juga tantangan terkait informasi hoaks serta konten negatif yang banyak bertebaran,” lanjutnya. Terakhir, dia mempercayakan kunci kemajuan tranformasi digital kepada Gen Z untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Dia juga mengutip kata-kata dari Franklin D. Roosevelt yakni ‘kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan’. Sementara itu, Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur dalam hal ini diwakili oleh Dr. Nur Mukarromah S.KM., M.Kes. menyampaikan apresiasi tinggi kepada UMM yang telah melahirkan lulusan unggul. Ia bangga atas kerja keras seluruh sivitas akademika Kampus Putih untuk mendapatkan rekognisi, baik tingkat nasional bahkan internasional. Ia juga memberi sederet pesan pada wisudawan. Ada beberapa indikator yang harus dimiliki oleh anak muda saat ini, di antaranya pengetahuan yang kuat, keterampilan unggul, serta etika yang baik. Anak muda harus berani mengambil langkah untuk membuat gebrakan baru demi menjawab problem yang ada. “Jadilah orang yang berani untuk mengambil resiko berdasarkan perhitungan kemampuan serta skill yang matang. Harus berani menciptakan inovasi yang lebih baik, serta berani untuk mengambil keputusan. Mengapa? Karena kemenangan adalah milik orang-orang yang berani mengambil keputusan,” tegasnya. Di sisi lain, Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan, bahwa kampus putih kini menjadi kampus di Indonesia yang dipilih oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Hal ini memungkinkan Kampus Putih untuk bermitra dengan Persyarikatan Bangsa Bangsa (PBB). Itu juga dibuktikan dengan peran aktif UMM untuk turut serta dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG’s). Menurutnya, modal ilmu yang telah didapat di UMM harus bisa dilanjutkan untuk kebermanfaatan masyarakat luas. Perjuangan para wisudawan pastinya mampu menciptakan resonansi kuat yang turut menciptakan kebanggaan bagi kedua orangtua. (Faq/Wil)

Dosen UMM Kometari Langkah Arab Jor-joran Beli Pemain Bintang Sepakbola

Klub-klub sepak bola Arab Saudi begitu jor-joran selama jendela transfer musim ini. Dimulai dari kedatangan dua pemain terbaik dunia Cristiano Ronaldo (CR7) dan Karim Benzema. Disusul para bintang kenamaan seperti Neymar dan Sadio Mane. Apakah Arab Saudi hendak menggeser dominasi  sepakbola Eropa? Hafid Adim Pradana, dosen program studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM), turut menanggapi fenomena itu melalui kacamata studi hubungan internasional. “Langkah Arab Saudi dalam mendatangkan pemain-pemain bintang layaknya Ronaldo, Benzema dan Neymar jelas menguntungkan bisnis hiburan Arab Saudi di bidang sepak bola,” ujarnya. Kepindahan pemain-pemain bintang ke Liga Profesional Arab Saudi mengundang perdebatan dari berbagai kalangan. Ada yang mengasumsikan kepindahan mereka disebabkan oleh Ronaldo effect, ada pula yang menganggap hal tersebut lantaran money effect. “Terkait jumlah penonton Liga Profesional Arab Saudi, maka asumsi Ronaldo effect sangat masuk akal. Mengingat pengaruh yang dibawa oleh CR7 sangatlah besar. Otomatis semua mata akan tertuju padanya. Akan tetapi, untuk kepindahan pemain-pemain lain ke liga tersebut, money effect lebih masuk akal,” terangnya menambahkan. Tak dipungkiri bahwa nominal uang yang ditawarkan klub-klub Liga Profesional Arab Saudi sangatlah besar. Tentu tawaran tersebut sulit ditolak oleh para pemain yang umumnya  telah berada pada ujung usia produktif pemain sepakbola. “Kita melihat Brazil sebagai contoh. Rata-rata pemain yang berasal dari negeri joga bonito tersebut berasal dari kalangan menengah ke bawah. Oleh karena itu, orientasi mereka terhadap sepakbola sudah jelas, yaitu untuk mengubah nasib keluarga mereka di negara asalnya,” katanya. Selanjutnya, Adim menjelaskan bahwa pergerakan transfer gila-gilaan ini merupakan salah satu indikasi dari probabilitas Liga Arab Saudi untuk menggeser dominasi Eropa sebagai kiblat sepakbola. Akan tetapi, efeknya tidak bisa dilihat dalam kurun waktu dekat. Sama halnya dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pergeseran tersebut dapat diamati dalam kurun waktu puluhan hingga ratusan tahun mendatang. Berkaitan dengan hal tersebut, dapat diamati pula bahwa terdapat hubungan erat antara transfer pemain ini dengan Program Visi 2030 milik Arab Saudi. Pergerakan transfer pemain gila-gilaan tersebut dianggap sebagai langkah diplomatis Arab Saudi dengan memanfaatkan potensi sepakbola yang begitu besar di seluruh penjuru dunia. (*/Wil)