Mulai Ditinggalkan, Begini Cara Jaga Bahasa Daerah ala Dosen UMM

Kini, bahasa daerah mulai banyak ditinggalkan. Arus urbanisasi dan globalisasi membuat Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama negara banyak digunakan di kelaurga. Ditambah lagi dengan masuknya Bahasa Inggris dan Arab sebagai bahasa pengantar di sebagian lembaga pendidikan. Fenomena itu menarik perhatian dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. Ia mengatkan bahwa pada dasarnya bahasa memiliki sifat dinamis, berkembang dan berubah mengikuti perkembangan zaman. Di Indonesia saat ini, bahasa daerah memang tidak banyak diajarkan oleh para orang tua. Rata-rata memilih menggunakan Bahasa  Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dalam berinteraksi. “Anak muda sekarang justru mengetahui bahasa daerah dari pergaulan mereka. Seperti contohnya anak-anak Kalimantan yang merantau ke Pulau Jawa.  Ketika mereka kembali ke Kalimantan, mereka akhirnya memahami bahasa Jawa dari pergaulan yang didapatkan dari Jawa,” tambahnya. Hal ini sangat disayangkan Arief, mengingat bahasa daerah memiliki potensi. Misalnya saja bahasa Bali yang memiliki identitas kuat sehingga masyarakat di sana terus menerus menggunakannya sehari-hari. Meksi begitu, bahasa Indonesia masih tetap dijaga dan digunakan sebagai bahasa pemersatu bangsa. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh agar bahasa tidak punah. Di antaranya dengan menggunakannya serta melestarikannya melalui komunitas lokal tertentu. Adapun pelestarian terdiri dari dua hal yakni melestarikan bahasa daerah dan bahasa bangsa Indonesia. “Kalau kita lihat sekarang, bahasa Jawa sudah digunakan sebagai bahasa kedua di tengah masyarakat. Misalnya saja dipakai sebagai nama jalan, nama toko, maupun tulisan tulisan lainnya. Bahkan ada yang diiringi dengan tulisan aksara jawa di bawahnya. Ini bagus agar masyarakat tidak asing dengan bahasa tersebut. Secara tidak langsung, minat masyarakat juga turut naik,” katanya. Langkah lainnya yakni dengan memasukan bahasa daerah menjadi kurikulum pembelajaran dan membangun kebijakan politik yang menyeluruh untuk lebih mengarah ke pelestarian bahasa daerah. Misalnya saja dengan menggunakan bahasa daerah di setiap bandara atau tempat tempat yang berpotensi didatangi banyak wisatawan asing dan lokal. “Pola pengajaran orang tua tentang bahasa daerah juga harus di bangun sejak anak masih kecil. Anak-anak diajarkan bahasa daerah terlebih dahulu lalu diiringi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” tambahnya. Arief melanjutkan, secara konsitusi, pemerintahdapat mengeluarkan kebijakan yang melindungi bahasa daerah agar tidak punah, karena secara hakikat bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia. Perlu juga ada pergerakan politik yang membangun eksistensi secara keseluruhan pada bahasa daerah. “Yang tak kalah penting, masing-masing sekolah di daerah juga perlu membuat kebijakan dimana  dalam kurikulum pembelajarannya terdapat bahasa daerah. Dengan demikian secara tidak langsung anak-anak mendapatkan asupan bahasa daerah mereka masing-masing mulai dari kecil. Hal ini dapat membantu meningkatkan eksistensi bahasa daerah,” pungkasnya. (Fat/Wil)

Upaya Internasionalisasi, FPP UMM Gaet Empat Universitas Thailand

Langkah internasionalisasi terus digencarkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, Fakultas Peternakan dan Pertanian UMM teken kerjasama bersama empat universitas dari Thailand, yakni lain Prince of Songkla University, Silpakorn University, Chulalongkorn University, dan Universitas Kasetsart. Penandatanganan kerjasama tersebut dilakukan langsung di tiap universitas pada akhir Agustus ini. Terkait hal ini, Dekan FPP UMM Dr. Ir. Aris Winaya, MM. M.Si. IPU. ASEAN Eng. menilai, kampus-kampus Thailand yang dipilih memiliki keunggulan di bidang pertanian dan peternakan. Bahkan memiiliki peringkat yang baik di QS dunia. Maka, kolaborasi yang dibangun diharapkan mampu meningkatkan kualitas perguruan tinggi, memajukan kreativitas, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga seminar bertaraf internasional. “Ini juga menjadi peluang bagi sivitas akademika Kampus Putih, khususnya FPP untuk bisa melakukan riset bersama, turut merasakan atmosfer internasional di Thailand guna meningkatkan taraf akademik. Kami juga akan terus berupaya menambah partner tingkat dunia sehingga para mahasiswa bisa merasakan suasana internasional,” tegasnya. Salah satu kolaborasi yang menarik adalah kerjasama halal science center dengan Chulalongkorn University. Nantinya, akan ada sederet seminar halal yang akan dilaksanakan pada 5-6 September 2023. Berbagai penelitian akan ditekankan, utamanya mengenai uji forensik yang menentukan apakah produk terkait halal atau tidak. Kemudian juga menjajaki riset dan pendidikan brsama fakultas sains di universitas terkait. Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. yang turut menghadiri langsung penandatanganan juga mengapresiasi langkah FPP Kampus Putih. Rekognisi dan kerjasama tingkat dunia memang jadi salah satu kunci internasionalisasi. Begitupun dengan langkah mendukung kegiatan student mobility, riset, hingga peningkatan bidang keilmuan  serta magang dari kedua belah kampus. “Semoga kolaborasi ini dapat memperkuat internasionalisasi UMM, termasuk Fakulas Pertanian dan Pertanian. Menambah kualitas dan kuantitas riset serta memberikan suasana internasional bagi mahasiswa,” katanya mengakhiri. (*/Wil)

Bioskop Keliling UMM Hibur Warga Kejapanan Pasuruan

Mobil Bioskop Keliling (Bioling) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal. Kali ini mereka hadir di Desa Kejapanan, Pasuruan pada 24 Agustus lalu. Banyak warga yang datang karena penasaran akan acara yang diprakarsai kampus putih. terhitung ada ratusan yang datang dan turut serta. Tidak hanya memberikan tontonan, tapi juga menyediakan beragam doorprize menarik. Kedatangan UMM ini juga hasil kerjasama dengan Paravan Cinema Pasuruan. Dalam nonton bareng film itu, ada enam film ringan nan edukatif yang ditampilkan. Keenamnya mampu memicu gelak tawa masyarakat. Apalagi beberapa di antaranya juga dialami oleh sebagian warga. Turut datang dan meramaikan, Kepala Desa Kejapanan Randi Saputra mengapresiasi upaya Kampus Putih untuk menghibur para warga. Menurutnya, momen berkumpul bersama dapat menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi. Ia juga ingat, beberapa tahun lalu Bioling juga sempat datang ke tempatnya pada 2021 lalu. “Dengan berkumpul seperti ini, saya yakin warga bisa saling kenal dan saling sapa. Memperkuat persaudaraan dan mampu bahu-membahu membangun lingkungan. Dalam hal ini yakni lingkup desa Kejapanan,” tegas Randi menambahkan. Ia yang juga pernah menimba ilmu di Malang itu juga menilai, UMM selalu konsisten melakukan pengabdian kepada masyarakat. Mulai dari pelatihan, workshop, pengembangan desa wisata, dan lain sebagainya. Selain itu juga program seperti Bioling ini yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Sementara itu, salah satu warga, Kholida mengaku antusias dengan adanya Bioling UMM. Bukan hanya karena filmnya saja, tapi juga rangkaian kegiatan yang mampu menghidupkan animo warga. Ia yang kebetulan mendapatkan doorprize kaos juga sukses menjawab pertanyaan-pertanyaan dan games seru. “Acaranya seru dan ramai. Apalagi ada hadiah menarik di sela-sela penayangan film. Kegiatan seperti ini harus terus dilakukan. Tidak hanya di sini saja, tapi juga mungkin di kota dan kabupaten-kabupaten lain,” kata Kholida. Hal serupa juga disampaikan salah satu anak-anak bernama Naufal. Ia bahkan berlomba-lomba maju dan menjawab pertanyaan lucu demi mendapatkan doorprize yang disediakan. “Seru banget. Teman-teman saya juga senang bsia nonton film lucu-lucu. Hadiahnya banyak, kakak-kakanya juga baik,” pungkasnya. (Faq/Wil)

UMM Dilirik Perusahaan Belanda Novo Kembangkan Aplikasi Ngaji.AI

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jajaki kerjasama dengan perusahaan IT asal Belanda, Novo. Diskusi antara keduanya juga sudah dilaksanakan pada 23 Agustus lalu. Sebelumnya, Novo juga telah bekerjasama dengan Prodi Teknik Informatika UMM dalam mengerjakan proyek Ngaji.AI yakni aplikasi belajar ngaji untuk anak-anak. Turut hadir perwakilan dari program Kedaireka Dikti. Direktur Operasional (COO) PT. Novo Indonesia Maria Vanessa mengatakan, pertemuan tersebut juga membahas tentang penyempurnaan aplikasi Ngaji.AI. Nantinya, kerjasama ini akan menyasar aspek pada pengumpulan dataset rekaman guru mengaji dan pengembangan modul belajar. Dengan begitu, anak-anak bisa lebih mudah menggunakannya. “Adapula perbaikan di fitur pelatihan vokal yang lebih akurat untuk memberikan masukan bagi pengguna. Rencana kami yakni membuat aplikasi yang dapat menunjukkan kesalahan pengguna ketika belajar menggunakan aplikasi. Maka peran dataset dalma aplikasi ini sangatlah krusial,” tambahnya. Vanessa melanjutkan, pengumpulan data yang diprakarsai UMM ini nantinya bisa juga dipromosikan ke masyarakat. Apalagi, jika nantinya Ngaji.AI digunakan untuk pembelajaran tingkat lanjut di area universitas. Ia berharap, kerjasama yang dijalin bisa menjadi awal yang baik. Utamanya terkait impkementasi aplikasi di tingkat universitas dan juga masyarakat umum. Sehingga, pembelajaran Al-Quran bisa lebih terarah dan terintegrasi dengan baik. Novo juga ingin agar nantinya Ngaji.Ai bsia digunakan di berbagai lini. Misalnya saja dalam pembelajaran Al-islam dan Kemuhammadiyaan (AIK) Kampus Putih. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. mengapresiasi langkah kolaborasi yang sudah dilakukan Novo dan prodi teknik informatika UMM. Menurutnya, gagasan seperti ini memang harus lahir sebagai wujud solusi permasalah yang terjadi di masyarakat. Semua hal memang harus mengikut perkembangan zaman, karena jika tidak, akan menyulitkan. “Aplikasi ini menadi terobosan bagus. Apalagi anak-anak zaman sekarang tentu sudah mengerti cara menggunakan gawai. Mereka akan mendapatkan kemudahan untuk belajar mengaji Alquran. Tinggal bagaimana nanti implementasinya,” pungkasnya mengakhiri. (Tri/Wil)

Tim UMM Tingkatkan Ekonomi Warga dan Kembangkan Agrowisata di Pasuruan

Kontribusi demi kontribusi dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. dan timnya. Di sepanjang 2023, mereka mengembangkan agrowisata berbasis ternak dan ikan. Program ini juga berupaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa dalam mewujudkan desa mandiri dan sejahtera. Adapun kegiatan ini merupakan program yang mendapatkan pendanaan dari Kemendikbud-Dikti periode 2023 dilaksanakan di desa Sumbergedang, kecamatan Pandaan, Pasuruan. Sujono, sapaanya, menjelaskan bahwa pengabdian ini sangat tepat karena desa Sumbergedang memiliki potensi yang bagus namun belum digarap dengan maksimal. Misalknya kondisi alam yang hijau dan sejuk karena letaknya di sekitar pegunungan. Begitupun dengan sumber air mengalir sepanjang tahun serta jembatan Talang Abang sengan panjangan sekitar 200 meter. “Sebenarnya, sebelum pandemi Covid, Desa ini memiliki destinasi wisata tamabn bungan Adns Fridaus dan Talang Abang. Namun sayang, destinasi ini tutup karena sepi. Jadi kami mencoba untuk menghidupkannya kembali dengan memberikan sentuhan berbeda,” tegasnya. Koordinator asisten rektor UMM itu melanjutkan, potensi lain yang bisa dikembangkan yakni ternak domba yang saat ini diurus oleh Kelompok Ternak Mendo Membumi dan usaha ikan hias yang ditangani oleh Kelompok Tani Ikan. Sayangnya, mereka menemui masalah di pakan akrena mereka belum mampu memproduksi pakan penguat sendiri. Sehingga peternak harus mengandalkan pakan pabrikan yang  mahal. Ia mengatakan, akan ada tiga tahap dalam tiga tahun yang akan mereka lakukan. Tahun pertama yakni pemberdayaan ternak domba dan ikan hias. Tahun kedua menghidupkan agrowisata desa melalui penataan wisata arung sungai melewati jembatan Talang Abang dan membangun taman bunga. “Tahun ketiga yakni penataan UMKM kelompok kuliner yang akan mem-backup agrowisata desa Sumbergedang. UMKM kuliner yang khas Desa Sumbergedang adalah minuman beras kencur dan aneka kripik dari bahan lokal. Mereka juga akan diajari tentang pembukuan dan pemasaran berbasis digital,” jelasnya. Pada tahun pertama ini, Sujono dan timnya tengah mengajari pra peternak cara membuat formula pakan ternak domba dan ikan melalui mesin pencacah dan penepung multiguna. Selain itu juga mengajari cara pencegahan dan penangan peyakit ternak serta ikan. Melalui program-program itu, diharapkan para peternak bisa menekan biaya perawatan serta meningkatkan pendapatan. Sekaligus untuk mempersiapkan kegiatan agrowisata di desa Sumbergedang. (*/Wil)

Bela Sungkawa, UMM Kembalikan Biaya Kuliah Mahasiswa yang Wafat

Ada yang berbeda dengan wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 24 Agustus lalu. Saat menutup prosesi wisuda, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. mengajak para wisudawan, orang tua dan tamu untuk mendoakan Roy Inzaqhi Saputra. Ia adalah salah satu mahasiswa yang seharusnya turut diwisuda, namun ia meninggal beberapa saat sebelum wisuda karena sakit. “Mari sama-sama menundukan kepala mendoakan almarhum ananda Roy. Mudah-mudahan almarhum ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya. Sebagai wujud belangksungkawa UMM pada ananda, maka seluruh biaya yang telah dibayarkan selama menempuh pendidikan di UMM akan kami kembalikan kepada orang tuanya,” kata Fauzan sesaat sebelum menutup prosesi. Kedua orangtua Roy juga diundang naik ke panggung untuk menerima ijazah. Rektor Kampus Putih secara langsung memberikannya didampingi para wakil rektor. Adapun Roy merupakan mahasiswa berprestasi. Ia bahkan lulus tanpa skripsi berkat penelitiannya yang mampu menembus jurnal Sinta I. hal itu membuatnya tidak perlu menempuh skripsi karena program ekuivalensi. Tahun 2019 menjadi tahun pertama Roy menapaki jati diri sebagai mahasiswa Program Studi Informatika Fakultas Teknik. Ia dikenal dengan keramahannya pada semua teman. Apalagi dengan keaktifannya mengikuti organisasi selama menimba ilmu. Meski begitu, ia sukses mencapai IPK sebesar 3,93. Itu bukan raihan yang mudah bagi kebanyakan mahasiswa jurusan teknik. Penelitian yang ia lakukan juga berhasil menembus jurnal terindeks. Penelitiannya berjudul “Evaluation of the Usability Learning Management System during the Covid-19 Pandemic Using the Scale System”. Itu menjadi bukti dari hasil ketekunan serta tekat yang kuat dalam menjalani proses selama proses perkuliahan untuk menjadi kebanggaan kedua orangtua. Hingga akhir hayatnya, dia mendapatkan tempat khusus di hati teman-teman, dosen, dan kedua orangtuanya. Meski ia sudah tiada, namun ia telah sukses eraih gelar sarjana komputer dan mampu menebar manfaat melalui penelitian-penelitian dan kebaikannya. (Faq/Wil)

Ketua Real Estate Indonesia Berbagi Kiat Sukses ke Wisudawan UMM

Sukses memang tidak akan muncul hanya dalam semalam. Sukses dapat terjadi ketika seseorang bekerja keras dalam mewujudkan suatu hal. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Drs. Paulus Totok Lusida, Apt. di depan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun wisuda itu dilaksanakna pada 24 Agustus lalu di Hall Dome UMM. Lebih lanjut, Totok menceritakan pengalaman hidupnya, terutama dalam mengarungi dunia kerja. Menurutnya, tidak mudah untuk menaklukkan dunia luar. Perlu adanya keberanian, kerja keras dan usaha yang menjadi start dalam menekuni sebuah bidang. “Meski begitu, jangan lupa untuk menampakkan eksistensi di masyarakat. Salah satunya dengan memberikan manfaat dan jawaban atas berbagai masalah yang ada,” katanya. Ia juga menyebut bahwa ada tiga jalur yang bisa para wisudawan coba usai menyelesaikan studi di Kampus Putih UMM. Mulai dari menjadi entrepreneur, akademisi, maupun karyawan profesional. Semua tergantung minat dan potensi diri tiap mahasiswa. Adapun Kampus Putih memang telah mewadahi ketiga jalur itu dengan beragam kegiatan dan program. Misalnya saja dengan adanya Center of Excellence (CoE) yang melahirkan sumber daya manusia unggul. Selain itu juga memiliki skill yang sesuai dengan dunia usaha dan dunia industri butuhkan. Pada kesempatan yang sama, turut hadir Menko PMK RI sekaligus Ketua BPH UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Menurutnya, wisudawan harus menyiapkan diri akan datangnya puncak demografi pada 2030 nanti. Semua tergantung kualitas dan skill yang dimiliki anak muda, termasuk mereka yang wisuda hari ini. “Maka, saudara-saudara harus menyiapkan diri dan terus mengupgrade diri. Tidak hanya puas dengan apa yang diperoleh di bangku kuliah. Jangan takut akan tantangam karena pada dasarnya tantangan lah yang membuat saudara bisa maju dan mendapatkan hal baru,” kata Muhadjir menjelaskan. Hal serupa disampaikan Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Para wisudawan baru akan memasuki proses sebenarnya usai lulus dan diwisuda oleh UMM. Menurutnya, semua proses memang tidak akan mudah. Akan selalu ada hambatan dan tantangan yang harus ditaklukkan. “Namanya proses, tentu tidak akan pernah mudah. Gagal merupakan awal dari kesuksesan dan usaha juga adalah awal dari kesuksesan,” tambahnya mengakhiri. (Tri/Wil)

PPG UMM Dapatkan Penghargaan Penyelenggara terbaik PPG se-Indonesia

Kabar membanggakan kembali datang dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, Prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMM sukses menjadi salah satu yang mendapatkan predikat penyelenggara Program PPG terbaik se-Indonesia dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Adapun sertifikat penghargaan itu diterima pada awal Agustus ini. Penghargaan ini merupakan hasil dari kerja keras tim PPG UMM. Terbukti dengan persentase jumlah lulusan dalam jabatan yang selalu menjadi yang tertinggi di rentang 2018-2022. Penghargaan itu diberikan secara langsung oleh Subkoordinator Bina Guru MI dan MTs Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Agama, Mustofa Fahmi kepada Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. Selain penyerahan, pada kesempatan yang sama, Fahmi bersama tim PPG UMM membahas sederet program yang sedang dan akan dijalankan. Ia juga mnegapresiasi Kampus Putih yang sukses menjaga konsistensi dalam menyelenggarakan PPG selama ini. “Sejak 2018 sampai 2022, UMM selalu menempati rangking teratas untuk tingkat kelulusan Uji Kompetensi Mahasiswa PPG (UKM-PPG). Ini tentu sudah sangat menggambarkan bagaimana komitmen PPG FKIP UMM dalam menyelenggarakan PPG yang berkualitas secara konsisten. Kami sangat mengapresiasi hal itu,” ungkap Fahmi. Terkait raihan itu, Trisakti mengatakan sebenarnya penghargaan itu sudah diterima sejak Mei lalu. Yakni pada acara rapat koordinasi bersama dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN). FKIP UMM menjadi salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Umum (LPTK Umum) yang diundang secara khusus bersama UIN Bandung dan UIN Yogyakarta. Namun, ia berhalangan dan akhirnya baru diberikan pada Agustus ini. Ia juga bersyukur atas capaian tersebut. Baginya, penghargaan ini merupakan sebuah motivasi untuk terus memberikan yang terbaik. Utamanya dalam upaya mewujudkan guru profesional di Indonesia. “Tentu ini bukan akhir perjuangan, namun menjadi pendorong  bagi kami untuk meningkatkan kualitas dalam mencetak guru terbaik. Guru yang mampu melahirkan generasi penerus di masa depan,” tegasnya. (*/Wil)

Kurangi Food Waste Dunia Perhotelan, Mahasiswa UMM Ciptakan Vegetarian Nugget

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bosan-bosannya menciptakan inovasi. Kali ini datang dari Dafa Adi Pramudya, mahasiswa angkatan 2021 Program Studi Teknologi Pangan UMM bersama timnya. Mereka menciptakan produk vegetarian nuget dengan mengoptimalkan seluruh bagian dari sayuran yang bisa diolah dan dikonsumsi. Inovasi tersebut mendapat Juara 3 dalam ajang In2Food International Student Competition yang diselenggarakan di Universitas Prasetiya Mulya dan Universitas Pembangunan Jaya Bintaro pada pertengahan Agustus lalu. Kompetisi tersebut juga bekerja sama dengan Erasmus Plus dan Hotel Ternama, Hotel JW Marriott. “Food waste saat ini menjadi perhatian, khususnya dalam dunia masak untuk perhotelan. Salah satu penyumbang besar food waste didominasi oleh sayuran. Bisa dilihat dari proses memasak capcay, brokoli yang digunakan itu hanya bagian bunganya dan batangnya langsung dibuang begitu saja,” ungkapnya. Menariknya, produk yang diciptakan oleh Dafa bersama timnya tersebut nantinya diaplikasikan oleh JW Marriott Hotel beserta seluruh anak perusahaannya. Itu juga menjadi cara untuk mewujudkan pengurangan food waste sebanyak 50% di dunia perhotelan. Lebih lanjut, sebetulnya seluruh bagian dari sayuran itu bisa diolah dengan baik dan bisa menjadi olahan yang menggugah selera. Selain itu juga akan menambah kadar nutrisi yang terkandung dalam makanan tersebut. “dalam olahan vegetarian nuget kami ini, tidak ada penurunan nutrisi dari sayuran yang digunakan. Bahkan bisa lebih, karena kami optimalkan bagian-bagian sayuran yang dapat diolah serta kami tambahkan kombinasi-kombinasi beberapa sayuran tambahan,” katanya. Proses pembuatannya tidak jauh beda dengan pembuatan vegetarian nuget pada umumnya. Hanya saja mereka menambahkan bagian sayuran yang biasanya dibuang, namun bagian tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan tambahan vegetarian nuget. “Bukan berarti hanya bagian sayuran yang biasanya dibuang saha. Namun kami optimalkan seluruh bagian sayurannya yang bisa diolah. Kami juga menambahkan bagian-bagian lain yang biasany dibuang di menu tertentu,” jelasnya. Terakhir, dia berharap serta berpesa kepada pelaku dunia perhotelan untuk bisa mengurangi food waste dengan menciptakan inovasi-inovasi terbaru. Selain itu juga memperhatikan penyortiran limbah-limbah dunia masak yang sebenanrnya bisa dijadikan inovasi yang lebih berguna. “Sebetulnya food waste itu bisa dikurangi cara memperhatikan pengelompokan food waste. Salah satunya seperti cangkang telur yang bisa dimanfaatkan sebagai sabun. Kalau bisa melihat sisi positif dan memanfaatkannya, tentu akan lebih berguna ketimbang dibuang menjadi sampah,” tutupnya. (Faq/Wil)

Hadir di Wisuda UMM, Inilah Pesan Direktur Non-Aligned Movement Centre for South-South Technical Cooperation (NAM-CSSTC)

Telah Menyelesaikan studi di Universitas bukanlah akhir dari perjuangan melainkan awal dari kehidupan nyata yang akan dihadapi. terlebih lagi saat ini era digital telah berkembang pesat, dan dapat menjadi boomerang bagi generasi muda jika tidak memanfaatkannya dengan baik, maka perlu perluas berbagai jaringan untuk bekal kehidupan. Sejalan dengan hal tersebut Diar Nurbintoro, Direktur Non-Aligned Movement Centre for South-South Technical Coorperation (NAM-CSSTC), dalam orasi ilmiah di Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-109 menyampaikan bahwa era digital dengan daya pikat yang besar dan perkembangan teknologi yang cepat telah meluaskan jaringan perubahan seluruh sektor kehidupan. Diar menyampaikan bahwa perubahan yang paling mencolok dengan berkembangnya teknologi adalah pendidikan. menurutnya pendidikan saat ini telah bertransformasi dari wacana menjadi sebuah tindakan yang nyata dan dapat membawa perubahan yang besar untuk Indonesia, karena dalam proses pembelajaran tidak lagi dikekang dengan batasan geografi, melainkan dapat dilakukan dengan koneksi dan satu sentuhan saja. “Saat ini tidak hanya peserta didik saja yang perlu memahami teknologi, seorang tenaga pendidik juga perlu mendalami bidang tersebut karena hal itu juga yang menjadi tantangan di dalam pendidikan. Seperti Urgensi Literasi digital, dimana mewajibkan kita semua untuk mempunya critical thinking agar tidak ketinggalan informasi terbaru” ujarnya. lebih lanjut, Direktur NAM–CSSTC itu juga menyampaikan kalau di tengah keberagaman era digital saat ini para tenaga pendidik tidak boleh lengah dan menjadikan hal itu sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk metode pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang lebih personal menjadi salah satu contoh yang dapat diterapkan untuk peserta didik. “Teknologi juga membantu bidang Domin Riset dan Inovasi dengan memudahkan mendapatkan informasi dan solusi kreatif secara global, tidak hanya itu dalam bidang kewirausahaan juga membantu untuk memasarkan produk dan jasa yang dapat disebarluaskan secara efisien. maka dari itu sangat rugi jika tidak memanfaatkan era digital saat ini karena akan sangat menguntungkan jika diimplementasikan dengan baik” tegasnya. Sejalan dengan yang disampaikan Diar Nurbintoro, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Indonesia, Prof. Dr. Muhajidir Effendy, M.AP. menjelaskan bahwa pada Indonesia tahun 2045 wisudawan yang hadir saat ini akan menjadi generasi emas saat indonesia telah berusia 100 tahun. Dengan begitu wisudawan perlu terus mengembangkan potensinya dan membawa nama kampus dengan harum sebagai alumni. “Jangan berhenti untuk selalu belajar dan megembangkan potensi yang kalian miliki, karena jutaan sarjana yang ingin mempunyai nasib yang bagus atau ingin mengubah nasibnya akan lebih dahulu menjemput keberuntungannya jika kalian tidak memiliki kelebihan” katanya. Muhajdir juga menyampaikan untuk selalu menggunakan ilmu yang telah didapatkan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan baik, karena para mahasiswa telah diberikan bekal yang cukup dengan adanya Centre of Excellence (CoE) yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempunyai keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pekerjaan di era yang identik dengan teknologi. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tingkat Tinggi Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri ,SE., MM. juga menyampaikan bahwa dengan adanya CoE, UMM menjadi salah satu kampus dengan Management Information System Education Quality Higher yang berjalan dengan baik, dan telah diakui KKNI No. 8 tahun 2012 serta SN DIKTI no 3 tahun 2020. “Saya yakin, UMM merupakan pilihan yang tepat bagi wisudan yang hadir didepan saya, karena dapat memfasilitasi mahasiswa dan menjamin mahasiswa lulus langsung kerja” ungkapnya. lebih lanjut Dyah Sawitri juga mengatakan bahwa selain CoE, UMM telah memprioritaskan masalah sosial yang dapat menghambat pembelajaran seperti Bullying, Kekerasan seksual, korupsi dan lainnya dengan menangani secara khusus. Hal itu menjadi nilai tambah bagi UMM karena berusaha mensejahterakan mahasiswanya. Dyah Sawitri juga menambahkan kalau mewakili LLDIKTI wilayah VII Jawa Timur, berharap untuk wisudawan sekaligus sebagai generasi muda selalu semangat menimba ilmu dan memanfaatkan wadah yang telah disiapkan oleh UMM dengan baik, karena sangat besar manfaatnya untuk masa depan mahasiswa ataupun alumini UMM. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Fauzan M.Pd juga menyampaikan bahwa adanya Center of Excellence (CoE) untuk mempersiapkan mahasiswa dan alumninya dalam menghadapi bonus demografi di Indonesia nanti, dan juga selalu siap beradaptasi dalam era digital yang berkembang pesat. “Harapannya, calon wisudawan akan bisa bersaing di dunia pekerjaan dengan mengimplementasikan ilmu yang telah didapatkan  di UMM, hal tersebut karena UMM telah menyiapkan SDM yang unggul agar memenuhi kebutuhan di era saat ini” jelas Fauzan. (Ri/Mah)