Gaji hanya Numpang Lewat? Mungkin Ini Alasannya

Para fresh graduate yang baru saja mendapatkan pekerjaan seringkali menggunakan gajinya tanpa pikir panjang. Membeli barang-barang yang sebenarny tidak begitu dibutuhkan dan hanya mengedepankan gengsi. Hal itu membuat mereka kesulitan untuk menabung sebagian pendapatannya. Fenomena itu menarik perhatian Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kenny Roz, S.Kom., MM. Menurutnya, salah satu kesalahan keuangan yang umum dilakukan anak-anak muda adalah mengesampingkan perencanaan anggaran. “Banyak dari mereka yang beralasan terlalu sibuk dengan altivitas sehari-hari. Ada juga yang menganggap perencanaan anggaran tidak memberikan efek apa-apa dan lain sebagainya. Padahal, ini menjadi langkah efektif untuk memetakan pendapatan yang sudah didapat. Mana yang bisa dibelanjalan dan mana yang bisa ditabung,” jelasnya. Kenny, begitu ia kerap disapa, melanjutkan, rencana anggaran merupakan alat yang kuat dalam mengelola keuangan. Namun, sayang bayak banyak dari mereka hanya mengandalkan intuisi atau perkiraan kasar tanpa benar-benar merinci pengeluarannya. Sehingga mereka merasa kesulitan bahkan jauh sebelum hari gajian tiba. “Siapa saja, terutama anak muda harus mulai dengan mencatat setiap keluar masuknya uang. Kemudian mengkategorikannya secara akurat. Langkah ini dapat membantu untuk mengidentifikasi mana pengeluaran yang tidak perlu,” tambahnya. Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah adopsi gaya hidup yang tidak sesuai dengan kapasitas finansial. Hanya karena teman-teman atau lingkungan media sosial menunjukkan gaya hidup tertentu, bukan berarti kita harus mengejar hal yang sama tanpa mempertimbangkan dampak keuangan jangka panjang. Namun fenomena sebaliknya terjadi. Anak-anak muda mudah termakan gengsi dan akhirnya memaksakan diri untuk membeli barang-barang branded atau makanan fancy yang sebenarnya bukan kebutuhan penting. Dalam tatanan solusi, edukasi keuangan menjadi hal yang paling penting terutama bagi generasi muda. Peran lembaga pendidikan sangat strategis untuk bisa meningkatkan kesadaran. Selain itu, anak-anak muda memang seharusnya aktif mencari tahu bagaimana mengelola keuangan dengan benar dan sesuai. “Sayangnya, hari ini banyak anak muda yang belajarnya trial and error. Sehingga tidak jarang mereka rugi dan kehilangan banyak uang dari pendapatan,” katanya mengakhiri. (Lai/Sil/Wil)
Ayca, Tiktokers yang Bercerita Kuliah di UMM Jalur Influencer

Hanya ada sedikit kampus yang membuka pendaftaran jalur influencer. Salah satu yang menarik perhatian adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Calon mahasiswa tidak perlu mengikuti tes dan bisa langsung seleksi kemudian diterima. Hal itu juga yang dirasakan Dinda Nur Aisyah, Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi UMM. Ia membagikan pengalaman bagaimana asyik dan mudahnya jalur influencer UMM di acara UMM Talks, awal Agustus ini. Ayca, begitu ia kerap disapa menceritakan, awalnya ia belum merencanakan ingin melanjutkan pendidikan perkuliahannya di UMM. Namun saat asyik bermedia sosial, ia melihat UMM membuka penerimaan mahasiswa baru jalur influencer. Karena penasaran, ia mencari informasi lebih lanjtu di website. “Waktu itu aku nge-stalk website resmi UMM dan melihat ada banyak banget jalur pendaftarannya, termasuk jalur influencer itu. Awalnya tidak percaya sih kalau ada jalur semacam itu. Tapi saat dibuka ternyata beneran ada,” katanya. Untuk memastikan jalur influencer yang ada di UMM, Ayca bahkan mengunjungi UMM bersama ayahnya sekalian berkeliling melihat fasilitas kampus. “Tanpa berpikir panjang, aku dan ayah akhirnya setuju setelah melihat dan mendengarkan biaya dan fasilitas yang akan aku dapatkan. Waktu itu, aku dapat 100% SPP Semester 1 dan diskon alumni Muhammadiyah. Jadi biaya yang seharusnya lebih dari 20 juta, aku hanya bayar sebanyak 13 juta. Lumayan bannget kan?” ujar gadis asal sidoarjo itu. Lebih lanjut, Ayca mengatakan ia juga akan mendapatkan diskon lagi jika IP yang ia dapatkan 3,8 atau lebih. Maka dari itu, sampai saat ini Ayca selalu mempertahankan IP yang ia punya dengan cara tidak pernah bolos kelas dan selalu rajin mengumpulkan tugas. Ia menegaskan bahwa kuliah selalu lebih utama walaupun ia telah mendapatkan penghasilan dari menjadi konten kreator dengan follower 500 ribuan lebih di Tiktok. Ayca juga sempat memberikan sederet tips untuk menjadi konten kreator. Salah satunya dengan rutin memposting konten dan juga update konten yang sedang trending. Waktu unggahan juga harus diperhatikan. Menurutnya, tiga hal itu bisa meningkatkan kemungkinan untuk viral dan views yang tinggi. Anak bungsu itu juga menceritakan bahwa menjadi influencer merupakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Apalagi ia awalnya hanya iseng mengunggah konten A Day In My Life di Tiktok. Ternyata ia mendapatkan ribuan viewers. Dari situlah Ayca mulai dikenal banyak orang. “Jangan pernah malu dan takut untuk memulai membuat serta mengupload konten. Kalau belum apa-apa sudah malu, bagaimana mau maju? Saat ini, segalanya bsia dijadikan konten. Mulai saja dulu, karena kita tidak akan pernah menyangka rezeki akand atang dari mana,” pungkasnya. (Ri/Wil)
Pakar Psikologi UMM : Luka Psikis Masa Kecil Harus Diobati

Seringkali pembahasan inner child ramai di jagat media sosial. Adapun Inner child adalah sifat kekanak-kanakkan yang terkait dengan pengalaman atau luka masa lalu yang belum mendapat penyelesaian. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hudaniah S.Psi. M.Si. menyampaikan bahwa luka tersebut harus diobati. Hal ini akan berkaitan dengan kualitas diri di masa yang akan datang. “Ketika tidak diobati, mungkin bisa saja sembuh. Tetapi butuh waktu lama dan meninggalkan bekas yang dalam. Bekasnya ini bisa berdampak pada kehidupan pribadi, seperti overthinking, penilaian egatif tentang diri sendiri dan menjadi orang yang tidak menyenangkan. Bahkan berakibat pada tidak diterima oleh lingkungan sosial, kurang peka dan lain-lain,” ujarnya. Salah satu masalahnya adalah pengasuhan yang kurang tepat dan optimal saat masa kecil. Misalnya saja mengalami kejadian traumatis. Baik itu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penelantaran, hingga pengabaian. “Luka-luka ini perlu diobati dengan beberapa langkah. Pertama yakni dengan menjalin dukungan sosial. Mendapatkan dukungan dari teman-teman, keluarga, atau bergabung dalam kelompok dukungan dapat membantu individu merasa tidak sendirian dalam menghadapi perjalanan pemulihan,” tambah Hudan. Selain itu, terapi dan konseling juga dapat dilakukan. Meminta bantuan dari profesional seperti psikolog atau konselor dapat membantu individu untuk mengatasi trauma dan emosi yang terpendam. Dalam sesi terapi, individu diberikan kesempatan untuk berbicara dan meresapi perasaan mereka dengan dukungan dan panduan yang tepat. “Yang terakhir adalah praktek pemaafan. Memaafkan diri sendiri dan orang tua yang terlibat dalam masa lalu adalah langkah penting dalam memutus siklus negatif. Pemaafan membantu melepaskan beban dan memungkinkan individu untuk melangkah maju,” tandasnya. Hudan juga berpesan ke siapa saja yang punya luka masa lalu untuk terus berusaha menjadi lebih baik.”Teruslah bergerak. Kita bukan seperti donat yang diam saja bisa berkembang. Pahami bahwa segala situasi yang kita hadapi tidak semuanya yang seperti kita inginkan. Dengan begitu kita bisa terus belajar dari pengalaman sehingga menjadi individu yang lebih matang dan berdaya,” imbuhnya. Terakhir dia menyampaikan agar rantai ini terputus, perlu ada persiapan bagi para calon orang tua sebelum memutuskan untuk menikah. Ini semua berawal dari keputusan pernikahan, regulasi solusi dalam pernikahan, manajemen konflik dan tujuan pernikahan itu sendiri. “Harus disadari adanya konsekuensi yang muncul pasca pernikahan, termasuk kehadiran anak. Bagaimana orang tua memaknai kehadiran anak. Orang tua harus mengorbankan waktu hingga kebutuhan finansialnya. Ini kalau tidak disipakan bahaya. Anak bisa jadi pelampiasan orang tua yang tidak matang,” pungkasnya. (Azm/Sil/Wil)
Mahasiswa UMM Gagas Painting House, Melukis dengan Bahan Alami

Kreativitas seni kini semakin berwarna dan beragam. Salah satunya hasil kerja mahasiswa prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yakni inovasi seni lukis menggunakan bahan alami melalui ‘Painting House’. Inovasi ini tidak hanya mendapat perhatian, tetapi juga berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Diktiristek. Tim tersebut beranggotakan Muhammad Rafly Ragil Adi Putra, Aprilisfiya Handayani, Saaul Mufidah, Sinta Krismaya, dan Caterina Aruli Iskandar. Keberhasilannya tidak terlepas dari peran dosen pendamping yaitu Aviani Widyastuti, S.E., AK.CA., M.SA. ‘Painting House’ merupakan sebuah usaha yang bergerak di sektor seni dengan fokus pada penjualan produk kesenian seperti lukisan. Selain itu juga workshop dan menawarkan jasa kursus melukis dengan pendekatan yang berbeda. Program ini menggunakan media seperti kanvas, topi, hijab, dan bahkan daun kering. Sampai saat ini, proyek ini mampu menarik perhatian karena inovasinya dalam menciptakan cat alami dari kunyit, wortel dan daun telang. Aprilisfiya Handayani, anggota tim ‘Painting House’, menjelaskan, upaya ini dilakukan untuk mengurangi dampak limbah cat kimia konvensional yang sulit terurai. “Konsep ini hampir mirip dengan teknik eco printing, di mana daun yang ditumbuk dapat memberikan motif unik pada permukaan kanvas. Lain halnya jika ingin mendapatkan warna kuning. Pakai kunyit yang awalnya diparut, lalu diambil sarinya,” jelasnya. Lebih dari sekadar menjadikan seni inspiratif, ‘Painting House’ juga berperan dalam mendukung pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 terkait produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Serta, poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. “Melalui Painting House, para seniman jalanan yang belum memiliki pekerjaan tetap dapat mengambil peran sebagai instruktur melukis. Hal itu tentu dapat membuka peluang pekerjaan baru dan berkelanjutan,” tambahnya. Dalam panggung seni yang semakin inovatif, proyek ini menjelma menjadi wadah untuk menggali kreativitas. Mendukung seniman jalanan, mengurangi dampak lingkungan, dan menjadikannya langkah positif dalam menghiasi dunia seni di Malang. (Lai/Sil/Wil)
Puluhan Peserta CoE English for Hospitality UMM Dikirim Magang Hotel Berbintang

Antusiasme para tamu terlihat jelas saat mahasiswa CoE English for Hospitality Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menampilkan kebolehannya. Penampilan itu merupakan bagian dari pembukaan Profesional Internship CoE English for Hospitality, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Turut hadir mitra Dunia Usaha dan Duni Industri (DUDI) dan sederet perewakilan guru SMA se-Malang Raya dalam agenda yang dilaksanakan 10 Agustus itu. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Drs. Jarum, M.Ed mengatakan, peserta CoE adalah mahasiswa yang sudah diseleksi dengan maksimal. Mereka juga sudah mendapatkan teori dan praktik kompetensi. “Alhamdulillah 29 mahasiswa akhirnya terpilih karena memiliki daya tahan yang bagus sehingga bisa bertahan di kelas CoE ini. Kemudian semester selanjutnya mereka akan langsung bekerja secara nyata di tempat mitra DUDU yang telah bermitra dengan UMM. Ada Samara Hotel & Resort Batu, The Onsen Hot Spring Resort Songgoriti, Aston Inn Batu, dan lainnya,” ungkap Jarum. Lebih lanjut, ia menjelaskan, CoE English for Hospitality ini dirancang tidak sekedar memberikan teori maupun praktek saja, tapi juga memiliki target agar para mahasiswa ini bisa langsung direkrut oleh para mitra. Selain itu, CoE ini juga terus mengembangkan mitranya ke Surabaya, Yogyakarta dan juga Bali. Sehingga ke depannya ada 13 mitra yang bergabung dengan program inj. “Kami juga sedang menggaet dan bekerjaaama dengan SMK yang ada di Malang. Dengan begitu, akan semakin banyak SDM yang bisa langsung dijaring industri. Dalam waktu dekat, kami juga akan membuka CoE baru yakni CoE english for young learner,” tambahnya. Di sisi lain, General Manager at Samara Hotel & Resort, Arif Purnomo Saputra mengapresiasi program ini. Menurutnya, CoE ini membantu mahasiswa untuk mendapatkan pembelajaran dan praktek mumpuni, utamanya dalam hal hospitality. “Saya kaget karena para peserta sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Sekarang mereka sudah bisa greeting dengan baik, smiling serta grooming. Mereka sudah paham bahwa bekerja di perhotelan adalah pekerjaan jasa yang harus sangat baik,” tambahnya. Arif berharap, para mahasiswa yang akan magang ini bisa menunjukkan ilmu yang sudah mereka dapat. Jika mereka bisa menampilkan performa yang baik, tidak menutup kemungkinan bisa langsung direkrut. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyampaikan, CoE memang dibuat untuk menjawab tantangan perkembangan perguruan tinggi. Ini juga menjadi bagian dari upaya UMM untuk memastikan lingkungan belajar yang nyaman, berkompetisi, serta kepastian bekerja. “Selamat untuk CoE English for Hospitality UMM. Semangat dan lakukan yang terbaik dalam menjalankan proses magang di mitra DUDI, kami berharap kalian juga terus menjaga nama baik Kampus Putih,” harapnya mengakhiri. (Zak/Wil)
Di UMM, Ketua Ombudsman RI Diminta Soroti Administrasi Scopus Jadi Syarat Kepangkatan Dosen

Publikasi scopus seharusnya dihapuskan sebagai syarat wajib guru besar di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan oleh Dr. Suharsiwi, M.Pd dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) naskah akademik administrasi kepangkatan dosen. Diskusi yang diikuti perwakilan doktor dari universitas se-Indonesia itu diselenggarakan oleh Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang UMM) pada 9 Agustus 2023 lalu. Suharsiwi selaku Koordinator Penulisan Naskah Akademik mengatakan, penelitian memang merupakan salah satu tugas dosen untuk memenuhi kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi. Utamanya untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu sebagai kontribusi. Namun, perlunya internasionalisasi publikasi dalam bentuk publikasi terindeks scopus nyatanya memiliki catatan-catatan negatif. “Tuntutan publikasi scopus membuat sebagian dosen akhirnya memilih jalur pintas, Sehingga muncul jurnal predator, perjokian karya ilmiah, hanya sekedar menumpang nama, dan lain sebagainya. Hal tersebut semakin diperparah saat seorang dosen telah menerbitkan jurnal terindeks scopus tetapi jurnal tersebut berstatus discontinued. Hal itu menyebabkan dosen mengalami kerugian biaya dan pengorbanan selama proses menulis sehingga akhirnya mengambil cara pintas,” jelasnya. Adapula efek lain dari praktik negatif penerbitan jurnal terindeks scopus. Yaitu adanya arogansi personal atau kelompok terhadap yang lain, yang mengakibatkan dunia akademik tidak kondusif. Hal-hal seperti itu tidaklah sesuai dengan semangat integritas dan akhlak yang seharusnya menjadi marwah pendidikan. Oleh karena itu, Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta itu dan tim penyusun naskah akademik berharap, temuan-temuan dari hasil kajian dapat dievaluasi dan direalisasikan oleh Ombudsman. Sehingga bisa segera memberikan perubahan kebijakan yang lebih membantu tenaga pendidik atau dosen. Utamanya dalam kinerja publikasi, pencapaian guru besar dan lain sebagainya. Sementara itu, Ketua Ombudsman RI Dr. Mokh Najih, M.H. menanggapi bahwa Ombudsman siap mengkaji naskah akademik tersebut. Dengan begitu, temuan par dosen tidak hanya berhenti dalam bentuk laporan saja. Tetapi juga bisa direalisasikan dan dapat bermanfaat bagi penyelenggaraan perguruan tinggi. “Ombudsman memang mempunyai peran dan tanggung jawab penting dalam konteks penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Hal tersebut termaktub dalam UU Ombudsman nomor 37 tahun 2008 sebagai lembaga negara yang mengawasi terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. Semua yang termasuk dalam pelayanan publik akan diawasi termasuk dari perguruan tinggi,” terang Najih. Oleh karena itu, ia berharap perguruan tinggi bisa terus berkolaborasi serta bersinergi dengan Ombudsman. Sehingga penyelenggaraan pelayanan publik yang baik bisa terwujud. Menurutnya, diskusi seperti ini merupakan kesempatan yang bisa terus dipertahankan. Saling bahu-membahu mewujudkan kualitas penyelenggaraan pendidikan yang terbaik. (Zak/Wil)
Adif, Mahasiswa Vokasi UMM Sukses Juarai Festival Film Nasional

Kabar membanggakan hadir dari D3 Keperawatan, Fakultas Vokasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Adif Adriansyah, mahasiswa semester tiga yang sukses meraih juara pertama sinematografi terbaik pada Film Festival Nasional pada Akhir bulan lalu. Adif sapaan akrabnya, berhasil mengalahkan lebih dari 50 tim dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Adif bercerita, topik yag diangkat dekat dengan kehidupan masyarakat. Yakni bagaimana mereka saling berjaung dan bahu membahu untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. “Pembahasan kami dalam film itu didesain dengan simple, namun berbobot. Kami juga mengutip kalimat filosofi yakni urip iku urup dan menjadikannya judul film. Pengambilan filosofi tersebut juga dilatar belakangi dengan melihat kondisi saat ini. Banyak anak muda individualis yang acuh terhadap lingkungan sekitar, serta masih mengedepankan keegoisan,” ujarnya Adif menuturkan, dalam memanifestasikan fiolosofi itu, filmnya menyajikan nilai-nilai perjuangan para pahlawan indonesia dalam merebut kemerdekaan. Dilanjutkan dengan implementasi yang dapat dilakukan anak muda di era sekarang. Dengan penyajian yang ringan, ia yakin para penonton bisa menangkap maksud dan isi dari film itu. “Isi filmnya ada terkait dengan perjuangan pahlawan saat berjuang melawan penjajah. Nilai urip itu urup sangat jelas terpampang dalam perjuangan mereka. Lalu dilanjutkan dengan adegan seorang ayah menasehati anaknya agar lebih bisa bersosialisasi dan hidup guyup rukun dengan kawannya,” jelas Adif. Sebagai tambahan, makna filosofis dari urip iku urup yakni, manusia dilahirkan di dunia bukan untuk berdiri sendiri, berkuasa dan semua hanya untuk diri sendiri. Namun, manusia lahir untuk saling memberi, saling menolong dan saling membantu sesama tanpa ada rasa pamrih. Ia juga tak lupa memberikan motivasi kepada para mahasiswa lain yang memiliki potensi, khususnya dalam dunia perfilman. Menurutnya, mereka tidak perlu minder dengan kemampuan yang dimiliki atau jurusan yang tidak sejalur dengan kesukaan. Yang paling penting adalah konsistensi serta kemauan untuk terus belajar. “Meskipun saya ini mahasiswa D3 Keperawatan, namun dunia videografi masih menjadi hobi yang saya senangi. Tetap bisa berkarya lewat hobi, jadi karya dan prestasi tidak harus linier dengan jurusan kuliah. Tujuan utama saya adalah untuk tetap bisa menghasilakn karya,” tutupnya mengakhiri. (Faq/Wil)
Bincang Politik Lab Ilmu Politik UMM Rillis Hasil Survey Pemilih Jatim

Semua survei termasuk survei politik boleh salah, Tetapi tidak boleh bohong. Hal itu ditegaskan Peneliti Ahli Utama BRIN Prof. Dr. R. Siti Zuhro, M.A. dalam Bincang Politik Nasional dan Rilis Hasil Survei Opini Publik Jawa Timur. Agenda itu dilangsungkan oleh Laboratorium Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 10 Agustus lalu. Adapun survei tersebut dilakukan di Jawa Timur dan diperoleh dari koresponden yang beragam. Turut hadir sebagai pembicara pengamat politik dan guru besar ilmu politik Unair, Prof. Dr. Kacung Marijan, MA. Ph.D. Diskusi menarik itu juga mengundang sederet perwakilan berbagai partai politik, seperti PDIP, PKB, Demokrat, PKS, dan lainnya. Lebih lanjut, Zuhro menegaskan bahwa ia sebenarnya tidak begitu menyukai survei politik. Apalagi lembaga-lembaga survei seringkali tidak transparan dengan siapa yang mendanai. Ia juga tertarik dengan hasil hasil survey laboratorium politik UMM karena ternyata korespondennya didominasi oleh warga Nahdatul Ulama (NU). “Sebagian besar koresponden seakan ingin bilang agar Muhammadiyah juga harus turun gunung dan seharusnya bisa tampil di wilayah politik. Belakangan, muncul nama Pak Muhadjir Effendy yang digadang-gadang jadi pilihan calon wakil presiden. Beliau memang bisa dikatakan sebagai salah satu sosok pemimpin di Jatim. Maka wajar jika dalam survei ini, nama beliau cukup dikenal,” katanya. Namun, sayangnya Muhadjir dirasa terlalu kalem dan harusnya bisa lebih lincah. Zuhro menilai, Muhammadiyah memiliki banyak SDM yang bisa bersaing, tetapi tidak muncul nama di kancah politik. Maka menurutnya, survei ini dapat mendorong Muhammadiyah untuk segera tampil dan berkontribusi. Selain itu, berdasarkan data hasil survei, suara calon presiden nyatanya tidak ditentukan oleh partai. Namun tergantung sosok yang bersangkutan. Menurut Zuhro, dalam sistem pemilihan langsung, popularitas masih menjadi hal yang sangat mempengaruhi pilihan. “Saya juga mengapresiasi UMM yang dapat memberikan jembatan agar tidak terjadi salah paham dengan mendatangkan pengamat dan juga para perwakilan partai. Terakhir, saya ingin bilang Indonesia memiliki masyarakat yang selalu maintaining harmony dan ini perlu kita jaga. Kalau kita ingin Indonesia baik-baik saja, maka kita mencari dan memilih pemimpin yang nawaitu-nya benar-benar ingin Indonesia jadi lebih baik,” tegasnya. Sementara itu, Kacung Marijan mengatakan bahwa seringkali muncul fenomena split ticket voting pada pemilu. Yakni konsep perilaku pemilih ketika dihadapkan pada pilihan yang beragam dalam suatu pemilihan. Hal ini biasanya terjadi saat tidak ada titik sambung antara partai dan pilihan presiden. Kemungkinan hal ini kembali terjadi saat pemilu 2024 nanti. “Misalnya saja saat pilpres 2019 lalu. Kita bisa melihat bahwa tidak semua anggota PDIP waktu itu memilih Jokowi. Begitupun dengan Prabowo yang tidak semua gen Z memilihnya,” pungkasnya mengakhiri. Ada hal menarik lain yang disampaikan oleh pengamat politik lain, Dr. Asep Nurjaman, M.Si. Dari hasil survei, ia menilai bahwa muncul keinginan dari masyarakat agar kader Muhammadiyah bisa muncul ke permukaan. Salah satu yang sedang hangat adalah Muhadjir Effendy. “Saya rasa ada kerinduan masyarakat akan calon-calon yang punya upaya pengabdian dan ketulusan pada bangsa. Perasaan inilah yang seharusnya terus ditumbuhkan untuk mencegah munculnya fenomena money politic,” tegasnya. Asep juga memberikan pandangan lain terkait survei politik. Di negara lain, survei yang berdasarkan sampling sudah ditinggalkan dan beralih pada penggunaan AI serta big data. Berbagai kelebihan bisa didapat, seperti misalnya pemetaan calon yang lebih akurat karena tidak ada batasan data. Sehingga ia berharap partai politik dan lembaga survei juga bisa segera memanfaatkan teknologi terkait. (Wil)
UMM Juara Nasional Bikin Business Plan Platform Edukasi

Kabar prestasi kembali diraih Sherpa Academy yang diciptakan oleh mahasiswa UMM. Setelah berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Kemendikbud-Ristek RI. Sherpa Academy berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi business plan tingkat Nasional. Kompetisi yang bertajuk Expo Inovasi Kewirausahaan Mahasiswa itu diselenggarakan oleh Universitas Ahmad Dahlan pada tanggal akhir Juli 2023 lalu. Samsul Huda yang akrab dipanggil Samsul mengatakan, keikutsertaannya dalam kompetisi ini bertujuan untuk menarik banyak perhatian dan meningkatkan brand awareness Sherpa Academy. Karena kompetisis ini bersifat individu, dirinya dipilih untuk menjadi perwakilan tim untuk mempresentasikan Sherpa Academy yang dituang dalam bentuk business plan. “Alhamdulillah senang karena berhasil menorehkan prestasi untuk diri saya sendiri dan juga bagi tim serta untuk kampus putih UMM. Ini merupakan sebuah awal baru bagi saya untuk terus meningkatkan kualitas diri terutama dalam bidang bisnis dan entrepreneurship,” ungkap Samsul. Lebih lanjut, mahasiswa program studi Manajemen itu menjelaskan Sherpa Academy merupakan lembaga atau platform yang menyediakan layanan mentorship persiapan beasiswa yang berfokus pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Sherpa Academy memiliki visi untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia melalui pembekalan komprehensif yang mencakup pengetahuan, keterampilan teknis, dan pembentukan karakter (character building). “Sherpa Academy berkomitmen untuk membuka jalan bagi pejuang beasiswa dalam meraih impian mereka. Platform ini hadir sebagai sebuah jawaban dan solusi bagi mereka yang masih bingung mempersiapkan beasiswa,” jelas Samsul. Mahasiswa yang memiliki hobi membaca itu menambahkan, Sherpa Academy memiliki konsep sebagai lembaga edutech. Dalam pembelajarannya, platform itu erat dengan penggunaan teknologi. Misalnya saja, kelas mentoring yang dilaksanakan melalui zoom meeting , tools slido, dan padlet sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran yang diberikan. “Tidak banyak kendala atau masalah yang dihadapi selama persiapan maupun pada saat lomba. Mungkin lebih ke teknis dalam persiapan expo. Saya juga mendapat dukungan penuh dari tim, dosen pembimbing dan juga fakultas di kompetisi ini,” terang Samsul. Terakhir, Pemuda asal Trenggalek itu berharap dari kemenangan ini dapat meningkatkan skillnya. meraih prestasi-prestasi lain, utamanya di ranah bisnis dan entrepreneurship. Ia juga berpesan bagi mahasiswa lainnya untuk terus belajar untuk meningkatkan kemampuan diri serta tidak takut dalam mencoba sesuatu. “Jadilah mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan ataupun perlombaan. Percayalah hasil yang akan kamu dapatkan akan menjadi suatu prestasi dan kebanggaan bagi diri sendiri, orang tua dan juga kampus putih UMM,” pungkasnya. (Zak)
UMM Kukuhkan Guru Besar Bidang Self Recovery

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah guru besar baru. Kali ini adalah Prof. Latipun, Ph.D. yang menjadi guru besar bidang psikologi. Ia dikukuhkan pada 9 Agustus lalu dan menyampaikan orasi Ilmiah terkait konseling dan terapi berorientasi pada kemampuan self-recovery. Ini juga menjadi strategi implementasi sustainable development goals (SDGs) dalam bidang kemanusiaan. Berdasarkan penelitiannya, Latipun menerangkan, pada hakekatnya setiap manusia berkemauan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Prinsip ini bisa juga dikembangkan dalam praktik konseling dan terapi. Meski melibatkan pihak lain dalam menyelesaikan masalah, namun konseling dan terapi sepatutnya mengembalikannya pada klien. Dengan begitu, klien bisa mengatasi problem dan mengembangkannya di kemudian hari. “Itulah yang disebut dengan sel-recovery, yakni usaha individu untuk menangani, memulihkan, atau mengembalikan kondisi dirinya ke dalam kondisi yang normal dan optimal. Meski begitu, bantual awal dari kalangan profesional dan orang-orang di sekitarnya tetap diperlukan untuk meningkatkan kemauan individu untuk menyelesaikannya sendiri,” jelasnya. Adapun konseling dan terapi berorientasi pada self-recovery mengikuti empat prinsip utama. Pertama, menekankan keterlibatan diri dalam menghadapi tantangan kehidupannya. Kedua, mengandalkan kekuatan internal klien ketimbang kekuatan luar. Tiga, mengutamakan proses individu untuk eksplorasi diri, belajar dari pengalaman, serta peningkatan keterampilan koping. Terakhir, setiap individu bertanggung jawab menyelesaikan masalah sendiri dan mampu berkembang optimal. Terkait hubungannya dengan SDGs, Latipun mnejelaskan bahwa konseling memiliki relevansi dengan SDGs, terutama pada bidang kemanusiaan. Secara umum, tujuan konseling adalah menghasilkan pribadi yang matang dan sehat secara mental. Hal ini sejalan dengan rumusan SDGs yang menjamin kehidupan sehat serta mendorong kesejahteraan bagi semua kalangan dan usia. “Strategi konseling berbasis pada self-recovery ini sangat sesuai dengan tujuan yang dirumuskan PBB terkait SDGs. Kesehatan secara mental dan kemampuan individu self-recovery dalam menghadapi berbagai masalahnya adalah strategi yang urgen,” tegasnya. Pada kesempatan itu, turut hadir secara daring Menteri Koordinator PMK RI sekaligus ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Ia menegaskan bahwa menjadi guru besar adalah cita-cita yang harus dimiliki oleh setiap dosen. Hal ini merupakan capaian yang luar biasa, maka ia tidak memberikan selamat kepada Latipun yang telah melewati perjalanan akademik. Lebih lanjut, Muhadjir mengatakan, psikologi adalah bidang yang tidak mudah tergantikan, sekalipun oleh AI. Para pakar psikologi akan selalu dibutuhkan dalam dinamika kehidupan. Psikologi juga memiliki hubungan dengan upaya SDGs, misalnya saja tujuan program kesehatan dan kesejateraan. “DI era sebelumnya, kita tahu bahwa kesehatan mental tidak dianggap begitu penting dibandingkan dengan kesehatan fisik. Namun sekarang, pemahaman itu bergeser. Muncul kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental,” pungkasnya mengakhiri. (Wil)