FKIP UMM-Dinas Pendidikan se-Malang Raya Komitmen Wujudkan SDGs

Siap berkomitmen penuh mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) pada sektor pendidikan berkualitas, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siapkan 685 lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada tahun 2023. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Dekan FKIP UMM pada giat Ngobrol Bareng (Ngobar) bersama kepala dinas pendidikan se-Malang Raya pada 1 Agustus 2023 di The Sky Roofftop Rayz UMM Hotel. Lebih lanjut, Dr. Trisakti Handayani, MM. menyampaikan, lulusan PPG UMM tersebut telah dibekali banyak keterampilan dalam mengajar. Mulai dari model pembelajaran abad 21, pembelajaran inovatif, hingga pembelajaran dengan High Order Thinking Skill (HOTS). “Guru profesional lulusan PPG UMM ini kami bekali banyak sekali ilmu dan skill mengajar. Tidak hanya teori dalam pembelajaran, namun juga pengembangan media pembelajaran hingga bekal dalam implementasi kurikulum merdeka. Di samping itu juga penguatan pembelajaran berdiferensiasi hingga bagaimana menganalisa kemampuan siswa terkait dengan project yang nanti diberikan” tambahnya. Dalam acara yang bertajuk “Membincang Pendidikan Malang Raya Dalam Mendukung Tercapainya SDGs” itu, turut hadir Direktur Eksekutif APCE-UNESCO Prof. Dr. Ignasius D. A. Sutapa, M.Sc. Dia menegaskan, SDGs Indonesia mengalami cukup peningkatan. Hal itu menjadi salah satu prestasi, mengingat peningkatan ini terjadi pasca gejolak pandemi Covid-19. “Peringkat kita sekarang ada di 75 dalam SDGs, tahun lalu di angka 82. Ini perlu kita banggakan. Membuktikan bahwa recovery negara kita pasca pandemi sangat cepat,” jelasnya. Menurutnya, sektor pendidikan menjadi fokus yang harus diperhatikan lebih intens. Tidak bisa berjalan tanpa kolaborasi antara instansi penyelenggara pendidikan, pemerintah, para stakeholder. Begitupun dengan dunia usaha dunia industri (DUDI) yang menjadi wadah khusus untuk peningakatan skill dari Sumber Daya Manusia (SDM). Pun menjadi penerima produk-produk pendidikan kita kepada dunia kerja. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Drs. Suwarjono, M.Si menyampaikan apresiasi tinggi kepada FKIP UMM yang memberikan ruang diskusi kepada Dinas Pendidikan se-Malang Raya. Utamanya untuk menyampaikan ide serta gagasan yang berkaitan dengan dunia pendidikan. “Ini kali pertama kalinya, Dinas Pendidikan Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang diundang oleh universitas untuk duduk dalam acara ngobrol dan diskusi. Apalagi UMM memang dikenal sebagai pencetak guru-guru yang profesional,” tegasnya. Jono, begitu ia kerap disapa, berharap besar kepada seluruh elemen masyarakat untuk lebih fokus dalam membahas, merancang, serta mendesain rencana tindak lanjut dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. “Berbicara tentang pendidikan kita, memang ada sederet masalah yang muncul. Namun kita tka bisa tinggal diam, harus mampu menghasilkan inovasi baru untuk menyelesaikan problem-problem itu. Karena pada dasarnya, tanpa adanya pendidikan, kita bukanlah apa-apa,” tutupnya. (Faq/Wil)

Bantu Warga Binaan Lapas, Mahasiswa UMM Ajari Budidaya Ikan Lele berbasis RAS

Warga binaan yang berada di lembaga pemasyarakat (lapas) masih saja dicap negatif oleh sebagian orang. Stigma tersebut juga masih melekat sekalipun mereka bebas dari lapas. Hal tersebut membuat mantan warga binaan kesusahan untuk mendapat pekerjaan dan bertahan hidup. Hal itu mendorong inisiatif sederet mahasiswa PKM-PM prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka melakukan pendampingan di lapas kelas satu Malang dan mengajari cara budidaya ikan lele yang bisa menjadi alternatif pekerjaan saat warga binaan menyelesaikan masa hukumannya. Adapun tim ini terdiri dari Putri Ramadhani, Phobie Yolasica Irawan, Fathimatuz Zahroh, Moh. Ilham Wahyudi dan Maulana Zaky Ghifari. Salah satu anggota kelompok, Putri, mengatakan program tersebut berupa pembekalan usaha budidaya ikan lele dengan teknologi resirkulasi akuakultur sistem dan budidaya pakan alami. Harapannya, kegiatan ini bisa membantu perekonomian para narapidana nantinya. “Program ini sudah berjalan dari bulan Juni lalu dan akan berakhir di bulan September. Selain untuk menunjang perekonomian di lapas, besar harapan program ini bisa menjadi keterampilan baru dan bekal bagi mereka untuk membuat usaha ketika nantinya mereka bebas,” ungkap Putri. Budidaya ikan lele ini dipilih karena ikan lele merupakan jenis ikan konsumsi yang memiliki potensi budidaya yang tinggi dengan kandungan protein ikan lele yang tergolong bagus yaitu 19,09%. Selain itu, ikan lele  juga sangat mudah dibudidayakan dan ditemui di pasaran. “Faktor penentu keberhasilan utama dari budidaya ikan yaitu pakan. Maka, di program ini, kami juga melakukan pelatihan untuk memberikan pakan alami berupa kutu air (daphnia sp.) dan cacing sutera (tubifex sp.) yang memiliki nilai nutrisi yang tinggi. Dengan pemberian pakan alami, biayayang dikeluarkan juga dapat ditekan,” jelas Putri. Mereka menambahkan teknologi Resirkulasi Akuakultur Sistem (RAS) yang memiliki keunggulan untuk memanfaatkan sistem sirkulasi air kolam. Yakni dengan menggunakan kembali air sebagai budidaya habitat air, sehingga dapat mengurangi penggunaan air dari luar sistem. “Alhamdulillah, program kami juga mendapatkan pendanaan dari pemerintah. Kami juga menyediakan buku perikanan agar mereka bisa terus belajar,” tegasnya. Di sisi lain, petugas lapas maupun para warga binaan mengapresiasi dan bersemangat untuk mengikut serangkaian aktivitas yang ada. Mereka menilai, program seperti ini sangat bermanfaat untuk menambah skill dan alternatif pekerjaan saat nanti bebas. Jadi tidak hanya bergantung pada pekerjaan yang lain. (Zak/Wil)

Tekan Asam Urat, Mahasiswa UMM Kembangkan Kombucha Teh Kenanga

Angka penderita asam urat meningkat setiap tahunnya. Asam urat merupakan kondisi medis yang disebabkan oleh banyaknya kristal asam urat di dalam sendi dan jaringan tubuh. Ini menyebabkan rasa sakit dan peradangan yang sering kali menyakitkan. Berangkat dari keresahan itu, sederet mahasiswa program studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiatif mengembangkan minuman yang bisa mencegah dan mengobati asam urat. Adalah Muhammad Alif Ryan, Talitha Aulia Fitri, Anis Fadlia Hanum dan Rina Ayu Wilasari meneliti terkait hal itu. Tepatnya tentang efektivitas kombucha cananga odorata dan ekstrak kulit apel manalagi sebagai minuman probiotik antihiperurisemia Bahkan penelitian yang berbasis Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Eksakta ini sukses mendapatkan pendanaan dari Kemendikbud Ristek. Salah satu anggota, Rina mengungkapkan, potensi bunga kenanga cukup menjanjikan. Apalagi untuk menekan asam urat. “Bunga kenanga memiliki kandungan flavonoid yang tinggi berupa kuersetin dan miresetin. Zat-zat itu disinyalir berpotensi menghambat enzim oksidase. Sehingga dapat menurunkan kadar asam urat dalam tubuh,” jelasnya. Kombucha sendiri ialah minuman probiotik yang dibuat melalui proses fermentasi teh menggunakan koloni mikroorganisme yang terdiri dari bakteri dan ragi. Proses fermentasi ini menghasilkan kombinasi asam organik, enzim, dan probiotik yang baik untuk sumber senyawa anti inflamasi. Selain itu juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sementara itu, ketua tim Ryan menyampaikan, prosesnya dimulai dari membuat teh bunga kenanga. Di sini, tanaman dibiarkan layu dan kemudian dikeringkan. Tahap berikutnya adalah penyeduhan yang dilakukan layaknya menyeduh teh pada umumnya. Setelah itu, berlanjut pada proses ekstrasi kulit apel manalagi. Dalam proses ini, kulit apel manalagi dihancurkan menggunakan blender, lalu ditambahkan etanol dan diendapkan terlebih dahulu pada suhu ruang atau suhu kamar selama 24 jam. Setelah melalui proses pengendapan, barulah ekstraksi kulit apel di pisahkan antara cairan dengan residu nya menggunakan corong pisah. Proses maserasi ini memungkinkan senyawa-senyawa yang diinginkan larut dalam pelarut secara perlahan selama periode perendaman. Proses ekstraksi ini dilakukan demi memperoleh kandungan flavonoid dan polifenol khususnya di senyawa kuersetin, katekin, miracetin, dan juga phlorizyn. Langkah selanjutnya adalah tahap fermentasi. Seluruh bahan mulai dari teh bunga kenanga, ekstrak kulit apel manalagi dan scoby di masukkan dalam satu wadah. Campurannya akan melewati masa fermentasi selama 10 hari. Untuk memastikan kombucha ini siap di konsumsi, akan dilakukan uji lab terhadap ada atau tidaknya alkohol dalam minuman kombucha. “Setelah itu, kombucha siap untuk dipacking. Nantinya, minuman ini akan berupa teh pada umumnya dan dikemas dengan botol higienis. Untuk takaran konsumsinya yakni seminggu tiga kali. Bisa diminum secara langsung atau ditambah dengan es batu,” pungkasnya. (Rev/Wil)

Dosen UMM: Tiga Elemen Penting Jauhkan Anak dari Kekerasan

Belakangan, muncul berbagai kasus kejahatan yang menerang anak. Hal ini meningkatkan ketakutan para orang tua terkait keselamatan anak-anak mereka. Fenomena ini juga membuat Moh. Wahyu Kurniawan, S.Pd. M.Pd. selaku dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkat bicara. Utamanya terkait apa saja yang harus diterapkan dan dilakukan untuk menekan angka kejahatan yang menyasar anak sebagai korban. Dosen jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan itu menegaskan, sudah ada undang-undang (UU) di Indonesia yang mengatur keselamatan dan kesejahteraan anak. “Di dalamnya dikatakan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi,” katanya. Menurutnya, kekerasan akan berdampak besar bagi anak. Baik itu secara mental, psikis dan kepercayaan diri yang akan cenderung lemah. Jika kekerasan tersebut masuk di ranah kekerasan fisik, hal tersebut dapat dikenakan tindak pidana. Sehingga pemerintah, masyarakat, keluarga, atau bahkan sekolah harus hati-hati dan dilarang untuk melakukan kekerasan yang ditujukan ke anak-anak. “Kalau di pendidikan, sekolah bisa menjalankan pola sistem pendidikan yang humanis yang mengacu pada tripusat. Ketiganya adalah lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Sinergisitas ketiganya memiliki peran dan tanggung jawab dalam mengembangkan pendidikan untuk anak agar terbebaskan akan tindak perundungan,” tambahnya. Selain itu, setiap sekolah juga perlu memiliki pendidikan yang humanistik yakni memanusiakan manusia. Ini dapat dilakukan dengan cara menghormati dan menghargai kekurangan serta kelebihan pada anak. Tidak memaksakan kehendak sesuai dengan bidang yang diminati tenaga pendidik. “Karena pada dasarnya, setiap anak memiliki potensi mereka masing-masing. Sehingga pendidik harus mampu mengembangakan ini. Bukan malah memaksa mereka untuk menguasai yang lain, ,” tandasnya. Selain itu, Wahyu berpesan bahwa atmosfer yang mampu mengembangkan komptensi anak merupakan aspek penting dalam upaya mengurangi kejahatan kepada anak. Bukan hanya di sekolah, tapi juga lingkungan di mana ia tinggal. “Pengawasan juga tidak hanya dibebankan pada pihak sekolah, tapi orang tua dan keluarga juga harus berperan aktif untuk melindungi anak-anaknya dari kejahatan yang belakangan menyasar anka-anak. Kita harus paham bahwa mereka adalah penerus bangsa, maka harus dijaga fisik dan mentalnya,” tegasnya mengakhiri. (Fat/Wil)

Ingin Jadi Auditor? Ini Skill yang Harus Dimiliki Menurut Dosen UMM

Profesi auditor semakin menarik perhatian banyak orang. Apalagi dengan iming-iming gaji yang tinggi. Pada tingkat junior auditor saja mencapau 6-10 juta. Namun, dibalik tingginya gaji yang bisa diperoleh, ternyata juga memerlukan keahlian khusus yang tidak bisa dianggap enteng. Hal ini disampaikan Agung Prasetyo Nugroho Wicaksono S.E., M.A., dosen Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh mereka yang ingin menjadi auditor. Pemahaman mendalam tentang standar audit menjadi kunci utama untuk mencapai kesuksesan di bidang ini. “Menjaga integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas juga penting,”tegasnya. Adapun syarat minimal untuk menjadi auditor adalah bergelar sarjana akuntansi atau ekonomi. Meskipun kualifikasi administrasi seperti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan nilai mata kuliah murni perlu diperhatikan, ia menekankan bahwa audit tidak hanya bergantung pada pendidikan formalitas semata. Seorang auditor juga harus memiliki kecintaan membaca yang kuat, terutama terhadap IFRS International Financial Reporting Standards (IFFS), Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Standar Audit (SA). “Familiaritas dengan regulasi ini menjadi suatu keharusan bagi calon auditor untuk memahami lebih dalam dan melaksanakan tugas dengan baik sheingga mencapai sukses dalam karirnya,” sambungnya. Tidak ketinggalan, ia juga menyarankan agar calon auditor untuk mempertimbangkan perolehan kualifikasi profesional, seperti menjadi seorang Certified Public Accountant (CPA) atau Chartered Accountant (CA), yang diakui secara internasional. Sertifikasi ini dapat memberikan kepercayaan ekstra kepada klien dan meningkatkan nilai serta peluang karir seorang auditor. Selain itu, mereka yang bercita-cita menjadi auditor juga harus menguasai teknologi informasi, apalagi di era digital seperti sekarang. Dalam lingkungan yang semakin terhubung secara digital, seorang auditor harus mampu menggunakan alat dan teknik analisis data yang canggih. Sehingga, proses audit dapat dipermudah dan efisiensi kerja dapat lebih ditingkatkan. Namun, keahlian teknis saja tidaklah cukup. Kemampuan komunikasi juga menjadi syarat wajib untuk menunjang sukses di bidang ini.  “Kemampuan komunikasi yang efektif, baik dalam berinteraksi dengan klien maupun dalam melaporkan temuan audit adalah jalan menuju karir yang lebih baik. Saya yakin hal itu berguna dalam mempengaruhi keputusan bisnis dan memberikan nilai lebih bagi klien,” tegasnya. Terakhir, ia berpesan ketika sudah menapaki jalan menuju seoarng auditor, para anak muda tidak boleh mudah baper. Harus tetap fokus dalam menjalankan tugas sembari memperluas jangkauan dan relevansi pengetahuan dalam dunia audit yang semakin kompleks. (Lai/Wil)

Tim Mahasiswa UMM Kembangkan Permen Anti Diabetes

Diabetes menjadi salah satu penyakit penyebab kematian terbesar di dunia. Namun penanganan di masyarakat hanya sebatas membatasi asupan gula atau melakukan suntik insulin. Berangkat dari hal tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan inovasi berupa permen jeli sebagai upaya preventif, utamanya di kalangan anak-anak. Menariknya, ide yang dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini berhasil lolos dan didanai Kemdikbud-Ristek RI. Adapun tim tersebut terdiri dari mahasiswa jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ketua tim PKM, Herlina Diah Ayu Rosita mengatakan, permen jeli ini dibuat dengan bahan dasar ekstrak zerumbone pada lempuyang dengan xylitol ampas tebu. Pemilihan bahan ini tidak lepas dari realita bahwa kandungan lempuyang memiliki khasiat yang dapat dijadikan alternatif pengontrol gula darah. “Apalagi, bahan ini sangat mudah didapatkan dan diperjualbelikan di pasar dengan harga yang terjangkau. Sehingga semua kalangan bisa dengan mudah menemukan dan menggunakannya,” tambahnya. Herlina, begitu ia kerap disapa, menjelaskan bahwa masyarakat hanya diminta membatasi asupan gula untuk mengantisipasi diabetes. Selain itu juga melajukan suntik insulin. Padahal, hal itu memerlukan biaya yang tidak sedikit sehingga mereka yang memiliki ekonomi rendah tidak da[at memenuhi kesehatan tubuhnya,” katanya menambahkan. Sejauh ini, menurut Herlina belum ada penelitian yang membahas ekstrak zerumbone pada lempuyang dengan xylitol ampas tebu. Beberapa di antaranya hanya membahas mengenai anti hyperglycemia dengan ekstrak jahe yang hanya mengurangi kadar gula darah yang tinggi pada tubuh. Hingga saat ini, PKM-RE ini sudah masuk ke tahap pengesktrakan tumbuhan lempuyang wangi dan fermentasi xylitol. Ia mengaku, timnya cukup kesusahan mencari daftar referensi yang bagus dalam melakukan metode pembuatannya. “Iya, permen jeli ini masih dalam tahap pengembangan dan penelitian. Tapi saya yakin, dalam waktu dekat produknya sudah bisa diproduksi dan dicoba,” katanya optimis. Terakhir, Ia dna tim berharap, inovasi permen jeli ini bisa merubah perspektif masyarakat tentang permen yang biasanya dinilai tinggi gula. Selain itu juga menekan angka anak-anak yang potensial terkena penyakit diabetes di masa muda bahkan saat tua nanti. (Ri/Wil)

Dosen Ekonomi UMM Jelaskan Efek Naiknya Tarif Potongan Ojol

Tahun 2023, industri ojek online (Ojol) dihadapkan pada tantangan besar. Yakni peningkatan tarif potongan yang diberlakukan oleh platform penyedia layanan. Banyak pengemudi Ojol yang kemudian memutuskan untuk berhenti. Situasi ini mencuatkan keprihatinan serius terkait kesejahteraan pengemudi dan stabilitas industri ojol. Fenomena ini juga menarik perhatian dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Chalimatuz Sa’diyah, S.E., M.M. Ia menyampaikan bahwa peningkatan tarif potongan dalam industri ojol dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari permintaan, penawaran biaya operasional, hingga keuntungan perusahaan. Sebagai contoh, jika permintaan layanan ojol meningkat, perusahaan juga perlu menyesuaikan tarif potongan agar tetap menghasilkan keuntungan yang layak. Begitu juga sebaliknya. Naiknya tarif potongan menunculkan ketidakseimbangan. Pengemudi merasa terjebak dan memiliki ketergantungan ekonomi yang tinggi pada platform. Sehingga, mereka merasa kurang memiliki kontrol terhadap tarif yang ditetapkan. Kondisi ini juga memperparah ketimpangan pendapatan dan kesenjangan sosial di masyarakat. “Pengemudi ojol biasanya berada pada tingkat pendidikan atau keterampilan yang cukup rendah. Mereka rentan mengalami kesulitan akhirnya mencari pekerjan tambahan,” ujar dosen yang akrab disapa Chaca tersebut. Penurunan jumlah pengemudi Ojol juga berdampak pada mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi regional. Para pengemudi Ojol memainkan peran penting dalam memfasilitasi mobilitas individu yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Oleh karena itu, diperlukan alternatif kebijakan yang dapat menjaga keberlanjutan industri Ojol dan memastikan kesejahteraan para pengemudi. “Dalam mengatur tarif potongan, pemerintah perlu mengaturnya dengan mempertimbangkan keadilan bagi para pengemudi dan menciptakan lingkungan kerja yang berkelanjutan, sekaligus memastikan akses yang adil terhadap hak-hak pekerja,” katanya. Chacha menegaskan, menghadapi tantangan semacam ini memerlukan upaya evaluasi terhadap kebijakan yang sudah berjalan. Tujuan utamanya adalah mencapai kesetaraan, kesejahteraan, dan keberlanjutan industri ojek online. “Dengan demikian, akan tercipta lingkungan yang menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. Termasuk pengemudi ojek daring, platform penyedia layanan, dan masyarakat pengguna,” pungkasnya. (Lai/Wil)

Webometrics Rilis Raport UMM Kampus Terbaik se-Jatim

Kualitas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak diragukan lagi. Terbaru, Kampus Putih UMM sukses menduduki peringkat pertama perguruan tinggi swasta se-Jatim versi Webometric. UMM juga masuk lima besar PTS terbaik se-Indonesia dan 22 besar kampus negeri serta swasta se-nasional. Adapun data itu dikeluarkan oleh lembaga pemeringkatan internasonal, Webometric. Asisten Rektor Bidang Akreditasi Internasional dan Pemeringkatan UMM Drs. Suparto, M.Pd. bangga akan raihan tersebut. Ia menjelaskan, Webometric bukan sekadar angka namun mencerminkan kondisi dan kualitas masing-masing kampus. “Pemeringkatan ini tidak hanya melihat website. Datanya memang diambil dari web, tapi ada beragam aspek yang dinilai. Lagipula, situs kampus tidak akan bisa berbunyi jika tak ada kegiatan apik yang senantiasa diselenggarakan oleh kampus,” tambahnya. Secara nasional, ia mengatakan bahwa para periode ini peringkat UMM naik dibandingkan periode Januari 2023 lalu. Artinya, ada peningkatan kualitas yang sudah diupayakan oleh UMM. Ada tiga aspke penting yang dilihat, di antaranya Impact, transparancy, dan excellence. Impact memiliki porsi yang paling besar dalam penilaian, yakni mencapai 50 persen. Di sini, Webometric melihat sebarapa banyak traffic yang berlalu lalang di situs UMM. Kemudian transparancy lebih fokus pada seberapa banyak sitasi dosen yang diakses. Bidang ini memiliki porsi sebesar 10 persen. Terakhir yakni excellence yang melihat seberapa baik dan banyak kualitas jurnal-jurnal UMM. “Semua pemeringkatan, termasuk Webometric menampilkan wajah tiap kampus. Baik itu bagi UMM maupun perguruan tinggi lain. Menurut saya, kampus harus masuk dalam circle pemeringkatan agar publik tahu dan mengerti seberapa bagus kualitas dair perguruan terkait,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. mengapresiasi raihan UMM dalam pemeringkatan lembaga internasional Webometric. Menurutnya, seluruh rekognisi di level regional dan internasional sangatlah penting bagi perguruan tinggi. Apalagi ada banyak aspek yang dinilai dan diakui bagus. “Raihan ini juga menjadi sebuah kepercayaan masyarakat atas instititusi, dalam hal ini Kampus Putih,” tambahnya. Meski begitu, menurutnya rekognisi tidaklah cukup bagi perguruan tinggi. Hal lain yang perlu diupayakan adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemandirian dan skill mumpuni. “Maka perguruan tinggi tidak boleh lengah. Tidak hanya sekadar menyandarkan pada rekognisi semata, tapi juga harus senantiasa berupaya meningkatkan sumber daya manusia menuju bangsa Indonesia yang lebih maju. Maka UMM juga telah memiliki program khusus yang mampu melakukan tugas itu dan berkontribusi penuh. Program itu adalah Center of Excellence,” tegas Fauzan mengakhiri. (Wil)

Sering Potong Kuku Terlalu Dalam? Hati-Hati Ini Akan Terjadi

Nyeri di sekitar kuku serta bengkak kemerahan yang berujung infeksi merupakan gejala dari penyakit cantengan. Berkaitan dengan hal ini, dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Rahma Sabila Rindardi menjelaskan bahwa cantengan atau ingrowing nail merupakan pertumbuhan kuku yang masuk ke dalam kulit. Penyakit ini biasanya paling banyak dialami pada masa anak-anak dan orang tua. Pada masa anak-anak, biasa terjadi sebab jaringan di sekitar kukunya masih lunak. Sedangkan pada orang tua atau lansia, disebabkan oleh terbatasnya mobilitas dan penglihatan. Sehingga untuk merawat dan memotong kuku terasa lebih susah. “Jika melihat data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sekitar 25% yang datang ke dokter itu mengalami cantengan,” jelas wanita yang akrab disapa Bela tersebut. Bela memberikan beberapa tips untuk mencegah terjadinya cantengan. Pertama, jangan terlalu pendek dalam memotong kuku. Memotong kuku dengan cara yang salah, seperti terlalu pendek atau sampai menembus ke pinggiran kuku dapat meningkatkan risiko terjadinya cantengan. Kedua, gunting kuku yang digunakan untuk memotong harus tajam. Jika tidak tajam, biasanya kita akan cenderung menarik kuku yang hampir terpotong itu. Hal tersebut dapat membuat luka atau mikrolesi di sekitar jaringan kuku. Ketiga, cobalah menggunakan alas kaki yang nyaman dan tidak terlalu sempit. Karena penggunaan alas kaki yang terlalu sempit dapat menekan kuku kaki sehingga kuku dapat tumbuh ke dalam kulit. Faktor lain yang bisa menyebabkan cantengan ialah adanya trauma kecil pada kaki. “Trauma kaki biasanya terjadi akibat penggunaan sepatu atau alas kaki yang tidak tepat. Selain itu juga karena berlari atau melakukan aktivitas yang terlalu berat,” ujarnya. Bela juga sempat memberikan kiat tatkala sudah terlanjur mengalami cantengan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi hal risikonya. Pertama, minum obat anti nyeri yang bisa dibeli di apotek terdekat. Jika telah terjadi infeksi di daerah kuku, luka cantengan dapat diolesi salep antibiotik. Selain itu, merendam kaki di air hangat juga dapat meredakan nyeri. Jika terjadi infeksi hingga keluar nanah, sangat disarankan untuk segera ke dokter umum dan dilakukan ekstrasi kuku. Perlu diperhatikan, luka cantengan yang tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan komplikasi. “Komplikasinya bisa meluas dan menyebabkan infeksi yang parah pada jaringan kulit sekitarnya,” pungkasnya mengakhiri. (Dev/Wil)

Menarik, Mahasiswa Teknik Elektro UMM Ciptakan Alat Pemberi Pakan Ayam Otomatis

Melihat masih banyaknya peternak ayam petelur yang menggunakan cara manual dalam pemberian pakan ayam, Tiga mahasiswa program studi teknik elektro UMM ciptakan inovasi. Yakni alat pemberi pakan ayam otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Mereka adalah Saifulla Amin, Rizky pratama, dan Dhiemas Ristiant Syahputro. Alat tersebut merupakan hasil dari tugas akhir yang diekuevalensi  menjadi skripsi. Saiful, sapaan akrabnya, mengatakan, pemberian pakan ayam secara manual dirasa tidak efisien karena pemeliharaan ayam petelur sering mengalami kendala. Baik dalam manajemen atau pengelolaan pemberian pakan. Hal tersebut pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas telur yang dihasilkan. “Sistem pemberi pakan ayam otomatis sebenarnya sudah banyak, tetapi masih jarang yang menggunakan Internet of Things (IoT). Penggunaan IoT disini dapat memudahkan peternak untuk mengatur jadwal pemberian pakan ayam secara otomatis dari jarak jauh. Bisa menggunakan aplikasi mobile atau web,” jelas Saiful. Lebih lanjut, alat ini juga menggunakan Human Machine Interface (HMI) yang disertai dengan LCD. Sehingga peternak juga dapat mengatur timer secara langsung. Selama pembuatan alat, tidak terlalu banyak kendala yang dihadapi. Hanya pada proses pengkodingan serta desain pada liquid crystal display (LCD). “Alat ini cukup mudah untuk di operasikan. Setelah alat dihidupkan, kita bisa langsung mengatur timer penjadwalan pakan ayam melalui mobile atau web maupun secara langsung. Saat waktu yang telah diatur tiba, katub penampung pakan ayam akan terbuka secara otomatis,”pungkas Saiful. Pemuda asal Sumenep itu menambahkan, alat ini memungkinkan untuk mengontrol penjadwalan pakan ayam yang berisikan kurang lebih 2.000 ayam petelur dalam satu kandang. Dalam satu kandang, dapat dipasangkan motor yang akan mengisi pakan kedalam feeder. Kemudoan feeder akan berjalan untuk memberi pakan kepada ayam secara merata. Alat pakan ayam otomatis berbasis IoT ini juga memiliki harga yang terjangkau yang bisa menguntungkan peternak ayam dibandingkan menggunakan karyawan. “Saat ini masih dalam bentu prototipe, namun sudah bisa dijalankan sesuai ekspektasi. Kenggulan dari alat ini sementara ada pada sistem IoT. Oleh karena itu, kami berharap adik tingkat kami bisa mengembangkannya. Seperti misanya menambahkan sensor suhu,” tutur Saiful. Terakhir Saiful juga berharap, alat pemberian pakan otomatis ini dapat dikembangkan dan dikomersilkan sehingga bisa benar-benar membantu mengurangi kerja peternak ayam. Pun dengan meningkatkan produktivitas ayam dengan memaksimalkan bobot ayam dan meminimalisir tingkat stres ayam. (Zak/Wil)