Meski UTBK UMM Ketat, Orang Tua Disajikan Wahana Menarik

Peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Fakultas Kedokteran dan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelombang kedua mengalami peningkatan jumlah peserta yang signifikan. Total peserta UTBK gelombang kedua tahun ini mencapai 1.000 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ujian yang dilaksanakan pada 27-29 Juli 2023 itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas keamanan dan wahana menarik bagi para orangtua. Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM Nurudin mengatakan, total ruangan yang di siapkan sebanyak 22 ruangan. Pihak panitia juga masih menggunakan alat metal detector untuk mengantisipasi kecurangan-kecurangan ataupun joki. Selain itu, pihak panitia juga dibantu oleh kepolisian setempat untuk memperketat keamanan. Pada pelaksanaan UTBK ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Misalnya seperti berpakaian rapi dan sopan, membawa kartu identitas dan kartu peserta (E-Card). “Meski begitu, ada perubahan tampilan pada komputer saat mengerjakan ujian. User interface komputer dibuat lebih nyaman dan mudah untuk dipahami, sehingga tidak membingungkan peserta selama pelaksanaan ujian,” ungkapnya. Dosen Ilmu Komunikasi itu berharap, UTBK gelombang dua ini bisa berjalan lancar dan mampu menghasilkan calon mahasiswa baru yang potensial. Kemudian UMM akan membekalinya sehingga mampu menjadi sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Menariknya, UTBK UMM selalu mempunyai cara unik agar orang tua wali tidak bosan menunggu anaknya ujian. Para orang tua dapat mengendarai mobil golf untuk berkeliling kampus ataupun sekadar mengayuh bebek-bebekan. Para mahasiswa yang terlibat sebagai panitia juga turut menghibur dengan memberikan tebak-tebakan dan kuis berhadiah. “Senang sekali bisa diajak naik bebek-bebekan ini. Saya kira tadi ini berbayar, ternyata gratis. Mobil golf yang disediakan juga sangat membantu orang tua seperti kami agar tidak terlalu jauh berjalan mengantar anak-anaknya ke tempat ujian,” ungkap Balsuni Alwi, salah satu wali mahasiswa. Di sisi lain, peserta UTBK Farmasi UMM Ninis Niva Mudalilla yakin ia bisa lolos seleksi UTBK ini. Menurutnya, Kampus Putih tidak kalah dengan universitas lainnya baik dari infrastruktrur dan fasilitas. Perempuan asal Jombang itu berharap bisa mendapatkan hasil yang terbaik karena sudah menyiapkan ujian sejak lama. Apalagi ada ekdua orangtuanya yang selalu mendoakan. “Alhamdulillah sebagian besar soalnya bisa saya jawab dengan baik. Kalau secara persentase, saya yakin seratus persen bisa lolos,” pungkas Ninis. (Zak/Wil)

Muktamar HW di UMM Kukuhkan Jenderal Sudirman Jadi Bapak Pandu

Pribadi Jenderal Soedirman yang merupakan Bapak Kepanduan Hizbul Wathan (HW) harus diteladani dan menjadi inspirasi bagi semua pandu. Hal itu ditegaskan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. dalam pembukaan Muktamar HW yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 27 Juli lalu. Turut hadir Sekretaris PP Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. dan lebih dari 7.000 penggembira dan 3100 peserta kemah akbar yang memeriahkan agenda itu. Pada Muktamar itu pula, Panglima Besar Jenderal Soedirman juga dikukuhkan menjadi bapak kepanduan HW oleh Abdul Mu’ti. Sebelum terjun ke dunia militer, Soedirman aktif berorganisasi kepemudaan HW. Berkat pendidikan yang diperoleh dari Muhammadiyah, ia memiliki pribadi yang tegak membela kepentingan tanah air. Lebih lanjut, Haedar menegaskan, Muktamar harus menjadi proses yang menghasilkan program dan keputusan penting demi kemajuan organisasi dan bangsa. Bukan hanya menjadi kegiatan rutinitas dan formalitas semata. Harus ada kebaruan yang diberikan sehingga HW tidak berjalan stagnan. “Jadikan Muktamar sebagai agenda strategis menyusun kepemimpinan yang lebih baik. Terdiri dari mereka yang berpengalaman dan anak-anak muda yang memiliki ide-ide segar. HW merupakan gerakan yang inklusif lintas usia dan kelompok.  Maka harus memiliki kepemimpinan yang dinamis dan progresif,” tegasnya. Haedar juga mendorong HW untuk mampu membawa misi Islam berkemajuan sehingga HW bisa berjalan seirama dengan Muhammadiyah. Utamanya dalam menampilkan Islam berkemajuan dalam berbagai aspek kehidupan dan mampi memberikan solusi untuk berbagai permasalahan bangsa. Meningat kebangsaan senantiasa melekat di dalma nama Hizbul Wathan. Hal serupa juga ditegaskan Ketua Umum gerakan Kepanduan HW Rmd. Endra Widyarsono. Menurutnya, kolorasi dan kerjasama menjadi kunci untuk memberi kontribusi. Pandu HW yang sudah terlatih, tangguh, suka menolong, dan penyayang semua makhluk diyakini bisa memasuki era kehidupan baru dengan baik. “Sekecil apapun manfaat yang disebarkan, pandu HW harus dan akan selalu bisa berbagi dan berkontribusi. Berbekal pelatihan yang sudah diberikan, mereka akan mampu menjadi manusia yang siap dan sanggup melewati berbagai tantangan di era kehidupan baru,” tegas Endra. Sebagai tuan rumah, UMM juga bangga dan mendukung penuh acara kali ini. Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan, Muktamar HW harus menghasilkan hal-hal yang bermanfaat, bukan hanya bagi kalangan Muhammadiyah, tapi juga masyarakat secara luas. “Komitmen untuk terus berinovasi dan memberikan solusi bagi bangsa sudah seharusnya tertanam pada diri pandu HW sebagaimana makna nama Hizbul Wathan yakni pembela tanah air,” pungkasnya. Pada Muktamar HW itu pula, banyak penampilan yang membuat penggembira berdecak kagum. Salah satunya tari pembuka yang disuguhkan oleh ratusan pandu HW. Kemudian adapula marching band UMM yang turut unjuk gigi menghibur para tamu yang ada. Adapula 2500 Alquran serta 4000 porsi bakso yang sudah disiapkan oleh Lazismu untuk peserta dan penggembira Muktamar HW. (Zak/Wil)

Kata Siapa Gim Berpengaruh Buruk? Ini Manfaatnya Menurut Dosen Teknik UMM

Hadirnya gadget di era teknologi saat ini tidak selalu membawa dampak buruk bagi anak-anak. Justru dengan adanya gadget, orang tua dapat memperkenalkan dunia IT kepada anak sejak dini. Namun penggunaannya harus tepat dan benar. Sayangnya di Indonesia, dukungan untuk memperkenalkan teknologi ke anak-anak belum begitu baik. Padahal di luar negeri, sudah banyak website yang mendukung pengenalan IT kepada anak. “Kalau di luar negeri khususnya Amerika, anak anak usia 3-4 tahun sudah dikenalkan melalui kurikulum.. Ada salah satu website code.org. yang mengenalkan mereka tentang bagaimana memanfaatkan teknologi dan mendorong anak berpikir secara komputasi. Website tersebut menyediakan game-game sebagai cara berpikir. Jadi anak-anak akan diminta untuk menstimulasikan,” ujar Dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom, M.CS. Galih juga menjelaskan, di dalam website itu, tersedia banyak tantangan dan skenarion. Hal itu mendorong anak-anak berpikir secara logis dalam menyelesaikan masalah. Mereka juga didorong unutk berjalan dan melangkah secara efektif sekaligus meningkatkan daya kritisnya.  “Anak-anak zaman sekarang sudah bisa memilih dan memilah apa yang mereka sukai. Jadi saat mereka menyukai sesuatu, maka mereka akan antusias. Maka dari itu, sekarang sudah ada berbagai media pembelajaran yang bisa disesuaikan dengan minat mereka. Saat ini gim bukan hanya permainan yang menghibur namun juga melatih penalaran,” tambahnya. Menurutnya, gim merupakan salah satu jenis IT yang perlu dikuasai sejak dini. Namun, perlu adanya pengawasan  dari orang tua agar tetap berjalan dengan baik dan sesuai porsi. Mereka juga harus diingatkan tentang hal-hal negatif yang mungkin mereka temui. Orang tua tidak perlu menutup rapat-rapat tapi memberikan pemahaman yang baik. “Generasi sekarang dan masa depan itu berbeda dengan generasi saat kita kecil dulu. Mereka akan lebih maju dan sangat cepat berkembang. Apalagi diabrengi dengan kemajuan teknologi seperti Chat GPT, AI, dan lainnya. Jadi kemampuan komputasi menajdi salah satu hal penting untuk menciptakan inovasi di masa depan,” kata galih mengakhiri. (Nel/Wil)

Beri Kontribusi Nyata, SDGs Center UMM Diakui Bappenas RI

Berkat berbagai kontribusi nyata yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sustainable Development Goals (SDGs) Center UMM kini telah diakui oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI. Hal itu tak lepas dari sederet manfaat sudah diberikan kepada masyarakat, seperti misalnya di bidang pangan dan energi. Menariknya, UMM menjadi perguruan tinggi swasta pertama di Jawa Timur yang mendapatkan rekognisi tersebut. Bahkan sampai saat ini, hanya ada 40 kampus dari 4000-an perguruan tinggi di Indonesia yang mendapat rekognisi tersebut. Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa selama ini UMM melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) memang telah banyak menebar inovasi. Para profesor telah bekerja sama dengan sederet daerah, utamanya untuk berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mencapai target SDGs. Dengan Pemkab Bondowoso misalnya, Tim UMM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP. telah berhasil mendampingi kelompok tani padi tradisional yang kini beralih ke pertanian organik. Sudah ada lebih dari 164 hektar sawah yang telah bersertifikat pertanian organik di sana. Di samping itu, Kampus Putih juga sudah mengimplementasikan pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Tidak hanya di wilayah kampus, tapi juga di berbagai lokasi. Dua di antaranya berada di Wisata Sumber Maron Malang dan Boon Pring. Upaya ini juga terus dilebarkan ke kota atau kabupaten lain. Saat ini, Kampus Putih juga tengah mengembangkan dua sektor bersama Jember, yakni mandiri pangan melalui program budidaya pertanian organik dan mandiri energi yang berupa pembangunan PLTMH. Sementara itu, Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc., Vice Chairman of UNESCO IHP IX WG on Ecohydrology and Water Quality, menilai bahwa pengakuan ini bukan hal yang mengejutkan. Mengingat Kampus Putih UMM memang memiliki kapasitas dan kompetensi untuk berkontribusi membantu dunia mengatasi masalah SDGs. Apalagi track record yang dimiliki Kampus Putih sudah sangat mumpuni dan memiliki banyak best practice. Lebih lanjut, Ignas menjelaskan, tiap  negara memang didorong untuk berkontribusi dalam ranah SDGs dan perguruan tinggi memiliki peran yang strategis. Berdasarkan catatan Bappenas, kontribusi kampus dapat mencapai angka yang signifikan, yakni 46,7% apabila bekerjasama dengan pemerintah dan industri. Menurutnya, tanpa keterlibatan perguruan tinggi, butuh waktu lama poin-poin SDGs bisa dicapai. Kampus yang memang memiliki tugas untuk meneliti, mengedukasi, dan mengabdi punya bagian penting. Utamanya dalam mengakselerasi dan meningkatkan efektivitas upaya menjalankan solusi SDGs. Apalagi  tiga tahun belakangan, progresnya melambat berkat munculnya pandemi Covid 19. “Kampus-Kampus, termasuk UMM, akan menjalankan porsi strategis untuk berperan aktif menjalankan program SDGs. Mereka akan menjadi referensi dan diharapkan memberikan pandangan dan referensi terkait masalah SDGs,” tegas Ignas mengakhiri. (wil)

Taekwondo UMM Borong Medali di Pomprov Jatim

Kontingen Taekwondo Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) borong medali di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi Jawa Timur II (Pomprov Jatim II). Kompetisi yang dilaksanakan pada 17-22 Juli itu dilaksanakan di Jember, Jawa Timur. Kali ini, tim UMM sukses bawa pulang lima medali dari lima kelas pertandingan taekwondo. Official tim Taekwondo UMM, Gavra Dharmmesta Yusuf menyampaikan, banyak persiapan yang dilakukan sebelum mengikuti kejuaraan Pomprov Jatim II. Dimula dengan menambah porsi latihan menjadi enam kali seminggu. Selain itu juga melakukan sparing dengan tim-tim dari universitas lain, sehingga mental dan teknik bisa berkembang. “Jam terbang adalah alasan lain kenapa kami sering melakukan sparing. Mental atlet akna tumbuh dan mampu bertarung dengan maksimal di gelanggang,” katanya. Gavra, begitu ia kerap disapa, merasa bersyukur Kampus Putih UMM mendukung penuh tim yang berangkat ke Jember. Bukan hanya saat kompetisi, bahkan juga awal hingga akhir. Mereka didukung penuh terkait akomodosi serta menyiapkan tim fisioterapi yang siap sedia memberi bantuan. Biak itu saat latihan, bertanding, hingga nanti kembali ke kampus. “kontribusi kampus juga sangat besar, terutama terkait tim fisioterapi yang melakukan pengecekan kesehatan para atlet dari awal, saat bertanding, hingga akhir pertandingan. Jika ada cedera di lapangan, tim fisioterapi dari UMM dengan sigap turun dan menangani,” ujarnya. Tentu, dalam setiap persiapan menuju pertandingan pasti ada saja kendala yang dialami. Salah satunya yaitu rencana latihan yang bertabrakan dengan jadwal ujian akhir semester.  Meski begitu, mereka berlatih malam hari bahkan berlatih sendiri di luar jam latihan. “Alhamdulillah teman-teman disiplin berlatih mandiri di kosan atau kontrakan. Kadang beraltih pukulan, tendangan, dan lainnya,” katanya. Terakhir, dia sempat berpesan kepada seluruh anak muda, khususnya mahasiswa UMM untuk tidak malu menunjukkan bakatnya. Ketika memiliki ketertarikan terhadap sesuatu, mereka harus bisa mengembangkannya hingga bisa berprestasi. Apalagi UMM selalu memberikan dukungan penuh untuk pengembangan bakat. Terbukti saat tim taekwondo berlaga. “Untuk mahasiswa dengan bakat non-akademik, jangan pernah ragu. Selalu ada jalan dan langkah untuk berprestasi,” katanya. Kabag Minat Bakat UMM Frendy Aru Fantiro, M.Pd menerangkan, Hasil itu juga membuat bangga UMM. Selama ini, mahasiswa memang didorong untuk menemukan passionnya kemudian diarahkan ke puluhan unit kegiatan mahasiswa yang UMM sediakan. Dengan begitu, mereka bisa mengembangkan diri dan berkompetisi bersama mahasiswa lain. “Potensi-potensi itu diasah dan akhirnya menghasilkan skill dan keterampilan yang maksimal. Sehingga mahasiswa akhirnya bisa berprestasi, baik di bdiang akademik maupun non-akademik. UMM juga akan memberikan reward atas capaian tersebut karena UMM selalu memegang teguh prinsip tiada prestasi yang tidak dihargai,” pungkas Frendi. (faq/wil)

Kolaborasi RBC UMM Pethuk Puthuk Tingkatkan Literasi dan Budaya

Dalam rangka meningkatkan literasi, Rumah Baca Cerdas (RBC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkunjung ke Desa Jabung, Malang pada 22 Juli lalu. Mengendarai Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Terbang), mereka memberikan bacaan terbaik, menyediakan permainan edukasi hingga english fun kepada siswa- siswi. Kedatangan mereka juga menjadi bagian dari kolaborasi bersama di acara Pethuk Putuk Kembara Republik Gubuk. Kegiatan dolan kali ini diikuti oleh lebih dari seratus siswa MI Sunan Kalijaga, Dusun Bando, Kecamatan Jabung. Ada empat agenda utama yang diberikan yakni workshop aeromodelling, workshop topeng bubur kertas, ukir mini figur, dan aktivitas literasi. Sederet kegiatan ini dipilih sebagai upaya meningkatkan kreativitas, pemahaman, dan pengetahuan kebudayaan Indonesia. “Kami ingin menarik perhatian anak-anak dan membaut mereka perhatian dengan budaya serta minat baca. Maka dari itu, kami juga menyediakan banyak buku,” kata tim RBC UMM, Dessy Kusuma Dewi. Sederet jenis buku sudah disiapkan. Mulai dari buku cerita, dongeng, kisah-kisah, bahkan juga oengetahuan menarik tentang alam semesta dan planet-planet. Mereka juga diajak berdiskusi tentang apa yang sudah dibaca sehingga membuat mereka menyukai kegiatan membaca. Menurut Dessy, sapaannya, dengan meresapi cerita dan karakter bacaan karya sastra atau fiksi, anak-anak bisa membuka pintu imajinasi dan kreativitas. Di samping itu juga dapat menghadirkan pengalaman yang mendalam dan melihat dunia dari perspektif berbeda. Di lain sisi, kolaborasi tersebut sangat diapresiasi oleh Humas acara Pethuk Putuk Kembara Republik Gubuk, Ganif. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya acara yang mereka selenggarakan tidak hanya diepruntukkan untuk anak-anak, tapi juga para warga dan masyarakat Dusun Bondo. “Program untuk anak-anak kami sengaja menggandeng RBC UMM karena memang mereka sudah berpengalaman dalam memberikan literasi pada siswa-siswi. Sementara warga bisa mengikuti agenda-agenda lain yang sudah kami siapkan,” katanya. Ganif berharap. Warga bsia menadapatkan kebaikan dan manfaat dari acara yang sudah diselenggarakan. Misalnya saja dengan mengelola limbah sampah kertas dan kayu menjadi barang baru serta layak pakai. Bahkan bisa menjadi produk yang bernilai. (Wil)

Tahun Politik 2024, Dosen UMM Sebut Pemilih Muda dan Peran Media jadi Penentu

Suara anak muda yang terdiri dari generasi Z dan milenial memiliki andil yang besar dalam menentukan hasil Pemilu 2024. Berdasarkan Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang disampaikan Komisi Pemilihan Umum (KPU), proporsi pemilih yang berusia 17-39 tahun berkisar 55 sampai 60 persen. Hal itu menarik perhatian dosen jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Achmad Apriyanto Romadhan, S.IP., M.Si. Menurutnya, kontribusi anak muda sangat signifikan dalam menentukan arah dan masa depan Indonesia. Maka, mereka perlu menjaga diri agar mampu menggunakan hak pilihnya dengan bijak. “Memang perlu menjaga diri dari paparan-paparan yang kurang baik. Coba kita lihat, di era ini sudah banyak anak muda yang terjebak dalam marketing politik yang dilakukan oleh politisi, termasuk di dalamnya pencitraan di depan publik,” jelasnya. Yanto, sapaan akrabnya, juga menjelaskan terkait hal politik. Masyarakat tidak bisa mengusung atau mencalonkan kandidat karena hal itu merupakan ranah dari paratai politik sebagai pengusung. Maka dari itu, masyarakat harus cermat menentukan calo yang dipilih, khususnya yang memiliki track record baik dalam karirnya. “Karena secara konstitusional masyarakat tidak bisa mencalonkan, maka masyarakat memiliki tugas untuk menginvestigasi secara lebih lanjut nama-nama calon yang telah disodorkan. Harus jeli memilih calon yang punya riwayat baik dan siap menjadi representasi kepentingan publik,” tambahnya. Lebih lanjut, ia juga membahas mengenaik kampanye politik yang saat ini dibenturkan dengan pesatnya perkembangan media informasi teknologi. Salah satu efeknya adalah semakin kaburnya informasi realitas calon. Citra baik yang berusaha ditampilkan tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hal inilah yang menimbulkan bias informasi di kalangan masyarakat, terkhusus anak muda yang tidak terpisah dari dunia digital. “Di lain sisi, banyak anak muda yang juga turut terjun dalam kontestasi politik sebagai bakal calon. Ini sah-sah saja karena tidak menyalahi aturan secara konstitusional. Anak muda memang diharapkan mampu menawarkan ide dan gagasan baru. Berfokus pada kebutuhan publik, serta mampu memberikan kontribusi riil yang dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya. Yanto menambahkan bahwa perpolitikan hari ini mengalami dua dilema besar. Di satu sisi, banyak bakal calon yang pragmatis dan tidak mewakili kepentingan publik. Sementara itu di lain sisi, para pemilih juga kurang mendapatkan edukasi dalam menggunakan hak suaranya dengan baik. Terlihat dari salah satu fenomena yakni “suara” yang mudah dibeli atau politik transaksional. “Dalam menghadapi dua dilema tersebut, perlu adanya dukungan media massa yang menjadi pilar keempat dalam demokrasi. Media massa harus memiliki independensi yang tinggi untuk melakukan investigasi mendalam terhadap track record bakal calon. Anak muda juga diharapkan dapat mengisi ruang-ruang tersebut demi menegakkan demokrasi yang adil,” pungkasnya mengakhiri. (lib/wil)

Program UMM Pasti Beri Kepastian Wali Mahasiswa Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen penuh menciptakan sumber daya manusia (SDM) terbaik dan unggul. Salah satunya melalui Center for Future Works (CFW) dan Center of Excellent (CoE). Hal itu ditegaskan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. saat menyambut wali mahasiswa baru pada 22 Juli 2023 lalu di Dome. Fauzan, begitu ia kerap disapa, menegaskan, program itu juga menjadi upaya Kampus Putih untuk menyambut bonus demografi 2045. SDM yang unggul bisa dilahirkan jika ada fasilitas dan program yang diberikan. Saat ini, ada lebih dari 54 CoE yang sudah dijalankan oleh UMM dan jenisnya variatif. Menariknya, para mahasiswa juga bisa menyiapkan diri untuk lulus cepat sejak semester 2 melalui jalur bebas skripsi. Banyak mekanisme yang bisa diambil, mulai dari jalur penelitian, pengabdian masyarakat, publikasiartikel ilmiah, dan karya lainnya. Usaha itu juga menjadi salah satu manifesto dari slogan dari UMM. Yakni UMM Pasti, pasti lulus, pasti bekerja, dan pasti mandiri. “Kami tidak pernah membatasi minat dan bakat dari anak-anak bapak dan ibu. Kami berikan berbagai macam mekanisme untuk ekuivalensi tugas akhir skripsi. Jadi nantinya, putra putri bapak ibu sekalian bisa lulus dari UMM tanpa skripsi,” katanya. Adapun UMM sudah menyiapkan berbagai fasilitas dan unit usaha yang bisa dikunjungi oleh para orangtua saat singgah di Malang. Misalnya saja Rayz Hotel, Taman Rekreasi Sengkaling, hingga My Dormy Hostel yang akan selalu memberikan diskon khusus. Selain itu juga Medical Center (UMC) dan Rumah Sakit sebagai sebagai fasilitas kesehatan yang dapat digunakan oleh seluruh mahasiswa. Ada lebih dari 13 unit usaha yang bisa dikunjungi dan dimanfaatkan. Sementara itu, salah satu wali mahasiswa baru, Umi Kuslum mengaku, fasilitas yang disediakan membuatnya menyekolahkan anaknya di UMM. Apalagi semua ditunjang dengan sarana prasarana  yang lengkap. Mulai dari laboratorium yang mumpuni, kelas  yang nyaman, dan lainnya. Bahkan kalau merasa lelah, mahasiswa bisa menghibur diri dengan perahu bebek di danau atau juga berkunjung ke taman rekreasi sengkaling yang dimiliki kampus. “Harapan saya untuk anak muda cukup singkat namun berbobot. Jangan pernah meremehkan pendidikan. Maksimalkan segala peluang dan kesempaan yang ada” pungkas wali mahasiswa jurusan Keperawatan itu. (Faq/Wil)

Rakernah Tarjih Muhammadiyah di UMM: Susun Fikih Lansia dan Budaya Berkemajuan

Islam dalam Muhammadiyah bukan hanya berada pada tingkat ucapan saja, tapi juga perbuatan konkret.  Hal itu ditegaskan oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. Hamim ilyas, M.Ag. dalam Pembukaan Rapat Kerja Tingkat Pusat dan Seminar Nasional. Agenda itu diselenggarakan pada 21 Juli 2023 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Lebih lanjut, Hamim berharap, rapat kerja ini tidak hanya menghasilkan daftar rencana saja, tapi betul-betul dapat mencetuskan program kerja yang dapat dilaksanakan .”Rapat kerja ini juga sebagai persiapan launching kalender Islam global di Pekalongan yang bertepatan dengan 100 tahun terbentuknya majelis tarjih. Pekalongan dipilih sebagai tempat peluncuran karena memiliki nilai sejarah kuat, yakni daerah di mana majelis tarjih dibentuk,” ungkapnya. Menurutnya, Muhammadiyah juga memiliki keinginan untuk mendirikan rumah bagi lansia. Di mana rumah tersebut akan menjadi amal bagi Muhammadiyah. Oleh karena itu, rapat kerja ini juga mengadakan seminar tentang gerontologi, yang akan membahas tentang penuaan dan orang tua. “Ini juga menjadi langkah baru bagi Majelis Tarjih dalam menyusun Fikih Lansia. Para ahli dan akademisi akan datang dan membahas berbagai aspek terkait penuaan, kesehatan lansia, peran sosial, dan kebutuhan khusus mereka,” jelas Hamim. Ia menegaskan, Islam adalah ucapan dan perbuatan, sehingga apa yang akan diseminarkan dan diskusikan harus diamalkan. “Pengamalannya disesuaikan dengan tradisi Muhammadiyah yaitu dalam bentuk lembaga. Sehingga bukan usaha perseorangan tapi milik bersama dari kerja bersama. Kita juga sedang menyusun Fikih Budaya Berkemajuan sebagai bentuk komplementasi terhadap pembangunan ekonomi yang telah dilakukan oleh negara,” tegasnya. Di sisi lain, Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Saad Ibrahim, M.A. menyampaikan mengenai hikmat utama dari assabiqunal awwalun. Yaitu bagaimana kemudian manusia memahami dengan sebaik-sebaiknya  mengenai falsafah dan ilmu pengetahuan. “Menurut saya, jika hikmat itu ditujukan kepada konteks yang lebih pragmatis dan berkaitan dengan dengan kehidupan, maka puncak dari hikmat itu bisa kita personifikasi pada ilmu fiqih yang telah dilahirkan oleh para imam. Salah satunya Imam Syafi’i yang dikenal dengan syarhus sunnah,” ungkap Saad. Menurutnya, perlu digarisbawahi bahwa ilmu fiqih yang dilahirkan oleh para imam sudah ditetapkan dengan matang. Sehingga menurutnya, kedua hal tersebut menjadi penting untuk membawa kembali kemajuan islam dalam konteks keindonesiaan dan universal. Maka karena itu, majelis tarjih dan tajdid memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Apalagi majelis ini akan menjadi basis untuk semua pengetahuan lain seperti ilmu astronomi, fisika, dan ilmu lainnya. (Zak/Wil)

Ingin Menyekolahkan Anak ke Pesantren? Ini Tips Dosen UMM

Belakangan ini, banyak masyarakat yang berbondong-bondong memilih pesantren sebagai tempat menimbu bagi anaknya. Pesantren dianggap mampu memberikan pendidikan yang holistic, mulai dari sisi keilmuan, agama, hingga adab dan etika. Terpaan era digital juga menjadi alasan para orangtua was-was dengan masa depan anaknya. Fenomena itu menarik perhatian Dosen Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag.  Menurutnya, pesantren adalah lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Keterikatannya juga sangat kuat karena memiliki kotribusi bagi sumber daya manusia di Indonesia. Utamanya, dari segi akidah maupun akhlak. “Di Kementerian Agama sendiri tercatat ada lebih dari lima ribu pesantren yang berada di Jawa Timur. Belum lagi di daerah lain, ,” tandasnya. Menurut Fatoni, ada tiga pertimbangan yang dapat digunakan orangtua maupun calon santri saat memilih pesantren. Pertama, menetapkan tujuan anak atau calon santri. Jika ingin menjadi penghafal Alquran maka carilah pesantren yang memiliki program hafalan di dalamnya. Kemudian jika bertujuan menjadi pakar ilmu agama, misalnya literatur keislaman klasih, maka bisa mencari pesantren yang menyediakan sistem pembelajaran berdasarkan kitab kuning atau gundul. “Jika tujuannya adalah ingin anak menjadi calon intektual ulama, maka carilah pesantren yang memadukan antara pendidikan kepesantrenan dengan pendidikan formal. Biasanya pesantren terkait mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dengan ilmu agama khas pesantren,” tambahnya. Pertimbangan selanjutnya saat menentukan pesantren adalah menentukan model yang diinginkan. Secara umum, pesantren dibagi menjadi dua, yakni tradisional dan modern. Tradisional atau salafi biasanya menekankan pada kitab-kitab kuning atau kitab gundul. Bahkan model pesantren ini melarang santrinya untuk mengenyam pendidikan formal supaya lebih fokus menguasai kitab-kitab. Jika santri ingin mendapatkan pendidikan formal, biasanya santri diminta mencari di luar pesantren. Model lainnya adalah model modern. Di sini santri tidak hanya belajar ilmu keislaman saja namun juga diajarkan ilmu-ilmu umum tentang teknologi maupun bahasa. Dalam kata lain, model modern ini tidak hanya menitikberatkan untuk belajar kitab-kitab kuning saja. “Setelah menetapkan tujuan dan model pesantren orangtua atau calon santri harus melihat rekam jejak dari pesantren yang akan dipilih. Misalnya dengan melihat alumni yang ada. Apakah banyak yang berhasil atau sukses dan mampu bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Terakhir Fatoni mengingatkan, menurutnya kunci sukses sebuah pesantren adalah sistem belajarnya. Kemudian juga kualitas alumni, kiprah pimpinan pondok serta jasanya di masyarakat. Jika pesantren itu baru dan belum memiliki alumni, orang tua bisa datang langsung ke lokasi untuk mengecek dan observasi. Melihat secara langsung, apakah  pesantren tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan. (Nov/Wil)