Halal Bi Halal UMM, Dari Spirit Ramadan ke Penguatan Ukhuwah, Ada juga Doorprize Umrah hingga Tabungan Haji

Halal bi halal bukan sekadar tradisi tahunan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum ini dimanfaatkan sebagai ruang refleksi pasca-Ramadan sekaligus penguat solidaritas akademik. Ratusan dosen dan karyawan, termasuk unit bisnis UMM, memadati kegiatan bertajuk “Idul Fitri Menguatkan Akidah dan Merajut Ukhuwah” yang digelar pada 30 Maret 2026. Selain silaturahmi, acara ini juga diramaikan dengan pembagian doorprize menarik, mulai dari paket umrah hingga belasan tabungan haji bagi dosen dan karyawan terpilih. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang juga Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menegaskan bahwa puasa harus dipahami sebagai instrumen untuk mengembalikan jati diri manusia. Menurutnya, manusia tidak hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga dimensi spiritual yang diperkuat melalui ibadah Ramadan. “Puasa secara terminologi berarti menahan. Melalui proses menahan itu, manusia diajak kembali pada hakikat dirinya,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa Ramadan menjadi momentum memperbaiki citra kemanusiaan melalui amal kebajikan. Setelah Ramadan, hadir bulan Syawal yang secara terminologis berarti terangkat. Artinya, mereka yang berhasil menjalani ibadah Ramadan dengan baik akan mengalami peningkatan derajat. Namun, tantangan terbesar justru hadir setelah Ramadan berakhir. “Yang paling sulit bukan saat Ramadan, tetapi bagaimana mempertahankan kualitas ibadah setelahnya. Ramadan tidak boleh berhenti pada ritual, melainkan harus naik ke dimensi spiritual,” tambahnya. Sementara itu Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya mengutip Surat An-Nahl ayat 126 yang menekankan pentingnya membalas dengan kebaikan dan kesabaran. Ia menafsirkan bahwa puasa diharapkan melahirkan kemampuan mengendalikan diri sekaligus memaafkan sesama. “Dengan memaafkan, lahir kekuatan. Pasca-Ramadan, kekuatan itu menjadi modal untuk membangun hubungan sosial dan profesional yang sehat,” jelasnya. Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri tercermin dari ibadah seperti i’tikaf, sementara kebiasaan memaafkan mampu meningkatkan sensitivitas terhadap lingkungan. Sikap tersebut juga membantu mempercepat pengambilan keputusan yang lebih bijak dalam kehidupan kerja. “Dari budaya memaafkan, kita belajar memahami orang lain dan menjadi lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa UMM berkomitmen terus meningkatkan talenta serta melakukan transformasi menuju kampus yang berkelanjutan dan relevan dengan perkembangan zaman. Halal bi halal ini, lanjutnya, bukan hanya seremoni, tetapi juga penguat ekosistem kemanusiaan yang mendorong sivitas akademika lebih peduli, produktif, dan berdaya saing. Halal bi halal ini menegaskan bahwa semangat Idul Fitri tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi energi memperkuat solidaritas, meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan kepekaan sosial sivitas akademika. Dari tradisi saling memaafkan, UMM meneguhkan komitmen untuk terus bertransformasi sebagai kampus yang adaptif, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir rahman

Tak Ada Mudik, Tak Ada Libur Panjang, Begini Kisah Lebaran Sunyi Dosen UMM di Tengah Minoritas Muslim

Di tengah gemerlap Lebaran di Indonesia, salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru merayakan Idulfitri dalam suasana yang jauh lebih sunyi tanpa libur panjang, tanpa mudik, dan tanpa keramaian khas kampung halaman. Namun dari kesederhanaan itu, lahir pengalaman bermakna tentang menjadi Muslim minoritas di negeri multikultural. Hasnan Bachtiar, MIMWAdv, dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM, saat ini tengah menempuh studi doktoral di Australia melalui beasiswa Deakin University Postgraduate Research Scholarship (DUPRS). Ia tinggal di Glen Waverley, wilayah Monash, Melbourne, bersama keluarganya. Tahun ini, Idulfitri di Australia jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, bertepatan dengan penetapan 1 Syawal oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Berbeda dengan Indonesia, hari raya tersebut bukan hari libur nasional. Aktivitas masyarakat berjalan normal, termasuk kegiatan sekolah anak-anak. “Di Australia, Idulfitri bukan hari libur seperti di tanah air. Karenanya aktivitas sehari-hari tetap berjalan, termasuk sekolah anak-anak. Untuk mengikuti shalat Id, kami harus menempuh perjalanan cukup jauh dengan transportasi umum. Meski tidak semudah di Indonesia, situasi ini justru membuat kami lebih menghayati menjadi bagian dari minoritas,” ujar Hasnan 27 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Meski jauh dari kampung halaman, Hasnan dan keluarga tetap menjaga tradisi silaturahmi. Mereka menerima tamu dari sesama diaspora Indonesia, termasuk para aktivis Muhammadiyah yang berada di Melbourne. Komunikasi dengan keluarga di Indonesia juga terus terjalin melalui panggilan video bersama orang tua, kerabat, dan sahabat. Usai shalat Id, mereka berkumpul dengan komunitas Muslim dari berbagai negara untuk berbagi cerita dan hidangan sederhana. Momen tersebut menjadi ruang interaksi lintas budaya sekaligus mempererat ukhuwah di tengah keterbatasan perayaan. “Perbedaan paling mencolok terletak pada suasana sosio-kultural Idulfitri. Di Indonesia identik dengan mudik dan keramaian keluarga besar. Sementara di Australia lebih tenang karena Muslim merupakan minoritas. Tidak ada libur panjang, tetapi kami justru mendapat kesempatan bertemu Muslim dari berbagai negara. Itu pengalaman berharga yang memperkaya cara kami memaknai Idulfitri,” jelasnya. Di tengah lingkungan multikultural, aktivitas keagamaan tetap berjalan dinamis. Hasnan aktif mengikuti pengajian dan diskusi isu global, baik di kampus maupun komunitas sosial. Anak-anaknya pun tetap mengikuti program Tahfiz Al-Qur’an Tematik (TQT) secara daring. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa menjaga tradisi keislaman tetap bisa dilakukan secara konsisten meski berada di tengah masyarakat modern. Pengalaman hidup sebagai Muslim minoritas juga memengaruhi perspektif akademiknya. Dalam penelitian doktoralnya, Hasnan mengkaji penggunaan hukum keagamaan informal dan emosi dalam mobilisasi politik oleh kelompok populis sayap kanan. Ia menyoroti bagaimana syariah dipadukan dengan emosi untuk kepentingan politik di Indonesia, khususnya sejak Pilgub DKI Jakarta 2017 hingga Pilpres 2019 dan 2024. Bagi Hasnan, merayakan Idulfitri di Australia bukan sekadar perbedaan suasana, melainkan proses pembelajaran tentang makna kebersamaan. Dalam kesederhanaan dan keberagaman, Idulfitri justru menjadi momentum mempererat silaturahmi, memperkuat identitas keumatan, serta merefleksikan nilai-nilai kebersamaan dalam konteks global.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dosen UMM Kembangkan Desain Batik Berbasis AI, Motif Nitik Ramaikan Varian Batik Modern

Mengawinkan teknologi kecerdasan buatan dengan warisan budaya, dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan terobosan baru, ratusan motif batik dapat tercipta hanya dalam hitungan detik. Inovasi ini bukan sekadar eksperimen akademik, tetapi upaya serius mendorong batik tradisional khususnya motif Nitik agar kembali hidup dan kompetitif di tengah gempuran desain kontemporer. Dr. Ir. Agus Eko Minarno, M.Kom., IPM., mengembangkan teknologi berbasis Artificial Intelligence menggunakan pendekatan Generative Adversarial Network (GANs). Melalui metode ini, komputer dilatih mengenali pola-pola batik yang sudah ada, kemudian mengombinasikannya menjadi motif baru yang segar tanpa meninggalkan nilai tradisi. Teknologi tersebut mampu menghasilkan desain batik secara otomatis berdasarkan data yang dipelajari sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa inovasi batik berbasis AI ini berawal dari riset doktoralnya. Ia menggandeng Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad untuk mengumpulkan data motif sebagai bahan pelatihan sistem. Kolaborasi tersebut menghasilkan kumpulan dataset batik Nitik yang terdiri dari puluhan pola berbeda, yang kemudian digunakan untuk melatih model generatif dalam menciptakan motif baru. Dataset Batik Nitik yang dikembangkan bahkan mencapai 60 kategori dengan total 960 citra, yang memungkinkan pengembangan model AI untuk klasifikasi hingga generasi motif baru. Menurut Agus, pemilihan motif Nitik bukan tanpa alasan. Pola geometrisnya dinilai lebih mudah dipelajari oleh algoritma generatif sekaligus memiliki karakter visual yang kuat. Selain itu, perkembangan batik Nitik relatif lebih lambat dibandingkan batik kontemporer, sehingga membutuhkan inovasi agar tetap relevan di pasar. “Saya melihat potensi besar untuk mengembangkan motif Nitik menjadi lebih variatif tanpa meninggalkan pakem tradisional,” ujarnya. Dengan teknologi ini, komputer tidak hanya meniru motif lama, tetapi menciptakan kombinasi baru yang unik. Hal ini menjadi jawaban atas stagnasi motif yang selama ini terjadi di dunia batik, di mana desain yang beredar cenderung berulang. Pemanfaatan GAN memungkinkan penggabungan berbagai motif sehingga menghasilkan desain baru dengan karakter berbeda namun tetap autentik. Lebih jauh, Agus berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM batik. Motif-motif baru yang dihasilkan AI dapat menjadi sumber inspirasi desain bagi pengrajin, sekaligus membuka peluang produk yang lebih kompetitif di pasar. Dengan demikian, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat kreatif, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi bagi industri batik lokal. “Inovasi ini diharapkan dapat membantu UMKM mengembangkan dan memasarkan batik dengan motif Nitik yang baru. Jika motif berkembang, maka nilai jual meningkat dan pertumbuhan ekonomi pengrajin juga terdorong,” pungkasnya. Melalui perpaduan budaya dan teknologi, Agus menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak hanya milik industri modern, tetapi juga mampu menjadi penjaga sekaligus penggerak warisan tradisi Indonesia.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lebaran di Negeri Jiran, Begini Kisah Mahasiswa UMM Harus Tempuh Kilometer demi Salat Ied

Merayakan Hari Raya Idulfitri jauh dari keluarga menghadirkan pengalaman emosional yang tak biasa. Apalagi ketika momen kemenangan itu dijalani di lingkungan kampus dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim. Pengalaman reflektif tersebut dirasakan oleh Iyaka Samanda Caysar, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2024, yang menjalani Lebaran di Malaysia. Jauh dari kampung halaman, ia menemukan makna baru Idulfitri sebagai perantau. Yaka sapaan akrabnya tengah mengikuti program student mobility di INTI International University, Negeri Sembilan, Malaysia. Program tersebut berlangsung selama Januari hingga Mei 2026. Ia mengungkapkan bahwa suasana Lebaran di sana terasa kontras dibandingkan Indonesia, terutama karena lingkungan kampus yang multikultural dan tidak didominasi mahasiswa Muslim. Menurutnya, pelaksanaan ibadah Idulfitri menjadi tantangan tersendiri. Fasilitas salat Id tidak tersedia di dalam kampus, sehingga ia dan teman-temannya harus mencari masjid di luar area kampus. “Untuk bisa melaksanakan salat Ied, kami harus keluar dari area kampus dan menempuh perjalanan beberapa kilometer menuju masjid terdekat,” ujarnya. Meski demikian, Yaka tetap merasakan kehangatan Lebaran melalui kebersamaan dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Mereka tinggal dalam satu lingkungan hostel, sehingga suasana Idulfitri tetap terasa walau sederhana. Di luar komunitas tersebut, suasana Lebaran cenderung sepi. Banyak mahasiswa internasional memilih berlibur, membuat aktivitas kampus tidak seramai biasanya. Kontras ini membuat Yaka merasakan perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan Lebaran di Indonesia. “Lebaran di sini terasa sangat berbeda, jauh dari pengalaman yang selama ini saya rasakan, karena tidak semeriah di Indonesia,” tuturnya. Di balik kesunyian itu, Yaka justru menemukan makna baru tentang Idulfitri. Ia belajar bahwa kebersamaan di hari kemenangan tidak selalu hadir dalam kemeriahan besar, tetapi juga dapat tumbuh dari komunitas kecil di perantauan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya dalam program student mobility. Ia memperoleh kesempatan itu melalui rekomendasi dosen, kemudian mengikuti proses seleksi hingga dinyatakan lolos. “Kesempatan ini jadi titik penting bagi saya untuk berkembang, karena sejak awal harus melewati proses seleksi dan persiapan yang cukup matang,” ungkapnya. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga memperluas wawasan global. Ia mendapatkan peluang untuk mengasah soft skill sekaligus memahami standar industri teknologi di tingkat internasional. “Program ini saya ikuti untuk mempelajari sistem pembelajaran di luar negeri, sekaligus memahami apa saja yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan besar internasional dari mahasiswa,” jelasnya. Keberanian Yaka keluar dari zona nyaman mencerminkan mental tangguh mahasiswa UMM. Ia menyadari bahwa persaingan akademik di kancah internasional menuntut dedikasi tinggi. Karena itu, ia berpesan kepada mahasiswa UMM agar mempersiapkan diri sejak dini, terutama meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan memperkuat semangat belajar. Pengalaman Yaka menjadi bukti nyata komitmen UMM dalam mencetak lulusan berwawasan global. Kampus tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi teknologi informasi, tetapi juga ketangguhan beradaptasi di lingkungan multikultural. Lebaran minoritas di negeri jiran ini pun menjadi saksi keberanian mahasiswa UMM dalam merajut asa dan menapaki panggung dunia.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Solusi Lahan Terbatas, Mahasiswa UMM Kenalkan Budidaya Bioflok Warga Desa Kebobang Kab Malang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak kembali menghadirkan program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak, mahasiswa UMM menginisiasi budidaya ikan nila berbasis kolam terpal di Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Program yang berlangsung selama 30 hari, mulai 24 Januari hingga 22 Februari 2026 ini tidak hanya membangun kolam percontohan, tetapi juga meningkatkan keterampilan warga dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Dosen Pembina Lapangan (DPL), Festy Putri Ramadhani, M.P., menjelaskan bahwa program ini dirancang agar memberi manfaat jangka panjang. “Kami mendorong mahasiswa menghadirkan solusi yang bisa dilanjutkan warga. Budidaya ikan nila dengan kolam terpal dipilih karena mudah diterapkan dan sesuai dengan kondisi lahan masyarakat,” ujarnya. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa lintas disiplin dari bidang agribisnis, komunikasi, hukum, informatika, dan perikanan. Mereka berkolaborasi dengan 20–25 warga desa, mulai dari petani, pemuda karang taruna, ibu rumah tangga, hingga perangkat desa. Dukungan pemerintah desa dan tokoh masyarakat turut memperkuat pelaksanaan program. Menurut Festy, kolaborasi lintas bidang membuat program lebih efektif. “Setiap mahasiswa memiliki peran berbeda, mulai dari teknis budidaya hingga pendampingan komunikasi dan pemasaran. Pendekatan ini memudahkan masyarakat memahami program secara menyeluruh,” tambahnya. Program difokuskan pada budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok di kolam terpal. Metode ini memanfaatkan bakteri untuk mengolah limbah sisa pakan menjadi pakan alami tambahan sekaligus menjaga kualitas air. Sistem bioflok memungkinkan kepadatan tebar lebih tinggi tanpa pergantian air rutin, sehingga lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. “Teknologi bioflok cocok untuk skala rumah tangga karena tidak membutuhkan lahan luas. Selain itu, biaya operasional juga lebih efisien,” jelas Festy. Kolam percontohan berdiameter dua meter dengan tinggi satu meter dibangun menggunakan rangka besi dan terpal standar budidaya. Sebanyak 1.000 benih ikan nila ukuran 5–7 cm ditebar dengan pengelolaan pakan dan kualitas air terjadwal. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman warga dari skor rata-rata 55 menjadi 85. Festy menilai peningkatan tersebut menjadi indikator keberhasilan. “Tujuan utama kami bukan hanya membangun kolam, tetapi memastikan masyarakat mampu mengelola budidaya secara mandiri setelah program selesai,” katanya. Pelaksanaan program diawali observasi kebutuhan desa dan perencanaan partisipatif, dilanjutkan pelatihan pembuatan kolam, pemilihan benih, manajemen pakan, pengendalian kualitas air, hingga strategi panen dan pemasaran. Pendampingan rutin dilakukan untuk mengatasi kendala teknis seperti perubahan cuaca dan stabilitas air. Antusiasme warga menjadi faktor penting keberhasilan program. Meski masa panen belum tercapai sepenuhnya, pertumbuhan ikan menunjukkan hasil positif dengan tingkat kelangsungan hidup tinggi. Hal ini membuka peluang penyediaan protein hewani lokal sekaligus tambahan pendapatan bagi masyarakat. “Respons masyarakat sangat baik. Program sederhana tetapi tepat sasaran dapat memberi dampak nyata bagi ketahanan pangan keluarga,” ujar Festy. Tim KKN merekomendasikan pengembangan lanjutan melalui penambahan kolam, pembentukan kelompok budidaya, serta dukungan modal dan pakan dari pemerintah desa. “Kami berharap model ini bisa diperluas ke desa lain sehingga menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan,” pungkasnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sering Jadi Bahan Guyonan Lebaran, Bolehkah Menikah dengan Sepupu? Pakar UMM Beri Penjelasan

Fenomena berkumpul bersama keluarga saat Idul Fitri kerap menghadirkan berbagai momen hangat. Tidak hanya saling bermaafan, tetapi juga menjadi ajang bertemu kembali dengan saudara lama, termasuk sepupu. Dalam suasana santai tersebut, tak jarang muncul candaan seperti “kapan nikah?” hingga gurauan ingin menikahi sepupu sendiri. Candaan ini sering dianggap biasa, namun sebenarnya memunculkan pertanyaan serius: bagaimana hukum menikah dengan sepupu dalam Islam? Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Idaul Hasanah, S.Ag., M.H.I., menjelaskan bahwa secara umum Islam tidak melarang pernikahan dengan sepupu. Ia merujuk pada ketentuan dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah An-Nisa ayat 23 yang memuat daftar perempuan yang haram dinikahi. Dalam ayat tersebut, sepupu tidak termasuk dalam kategori mahram. “Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 23 dijelaskan orang-orang yang haram dinikahi. Di situ tidak disebutkan sepupu sebagai pihak yang dilarang. Bahkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 50 disebutkan bahwa salah satu yang halal dinikahi adalah sepupu, seperti anak dari saudara perempuan ayah atau anak dari saudara perempuan ibu,” jelasnya 24 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Meski demikian, ia menekankan bahwa ada kondisi tertentu yang membuat pernikahan sepupu menjadi terlarang. Salah satunya jika terdapat hubungan sepersusuan. “Misalnya seorang anak pernah disusui oleh bibinya, sehingga sepupu memiliki hubungan sepersusuan. Itu menjadi haram untuk menikah,” ujarnya. Selain itu, larangan juga berlaku dalam konteks poligami pada waktu yang sama. Seseorang tidak diperbolehkan menikahi kakak atau adik dari sepupu yang telah menjadi istrinya secara bersamaan. Namun, jika pernikahan pertama telah berakhir karena perceraian atau wafat, maka pernikahan dengan sepupu lain tetap diperbolehkan. Lebih lanjut, Idaul sapaan akrabnya menyebut bahwa dalam tradisi masyarakat Arab pada masa Rasulullah, pernikahan dengan sepupu merupakan hal yang lumrah. Meski begitu, beberapa ulama memberikan anjuran untuk mempertimbangkan aspek lain sebelum memutuskan menikah dengan kerabat dekat. Ia menambahkan, dalam kajian kontemporer terdapat beberapa pertimbangan penting. Pertama, aspek sosial yang berkaitan dengan perluasan silaturahmi sebagaimana spirit dalam Surah Al-Hujurat tentang pentingnya saling mengenal antarbangsa dan suku. Menikah di luar lingkar keluarga dekat dinilai dapat memperluas hubungan sosial. Kedua, pertimbangan kesehatan. Pernikahan sepupu memiliki potensi risiko genetik tertentu jika terdapat riwayat penyakit turunan dalam keluarga. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah disarankan untuk meminimalkan risiko tersebut. Ketiga, pertimbangan sosial keluarga besar. Konflik dalam rumah tangga yang melibatkan pasangan sepupu berpotensi berdampak lebih luas karena hubungan kekerabatan yang sudah dekat. “Kalau terjadi konflik suami istri, bisa merembet menjadi konflik keluarga besar. Hubungan yang awalnya baik bisa menjadi renggang,” katanya. Dengan demikian, candaan menikahi sepupu saat momen Lebaran sebenarnya tidak sepenuhnya keliru secara hukum Islam. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keputusan tersebut tetap perlu mempertimbangkan berbagai aspek, baik dari sisi agama, kesehatan, maupun sosial keluarga.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tak Sekadar Pulihkan Cedera, Alumnus UMM Ini Bawa Standar Baru Fisioterapi Atlet Indonesia

Dunia fisioterapi olahraga Indonesia kembali memunculkan nama yang patut diperhitungkan. Fauzan Algifari, alumnus Sarjana dan Profesi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, resmi bergabung sebagai fisioterapis Dewa United Basketbal. Langkah ini bukan sekadar perpindahan peran, melainkan sinyal kuat hadirnya generasi baru fisioterapis olahraga dengan jam terbang elite. Sosok yang akrab disapa Algi ini telah lebih dulu mengasah kapasitasnya di level tertinggi. Pada 2023, ia dipercaya menangani Tim Nasional Bola Voli Indonesia, sebuah posisi krusial yang menuntut ketepatan klinis di tengah tekanan kompetisi. Setahun berselang, ia kembali dipercaya memperkuat Pelatnas Voli Indonesia U-20, mendampingi talenta muda menghadapi atmosfer pertandingan global yang sarat tuntutan fisik dan mental. Rekam jejaknya kian solid ketika pada 2025 ia terlibat langsung dalam pengawalan Timnas Voli Indonesia U-21 di ajang internasional yang digelar Fédération Internationale de Volleyball. Pada level ini, fisioterapi bukan lagi sekadar pemulihan cedera, melainkan sistem presisi yang menggabungkan diagnosis cepat, manajemen beban latihan, hingga pendekatan berbasis evidence yang menentukan keberlangsungan performa atlet. Di tengah perjalanan karier yang terus menanjak, Algi tak menampik peran besar kampus dalam membentuk fondasi profesionalnya. Ia menilai pengalaman akademik dan praktik klinis yang didapat selama kuliah menjadi bekal penting saat harus bekerja di lingkungan olahraga profesional yang serba cepat dan menuntut ketepatan tinggi. “Banyak hal yang saya terapkan sekarang justru berasal dari kebiasaan yang dibentuk saat kuliah di UMM, mulai dari disiplin dalam pencatatan medis, cara berpikir berbasis evidence, sampai keberanian mengambil keputusan klinis di lapangan. Kampus tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga membentuk cara saya bekerja dan bersikap sebagai tenaga kesehatan,” ungkapnya. Kini, kehadiran Algi di Dewa United menjadi langkah strategis di tengah ketatnya persaingan Indonesian Basketball League 2026. Ia tidak hanya datang membawa pengalaman, tetapi juga visi membangun sistem pencegahan cedera yang lebih progresif, integrasi sport rehabilitation dengan sport performance, serta optimalisasi data medis sebagai fondasi keputusan tim. Sebagai klub multikategori yang berdiri sejak 2020, Dewa United terus memperkuat setiap lini. Di balik capaian prestasi, termasuk gelar juara IBL 2025, ada kesadaran bahwa kekuatan tim tidak hanya dibangun dari taktik dan pemain, tetapi juga dari sistem pendukung seperti fisioterapi yang presisi dan berkelanjutan. Dengan pendekatan modern, terukur, dan berbasis teknologi, Algi optimistis mampu memberi dampak nyata. “Target saya sederhana tapi krusial: menjaga performa tetap stabil sepanjang musim dan membantu atlet mencapai potensi maksimalnya,” tambahnya. Kehadiran Algi menegaskan satu hal bahwa fisioterapi olahraga di Indonesia tengah bergerak ke arah yang lebih maju. Perannya kini bukan lagi sekadar penyembuh cedera, melainkan bagian vital dari strategi kompetisi menentukan kesiapan fisik, menjaga durabilitas, hingga memperpanjang usia performa atlet di tengah kerasnya tuntutan olahraga profesional.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mahasiswa UMM Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun dengan Mesin Inovatif

Kepedulian terhadap persoalan lingkungan kembali diwujudkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui inovasi teknologi tepat guna. Minyak jelantah yang kerap terabaikan kini dapat diolah menjadi sabun berkat Re-Oil to Soap Refiner Machine. Prototipe ini lahir dari proses pembelajaran di mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Teknik Industri. Inovasi tersebut digagas oleh Aulia Chandra Subrolarang, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama tim yang terdiri dari 10 orang. Berangkat dari banyaknya minyak jelantah yang dibuang tanpa pengolahan, mereka melihat peluang untuk menghadirkan solusi sederhana namun berdampak. “Banyak minyak jelantah yang belum bisa diolah dan akhirnya dibuang. Dari situ kami ingin membuat prototipe agar minyak tersebut bisa dimanfaatkan kembali,” jelas Chaca sapaan akrabnya. Mesin ini dirancang untuk skala rumah tangga dan UMKM. Prosesnya dimulai dari tahap filtrasi untuk memisahkan kotoran padat. Selanjutnya minyak dipanaskan agar lebih encer dan mudah dicampur dengan bahan pendukung. Setelah itu dilakukan proses mixing otomatis hingga menghasilkan adonan sabun yang siap dicetak dan didinginkan. Menurut Chaca, keunggulan utama alat ini terletak pada sistem yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Proses otomatis membantu mengurangi beban kerja manual serta mempercepat produksi. Selain itu, konsepnya sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular karena mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. “Keunggulannya ada pada proses yang lebih efisien dan mendukung konsep sustainability serta circular economy,” ujarnya. Selama proses pengembangan, tim menghadapi tantangan pada tahap uji coba. Mereka harus melakukan beberapa kali percobaan untuk memastikan sabun benar-benar terbentuk dengan baik. Diskusi intensif bersama dosen pembimbing juga menjadi bagian penting dalam penyempurnaan desain dan sistem kerja mesin. Meski masih berupa prototipe dengan kapasitas 1,5 liter, Chaca optimis alat ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Ia berharap kapasitas produksi dapat ditingkatkan hingga 5 liter serta sistem mixing dibuat lebih cepat agar semakin efisien. Dari sisi sosial, inovasi ini berpotensi membantu masyarakat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah. Dari sisi ekonomi juga, produk sabun yang dihasilkan dapat menjadi peluang usaha baru bagi UMKM setelah melalui pengujian lanjutan. Bagi Chaca, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang kolaborasi dan keberanian menuangkan ide. “Jangan takut menyampaikan ide, karena siapa tahu ide tersebut bisa menjadi solusi yang bermanfaat,” pesannya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai bahwa inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan rekayasa produk dengan isu keberlanjutan. Menurutnya, melalui mata kuliah P3, mahasiswa dilatih untuk peka terhadap masalah nyata serta mampu merancang solusi berbasis teknologi proses. “Ke depan, sistem ini berpotensi dikembangkan menjadi mesin daur ulang pintar dengan fitur monitoring produksi, kontrol kualitas otomatis, serta analisis efisiensi energi dan biaya operasional,” jelasnya. Melalui pembelajaran berbasis proyek seperti P3, UMM kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus inovatif dan mandiri yang mendorong lahirnya karya aplikatif dari ruang kelas. Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa dari ruang kelas UMM, lahir gagasan yang mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan.(ali/ faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Rayakan Lebaran dengan Langkah Baru, UMM Buka Pendaftaran Gratis Sebagai Kado Lebaran

Momentum Idul Fitri tahun ini membawa kabar gembira bagi para calon mahasiswa. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan kado spesial berupa pembebasan biaya pendaftaran bagi pendaftar baru. Program ini berlaku mulai 18 hingga 25 Maret 2026, menjadi peluang emas bagi generasi muda untuk melangkah ke dunia perkuliahan tanpa terbebani biaya awal. Di tengah suasana Lebaran yang identik dengan kebersamaan dan meningkatnya kebutuhan, kebijakan ini hadir sebagai bentuk kepedulian nyata kampus kepada masyarakat. Calon mahasiswa cukup memanfaatkan periode tersebut untuk mendaftarkan diri dan berkesempatan menjadi bagian dari Generasi 2026 UMM. Program ini berlaku khusus untuk program studi non-Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes). Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa kebijakan ini menjadi bagian dari nilai pengabdian kampus, khususnya dalam menghormati bulan Ramadan dan momentum Idul Fitri. “UMM itu selalu punya kepedulian dalam rangka menghormati bulan Ramadan ini. Ini juga bagian dari pengabdian kami,” ujarnya. Ia menjelaskan, keputusan untuk menggratiskan biaya pendaftaran juga mempertimbangkan kondisi masyarakat yang cenderung memiliki banyak pengeluaran saat Lebaran. Oleh karena itu, UMM berupaya memberikan kemudahan agar kesempatan melanjutkan pendidikan tetap terbuka luas. “Kami ingin memberi kemudahan bagi masyarakat. Di sela-sela kesibukan merayakan Idul Fitri, mereka masih punya kesempatan untuk mendaftar ke UMM tanpa terbebani biaya. Apalagi pada momen ini pengeluaran juga cukup banyak,” tambahnya. Lebih lanjut, kebijakan ini diharapkan mampu mendorong minat generasi muda untuk tidak menunda pendidikan tinggi. UMM ingin memastikan bahwa momentum Lebaran tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga titik awal untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Dengan adanya program ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam membuka akses pendidikan seluas-luasnya. “Kado Lebaran” ini bukan sekadar simbol, melainkan peluang nyata bagi calon mahasiswa untuk meraih cita-cita dan menjadi bagian dari kampus yang berorientasi pada kemajuan dan kebermanfaatan.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Beda Awal, Beda Akhir, Fenomena Baru Ramadan yang Disorot Dosen UMM

Bolehkah memulai puasa bersama pemerintah, tetapi merayakan Lebaran bersama Muhammadiyah? Pertanyaan ini kembali mengemuka di tengah masyarakat seiring perbedaan penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah. Fenomena “ibadah campuran” tersebut kian sering ditemui, memunculkan perdebatan sekaligus kebingungan di kalangan umat Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Ahda Bina Afianto, Lc., M.H.I. menilai praktik tersebut mencerminkan adanya kesenjangan pemahaman masyarakat terkait dasar-dasar penentuan kalender Hijriah. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak sekadar soal pilihan praktis, tetapi juga berkaitan dengan konsistensi dan integritas dalam menjalankan ibadah. “Secara integritas keilmuan tentu praktik campuran ini kurang tepat. Biasanya hal ini terjadi karena masyarakat belum memahami duduk perkara teknis dan landasan hukumnya. Namun, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan masyarakat. Justru ini menjadi momentum untuk meningkatkan literasi keagamaan agar umat bisa memahami perbedaan secara lebih utuh,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perbedaan penentuan awal bulan Hijriah antara Muhammadiyah dan pemerintah bukanlah hal baru. Muhammadiyah menggunakan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mengedepankan kepastian waktu secara global. Sementara itu, pemerintah Indonesia mengacu pada kriteria lokal berbasis kesepakatan MABIMS yang mengombinasikan metode hisab dan rukyatul hilal. Perbedaan pendekatan tersebut, lanjutnya, menjadi faktor utama yang kerap memunculkan perbedaan dalam penetapan awal Ramadan maupun Syawal. Namun, mencampur dua acuan dalam satu rangkaian ibadah dinilai berisiko, terutama dari sisi keabsahan jumlah hari puasa. “Jika seseorang memulai puasa mengikuti satu otoritas tetapi berlebaran mengikuti otoritas lain, ada kemungkinan jumlah puasanya menjadi tidak sah secara syar’i. Bisa kurang dari 29 hari atau justru lebih dari 30 hari. Karena itu, penting bagi umat untuk memiliki pendirian yang jelas dan konsisten dalam menentukan sikap,” tegasnya. Meski demikian, Ahda menekankan bahwa perbedaan penetapan hari besar Islam tidak perlu dipandang sebagai sumber perpecahan. Ia menyebut perbedaan tersebut berada di ranah metodologis dalam ilmu falak, bukan pada aspek teologis yang mendasar. Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa sikap bijak dalam menyikapi perbedaan menjadi kunci menjaga harmoni di tengah masyarakat. Umat diimbau untuk tidak sekadar ikut arus, melainkan memahami dasar keilmuan dari pilihan yang diambil. Dengan konsistensi dan pemahaman yang baik, perbedaan justru dapat menjadi sarana pendewasaan dalam beragama, bukan sumber kebingungan apalagi perpecahan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman