Di Balik Tradisi Mudik, UMM Soroti Makna Retret Spiritual dan Kultural Idul Fitri

Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga sebagai momentum penting untuk melakukan retret kultural dan spiritual. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Biyanto, M.Ag dalam khutbah Idul Fitri di Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jumat, 20 Maret 2026. Dalam khutbahnya, Biyanto menekankan bahwa tradisi mudik yang melekat dalam masyarakat Indonesia memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar perjalanan pulang kampung. Ia menyebut mudik sebagai bentuk retret kultural yang memperkuat identitas sosial sekaligus retret spiritual yang mengembalikan manusia pada nilai-nilai fitrah. “Melalui mudik, masyarakat tidak hanya melakukan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk kembali pada akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya. Menurutnya, retret kultural tercermin dalam upaya masyarakat menjaga tradisi silaturahmi, mempererat hubungan keluarga, serta merawat kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi. Tradisi saling mengunjungi, bermaaf-maafan, hingga berkumpul bersama keluarga besar menjadi bagian penting dari proses tersebut. Di sisi lain, retret spiritual hadir melalui refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan. Momentum Idul Fitri dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan. Biyanto menegaskan bahwa kedua dimensi ini tidak dapat dipisahkan. Retret kultural tanpa spiritualitas akan kehilangan makna, sementara retret spiritual tanpa sentuhan sosial dan budaya akan terasa hampa dalam kehidupan bermasyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai yang dibangun selama Ramadan, seperti empati, kepedulian, dan pengendalian diri, seharusnya terus dijaga setelah Idul Fitri. Dalam konteks ini, mudik menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. “Idul Fitri adalah momentum untuk kembali ke fitrah, bukan hanya secara personal, tetapi juga dalam relasi sosial. Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara dimensi budaya dan spiritual,” tuturnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan momentum Idul Fitri sebagai sarana mempererat kembali hubungan sosial yang mungkin sempat renggang. Ia menegaskan bahwa Idul Fitri harus menjadi titik balik untuk membangun persaudaraan dan kekerabatan sebagai manifestasi ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ia juga menekankan pentingnya kepedulian sosial sebagai buah dari ibadah puasa yang dijalankan secara lebih mendalam. Menurutnya, puasa pada tingkat khawas al-khawas tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menaklukkan hawa nafsu yang berlebihan terhadap urusan dunia. “Dengan demikian, kita menjadikan dunia ini jalan perbaikan, amal ihsan, sebagai wujud kesejatian manusia,” ujarnya. Di akhir pernyataannya, Nazaruddin Malik menyampaikan ucapan Idul Fitri kepada seluruh jamaah sekaligus permohonan maaf atas kekurangan selama penyelenggaraan Ramadan hingga pelaksanaan shalat Idul Fitri. Dengan demikian, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi menyeluruh menguatkan dimensi kultural dan spiritual sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Inovasi Santri PPI AMF, Keluak Disulap Jadi Tinta Spidol Ramah Lingkungan

Inovasi unik datang dari santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Zulva Wahyu Pradana. Ia mengembangkan tinta spidol ramah lingkungan berbahan dasar buah keluak, yang selama ini lebih dikenal sebagai bumbu masakan tradisional. Ide tersebut berangkat dari pengamatan sederhana terhadap potensi keluak yang memiliki pigmen hitam alami. Melalui riset dan serangkaian uji coba, Zulva menemukan bahwa kandungan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar tinta yang aman dan berkelanjutan. “Awalnya saya melihat keluak hanya digunakan untuk memasak, seperti rawon. Dari situ saya berpikir, apakah pigmen hitamnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain, salah satunya tinta,” ujarnya. Berbeda dengan tinta spidol konvensional yang umumnya mengandung bahan kimia, tinta berbahan keluak ini bersifat biodegradable, lebih aman bagi anak-anak, serta tidak menimbulkan dampak berbahaya saat terhirup. Inovasi ini juga dirancang agar tetap fungsional, baik sebagai tinta permanen maupun non-permanen. Dalam proses pengembangannya, Zulva menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam menemukan formulasi yang tepat agar tinta dapat digunakan secara optimal. Ia harus melakukan riset mendalam serta uji coba berulang kali hingga mendapatkan hasil yang sesuai. “Prosesnya cukup panjang karena harus mencoba berkali-kali untuk mendapatkan kualitas tinta yang stabil dan aman digunakan. Tapi dari situ saya banyak belajar tentang penelitian dan pengembangan produk,” katanya. Dari sisi biaya, inovasi ini tergolong terjangkau. Zulva menyebutkan bahwa bahan utama berupa keluak mudah ditemukan di pasar dengan harga relatif murah. Sementara itu, kebutuhan biaya lebih banyak dialokasikan pada penggunaan alat laboratorium untuk pengujian. Guru pembina, Yolanda Pradiva, menambahkan bahwa proses pendampingan tidak hanya berfokus pada penyempurnaan produk, tetapi juga pada pembentukan pola pikir inovatif dan keberlanjutan riset. Ia menjelaskan bahwa santri didorong untuk memahami potensi bahan lokal sekaligus mengembangkannya menjadi solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. “Kami tidak hanya membimbing dari sisi teknis pembuatan produk, tetapi juga bagaimana ide ini bisa berkembang dan memiliki dampak jangka panjang. Harapannya, inovasi seperti ini tidak berhenti di tahap penelitian, tetapi bisa terus disempurnakan hingga benar-benar siap digunakan di masyarakat,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam proses pengembangan, baik antar santri maupun dengan guru dari berbagai bidang. Menurutnya, pendekatan tersebut membuat inovasi yang dihasilkan menjadi lebih matang, baik dari sisi konsep, fungsi, maupun penyajiannya. Ke depan, Yolanda berharap inovasi tinta berbahan keluak ini dapat terus dikembangkan, termasuk dalam skala produksi dan pengujian lebih lanjut, sehingga berpotensi menjadi alternatif produk ramah lingkungan yang dapat digunakan secara luas. Sebagai penutup, inovasi sederhana berbasis bahan lokal ini menjadi bukti bahwa kreativitas santri mampu menghadirkan solusi berkelanjutan, sekaligus membuka peluang lahirnya produk-produk ramah lingkungan dari lingkungan pesantren.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mudik Lebih Irit BBM, Dosen UMM Tekankan Pentingnya Eco Driving

Mudik Lebaran tak hanya soal sampai ke kampung halaman, tetapi juga bagaimana perjalanan bisa ditempuh secara efisien. Salah satu cara yang dinilai efektif adalah menerapkan eco driving, yakni gaya berkendara yang mampu menghemat bahan bakar sekaligus menekan emisi kendaraan hingga mendekati 50 persen. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan Ammar Putra, ST., MT. Ia menegaskan bahwa pola berkendara yang tepat sangat berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar, terutama dalam perjalanan jarak jauh seperti mudik. “Eco driving pada dasarnya adalah cara mengoperasikan kendaraan agar kerja mesin dan sistem pembakaran tetap optimal. Dengan menjaga putaran mesin di rentang ideal, konsumsi bahan bakar bisa ditekan dan pembakaran menjadi lebih efisien,” jelasnya. Dalam praktiknya, Fauzan menyebut menjaga kecepatan tetap konstan menjadi kunci utama. Ia menilai lonjakan konsumsi bahan bakar paling besar terjadi saat kendaraan berakselerasi secara agresif. “Konsumsi bahan bakar terbesar terjadi ketika kendaraan berakselerasi. Karena itu, pengemudi sebaiknya menjaga laju tetap stabil dan menghindari perubahan kecepatan yang drastis agar mesin tidak bekerja terlalu berat,” ujarnya. Selain itu, penggunaan transmisi yang tepat juga menentukan efisiensi. Menahan gigi rendah terlalu lama akan membuat putaran mesin tinggi dan boros bahan bakar. Sebaliknya, perpindahan gigi pada waktu yang tepat membantu menjaga keseimbangan antara tenaga dan efisiensi. Fauzan menambahkan bahwa pengelolaan Revolutions Per Minute (RPM) juga perlu diperhatikan. Mesin memiliki rentang putaran ideal untuk menghasilkan pembakaran paling efisien. RPM yang terlalu tinggi akan meningkatkan konsumsi bahan bakar, sementara RPM terlalu rendah membuat mesin bekerja lebih berat. Ia juga menyoroti kebiasaan membuka jendela saat berkendara yang kerap dianggap sepele. Padahal, secara aerodinamika hal tersebut dapat meningkatkan hambatan udara dan berdampak pada konsumsi bahan bakar. “Lebih baik menggunakan AC dengan pengaturan yang bijak, termasuk memanfaatkan mode resirkulasi udara. Saat kaca dibuka, hambatan udara meningkat dan mesin harus bekerja lebih keras, sehingga bahan bakar menjadi lebih boros,” terangnya. Meski penerapan eco driving di lapangan kerap menghadapi berbagai tantangan, Fauzan menilai pengemudi tetap bisa menerapkannya dengan menjaga ritme berkendara yang tenang. “Walaupun kondisi lalu lintas tidak selalu ideal, pengemudi tetap bisa mengontrol gaya berkendara. Hindari menekan pedal gas secara mendadak dan usahakan ritme kendaraan tetap stabil agar efisiensi bahan bakar tetap terjaga,” katanya. Tak hanya berdampak pada efisiensi, eco driving juga berkontribusi pada aspek keselamatan. Gaya berkendara yang halus dan terkontrol membuat pengemudi lebih antisipatif terhadap situasi di jalan serta mengurangi kelelahan selama perjalanan panjang. Terkait beban kendaraan saat mudik, ia mengingatkan agar pengemudi tidak membawa muatan berlebih dan tetap memperhatikan tekanan angin ban sesuai rekomendasi pabrikan. “Beban berlebih akan meningkatkan kerja mesin dan risiko overheat. Jika memungkinkan, sebagian barang bisa dikirim melalui jasa ekspedisi agar kendaraan tidak kelebihan muatan,” ungkapnya. Sebagai penutup, Fauzan menegaskan bahwa eco driving bukan sekadar upaya menghemat bahan bakar, melainkan bagian dari berkendara yang lebih bijak. “Dengan gaya berkendara yang halus, stabil, dan terkontrol, perjalanan mudik bisa menjadi lebih hemat, aman, dan sekaligus ramah lingkungan,” pungkasnya.(rik/ faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Hindari Interaksi pada Bayi, Pakar UMM Ungkap Bahaya Penularan Campak

Momen Lebaran yang identik dengan silaturahmi dan interaksi antar keluarga justru menyimpan potensi bahaya penularan penyakit menular, salah satunya campak. Tingginya mobilitas masyarakat saat mudik serta intensitas pertemuan dalam suasana penuh keakraban dinilai dapat mempercepat penyebaran virus, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan. Meningkatnya mobilitas masyarakat saat momen Lebaran turut memunculkan kewaspadaan baru di bidang kesehatan. Keramaian selama mudik hingga tradisi silaturahmi keluarga dinilai berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit menular, salah satunya campak. Kondisi ini menjadi perhatian berbagai pihak, mengingat anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap infeksi tersebut. Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus dokter spesialis anak, Dr. dr. Pertiwi Febriana Chandrawati, M.Sc., Sp.A, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak. Menurutnya, virus campak merupakan salah satu penyakit infeksi yang sangat mudah menyebar di lingkungan dengan interaksi sosial yang tinggi. Pertiwi menjelaskan bahwa penularan campak dapat terjadi melalui percikan droplet ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Virus tersebut bahkan dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu setelah penderita meninggalkan ruangan. Oleh karena itu, keramaian seperti perjalanan mudik, transportasi umum, hingga pertemuan keluarga besar berpotensi meningkatkan risiko penularan. “Mobilitas masyarakat saat mudik memang dapat meningkatkan potensi penyebaran campak, terutama karena banyak interaksi di ruang tertutup seperti transportasi umum maupun kerumunan keluarga,” jelasnya 17 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini. Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu melawan infeksi virus secara optimal. Kondisi tersebut membuat anak lebih mudah tertular ketika berada di lingkungan yang padat interaksi. Selain faktor imun, kondisi nutrisi juga memengaruhi ketahanan tubuh anak terhadap infeksi. Kekurangan nutrisi tertentu dapat memperburuk kondisi ketika anak terpapar virus campak. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga infeksi pada sistem saraf. Di sisi lain, kebiasaan masyarakat saat Lebaran juga berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit. Banyak orang secara spontan menggendong atau mencium bayi ketika bertemu dalam acara silaturahmi. Menurut Pertiwi, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dibatasi demi melindungi kesehatan anak. “Kebiasaan memeluk, menggendong, atau mencium bayi dapat meningkatkan peluang penularan penyakit yang menyebar melalui droplet,” ujarnya. Apabila seorang anak terpapar virus campak, gejala biasanya tidak langsung muncul. Umumnya terdapat masa inkubasi sekitar 10 hingga 12 hari sebelum tanda penyakit terlihat. Setelah itu, anak dapat mengalami demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam pada kulit. Pada fase awal tersebut, anak sudah dapat menularkan virus kepada orang lain. Karena itu, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala seperti demam, batuk, pilek, atau ruam yang mengarah pada campak. Pertiwi menegaskan bahwa langkah pencegahan paling efektif adalah memastikan anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal. Imunisasi membantu tubuh membentuk perlindungan yang kuat terhadap virus campak serta menurunkan risiko komplikasi. “Imunisasi campak adalah perlindungan terbaik agar anak memiliki imunitas yang kuat dan terhindar dari komplikasi berat,” tuturnya. Melalui edukasi kesehatan yang terus dilakukan, UMM berharap masyarakat semakin memahami bahwa interaksi selama Lebaran perlu disikapi dengan bijak. Dengan menjaga kebersihan, membatasi kontak langsung dengan anak kecil, serta memastikan imunisasi lengkap, keluarga tetap dapat merayakan Lebaran dengan aman tanpa mengabaikan risiko penularan penyakit. (vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dari Asisten Laboratorium ke Kementerian, Alumnus UMM Ini Merawat Harapan Lewat Pendidikan

Berangkat dari latar belakang keluarga sederhana dan perjalanan kuliah yang penuh tantangan, Ramdhanor Putra Wira Utama, alumni Program Studi Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi ke tingkat nasional. Melalui proses panjang yang ditempa oleh pengalaman akademik, organisasi, dan pengabdian di berbagai daerah, Putra sapaan akrabnya kini dipercaya menjadi bagian dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus. Kini, alumnus UMM itu berperan dalam Tim Kebijakan dan Komunikasi (Social Media Specialist). Ia bertanggungjawab mengelola kanal digital kementerian sekaligus menjembatani komunikasi kebijakan kepada publik. Perjalanan Putra menuju kementerian berangkat dari proses panjang sejak masa kuliah. Selama menempuh pendidikan di UMM, ia aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Senat Mahasiswa Universitas, serta menjadi asisten Laboratorium Biologi. Lingkungan akademik UMM menjadi ruang awal pembentukan karakter profesionalnya. “UMM tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membentuk cara berpikir dan etos kerja. Saya belajar disiplin, bertanggung jawab, dan bekerja berbasis sistem sejak menjadi asisten laboratorium. Nilai-nilai itu sangat saya rasakan manfaatnya ketika sudah masuk dunia kerja,” ungkap Putra jelasnya 28 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Kesempatan internasional juga ia peroleh saat mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Thailand. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya sebagai calon pendidik sekaligus pembuat kebijakan. “Ketika mengajar di luar negeri, saya menyadari bahwa pendidikan sangat kontekstual. Apa yang diterapkan di satu negara tidak bisa dilepas dari budaya dan kebutuhan masyarakatnya. Pengalaman itu membuka cara pandang saya tentang pendidikan secara global,” tuturnya. Di balik prestasinya, Putra melewati masa kuliah yang tidak mudah. Berasal dari keluarga menengah ke bawah, ia harus mandiri membiayai hidup dan pendidikan di Malang dengan berbagai pekerjaan sambilan. “Saya pernah berada di fase kesulitan membayar kuliah dan harus benar-benar bertahan. Dukungan dosen dan kampus saat itu sangat berarti bagi saya. Dari UMM, saya belajar bahwa pendidikan juga tentang empati dan keberpihakan,” kenangnya. Setelah lulus pada 2020, Putra memilih jalur pengabdian. Ia mengajar di pesantren internasional di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, lalu menjadi relawan Indonesia Mengajar di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Pengalaman tersebut mempertemukannya langsung dengan realitas ketimpangan pendidikan. “Di daerah terpencil, kehadiran guru bukan sekadar mengajar, tetapi memberi harapan. Saya melihat sendiri bagaimana pendidikan bisa mengubah masa depan anak-anak. Pengalaman itu menguatkan komitmen saya untuk tetap berada di sektor pendidikan,” ujarnya. Jejak pengabdian tersebut mengantarkannya bergabung sebagai officer di Indonesia Mengajar. Ia terlibat dalam berbagai kolaborasi dengan Kemendikbudristek, mulai dari penyusunan modul hingga fasilitasi pembelajaran. Meski sempat gagal pada seleksi awal tenaga ahli kementerian, Putra tidak berhenti mencoba. “Kegagalan pertama justru menjadi bahan refleksi bagi saya. Saya belajar memperbaiki diri dan memahami kebutuhan institusi dengan lebih matang. Proses itu akhirnya mengantarkan saya bergabung di kementerian,” katanya. Bagi Putra, kiprahnya di kementerian merupakan kelanjutan dari proses panjang yang dimulai di UMM. Ia berharap kisahnya dapat memotivasi mahasiswa untuk aktif dan berani bermimpi. “UMM memberi saya ruang untuk tumbuh dan mencoba. Mahasiswa harus berani memanfaatkan organisasi, laboratorium, dan pengabdian sebagai bekal masa depan. Dari kampus, jalan menuju kontribusi nasional itu benar-benar terbuka,” pungkasnya. (rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bukan Gorengan! Aksi Mahasiswa Asing UMM Bagikan Takjil Buah Bikin Warga Gresik Antusias

Mengusung konsep yang berbeda dari tradisi pada umumnya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan SMA Muhammadiyah 3 Gresik menggelar kegiatan pembagian takjil kepada masyarakat pada 12 Maret lalu. Menariknya, takjil yang dibagikan bukanlah makanan ringan atau gorengan, melainkan paket buah-buahan segar. Kegiatan penuh kebersamaan ini dilangsungkan di kawasan Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Paket takjil sehat yang dibagikan kepada para pengguna jalan dan masyarakat sekitar ini terdiri dari berbagai macam buah bernutrisi tinggi, mulai dari jeruk, apel, anggur, hingga kurma yang memang dianjurkan untuk dikonsumsi saat membatalkan puasa. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa inisiatif unik ini merupakan wujud nyata ajakan kepada masyarakat luas untuk mulai menerapkan pola hidup sehat. Menurutnya, gaya hidup sehat bisa dimulai dari langkah kecil, yakni mengubah menu berbuka puasa. “Melalui pembagian takjil buah ini, kami ingin memberikan edukasi langsung kepada masyarakat bahwa membatalkan puasa tidak harus selalu dengan makanan yang tinggi gula atau gorengan. Berbuka dengan buah segar jauh lebih menyehatkan bagi pencernaan setelah seharian perut kosong,” ungkap Maharina. Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini terasa sangat spesial karena menggandeng langsung SMAM 3 Gresik yang merupakan salah satu sekolah binaan unggulan dari UMM. Selain konsep takjil yang menyehatkan, suasana sore itu semakin semarak dengan kehadiran sejumlah mahasiswa asing UMM yang ikut terjun langsung ke jalan. Salah satunya adalah Ammiridinov Dilshodbek, mahasiswa asing asal Uzbekistan. Bagi Ammiridinov, momen berbagi takjil ini memberikan pengalaman kultural yang luar biasa. “Kegiatan ini sangat seru dan berkesan bagi saya pribadi. Turun langsung ke jalan, menyapa warga lokal, dan melihat senyuman mereka saat menerima takjil adalah pengalaman yang menghangatkan hati. Tradisi seperti ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan, toleransi, dan kepedulian masyarakat Indonesia di bulan suci Ramadan, sesuatu yang sangat berharga untuk saya pelajari,” tutur Amir sapaan akrabnya. Masyarakat pengguna jalan di sekitar Melirang menyambut antusias kegiatan ini. Ratusan paket takjil buah tersebut ludes dalam waktu singkat menjelang kumandang azan Magrib. Ke depannya, UMM dan sekolah-sekolah binaannya berharap dapat terus menghadirkan program pengabdian yang tidak sekadar bernilai amal, tetapi juga membawa dampak edukasi yang baik bagi masyarakat. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Hadir di Bungah Gresik, Bakti Sosial Ramadan Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Literasi Anak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan bakti sosial di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, pada 12 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri ratusan warga setempat yang tampak antusias mengikuti berbagai program yang disiapkan oleh tim UMM. Dalam kegiatan tersebut, UMM menghadirkan beragam layanan untuk masyarakat. Mulai dari pembagian sembako, fun games, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pelatihan parenting bagi para orang tua. Tak hanya itu, kegiatan untuk anak-anak juga berlangsung meriah dengan berbagai aktivitas edukatif yang disiapkan panitia. Kehadiran Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) milik UMM turut menambah semarak kegiatan. Kedua mobil perpustakaan keliling tersebut menghadirkan berbagai aktivitas literasi sebagai upaya menumbuhkan minat baca serta meningkatkan budaya literasi pada anak-anak sejak dini. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan rasa senang melihat antusiasme warga yang hadir. Ia berharap kegiatan ini dapat membawa berkah bagi semua pihak sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadan. “Alhamdulillah saya sangat senang melihat banyak warga yang hadir. Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi warga Bungah dan tim UMM, serta menjadi jalan bagi kita semua untuk mencapai ketakwaan yang sesungguhnya,” ujarnya. Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungah, Drs. Suhali, M.Si., menyampaikan terima kasih kepada tim UMM yang telah memilih Kecamatan Bungah sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. Ia menjelaskan bahwa gedung PRM dipilih sebagai lokasi kegiatan karena fasilitasnya dinilai strategis untuk mendukung berbagai rangkaian kegiatan berbasis pendidikan dan sosial. “Saat dihubungi pihak UMM untuk melaksanakan bakti sosial di Kecamatan Bungah, kami langsung menindaklanjutinya dengan mempersiapkan tempat ini. Fasilitasnya sangat mendukung, mulai dari lembaga pendidikan, masjid, aula, hingga halaman yang luas,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya bersama tim PCM setempat siap berkolaborasi kembali dengan UMM dalam kegiatan serupa di masa mendatang. Selain berpusat di area PRM, warga bersama tim UMM juga membagikan takjil gratis di tepi jalan raya. Takjil berupa buah-buahan tersebut habis dalam waktu kurang dari 10 menit karena para pengguna jalan telah tertib mengantre sebelum pembagian dimulai. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra yang aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Akademisi UMM Ungkap Bahwa Dunia Kerja Butuh Nilai, Bukan Sekadar Ambisi

Di tengah dinamika dunia usaha yang semakin kompetitif, nilai spiritual menjadi fondasi penting dalam membangun etika kerja yang sehat. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si., Ketua Dewan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam kegiatan Safari Ramadhan yang digelar di Rayz UMM Hotel pada Senin, 9 Maret 2026. Dalam forum yang dihadiri berbagai unit bisnis UMM tersebut, Tobroni menekankan bahwa dunia kerja bukan sekadar arena persaingan ekonomi, melainkan juga ruang pembentukan karakter dan tanggung jawab moral. Menurutnya, kehidupan manusia pada dasarnya merupakan sebuah kompetisi yang tidak hanya berlangsung dalam ranah ekonomi, tetapi juga dalam dimensi moral dan spiritual. Setiap individu, kata Tobroni, berada dalam “perlombaan” untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kehidupan. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak seharusnya hanya dilihat dari keuntungan materi atau capaian ekonomi semata. “Dalam kehidupan ini kita seperti sedang bertanding, bukan hanya bertanding dengan orang lain tetapi juga dengan diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itu keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari materi atau keuntungan ekonomi semata, tetapi dari seberapa besar kontribusi yang kita berikan bagi orang lain dan bagi institusi tempat kita bekerja,” ujarnya. Tobroni menilai bahwa orientasi kerja yang hanya berfokus pada kepentingan pribadi berpotensi menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Jika hal tersebut terus terjadi, organisasi akan kehilangan kekuatan kolektif yang seharusnya menjadi fondasi kemajuan lembaga. Sebaliknya, ketika pekerjaan dipahami sebagai amanah sekaligus bentuk ibadah, setiap individu akan terdorong untuk memberikan kinerja terbaik bagi lembaga dan masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh sistem manajemen atau teknologi yang dimiliki. Faktor yang lebih menentukan adalah kualitas karakter, integritas, serta budaya kerja yang berkembang di dalam organisasi tersebut. Lembaga yang mampu bertahan lama, menurutnya, biasanya dibangun oleh budaya kerja yang sehat, saling menghargai, dan dilandasi komitmen bersama untuk memajukan organisasi. Dalam konteks dunia kerja modern, Tobroni menilai bahwa kenyamanan psikologis di tempat kerja menjadi faktor penting yang sering kali diabaikan. Lingkungan kerja yang penuh tekanan, konflik, dan persaingan yang tidak sehat justru dapat melemahkan semangat kerja serta menghambat perkembangan organisasi dalam jangka panjang. “Tempat kerja harus menjadi ruang yang membuat orang merasa dihargai dan nyaman secara psikologis. Ketika seseorang merasa dihargai, ia akan bekerja dengan komitmen yang lebih kuat dan memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi,” jelasnya. Kegiatan Safari Ramadhan ini dihadiri berbagai unit bisnis UMM, di antaranya Rayz Hotel, Hotel Kapal Garden, Perbengkelan UMM, unit perbankan, PT Hitec, SPBU UMM, PT Taman Rekreasi Sengkaling, NBS, RBC, serta sejumlah unit usaha lainnya di bawah naungan kampus. Melalui forum tersebut, Tobroni berharap nilai-nilai spiritual yang disampaikan dapat menjadi pengingat bagi seluruh pengelola unit usaha untuk terus menjaga integritas, profesionalisme, serta semangat pengabdian dalam bekerja. Momentum Ramadan, menurutnya, menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kesadaran bahwa pekerjaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral yang membawa manfaat bagi banyak orang. Dengan semangat tersebut, ia optimistis ekosistem bisnis di lingkungan UMM dapat terus berkembang secara berkelanjutan sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai etika dan kemanusiaan.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Dipercaya TNI AD Rancang Sistem Pemusnahan Amunisi Ramah Lingkungan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat kepercayaan dari Pusat Peralatan TNI Angkatan Darat (Puspalad) untuk merancang dan mengembangkan sistem pemusnahan amunisi yang lebih aman, modern, dan ramah lingkungan. Amanah ini melanjutkan kerja sama strategis yang telah resmi terjalin sejak 2024, setelah sebelumnya UMM dipercaya mengerjakan rancang bangun kendaraan khusus (ransus) yang dilengkapi pelepas runflat untuk panser Anoa. Kerja sama terbaru yang dijalankan sepanjang 2026 ini mencakup pengembangan sistem pemusnahan berbagai jenis munisi, mulai dari Munisi Kaliber Kecil (MKK), Munisi Kaliber Besar (MKB), hingga Munisi Khusus (Musus). Kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan amunisi di lingkungan TNI yang lebih aman, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta tetap memperhatikan dampak lingkungan. Ketua tim ahli proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D., dosen Program Studi Teknik Mesin UMM, menjelaskan bahwa fokus utama kerja sama ini adalah menghadirkan sistem pemusnahan amunisi yang lebih modern dengan standar keamanan tinggi. “Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan sistem pemusnahan amunisi yang lebih modern, aman, dan juga memperhatikan dampak terhadap lingkungan,” ujarnya Menurutnya, salah satu komponen utama yang akan dikembangkan dalam proyek ini adalah insinerator untuk memusnahkan Munisi Kaliber Kecil (MKK) dengan ukuran diameter di bawah 20 milimeter. Sistem insinerator tersebut dirancang menggunakan metode pembakaran dalam dua ruang bakar atau chamber. Konsep dua ruang bakar ini memungkinkan proses pembakaran berlangsung lebih sempurna sehingga sisa-sisa bahan peledak dapat terurai dengan lebih efektif. “Proses pemusnahan dirancang menggunakan sistem pembakaran di dalam dua ruang bakar atau chamber. Sistem ini dilengkapi teknologi pengolahan air serta filtrasi gas buang beracun agar dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan,” jelasnya. Seiring dengan perkembangan proyek, cakupan kerja sama antara UMM dan Puspalad juga mengalami perluasan. Awalnya sistem yang dirancang hanya difokuskan untuk pemusnahan Munisi Kaliber Kecil (MKK). Namun dalam perkembangannya, hibah tersebut diperluas untuk menangani pemusnahan Munisi Kaliber Besar (MKB) serta Munisi Khusus (Musus). Perluasan cakupan ini tentu membutuhkan tambahan berbagai peralatan pendukung. Beberapa di antaranya meliputi mesin disassembly untuk membongkar komponen munisi kaliber besar, sistem conveyor untuk memindahkan material secara aman, alat press, alat ayakan untuk proses pemisahan material, hingga pembangunan sumur peledakan yang akan digunakan dalam proses penghancuran jenis munisi khusus detonator dan TNT yang tidak dapat dimusnahkan melalui pembakaran. Sementara itu, Kepala Bagian Penelitian Dan Pengembangan Senjata Optronik Dan Munisi Pusat TNI Angkatan Darat, Letkol Cpl Syaiful Bahri, S.T., menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin dengan kampus putih. “Kami mengapresiasi kerja sama dengan UMM karena melibatkan keahlian akademisi dalam pengembangan teknologi pemusnahan amunisi yang lebih aman dan modern. Kolaborasi ini sangat penting untuk mendukung peningkatan sistem pengelolaan amunisi di lingkungan TNI,” ungkapnya. Ia juga berharap kerja sama yang sudah terjalin sejak 2024 lalu ini dapat terus berlanjut, lebih luas antara institusi militer dan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi pertahanan nasional di masa depan.(*)
UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan

Tawa anak-anak, motif batik dari daun dan bunga, hingga aktivitas edukatif mewarnai suasana ngabuburit di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, pada Selasa (10/3/2026). Melalui kegiatan Ngebuburead, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan konsep menunggu waktu berbuka puasa yang berbeda dengan memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif bagi masyarakat. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Selain memiliki nilai estetika tinggi, teknik ini juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan produk fesyen berbasis keberlanjutan kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Selain mengangkat isu keberlanjutan, kegiatan Ngebuburead juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) yang membawa berbagai koleksi buku bacaan anak dan remaja. Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang merupakan salah satu unit bisnis UMM ini juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang dihadirkan. Menurutnya, Ngebuburead menjadi alternatif ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman positif. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman