Akademisi Kesehatan UMM Peringatkan Bahaya Tersembunyi Cuaca Panas

Fenomena iklim “El Nino Godzilla” tengah mengubah jalanan dan area terbuka menjadi zona bahaya akibat paparan suhu panas yang sangat ekstrem. Di balik teriknya matahari, ancaman fatal bernama heat stroke (serangan panas) mengintai nyawa para pekerja yang tak punya pilihan selain beraktivitas di luar ruangan. Kelompok pekerja seperti pengemudi ojek online (ojol), kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, hingga petugas keamanan (satpam) kini berada di garis depan risiko mematikan tersebut. Merespons urgensi keselamatan ini, Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep., membagikan panduan krusial agar para pahlawan lapangan ini mampu melindungi diri dan tetap aman. Nur menjelaskan bahwa heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan otomatis untuk mengatur suhu. Kondisi medis ini jauh lebih parah daripada dehidrasi biasa. Suhu panas dari luar terus menumpuk di dalam tubuh. Akibatnya, produksi keringat terhenti total dan panas terperangkap. Faktor pemicu utamanya tentu saja adalah cuaca panas ekstrem dari fenomena El Nino. Risiko ini akan makin parah jika seseorang kurang minum, kurang istirahat, serta memakai pakaian yang tidak menyerap keringat. “Kondisi paling parah itu bisa menyebabkan kerusakan otak dan gangguan fungsi organ. Tubuh kekurangan oksigen dan bisa memicu pingsan hingga mengancam nyawa,” tegas Nur mengingatkan besarnya bahaya kondisi tersebut. Lebih lanjut, Nur menyoroti mengapa kelompok pekerja lapangan tersebut sangat rentan. Selain karena terus terpapar sinar matahari secara langsung selama berjam-jam, kewajiban mereka untuk memakai perlengkapan kerja seperti jaket tebal bagi ojol dan kurir, atau helm tertutup pada pekerja konstruksi membuat suhu panas makin mudah terperangkap dan memanggang tubuh dari dalam. Untuk menghindari bahaya mematikan ini, Nur memberikan sejumlah kiat pencegahan. Pekerja wajib membawa persediaan air minum berukuran sedang setiap kali bekerja. Sangat disarankan untuk rutin minum air putih dan jangan pernah menunggu sampai tenggorokan terasa haus. Pekerja juga wajib menyempatkan istirahat sekitar 20 hingga 30 menit di tempat yang teduh. Sebisa mungkin batasi aktivitas fisik berat pada jam rawan panas, yakni pukul 10.00 pagi hingga 13.00 siang. “Jika harus memakai jaket sesuai aturan perusahaan, biarkan resleting sedikit terbuka. Tujuannya agar panas tubuh bisa bertukar lebih mudah dengan udara luar,” jelasnya. Peka terhadap sinyal tubuh adalah kunci utama keselamatan pekerja lapangan. Segera hentikan aktivitas jika tubuh mulai merasa pusing, mual, lemas, atau bahkan kebingungan. Selain menjaga asupan cairan, nutrisi makanan juga harus diperhatikan agar tubuh memiliki cadangan energi. Pada akhir penjelasannya, Nur memberikan saran tegas kepada pihak korporasi. Kebijakan tempat kerja harus adaptif demi menyelamatkan nyawa karyawannya. “Perusahaan mohon mengatur jam kerja yang lebih fleksibel. Sediakan juga air minum yang cukup dan berikan tempat istirahat yang layak, jangan dibiarkan istirahat di tempat panas,” pungkas Nur. Terakhir, ia berharap edukasi preventif ini diharapkan mampu menekan angka fatalitas di tengah ancaman krisis iklim global. Upaya sederhana namun konsisten diyakini dapat menjadi pelindung utama bagi pekerja lapangan. Dengan pemahaman yang tepat, mereka tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman tanpa harus mengorbankan kesehatan di tengah paparan panas ekstrem.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Jalur Cepat Bangun Karier, Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif dari CoE Kelapa Sawit

Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi nyata dari yang awalnya ‘belum bisa’ menjadi ‘kompeten’ ini adalah wujud nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi mandiri dan berdampak. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM mendobrak kebiasaan lama dengan menerjunkan mahasiswa ke jantung industri sejak masa kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, adalah bukti nyata dari efektivitas pendekatan ini. Sebelum mengikuti program bergengsi tersebut pada semester lima, ia mengaku pemahamannya terkait dunia industri sangat terbatas pada buku teks dan simulasi di dalam kelas. Ia merasa masih meraba-raba dan belum siap untuk menghadapi kompleksitas operasional pabrik yang sebenarnya. Namun, semuanya berubah drastis setelah ia dinyatakan lolos seleksi ketat CoE dan diberangkatkan untuk menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami lonjakan kompetensi yang sangat signifikan. “Awalnya tentu kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, di bawah tekanan tinggi, dan sangat dinamis dibandingkan lingkungan kampus. Sempat merasa tidak bisa mengikuti alurnya karena semuanya murni praktik lapangan. Namun, justru di titik itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Dari yang awalnya hanya tahu teori sistem produksi secara konseptual, saya akhirnya dituntut dan berhasil mengerti secara langsung bagaimana alur pengolahan bahan baku sesungguhnya, proses pengendalian kualitas mutu secara presisi, hingga merumuskan evaluasi efisiensi kerja langsung di lapangan,” ungkap Novan menceritakan pengalaman transformatifnya 6 April lalu pada Tim Humas UMM. Keberhasilan Novan melesat dari fase ‘tidak bisa’ menjadi sosok yang ‘kompeten’ ini tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang penuh dengan berbagai keuntungan (benefit) bagi mahasiswanya. Dari sisi efisiensi akademik, program unggulan ini menawarkan keuntungan konversi SKS secara utuh. Artinya, seluruh aktivitas magang di industri tersebut diakui sebagai pembelajaran formal, sehingga mahasiswa tidak akan rugi waktu kuliah. Lebih dari itu, permasalahan nyata yang diselesaikan Novan di lapangan langsung menjadi bekal data dan topik studi kasus yang sangat kuat untuk menyusun tugas akhir. Mahasiswa juga secara otomatis mendapatkan keuntungan berupa perluasan jaringan (networking) profesional yang eksklusif serta portofolio kerja dengan nilai jual tinggi. Transformasi keahlian dan kematangan mental mahasiswa inilah yang menjadi target utama dari UMM. Baiq Firyal Salsabila Safitri, S.T., M.Sc., selaku dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, menyatakan bahwa kurikulum kampus memang harus ditopang dengan kolaborasi praktis agar lulusan tidak gagap saat memasuki dunia kerja. “Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini adalah wujud komitmen tegas UMM dalam melahirkan lulusan yang berkompetensi unggul dan relevan dengan kebutuhan nyata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kami memastikan setiap mahasiswa yang dicetak melalui program ini bukan sekadar sarjana biasa, melainkan talenta-talenta tangguh yang siap tarung, mudah beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi industri sejak hari pertama mereka bekerja,” pungkas Firyal.(alg/faq)     Penulis: Mushtafa Almad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

PPG UMM Soroti Bahaya AI di Dunia Pendidikan, Tegaskan Pentingnya Keteladanan Guru

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) seperti tak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga ancaman nyata bagi kapasitas berpikir mendalam jika tidak disikapi bijak. Mengantisipasi disrupsi tersebut, Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan pakar pendidikan National Taiwan Normal University (NTNU), Prof. Chun-Yen Chang, dalam Kuliah Tamu Internasional bertajuk Teacher Resiliency in the Digital Age di Rayz Hotel UMM, Minggu (5/4/2026). Acara yang dihadiri oleh ratusan peserta secara luring maupun daring ini membahas secara mendalam terkait Kemampuan Adaptasi Guru terhadap Teknologi Pembelajaran di Era Digital dan Persaingan Global. Dalam pemaparannya, Prof. Chang secara gamblang menyoroti bahaya ketergantungan berlebih pada AI dan menegaskan kepada para calon pendidik untuk tidak tenggelam dalam kemewahan teknologi. “Ketika Anda mencoba untuk menyerahkan (outsource) otak Anda kepada AI seperti ChatGPT, Anda tidak lagi berpikir. Penggunaan teknologi jangka panjang tanpa diiringi pemikiran kritis pada akhirnya akan merusak kapasitas pemikiran mendalam Anda,” tegas Prof. Chang. Menurutnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah bisa mereplikasi interaksi emosional di ruang kelas. “Saya secara pribadi jauh lebih menyukai pembelajaran tatap muka karena ada sentuhan manusia (human touch) di dalamnya. Papan tulis dan kapur pun bisa menjadi alat pengajaran yang sangat efisien jika Anda adalah guru yang mampu merancang kelas dengan baik,” imbuhnya. Di sela-sela paparannya, Prof. Chang secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada ekosistem akademik Kampus Putih. Ia menilai UMM memiliki kapasitas mumpuni untuk menjalin kolaborasi riset berskala global. “UMM akan menjadi mitra strategis yang sangat baik. Ke depan, tim kami di Taiwan sangat antusias untuk mengumpulkan data bersama peneliti UMM, guna membandingkan perspektif mahasiswa calon guru di Taiwan dan Indonesia,” ungkapnya. Menyambung pentingnya ketahanan mental di tengah pusaran teknologi, Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., memberikan pandangan tajam dari sisi psikologis. Mewakili Rektor UMM, Salis kembali menegaskan filosofi pendidikan bahwa pendidik adalah penjaga nilai kemanusiaan, di mana teknologi murni hanyalah sekadar alat pendukung. Salis juga menganalogikan peran guru dengan seorang dokter. “Saat memilih dokter, pasien pasti mencari dokter yang enak diajak cerita, terlepas dari deretan gelar akademisnya. Sama halnya dengan guru di sekolah, siswa akan selalu mengingat dan menyerap pelajaran dari guru yang membuat mereka merasa nyaman,” paparnya. Menghadapi era ketidakpastian (uncertainty) yang bergerak sangat cepat, Salis merekomendasikan pendekatan going inside deeper atau penguatan karakter ke dalam diri. Ia menolak pesimisme yang menganggap era saat ini lebih berat bagi para guru. “Setiap era memiliki perjuangannya masing-masing. Untuk mendidik siswa agar mampu bertahan di era disrupsi, metode terbaiknya adalah keteladanan. Guru itu sendiri yang pertama kali harus memiliki openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman baru) dan growth mindset. Tidak mungkin anak didik bisa percaya diri kalau gurunya sendiri tidak mencontohkan hal tersebut,” pungkas Salis. Sinergi gagasan dari kedua pakar internasional dan nasional ini menggarisbawahi satu rumusan kuat: Secanggih apa pun disrupsi teknologi di masa depan, daya kritis, keteladanan, dan empati seorang guru tetaplah detak jantung utama dari pendidikan.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tembus Akreditasi Internasional IABEE, Informatika UMM Siap Cetak Penakluk Teknologi Global

Langkah progresif dalam memperkuat kualitas akademik kembali ditorehkan oleh Program Studi (Prodi) Sarjana Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada tahun 2026 ini, Prodi Informatika UMM resmi meraih capaian membanggakan berupa status Accredited dari lembaga akreditasi internasional The Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) untuk disiplin Computer Science, Informatics, and similarly named programs. Sertifikat bergengsi yang ditetapkan di Jakarta pada 31 Maret 2026 ini menjadi penegasan bahwa penyelenggaraan pendidikan di UMM terus diarahkan pada standar mutu dunia yang terukur, relevan, dan berkelanjutan. Ketua Program Studi Informatika UMM, Dr. Ir. Agus Eko Minarno, S.Kom., M.Kom., IPM., menyampaikan bahwa dalam dunia pendidikan tinggi yang kian kompetitif, akreditasi IABEE memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penilaian formal atau pengesahan administratif. “Pengakuan ini mencerminkan keseriusan institusi dalam membangun sistem pembelajaran yang berorientasi pada capaian lulusan, penguatan kurikulum, proses akademik yang konsisten, serta budaya evaluasi yang berkesinambungan,” jelas Agus. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan ini terwujud berkat kerja kolektif yang solid antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan dukungan penuh dari pimpinan universitas. Lewat capaian ini, mahasiswa dan calon mahasiswa diberikan keyakinan bahwa proses pendidikan yang mereka jalani berada dalam ekosistem yang sangat serius terhadap mutu. Pencapaian strategis ini juga sejalan dengan visi besar universitas untuk terus melebarkan sayap di kancah internasional. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa raihan akreditasi ini merupakan wujud nyata dari kapasitas kampus putih. “Penghargaan di mana Teknik Informatika UMM mendapatkan akreditasi internasional IABEE ini, sekali lagi menjadi komitmen sekaligus bukti bahwa UMM siap bersaing di tingkat global,” tegas Salis. Lebih lanjut, Salis mengingatkan bahwa esensi dari akreditasi bukanlah semata tentang gelar yang berhasil diraih, melainkan komitmen panjang untuk menjaga standar tersebut. “Ke depannya, kita harus jauh lebih semangat lagi untuk membangun kemitraan-kemitraan strategis dengan berbagai negara luar. Kita harus berpikir keras, berinovasi, dan mengembangkan beragam program positif agar lulusan UMM memiliki daya saing di tingkat global, bukan sekadar di tingkat nasional apalagi lokal. Akreditasi ini mendorong kita untuk berkontribusi bukan hanya untuk Indonesia, namun juga untuk dunia,” tambahnya. Momentum penetapan akreditasi IABEE ini bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan pijakan awal sekaligus energi baru bagi Prodi Sarjana Informatika UMM. Ke depannya, peningkatan atmosfer akademik, pengembangan inovasi teknologi, serta perluasan kolaborasi akan terus diupayakan. Bagi alumni dan mitra industri, capaian ini memperkuat kepercayaan bahwa Informatika UMM terus berbenah secara sistematis untuk melahirkan lulusan yang berintegritas, menguasai keilmuan dengan matang, dan siap menjawab tantangan nyata di tengah pusaran dinamika era digital yang bergerak cepat.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Siapkan Beasiswa Aktivis, Organisasi Mahasiswa Kini Diakui sebagai Prestasi

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan Dialektika Kampus Putih di Convention Hall Sengkaling Kuliner, Sabtu (4/4/2026). Forum yang berlangsung hangat ini menjadi ruang silaturahmi pasca-Idulfitri sekaligus wadah dialog terbuka antara pimpinan universitas dan organisasi kemahasiswaan (Ormawa). Tak hanya membangun komunikasi, kegiatan ini juga menegaskan komitmen kampus dalam memperkuat dukungan terhadap aktivitas mahasiswa. Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, M.T., menegaskan bahwa UMM terus berupaya mendorong pengembangan mahasiswa melalui berbagai program pendampingan dan fasilitasi kegiatan. “UMM berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan kemahasiswaan. Seperti Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), mahasiswa kami fasilitasi mulai dari pendampingan hingga pelaksanaan. Kalau mahasiswa mengikuti lomba akademik maupun non-akademik, pasti kami dukung,” ujarnya. Komitmen tersebut juga diperkuat dengan rencana kebijakan baru yang tengah disiapkan kampus. Ke depan, kampus putih akan menyiapkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis, baik yang tergabung dalam BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa, maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Selain itu, mahasiswa aktivis juga akan dikategorikan sebagai mahasiswa berprestasi, sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi mereka dalam pengembangan organisasi dan kepemimpinan. Sementara itu, Presiden Mahasiswa UMM Wahyuddin Fahrurrijal menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang diskusi formal, tetapi juga momentum mempererat hubungan antara mahasiswa dan pimpinan kampus. “Tujuan acara ini sebenarnya ajang halal bihalal sehabis lebaran, sekaligus silaturahmi dengan pimpinan dan organisasi kemahasiswaan. Di sini juga diagendakan untuk berdiskusi dan menyampaikan berbagai aspirasi maupun keluhan dari teman-teman Ormawa,” jelasnya. Ia menambahkan, selama satu periode kepengurusan, BEM UMM telah merancang dan melaksanakan berbagai program kerja yang berfokus pada kebutuhan mahasiswa. “Berbagai program kerja sudah kami rancang dan alhamdulillah banyak yang terlaksana. Ini menuju penghujung periode, dan program-program tersebut kami jalankan untuk mahasiswa berdasarkan kebutuhan mereka,” tambahnya. Wahyuddin juga mengajak mahasiswa untuk lebih aktif terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, partisipasi di Ormawa tidak hanya memperkaya pengalaman, tetapi juga menjadi bekal penting untuk masa depan. “Harapannya teman-teman lebih aware bahwa kegiatan Ormawa memberikan manfaat untuk perkuliahan maupun pekerjaan. Pengalaman soft skill yang didapatkan akan menjadi bekal ke jenjang selanjutnya,” ungkapnya. Melalui Dialektika Kampus Putih, UMM menegaskan bahwa ruang dialog antara mahasiswa dan pimpinan kampus akan terus diperkuat. Selain menjadi sarana aspirasi, forum ini juga menjadi langkah strategis untuk memastikan aktivitas kemahasiswaan berkembang sejalan dengan visi kampus yang mendorong mahasiswa aktif, berprestasi, dan berdampak.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Krisis Energi Mengintai, Pakar UMM Ungkap Kunci Kemandirian Energi Indonesia

Kemandirian nasional dinilai menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis energi global yang dipicu memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran serta potensi penutupan Selat Hormuz. Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Dr. (H.E) Priyo Iswanto, M.H., menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam dan jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. “Kemandirian energi adalah kunci agar kita tidak terus-menerus terdampak gejolak global. Indonesia memiliki potensi besar, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, potensi tersebut tidak akan cukup untuk menahan dampak krisis yang semakin kompleks,” ujarnya 03 April lalu pada Tim Humas UMM. Menurutnya, penguatan sektor industri, energi, dan ekonomi domestik menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Ia menilai pemerintah perlu segera mempercepat strategi yang berorientasi pada ketahanan nasional agar Indonesia tidak bergantung pada dinamika pasar energi global. “Kita harus memperkuat fondasi domestik, mulai dari sektor industri hingga energi, agar tidak selalu rentan ketika terjadi gangguan pasokan global,” tambahnya. Memanasnya konflik geopolitik yang berujung pada ancaman penutupan Selat Hormuz turut meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dunia. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi energi global, sehingga gangguan pasokan berpotensi memicu tekanan besar terhadap banyak negara, termasuk Indonesia. Priyo menilai situasi ini bukan sekadar persoalan politik luar negeri, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional. “Penutupan Selat Hormuz akan berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Dalam kondisi seperti ini, ruang gerak diplomasi menjadi terbatas karena persoalan utamanya adalah berkurangnya pasokan energi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama dari sisi subsidi energi. “Diplomasi saja tidak cukup ketika harga minyak melonjak tinggi. Pemerintah harus bersiap menghadapi tekanan besar terhadap APBN, terutama pada subsidi energi yang akan meningkat,” tegasnya. Untuk meredam dampak tersebut, Priyo menilai pengendalian konsumsi bahan bakar minyak, khususnya pada sektor non-vital, perlu segera dilakukan. Selain itu, percepatan diversifikasi energi juga harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor minyak. “Pengurangan konsumsi BBM di sektor non-vital harus segera dilakukan dan melibatkan seluruh masyarakat. Di sisi lain, diversifikasi energi, terutama energi terbarukan, harus digencarkan secara masif dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dalam negeri,” ungkapnya. Ia juga menekankan bahwa ketahanan energi menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri dan perekonomian nasional. Menurutnya, krisis ini justru dapat menjadi momentum untuk mempercepat transisi menuju energi alternatif yang lebih berkelanjutan. “Kita tidak bisa terus bergantung pada energi fosil karena selain terbatas, juga rentan terhadap gejolak global seperti saat ini. Ketahanan energi menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri nasional,” katanya. Priyo juga menilai krisis ini juga menguji kemampuan Indonesia dalam menjaga keseimbangan politik luar negeri. Ia menegaskan bahwa prinsip bebas aktif harus tetap dijalankan tanpa terjebak dalam keberpihakan tertentu. “Tidak mudah bersikap netral dalam situasi seperti ini, tetapi diplomasi Indonesia harus mampu menjembatani kepentingan ekonomi dan politik tanpa menimbulkan konflik baru,” ujarnya. Terakhir, ia mendorong pemerintah untuk mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif, termasuk energi nuklir, sebagai bagian dari strategi jangka panjang. “Maka dari itu, kita harus mendorong pemerintah untuk mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif, termasuk energi nuklir, sebagaimana telah dilakukan oleh banyak negara maju. Dengan langkah tersebut, Indonesia tidak hanya mampu bertahan dari krisis, tetapi juga memperkuat fondasi menuju kemandirian energi untuk menopang industri di masa depan,” pungkasnya.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lewat CoE, UMM Dorong Mahasiswa Analisis Permasalahan Daerah Berbasis AI

Di tengah derasnya tren pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai sektor, mulai dari pemerintahan hingga perumusan kebijakan publik. Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis data. Melalui kelas Center of Excellence (CoE) Data Governance Analyst, mahasiswa didorong memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis dokumen perencanaan pembangunan daerah secara kritis dan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang solutif. Pendekatan ini dinilai relevan dengan kebutuhan pemerintah yang kini semakin mengandalkan data dan analitik dalam pengambilan keputusan. Menurut Ali Roziqin, M.PA., yang juga Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan UMM, pemanfaatan AI dalam kelas itersebut bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas analisis kebijakan publik. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori kebijakan, tetapi juga mampu mengolah data secara kritis dan menerjemahkannya menjadi rekomendasi kebijakan yang solutif dan aplikatif bagi pemerintah daerah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kemampuan analisis berbasis data akan menjadi kompetensi penting bagi calon analis kebijakan di era digital. Dalam program tersebut, Mahasiswa diberikan proyek penyusunan Concept Note berbasis data dari dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di berbagai daerah di Indonesia. Secara khusus, mahasiswa difokuskan untuk menganalisis permasalahan serta mengidentifikasi isu-isu strategis yang dihadapi masing-masing daerah. Melalui proses ini, mahasiswa tidak hanya memahami dokumen perencanaan pembangunan, tetapi juga dilatih menghasilkan kajian yang tajam, kontekstual, dan berbasis data. Sebelum mengerjakan proyek, mahasiswa dibekali kemampuan menggunakan berbagai tools AI seperti ChatGPT, Claude, Scopus, Consensus, Scite, serta Napkin AI. Pemanfaatan tools tersebut membantu mahasiswa dalam mengolah data, mempercepat pencarian referensi ilmiah, hingga memperkuat dasar analisis kebijakan. Selain itu, penggunaan AI juga memungkinkan mahasiswa memvisualisasikan data agar lebih mudah dipahami dan diinterpretasikan. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran tidak lagi hanya berbasis teori, tetapi juga menekankan praktik analisis kebijakan berbasis bukti yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Penggunaan AI dalam pembelajaran ini tidak hanya mempermudah proses analisis, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dalam membaca dinamika pembangunan daerah. Dengan dukungan data yang kuat, mahasiswa dapat menyusun rekomendasi kebijakan yang lebih sistematis serta memiliki landasan akademik yang kredibel. Menurutnya, integrasi teknologi AI menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran kebijakan publik. “Pemanfaatan AI membantu mahasiswa mengolah data secara lebih komprehensif, tetapi yang terpenting adalah bagaimana mereka tetap berpikir kritis dan mampu merumuskan rekomendasi kebijakan yang berbasis kebutuhan daerah,” jelasnya. Melalui pendekatan ini, mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM diharapkan mampu menjadi analis kebijakan yang adaptif, kritis, dan responsif terhadap dinamika pembangunan daerah. Ke depan, inovasi pembelajaran berbasis AI tersebut diharapkan dapat memperkuat peran kampus dalam mencetak sumber daya manusia yang siap berkontribusi pada tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan, dan berbasis data.(Rik/Faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Krisis Energi Picu WFH Nasional, Pakar UMM Ingatkan Konflik Sosial Baru

Gelombang krisis energi global mulai menyeret Indonesia pada pilihan kebijakan yang tak mudah. Wacana penerapan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja sektor swasta kembali mencuat sebagai strategi penghematan bahan bakar. Namun, kebijakan ini justru memantik pertanyaan, apakah WFH benar-benar solusi efisien, atau hanya memindahkan beban energi dari kantor ke rumah sekaligus membuka celah ketimpangan baru? Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si., menilai kebijakan WFH yang muncul di tengah tekanan energi saat ini berpotensi menjadi solusi simbolis jika tidak disertai paket kebijakan komprehensif. Menurutnya, tanpa langkah struktural seperti diversifikasi energi atau insentif bagi pekerja, WFH belum bisa disebut sebagai transformasi budaya kerja yang berkelanjutan. Dari perspektif sosiologis, alih fungsi rumah menjadi ruang kerja dinilai bukan lagi persoalan besar. Masyarakat telah memiliki pengalaman adaptasi sejak pandemi. Namun, risiko baru justru muncul pada praktik di lapangan yang berpotensi melenceng dari tujuan awal penghematan energi. “Yang sangat dikhawatirkan adalah mereka yang seharusnya WFH malah berubah menjadi WFA (Work From Anywhere). Ketika bekerja di kafe atau tempat publik lain, mereka tetap menggunakan kendaraan bermotor, sehingga tujuan menghemat konsumsi bahan bakar tidak tercapai,” tegas Vina, 4 April 2026. Ia menambahkan, pergeseran ruang kerja juga otomatis memindahkan beban konsumsi energi dari korporasi ke rumah tangga. Biaya listrik, internet, hingga kebutuhan pendukung kerja meningkat di tingkat keluarga. Karena itu, Vina menekankan pentingnya keadilan kebijakan antara negara, perusahaan, dan pekerja. “Pemerintah perlu merancang paket kebijakan utuh, misalnya mengombinasikan WFH dengan subsidi khusus bagi pekerja kelas bawah. Negara kita juga belum siap sepenuhnya beralih ke energi terbarukan secara massal,” jelasnya. Di sisi lain, WFH juga berpotensi memicu kecemburuan sosial. Pekerja lapangan tidak memiliki opsi bekerja dari rumah, sementara pelaku UMKM di sekitar perkantoran kehilangan konsumen harian. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat memperlebar jurang ketimpangan ekonomi. Vina menegaskan, pemerintah perlu menyusun pedoman profesi secara transparan serta mempertimbangkan ketimpangan infrastruktur digital antar daerah. Tanpa komunikasi yang jelas, kebijakan WFH berisiko memunculkan konflik horizontal di masyarakat. “WFH bisa menjadi solusi, tetapi tanpa desain kebijakan yang adil dan menyeluruh, ia justru berpotensi menciptakan masalah sosial baru,” pungkasnya.(ali/ faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kasus Dugaan Markup Videografer Buka Perdebatan, Dosen UMM Jelaskan Mengapa Brainstorming hingga Editing Punya Nilai Ekonomi

Isu dugaan markup anggaran videografer yang mencuat belakangan ini memantik perdebatan publik. Dalam kasus tersebut, jaksa dan auditor disebut menilai proses seperti cutting, editing, dubbing, hingga brainstorming konsep tidak memiliki nilai ekonomi sehingga tidak layak dibayar. Pandangan ini menuai perhatian karena dianggap mengabaikan proses kreatif yang justru menjadi fondasi utama lahirnya karya. Menanggapi hal itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Novin Farid Setyo Wibowo, M.Si., menegaskan bahwa ide dan proses kreatif merupakan komponen penting yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam industri kreatif. Menurutnya, penilaian yang hanya melihat hasil teknis tanpa mempertimbangkan proses kreatif berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap cara kerja industri kreatif. Ia menekankan bahwa sebelum kamera dinyalakan, terdapat tahapan panjang yang melibatkan riset, pengembangan konsep, hingga penyusunan strategi komunikasi yang membutuhkan keahlian khusus. “Dalam dunia kreatif, justru ide itu yang paling mahal. Karena ide adalah roh dari sebuah karya. Kreativitas selalu dimulai dari gagasan yang mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa,” ujarnya. Novin menjelaskan bahwa proses produksi karya kreatif dimulai dari tahap development. Pada fase ini, kreator melakukan riset untuk memahami kebutuhan klien, karakter audiens, serta tujuan komunikasi. Dari riset tersebut kemudian lahir konsep, ide cerita, hingga naskah yang menjadi dasar keseluruhan produksi. Menurutnya, tahap pengembangan ide menjadi proses paling menantang sekaligus paling menentukan kualitas karya. “Sering kali orang hanya melihat kamera dan hasil akhirnya. Padahal sebelum itu ada proses panjang yang tidak terlihat, mulai dari riset, diskusi konsep, sampai penyusunan strategi komunikasi. Semua itu membutuhkan waktu, keahlian, dan pengalaman,” jelasnya. Setelah itu, proses berlanjut ke tahap pre-production, production, hingga post-production. Pada tahap pra-produksi, tim kreatif menyusun kebutuhan teknis seperti pembentukan kru, penyusunan anggaran, pencarian lokasi, dan perizinan. Tahap produksi berfokus pada pengambilan gambar sesuai konsep. Sementara pada pasca-produksi dilakukan editing visual, pencampuran audio, hingga penambahan narasi untuk memperkuat pesan karya. Ia menilai, seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif tidak hanya bergantung pada peralatan, tetapi juga pada kemampuan sumber daya manusia. Editor, penulis naskah, animator, hingga pengisi suara memiliki peran penting dalam membangun kualitas karya. “Jika proses kreatif dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, maka yang dirugikan bukan hanya pekerja kreatif, tetapi juga kualitas karya itu sendiri. Industri kreatif bisa kehilangan ruang untuk berkembang karena ide tidak lagi dihargai. Padahal, ekonomi kreatif justru tumbuh dari kekuatan gagasan,” tegasnya. Lebih lanjut, Novin menekankan pentingnya penghargaan terhadap nilai ekonomi ide. Jika proses kreatif tidak dihargai secara layak, hal tersebut berpotensi mencederai pekerja kreatif. Ia juga mendorong pembentukan asosiasi profesi sebagai ruang advokasi dan perlindungan bagi pelaku industri kreatif, sekaligus meningkatkan literasi publik mengenai nilai ekonomi dari kreativitas. Ia pun berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat terus mendorong penguatan ekosistem industri kreatif melalui kebijakan yang mendukung kolaborasi, perlindungan profesi, serta peningkatan literasi masyarakat terhadap nilai ekonomi dari kreativitas. Dengan demikian, industri kreatif tidak hanya berkembang sebagai ruang ekspresi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.(Rik/ Faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tren Penyakit Kronis Meningkat, FIKES UMM Luncurkan Matahari Home Care untuk Perawatan Jangka Panjang di Rumah

Tidak semua pasien mampu datang ke rumah sakit. Keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, hingga faktor ekonomi kerap menjadi penghalang masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang layak. Menjawab persoalan tersebut, Matahari Homecare hadir sebagai layanan kesehatan berbasis kunjungan rumah yang membawa perawatan langsung ke tempat tinggal pasien. Matahari Homecare merupakan layanan perawatan kesehatan di rumah yang dirancang untuk meningkatkan, mempertahankan, maupun memulihkan kondisi kesehatan pasien sekaligus mendorong kemandirian mereka di lingkungan tempat tinggalnya. Layanan ini menjadi bagian dari pendekatan kesehatan yang komprehensif, khususnya bagi individu maupun keluarga yang membutuhkan perawatan jangka panjang tanpa harus meninggalkan rumah. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sinergi lintas fakultas tersebut menghadirkan layanan kesehatan berbasis keilmuan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Tak hanya itu, Matahari Homecare juga menggandeng Rumah Zakat untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. Kerja sama ini memungkinkan pasien kurang mampu tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa terbebani biaya besar. Salah satu layanan unggulan dalam program ini adalah fisioterapi bagi pasien yang membutuhkan rehabilitasi fisik, seperti pasien pascastroke, gangguan mobilitas, maupun kondisi lain yang memerlukan terapi berkelanjutan. Pelayanan dilakukan langsung di rumah pasien sehingga proses rehabilitasi dapat berlangsung lebih nyaman, konsisten, dan efektif. PIC Matahari Homecare, Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D.(PT), menjelaskan bahwa program ini hadir sebagai komitmen untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat. “Melalui Matahari Homecare, kami berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Tidak semua pasien memiliki kemampuan untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan, baik karena keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, maupun faktor ekonomi. Dengan pelayanan di rumah, pasien tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan secara optimal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan Rumah Zakat menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan pelayanan. “Kolaborasi ini memungkinkan kami memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu. Matahari Homecare tidak hanya bergerak dalam layanan kesehatan, tetapi juga membawa misi kemanusiaan agar masyarakat mendapatkan perawatan yang layak,” tambahnya. Melalui pendekatan layanan kesehatan berbasis rumah yang humanis dan komprehensif, Matahari Homecare diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan yang lebih mudah dijangkau. Program ini sekaligus menegaskan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman