Kisah Zair, Mahasiswa UMM Jalani Ramadan di Negeri Minoritas Muslim

Menjalani ibadah puasa Ramadhan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Jauh dari keluarga, suasana yang tidak seramai di Indonesia, hingga kebiasaan baru dalam menjalani ibadah menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Muhammad Zair Baitil Atiq untuk tetap produktif menjalani aktivitasnya selama menjalankan ibadah puasa di Portugal. Zair sapaan akrabnya merupakan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 yang saat ini sedang mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana atmosfer Ramadhan di negara dengan populasi muslim yang sangat kecil. Menurut Zair, Ramadhan di Portugal memiliki suasana yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Jika di tanah air masyarakat menyambut Ramadhan dengan penuh antusias, di Portugal ia merasakan suasana yang lebih tenang karena umat Islam hanya sekitar 1% dari total populasi. “Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadhan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya 8 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Meski begitu, ia mengaku tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadhan di perantauan. Terlebih, tahun ini menjadi pengalaman pertama baginya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri. Dari segi durasi berpuasa, di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan waktu berpuasa hanya sekitar 12 jam. Ia menambahkan bahwa informasi terkait waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa sangat mudah diakses melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas muslim setempat yang menyediakan jadwal ibadah selama Ramadhan melalui situs resmi mereka. Menariknya, Zair bercerita pengalamannya Ramadhan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengungkapkan bahwa teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang sedang ia jalankan. Bahkan, mereka memahami beberapa batasan yang harus ia jaga sebagai seorang muslim. “Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya. Mahasiswa asal Kalimantan ini juga mengungkapkan keahlian barunya semenjak berpuasa di negeri orang, yaitu memasak. Ia mengatakan bahwa dirinya lebih sering memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi nya. Ia bahkan membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air. Namun, di beberapa situasi mendadak Zair juga berbuka puasa di restoran. Ia mengatakan bahwa restoran kesukaannya adalah restoran Turki yang berada tidak jauh dari kampus tempatnya belajar. Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga menyediakan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi Zair, menjalani Ramadhan di luar negeri menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang menjalani program serupa untuk tetap menikmati setiap proses yang dijalani.(rik/faq)   Penulis: Roudhodul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Bakti Sosial Ramadan UMM di Gondanglegi, Ratusan Paket Sembako dan Layanan Kesehatan Dibagikan

Semangat menebar kebaikan di bulan Ramadan kembali diwujudkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kegiatan bakti sosial yang digelar di Masjid Al-Khairat Sepanjang pada 9 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri ratusan warga Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, yang antusias mengikuti berbagai rangkaian program sosial. Kegiatan bakti sosial ini juga diisi dengan berbagai program pelayanan masyarakat, seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian obat dari RSU UMM, permainan edukatif (fun game) untuk anak-anak, serta sosialisasi parenting bagi para orang tua. Selain itu, tim UMM juga membagikan sekitar 300 paket sembako kepada warga yang membutuhkan. Program ini menjadi bentuk kepedulian kampus terhadap masyarakat, khususnya di bulan Ramadan yang identik dengan semangat berbagi. Kegiatan ini juga menghadirkan mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) yang merupakan perpustakaan keliling UMM. Kehadiran kedua mobil tersebut disambut antusias oleh anak-anak yang tampak senang memilih dan membaca berbagai buku yang tersedia. Aktivitas ini sekaligus menjadi upaya menumbuhkan minat baca sejak dini di tengah masyarakat. Perwakilan UMM, Dr. Faridi, M.Si., dalam sambutannya membuka acara dengan salam serta ungkapan syukur kepada Allah SWT. Ia menyapa warga dengan hangat, bahkan sempat mencairkan suasana dengan candaan menggunakan bahasa Madura. Meski demikian, ia mengaku bukan berasal dari Madura, melainkan dari Probolinggo. Faridi sapaan akrabnya juga menyampaikan salam dari pimpinan UMM, termasuk Rektor UMM, yang pada waktu bersamaan tengah menjalankan agenda Safari Ramadan di kampus bersama berbagai unit usaha UMM, seperti rumah sakit, hotel, hingga pom bensin. Karena itu, pimpinan universitas tidak dapat hadir langsung di lokasi kegiatan. Menurutnya, bakti sosial merupakan agenda tahunan universitas sebagai wujud komitmen UMM untuk terus hadir di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas menyelenggarakan pendidikan akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial sebagaimana amanah pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan. “Tugas perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Faridi juga mengingatkan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM). Ia mengutip pandangan mantan pejabat kabinet Presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang menyatakan bahwa masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, strategi Muhammadiyah sejak awal yang fokus membangun lembaga pendidikan merupakan langkah penting untuk mencetak generasi unggul. Ia juga berpesan agar umat Islam tidak hanya mendalami ilmu fikih, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berperan di tengah perkembangan zaman. Sementara itu, Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat, Edi Yuliant, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada tim UMM yang telah memilih Masjid Al-Khairat sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada UMM. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya,” ujarnya. Kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Warga yang hadir memanfaatkan kesempatan tersebut tidak hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan dan bantuan sembako, tetapi juga untuk mempererat hubungan dengan civitas akademika UMM yang hadir di tengah masyarakat.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mulai Patrol, Mobil KaCa, Hingga Menu Sahur Premium, Begini Keseruan UMM Sahur Dengan Gerpakkk

Tradisi patrol untuk membangunkan warga bersahur di bulan Ramadan selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Membawa semangat tradisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk) menggelar acara patrol sahur yang unik di kawasan Kebalen Wetan Gang 8, pada 8 Maret lalu. Kegiatan ini sukses menyedot perhatian lebih dari 300 warga yang turut serta berkeliling kampung. Menariknya, warga setempat memiliki lagu patrol khusus yang dihafal oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, membuat suasana dini hari itu terasa semakin semarak dan kompak. Kemeriahan tak berhenti pada keliling kampung saja. UMM turut menghadirkan pengalaman sahur premium di tengah permukiman warga melalui pertunjukan live cooking masakan standar hotel bintang empat. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk kontribusi kampus dalam meramaikan budaya lokal di bulan suci. “Selain ikut patrol, kami juga menyediakan live cooking dan makanan dari hotel yang kampus putih miliki, yakni Rayz Hotel UMM. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim, untuk menjaga semangat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” tegas Maharina. Tercatat, ada lebih dari 300 porsi hidangan yang dinikmati oleh warga pada pagi itu. Sembari menunggu waktu imsak tiba, warga juga difasilitasi dengan kehadiran perpustakaan keliling, Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Koordinator Mobil KaCa, Hassanalwildan, memaparkan bahwa fasilitas ini membawa ratusan buku bacaan yang menjadi hiburan edukatif bagi anak-anak. Tak ketinggalan, para ibu juga diajak berpartisipasi dalam ragam games interaktif yang membagikan banyak doorprize. “Sebelumnya, Mobil KaCa ini juga sudah aktif keliling menyediakan bacaan di berbagai kegiatan seperti Ngabuburead di Gresik dan Merjosari, hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor beberapa waktu lalu,” tambah wildan sapaan akrabnya. Inovasi sahur bersama ini menuai respons positif dari masyarakat setempat. Naufal Adnan, salah satu peserta patrol, mengaku sangat senang dengan kehadiran UMM yang membawa banyak fasilitas menarik. Ia berharap UMM dapat terus memperluas kolaborasi semacam ini dengan berbagai komunitas lain untuk menyelenggarakan agenda yang lebih unik, tidak hanya terbatas pada momen Ramadan saja. (*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kampung Budaya Polowijen Jadi Objek Kajian Multidisipliner Pusat Studi Kebudayaan UMM

Kampung Budaya Polowijen (KBP) kembali menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kebudayaan bagi kalangan akademisi. Melalui seri webinar Ramadhan 1447 H, Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengangkat Kampung Budaya Polowijen sebagai objek kajian multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang ilmu. Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari, Selasa hingga Jumat (3–6/3/2026), dengan menghadirkan 12 pembicara dari berbagai disiplin keilmuan. Selama empat hari pelaksanaan, webinar ini diikuti sekitar 320 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Kepala PSK UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si., menjelaskan bahwa Kampung Budaya Polowijen dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan praktik pelestarian budaya berbasis komunitas. Menurutnya, kampung ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengelola budaya sebagai sumber pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan masyarakat. “Ini merupakan komitmen Pusat Studi Kebudayaan UMM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis komunitas kebudayaan. Kampung Budaya Polowijen telah menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya Kajian yang dilakukan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis pada pengalaman lapangan. Sebelum pelaksanaan webinar, para pembicara terlebih dahulu melakukan observasi langsung ke Kampung Budaya Polowijen. Mereka berdialog dengan pengelola kampung budaya dan mengamati berbagai aktivitas budaya yang berkembang di sana, mulai dari kesenian, tradisi kuliner, hingga praktik pendidikan berbasis kearifan lokal. Sementara itu, Sekretaris PSK UMM sekaligus PIC kegiatan, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si., menjelaskan bahwa setelah observasi lapangan, para akademisi diberi kesempatan untuk melakukan penggalian data lebih lanjut sesuai dengan perspektif keilmuan masing-masing selama kurang lebih dua bulan. “Dari proses itulah lahir berbagai kajian yang kemudian dipresentasikan dalam webinar ini. Semua tulisan nantinya akan diterbitkan sebagai artikel ilmiah dan juga dihimpun menjadi buku yang akan kami serahkan kepada pengelola Kampung Budaya Polowijen,” jelas Frida. Melalui pendekatan multidisipliner, Kampung Budaya Polowijen dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi hukum, dibahas mengenai pentingnya regulasi sebagai pilar pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Dari perspektif pendidikan, para peneliti mengkaji nilai-nilai kehidupan dalam tembang macapat serta penerapannya dalam pembelajaran berbasis budaya. Sementara itu, kajian kesehatan menyoroti budaya minum jamu sebagai praktik tradisional yang memiliki potensi meningkatkan imunitas masyarakat. Kajian lain juga membahas makanan tradisional, filosofi budaya, serta praktik kesehatan berbasis kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Polowijen. Dari bidang komunikasi dan teknologi, Kampung Budaya Polowijen dipandang sebagai ruang narasi budaya yang dapat dikembangkan melalui media digital, termasuk pengembangan web galeri interaktif untuk memperluas jangkauan promosi budaya kepada generasi muda. Tidak hanya itu, perspektif sosiologi dan psikologi juga melihat kampung budaya ini sebagai ruang refleksi sosial sekaligus representasi perjalanan nilai-nilai budaya masyarakat. Bahkan tembang-tembang macapat yang hidup di lingkungan kampung tersebut dikaji sebagai refleksi tahapan perkembangan individu dalam perspektif psikologi. Bagi Pusat Studi Kebudayaan UMM, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan pendidikan kebudayaan berbasis pengalaman langsung. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia akademik dan komunitas budaya, sekaligus mendorong lahirnya berbagai gagasan baru untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dulu Jual Lumpia di Kelas, Kini Alumnus UMM Ekspor Keripik Buah ke MancaNegara

Langkah berani tak selalu dimulai dari kota besar. Di sebuah desa, seorang alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, kini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar Singapura. Usaha yang dirintis Dzikri sapaan akrabnya memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Metode ini mampu menjaga warna dan cita rasa asli bahan baku. Inovasi tersebut lahir dari kegelisahannya melihat fluktuasi harga hasil panen. Saat panen raya, harga hasil pertanian kerap jatuh, sementara pada masa paceklik biaya produksi justru meningkat. Ia kemudian mencari solusi agar produk pertanian memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya kepada Tim Humas UMM pada 5 Maret lalu. Dzikri mengakui, fondasi mental kewirausahaannya telah terbentuk sejak menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Menurutnya, perkuliahan tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung. Mahasiswa didorong menciptakan produk, memasarkan, hingga mengevaluasi hasilnya. Pola pembelajaran tersebut membentuk keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak dini. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat itu sudah ia tempa sejak masih menjadi mahasiswa. Meski tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, ia memilih belajar sambil berdagang. Ia memulai dari menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih sangat terbuka. Mahasiswa didorong terjun langsung ke petani, UMKM, hingga industri besar untuk melakukan analisis usaha. Ia bahkan sempat mengikuti kunjungan industri ke perusahaan skala nasional seperti Indomie, yang memberinya gambaran mengenai manajemen usaha dari skala kecil hingga besar. Keunggulan lain dari usaha yang dijalankannya terletak pada kemitraan langsung dengan petani desa. Bahan baku diperoleh tanpa perantara, sementara proses produksi juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Puncaknya, pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Bagi Dzikri, kunci untuk bersaing di pasar global adalah kemampuan memahami data serta membaca kebutuhan konsumen. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak bangku kuliah. Kisahnya menjadi bukti bahwa UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja yang tangguh dan adaptif.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Puluhan Tahun Bersama Pers, Rektor UMM Tegaskan Kampus Tak Bisa Berdampak Tanpa Media.

Hubungan panjang antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan insan pers kembali terjalin hangat melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain mempererat hubungan, forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung akrab sekaligus penuh diskusi tentang perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Tradisi tersebut bahkan telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang. Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perjalanan media di Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, media cetak menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan berita dan sering kali memiliki akses luas di berbagai ruang publik. Namun perkembangan teknologi kemudian mengubah lanskap media secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers itu sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Meski terjadi perubahan besar dalam dunia media, Nazaruddin menilai peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik. Dalam berbagai momentum sejarah bangsa, perkembangan gagasan masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh media. Karena itu, hubungan antara kampus dan media menjadi sangat strategis. Menurut Nazaruddin, universitas memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kampus harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi. Dari proses tersebut lahir berbagai pemikiran yang dapat mendorong perubahan sosial. Universitas juga menjadi ruang penting untuk merawat cita-cita bangsa menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Ia menambahkan bahwa hubungan UMM dan media dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. Perkembangan media yang terus berubah juga memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Meski begitu, komitmen UMM untuk menjalin kolaborasi dengan insan pers tetap sama. Menurutnya, keberadaan media turut membawa UMM berkembang menjadi universitas yang berdampak. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut harus dilandasi niat tulus untuk berbuat baik tanpa kepentingan pribadi maupun kelompok. Selain itu, kerja keras juga menjadi nilai penting yang sering kali diabaikan dalam proses pembangunan. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya. (faq)     Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lewat Sahur On The Road, UMM Ajak Tunawisma Nikmati Sahur dan Barbeque di Pinggir Jalan

Sahur di pinggir jalan dengan konsep barbeque menjadi pemandangan yang tidak biasa di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari, 5 Maret 2026. Kegiatan tersebut digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Sahur On The Road (SOTR) yang berkolaborasi dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tidak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk menikmati sahur bersama dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana ini menghadirkan kebersamaan yang hangat antara civitas akademika dan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi bersama komunitas MURID menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM ini turut bergerak bersama dalam rombongan Sahur On The Road untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Ia menyebutkan bahwa komunitas ini resmi terbentuk pada tahun 2018, meskipun embrionya telah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat. Penamaan itu juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, rombongan SOTR bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang pada malam hingga dini hari menjadi tempat beristirahat bagi kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan hangat di tengah kebersamaan. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti para tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang dapat mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat. Konsep barbeque ini sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” ujarnya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat dengan nilai kepedulian dan kebersamaan. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tak Perlu Minder Saat Bukber, Psikolog UMM Ingatkan Setiap Orang Punya Ritme Hidup Berbeda

Buka bersama yang semestinya menjadi ruang silaturahmi kerap berubah menjadi arena perbandingan sosial ketika obrolan tentang karier, bisnis, studi, hingga pernikahan membuat sebagian orang mempertanyakan posisinya sendiri. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa minder bukan muncul karena bukbernya, melainkan karena pertemuan dengan teman yang memiliki progres kehidupan berbeda, sehingga tanpa sadar seseorang melakukan upward social comparison saat melihat pencapaian orang lain yang dinilai lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 04 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama karena adanya faktor kemiripan yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau teman kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama, sehingga secara tidak sadar dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. Semakin besar rasa kemiripan yang dirasakan, semakin besar pula kecenderungan menjadikan mereka sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri sendiri, baik dari segi karier, relasi, maupun capaian finansial. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama. Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya. Lebih lanjut, Atika menegaskan bahwa proses tersebut tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses bisa menjadi sumber motivasi untuk berkembang, sementara melihat orang dengan capaian berbeda juga dapat menumbuhkan rasa syukur dan memperkuat kepercayaan diri, selama individu mampu memaknainya secara proporsional. “Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki, padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya. Untuk tetap percaya diri saat bertemu banyak orang, dosen psikologi tersebut menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan orang lain secara lebih proporsional. Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri dengan bertanya langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang, serta membiasakan diri menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap orang bertumbuh dengan waktu dan ritme berbeda. Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menekankan bahwa bantuan profesional selalu tersedia.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Santri PPI-AMF Ubah Limbah Jagung Jadi Produk Ramah Lingkungan, Raih Medali Nasional

Tiga siswa kreatif dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) berhasil menciptakan solusi inovatif untuk mengatasi limbah pertanian sekaligus meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Melalui produk bernama Bonggol Arum, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim berhasil mengolah bonggol jagung menjadi biochar aromatik yang fungsional. Perwakilan tim, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, menjelaskan bahwa ide pembuatan Bonggol Arum berawal dari pengamatan terhadap melimpahnya limbah pertanian di Kabupaten Malang. Sebagai salah satu sentra jagung terbesar di Jawa Timur, wilayah ini menghasilkan sekitar 51 ribu ton bonggol jagung yang sering kali dibuang atau dibakar oleh petani. Para santri melihat kondisi tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang pemanfaatan limbah biomassa yang belum optimal. “Di sisi lain, kualitas udara dalam ruangan seperti bau apek dan kelembapan sering menjadi masalah kesehatan pernapasan,” ujar Farrell dalam wawancara pada 2 Maret lalu. Berangkat dari permasalahan itu, tim AMF menghadirkan solusi berbasis ekonomi sirkular dengan mengolah bonggol jagung melalui proses pirolisis terkendali. Proses ini menghasilkan biochar berpori luas yang efektif menyerap polutan. Berbeda dengan produk desikan sintetis di pasaran yang berpotensi beracun dan menambah sampah plastik, Bonggol Arum dirancang lebih aman dan berkelanjutan. Produk ini memiliki inovasi 3-in-1 multi action, yakni menyerap bau tidak sedap, mengontrol kelembapan ruangan, serta menyerap polutan udara ringan seperti amonia dan etanol. Farrell menjelaskan, proses pembuatan dimulai dengan pirolisis bonggol jagung kering pada suhu 300–600 derajat Celcius selama 1 hingga 4 jam untuk menghasilkan biochar padat. Setelah itu, biochar didinginkan dengan cepat dan dibersihkan. Sementara itu, pewangi alami dibuat dengan merebus bahan organik seperti kayu manis, serai, atau daun jeruk selama 20–30 menit. Larutan tersebut kemudian ditambahkan etanol food grade untuk mengikat aroma, lalu disaring hingga jernih. Pada tahap akhir, sebanyak 100 gram biochar dicampur dengan 20–30 mililiter ekstrak pewangi. Campuran tersebut didiamkan dalam wadah tertutup selama 24–48 jam agar aroma terserap optimal. Selanjutnya, bahan dikeringkan kembali pada suhu 40–50 derajat Celcius sebelum dikemas dalam kantung teh dan pouch kain goni. Inovasi ini juga berhasil mengantarkan tim SMA AMF meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam ajang Olympicad VIII yang diselenggarakan di Makassar pada Februari 2026, tim Bonggol Arum berhasil meraih medali perak dengan nilai 84,7 dan menempati peringkat kedelapan. Guru pendamping tim, Rachmadanti Chairatul Nisa, mengaku bangga atas capaian tersebut. Selama proses pengembangan, Rachmadanti memberikan berbagai pendampingan, mulai dari validasi ide dan perumusan solusi, penyusunan proposal, hingga proyeksi keuangan. Ia juga membimbing tim dalam pembuatan prototipe produk, penyusunan pitching deck, pelatihan public speaking, serta memberikan motivasi selama proses kompetisi. “Saya sangat bangga dengan capaian tim ini. Mereka tidak hanya mampu melihat persoalan limbah bonggol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan, tetapi juga berhasil mengolahnya menjadi produk inovatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Rachmadanti Chairatul Nisa. Ia menjelaskan bahwa selama proses pengembangan, tim mendapatkan pendampingan secara bertahap. Mulai dari validasi ide dan perumusan problem solution, penyusunan proposal penelitian, hingga perhitungan proyeksi keuangan produk. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan riset yang dilakukan para santri mampu melahirkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di sekitar mereka.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Ibadah Bukan Transaksi. Safari Ramadan di RSU UMM Sentil Etika Tenaga MedisIbadah Bukan Transaksi. Safari Ramadan di RSU UMM Sentil Etika Tenaga Medis

Komitmen meneguhkan nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan melalui Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang pada Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom., sebagai penceramah utama dan diikuti oleh jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. Agenda tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga ruang refleksi bagi institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan dengan persoalan kemanusiaan. Ramadan dimaknai sebagai momentum menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, dan meluruskan orientasi pengabdian. Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional. Ia menyampaikan pesan tersebut melalui kisah seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah demi membuktikan kebenaran secara instan. “Saya ingin mengangkat kisah seorang pemuda yang mencoba ‘menguji’ makna sedekah setelah mendengar tausiyah seorang ustaz. Karena dorongan ingin membuktikan kebenaran secara cepat, ia menyedekahkan seluruh uang yang dimilikinya dengan harapan balasan akan datang seketika. Namun yang ia rasakan justru kegelisahan, karena harapannya tidak langsung terpenuhi. Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya Menurutnya, ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir. Ketika seseorang beramal hanya demi imbalan cepat, maka yang muncul adalah kekecewaan. Sebaliknya, jika amal dilakukan sebagai bentuk kepatuhan dan penghambaan, ketenangan akan hadir tanpa perlu menunggu balasan. Ramadan, kata dia, mengajarkan proses itu secara bertahap melalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Tahap awal adalah kesadaran normatif bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap yang lebih matang, seseorang mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi. Kuasa tidak dipandang sebagai privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini, menurutnya, sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan. “Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Ia menambahkan, kepatuhan bukan bentuk kelemahan, melainkan fondasi karakter yang mencegah penyalahgunaan wewenang. Di rumah sakit, sikap patuh pada nilai dan etika menjadi penyangga profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Zen juga menekankan bahwa ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif dan preventif. Artinya, ajaran tersebut tidak hanya mengatur batasan benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Dalam konteks rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, dan kepercayaan publik. Karena itu, Ramadan harus menjadi ruang evaluasi agar profesionalisme berjalan seiring dengan integritas spiritual. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. Ia menegaskan bahwa takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi, termasuk di bidang pendidikan dan layanan kesehatan. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya. Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran, baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara duniawi dan ukhrawi.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman