Lemhannas RI Puji CoE dan Sistem Pendidikan UMM

Pendidikan yang baik pasti memiliki dasar yang baik pula dengan kurikulum yang tersistematika. Maka, untuk menciptakan program pendidikan yang bagus, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia (RI) melakukan kunjungan benchmarking ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan ini dilakukan pada 7 Desember 2022 lalu di gedung rektorat Kampus Putih. Andi Widjajanto selaku Gubernur Lemhannas kagum dan senang bisa melakukan benchmarking di UMM. Ia mengatakan bahwa slogan lulus tepat waktu menjadi hal penting dalam pendidikan perguruan tinggi. Menurutnya bukan zamannya lagi perkuliahan melebihi batas empat tahun kuliah. Maka, ia sangat mengapreasisi sistem di UMM yang terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Andi, sapaan akrabnya, merasa bahwa CoE adalah program yang dibutuhkan dunia pendidikan saat ini. Terutama untuk menciptakan produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pun sebagai upaya menjadi penopang agar tercipta Indonesia emas 2045. “Kami berharap kunjungan ini dapat menambah referensi kami dan bekal kurikulum di Lemhannas demi mencetak generasi terbaik,” imbuhnya. Di sisi lain, Dr. Fauzan, M.Pd selaku Rektor UMM mengatakan bahwa pihaknya memiliki program yang mendukung minat dan bakat dari mahasiswa. Center of Excellence (CoE) merupakan program selama satu semester dengan jaminan siap untuk bekerja. Menariknya Adapun CoE ini secara sistem berbasis studi, yang mana setiap jurusan di UMM memiliki kelas professional. Program ini dibuka secara umum sehingga mahasiswa yang memiliki hobi berbeda dengan jurusan bisa mengikutinya. UMM juga selalu mengapresiasi setiap prestasi yang diraih oleh mahasiswa. Karena prestasi yang diraih mahasiswa menggambarkan universitas dimata masyarakat umum. Selain itu, setiap minat dan bakat mahasiswa senantiasa ditampung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Dari UKM inilah berbagai kreativitas karya dan prestasi akademik serta non akademik bisa lahir,” terangnya. Hal serupa juga disampaikan Wakil Rektor IV UMM Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum. I berharap kunjungan Lemhannas ke UMM dapat memberikan pengetahuan baru untuk menciptakan sistem pendidikan. Semoga UMM dapat menjadi contoh maupun referensi yang baik dalam melahirkan pemimpin. “Pada kesempatan ini, teman-teman Lemahannas ingin melihat secara langsung proses pendidikan yang ada di Kampus Putih. Harapannya tidak hanya kunjungan saja, tapi juga bisa menjadi jembatan kerjasama untuk kedua belah pihak,” pungkas Sidik. (haq/wil)

Sekjen ASEAN Hadir di Wisuda UMM

Data dari Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) menunjukkan bahwa pada tahun 2020, 34% dari populasi ASEAN adalah pemuda. Hal ini diharapkan dapat meningkat dan pada tahun 2038 ASEAN dapat mencapai skor tertinggi jumlah anak muda yang produktif. Hal itu disampaikan oleh  H.E. Dato Lim Jock Hoi selaku Sekretaris jenderal ASEAN di hadapan ribuan wisudawan UMM pada 8 November 2022. Lebih lanjut, ia mengajak para lulusan UMM untuk memulai hidup baru secara dinamis dan memiliki tekad yang tinggi. Sebab hal tersebut penting untuk melanjutkan kedamaian dan pengembangan di daerahnya masing-masing. Terlebih saat ini ASEAN mengklaim bahwa tahun ini menjadi ASEAN Youth. “ASEAN telah mengakui peran anak muda dalam membangun komunitas ASEAN. Seperti yang tertera dalam rancanagan kerja ASEAN untuk pemuda tahun 2021-2025 yang berfokus pada pengembangan platform, kesempatan dan inisiasi yang memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam membangun masyarakat,” jelasnya. Ia juga mendorong anak muda untuk hadir di berbagai program prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Pihaknya ingin memberi kesempatan anak muda untuk berpartisipasi dan terlibat akan upaya kesadaran nilai-nilai dan identitas ASEAN. “Langkah ini sangat penting bagi pemuda untuk menyadari bahwa mereka adalah pemangku kepentingan yang signifikan dalam membangun komunitas ASEAN. Terlebih kita mulai bertransformasi menjadi masyarakat digital yang meningkatkan konektivitas antar masyarakat dan berkontribusi untuk mencapai agenda 2030, yaitu tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa,” tegasnya. Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec. selaku Wakil Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah menyampaikan mengenai kepercayaan diri. Utamanya setelah lulus dari Kampus Putih. Apalagi UMM memiliki reputasi internasional serta menjadi ikon perguruan tinggi di Indonesia. “UMM telah melahirkan dua menteri yang berasal dari pimpinan kampus inj. Hal ini menunjukan bahwa UMM dipimpin oleh orang bereputasi tinggi. Jadi saudara tak perlu khawatir karena perguruan tinggi anda telah memenuhi standar di atas rata-rata,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan kepada para wisudawan untuk menunjukkan kompetensi terbaiknya di dunia luar. Sebab selama di UMM, mereka telah diberi bekal kompetensi secara akademik maupun kompetensi karakter Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang mampu menunjang di masa depan. “Saya pernah memimpin beberapa asosiasi perguruan tinggi di Indonesia dan saya tidak melihat kampus lain yang memiliki program seperti Center of Exellent (CoE). Bagi saya, UMM telah menyiapkan lulusan terbaiknya untuk terjun ke dunia kerja. Jadi saudara perlu bersyukur menjadi lulusan kampus yang peduli terhadap hal itu,” terangnya. Senada dengan Edy,  Dr. Fauzan, M.Pd selaku Rektor UMM berpesan untuk tidak boleh ada rumus tidak percaya diri. Lulusan UMM memiliki ciri tidak pernah mengeluh menghadapi persoalan masyarakat dan senantiasi mimiliki jiwa optimis. “Karena di UMM tidak hanya mencetak ahli di keilmuannya, tetapi juga mengantarkan seluruh mahasiswanya untuk memiliki jiwa pemimpin. Jiwa inilah yang saudara perlukan untuk hadi lr di tengah masyarakat,” pungkasnya. (ros/wil)

Kaji Cara Atasi Wabah Udang, Tim UMM Juara Favorit PIMNAS

Beri solusi terkait bakteri yang menyebabkan kematian hingga 100%  dalam udang, tim dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses raih juara favorit kelas presentasi di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) kategori PKM Riset Eksakta. Mereka adalah Annisa Salsabila,  Alif Zidane Juni Wananda, Aufal Ahdi Robbani, Shafira Rahmania, Imroatin Hasana yang mengikuti ajang bergengsi PIMNAS pada awal Desember 2022. Caca selaku ketua tim menjelaskan jika penelitiannya berjudul Teknologi Freeze Drying Bakteri Indiginus Usus Udang Vannamei guna Mempertahankan Viabilitas dan Upaya Preventif Wabah Acute Hepatopacreonic Necrosis Disease. Ide brilian itu muncul karena adanya wabah baru yaitu Acute Hepatopacreonic Necrosis Disease (AHPND). Wabah ini menyebabkan kematian hingga 100% pada budidaya udang, sayangnya masih banyak mengalami keterbatasan dalam penanggulangannya. “Maka, kami berinisiatif untuk menciptakan sebuah solusi dengan menggunakan sebuah bakteri yang diisolasi dari saluran pencernaan udang dan diawetkan dengan métode pengering dingin yaitu freeze dry,” terang mahasiswa program studi akuakultur itu. Ia menyadari bahwa semua hal pasti memiliki permasalahan, tidak terkecuali timnya. Mereka sempat kesulitan dalam menentukan waktu penelitian karena sering berbenturan dengan perkuliahan. Selain materi penelitian, mereka juga fokus berlatih secara konsisten untuk presentasi. Hingga akhirnya mampu menorehkan prestasi menjadi meraih juara favorit kelas presentasi. “Bahkan kami juga menyiapkan kostum agar lebih kompak dan serasi sehingga menarik perhatian para dewan juri,” katanya. Caca dan tim bersyukur UMM selalu membantu di setiap proses pengerjaan PKM hingga PIMNAS. Ada proses monitoring dan evaluasi yang diadakan tiap minggu. Hal itu membuat mereka megerti bagian mana yang kurang, dan bagian mana yang menjadi kekuatan. Terakhir, Caca berharap kemenangan timnya mnejadi pelecut untuk meraih prestasi lainnya. Apalagi kompetisi ini merupakan ajang bergengsi dan dinanti para mahasiswa dari penjuru Indonesia. “Semoga di PIMNAS tahun depan, ada lebih banyak PKM yang bisa lolos PKM dan memenangkan juara. Saya yakin, banyak potensi dan kreativitas yang dimiliki oleh mahasiswa Kampus Putih,” tegasnya mengakhiri. (ros/wil)

Mulai Presma hingga Perwakilan ke Korea, Ini Sosok Harisuddin Wisudawan UMM

Menjadi mahasiswa dan pemuda yang aktif mengikuti berbagai kegiatan bukan perkara mudah. Hal itu juga dirasakan oleh Harisuddin, wisudawan Universitas Muhammadiyah malang (UMM) yang penuh dengan prestasi dan mandiri. Ia pernah menjabat sebagai presiden mahasiswa UMM, mewakili Indonesia di konferensi internasional petani muda di Korea Selatan, hingga membangun platfrom pertanian yang diberi nama Harvest Day Farm. Ia juga sering menjadi pemateri di berbagai event dan kesempatan. Salah satunya menjadi pembicara di ajang Your Voice Matter garapan Indozone. Bahkan ia juga pernah satu panggung dengan Erick Thohir saat berkunjung ke UMM. Haris, sapaan akrabnya, memulai ceritanya saat pertama kali menginjakkan kaki di Kampus Putih. ia langsung tancap gas ikut ke berbagai organisasi. Mulai dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menjadi anggota himpunan mahasiswa jurusan, berlanjut ke ketua senat mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), hingga terakhir sebagai presiden mahasiswa UMM. “Menjadi mahasiswa, tidak cukup jika mengandalkan ilmu dari perkuliahan semata. Harus mencari hal baru di organisasi. Makanya, saya selalu aktif ikut dan turut berperan memebrikan kontribusi, paling tidak di komunitas mahasiswa,” katanya. Ia juga menjelaskan saat terbang ke Korea Selatan untuk menghadiri konferensi petani muda. Di sana, ia bertemu dengan anak-anak muda yang fokus untuk mengembangkan pertanian dari berbagai negara. Ia juga berkesempatan melihat bagaimana pengelolaan pertanian menggunakan teknologi di sana. Hal itu memacunya untuk memberikan inovasi baru dan menerapkannya di Indonesia agar petani bisa hidup lebih sejahtera. “Saya bersyukur berkuliah di UMM karena sneantiasa didukung untuk melakukan banyak hal sesuai passion. Kalau saja saya tidak menimba ilmu di sini, belum tentu saya bisa ke Korea dan memberikan dampak positif seperti sekarang,” katanya. Menariknya, ia juga menjadi salah satu lulusan yang sesuai dengan tujuan UMM yakni mencetak generasi yang mandiri. Hal itu tidak lepas dari usahanya, Harvest Day farm yang bergerak di bidang pertanian, baik jasa maupun barang. Layanan jasa berupa pelatihan pertanian organik dan hidroponik. Sementara untuk produk, ia menjual lebih dari 300 benih hasil kerjasama dengan petani yang ada di Batu. “Saat ini saya dan tim juga sedang mengembangkan scan barcode yang bisa memberikan informasi terkait tumbuhan terkait. Seperti misalnya, kita tinggal scan pohon tertentu dan kemudian akan muncul infomasi tentang penyakit dan hal-hal terkait. Semoga bisa segera terealisasi,” jelasnya. Terkahir, wisudawan asal Lamongan ini berpesan kepada anak-anak muda untuk terus menggali potensi. Khusus untuk mahasiswa di bidang pertanian, ia mengajak untuk memajukan pertanian Indonesia. Saat ini ada 33 juta petani di NKRI dan hanya 8% yang merupakan petani muda. “Jadilah pemain dalam bidang ini. Indonesia adalah negara agraris, jangan sampai membuat petani menangis,” tegasnya. (wil)

Ubah Anggrek Jadi Pangan, Tim UMM Raih Medali PIMNAS Ke-35

Gelaran PIMNAS selalu ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, utamanya untuk menyalurkan ide kreatif serta ajang meraih prestasi. Hal itu juga yang dilakukan oleh salah satu tim Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) yang berhasil menyabet juara dua poster di kategori PKM-RE (Riset Eksakta) pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Ke-35 pada awal Desember 2022. Mereka adalah Syntiya Inanda Khoidir, Rika Cahyani Irjayanti, Annisa Jihan Purnama dan Nastiar Majidatun Wakhidah yang merupakan mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Ketua tim, Syntiya Inanda Khoidir mengatakan, awalnya tidak terlalu berharap proposal yang diajukan akan lolos pendanaan PIMNAS. Apalagi sudah dua tahun mereka mengajukan proposal, tapi ujungnya belum beruntung. Tapi mereka terkejut ketika proposalnya mampu mendapatkan pendanaan, bahkan lolos sampai PIMNAS dan membawa pulang medali. “Saya merasa takjub dan bersyukur. Akhirnya kerja keras yang kami pikir akan kembali gagal, nyatanya mampu memberikan hasil maksimal,” ungkap Syntiya. Syntiya, sapan akrabnya menjelaskan bahwa penelitian mereka membahas mengenai Potensi Ekstrak Fenolik Bunga Anggrek Cymbidium Golden Boy sebagai Antioksidan pada Pembuatan Flower Leather. Dari hasil penelitian, dapat diketahuin bahwa kadar fenol pada bunga anggrek memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi. Zat ini sangat bermanfaat bermanfaat bagi manusia untuk menangkal radikal bebas. “Alasan memilih bunga anggrek untuk diteliti karena dasarnya memang senang dengan bunga anggrek. Bunga anggrek sendiri juga memiliki rasa yang unik seperti selada. Apalagi melihat belum banyak penelitian yang membahas mengenai tanaman hias yang dijadikan tanaman pangan,” tuturnya. Mahasiswa kelahiran tahun 2001 juga bercerita bahwa penelitian dilakukan selama lima bulan lamanya. Diawali dengan mencari bunga anggrek yang paling segar kemudian dikeringkan untuk diambil ekstrak fenolnya untuk mendapatkan kandungan antioksidan. Kemudian diolah menjadi manisan atau agar-agar. Selama penelitian ada beberapa kendala yang dihadapi seperti teksturnya yang rapuh dan juga warna yang kurang menarik. Namun itu bisa disiasati dengan penambahan asam sitrat untuk membentuk warna dan penambahan hidrokoloid untuk mempertahankan teksturnya. “Beruntung kami berkuliah di UMM yang selalu mendukung segala kreativitas dan inovasi mahasiswanya. Banyak lembaga mahasiswa yang menjadi wadah seperti LSO Hipotesa serta dosen yang selalu siap ditanya ketika kami mengalami kesulitan. Pun dengan dukungan orang tua dan teman yang menjadi bahan bakar kami untuk terus berprestasi,” katanya. Ia dan tim ingin agar penelitian yang mereka lakukan tidak hanya memenangkan medali PIMNAS saja, tapi terus dikembangkan agar bisa mendapatkan formula yang sesuai. Sehingga bisa menjadi salah satu pangan nasional. “Kami juga ingin mendorong adik-adik mahasiswa lain untuk menyemarakkan PIMNAS. Harus ada lebih banyak proposal yang diajukan sehingga bisa meloloskan lebih banyak tim di PIMNAS tahun depan,” harapnya mengakhiri. (zak/wil)

Mahasiswa UMM Juara Cipta Jingle berkat Sinetron

Sejatinya Musik adalah sebuah seni atau ciptaan yang mempersatukan tanpa memandang suku atau bangsa. Hal tersebut diucapkan oleh Muhammad Yusuf Al Qodri, mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berhasil meraih juara terbaik Cipta Jingle pada lomba yang diselenggarakan oleh Kementrian Keuangan (Kemekeu) Republik Indonesia (RI) pada November 2022. Aldo, sapaan akrabnya, bercerita bahwa ketertarikannya akan musik muncul sejak sekolah dasar. Menariknya, ia menyukai musik yang ditampilan di sinetron-sinetron televisi. Apalagi tiap sinetron memiliki lagunya sendiri dan menggambarkan bagaimana cerita sinetron terkait. Itulah titik di mana Aldo mulai belajar secara otodidak bermain musik dan menulis lirik lagu. “Saat itu, saya merasa bahwa sinetron-sinteron itu keren karena memiliki gaya musik dan lagunya sendiri. Untuk menunjang hobi, saya juga sempat ikut sekolah musik di Jogja Audio School selama tiga bulan,” katanya. Mahasiswa asal Lumajang tersebut mengaku butuh sepuluh hari untuk menciptakan jingle. Sempat terkendala inspirasi, ia akhrinya membawa recorder ke mana-mana. Hal itu dilakukan agar ide yang muncul bisa segera direkam dan tidak hilang. Beruntung ia memiliki support system yang baik. Keluarga yang slelau mendukung hobinya dan teman-teman yang senantiasa memberikan masukan. Ia juga bersyukur memilih UMM sebagai tempatnya belajar. Selain kurikulum dan layanan pendidikannya yang apik, ia menilai Kampus Putih senantiasa mendukung potensi yang dimiliki masing-masing mahasiswa. Termasuk musik yang menjadi tempat kreativitas Aldo selama ini. “Saya sering cemas apakah jingle yang saya ciptakan sudah enak didengar atau belum. Apakah musik yang saya menarik bagi banyak khayalak. Tapi berkat dukungan dari berbagai pihak, semua halangan bisa saya lalui,” katanya. Mahasiswa yang mahir bermain piano, gitar, dan saksofon ini berharap prestasi ini menjadi bahan bakarnya untuk kembali mencetak prestasi di masa depan. Ia juga ingin bisa segera merilis album yang ia susun sendiri, targetnya yakni pada Desember.”Musik seringkali menjadi tempat pelarian anak muda. Musik bisa mengobati kekecewaan, menemani suka cita, dan bahkan bisa menjadi motivasi untuk berprestasi,” pungkasnya. (haq/wil)

Lindungi Ide, Dosen UMM Raih Penghargaan di Patent Draft Kemenkumham

Turut mendorong kemandirian paten di tanah air, empat dosen Universitas Muhammadiyah Malang ikut berkontribusi dalam Patent Drafting Camp pada November lalu. Adapun acara yang dilangsungkan di Malang itu diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI. Menariknya, salah satu perwakilan UMM, Dr. Ahmad Wahyudi, M.Kes. berhasil mendapatkan penghargaan sebagai peserta terbaik di bidang bioteknologi. Wahyudi, sapaan akrabnya menilai bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran paten bagi masyarakat, khususnya para peniliti dan sivitas akademika. Apalagi melihat masih banyak ide dan hasil karya yang diklaim begitu saja oleh pihak lain. Maka, kesadaran dan pemahaman akan paten sangat dibutuhkan di era ini. Saat ini, dosen peternakan tersebut telah menyelesaikan dua paten dan satu paten yang masih dalam proses persetujuan. Dalam ajang itu Wahyudi tidak sendiri, ada tiga dosen lain yang turut berupaya meningkatkan skill dalam bidang paten. Mereka adalah Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, Dr.Ir. Ali Ikhwan, M.P. dan Vritta Amroini Wahyudi, S.Si, M.Si. Para peserta di patent drafting diberi materi berupa teori dan praktek penyusunan draft sepsifikasi paten. Draft tersebut disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, sehingga usai agenda para peserta bisa menyusun dokumen paten dengan baik dan mandiri. Harapannya, banyak paten yang diajukan dan disetujui. Selain materi, para peserta juga diberi kesempatan untuk praktek menyusun draft. Selain itu juga dibagi menjadi beberapa bidang ilmu. DI antaranya bidang bioteknologi, bidang kimia, mekanik, serta bidang elektro. Terkait output, Wahyudi menilai bahwa ia dan peserta lain bersyukur mendapat beragam materi yang konkret. Saat ini mereka sudah bisa menyusun patent draft dengan baik dan mandiri. “Tentu apa yang kami dapatkan di sini akan kami ajarkan ke tean-teman lain. Bukan hanya ke sesama sivitas akademika tapi juga ke mereka yang belum mengetahui dan memahami paten. Sehingga ide dan penemuan yang didapat lebih aman,” katanya. (*/wil)

Lindungi Anak dan Remaja, Amcor UMM Ajak Diskusi Grooming Daring

Bukan hanya anak kecil, grooming online juga bisa memakan korban anak-anak muda. Hal itu diungkapkan Ciput Eka Purwianti, Assistant Deputy for Child Protection and Violence Indonesia pada diskusi panel yang diselenggarakan oleh American Corner (Amcor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan pada akhir November 2022 ini juga menggaet The U.S. Embassy’s American Cultural Center Jakarta. Ciput melanjutkan, child grooming adalah sebuah upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja. Sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi dan melecehkan pihak terkait. Pelaku grooming (groomer) bisa dari siapa saja karena mereka menyamarkan identitas ketika mendekati korban. Menurutnya, grooming online semkain meningkat sejak pandemi. Dari hasil survei yang dilakukan tim Ciput dan ECPAT, pengguna media sosial pada anak-anka meningkat sebanyak 80%. Kebanyakan dari mereka menggunakannya sebagai ajang eksistensi, curhat online dan lainnya. A[alagi dengan minimnya literasi penggunaan media sosial sejak dini. “Anak-anak dengan mudahnya membagikan hal-hal pribadi seperti nomor telepon di akun media sosialnya. Padahal hal tersebut membuat groomer dengan mudah mengincar anak-anak ini,” katanya mengingatkan. Sementara itu, Rio Hendra, Head of ECPAT Indonesia’s Advocacy Devision berbagi informasi tentang bahaya child grooming online. Hal itu karena memungkinkan terjadinya kontak seksual terhadap anak. Strategi pencegahan yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah dengan mempelajari sarana komunikasi dan kandungan informasi yang ditawarkan oleh internet. Pun dengan memberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak menanggapi atau menjawab chat dan email dari orang yang tidak dikenal. Orang tua juga bisa menegaskan kepada anak dan remaja untuk tidak gegabah merencanakan pertemuan langsung dengan seseoragn yang baru dikenal melalui platform daring. Di sisi lain, Hanna Tanjung, Kepala Sekolah PAUD Kamila menilai bahwa pembentukan kepribadian anak sangatlah penting. Bisa dilakukan melalui media lagu yang diterapkan di institusi pendidikan. Di samping itu juga bisa menumbuhkan kepedulian atau perhatian dalam memonitoring kegiatan anak-anak. Sementara itu, hadir juga pembicara lainnya,  Yulianti Umrah, Executive Director of ALIT Foundation yang melengkapi wawasan tentang perlindungan anak dari child grooming. Kegiatan ini juga dipandu oleh Abigail Saveria, Founder of Girls Can Lead dan Ria Arista Asih, Director at America Corner (UMM) serta dihadiri oleh puluhan mahasiswa UMM. (zak/wil)

Lomba Puisi Bahasa Indonesia UMM, Datangkan Mahasiswa dari Belanda

Pendidikan dan riset menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan sebuah negara. Hal itu juga berlaku bagi Indonesi dan Belanda. Hal itu disampaikan oleh Jacklyn Frida Brugge, MA. saat mengisi materi dalam kuliah tamu prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 1 Desember 2022 lalu. Sebelumnya ia juga berkesempatan untuk berkeliling kampus UMM, menaiki bebek viral serta ke candi-candi yang ada. Pun dengan mengunjungi Bromo serta sederet tempar bersejarah di Malang. Adapun kehadiran Jacklyn adalah bagian penting program UMM untuk mendukung internasionalisasi bahasa Indonesia. Apalagi ia merupakan pemenang Lomba Puisi Bahasa Indonesia Internasional khusus mahasiswa asing yang diselenggarakan UMM beberapa waktu lalu. Berkat hal itulah, ia diberi hadiah dan beasiswa dari UMM untuk mengunjungi Indonesia untuk belajar banyak tentang bahasa dan budaya yang ada. “Sebelum datang ke UMM, saya sempat browsing di internet tentang kampus ini. Ternyata banyak hal menarik dan unik. Seperti misalnya UMM yang jadi Kampus Islam terbaik Dunia hingga bebek-bebek viral yang menarik minat saya. Asyiknya lagi saya bisa mencobanya langsung saat hari pertama sampai di Malang,” jelasnya. Dalam kuliah tamu Jacklyn juga sempat memberikan pengetahuan baru tentang hubugan Belanda dan Indonesia. Menurutnya, secara historis Belanda dan Indonesia selalu terhubung satu sama lain. Hubungan diplomatik keduanya juga cukup kuat. Maka menurutnya, tidak salah jika ada banyak orang Indonesia yang belajar di sana. Pun dengan banyaknya beasiswa yang tersedia. Belum lagi komunitas orang Indonesia yang cukup besar serta lingkungan yang multikultural. “Maka, peluang teman-teman untuk belajar di Belanda sangat terbuka, khususnya Leiden University. Apalagi Leiden juga memiliki tradisi panjang terkait kolaborasi dengan Indonesia. Misalnya saja kampus itu menjadi ranking pertama dalam studi Indonesia. Bahkan pada 2022 ini menjadi usia ke 100 bagi perhimpunan pelajar Indonesia di Belanda,” katanya. Sementara itu, moderator yang juga dosen PBI UMM Faizin, M.Pd. mengatakan bahwa kuliah tamu ini memiliki sederet tujuan. Salah satunya memberikan wawasan dan terkait internasionalisasi bahasa Indonesia. Pun dengan peluang kolaborasi penelitian untuk mahasiswa dalam rangka menjadikan literatur mutakhir dalam aspek bahasa dan budaya. “Jadi, nanti saya harap akan ada penelitian mahasiswa yang dilakukan bersama mahasiswa maupun pakar Leiden University. Bahkan mungkin juga dilangsungkan pertuakran mahasiswa maupun upaya melanjutkan studi,” katanya. Dosen asal Madura ini juga memberikan motivasi untuk lebih mencintai bahasa dan budaya. Hal itu sebagai bentuk akselerasi Internasionalisasi bahasa Indonesia serta memunculkan kajian baru dalam pengembangan bahasa kebanggan masyarakat Indonesia. (wil)

PIMNAS 35 UMM Ditutup dengan Megah, Lahirkan Juara Baru

Gelak tawa dan sorai-sorai penuhi penutupan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-35 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penampilan marching band Kampus Putih menambah kemegahan agenda yang ilaksanakan pada 3 Desember 2022 ini. Pun dengan tari daerah nusantara, paduan suara, lagu-lagu dari band, hingga aksi stand up comedy Mal Jupri yang sukses melepaskan tawa peserta dan tamu. Adapun PIMNAS luring pertama setelah pandemi ini melahirkan juara umum baru. Adalah Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berahasil membawa pulang piala bergilir berkat sederet juara yang diperoleh di berbagai kategori program kerativitas mahasiswa (PKM). Menutup PIMNAS di UMM, Dr. Ir. Sri Gunani Partiwi, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdikbudristek menjelaskan bahwa penyelenggaraan PIMNAS merupakan tahapan akhir dari PKM. Rangkaian program ini memang dirancang melatih mahasiswa berfikir kritis, memiliki kemampuan analisis yang tajam, serta memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi. Dari 37.404 proposal yang masuk, hanya 370 proposal yang dipilih untuk maju berkompetisi di sini. “Saya ucapkan selamat pada para mahasiswa yang berdiri di sini. Kalian merupakan satu persen bagian terpilih dari sekian banyak proposal yang masuk. Ke depannya kementerian akan terus berkomitmen untuk menjalankan program ini. Insyaallah, program ini akan kami tingkatkan lagi aksestabilitas maupun kualitasnya,” ujarnya. Lebih lanjut, Sri, panggilannya mengatakan, penyelenggaraan PIMNAS juga bertujuan untuk menjawab tantangan bonus demografi mendatang. Pada saat bonus demografi terjadi, jumlah usia produktif sangat tinggi. Jika sumber daya manusia (SDM) tidak dikelola dengan baik, maka Indonesia emas 25 tahun lagi tidak akan bisa tercapai. “Namun pada kesempatan ini saya merasakan aura yg sangat luar biasa. Para mahasiswa telah menunjukkan prestasi dan semangatnya. Hal ini membuat kita optimis bahwa 25 tahun ke depan akan terwujud Indonesia emas yang kita cita-citakan. Saya juga berharap baik yang menang maupun yang tidak memperoleh juara dapat melanjutkan dan mengembangkan produknya. Semoga apa yang telah kalian rancang ini akan memberikan kontribusi yang baik kepada bangsa dan negara,” ungkap Sri. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa PIMNAS bukanlah rutinitas semata, karena tahun 2022 menjadi titik strategis bagi mahasiswa yang dipersiapkan untuk menjawab Indonesia emas 2045. Menurutnya, problem Indonesia dalam menghadapi bonus demografi dan Indonesia emas berada di aspek sumber daya manusia (SDM). Maka ajang PIMNAS mnejadi salah satu komunitas yang hadir sebagai upaya menciptakan SDM yang baik. “Saat ini saudara adalah mahasiswa dan sedang menyenyam pendidikan, tapi esok saudara akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Dari sinilah sebagian besar pemimpin dilahirkan. Bukan hanya sekadar berkompisi dan anu kompetensi tapi juga membangun karakter yang dibutuhkan bangsa. Saya titip eprsiapkan diri saudara menghadapi awal bonus demografi pada 2030 nanti,” tegasnya mengakhiri. (haq/syi/wil)