UMM dan Kemlu RI Pecahkan Cara Implementasi Hasil G20

Keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah Group of Twenty (G20) di tengah invasi Rusia ke Ukraina patut diapresiasi. Hal itu telah membuktikan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki kekuatan dan tidak bisa dimonitor negara maju manapun. Hal tersebut di ungkapkan oleh Direktur Jendral Kerjasama Multilateral Tri Tharyat, SH. LL.M pada Sharing Session terkait isu-isu strategis hasil presidensi G-20. Adapun acara tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 29 November 2022 lalu. Lebih lanjut, Tri menjelaskan, setelah menerima estafet kepemimpinan G20 dari Italia, Indonesia tidak pernah membayangkan akan ada invasi Rusia ke Ukraina yang mengubah pola hubungan antar anggota G20. Karena sejak berdirinya G20, tidak ada situasi seperti itu. Kejadian itu membuat Indonesia mendapat banyak tekanan dari berbagai negara seperti Australia, Korea, Jepang, dan lainnya. “Banyak orang mengira konflik Rusia-Ukraina hanya berlangsung dalam waktu sebulan saja. Nyatanya invasi itu terjadi sampai sekarang. Bukannya membaik, tetapi malah makin kisruh. Pada akhirnya, konflik tersebut tidak hanya berdampak kepada Eropa saja, tapi juga seluruh dunia yang mengganggu stabilitas perekenomian. Hal tersebut menghasilkan triple crisis di berbagai negara yaitu krisis keuangan, pangan dan juga energi. Oleh sebab itu, Indonesia sangat berusaha untuk bisa menyelesaikan krisis ini sebagai bentuk menjaga perdamaian dunia,” jelas Tri. Penyelenggaraan KTT G20 tidak hanya membahas terkait ekonomi, tetapi juga membahas isu lainnya seperti dampak pandemi. Selain itu juga ada isu pangan dan pertanian, kesehatan, pariwisata dan kebudayaan, serta perempuan. Tujuan awal pembangunan berkelanjutan tahun 2030 mengalami perenggangan karena pandemi. Sehingga tim G20 berupaya mendorong dan memulihkan situasi dengan menarik investasi dari luar untuk membantu negara berkembang mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang sudah dicanangkan. “Salah satu hal menarik yang saya apresiasi dari UMM adalah program Center of Excellence (CoE). Saya rasa ini menjadi inovasi solutif yang sejalan dengan hasil G20 pada aspek pendidikan. Apalagi dengan kerjasama yang dibangun bersama industri sheingga menciptakan SDM yang unggul. Semoga bisa terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ungkap Tri. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. mengucapkan terima kasih kepada Tri karena sudah mau datang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan hanya untuk berdiskusi informasi tentang G20 tapi juga mengajak sivitas akademika untuk memberikan ide solutif. Hal itu dirasa bisa menciptakan banyak problem solver yang membantu di tengah masyarakat. “Pun bagi mahasiswa yang bisa menambah ilmu dan membangkitkan semangat untuk terus membuat perubahan. Apalagi generasi muda merupakan agent of change. Mudah-mudahan sharing session ini tidak hanya menjadi kabar dan berbagi informasi saja tapi menjadi langkah kerjasama UMM dengan kementrian luar negeri,” harap Fauzan mengakhiri. (zak/wil)
Dibuka Nadiem Makarim, Ratusan Mahasiswa Asing Meriahkan ISS UMM

Ratusan mahasiswa asing penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) meriahkan ajang International Student Summit (ISS) yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Digelar pada 28-30 November, ISS juga menghadirkan tokoh nasional seperti Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI Nadiem Makarim. Selain itu juga ada Siti Sofia Sudarma selaku diplomat senior kementerian luar negeri Indonesia. Menariknya, ISS kali ini menampilkan sederet hiburan menarik. Mulai dari aksi reog, marchin band UMM, tari tradisional dan lainnya. Para peserta juga ikut meramaikan acara dengan membawa bendera dari masing-masing negara. Membuka acara ISS, Nadiem Makarim menilai bahwa mahasiswa asing yang belajar di Indonesia pasti memiliki pelajaran berharga selama berkuliah di Indonesia. Hal itu bisa dibagikan kepada teman-teman maupun kerabat mereka saat pulang nanti. Nadiem, sapaan akrabnya juga mengatakan, pihaknya tengah mendorong transformasi besar pendidikan tinggi melalui Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Maka, mahasiswa asing penerima beasiswa KNB juga bisa mendukung program tersebut. Kemendikbudristek juga berupaya meruntuhkan sekat yang membatasi kreativitas dosen dan mahasiswa. Maka, mereka diberi kesempatan untuk berkegiatan di luar kampus selama tiga semester. Baik itu kerjasama organisasi kemanusiaan, industri, maupun institusi pendidikan baik dalam maupun luar negeri. “Terhitung, sudah ada 420 ribuan sivitas akademika yang bergabung. Adapula ribuan kerjasama pendidikan dengan industri untuk menciptakan inovasi, salah satunya business trip yang ada di G20 beberapa waktu lalu. Kami juga menggelontorkan 13 triliun untuk ribuan joint research agar muncul beragam solusi,” pungkasnya. Di sisi lain, Sofia mengatakan bahwa KNB merupakan wujud dari kontribusi diplomasi publik di bidang pendidikan dan kebudayaan. Beasiswa KNB telah menerima 1681 mahasiswa asing sejak berlangsungnya program ini. Mulai tahun 2006 hingga 2022 ini. Dalam perjalanannya, program ini juga menunjuk 24 perguruan tinggi terbaik untuk menaungi para penerima beasiswa KNB selama di Indonesia. “Saat ini, kita sedang berkumpul bersama negara-negara sahabat. Setelah kembali ke negara asal, kami juga akan melibatkan mereka untuk mengenalkan budaya dan bahasa Indonesia. Harapannya para mahasiswa asing ini akan menjadi jembatan antara Indonesia dengan negara asal,” ujar Wakil Dubes RI Seoul itu. Senada dengan Sofia, Direktur Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek), Lukman mengungkapkan kebahagiaannya karena program ini dapat kembali berjalan setelah dua tahun vakum akibat pandemi. Adapun kegiatan ini dihadiri oleh 185 mahasiswa asing dari 46 negara penerima beasiswa KNB. “Pada tahun ini kami membuka kembali penerimaan beasiswa KNB setelah sebelumnya vakum akibat pandemi. Semoga akan ada banyak negara baru yang bersaing dan mendapatkan beasiswa ini. Kami berharap saudara tidak melupakan Indonesia dan keberagamannya,” kata Lukman. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa Kampus Putih sudah dua kali menjadi tuan rumah ISS. Kali pertama dilaksanakan pada 2015 lalu dan yang kedua pada tahun ini. Adapun salah satu misi ISS ini adalah untuk mempertemukan, bukan hanya manusianya tapi juga kultur, budaya dan bahasanya. “Saudara-saudara datang ke Indonesia untuk belajar banyak Bahasa Indonesia. Salah satu cara yang paling ampuh adalah dengan mencari partner bicara. Baik itu teman, pacar, atau sahabat orang Indonesia. Dengan begitu, akan lebih cepat pula saudara menguasai Bahasa,” katanya. Ia berharap, bahasa Indonesia yang sudah dipelajari dapat menjadi media diplomasi di negara asal. Salah satunya melalui cerita pengalaman mahasiswa ketika berada di Indonesia. Fauzan juga ingin agar mahasiswa asing dapat melanjutkan studinya di Indonesia agar semakin dalam ilmu yang ditekuni. (Syi/wil)
Wujudkan Kampus Bersinar, UMM Kampanyekan Generasi Muda Bebas Kekerasan Seksual

Secara hukum, ada empat maca kekerasan di dalam undang-undang. Mulai dari kekerasan seksual, kekerasan ekonomi, kekerasan psikis dan kekerasan fisik. Saat ini, kekerasan seksual menjadi masalah yang harus dicegah mengingat banyak kasus yang terjadi, baik itu di luar maupun di dalam kampus. Hal tersebut diucapkan oleh Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum selaku Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam sambutannya pada acara Workshop Pembimbing Akademik. Adapun acara ini bertujuan untuk menguatkan generasi muda bebas kekerasan seksual dan emosional berbasis spiritual. Agenda yang dilaksanakan pada 26 November ini juga berupaya mewujudkan kampus bersinar. Sidik, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pencegahan kekerasan seksual sudah menjadi keharusan. Adapun kata ‘dicegah’ dalam bahasa hukum berarti menghilangkan berbagai faktor yang menyulut terjadinya kejadian. Menurutnya, banyak tenaga dan pikiran dibutuhkan untuk menghilangkan faktor-faktor itu. Apalagi dalam kekerasan seksual, faktor tidak selalu sama. Disebutkan dalalm undang-undang bahwa kekerasan seksual bukan hanya fisik saja tapi juga non fisik. Maka, ia berharap para dosen yang turut ikut workshop tersebut dapat menjadi pelindung bagi para mahasiswanya. “Forum seperti ini memang sudha sepatutnya kita lakukan secara rutin agar apra dosen walu tahu apa saja faktor yang bisa menimbulkan kekerasan seksual,” imbuh Dosen Fakultas Hukum UMM ini. Di sisi lain, salah satu pemateri Komariah, SH., M.Si., M.Hum. mengatakan bahwa workshop ini menjadi bekal tiap dosen di masing-masing prodi dalam mencegah kekerasan seksual. Salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di Indonesia. Termasuk perilaku patuh dan taat pada hukum positif yang berlaku. “Kesadaran ini juga bisa disalurkan oleh dosen kepada para mahasiswa sehingga angka kasus kekerasan seksual bisa dihilangkan,” tegasnya. Menurut Komariah, masalah kekerasan seksual saat ini tidak hanya faktor pelaku saja tapi juga faktor korban. Dapat dilihat dari banyaknya kasus yang terjadi karena pada awalnya saling suka. Komariah menilai bahwa pemahaman anak muda mengenai seks, agama dan hukum masih kurang. Hal itu berakibat pada banyaknya pemuda pemudi yang mudah terserert hawa nafsu dalam dirinya. Hingga berujung pada perbuatan kekerasan seksual yang tidak semestinya terjadi. “Maka, para dosen dan pihak prodi harus sigap dan senantiasa membekali mahasiswanya dengan pemahaman-pemahaman moral, agama, hukum, dan edukasi seks kepada anak didiknya,” ucap salah satu Badan Pembida Harian (BPH) UMM ini. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan pemateri lain, Dr. Khozin, M.Si. Ia mengatakan, warga Muhammadiyah harus menjalankannya sesuai dengan Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH). Pun dengan komitmen untuk melawan segala bentuk kekerasan. salah satu cara yang dilakukan yakni dengan membentuk lembaga yang menanganinya di setiap universitas. “Muhammadiyah akan selalu komitmen melawan kekerasan seksual, karena sejatinya kekerasan seksual merupakan bagian dari menganiaya sesama makhluk Allah SWT,” jelasnya. Di sisi lain, Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si. selaku Wakil Ketua PCA UMM mengatakan, Aisyiyah hadir sebagai organisasi perempuan modern dengan gerakan teologisnya. Termasuk berupaya mempersiapkan gereasi bangsa, utamanya perempuan untuk bisa memimpin bangsa di amsa depan. Ia melihat krisis moral dan kesadaran spiritual mahasiswa menjadi faktor paling genting yagn harus dihadapi. “Maka, workshop ini menghadirkan berbagai pemateri untuk membekali para pengajar di kampus agar bisa ditransferkan ke mahasiswa dna menghilangkan kasus kekerasan seksual,” pungkasnya. (haq/wil)
Kaji Money Laundering, FH UMM Siapkan Generasi Berintegritas

Semua orang harus mengerti dan tahu tentang pencucian uang (money laundering). Karena jika seseorang menjadi penerima dan penikmat dana dari hasil kejahatan, maka orang tersebut dapat menjadi pelaku pasif. Di mana pelaku pasif bisa dikenakan pasal 5 UU Pencucian Uang Nomor 8 tahun 2010 dan dapat dipidana paling lama 5 tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Mahupiki (Masyarkat Hukum Pidana dan Kriminalogi Indonesia), Dr. Yenti Garnasih, SH, MH dalam Kuliah Tamu yang mengangkat tema “Money Laundring yang Bersumber dari Perdagangan Narkoba”. Adapun acara tersebut di selenggarakan oleh Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kamis, 24 November 2022 lalu. Yenti, sapaan akrabnya, menjelaskan mengenai money laundering. Kegiatan ini meliputi menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan atau perbuatan lainnya yang diketahuinya merupakan hasil tindak pidana dengan maksud menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan. Sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah. Menurutnya, para mahasiswa khususnya hukum harus memahami dan mencurigai berbagai harta kekayaan yang diterima. Tidak boleh mudah menerika uang yang jumlahnya banyak dari sembarang orang. Ia mengatakan bahwa ada kemungkinan uang tersebut merupakan hasil money laundering yang sangat berbahaya. “Karena, siapapun yang menikmati hasil kejahatan, ia juga menjadi pelaku pencucian uang.” ungkap Yanti. Ia melanjutkan, kejahatan pencucian uang di Indonesia merupakan perbuatan kriminalitas yang sudah diatur dalam undang-undang sejak tahun 2002. Menurutnya, sejak disahkannya undang-undang tersebut, bukannya makin bagus tapi makin menurun. Adapun sejarah awal pencucian uang di dunia sudah ada sejak konferensi 1988 di Amerika Serikat yang membahas terkait pemberantasan narkoba. Perdagangan narkotika merupakan kejahatan yang paling banyak menghasilkan uang, oleh sebab itu banyak sekali aliran dana yang masuk dalam pencucian uang. “Di Indonesia, jika pencucian yang berasal dari narkotika dan dibelanjakan, maka pelakunya akan dikenakan double punishment. Pertama yakni tentang tindak pidana narkotika dan yang kedua yakni perkara pencucian uang. Adapun kejahatan tersebut sudah diatur dalam Pasal 137 UU Nomor 35 Tahun,” jelasnya. Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum (FH) UMM, Dr. Tongkat, SH., M.Hum. menilai agenda ini sangat penting karena memberikan kesempatan yang luar biasa bagi mahasiswa hukum UMM. Utamanya untuk menambah semangat dan juga ilmu tentang money laundering. “Apalagi mahasiswa akan meneruskan tonggak kepemimpinan di berbagai bidang. Maka pengetahuan tentagn pencucian uang harus dipahami agar tidak terjebak dan terjembab menjadi pelaku kejahatan pasif,” tuturnya. (zak/wil)
Peringati Hari Guru, FKIP UMM Nyanyikan Himne Guru Berjamaah

Dalam rangka memperingati Hari Guru, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan apresiasi serta aksi kepada guru-guru se-Indonesia melalui pembacaan puisi, diskusi dan menyanyikan himne guru. Adapun agenda yang dilaksanakan pada 25 November 2022 ini diikuti oleh dosen, karyawan, hingga mahasiswa Kampus Putih yang turut datang dan memeriahkan. Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, MM. mengatakan, pendidikan merupakan faktor penting untuk membangun sebuah negara. Salah satunya dalam membentuk generasi penerus yang bertanggungjawab dan mampu mengatasi tantangan masa depan. “Nelson Mandela pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia,” katanya. Trisakti, sapaan akrabnya melanjutkan, peningkatan pendidikan harus selalu dilakukan. Hal itu dikarenakan zaman yang terus maju dan berubah sehingga sumber daya manusia unggul harus terus dilahirkan sesuai dengan zaman. Ia juga menilai bahwa guru berperan penting dalam pendidikan. Mereka mendidik, mengarahkan, dan memberikan contoh ternaik bagi anak didiknya. Pun dengan upaya memerikan inspirasi agar anak bangsa mampu bermimpi tinggi dan menggapainya di masa depan nanti. Guru juga berjasa membentuk karakter generasi penerus bangsa dan melahirkan pemimpin terbaik untuk Indonesia. “Maka dalam kesempatan ini FKIP UMM berterimakasih kepada seluruh guru yang sudah mewakafkan hidupnya demi mewujudkan pendidikan terbaik. Kami juga akan selalu memotivasi guru dan calon guru untuk terus berjuang di bidang pendidikan untuk mewujudka Indonesia yang lebih baik,” tegasnya. Hal serupa juga disampaikan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UMM, M. Nurudin. Menurutnya, FKIP tidak menuntut mahasiswanya untuk menjadi seorang guru tapi menjadi seorang pendidik. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi agent of change di tengah masyarakat. Tidak perlu muluk-muluk, bisa dimulai di lingkungan yang kecil. Ia melanjutkan, guru merupakan pelita yang menerangi. Sementara mahasiswa adalah bahan bakar bagi guru untuk terus maju. Maka, mahasiswa harus membantu guru dalam mendidik anak bangsa. Memberikan inovasi baru maupun model pengajaran yang lebih fresh. “Dalam peringatan Hari Guru ini kami tidak hanya melangsungkan kegiatan seremonial saja. Tapi juga mengadakan diskusi untuk membahas keresahan dan masalah-masalah yang dihadapi oleh guru. Utamanya mereka pendidik-pendidik anak bangsa,” pungkasnya. (wil)
PIMNAS Siap Dilangsungkan di UMM, Ini Maskot Uniknya

Pekan Ilmiah Mahasiswa nasional (PIMNAS) ke-35 akan segera dilangsungkan di Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tepatnya pada 30 November hingga 4 Desember mendatang. Dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah dan kampus, UMM juga telah menyiapkan berbagai hal agar rangkaian acara bisa berjalan dengan baik. Salah satu yang menarik yaitu maskot dan logo PIMNAS 35 yang diberi nama Si Panji. Adapun Si Panji merupakan gagasan yang dinisiasi oleh Kepala Biro Informasi dan Komunikasi (infokom) UMM, Ir. Suyatno, M.Si. dan tim persiapan. Uniknya, Si Panji memberikan nilai filosofis yang menarik. Dimulai dari helm astronot yang menggambarkan mahasiswa sebagai ilmuwan. Sementara topeng panji menjadi simbol kesenian daerah Malang, yaitu tari topeng Malangan dengan tokoh utama seorang kestaria bernama Panji Asmoro Bangun. “Tokoh ini merupakan kesatria yang ceras, lembut hari, bijaksana, serta tegas dalam mengambil keputusan. Wajahnya yang berwarna hijau menjadi cermin akan sifat-sifat tersebut,” jelas Suyatno. Pria yang juga dosen UMM itu juga sempat menyinggung makna jas dan dasi yang dikenakan. Menurutnya, dua item itu menggambarkan profesionalitas mahasiswa sebagai kaum intelektual dan calon pemimpin masa depan. Selain itu, ada juga pakaian penari topeng malang yang menjadi visualisasi dari Malang Raya. Kemudian yang terakhir adalah sepatu yang merepresentasikan kaum intelektual yang mengedepankan etika, estetika, dan kesantunan. “Kami memilih maskot Si Panji dengan harapan semua mahasiswa peserta PIMNAS yang datang dari penjuru negeri dapat mewarisi kecerdasan dan sifat-sifat baik dari Panji Asmoro Bangun. Selamat berkompetisi dengan sehat, semoga mendapatkan hasil terbaik dari usaha-usaha yang diupyakan,” kata Suyatno berharap. Adapun PIMNAS merupakan ajang resmi tahunan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam bidang penalaran untuk memperlombakan karya ilmiah mahasiswa tingkat nasional. Ajang ini juga menjadi penjabaran dari program menciptakan iklim akademis yang kompetitif di kalangan mahasiswa Indonesia. Selain itu juga sebagai forum pertemuan ilmiah dan komunikasi produk kreasi mahasiswa, diikuti oleh mahasiswa atau kelompok tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) seluruh Indonesia. (wil)
Gempa di Cianjur, Ini Kata Dosen UMM tentang Rumah Tahan Gempa

Gempa yang melanda Cianjur pada Senin (21/11) kemarin telah meluluh lantahkan berbagai bangunan dan menelan korban jiwa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan bahwa gempa ini merupakan siklus 20 tahunan yang akan melanda Cianjur. Melihat fenomena tersebut, Ir. Erwin Rommel, M.T., dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan ada beberapa hal yang membuat banyaknya bangunan roboh saat gempa berkekuatan 5.6 magnitudo itu menerjang Cianjur. Beberapa penyebabnya adalah posisi pusat gempa, jenis patahan, kondisi lapisan tanah, serta kondisi bangunan yang ada di Cianjur. Erwin, sapaannya, menjabarkan bahwa pada kejadian gempa di Cianjur, pusat gempa berada pada jalur sesar Cimandiri dengan kedalaman kurang dari sepuluh kilometer yang masuk dalam kategori gempa dangkal. Selain dekat dengan pusat gempa, karakteristik tanah di daerah Cianjur relatif cukup labil. Hal ini terlihat dari topografi tanah di Cianjur yang berupa lereng-lereng bukit dan pegunungan. Kondisi tersebut menyebabkan tanah menjadi rawan longsor jika terjadi gempa. “Sebagian besar bangunan yang berdiri di daerah Cianjur adalah bangunan rendah dan bangunan sederhana yang belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa. Kebanyakan masyarakat awam beranggapan bahwa gempa yang terjadi lebih berdampak signifikan pada bangunan tinggi saja. Nyatanya bencana gempa bisa mengakibatkan kerusakan pada semua bangunan, baik rumah tinggal maupun gedung-gedung bertingkat,” kata dosen asal Medan tersebut. Terkait spesifikasi rumah tahan gempa, Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kamus (BP2K) UMM itu mengatakan bahwa untuk membangun rumah sederhana tahan gempa ada sederet hal yang harus diperhatikan. Pertama, membuat bangunan dengan bentuk sesimetris mungkin. Kedua, cukup tersedianya pengaku pada dinding. Minimal setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis. Ketiga, memberi pengangkuran yang cukup pada setiap sambungan elemen pada bangunan. Misalnya sambungan dari dinding ke balok pondasi, sambungan dinding ke kolom, ataupun sambungan balok ke konstruksi atap. “Ada beberapa model bangunan sederhana tahan gempa sudah dikenalkan kepada masyarakat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Di antaranya rumah sederhana tahan gempa berbahan kayu, bambu, dan beton. Spesifikasi utama yang harus dipenuhi agar rumah tahan gempa yakni adanya integritas bangunan,” katanya. Rumah tahan gempat dapat tercipta jika seluruh elemen-elemen dari bangunan mulai dari pondasi, balok sloof, kolom, dinding, serta balok atap tersambung dengan baik dan benar. Selain itu, perlu adanya penyalur beban dari satu elemen ke elemen lain agar bangunan tidak mudah runtuh dan dapat menahan beban gempa. Dalam realisasinya, pembuatan rumah tahan gempa memang membutuhkan biaya yang lebih mahal dibanding rumah pada umumnya. Namun Erwin mengatakan bahwa hal tersebut bisa disiasati dengan penggunaan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal. Masyarakat bisa menggunakan bambu atau rotan sebagai pengganti tulangan baja. Selain itu, penggunaan kayu juga bisa menjadi alternatif bahan pengganti lainnya. “Intinya, konsep pembangunan rumah tahan gempa adalah membuat bangunan menjadi lebih ringan, lebih daktail, dan adanya penyaluran beban dari setiap elemennya sampai ke pondasi. Jika kita bisa memanfaatkan kekayaan alam sebagai pengganti bahan bangunan, maka rumah tinggal tahan gempa bisa menjadi lebih murah dan terjangkau di masyarakat,” ungkap ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) wilayah Malang Raya itu. Dalam pembangunan rumah tahan gempa, selain mengikuti regulasi Kementrian PUPR, Erwin juga memberikan beberapa tips lainnya. Salah satunya yakni mengetahui perkembangan kondisi patahan atau sesar yang ada disekitar tempat tinggal. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memahami tingkat kerawanan gempa pada desain bangunan kita agar bisa lebih siap. Selanjutnya adalah pemberian edukasi kepada masyarakat tentang mitigasi dan penyelamatan korban. “Perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang antisipasi dan mitigasi ketika terjadi gempa bumi. Selain itu, Pemerintah Daerah dan Pusat bisa melakukan pemetaan dan relokasi secara menyeluruh terhadap bangunan-bangunan yang telah berdiri. Utamanya terhadap bangunan yang berada didaerah jalur sesar dan juga yang berpotensi untuk menjadi sesar aktif dikemudian hari,” pungkasnya. (syi/wil)
Tips Mahasiswa UMM Sukses Ikuti Double Funding Beasiswa

Laily Khairunnisa, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mampu jalani dua pertukaran pelajar dalam satu waktu. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini berhasil diterima di program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan membuatnya menimba ilmu di Palembang, tepatnya di Universitas Sriwijawaya (Unsri). Menariknya, ia juga sedang menjalani program exchange di Asia University, Taiwan. “Jadi yang MBKM Unsri, saya harus berangkat ke Palembang dan benar-benar belajar di dalam kampus. Sementara di Asia University, saya menjalani virtual exchange yang memungkinkan saya untuk belajar secara daring bersama dengan mahasiswa dari berbagai negara dan diajar oleh dosen kampus terkait,” jelasnya. Selain belajar, ia juga diberi materi mengenai sejarah dan budaya taiwan. Hal itu membuatnya tertarik dan semangat menjalani studi. Pun di Unsri yang mengharuskan dia untuk mengikuti modul nusantara dari MBKM. Ia diharuskan belajar budaya, bahasa, tari, kerajinan dan lainnya. Dengan begitu, ia mendapatkan berbagai perspektif dan pengetahuan baru. Mahasiswa asal NTB itu membeberkan tips agar diterima di exchange di Asia University. Menurutnya, hal yang paling utama adalah kelengkapan dokumen dan keaktifan saat berkuliah. Dengan begitu, dosen akan mengetahui keberadaannya dan merekomendasikannya di program terkait. Keaktifan dalama berorganisasi dan berkuliah juga menjadi kunci penting agar diterima di program MBKM. Pun dengan persiapan jauh-jauh garu sebelum pendaftaram agar tidak tergesa-gesa. Apalagi ia harus bersaing dengan 32.000 mahasiswa pendaftar lainnya. Dari jumlah itu, akan diambil 12.000 mahasiswa yang akan menjalani pertukaran mahasiswa di seluruh nusantara, termasuk dirinya. Selain karena ia rajin dan pandai memanfaatkan peluang, Nisa menilai bahwa UMM menjadi alasam terbesar ia bisa diterima di kedua program tersebut. Apalagi Kampus Putih sudah menyediakan dukungan agar mahasiswa bisa belajar di luar kampus. Baik itu melalui program level nasional atau bahkan internasional. Sehingga Nisa bersyukur telah memilih UMM sebagai almamaternya. Ia bukan tanpa kendala. Beberapa kali jadwal kuliah di dua universitas itu bentrok dan membuatnya harus memutar otak. Kadang ia harus melobi dosen Unsri, kadang ia juga harus berkomunikasi dengan tim pengajar Asia University. “Alhamdulillah sejauh ini bisa saya atur dengan baik. Semoga diterimanya saya di dua program ini membuat saya mendapatkan banyak pengalaman, relasi, dan pelajaran hidup baru. Bahkan mungkin bisa saya bagikan ke teman-teman nanti,” tuturnya. Menurutnya, waktu empat tahun di bangku perkuliahan tidak boleh disia-siakan. Selain harus memahami materi kuliah dengan baik, mahasiswa juga harus mengikuti banyak kegiatan seperti misalnya badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Nisa menceritakan bahwa dirinya sering mengikuti kegiatan BEM UMM dan memenangkan lomba. Hal itulah yang mengantarkannya ke event-event lebih besar. “Keaktifan saya di BEM membawa berkah. Karena itu, saya diberi rekomendasi oleh salah satu dosen untuk bisa mendaftar di virtual exchange di Taiwan. Maka, saya kira hal-hal kecil bisa memberikan hal besar di kemudian hari. Jadi jangan pernah remehkan hal yang menurut kita kecil dan remeh,” tegasnya Nisa. (dev/wil)
Unik, UMM Gelar Seminar Internasional Berbahasa Indonesia

Di era modern digital, negara harus tetap menjaga bahasa dan budaya agar tetap memiliki identitas serta jati diri. Hal tersebut di sampaikan oleh Tokoh NGO Sosio Budaya Malaysia Tan Sri Prof. Datuk Wira Dr. Abdul Latif Bin Abu Bakar dalam Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) dengan tema Arah Baru Ilmu Sosial, Politik, dan Humaniora dalam Era Masyarakat Digital untuk Pembangunan Berkelanjutan. Adapun agenda ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan diikuti lebih dari 120 peserta pada 23-24 November 2022. Uniknya, meski bertajuk seminar internasional, namun bahasa yang digunakanbukan Inggris, namun Bahasa melayu Indonesia sebagai upaya internasionalisasi bahasa Indonesia di mata dunia. Lebih lanjut, Abdul menyampaikan bahwa negara Indonesia dan Malaysia memiliki nenek moyang yang satu yakni melayu. Pun dengan negara lain yang keturunan melayu dan menggunakan bahasa melayu. Abdul menyebutnya sebagai rumpun nusantara atau rumpun melayu nusantara. Menurutnya, suatu keluarga seharusnya memang tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta tidak mengalami pertikaian. Abdul juga mendorong agar negara-negara senantiasa melestarikan budaya dan bahasa. Sekalipun di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang kian cepat. Menurutnya, orang yang mengerti teknologi tapi tidak mengenal sosial dan budaya akan hancur. Karena hal itu merupakan sebuah identitas. “Maka upaya pelestarian ini harus terus dilakukan. Bukan hanya oleh mereka yang tua, tapi juga para anak muda yang akan melanjutkan tonggak kepemimpinan,” tambahnya. Selain Abdul, adapula pemateri dari sederet negara seperti Myoung Sook Kang, Habib Zarbaliyev, hingga Laurent Metzger dan lainnya. Mereka mengkaji berbagai hal sesuai dengan tema terkait sekaligus memberikan pemahaman baru. Sementara itu, Dekan FISIP UMM Prof. Dr. Muslimin, M.Si mengatakan, tujuan seminar ini yakni sebagai upaya agar bahasa melayu Indonesia bisa menjadi bahasa dunia. Sebab, saat ini ada 59 negara yang sedang mempelajari bahasa melayu Indonesia. Selain itu juga upaya menjadikan bahasa melayu Indonesia sebagai bahasa akademik sehingga seluruh karya ilmiah bisa lebih mudah dipublikasikan. Selain itu juga untuk memberikan kesempatan dalam bertukar pandang dan ide. Pun dengan upaya memperkuat dan mengembangkan keilmuan mellaui diskusi tentang isu terkini. Muslimin juga menegaskan bahwa dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 mengatur tentang keharusan menggunakan bahasa Indonesia. Seperti nama gedung, jalan, apartemen, kantor, merek, lembaga pendidikan dan lainnya. “Informasi tentang barang atau jasa yang diproduksi di dalam negeri atau di luar negeri dan diedarkan di indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia. Sehingga memang bahasa Indonesia harus banyak digunakan di berbagai lokasi dan kondisi,” tegasnya. Hal serupa disampaikan oleh Wakil Rektor I UMMDr. Syamsul Arifin, M.Si. Ia sangat mengapresiasi agenda Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) ini. Pertama, yakni penggunaan bahasa Indonesia yang jarang dilakukan di seminar internasional. Langkah ini dianggap mampu membuat bahasa Indonesia diguunakan masyarakat dunia. “Kemudian yang kedua adalah topik yang diangkat mengenaik sosial dan juga politik dalam konteks masyarakat digital. Tentu kita harapkan ada ide dan inovasi bagus yang bisa diasimilasikan dalam bentuk artikel maupun platform lainnya,” pungkasnya. (zak/wil)
UMM-PP Aisyiyah Kupas Sosok Siti Walidah

Siti Walidah, istri Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah memiliki jasa yang luar biasa. Selain mendirikan Aisyiyah, ia juga berperan dalam meningkatkan harkat dan martabat perempuan. Maka, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan pimpinan pusat (PP) Aisyiyah melangsungkan soft launching dan mengupas buku Menapak Jejak Siti Walidah pada 18 November lalu. Hadir pula sederet tokoh untuk turut berdiskusi dan membedah buku terkait. Salah satunya Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno yang mengatakan bahwa Siti Walidah menjadi panutan bagi kehidupan Chamamah. Apalagi dengan sikap dan tindakan Siti Walidah yang mampu menjawab tuntutan zaman, membuat Chamamah terinspirasi dan meningkatkan kualitas diri. Menurutnya, kepribadian Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan yang baik tersebut berasal dari keluarga yang mengedepankan pendidikan. “Tidak hanya itu, nilai-nilai yang ada dalam keluarga tersebut diamalkan oleh Nyai Ahmad Dahlan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga piawai membesarkan hati orang lain dan menjadi penerang tatkala keadaan tidak memungkinkan,” jelasnya. Hal tak jauh berbeda disampaikan oleh Dr. dr. Siti Fadilah Supari. Ia yang pernah menjabat sebagai menteri kesehatan menuturkan bahwa Nyai Ahmad Dahlan memberikan inspirasi baginya untuk terus berupaya dan berkontribusi bagi bangsa. Utamaya di dunia kesehatan yang digelutinya. Dalam buku tersebut, diceritakan bagaimana kerja keras Siti Fadilah saat dipercaya menjadi menteri kesehatan. Salah satunya perseteruannya dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait flu burung. Ia berkeyakinan bahwa vaksin flu burung tidak perlu dilakukan. Pun dengan penolakannya akan gagasan flu burung yang menular dari manusia ke manusia. Semua itu berdasarkan penelitian ilmiah, bukan pendapatnya semata. Perjuangan Siti Fadilan tidak sia-sia. Flu burung yang begitu mematikan tidak jadi berkembang sebagai pandemi karena ia mampu membuktikan tidak ada penularan dari manusia ke manusia. Hal itu membuat sorot mata dan dukungan mengalir ke dirinya. Turut hadir Dra. Yuli Mumpuni Widarso yang pernah menduduki duta besar Indonesia di Aljazair dan Spanyol. Ia mengenal Aisyiyah dari sang ibu yang memang berkecimpung di situ. Apalagi ibunya juga merupakan seorang guru di salah satu SMA Muhammadiyah. Yuli melihat bahwa kesederhanaan orang Muhammadiyah memberikan nilai tambah di mata masyarakat. Pun dengan komitmen kuat dalam upaya peningkatakan kualitas pendidikan di Indonesia tanpa pamrih. “Nilai-nilai itulah yang selalu saya peang teguh dan amalkan dalma kehidupan sehari-hari. Pun dengan upaya saya saat memegang amanah sebagi duta besar,” katanya menjelaskan. Adapun Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan juga merupakan pahlawan nasional. Saat Muhammadiyah berdiri pada 1912, ia selalu menyokong perjuangan suaminya. Salah satunya dengan mengusahakan pendidikan kaum wanita di beberapa kampung seperti Kauman, Lempuyangan, Krangkajen dan lainnya, Dalam buku Menapak jejak Siti Walidah juga dipaparkan benang merah perjuangan Siti Walidah dengan potensi-potensi perempuan masa kini. Bagaimana perempuan mengikuti jejaknya dan berkarya di bidangnya masing-masing. (wil)