Di Baitul Arqom Ormawa, Rektor UMM Ungkap Amanah dan Keadilan Jadi Nafas Kepemimpinan dalam Islam

Kepemimpinan dalam Islam bukanlah tentang kekuasaan, melainkan amanah suci untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kemajuan yang membawa keberkahan bagi seluruh umat. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si., pada kegiatan Baitul Arqom Organisasi Kemahasiswaan, 04 Maret 2026 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) UMM. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam perspektif Islam bukan sekadar jabatan struktural, melainkan tanggung jawab spiritual yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Setiap individu, menurutnya, adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Dalam pemaparannya, ia menguraikan fondasi kepemimpinan dalam Al-Quran, di antaranya konsep manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Ia juga menyinggung perintah berlaku adil dalam QS. Shad ayat 26 serta pentingnya musyawarah sebagaimana diajarkan dalam QS. Ali Imran ayat 159. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi kerangka etis sekaligus strategis bagi pemimpin dalam membangun peradaban. “Kepemimpinan adalah amanah besar, bukan privilese. Tanpa keadilan, kepemimpinan kehilangan legitimasi moralnya. Dan tanpa visi yang jelas, organisasi akan berjalan tanpa arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Nazar sapaan akrabnya menambahkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat al-‘adl (keadilan), al-hikmah (kebijaksanaan), amanah, siddiq (kejujuran), serta fathanah (kecerdasan dan kompetensi). Keadilan, jelasnya, bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata dalam distribusi sumber daya, pengambilan keputusan, serta perlakuan yang setara tanpa diskriminasi. Selain itu, prinsip musyawarah atau syura menjadi elemen penting dalam menciptakan kepemimpinan partisipatif. Dengan melibatkan anggota dalam proses pengambilan keputusan, rasa memiliki (ownership) terhadap kebijakan akan tumbuh, sehingga komitmen terhadap pelaksanaan program menjadi lebih kuat. Pendekatan lemah lembut (rifq) juga dinilai mampu membangun loyalitas dan keamanan psikologis dalam organisasi. Dalam konteks produktivitas, pria itu menekankan bahwa visi tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Visi harus diterjemahkan menjadi amal nyata yang terukur dan berdampak. Efisiensi, ketepatan prioritas, inovasi berkelanjutan, serta evaluasi kinerja menjadi instrumen penting dalam mewujudkan kemajuan yang berkelanjutan. Ia juga mengingatkan bahwa tantangan kepemimpinan di era modern semakin kompleks. Godaan kekuasaan, tekanan kepentingan, serta perubahan zaman yang cepat menuntut pemimpin untuk terus belajar dan beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip dasar Al-Quran. Sementara itu, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menjelaskan bahwa Baitul Arqam memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan kader Muhammadiyah. Menurutnya, kegiatan ini merupakan agenda rutin yang bertujuan memastikan proses pengkaderan terus berjalan setiap tahun. “Tujuan utamanya adalah agar kader-kader Muhammadiyah di lingkungan UMM tidak terputus. Kaderisasi harus terus dilakukan dalam rangka membesarkan kader-kader intelektual Muhammadiyah,” ujarnya. Lebih lanjut, Tatag mengungkapkan bahwa UMM saat ini telah merancang strategi besar pengembangan kemahasiswaan yang mencakup tiga pendekatan, yakni partisipatif, diferensiasi, dan defensif. Ketiga pendekatan tersebut menjadi landasan dalam menjalankan berbagai program kemahasiswaan, termasuk Baitul Arqam. Ia menambahkan, Baitul Arqam menjadi salah satu instrumen penting untuk mendukung implementasi grand strategy tersebut. Melalui kegiatan ini, mahasiswa yang tergabung dalam Ormawa, termasuk penerima beasiswa, diharapkan mampu mengalami peningkatan kualitas diri. “Setelah mengikuti kegiatan ini, kami berharap mahasiswa semakin baik dalam adab, mental, dan sikap. Terutama, jiwa kepemimpinan mereka semakin kuat dan solid,” katanya. Melalui kegiatan Baitul Arqom tersebut, mahasiswa diharapkan mampu membangun kapasitas kepemimpinan sejak dini. Pendidikan karakter, budaya umpan balik, kerja tim yang solid, serta keteladanan (uswah hasanah) menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi pemimpin visioner yang adil, produktif, dan membawa kemajuan bagi umat.(faq)     Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Prioritas LPDP STEM Dipertanyakan, Akademisi UMM Ingatkan Risiko Krisis Nilai Bangsa

Kebijakan Beasiswa LPDP yang memprioritaskan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dibandingkan ilmu sosial-humaniora menuai sorotan tajam dari Akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si. Ia menegaskan bahwa polemik LPDP yang belakangan ramai diperbincangkan tidak bisa dibaca semata sebagai kebijakan teknis pendidikan, melainkan sebagai refleksi arah pembangunan nasional yang sedang dipertaruhkan, terutama dalam cara negara memaknai peran ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. “Peristiwa yang ramai soal LPDP itu menjadi evidence sosial bahwa ada yang perlu dibenahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Melihat fenomena sebagian penerima beasiswa yang setelah lama menempuh studi di luar negeri justru merasa lebih nyaman menetap di sana dan perlahan menjauh dari ikatan kebangsaan. Itu bukan sekadar persoalan individu, tetapi tanda bahwa orientasi pembangunan dan penguatan nasionalisme kita belum sepenuhnya kokoh,” ujarnya. 02 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Ia menjelaskan bahwa prioritas terhadap STEM lahir dari paradigma lama yang menganggap ilmu eksakta sebagai motor utama pembangunan ekonomi, sementara ilmu sosial dan humaniora ditempatkan sebagai pelengkap yang tidak mendesak, padahal dalam perspektif sosiologi pembangunan sejatinya tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan angka dan kemajuan teknologi, tetapi juga menyangkut pembentukan etika publik, kesadaran kolektif, serta kohesi sosial yang menjadi fondasi keberlanjutan sebuah bangsa. “Paradigma dikotomi antara eksakta dan sosial itu harus diubah karena tidak mungkin ilmu sosial diabaikan dalam mengawal pembangunan. Karena menekankan bahwa ilmu sosial-humaniora berfungsi mengasah kepekaan nurani dan membangun keseimbangan antara rasionalitas, iman, dan nilai kemanusiaan. Ilmu sosial itu menyentuh hati, menyentuh religiositas atau spiritualitas, sehingga manusia tidak hanya cerdas secara teknis tetapi juga matang secara moral,” tegasnya. Wahyudi juga melihat bahwa orientasi pembangunan Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti arus global sejak era Millennium Development Goals hingga Sustainable Development Goals, di mana arah kebijakan nasional kerap selaras dengan prioritas lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank yang secara tidak langsung memengaruhi strategi penyiapan sumber daya manusia berbasis kebutuhan pasar global dan daya saing ekonomi. “Risikonya, kita hanya menjadi potret dari pemikiran dunia, bukan perumus arah kita sendiri melainkan struktur sosial yang timpang. Mobilitas vertikal akan semakin sulit dijangkau oleh kelompok kelas menengah ke bawah jika akses pendidikan unggul dan jejaring global hanya terbuka bagi segelintir orang, sehingga kesenjangan sosial-ekonomi berpotensi melebar sebagai konsekuensi logis dari pembangunan yang kurang sensitif terhadap realitas kelas,” ujarnya. Ia pun mengingatkan bahaya lahirnya generasi teknokratik yang kaku apabila dominasi STEM tidak diimbangi perspektif humanistik, dengan merujuk pada positivisme Auguste Comte yang terlalu menekankan rasionalitas empiris. Menurutnya, jika hanya berpikir positifistik, orang bisa kehilangan sensitivitas kemanusiaan dan terjebak pada parameter-parameter rasional semata, padahal manusia harus tetap berjalan di wilayah kemanusiaannya. “Maka dari itu, negara perlu menyeimbangkan inovasi teknologi dengan penguatan nilai melalui paradigma profetik sebagaimana diperkenalkan Kuntowijoyo, karena pembangunan tidak cukup berhenti pada aturan, strategi, dan target pertumbuhan, tetapi harus menyentuh hakikat keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, serta martabat manusia sebagai tujuan akhir,” ujarnya. Pada akhirnya, Wahyudi mengingatkan bahwa LPDP dan kebijakan pendidikan nasional seharusnya tidak terjebak pada logika angka dan pertumbuhan ekonomi semata, sebab tanpa sentuhan nilai dan kepekaan sosial, pembangunan hanya akan melahirkan generasi yang unggul secara teknis tetapi miskin empati, sementara tujuan sejati pembangunan adalah memerdekakan dan memartabatkan manusia Indonesia secara utuh. (vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sambut Gerhana Bulan Total, HKI UMM Tegaskan Integrasi Sains dan Keimanan

Menyambut fenomena gerhana bulan, Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM pada Selasa (3/3/2026), pukul 16.00–21.00 WIB. Kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif yang mempertemukan dimensi akademik dan spiritual dalam satu momentum langit yang sarat makna. Fenomena gerhana bulan kembali menyita perhatian umat Islam. Bukan sekadar peristiwa astronomi yang dapat dijelaskan melalui perhitungan ilmiah, gerhana dimaknai sebagai momentum spiritual untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bagi sivitas akademika Prodi HKI UMM, gerhana menjadi pengingat kebesaran Allah sekaligus ajakan untuk memperbanyak ibadah, khususnya shalat khusuf. Dosen Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata integrasi pembelajaran ilmu falak dengan penguatan spiritualitas mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami gerhana sebatas teori pergerakan benda langit dan perhitungan astronomis. “Kami tidak ingin mahasiswa hanya memahami gerhana sebagai fenomena sains yang kering dari makna. Melalui observasi langsung, mereka belajar bahwa sains dalam Islam bukan sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keimanan, melainkan sarana untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter akademik yang utuh. Mahasiswa didorong memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Ketika mereka menyaksikan gerhana, lalu melaksanakan shalat khusuf dan memperbanyak doa, di situlah ilmu dan iman bertemu. “Inilah esensi pendidikan yang ingin kami hadirkan mengintegrasikan rasionalitas ilmiah dengan komitmen keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Lebih lanjut, Tanzil menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, gerhana bukanlah fenomena alam biasa. “Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Ia mengingatkan manusia bahwa seluruh alam semesta berada dalam kendali-Nya. Tidak ada yang terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya,” tuturnya. Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi cahaya bulan. Proses ini dapat dijelaskan secara rasional dan terukur melalui kajian astronomi. Namun dalam Islam, peristiwa tersebut juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, serta melaksanakan shalat khusuf sebagai bentuk penghambaan dan refleksi diri. Menurut Tanzil, shalat khusuf merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Pelaksanaannya menjadi wujud ketaatan sekaligus kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta. Ia mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut menegaskan bahwa gerhana bukanlah pertanda mistis atau berkaitan dengan nasib seseorang, melainkan murni tanda kebesaran Allah. Karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak terjebak pada mitos yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, melainkan menjadikan gerhana sebagai momentum untuk memperkuat iman dan memperbaiki kualitas diri. Melalui kegiatan ini, Prodi HKI UMM berharap mahasiswa dan masyarakat dapat memaknai gerhana bulan bukan hanya sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga sebagai panggilan spiritual untuk kembali mengingat kebesaran Allah dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada-Nya. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Ungkap Akar Konflik AS–Israel dengan Iran, Pakar UMM Soroti Ancaman Inflasi dan Krisis Energi bagi Indonesia

Jnews.KotaMalang – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran dampak global, termasuk terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Di tengah meningkatnya spekulasi publik soal kemungkinan perang berskala besar, pengamat menilai konflik tersebut bukan sekadar persoalan militer sesaat, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial antarnegara. Pakar hubungan internasional Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.)., Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan bahwa hubungan antara Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Menurutnya, dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya 02 Maret pada Tim Humas UMM. Dion menilai eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga akhirnya terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. Ia menyebut keputusan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir, tetapi juga tekanan keamanan kawasan. “Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Meski demikian, Dion meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada perang dunia ketiga. Ia menilai proses menuju konflik global membutuhkan dinamika panjang, berbeda dengan eskalasi konflik regional. Menurutnya, berbagai klaim yang menyebut keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, maupun Korea Utara harus diverifikasi terlebih dahulu. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. Ia juga mengingatkan eskalasi konflik saat ini telah memasuki fase yang lebih berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan telah ditutup. Penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut Dion, terganggunya arus distribusi energi internasional tidak hanya akan memicu lonjakan harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi mendorong perubahan sikap politik luar negeri negara-negara besar yang terdampak tekanan ekonomi. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion. Dampaknya Indonesia juga akan merasakan tekanan langsung, terutama dari sektor energi dan pangan. Gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak yang kemudian diikuti lonjakan harga kebutuhan pokok hingga inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya. Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai secara teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Selain itu, Dion menilai Indonesia perlu mengevaluasi posisi diplomatiknya dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pasca serangan terhadap Iran. Menurutnya, tindakan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang seharusnya dijunjung oleh lembaga tersebut. Ia menilai kredibilitas sebuah forum internasional harus diukur dari tindakan nyata para anggotanya, bukan sekadar retorika diplomatik. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian. Kita melihat negara atau lembaga itu dari kredibilitasnya. Kalau tindakan dan ucapannya berbeda, maka sulit dipercaya. Indonesia tidak boleh hanya ikut arus,” katanya. Sebagai langkah strategis, ia menyarankan Indonesia mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Bangun Networking Sejak Mahasiswa, Alumnus UMM Ini Kini Berkarier di Eropa

Berkarier di kancah internasional menjadi impian banyak anak muda. Namun, bagi Syariful Rizqi, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hal tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan realitas yang kini ia jalani. Pria yang akrab disapa Eki ini berhasil menembus pasar kerja Eropa sebagai Field Technical Engineer di sebuah perusahaan asal Inggris (UK), dengan penugasan klien onsite di Ukraina, Polandia, hingga kawasan Europe, Middle East, and Africa (EMEA). Eki merupakan alumnus Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMM angkatan 2015. Dalam kesehariannya, ia memegang tanggung jawab krusial untuk memastikan operasional bisnis klien berjalan tanpa gangguan. Tugas utamanya meliputi penanganan masalah perangkat lunak dan perangkat keras, desktop support, hingga network troubleshooting di sejumlah kantor klien, khususnya di wilayah Polandia. “Tanggung jawab saya memastikan seluruh sistem pendukung kerja berjalan optimal. Prinsip kerja di sini menuntut ketepatan, kecepatan, dan efektivitas. Ada istilah zero mistake tolerance yang membuat saya harus benar-benar fokus dan teliti dalam setiap tugas,” ungkap Eki kepada tim humas pada 24 Februari. Kesuksesan Eki menembus karier global tidak lepas dari pengalaman yang ia bangun selama menempuh pendidikan di UMM. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan internasionalisasi melalui International Relations Office UMM (IRO). Ia kerap memfasilitasi profesor dari luar negeri serta terlibat dalam proyek sosial kolaborasi mahasiswa lintas negara.   “Pengalaman di UMM, terutama saat berinteraksi dengan mahasiswa dan pakar dari berbagai negara, sangat mengubah cara pandang saya. Jaringan internasional yang saya bangun saat itu masih memberikan dampak positif hingga perjalanan karier saya sekarang,” jelasnya. Berbicara mengenai budaya kerja, Eki menyoroti perbedaan signifikan antara lingkungan kerja di Indonesia dan Eropa. Menurutnya, aspek work-life balance sangat dijunjung tinggi. Rekan kerjanya menghargai waktu istirahat dan tidak bekerja pada hari libur. Selain itu, hierarki organisasi serta deskripsi pekerjaan ditetapkan secara jelas, sehingga karyawan berhak menolak tugas di luar kewenangannya. Meski bekerja di lingkungan internasional yang kompetitif, Eki mengaku tidak culture shock yang berarti. Ia justru menilai lingkungan kerjanya suportif dengan sistem meritokrasi yang profesional. Kepada mahasiswa UMM, Eki berpesan bahwa kemampuan teknis memang penting, tetapi sikap rendah hati serta kemampuan komunikasi menjadi kunci utama. Menurutnya, komunikasi yang baik membuka peluang membangun jaringan internasional sekaligus memperoleh kepercayaan rekan kerja. “Konsistensi dalam sikap dan etika kerja inilah yang akhirnya membuat saya bisa bertahan dan terus berkembang bekerja di luar negeri,” pungkasnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Safari Ramadan UMM Tekankan Ramadan Jadi Laboratorium Etika, Bukan Sekedar Tradisi Semata

Ramadan bukan sekadar jeda dari rutinitas makan dan minum. Ia adalah momentum koreksi diri bahkan kritik terhadap cara manusia memaknai ambisi, kuasa, dan hasratnya sendiri. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang pada 24 Februari lalu. Mengusung tema “Ramadhan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial”, giat ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. yang menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan sistematis untuk mengendalikan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap kekuasaan dan kenikmatan dunia. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, menurutnya, yang seharusnya terbakar bukan hanya dosa, melainkan juga keserakahan manusia. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah awal manusia sejak Nabi Adam, yang jatuh akibat godaan keabadian dan kekuasaan. Dalam perspektif itu, puasa hadir sebagai pendidikan spiritual yang terus diulang setiap tahun agar manusia belajar menahan diri dari kecenderungan yang sama. “Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar lapar dan haus. Orang yang makan atau minum karena lupa tetap sah puasanya. Artinya, esensi puasa bukan pada rasa lapar, tetapi kemampuan mengontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri pasti jatuh baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa,” ujarnya. Dalam ceramahnya, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian umat yang memahami ibadah secara kaku tanpa membuka ruang ijtihad pada aspek instrumental. Ia mencontohkan dinamika penentuan awal Ramadan di lingkungan Muhammadiyah yang bertransformasi dari rukyat menuju hisab hingga gagasan kalender hijriah global tunggal. Menurutnya, perubahan metode tersebut bukan inkonsistensi, melainkan keberanian intelektual membaca realitas dengan pendekatan ilmiah. Pembaruan, tegasnya, hanya berlaku pada instrumen, sementara substansi ibadah mahdhah tetap merujuk pada tuntunan Nabi Muhammad. Ia juga memaparkan tiga tingkatan puasa: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani berkaitan dengan pengendalian fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan perilaku sosial, sedangkan puasa ruhani berorientasi pada kedekatan spiritual dengan Allah. “Jika seseorang masih gemar berdusta dan menyakiti orang lain, Allah tidak memiliki kepentingan dengan lapar dan dahaganya,” tegasnya. Tema Safari Ramadan dinilai relevan bagi dunia akademik yang kerap berada di antara dua ekstrem: spiritualitas tanpa intelektualitas yang berujung ritualisme kering, atau intelektualitas tanpa kepedulian sosial yang mudah melahirkan kesombongan akademik. Melalui kegiatan ini, kampus menegaskan diri bukan hanya sebagai ruang produksi ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter tempat mahasiswa dan akademisi belajar menahan diri dari penyalahgunaan kuasa, kerakusan jabatan, serta pengabaian terhadap sesama. Pada akhirnya, Ramadan diposisikan bukan sekadar tradisi yang berakhir bersama takbir Idulfitri, melainkan laboratorium etika yang melatih manusia agar tidak terjatuh pada nista. Safari Ramadan menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian intelektual, tetapi dari keberhasilan manusia menundukkan dirinya sendiri.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Resmi Jadi Chair UNESCO, Misi Besarnya Selamatkan Air untuk Masa Depan

Mulai tahun 2026, Universitas Muhammadiyah Malang (Universitas Muhammadiyah Malang) resmi dipercaya menjadi Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem setelah melalui perjalanan panjang penguatan riset, inovasi pertanian berkelanjutan, serta pengabdian masyarakat di berbagai daerah. Pengakuan tersebut diberikan melalui kemitraan resmi dengan UNESCO, lembaga internasional yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan bahwa status UNESCO Chair merupakan bentuk kepercayaan global kepada perguruan tinggi yang dinilai mampu menjadi mitra strategis dalam menjalankan program keberlanjutan dunia. Menurutnya, posisi tersebut tidak mudah diraih karena membutuhkan rekam jejak nyata dalam riset dan dampak sosial. “University Chair itu artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita hitungannya yang ketiga. Bergabungnya UMM menandai langkah strategis kampus untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” ujarnya 27 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Salis menuturkan, upaya masuk dalam jejaring UNESCO berangkat dari visi kampus untuk menghadirkan kontribusi global melalui inovasi berkelanjutan. Berbagai program seperti Green Farming, Smart Farming, hingga pengembangan energi terbarukan mikrohidro menjadi fondasi utama. Meski tidak secara langsung berfokus pada konservasi air, pendekatan tersebut terbukti mampu menjaga ekosistem air secara menyeluruh. “Kita memang tidak secara khusus merawat air, tetapi melalui Smart Farming dan energi terbarukan itu akhirnya kita menyelamatkan air. Dari yang awalnya dibuang-buang, sekarang diperhatikan,” katanya. Momentum penting terjadi ketika tim UMM melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di Tabanan, Bali, wilayah yang dikenal dengan sistem pertanian Subak sebagai warisan dunia. Saat itu, pertanian terasering menghadapi ancaman akibat penggunaan pestisida dan alih fungsi lahan menjadi kawasan pariwisata. “Kalau sawah berubah jadi vila dan petani tidak bertani lagi, daerah resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan air, air itu dari mana?” ungkapnya. Sebagai mitra, UMM memiliki kewajiban mendukung program UNESCO, terutama terkait pelestarian air. Salah satu implementasinya dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan puluhan dosen untuk membantu masyarakat menemukan sumber air dan memperkuat ketahanan pangan. “Akar persoalan kemiskinan dan stunting di NTT itu karena tidak ada air. Maka kita membantu mencari titik-titik air di sana,” ujarnya. Di lingkungan kampus, komitmen tersebut diwujudkan melalui pengelolaan air berbasis hierarki penggunaan. Air dipandang memiliki prioritas sesuai fungsi agar tidak terbuang percuma. “Air itu sebenarnya ada kastanya. Air minum, air mandi, sampai air untuk mencuci. Jadi tidak boleh sekali pakai,” katanya. Terakhir, Salis menambahkan bahwa pengakuan UNESCO bukan sekadar prestasi, melainkan amanah untuk terus berada di barisan terdepan dalam isu keberlanjutan. Nilai tersebut selaras dengan visi Muhammadiyah tentang “Berkemajuan”, yakni memikirkan masa depan generasi mendatang. “Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi 50 tahun, 100 tahun, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita tetap membutuhkan lingkungan yang sustain, termasuk air,” pungkasnya.(faq)   Penulis; Faqih Ahmad Wafir Rahman

Unik! Bagi Takjil Ramadan, Agribisnis Bagikan Sayur Mayur ke Pengguna Jalan

Menjelang azan magrib berkumandang, ratusan paket sayur segar tersusun rapi di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan kolak, bukan es buah, dan bukan pula makanan siap santap seperti tradisi pembagian takjil pada umumnya. Ramadan kali ini, Program Studi Agribisnis UMM justru mengajak masyarakat berbuka puasa dengan cara berbeda dengan membagikan sayur kepada para pengguna jalan pada 24 Februari lalu. Konsep berbagi ini menjadi warna baru dalam semarak Ramadan di lingkungan kampus. Jika sebelumnya takjil identik dengan makanan instan atau minuman manis, Agribisnis UMM menghadirkan “reformasi berbagi” melalui paket sayur segar yang telah disesuaikan dengan menu masakan sehat untuk berbuka puasa. Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan berbagi paket sayur tersebut menjadi bentuk nyata penerapan nilai keilmuan agribisnis yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM turut menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut juga merupakan salah satu mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE) yang mendukung penguatan pembelajaran berbasis praktik serta kolaborasi antara kampus dan industri. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami rantai agribisnis secara langsung. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya. Sebanyak sekitar 200 paket sayur berhasil disiapkan oleh mahasiswa. Antusiasme masyarakat pun tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh paket habis dibagikan, menunjukkan bahwa inovasi berbagi dalam bentuk bahan pangan segar mendapat respons positif. Keunikan lainnya terletak pada konsep pengemasan yang telah disesuaikan berdasarkan satu menu masakan. Setiap paket dirancang menjadi satu hidangan lengkap, seperti sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcay. Konsep ini memudahkan penerima untuk langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat dan praktis. “Kami sudah paketkan sayur-sayurannya berdasarkan satu menu sayur,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar produksi komoditas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Reformasi berbagi dari makanan instan menuju bahan pangan segar menjadi simbol bahwa pertanian dapat hadir sebagai solusi ketahanan pangan sekaligus penggerak gaya hidup sehat masyarakat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi ciri khas Agribisnis UMM dalam menghadirkan kontribusi nyata yang menyatukan akademik, pemberdayaan ekonomi lokal, kemitraan industri, serta nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan.(*rik/faq)   Penulis: Roudhoutul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pengajian Persyarikatan di UMM Soroti Krisis Moral, Ibadah Harus Berdampak Sosial

Orang pintar tanpa bertakwa kepada Allah SWT bisa menjadi bencana bagi dunia. Hal itu ditegaskan langsung oleh Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., dalam Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM bertema Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat, 27 Februari 2026. Pria yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menekankan bahwa puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan harus menjadi energi moral yang berdampak pada gerakan sosial dan peradaban. Baginya, Ramadhan adalah momentum konsolidasi vertikal kepada Allah sekaligus penguatan horizontal untuk menjangkau dan memuliakan sesama. “Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa takwa tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus terinternalisasi menjadi karakter sosial. Salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna apabila tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Ciri orang bertakwa, lanjutnya, adalah dermawan, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan. Di situlah agama benar-benar hidup dalam realitas, bukan sekadar simbol. “Problem besar umat hari ini bukan pada minimnya ritual, melainkan pada lemahnya dampak sosial dari keberagamaan. Paradoks meningkatnya aktivitas ibadah yang tidak selalu berbanding lurus dengan menurunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Dalam konteks itu, sekularisasi dipahaminya bukan sekadar pemisahan agama dan dunia, melainkan kegagalan menghadirkan nilai ilahiah di ruang publik. Karena itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus tampil sebagai etos perubahan yang menyentuh struktur sosial, bukan hanya wacana normatif,” tegasnya. Dadang sapaan akrabnya mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kebencian, apalagi merendahkan dan mencaci orang lain. Dari sinilah pentingnya integritas intelektual ditegaskan. Ilmu tanpa iman, menurutnya dapat melahirkan kesombongan bahkan kehancuran. Ia mencontohkan bagaimana kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, lahir dari kecerdasan yang tidak dibimbing nilai takwa. Kalau intelektualitas tidak disertai integritas, ia bisa menjadi alat manipulasi. Menautkan langsung dimensi spiritualitas dan intelektualitas dalam tema pengajian tersebut. “Dalam konteks peningkatan SDM, dapat ditekankan bahwa tradisi membaca dan belajar merupakan fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu sebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban. Karena itu, penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. SDM Muhammadiyah, harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” pungkasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa etos kerja dan kepedulian sosial adalah napas Muhammadiyah yang harus terus dirawat. Ia menyebut Ramadhan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat empati dan kerja sama lintas elemen kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar kampus tidak tercerabut dari realitas masyarakat. “Melalui momentum Ramadhan, semoga kita diberi kekuatan hati untuk berbahu-bahu memberikan yang terbaik bagi umat dan bangsa. Pengajian ini pun tidak sekadar menjadi forum tausiyah, tetapi ruang konsolidasi nilai tempat spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan sebagai wajah persyarikatan yang mencerahkan,” pungkasnya.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

KH Ahmad Dahlan “Hadir” di Taman Merjosari, NgabubuRead UMM Bikin Suasana Jadi Edukatif

Sosok KH. Ahmad Dahlan tampak menyapa pengunjung di tengah keramaian di Taman Merjosari, Rabu (25/2/2026). Meski hanya dalam bentuk cosplay, kehadiran pendiri Muhammadiyah bersama istrinya, Siti Walidah, sukses mencuri perhatian ratusan warga yang memadati kegiatan serta memunculkan spirit perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam tradisi literasi, pendidikan, dan kepedulian sosial terasa hidup di tengah kegiatan NgabubuRead garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menunggu waktu berbuka puasa pun berubah menjadi pengalaman berbeda, tidak sekadar berburu takjil, tetapi diisi dengan aktivitas literasi, hiburan edukatif, hingga aksi berbagi yang menjadikan taman kota tersebut sebagai ruang belajar terbuka yang hangat dan penuh keceriaan. Kegiatan ini menghadirkan konsep ngabuburit produktif melalui musikalisasi puisi, mini game golf, serta berbagai aktivitas membaca bersama. Kehadiran cosplay Ahmad Dahlan dan Siti Walidah menjadi simbol penguatan nilai literasi sekaligus kepedulian sosial yang diwariskan dalam sejarah gerakan Muhammadiyah. Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Puluhan anak-anak tampak memadati booth UMM untuk mengikuti berbagai permainan edukatif dan membaca buku yang disediakan. Keseruan semakin terasa saat Mobil Kamis Membaca perpustakaan keliling milik UMM hadir membawa ratusan koleksi bacaan yang dapat diakses gratis oleh pengunjung. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, mengatakan NgabubuRead dirancang sebagai ruang produktif bagi masyarakat untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum tepat untuk memperkuat kebiasaan membaca sekaligus membangun ruang diskusi yang sehat di tengah masyarakat. “NgabubuRead bukan sekadar aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menguatkan spirit literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ramadan adalah waktu yang tepat memperkaya diri, baik secara spiritual maupun intelektual,” ujarnya. Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca di taman. Setelah acara utama selesai, peserta dan panitia melanjutkan kegiatan dengan membagikan makanan kepada masyarakat di jalan sebagai bentuk kepedulian sosial. Menurut Maharina, aksi berbagi itu menjadi simbol penguatan spirit Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, yakni nilai keberagamaan yang diwujudkan melalui tindakan nyata membantu sesama. Literasi, kata dia, tidak hanya berhenti pada membaca buku, tetapi juga harus melahirkan empati sosial. “Melalui NgabubuRead, UMM ingin menanamkan pesan bahwa membaca, berbagi ilmu, dan menumbuhkan kepedulian sosial adalah satu kesatuan gerakan yang saling menguatkan,” katanya. Di antara puluhan anak yang memadati area kegiatan, Naufal mengaku sangat menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang disediakan. Ia datang bersama teman-temannya dan langsung tertarik melihat mobil perpustakaan keliling yang dipenuhi buku cerita bergambar. Baginya, membaca di taman sambil menunggu berbuka menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Menurut Naufal, mini game golf dan berbagai permainan di booth UMM membuat suasana semakin seru. Ia juga mengaku senang bisa melihat cosplay tokoh sejarah secara langsung karena sebelumnya hanya mengenalnya dari cerita di sekolah. “Rasanya seperti belajar tapi sambil bermain,” katanya dengan wajah antusias. Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada Ramadan berikutnya. Selain mendapat banyak teman baru, Naufal merasa kegiatan tersebut membuat waktu menunggu berbuka terasa lebih cepat dan bermanfaat. “Kalau ada lagi, saya mau ikut lagi. Soalnya seru dan bisa baca banyak buku,” ujarnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman