UMM Terjunkan Tim Trauma Support Mobility dan Pendataan Korban

Universitas Muhammadiyah malang (UMM) tanggap untuk membantu para korban tragedi Kanjuruhan. Sederet tim diterjunkan seperti tim medis dan psikologis yang bertujuan mendampingi, menemani, mendengarkan keluh kesah keluarga korban serta memberikan pelayanan psikologis. Tim itu juga tergabung dalam gerakan trauma support mobility yang telah melaksanakan bantuan dan kordinasi. Salah satunya pada Kamis (6/10) lalu bersama dengan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy M.A.P. di teater Dome UMM. Selain tim UMM, gerakan trauma support mobility juga diisi oleh tim dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kab. Malang, HIMPSI Malang, Save the Children, Maharesigana UMM, MDMC, UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Merdeka, Universitas Brawijaya dan sederet lainnya. Hadir pula perwakilan dari BTS ARMY Help Center Indonesia yang akan mendukung proses trauma support. Muhadjir menilai bahwa tim gabungan ini merupakan upaya yang bagus untuk mengatasi insiden di Kanjuruhan. Berbeda dengan korban fisik yang bisa diukur dan diperkirakan sembuhnya, cedera korban mental lebih sulit untuk dihitung dan diidentifikasi. Bahkan bukan hanya korban saja, tapi juga kerabat dan keluarga yang ditinggalkan. “Kemarin saya sempat menemui bapak dari korban meninggal. Dua anaknya terenggut dalam insiden Kanjuruhan. Tentu, membantu dari sisi psikologis juga penting dan menyasar bukan hanya korban yang menonton, tapi juga para keluarga yang ditinggalkan,” tambahnya. Terkait dana operasional, ia menjelaskan bahwa ada dana siap pakai (DSP) di pemerintah daerah yang bisa dialokasikan. Termasuk salah satunya untuk memberikan santunan kepada keluarga dan kegiatan trauma support ini. Ia juga mendorong para rektor di perguruan tinggi Malang untuk turut berkontribusi dalam rangkaian pendampingan psikologis tersebut agar lebih masif. “Tak perlu kita melihat siapa yang duluan, siapa yang paling berkontribusi. Ini adalah bencana sosial yang sifatnya non-diskriminasi, maka semua harus ikut memberikan bantuan. Teman-teman juga bisa mengajak organisasi dan pihak lain untuk turut serta membantu dalam tragedi ini,” tegasnya pada perwakilan tim. Selain itu UMM juga berkolaborasi dan terus berkoordinasi dengan Aremania Kampus Putih untuk melakukan pendataan jumlah korban sejak (2/10) lalu. Koordinator tim pendataan sekaligus Aremania Kampus Putih UMM, Muh. Farhannudin Nur Avif menuturkan bahwa sampai saat ini timnya masih terus mencari data yang valid. Apalagi jumlahnya berbeda antara satu sama lain. Ada yang menemukan bahwa korban meninggal 125 orang, adapula yang 183, bahkan ada yang 200an. Maka, pendataan ulang dengan seksama menjadi hal yang penting. Selain itu, ia dan tim juga terus mencari korban luka-luka dalam tragedi malam itu. Jumlahnya tentu lebih banyak ketimbang yang meninggal. Ia mengaku bahwa proses pencariannya juga cukup memakan waktu karena lebih rumit. Farhan, sapaan akrabnya mengatakan bahwa tragedi pilu ini sangat membekas di hatinya. Ia menganggap semua Aremania merupakan saudaranya sendiri. Maka, salah satu upaya yang ia lakukan adalah mencari data valid korban hingga paling akhir. Apalagi banyak anak-anak yang menjadi yatim karena ditinggalkan orangtuanya, padahal niat awal hanya ingin menonton sepak bola. “Saya juga bersyukur pihak Kampus Putih sangat membantu kami dalam proses ini. Bahkan kemarin juga menawarkan untuk mendirikan posko di UMM. Senantiasa mendukung dan menyediakan alat-alat untuk mempermudah validasi data. Tentu kami sangat mengapresiasi hal tersebut. Pun dengan peran UMM untuk menghubungkan kami dengan Menko PMK untuk menyampaikan aspirasi kami ke pejabat lain dan pemerintah. Semoga proses investigasi dan penetapan tersangka bisa segera berjalan dengan cepat dan tepat,” tambah mahasiswa Teknik Sipil UMM itu. (*/wil)
JAC Tangkap CoE Konstruksi UMM

Demi melahirkan lulusan yang siap menghadapi kompetisi kerja, Universitas Muhammadiyah Malang terus melebarkan kerjasama internasionalnya. Terbaru, Vokasi UMM menggaet Japan Association for Construction (JAC) Jepang pada Rabu (10/5) untuk memberikan jalan para lulusan agar bisa bekerja di negeri sakura tersebut. JAC juga tertarik dengan adanya Center for Excellent (CoE) yang dikembangkan oleh Kampus Putih karena dinilai sebagai inovasi yang strategis di aspek sumber daya manusia (SDM). General Manager Project Department JAC Yasuhito Morishima menjelaskan bahwa kedatangannya ke UMM adalah untuk mencari SDM yang siap didatangkan dan berkarya di Jepang. Ia menilai bahwa Kampus Putih dapat menyediakan SDM mumpuni, salah satunya melalui CoE yang ada. Dalam hal ini yakni program-program yang terkait dengan konstruksi. Morishima juga menjelaskan bahwa ada 46 asosiasi yang berada di bawah naungan JAC. Mereka merupakan asosiasi yang terdaftar di sektor infrastruktur, transportasi, concrete pump dan lainnya. Bahkan JAC adalah satu-satunya perusahaan Jepang di bidang konstruksi yang bisa mendatangkan tenaga luar negeri. “Di Jepang, ada 33 sub bidang pekerjaan konstruksi. Kami juga akan terus mencari mitra-mitra yang mampu mencetak lulusan siap kerja. Dan saya rasa, UMM adalah salah satunya. Nanti, para lulusan akan mengikuti proses belajar Jepang terlebih dahulu, kemudian juga keterampilan teknis kontruksi sehingga aspek komunikasi dan skill sama-sama terasah,” tambahnya. Menariknya, UMM dan JAC tidak hanya melatih dan mengasah skill. Ada ribuan lowongan pekerjaan di Jepang yang bisa diisi oleh SDM-SDM Indonesia, pun dengan Kampus Putih. Total ada lebih dari 3800 kursi yang diperebutkan dan disiapkan bagi SDM Indonesia yang penuh talenta. “Saya pikir, etos kerja yang dimiliki orang-orang Indonesia sangat tinggi. Apalagi jika dibarengi dengan kemampuan bahasa Jepang yang baik serta kinerja yang apik. Tentu akan memberikan hasil yang menarik,” tuturnya. Adapun kedatangan perwakilan JAC ke Indonesia memang khusus bertujuan hanya untuk mengunjungi UMM. Hal itu tidak lepas dari keberhasilan training center yang mampu ratusan peserta. Bahkan secara konsisten memberangkatkan SDM ke Jepang yang bekerja di berbagai bidang. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa program kerjasama terkait konstruksi ini sangat relevan dengan CoE yang dimiliki Kampus Putih. CoE bertujuan untuk memastikan mahasiswa memiliki kepakaran dan keahlian spesifik. Maka menurutnya ini akan menjadi kerjasama yang saling mengisi. Satu pihak mampu mencetak lulusan dengan kemampuan yang sesuai, sementara pihak lainnnya beruntung karena mendapatkan SDM bagus untuk perusahaannya. “Kami memiliki lahan seluas lima beas hektar yang kini dikembangkan sebagai pusat CoE. Ada lebihd ari 40 CoE yang sudah berjalan, dirintis, bahkan baru dilaunching. Saya rasa kerjasama kami dengan JAC bisa memberikan hasil yang maksimal dan kemajuan bagi pengembangan CoE,” tambah Rektor asal Kediri tersebut. (*/wil)
ICEdu UMM: Kebangkitan Pendidikan Pasca Pandemi

Merespon isu pendidikan dan spiritualitas di masa pandemi serta pascapandemi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar The International Conference on Education (ICEdu), akhir September lalu. Kegiatan ini mengundang berbagai elemen masyarakat untuk berdiskusi seperti peneliti, pakar, dan praktisi dari akademisi, pemerintah, LSM, lembaga penelitian, dan industri. Membuka konferensi, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar transfer pengetahuan. Dalam konsep tarbiyah, kegiatan pendidikan tidak hanya mencakup hal yang sederhana atau ta’lim, tetapi mencakup kegiatan pendidikan yang lebih mendalam yakni ta’dib. Pendidikan yang mendalam tersebut yakni mengedepankan pengembangan karakter. Namun Konsep ini terkendala untuk dicapai dalam pendidikan di masa pandemi. “Sekarang, situasi sudah berubah. Siswa sudah bisa pergi ke sekolah dan menikmati pengalaman langsung di dalam kelas. Jadi, kita harus berjuang untuk menghidupkan dan merevitalisasi pendidikan yang menekankan pada pentingnya pengembangan karakter yang baik untuk anak-anak didik kita,” ujar Syamsul. Di sisi lain, dalam paparan materinya, Prof. Te-Sheng Chang mengatakan bahwa pengembangan profesionalisme dosen telah lama menjadi komponen penting dalam pendidikan tinggi. Selama empat dekade terakhir, pada rentang tahun 50-an hingga 90-an, pengembangan profesionalisme dosen telah mengalami lima fase. Tahun 50-an dan 60-an adalah era para sarjana yang berfokus pada keterampilan penelitian dan produktivitas. Tahun 70-an adalah era pengajar yang berfokus pada pengembangan keterampilan pengajar. Tahun 80-an adalah era pengembang, yang berfokus pada pengajaran dan penelitian yang bersifat fakultas sentris. “Di tahun 90-an adalah era pelajar, yang berfokus pada perubahan paradigma dari mengajar menjadi belajar. Lalu saat ini kita berada di era kerja sama dan jejaring yang berfokus pada kolaborasi antar fakultas untuk mendorong kajian interdisipliner,” terang Profesor National Dong Hwa University, Taiwan ini. Oleh karena itu, masih menurut Te-Sheng Chang, pembelajaran berbasis masalah yang berorientasi pada proyek penting untuk diterapkan. Pasalnya, desain pembelajaran ini tidak hanya memacu kreativitas mahasiswa, tetapi juga meningkatkan profesionalisme pengajar di universitas. “Untuk itu, kurikulum perlu dikembangkan dengan menggabungkan tiga konsep kunci, yakni desain partisipatif, pemikiran yang visioner, dan komunikasi visual,” terangnya. Di sisi lain, Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti kali ini mengambil angle yang berbeda dalam mengupas tema konferensi. Ia menyoroti bagaimana peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan dalam menyiapkan pendidik profesional abad 21. Menurutnya, ada tiga pilar penting dalam revitalisasi peran Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Pertama, pendidikan berbasis kompetensi menjadi salah satu misi utama perguruan tinggi. Sebagai pendidik, kompetensi yang harus dimiliki meliputi keompetensi pedagogi, professional, kepribadian, dan sosial. “Pilar yang Kedua, membekali peserta didik penguasaan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya pemanfaatan Internet of things (IoT), virtual/augmented reality, dan juga Artifical Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. Terakhir, LPTK berperan untuk membekali guru dalam mengintegrasikan pemanfaatan teknologi, pedagogi, dan pengetahuan substantif keilmuan dalam pembelajaran (TPACK),” tegasnya. Selain Prof. Te-Sheng Chang dan Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti, M.Si., M. Pd, acara ini juga turut mengundang pembicara lain seperti Assoc. Prof. Dennis Alonzo, Ph.D dari University of New South Wales Australia, Prof. Muhammad Ali dari University of California Riverside, Prof. Dr.
Pita Hitam di Wisuda UMM: Bentuk Kemanusiaan dan Keprihatinan Terhadap Korban Tragedi Kanjuruhan

Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang pada 1 Oktober 2022 telah membawa duka yang amat dalam bagi masyarakat indonesia. Tak terkecuali pada perhelatan wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke 105 periode ke III tahun 2022, Selasa (4/10) lalu. Para wisudawan beserta orang tua mengenakan pita hitam sebagai tanda rasa duka atas kepergian para korban. Tak hanya itu, penggalangan dana juga diadakan dalam wisdua tersebut sebagai bentuk saling mengasihi dan rasa kemanusiaan. Wisuda itu juga diawali dengan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Rektor UMM. Hadir dalam wisuda itu Direktur Utama PT INKA (Persero) Budi Noviantoro. Ia memberikan selamat bagi wisudawan yang telah melaksanakan amanah dengan baik. Baginya, menjadi lulusan yang tetap eksis di masa mendatang diperlukan tiga hal. Pertama yakni bermula dari akhir dan berakhir di awal. “Contohnya ketika saya membuat bus listrik. Saya tes terlebih dahulu, setelah itu baru menarik teori berdasarkan percobaan itu. Jika saya buat dari awal dulu, tentu tidak akan jadi apa-apa,” ungkapnya. Kedua, kalau sudah membuat, maka akan bisa memperbaiki. Ia mengaku beberapa kali menegur masyarakat yang suka membeli, tetapi tidak menghargai produk sendiri. Oleh karena itu, ia menghimbau untuk mencintai produk dalam negeri seperti yang telah dikatakan oleh presiden. Tidak ada salahnya membeli produk lokal untuk kemajuan bangsa. “Ketiga, inovasi forever. Kalau tidak memiliki jiwa inovasi, maka akan terlambat dalam bergerak,” tegasnya. Ia juga berharap UMM mampu melakukan riset-riset yang mengarah pada teknologi hidrogen yang ramah lingkungan. Menurutnya, teknologi hidrogen ini bisa menjadi kendaraan masa depan. “Indonesia adalah gudangnya material untuk hidrogen. Saya titip ke wisudawan agar bisa berpikir visoner. Apalagi di UMM sudah ada Center of Excellence (CoE) yang bisa menjadi wadah. Maka maksimalkan wadah ini untuk melakukan riset-riset bermanfaat,” terangnya. Pada kesempatan yang sama, hadir Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Ia mengucapkan turut berbelasungkawa, khususnya untuk Aremania dan keluarga yang telah menjadi korban tragedi di Kanjuruhan. “Mari kita berdoa semoga mereka yang meninggalkan kita dapat ditempatkan di sisi terbaikNya. Begitupun dengan mereka yang luka agar cetat membaik dan sembuh,” harap Muhadjir. Selain itu, ia mengingatkan kepada wisudawan untuk siap menghadapi Indonesia emas 2045. Jika tidak siap, maka akan ditinggal dan kalah dengan orang lain. Sebaliknya, jika lulusan UMM siap dan berada di barisan terdepan, tentu akan sangat membanggakan untuk diri sendiri, orang tua dan Kampus Putih. “Sebab selama di kampus ini, wisudawan telah dibentuk untuk menjadi orang profesional agar saudara bisa memberi peran di puncak Indonesia emas,” tegasnya. Ia juga berpesan kepada wisudawan UMM untuk merubah cara pandang dan berpikir berpikir. Salah satunya terkait kehidupan yang bersih, hijau dan mengurangi efek rumah kaca. Baginya, dunia berada dalam suasana global warming yang memerlukan tindakan konkret untuk menekan hal itu. “Saya ingin alumni UMM yang diwisuda untuk tidak kenal berhenti dan tetap semangat. Manfaatkan potensi dan otak saudara untuk memberikan solusi atas permasalahan masyarakat,” tuturnya. (ros/wil)
Sosok Angger, Aremania UMM yang Jadi Korban Tragedi Kanjuruhan

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berduka. Pasalnya salah satu mahasiswa Kampus Putih, Angger Aditya Permana menjadi korban dalam tragedi yang terjadi usai laga Arema melawan Persebaya (1/10). Ia menjadi salah satu dari ratusan korban yang meninggal malam itu. Angger, sapaan akrabnya merupakan mahasiswa jurusan Kehutanan Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP). Ia dikenal sebagai mahasiswa yang rajin dan baik. Sebagai orang Malang, ia sangat mencintai Arema dengan menonton timnya bertanding. Namun ia juga tak pernah meninggalkan kewajibannya untuk belajar sebagai mahasiswa. Mendengar musibah itu, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. datang dan melakukan takziah ke kediaman Angger. Ia menyampaikan belasungkawa yang sangat dalam. “Angger adalah anak kita, pun juga anak kami di UMM. Selama ini, para dosen di Jurusan Kehutanan juga melihat bahwa ia adalah anak yang baik dan taat. Tak ada catatan negatif maupun buruk selama berkuliah di Kampus Putih. Kami tentu berharap, semoga Angger husnul khotimah serta ditempatkan di sisi terbaik-Nya,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Nazar yang datang bersama tim UMM juga memberikan santunan sebagai bentuk kasih sayang. Mengobrol dan menemani keluarga yang masih merasa kehilangan. Pun dengan mengembalikan biaya studi yang sudah orang tua Angger bayarkan selama menimba ilmu di UMM. Ia salut dengan bapak Angger yang masih bersemangat dan terus berupaya menguliahkan anak-anaknya dengan bekerja sebagai ojek online. Selain Angger, kakanya juga sedang menimba ilmu di UMM. ia diterima lewat jalur bidik misi di jurusan Civic Hukum dan akan selesai dalam waktu dekat. “Saya sangat salut akan kerja keras bapak untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Upaya banting tulang bapak tentu mnejadi semnagat tersendiri bagi almarhum Angger dan kakaknya. Semoga keluarga terus diberi kelancaran rezeki serta kesehatan,” harap Nazar mengakhiri. (*)
Kokohkan Predikat Kampus Intenasional, UMM Gabung AUAP dan EURAS

Periode 2022-2026 menjadi sebuah target tinggi yang akan dicapai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam International Accreditation. Hal tersebut dimulai dengan resminya UMM sebagai member dari Association of Universities of Asia and the Pacific (AUAP) dan Eurasian Universities Union (EURAS). Adapun UMM resmi menjadi member AUAP dan EURAS sejak September lalu. Risa Herlianita, S.Kep, Ns., MS. selaku Kepala Bagian Kerjasama di Biro Adminitrasi Kelembagaan, Pengembangan SDM dan Kerjasama (KSK) menjelaskan bahwa AUAP merupakan sosiasi yang mewadahi anggotanya untuk berkolaborasi dan berinteraksi. Utamanya dalam hal budaya, sosial, politik dan ekonomi di kawasan Asia Pasisfik. Sedangkan EURAS merupakan asosiasi internasional nirlaba yang bergerak dalam pertukaran ilmu pengetahuan dan praktek di institusi perguruan tinggi terbaik guna menciptakan kemajuan standar pendidikan global di kawasan Eurasia. Risa, sapaan akrabnya mengatakan ini menjadi langkah awal UMM dalam pengakuan akreditasi internasional. Selain itu juga sebagai upaya melebarkan jaringan internasional dengan tujuan membuka kerjasama baru. Langkah ini menjadi sebuah bentuk implementasi Kampus Putih UMM dalam menggapai capaian atau milestone untuk tahun 2022-2026. “Bergabungnya kami di asosiasi perguruan tinggi ini tentu memberikan banyak keuntungan. Mulai dari bertambahnya link dan kemungkinan kerjasama hingga pandangan dunia akan UMM,” tambahnya. Dosen Ilmu Keperawatan UMM ini mengatakan bahwa bentuk kerjasama bukan hanya konferensi internasional semata. Melainkan juga pertukaran ilmu pengetahuan, praktek, penelitian, hingga pertukaran budaya antar negara. Sehingga melalui forum-forum tersebut, hubungan UMM dengan perguruan tinggi di asosiasi AUAP dan EURAS terjalin dengan baik. “Melalui kegiatan yang diadakan oleh AUAP dan EURAS ini, saya rasa UMM bisa bergabung dalam forum yang ideal dalam berjejaring dengan universitas lain dari seluruh dunia dan memperkuat kerjasama internasional” imbuhnya. Dalam prosesnya, pihaknya harus menunggu waktu selama satu bulan sebelum bisa diresmikan menjadi anggota dua asosiasi tersebut. Pun dengan proses dokumen yang menjadi salah satu poin penting agar Kampus Putih bisa jadi salah satu yang masuk. “UMM memang sudah memiliki ratusan kerjasama baik di tingat nasional maupun internasional. Tapi jumlah itu belum cukup dan harus terus ditingkatkan agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Apalagi melihat target UMM pada empat tahun ke depan yang mneyasar pada rekognisi dan akreditasi internasional,” tam
Tragedi Kanjuruhan: UMM Sigap Turunkan Tim Medis dan Pendampingan Psikologis

Tragedi memilukan terjadi pada Sabtu (1/10) di stadion Kanjuruhan. Sebanyak lebih dari 120 korban meninggal karena tragedi tersebut. Korban merupakan supporter Arema dan sederet anggota kepolisian. Selain itu adapula ratusan korban luka-luka yang harus mendapat perawatan. Tragedi ini menyisakan pilu, bukan hanya bagi suporter kedua klub saja, tapi juga penggemar sepak bola seluruh dunia. Terutama para keluarga korban yang tak menyangka hal itu bisa terjadi. Sampai saat ini, pihak UMM terus berupaya mendapimpingi keluarga para korban untuk menenangkan. Sederet tim dari Fakultas Psikologi dan RS UMM diturunkan sebagai bentuk kontribusi bagi masyarakat di tengah tragedi. Selain itu, Kampus Putih juga menurunkan tim medis dari RS UMM untuk membantu penanganan korban sejak malam tadi (1/10). RS UMM juga sudah berkoordinasi dengan sederet fasilitas kesehtan lain serta Dinas Kesehatn Kabupaten Malang. “Kami sudah berkoordinasi dengan banyak pihak dan langsung terjun membantu para korban di Kanjuruhan,” jelas Wakil Direktur RS UMM dr. Thontowi Jauhari, M.Kes. Terkait kondisi tersebut, Psikolog UMM Hudaniah S.Psi. M.Si. juga berkomentar terkait psikologis keluarga yang ditinggalkan korban. Menurutnya, setiap keluarga pasti merasakan kehilangan. Namun tingkatnya akan berbeda tergantung peran korban dalam keluarganya. Ada korban yang merjadi tulang punggung, anak pertama, anak tunggal, suami, anak dan lainnya. “Semakin kuat peran korban di keluarganya, maka semakin tinggi pula tingkat kehilangannya. Jika korban seorang ayah yang menjadi tulang punggung, maka kehilangan akan terasa sangat sakit bagi istri dan anak-anak. Pun dengan peran korban lainnya,” ungkap Hudan menjelaskan. Salah satu cara untuk mengurangi rasa kehilangan tersebut adalah dengan social support. Yakni Bagaimana keluarga, tetangga, atau lembaga pemerintahan terdekat seperti Rukun Tetangga (RT) maupun Rukun Warga (RW) menemani dan menanangkan. Kemudian, jika sudah membaik, keluarga yang ditinggalkan bisa beranjak dan melakukan langkah lain untuk melanjutkan hidup. Para kerabat juga bisa membantu baik dari segi material maupun non-material. Maka, melihat hal itu, UMM sigap menurunkan tim psikolog dari Fakultas Psikologi untuk mendampingi keluarga korban. “Kami berupaya hadir, menemani, dan mendengarkan keluh kesah keluarga yang ditinggalkan. Itu saya rasa bisa membantu. Kami juga berpesan agar jangan sampai para tetangga menanyakan kronologi dan kejadiannya. Karena hal itu malah akan memperburuk keadaan,” kata Hudan. (haq/wil)
CoE Anggrek UMM Kaji Peluang Bisnis Anggrek Level Internasional

Undang ratusan pelaku bisnis, peneliti, dosen, dan mahasiswa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Center of Excellence (CoE) Anggrek gelar International Seminar and Business Network. Kegiatan yang diinisiasi oleh jurusan Pendidikan Biologi ini diselenggarakan pada akhir September lalu di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Ketua pelaksana kegiatan Tutut Indria Permana, M.Pd. mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menegaskan peran bisnis anggrek sebagai salah satu penggerak ekonomi Indonesia maupun dunia. Oleh karena, itu seminar ini memilih tema The Contribution of Orchids Agribusiness to National Development. “Selain mengundang 100 pembisnis, peneliti, dosen, dan mahasiswa, kegiatan ini juga turut bekerja sama dengan DPW Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Jawa Timur,” ungkap dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut. Dalam event itu, dijelaskan beragam kondisi bisnis anggrek di berbagai negara. Salah satunya adalah pergerakan bisnis anggrek di Singapura. Selain itu, ada juga paparan materi mengenai konservasi anggrek liar di Malaysia beserta peningkatan kesadaran masyarakat agar anggrek tidak punah. Salah satu pemateri, Sales Manager PT Ekakarya Graha Flora Ir. Joko As’ad juga turut menyampaikan beberapa tips bagi pembisnis anggrek pemula. “Hal yang harus diperhatikan oleh para pemula adalah aspek pengembangan dan perluasan jaringan. Bisnis anggrek terbuka luas, tidak pernah sepi, berkelas, dan merupakan hal yang menarik. Tren ini perlu disambut baik dan dibaca sebagai peluang bisnis unggulan oleh masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa dalam perjalanannya, UMM akan terus melibatkan diri dalam kerja intelektual. Berupaya menciptakan pebisnis di bidang anggrek serta mencetak peneliti anggrek skala internasional. “Saya berharap seminar ini dapat menegaskan kepada khalayak umum bahwa UMM mampu membaca selera pasar dan membuka peluang bisnis yang menarik,” pungkas pria kelahiran Kediri tersebut. Di sisi lain, salah satu peserta seminar Retno mengaku sangat terkesan dengan event temu bisnis ini. Apalagi dengan pembahasan peran Indonesia dalam konservasi dan bisnis anggrek. Ia melihat Jurusan Pendidikan Biologi UMM mampu menjadi bagian strategis dan berperan aktif dalam peningkatan bisnis anggrek. “Saya kagum karena Pendidikan Biologi mampu menangkap tren kekinian dan peluang global pertumbuhan bisnis anggrek,” ungkap pengurus DPW PAI tersebut mengakhiri. (Syi/Wil)
Sering Juara Tari, Wisudawan Terbaik UMM Ini Juga Sukses Capai Nilai Sempurna

Memiliki prestasi di luar bidang akademik tapi tetap menjaga nilai tetap prima bukanlah hal yang mustahil. Hal tersebut disampaikan Tara Narendra Kirana, wisudawan terbaik dari program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain sukses menjaga nilainya tetap prima, ia juga selalu menjalankan aktivitas dan hobinya untuk menari. Tara, sapaan akrabnya mengatakan bahwa sangat rugi jika hanya menjadi mahasiswa tanpa menambah ilmu dan pengalaman lain di luar. Menurutnya, memaksimalka potensi dan bakat adalah pekerjaan yang menyenangkan. Adapun kegiatan tari sudah ia geluti sejak masih duduk di taman kanak.kanak. “Awalnya aku tertarik dengan kostum-kostum beserta aksesoris yang dikenakan para penari. Kemudian mencoba ikut sanggar tari dan mulai belajar hingga saat ini,” tambahnya. Darah penari yang turun dari ibunya juga memiliki peran penting. Meksi begitu, tak ada paksaan dari ibunya untuk ikut sanggar. Menurutnya, ibu menjadi inspirasinya dalam proses menguasai gerakan tarian. Tara mengatakan bahwa tari tradisional mempunyai keunikan sendiri karena memiliki kekhasan dari tiap daerah dan provinsi. Apalagi selalu ada nilai filosofis di setiap gerakan dan lenggokan yang ditampilkan. “Alhamduliah UMM sellau mewadahi saya untuk mengembangkan potensi. Bahkan saya bersama tim sempat memenangkan beberapa perlombaan tari tradisional di tingkat Nasional. Di tahun 2020 saya bersama tim meraih juara 2 membawakan tari Geleng Ro’om asal Madura di Universitas Kanjuruhan Malang. Kemudian pada tahun 2021 berhasil meraih juara 1 membawakan tari Jaripah asal Banyuwangi di Universitas Muhammadiyah Sukabumi,” jelas Tara. Tara menjelaskan dirinya menggunakan sistem skala prioritas agar hobi menarinya tidak mengganggu tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa. Setiap hari ia membuat daftar kegiatan dan tugas yang harus diselesaikan. Dengan begitu, ia bisa memilah mana yang harus didahulukan terlebih dahulu. Dengan begitu, nilai perkuliahannya bisa terjaga hingga mampu mendapat IPK sempurna. Setelah lulus dari perguruan tinggi, ia berniat terus aktif menjadi penari dan berharap bisa mengajak pemuda Indonesia untuk melestarikan budaya. Meski zaman terus maju, tapi budaya harus tetap dijaga. “Kuliah memang nomor satu, tapi jangan hanya jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja,” tegasnya. (zak/wil)
Tiga Mahasiswa UMM Raih Juara Debat Nasional

Usaha tidak mengkhianati hasil, pepatah tersebut seakan cocok dengan tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses meraih juara. Mereka berhasil menyabet tempat kedua dalam National Debate Competition bertajuk Harmoni Cinta Guru Pesta Daring Universitas Negeri Jakarta (UNJ), awal September lalu. Ada lebih dari 20 tim dari berbagai universitas se-Indonesia yang saling bersaing dalam kompetisi itu. Adalah Ferdy Aprizal dan Mohammad Rakan Putra Zazli Agus dari Fakultas Psikologi serta Hamim Faqih dari Hubungan Internasional yang mampu mengharumkan nama kampus. Ferdi, sapaan akrabnya menceritakan bahwa timnya hanya melakukan persiapan selama satu minggu sebelum kompetisi. Selain mental, retorika penyampian dan penguasaan materi juga penting. Mereka selalu berlatih diskusi dan juga melihat video debat yang ada di sosial media. “Persiapan kita dalam perlombaan kali ini lebih menguatkan retorika agar lancar ketika menyampaikan argumentasi dalam kompetisi,” ucapnya. Ia bersyukur pihak UMM selalu memberikan motivasi dan menyediakan organisasi yang mendorong kemampuan debat mereka. Ada LSO di tingkat fakultas, ada pula beragam UKM di tingkat universitas. Jadi, semua mahasiswa bisa ikut sesuai dengan minat dan passionnya. Bahkan mampu mengantarkan menuju puncak prestasi di berbagai lomba. Mahasiswa asal Tarakan ini melanjutkan bahwa pada babak penyisihan, timnya sempat bertengger di posisi akhir. Bukan hanya sekali, tapi saat quarter final, mereka juga duduk peringkat terakhir pula. Namun berkat mental baja, mereka mampu terus naik dan mempersembahkan yang terbaik. Hingga akhirnya masuk final. Menariknya, ia dan tim belum lama memenangkan juara dua lomba debat nasional pada event Festival Retorika Universitas Negeri Malang (UM), bulan Juli lalu. Menurut Ferdi, kuncinya adalah tidak meremehkan lawan sehingga bisa menampilkan upaya yang apik dan menghasilkan hal yang baik. “Kami tidak ingin jadi satu-satunya yang bersemangat meraih prestasi. Sasya mengajak mahasiswa-mahasiswa lain untuk menemukan bakat, potensi dan minat mereka. Kemudian diasah dan dikembangkan sehingga memberikan kelebihan pada diri. Pun dengan upaya mengharumkan nama Kampus Putih UMM di berbagai kancah. Baik lokal, nasional hingga internasional,” harapnya. (haq/wil)