Tertarik Batik, Mahasiswa Asing UMM Ingin Berbisnis saat Kembali ke Afrika Barat

Terpesona dengan kain batik Indonesia, Aminata Yamama Dawo, mahasiswa internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tekuni cara pembuatan batik. Mahasiswa yang lahir dan besar di Sierra Leone, Afrika Barat ini mulai mengenal batik sejak mengikuti salah satu program membatik yang diselenggarakan oleh lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM beberapa bulan lalu. Aminata, sapaan akrabnya mengaku bahwa ia sangat menyukai warna dan corak yang terdapat pada kain batik. Pembuatannya sendiri sangat unik dan menarik. Pada awalnya pembuatan batik terasa susah bagi Aminata. Hal ini terjadi karena proses yang diperlukan untuk membuat kain batik sangat lama. Selain itu langkah-langkah yang harus dilakukan juga terhitung banyak. “Saya mengalami kesulitan ketika menggambar pola dan detail-detail yang kecil. Namun berkat bantuan dari salah satu staf di LPK Batik Soendari, saya bisa melanjutkan pengerjaan batik saya dengan lancar,” ujar mahasiswa pascasarjana manajemen tersebut. Lebih lanjut, Aminata bercerita bahwa meskipun waktu pengerjaan satu kain batik sangat lama, program membatik yang diselenggarakan oleh BIPA UMM terhitung singkat, yaitu satu hari saja. Oleh karenanya, ia ingin belajar lebih dalam tentang cara pembuatan batik di luar dari program BIPA. “Saya ingin terus belajar tentang cara pembuatan batik agar dapat mengenalkan batik ke orang-orang di Sierra Leone ketika kembali. Selain itu saya juga ingin membuat banyak batik dan menjadikannya sebagai pakaian. Kemudian saya akan berbisnis kain maupun pakaian batik ketika sudah kembali ke Sierra Leone,” ungkap mahasiswa kelahiran tahun 1986 itu. Selain belajar batik tulis, Aminata juga turut mempelajari batik cap. Menurutnya, batik jenis ini realtif lebih mudah karena hanya mencap motif batik. Meski begitu, ia harus menyesuakian pola sehingga batik yang dihasilkan terlihat bagus dan indah. Aminata juga berkata bahwa ia juga ingin mengetahui budaya-budaya lain yang ada di Indonesia. salah satu keinginannya adalah bisa memasak makanan tradisional Indonesia seperti rendang, nasi padang, dan juga nasi pecel. “Saya suka belajar tentang budaya baru. Apalagi Indonesia memiliki banyak sekali budaya dan adat istiadat yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui. Saya berharap bisa belajar banyak selama berkuliah di UMM ini,” pungkas Aminata mengakhiri. (syi/wil)

Pertahankan Akreditasi Unggul, UMM Siap Jadi Leader Perguruan Tinggi untuk Raih WCU

Akreditasi Unggul yang kembali diraih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu bekal utama untuk memimpin perguruan tinggi lain dalam mencapai predikat World Class University (WCU). Hal itu disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah VII Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. dalam penyerahan sertifikat akreditasi Unggul UMM di Rayz Hotel, Jumat (9/9) lalu. Dyah, sapaan akrabnya yakin bahwa UMM mampu menjadi leader perguruan tinggi untuk mencapai WCU. Namun, perlu ada indikator yang jelas agar masyarakat bisa percaya. Salah satunya yakni akreditasi unggul. Kemudian juga adanya management information system higher education. Sehingga, ada hal yang bisa membuktikan bahwa kualitas perguruan tinggi terkait memang bagus. “Kami tentu mengucapkan selamat dan sukses kepada Kampus Putih UMM. Kami juga berharap, UMM bisa terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi berbasis internasional. Pun dengan jabatan fungsional yang terus meningkat,” tambahnya. Ia juga mengapresiasi berbagai program yang sudah dilakukan UMM, utamanya yang menyasar pada Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Apalagi dengan kehadiran Center of Excellence (CoE) dan Center for Future of Work (CFW) yang diinisiasi UMM. Menurutnya, hal ini menjadi bagian dari upaya untuk mewarnai pendidikan tinggi di Indonesia. “Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa pada dasarnya PTS maupun PTN tidak ada bedanya. Outputnya sama, pun dengan indikator penilaiannya. Yang membedakan hanyalah siapa pendiri dibaliknya, apakah pemerintah atau non-pemerintah. Maka saya yakin perguruan tinggi dan anak-anak kita keren-keren dan mampu bersaing sengan perguruan tinggi lain,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. bersyukur dengan akreditasi Unggul yang sukses diraih. Menurutnya, akreditasi menjadi nafas dan nyawa perguruan tinggi. Maka, bersyukur menjadi hal yang utama untuk menyikapi prestasi ini. “Bersyukur itu ada adabnya, yakni dengan tidak menyertakan rasa kesombongan pada diri. Pun dengan upaya mengambil pelajaran dari apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT,” ungkap rektor asal Kediri itu. Fauzan juga sempat membahas mengenai pentingnya SDM dalam memanfaatkan bonus demografi dan menyongsong Indonesia emas 2045 nanti. Maka dari itu, UMM berusaha memberikan kontribusi, salah satunya melalui CoE untuk mencetak generasi skillfull dan cakap agar mampu menopang Indonesia di masa depan. Pun dengan CFW yang mendorong anak muda untuk menguasai pekerjaan-pekerjaan masa depan. Adapun akreditasi Unggul ini merupakan puncak tertinggi akreditasi sebuah perguruan tinggi di tingkat nasional. Ada beberapa aspek yang dinilai, mulai dari sumber daya manusia yang ada, publikasi ilmiah, penjamin mutu internal dan sederet lainnya. Hanya ada segelintir perguruan tinggi yang mampu meraih arkeditasi ini. Pada periode sebelumnya, UMM juga menyandang akreditasi A dan dikonversi menjadi Unggul pada tahun lalu. Pada tahun ini, Kampus Putih berhasil mempertahankannya berkat kinerja yang baik di berbagai aspek. (wil)

MDMC di UMM: Inklusivitas Muhammadiyah Lewat Kemanusiaan

Gerakan kemanusiaan harus dilakukan tanpa memandang agama maupun keyakinan. Hal ini merupakan perwujudan dari Islam wasathiyah yang ingin diterapkan oleh Muhammadiyah. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Rahmawati Husein, MCP, Ph.D. pada gelaran Konsolidasi Kebangsaan Angkatan Muda Muhammadiyah. Kegiatan tersebut diselenggarakan secara luring bertempat di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (5/9) lalu. Lebih lanjut, Rahmawati, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ada empat prinsip kemanusiaan yang sejalan dengan Islam wasathiyah. Prinsip yang pertama adalah kemanusiaan yang mengutamakan penyelamatan hidup dan meringankan penderitaan. Kedua adalah melakukan tindakan berbasis kebutuhan tanpa membedakan golongan-golongan yang ada di masyarakat. “Prinsip yang ketiga adalah tidak memihak satu golongan ketika terjadi konflik ataupun perselisihan. Terakhir ada prinsip kemandirian yang tidak goyah oleh tujuan politik, ekonomi, militer, maupun tujuan lainnya,” ungkapnya menjelaskan. Salah satunya yang dilakukan UMM melalui Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana). Bagaimana Kampus Putih mendorong mahasiswa untuk menyalurkan kemanusiaan dengan berbagi kemanfaatan bagi sesama. Mulai dari membantu bencana gempa hingga penanggunalan Covid-19. Lebih lanjut, terkait implementasinya di tubuh Muhammadiyah, Rahmawati mengatakan bahwa dalam menangani berbagai bencana di Indonesia, MDMC telah bekerja sama dengan dengan berbagai organisasi. Beberapa organisasi tersebut seperti Karitas, World Vision International (WVI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), dan YAKKUM Emergency Unit (YEU). Di tingkat internasional, muhammadiyah juga turut menandatangai kesepakat global Faith Based Organization (FBO) yang diselengarakan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). “Selain itu MDMC juga inisiator pendirian Humanitarian Forum Indonesia (HFI) dan aktif ditingat internasional. Kami juga sedang mengusahakan qualified dari World Health Organization (WHO) untuk dapat membantu lebih banyak orang lagi. Dengan berbagai hal yang telah dilakukan, dapat kita simpulkan bahwa kerja sama lintas agama merupakan suatu keharusan,”  ujar Rahmawati. Meskipun telah melakukan berbagai upaya yang inklusif, Rahmawati mengatakan masih ada orang yang mempertanyakannya. Beberapa memandang untuk mendahulukan mereka yang sepaham. Bahkan ada yang melarang MDMC untum bekerjasama dengan organisasi berbeda keyakinan. “Untuk memahamkan mereka, forum-forum seperti ini sangat penting sebagai sarana pendidikan dan penyadaran tentang gerakan Islam wasatiah. Bagaimana kita memabantu tanpa memandang bulu. Saya juga ingin menyampaikan bahwa pengadaan pelatihan mengenai prinsip-prinsip wasathiyah juga perlu dilakukan untuk memahamkan warga Muhammadiyah maupun luar Muhammadiyah akan pentingnya hal ini,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Meriahnya Ajang Peksimida Solo Pop di Sengkaling UMM

Ada yang berbeda dari Sengkaling Kuliner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada awal september lalu. terdapat puluhan penyanyi dari berbagai kampus yang hadir untuk mengikuti lomba Pekan Seni Daerah (Peksimida) Jawa Timur. UMM menjadi salah satu kampus yang dipercayai oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) untuk menyelenggarakan lomba solo pop. Adapun ajang ini bertujuan sebagai pembinaan prestasi minat bakat mahasiswa, terutama di bidang seni dan budaya. Ima Wahyu Putri Utami, S.Pd., M.Pd selaku Ketua Pelaksana Peksimida menuturkan jika UMM dinilai memiliki fasilitas yang baik. BPSMI juga melihat Kampus Putih UMM sebagai kampus yang besar dengan berbagai macam prestasinya. “UMM menyambut kegiatan tersebut dengan tangan terbuka dan sangat mendukung kegiatan ini, baik secara material maupun non material. Apalagi sengkaling kuliner juga menjadi pilihan tepat karena memiliki daya tarik tersendiri dengan venue yang apik,” ujar dosen PGSD itu. Total ada tujuh kampus di Jawa Timur yang menjadi tuan rumah. Sementara Kampus putih UMM mendapat kesempatan menangani lomba solo pop. Peserta yang turut berkompetisi juga terhitung lebih banyak ketimbang cabang lain. Ada 48 peserta yang saling bersaing mendapatkan kemenangan. “Kami tentu berharap Peksimida di UMM ini bukan hanya menjadi ajang persaingan, tapi juga wadah silaturahmi antar perguruan tinggi di Jatim. Memperkenalkan UMM dan unit bisnisnya seperti Sengkaling, Rayz Hotel, RSU UMM dan sederet lainnya. Apalagi banyak pula penonton yang hadir untuk mendukung dan memeriahkan acara tersebut, “ jelasnya menambahkan. Di sisi lain, salah satu peserta lomba cabang Penyanyi Pop Putri, Salma Arshanty Rezanuardine  merasa senang bisa mengikuti perlombaan Peksimida di UMM. Sebelumnya, ia juga pernah mengikuti lomba menyanyi, namun baginya perlombaan kali ini memili vibes yang berbeda. Hal itu tidak lepas dari tanggung jawab yang ia terima, terutama ketika menjadi tuan rumah. “Meski sudah beberapa kali mengikuti lomba menyanyi, tapi Peksimida kali ini bikin saya deg-degan. Apalagi dihadiri oleh wakil rektor yang mendukung saya secara langsung,” ujar mahasiswa angkatan 2021 itu. Adapun mahasiswi yang kerap disapa Salma ini berhasil mengalahkan peserta lain dan mendapatkan juara 2 kategori pop solo putri. Ia berharap bsia terus melangkah dan meraih mimpinya. Salah satunya melalui jalan Peksimida ini. “Semoga ketika ada perlombaan seperti ini lagi, saya bisa mewakili UMM, membanggakan UMM dan bisa menjadi penyanyi sesuai cita-cita saya,” pungkasnya. (ros/wil)

Hadiri Konsolidasi AMM di UMM, Jenderal Polisi RI Ingin Generasi Muda Topang Indonesia Emas 2045

Bagi sebuah negara, stabilitas politik adalah salah satu syarat utama dalam upaya pembangunan. Hal tersebut disampaikan oleh Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo M.Si dalam Penutupan Konsolidasi Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (7/9) lalu. Turut hadir pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Malang Sanusi. Pun dengan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni diiringi dengan para pimpinan Ortom. Sigit, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan akan keamanan dan kedamaian. Apalagi kini Indonesia berupaya melakukan transformasi ekonomi dan menginginkan pertumbuhan ekonomi antara 5-6 persen. Sekalipun berada di tengah situasi global yang sulit. Maka, hal penting yang perlu ditingkatkan adalah aspek sumber daya manusia (SDM). Untuk menyukseskan itu, maka Sigit mendorong AMM untuk berkontribusi dengan berbagai cara untuk memajukan bangsa. Ia juga menilai bahwa terobosan yang disiapkan UMM, yakni Center of Excellence (CoE) dan Center for Future of Work (CFW) bisa mengisi program besar pemerintahan Indonesia. “Pun dengan pembangunan infrastruktur yang bisa mendukung dalam upaya melahirkan SDM yang andal. Selain itu penyederhanaan regulasi dan stabilitas politik,” tambahnya. Sigit juga menegaskan bahwa Polri sudah melakukan berbagai upaya untuk menjaga keamanan negara. Salah satunya terkait moderasi beragama. Ia mengatakan bahwa program Presisi yang dilaksanakan Polri selama salah satu sumbernya berasal dari Muhammadiyah. “Saya mengapresiasi Muhammadiyah yang merupakan organisasi besar di Indonesia dengan segala sumbangsihnya terhadap bangsa. Salah satunya kesigapan dalam menangani Covid-19 selama ini. Saya juga memiliki harapan besar pada AMM dan percaya adik-adik mahasiswa dapat mengisi sektor-sektor pemerintah dengan kemampuan yang dimiliki. Selama teman-teman mampu menjaga persatuan para angkatan muda, maka tentu kita akan menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan baik,” ungkapnya. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa konsolidasi ini bertujuan untuk menanamkan jiwa kebangsaan pada diri kader muda Muhammadiyah. Sehingga rasa untuk mengembangkan dan melindungi bangsa sudah tertanam sejak dini. Selain itu, konsolidasi ini menjadi sebuah ikhtiar dalam menyongsong Indonesia emas tahun 2045. “Dalam mempersiapkan Indonesia emas 2045 ini, UMM kini mencetuskan program CFW. Program tersebut sudah diimplementasikan dalam program CoE yang bertujuan untuk mencetak lulusan Kampus Putih UMM yang andal guna menopang Indonesia Emas 2045,” tambah Fauzan. Di sisi lain, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto, S.Hi. menegaskan bahwa AMM hadir sebagai gerakan dakwah yang inklusif dan bersama-sama mengajak menuju kebaikan. Mengutamakan kolaborasi demi membangun bangsa Indonesia. “Ke depan, gagasan dan ide yang sudah dihasilkan tidak hanya berhenti di konsolidasi saja, tapi bisa diimplementasikan sesuai dengan apa yang direncanakan. Bukan hanya menjadi penonton tapi menjadi gerakan yang mampu menebarkan kemanfaatan bagi sesama,” pungkas Nanto. (wil)

AmCor UMM Ajak Siswa Cakap Berbahasa Inggris

Memiliki kemampuan berbahasa Inggris dalam berkomunikasi merupakan suatu hal yang penting dalam memasuki dunia global. Belajar bahasa Inggris juga dirasa tidak cukup kalau hanya melalui materi pembelajaran di ruang kelas saja, namun harus praktek langsung. Oleh karena itu, American Corner (AmCor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) datang ke sekolah-sekolah dan memberikan motivasi. Kali ini tim Amcor datang mengunjungi Ar-Rohmah putri pada akhir Agustus lalu. Menariknya, tim AmCor UMM tidak hanya datang dengan mahasiswa Indonesia, tapi juga ada mahasiswa asing yang berbagi ilmu. Utamanya tentang bahasa Inggris. Salah satu volunteer senior AmCor, Emeralda Narulita Halim menekankan peserta untuk percaya diri dan tidak malu berbahasa Inggris. Tak apa sekalipun cara bicaranya masih kurang baik. “Semua memang membutuhkan proses. Keberanian untuk berbicara bahasa Inggris bisa membuat teman-teman lebih baik lagi. Terus latih dan praktekkan bersama  teman-teman lain,” tegasnya. Selain itu, AmCor turut menggandeng mahasiswa asing UMM asal Tanzania, Francis Raphael Sendalo. Ia memberikan waktu para peserta untuk berbiacara dengannya sebagai proses belajar bahasa Inggris. Francis juga berbagi tips mudah belajar bahasa asing serta pengalaman internasionalnya bersama para pejabat Tanzania dan negara-negara Afrika lain. Direktur AmCor UMMRia Arista Asih, P.hD. merasa senang timnya bisa berbagi ilmu di Ar-Rohmah Putri. Menurutnya, aktivitas seperti ini sangat baik untuk menignkatkan skill anak-anak muda. Apalagi bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang membantu mereka di tahap kehidupan selanjutnya. “Tak perlu malu meski bahasa Inggris dan aksesnya masih kurang. Saya yakin selama teman-teman terus berlatih, sedikit demi sedikit skill bahasa Inggris kalian akan menjadi lebih bagus. Kami juga menyediakan berbagai program yang bisa diikuti oleh mahasiswa maupun kalangan umum,” tambahnya. Di sisi lain, pembina English Club Ar-Rohmah, Laili Isna Nur Cahyani, mengucapkan terima kasih kepada AmCor UMM atas kunjungannya. Pihaknya memang ingin meningkatkan dan mengembangkan kemampuan santri dalam berbahasa. Selain itu juga skill public speaking sebagai sarana dakwah, tidak hanya dalam bahasa Indonesia tapi juga Inggris. “Sebelumnya, kami cukup kesulitan untuk mendapat pemateri yang berkualitas. Alhamdulillah, AmCor UMM datang bersama dengan pemateri berkualitas. Bahkan membawa mahasiswa asing untuk berbagi ilmu. Kami berharap kerja sama ini bisa terus terjalin dan kami pun bisa berkunjung langsung ke sana,” ungkap Laili. (zak/wil)

Dua Mahasiswa UMM Juara Debat Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak henti mengukir prestasi. Kali ini datang dari mahasiswa Fakultas Hukum UMM, ia adalah Amanda Putri Rahmawati dan Yogi Syahputra yang berhasil mengunci juara dua di lomba debat nasional bertajuk Public Expo 2022 pada akhir Agustus lalu. Total, terdapat 24 tim yang mengikuti perlombaan dengan menggunakan sistem debat british parliamentary, yakni dua orang dalam satu tim. Tim dari kampus putih UMM berhasil melesat ke final dan berjumpa dengan mahasiswa dari Universitas Insan Cita Indonesia. Adapun peserta lain berasal dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia seperti Universitas Sriwijaya, Universitas Hasanuddin dan lain-lain. Mahasiswi yang kerap disapa Amanda ini menuturkan jika ia dan tim mempersiapkan lomba dalam waktu singkat, namun cukup matang. Sebab ia dan Yogi telah melakukan riset mendalam terkait topik yang diangkat untuk nantinya dikemukakan ke juri dalam bentuk video. Terdapat tiga babak yang harus dilalui oleh tim kampus putih. Pertama babak penyisihan, semifinal dan kemudian final. Khusus untuk babak penyisihan, mereka mengirim video mosi ke pihak panitia. Ia dan Yogi merasa beruntung berkuliah Kampus Putih UMM. Hal itu tidak lepas dari sederet organisasi yang disediakan, baik yang meningkatkan skill di akademik maupun akademik. Terhitung, Amanda mengikuti tiga lembaga semi otonom (LSO) yang membekalinya dalam bertorika yakni LSO Peradilan Semu, Komunitas Riset dan Debat serta Pusat Kajian keilmuan (Pukas). “Dari sanalah saya belajar banyak hal. Tidak hanya ilmu jurusan yang saya tekuni, tapi juga cara berbicara, beretorika, hingga berorganisasi. Apalagi melihat bahwa lomba ini dilaksanakan secara tim, jadi mau tidak mau saya harus bisa berkompromi dan menyatukan ide bersama Yogi agar bisa memenangkan lomba ini dengan apik,” tegas mahasiswa kelahiran Lampung itu. Menurut Amanda, UMM juga sangat membantunya selama sebelum hingga proses perlombaan. Ada bimbingan, bantuan take video, mengedit video dan persiapan krusial lainnya. Bahkan nuga mengapresiasi kemenangannya dengan berbagai bentuk. “Adapun pada babak semi final kami berhadapan dengan tuan rumah, Universitas Negeri Makassar dan membahas mosi terkait pembangunan jalan tol tidak terdampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Sedangkan saat final, mosi yang diangkat adalah Konflik Palestina dan Israel serta sistem konfesionalisme lebih baik dari pada sistem two state dalam menyelesaikan konflik tersebut,”  ujar mahasiswi angkatan 2020 itu. (Ros/Wil)

Haedar Nashir: Inklusif Harus jadi Bekal Pemuda Berkemajuan

Di usia kemerdekaannya yang ke-77, Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan. Namun masih ada banyak tantangan yang menanti di depan. Oleh karenanya, peranan kaum muda dalam dalam memajukan bangsa Indonesia sangat dibutuhkan. Hal tersebut disampaikan oleh  Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. pada acara konsolidasi kebangsaan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Kegiatan tersebut digelar secara luring di hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (05/09) lalu. Lebih lanjut, Haedar sapaan akrabnya mengatakan bahwa ada beberapa masalah potensial yang akan mengancam kehidupan bangsa. Pertama adalah pembelahan politik dan idelogi. Dari pemilu ke pemilu seharusnya dapat mendewasakan masyarakat agar tidak terjadi berpecahan. Namun fakta di lapangan menunjukan bahwa pemilu selalu melahirkan perpecahan baru. Kedua, ada golongan orang yang menginginkan kekuasaan. Dalam hal ini, pembangkitan primordialisme atau keinginan menjunjung tinggi ikatan sosial sangat dibutuhkan. “Terakhir adalah bias dalam memproyeksikan ideologi kebangsaan. Beberapa kelompok kecil masyarakat yang tidak puas akan sistem kebangsaan mencoba untuk membuat idealisme sendiri dengan menggunakan Islam sebagai landasannya. Hal itu bisa menjadi sebuah ancaman bagi ideologi bangsa dan melahirkan suatu perpecahan. Pemahaman terhadap konsep pancasila harus benar-benar ditanamkan,” tegasnya menekankan. Dalam kegiatan tersebut, Haedar juga berpesan pada Angkatan Muda Muhammadiyah agar bergaul dengan berbagai macam orang yang berbeda. Hal ini akan membuka pandangan-pandangan baru yang belum pernah mereka temui. Selain itu, para kaum muda juga harus cepat tanggap terhadap perkembangan iptek dan teknologi terbaru. Hal ini akan menjadi instrumen penting dalam kemajuan Muhammadiyah kedepannya. “Jangan menjadi orang yang eksklusif, kita harus mejadi orang yang inklusif. Meskipun inklusif, kita juga harus memiliki pendirian yang kokoh dan juga pandangan-pandangan yang berkemajuan. Berkolaborasi dan saling belajar dari kesalahan satu sama lain juga menjadi hal yang penting. Saya Mpercaya, di tangan anak-anak muda, organisasi muhammadiyah dan bangsa akan memperoleh masa yang berkemajuan,” kata Haedar. Di sisi lain, perwakilan AMM, Diyah Puspitarini, M.Pd. menjelaskan bahwa gelaran acara ini dilaksanakan untuk menampung gagasan dan sumber pikiran dari para kader muda Muhammadiyah. hal ini juga akan berguna untuk kemajuan muhammadiyah dan bangsa di masa yang akan datang. “Dalam agenda ini, saya harap para narasumber dapat memberikan buah pikirannya sehingga mampu mendorong generasi muda Muhammadiyah menghasilkan ide dan inovasi cemerlang serta memberikan jalan keluar bagi persoalan bangsa,” tutur ketua umum pimpinan pusat Nasyiatul Aisyiyah itu. Senada dengan Diyah, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa konsolidasi ini penting untuk mengidentifikasi kekuatan dari berbagai perspektif yang ada. Keberadaan konsolidasi ini juga berguna untuk menyamakan persepsi serta ideologi untuk pergerakan di masa depan. “Banyak organisasi yg memiliki idealisme tapi tidak memiliki konsolidasi di dalamnya. Hal ini membuat mereka tidak dapat sampai pada tujuan yang diharapakan. Oleh karenanya, kita harus tahu dan jeli dalam melihat masa depan agar konsolidasi dapat berjalan dengan tepat. Kesempatan yang hadir saat ini, menjadi langkah strategis untuk mengidentifikasi kekuatan para Angkatan Muda Muhammadiyah dalam besaran kontribusi yang lebih besar,” ungkapnya mengakhiri. (*syi/wil)

Pra-Muktamar Muhammadiyah UMM: Matius Ho dan Romo FX Armada Riyanto Sebut Peran Toleransi Muhammadiyah bagi Kemajuan Bangsa

Kemajemukan di Indonesia bisa membawa bangsa kita menjadi lebih baik. Namun jika tidak diimbangi dengan rasa toleransi yang tinggi, kemajemukan itu akan menjadi sebuah ancaman untuk memecah belah bangsa kita. Itulah sepatah kata pembuka yang di ucapkan oleh Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, Ph.D. dalam acara Pra Muktamar yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda ini berlangsung secara luring di Dome UMM pada Sabtu (03/09) lalu. Lebih lanjut, Matius mengatakan bahwa pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah tertanam nilai-nilai tatanan negara Indonesia. Nilai tersebut meliputi kemanusiaan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Hal ini lah yang mempersatukan kemajemukan yang ada di Indonesia dan membuat bangsa ini merdeka. Namun kemajemukan akan menjadi boomerang jika masyarakat tidak menanamkan toleransi. “Survei yang diadakan di 17 negara maju di dunia, mengatakan bahwa keberagaman merupakan faktor penting yang menjadi pendorong kemajuan. Namun di saat yang sama konflik antar kelompok meningkat. Beberapa faktor penyebab konflik yaitu partai politik, suku, agama, Kebiasaan, dan lingkungan hidup,” katanya. Terkait faktor penyebab konflik, Matius menjelaskan bahwa di negara maju penyebab utama terjadi perpecahan adalah partai politik. Namun di negara berkembang seperti Indonesia, perpecahan biasa terjadi karena agama dan suku. Selain itu, adanya sosial media juga dapat memperparah ancaman perpecahan yang dapat terjadi di masa yang akan datang. “Sosial media bisa memberi dampak kuat bagi kehidupan sosial masyarakat. Algoritma sosial media hanya akan menayangkan hal-hal yang kita sukai dan melewatkan sudut pandang dari sisi yang lain. Hal ini dapat dengan cepat membuat seseorang menjadi radikal. Belum selesai dengan media sosial, dunia telah siap dengan metaverse. Oleh karenanya, kita harus membekali diri dengan lebih baik lagi utamanya dalam konsep kebersamaan,” ungkap Matius. Ia menegaskan bahwa kemajemukan tetap menjadi modal kemajuan peradaban Indonesia dalam menghadapi ancaman polarisasi sosial, sekaligus sebagai sumbangsih bagi peradaban dunia. Matius juga mengapresiasi dan menilai bahwa dalam hal ini Muhammadiyah berada di garis terdepan. Senada dengan Matius, Prof. Dr. Romo FX Armada Riyanto menjabarkan bahwa ada beberapa masyarakat yang masih tidak menerapkan konsep kebangsaan. Maka perlu adanya gebrakan yang perlu dilakukan Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah sudah memiliki andil besar dalam proses pembangunan bangsa. Muhammadiyah, dijelaskannya juga harus ikut andil pula dalam pembangunan tata kelola kehidupan global. Apalagi organisasi ini memiliki modal yang besar dan strategis untuk bisa melakukannya. “Saya menyarankan lima bidang yang harus dipertahankan muhammadiyah dalam merevitalisasi nilai kebudayaan yang ada dimasyarakat. Pertama adalah teladan yang baik. kedua adalah penerapan konsep inklusifitas. Ketiga adalah nilai kultural relasionalitas yang tidak diskriminasi. Keempat yakni kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Terakhir yaitu adanya penerapan budaya damai,” ungkap Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang itu. (*syi/wil)

Pra-Muktamar Muhammadiyah di UMM: Sejumlah Tokoh Tegaskan Peran Muhammadiyah Sambut Indonesia Emas 2045

Generasi yang akan menentukan keberhasilan Indonesia emas pada 2045 nanti adalah penduduk yang lahir di antara tahun 1980 hingga 2028 mendatang. Mereka yang akan menginjak usia produktif pada tahun di mana Indonesia berusia 100 tahun. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. dalam Sarahsehan Pra-Muktamar Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan pada Sabtu (3/9) lalu itu turut menghadirkan sederet pembicara andal untuk menstimulasi ide dalam menyongsong Muktamar Muhammadiyah. Lebih lanjut, Muhadjir yang juga membuka acara menegaskan bahwa penduduk dengan usia produktif memiliki peran penting. Jika mereka bekerja dengan produktif, maka pendapatannya akan mengalir pada tiga hal, kebutuhan diri, pembiayaan bagi usia non-produktif, serta tabungan. Besar kecilnya tabungan ini baik dari segi individu maupun agregat akan jadi taruhan negara dalam upaya menjadi negara maju. “Kalau kita mampu memanfaatkan bonus demografi dan penduduk memiliki pendapatan yang tinggi, maka kita bisa menjadi negara maju. Kalau tidak bisa memanfaatkannya, maka bonus demografi akan menjadi sia-sia,” tutur Muhadjir. Ia juga mengatakan bahwa usia seratus tahun bagi bangsa masih dianggap sebagia usia yang muda. Bahkan Muhammadiyah lebih tua karena sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Menurutnya, sudah semestinya Indonesia belajar banyak hal dari Muhammadiyah yang lebih tua. “Apalagi kalau kita lihat, sistem dan kepribadian Muhammadiyah yang lebih matang. Ini bisa jadi bahan yang bagus bagi bangsa untuk membenahi kekurangan yang ada,” tambahnya. Hadir pula dalam event itu Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak. Ia mengatakan bahwa dalam dokumen Indonesia emas 2045, tercantum bahwa Indonesia diharapkan mampu menjadi negara maju, salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia, dan memiliki sumber daya manusia yang unggul. Selain itu juga tingkat penguasaan Iptek yang tinggi dan kesejahteraan yang lebih baik serta merata. Ia menjelaskan bahwa menurut data dari International Monetery Fund (IMF), saat ini ekonomi Indonesia berada pada peringkat 15 dunia berdasarkan nominal GDP. Sementara, jika dilihat dari purchasing power parity, Indonesia bahkan sudah berada di peringkat tujuh di dunia. Diperkirakan pada 2030 Indonesia akan masuk ke lima besar dunia dengan besaran 5,42 triliun USD. Menurutnya, target lima besar ini sangat mungkin dicapai, bahkan jauh sebelum 2045. Namun ada tantangan-tantangan yang harus segera diatasi. Dua di antaranya pengangguran generasi muda dan ancaman hilangnya pekerjaan di masa depan karena disrupsi teknologi. “Saya sangat bangga dan mengapresiasi salah satu inovasi solutif yang dilakukan oleh UMM dengan membangun Center for Future of Work (CFW) dan Center of Excellence (CoE) di kawasan ekonomi khusus Singhasari. Harapannya, CFW dan CoE bisa menjadi jawaban agar kita bisa menghadapi beragam tantangan masa depan. Banyak stakeholder di nasional maupun internasional yang turut mendukung terobosan UMM ini, termasuk di antaranya pakar marketing dunia, Hermawan Kartajaya,” ungkapnya. Dalam menghadapi tantangan tersebut, Emil juga yakin bahwa Muhammadiyah tidak hanya berhenti pada pembahasan saja. Namun juga berusaha menggas ide dan kemudian melaksanakannya sehingga bisa memberikan manfaat lebih luas. Pada kesempatan yang sama, hal menarik lain disampaikan oleh Habib Huesin Ja’far Al Hadar. Menurutnya, moderatisme di tubuh Muhammadiyah sudah sangat baik. Muhammadiyah dinilai inklusif dan terbuka bagi semua kalangan. Bahkan sudah menjadi ciri awal sejak organisasi ini berdiri. Terkait Islam wasathiyah, Habib Ja’far mengatakan moderatisme atau wasathiyah bukan berarti tidak memihak pada siapapun. Namun, layaknya wasit yang berdiri di tengah, Muhammadiyah melihat ke kanan dan ke kiri secara fair. Tidak bias ke kanan maupun ke kiri. Muhammadiyah akan menilai suatu keadaan yang berdiri di hal yang benar. “Adapun moderatisme pada dasarnya bagian integral paling mendasar dari Islam. Jadi kemunculannya bukan karena terorisme atau radikalisme,” katanya. Habib Ja’far juga menyebut sederet implementasi moderatisme dalam Muhammadiyah. Mulai dari moderatisme ekonomi yang mencegah kemiskinan hingga moderatisme pendidikan dengan puluhan ribu lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah, termasuk UMM dan 174 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah lainnya. Pun dengan moderatisme moral yang dibuktikan sikap integritas yang tinggi, anti korupsi, disipilin dan lainnya. Moderatisme sosial Muhammadiyah juga ia nilai sangat baik. Bisa dilihat dari keterbukannya yang bagus, contohnya persentase mahasiswa non-muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah Kupang yang mencapai 70% lebih. Kemudian tiga aspek terakhir yakni moderatisme Muhammadiyah dalam aspek dakwah, kebangsaan, serta gender. “Mungkin satu masukan yang bisa didiskusikan lebih lanjut di Muktamar Muhammadiyah nanti adalah moderatisme digital. Saya seringkali hadir di forum digital, tapi susah sekali menemui orang-orang Muhammadiyah yang jadi dai digital. Padahal tantangan dan medan perang utama ada di sini. Hampir 63% orang itu belajar Islam lewat platform digital. Bahkan menurut riset, masyarakat Indonesia rata-rata menggunakan 8,5 jam untuk gawainya. Maka ini menjadi hal yang penting untuk segera didiskusikan dan dicari strateginya,” ungkap Habib Ja’far. Di sisi lain, Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center PP Muhammadiyah Rahmawati Husein, P.hD. menyampaikan Islam wasathiyah dari perpektif praksis. Bagaimana gerakan kemanusiaan yang Muhammadiyah lakukan menjadi bagian wujud Islam wasathiyah. Ia menjelaskan bahwa prinsip kemanusiaan ada empat yakni humanity, impatiality, neutrality dan independence. “Muhammadiyah menolong orang itu tidak didasarkan atas latar belakang agama atau golongan. Tapi, Muhammadiyah membantu didasarkan atas teologi Al-Maun dan prinsip-prinsip kemanusiaan,” tegas Rahmawati. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora BRIN Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani. Ia menjelaskan secara historis dan politis makna dari ummatan washatan. “Dalam konteks menuju Indonesia emas 2045 nanti, maka makna ummatan wasathan yang paling cocok dengan kita adalah bagaimana kita menjadi umat terbaik,” tegasnya. (*wil)