Pra-Muktamar Muhammadiyah di UMM: Sejumlah Tokoh Tegaskan Peran Muhammadiyah Sambut Indonesia Emas 2045

Generasi yang akan menentukan keberhasilan Indonesia emas pada 2045 nanti adalah penduduk yang lahir di antara tahun 1980 hingga 2028 mendatang. Mereka yang akan menginjak usia produktif pada tahun di mana Indonesia berusia 100 tahun. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. dalam Sarahsehan Pra-Muktamar Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan pada Sabtu (3/9) lalu itu turut menghadirkan sederet pembicara andal untuk menstimulasi ide dalam menyongsong Muktamar Muhammadiyah. Lebih lanjut, Muhadjir yang juga membuka acara menegaskan bahwa penduduk dengan usia produktif memiliki peran penting. Jika mereka bekerja dengan produktif, maka pendapatannya akan mengalir pada tiga hal, kebutuhan diri, pembiayaan bagi usia non-produktif, serta tabungan. Besar kecilnya tabungan ini baik dari segi individu maupun agregat akan jadi taruhan negara dalam upaya menjadi negara maju. “Kalau kita mampu memanfaatkan bonus demografi dan penduduk memiliki pendapatan yang tinggi, maka kita bisa menjadi negara maju. Kalau tidak bisa memanfaatkannya, maka bonus demografi akan menjadi sia-sia,” tutur Muhadjir. Ia juga mengatakan bahwa usia seratus tahun bagi bangsa masih dianggap sebagia usia yang muda. Bahkan Muhammadiyah lebih tua karena sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Menurutnya, sudah semestinya Indonesia belajar banyak hal dari Muhammadiyah yang lebih tua. “Apalagi kalau kita lihat, sistem dan kepribadian Muhammadiyah yang lebih matang. Ini bisa jadi bahan yang bagus bagi bangsa untuk membenahi kekurangan yang ada,” tambahnya. Hadir pula dalam event itu Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak. Ia mengatakan bahwa dalam dokumen Indonesia emas 2045, tercantum bahwa Indonesia diharapkan mampu menjadi negara maju, salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia, dan memiliki sumber daya manusia yang unggul. Selain itu juga tingkat penguasaan Iptek yang tinggi dan kesejahteraan yang lebih baik serta merata. Ia menjelaskan bahwa menurut data dari International Monetery Fund (IMF), saat ini ekonomi Indonesia berada pada peringkat 15 dunia berdasarkan nominal GDP. Sementara, jika dilihat dari purchasing power parity, Indonesia bahkan sudah berada di peringkat tujuh di dunia. Diperkirakan pada 2030 Indonesia akan masuk ke lima besar dunia dengan besaran 5,42 triliun USD. Menurutnya, target lima besar ini sangat mungkin dicapai, bahkan jauh sebelum 2045. Namun ada tantangan-tantangan yang harus segera diatasi. Dua di antaranya pengangguran generasi muda dan ancaman hilangnya pekerjaan di masa depan karena disrupsi teknologi. “Saya sangat bangga dan mengapresiasi salah satu inovasi solutif yang dilakukan oleh UMM dengan membangun Center for Future of Work (CFW) dan Center of Excellence (CoE) di kawasan ekonomi khusus Singhasari. Harapannya, CFW dan CoE bisa menjadi jawaban agar kita bisa menghadapi beragam tantangan masa depan. Banyak stakeholder di nasional maupun internasional yang turut mendukung terobosan UMM ini, termasuk di antaranya pakar marketing dunia, Hermawan Kartajaya,” ungkapnya. Dalam menghadapi tantangan tersebut, Emil juga yakin bahwa Muhammadiyah tidak hanya berhenti pada pembahasan saja. Namun juga berusaha menggas ide dan kemudian melaksanakannya sehingga bisa memberikan manfaat lebih luas. Pada kesempatan yang sama, hal menarik lain disampaikan oleh Habib Huesin Ja’far Al Hadar. Menurutnya, moderatisme di tubuh Muhammadiyah sudah sangat baik. Muhammadiyah dinilai inklusif dan terbuka bagi semua kalangan. Bahkan sudah menjadi ciri awal sejak organisasi ini berdiri. Terkait Islam wasathiyah, Habib Ja’far mengatakan moderatisme atau wasathiyah bukan berarti tidak memihak pada siapapun. Namun, layaknya wasit yang berdiri di tengah, Muhammadiyah melihat ke kanan dan ke kiri secara fair. Tidak bias ke kanan maupun ke kiri. Muhammadiyah akan menilai suatu keadaan yang berdiri di hal yang benar. “Adapun moderatisme pada dasarnya bagian integral paling mendasar dari Islam. Jadi kemunculannya bukan karena terorisme atau radikalisme,” katanya. Habib Ja’far juga menyebut sederet implementasi moderatisme dalam Muhammadiyah. Mulai dari moderatisme ekonomi yang mencegah kemiskinan hingga moderatisme pendidikan dengan puluhan ribu lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah, termasuk UMM dan 174 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah lainnya. Pun dengan moderatisme moral yang dibuktikan sikap integritas yang tinggi, anti korupsi, disipilin dan lainnya. Moderatisme sosial Muhammadiyah juga ia nilai sangat baik. Bisa dilihat dari keterbukannya yang bagus, contohnya persentase mahasiswa non-muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah Kupang yang mencapai 70% lebih. Kemudian tiga aspek terakhir yakni moderatisme Muhammadiyah dalam aspek dakwah, kebangsaan, serta gender. “Mungkin satu masukan yang bisa didiskusikan lebih lanjut di Muktamar Muhammadiyah nanti adalah moderatisme digital. Saya seringkali hadir di forum digital, tapi susah sekali menemui orang-orang Muhammadiyah yang jadi dai digital. Padahal tantangan dan medan perang utama ada di sini. Hampir 63% orang itu belajar Islam lewat platform digital. Bahkan menurut riset, masyarakat Indonesia rata-rata menggunakan 8,5 jam untuk gawainya. Maka ini menjadi hal yang penting untuk segera didiskusikan dan dicari strateginya,” ungkap Habib Ja’far. Di sisi lain, Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center PP Muhammadiyah Rahmawati Husein, P.hD. menyampaikan Islam wasathiyah dari perpektif praksis. Bagaimana gerakan kemanusiaan yang Muhammadiyah lakukan menjadi bagian wujud Islam wasathiyah. Ia menjelaskan bahwa prinsip kemanusiaan ada empat yakni humanity, impatiality, neutrality dan independence. “Muhammadiyah menolong orang itu tidak didasarkan atas latar belakang agama atau golongan. Tapi, Muhammadiyah membantu didasarkan atas teologi Al-Maun dan prinsip-prinsip kemanusiaan,” tegas Rahmawati. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora BRIN Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani. Ia menjelaskan secara historis dan politis makna dari ummatan washatan. “Dalam konteks menuju Indonesia emas 2045 nanti, maka makna ummatan wasathan yang paling cocok dengan kita adalah bagaimana kita menjadi umat terbaik,” tegasnya. (*wil)

Mahasiswa KKN UMM Dorong Potensi Siswa di Malaysia

Beri pendidikan kepada anak-anak Indonesia di Malaysia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kirim mahasiswa untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) ke daerah Kuala Lumpur serta Selangor, Malaysia.  Program ini merupakan kolaborasi antara Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Indonesia (RI) untuk Malaysia. Salah satu dosen pembimbing KKN UMM, Innany Mukhlishina, M.Pd, mengatakan bahwa program ini juga bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) RI Malaysia di Kuala Lumpur. Pun juga dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur. Pada kegiatan ini UMM mengirimkan 12 mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). “Para mahasiswa ini melaksanakan KKN selama 28 hari dari tanggal 26 Agustus sampai 23 September 2022 mendatang. Mereka akan ditempatkan di SIKL dan delapan sanggar belajar Indonesia yang ada di Kuala Lumpur serta Selangor. Para mahasiswa juga mendorong potensi anak-anak dalam budaya Indonesia, salah satunya kesenian tari,” terang dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini. Lebih lanjut, Innany menjelaskan bahwa populasi penduduk Indonesia di Malaysia cukup banyak. Tercatat, ada dua setengah juta orang Indonesia yang tercatat secara resmi berada di Malaysia. Sayangnya, masih ada sebagian yang tidak memiliki surat resmi. Hal itu berimbas pada anak-anak mereka yang tidak dapat bersekolah secara formal di lembaga pendidikan di Malaysia. “Tugas para mahasiswa ini di Malaysia adalah untuk memberi pendidikan kepada anak-anak Indonesia yang tidak bisa bersekolah secara formal. Pun juga sebagai upaya pengenalan bahasa dan budaya, apalagi ada sebagian orang tua yang menikah dengan etnis lain. Maka dengan ini, mereka bisa tahu dan belajar banyak tentang budaya yang Indonesia miliki serta tidak terjadi akulturasi budaya,” ungkap dosen asli Malang itu. Inany juga berharap, KKN yang dilaksanakan mahasiswa UMM dapat membantu anak-anak Indonesia di Malaysia untuk mengembangkan potensi dan minatnya. Sehingga bisa meraih dan menyongsong masa depan yang lebih cerah. Di sisi lain, Duta Besar RI untuk Malaysia, Hermono menyambut hangat kedatangan para mahasiswa KKN tersebut. Ia menilai, kehadiran anak-anak muda KKN memberikan sumbangsih yang bagus, utamanya dalam meningkatkan motivasi belajar dan cinta akan tanah air. “Saya yakin teman-teman mahassiwa tidak hanya memberikan kegiatan yang biasa saja. pasti ada terobosan dan inovasi sehingga menarik anak-anak didik untuk lebih mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Semoga selama program ini, transfer ilmu yang diberikan dapat semakin menambah pengetahuan anak-anak Indonesia di Malaysia,” ungkap Hermono mengakhiri. (syi/wil)

Rakornas Pesantren Muhammadiyah di UMM: Upaya Ciptakan Pesantren Berkemajuan

Jumlah pondok pesantren (Ponpes) di bawah naungan Muhammadiyah terus bertambah. Terbaru, ada 440 ponpes yang tersebar di seluruh Indonesia dengan lebih dari 67 ribu santri. Bahkan angka tersebut terus bertambah dari hari ke hari. Data itu dijelaskan dalam Rapat Koordinasi Nasional ke-V Pesantren Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (31/8) lalu. Turut hadir ratusan perwakilan dari pesantren seluruh Indonesia. Terkait hal itu, Menteri Koordinator PMK RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP menjelaskan bahwa pemerintah telah memberikan perhatian spesifik akan keberadan pesantren. Salah satunya melalui Undang-undang nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Dengan begitu, eksistensi ponpes yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu sudah diakui dan mendapatkan kepastian serta perlindungan hukum. “Adanya regulasi ini juga membeikan implikasi yang besar, baik dari segi bisnis, model pendidikan, anggaran, dan lainnya. Maka saya berpesan agar teman-teman mampu mengkaji dan memahami regulasi pesantren, termasuk produk turunannya. Perlu adanya kreativitas dan pikiran segar untuk membenahi dan memberi inovasi dalam sebuah regulasi,” tegasnya. Muhadjir mengatakan bahwa ponpes Muhammadiyah tidak hanya menyediakan pendidikan semata. Namun juga harus bisa memberikan bekal bagi peserta didiknya, agar mampu mewujudkan visi dan misi Muhammadiyah. Selain itu, ia juga berharap tiap pesantren dapat memiliki corporate culture yang mengakar sehingga ada ciri yang unggul. Dalam kesempatan yang sama, Ketua PW Muhammadiyah Jatim Dr. Saad Ibrahim, MA. mengutip apa yang dikatakan profesor antropologi dari Boston University, Robert Hefner bahwa seni Islam itu dapat dilihat dari Muhammadiyah. Hal itu tidak lepas gerakan Muhammadiyah yang memadukan ilmu sains dan agama, bahkan sejak awal berdiri. “Maka, pesantren Muhammadiyah harus bisa memberikan nilai lebih pada santri. Bukan hanya fokus mentransferkan ilmu agama, tapi juga mampu memberikan ilmu dunia yang dibutuhkan untuk memajukan umat,” tuturnya. Antusiasme perwakilan tiap pesantren juga tinggi. Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Dr. Maskuri M.Ed. Menurutnya, antusiasme yang tinggi juga berbanding lurus dengan semangat membina pesantren. Maskuri menjelaskan bahwa pada 2015 lalu, pesantren Muhammadiyah mencapai angka 127. Kini, jumlah tersebut melambung tinggi menjadi 440 dan terus bertambah setiap tahunnya. Perkembangan ini tentu memberikan tantangan baru, utamanya dalam aspek sumber daya manusia (SDM). “Kalau dihitung, satu pesantren kecil kira-kira membutuhkan ustad dan ustadzah sebanyak 14. Maka, untuk memenuhi SDM di tiap pesantren, minimal kita harus memiliki 6160 ustad yang mumpuni dan unggul. Itu kalau pesantren kecil, situasi berbeda akan muncul di pesantren yang besar,” paparnya. Sepak terjang pesantren juga bisa dimaksimalkan dengan membangun sinergisitas bersama perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM). Menurut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. pihak PTM tanpa ragu akan membantu mengembangkan berbagai hal. Pada dasarnya, ada banyak program yang bisa diakses oleh santri maupun ustaz ustazah. Utamanya yang mengenai entrepreneurship. “Pengetahuan keislaman dan iptek memang penting. Tapi hal yang tak kalah pentingnya adalah keterampilan hidup. Maka saya rasa, PTM khususnya UMM bisa mengisi aspek tersebut sehingga mampu melahirkan generasi unggul nan lengkap,” pungkasnya. (wil)

Roadshow 1000 Startup Digital di UMM Targetkan Satu Juta Startup

Indonesia memiliki potensi besar dalam meningkatkan aspek ekonomi. Salah satunya dapat dilihat melalui pasar yang besar dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Koordinator Startup Digital Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia  (Kominfo RI) Sonny Hendra Sudaryana mengatakan bahwa potensi itu harus digunakan semaksimal mungkin. Termasuk melalui pengembangan stratup yang mampu membantu masyarakat di berbagai aspek. Saat ini, tercatat ada 2.346 startup karya anak bangsa di Indonesia. Hal itu ia sampaikan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), akhir Agustus lalu. Melihat potensi itu, ia yakin akan muncul banyak startup baru yang bisa mendorong perekonomian negara. Maka, program 1000 Startup Digital Indonesia hadir dan melakukan roadshow di semua provinsi dengan memberikan materi mengenai caraa merintis startup. Sederet pemateri andal juga dihadirkan dalam rangka memberikan pemaparan yang terbaik dan mendorong peserta merintis strat upnya sendiri dan menambah jumlah startup di Indonesia. “Tentu kami berharap jumlah startup di Indonesia meningkat dan mampu melebihi India yang saat ini menjadi negara tertinggi di Asia. Sejauh ini, Indonesia masih menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara,” ucapnya di roadshow 1000 startup UMM. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, S.Pd., M.Pd. menyambut baik program 1000 startup ini. Menurutnya, program ini selaras dengan Center of Excellent (CoE) yang dikembangkan dan dijalankan oleh Kampus Putih UMM. Setelah lulus, mahasiswa didorong untuk menjadi pengusaha dan memberikan lapangan kerja bagi masyarakat. selain itu juga dapat menggapai pasar yang lebih luas. Fauzan juga berpendapat bahwa saat ini perlu adanya studi dan pembelajaran yang fokus mengkaji tentang teknologi dan informasi sejak dini. Sehingga target 1000 startup setiap tahun bisa tercapai. Bahkan ia berharap tidak hanya seribu, tapi mampu melahirkan satu juta startup dari anak-anak bangsa. “Harapan saya jangan hanya seribu, tetapi harus ada satu juta starup yang dilahirkan. Dengan begitu, aspek ini dapat menjadi ujung tombak menggerakkan ekonomi Indonesia di masa depan,” imbuhnya. Disisi lain, Sausan Putri selaku Manajer 1000 Startup Indonesia Hubungan 9 Jawa Timur mengatakan program ini memilki target melahirkan 40 startup. Dimulai dari prototipe hingga siap dipasarkan. Menariknya, program ini juga memiliki proses pendampingan berupa incubation class, feedback session, mentoring tatap muka, acceleration (Startup Studio), hingga completions startup. Pelaksanaan pendampingan tidak hanya sekali, namun dilakukan beberapa kali secara berkala. “Saya yakin, program ini bisa mengembangkan kretaivitas anak-anak bangsa di dunia digital. Sekaligus membantu perkenomian masyarakat di Indonesia. Mari satukan keberagaman dan mengubahnya menjadi kekuatan melalui teknologi digital,” katanya. (Haq/Wil)

Halal Center UMM Dampingi UMKM Pasuruan Lakukan Self Declare

Menurut data, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) sudah memberikan sertifikasi halal kepada 10.643 Usaha Mikro Kecil (UMK). Adapun di tahun 2022 terdapat 2.310 UMK yang telah tersertifikasi halal. Berdasarkan data tersebut jumlah UMK yang bersertifikasi halal masih sangat kecil dibandingkan jumlah UMKM di Indonesia yang mencapai 64,2 juta berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2018. Oleh karena itu, Halal Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan pendampingan self declare untuk membantu proses verifikasi dan validasi pernyataan kehalalan pada Komunitas UKM Berkaidah Amanah (KUBA) di Pasuruan. Terkait hal tersebut, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati., MP bersama tim halal center sukses melaksanakan pendampingan self declare halal serta penguatan produk pangan sehat UKM di Pasuruan pada Agustus lalu. Tidak hanya melakukan pendampingan saja, namun juga melakukan sosialisasi mengenai kegiatan self declare Kementrian Agama dan juga ikrar halal Muhammadiyah. Elfi, sapaan akrabnya mengatakan kegiatan penyuluhan ini sangatlah bermanfaat untuk para UKM di Pasuruan yang belum mengerti bagaimana alur ataupun tahapan prosesnya. Adapun self declare merupakan proses sertifikasi halal yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) yang sudah dimandatkan dalam undang-undang. Tujuannya yakni untuk memberikan kemudahan bagi para pelaku UKM. “Jadi seperti pernyataan terhadap status kehalalan suatu produk pada UKM secara mandiri. Maksudnya di sini ialah suatu UKM atau seorang pelaku usaha dapat menyatakan produknya halal jika telah memenuhi syarat wajib dalam prosesnya,” jelas Elfi. Sebelum melakukan self declare, pelaku usaha harus memenuhi syarat wajibnya yaitu memiliki pendampingan oleh Pendamping Proses Produk Halal (PPH) yang sudah terdaftar. Selain itu, dalam prosesnya UKM tersebut juga sudah harus memenuhi kriteria yang ada seperti bahan-bahan yang digunakan jelas dan dapat dipastikan kehalalannya. Elfi menegaskan bahwa self declare ini bukan tidak melewati proses komisi fatwa MUI. Penetapan sertifikasinya tetap harus dilakukan oleh orang berkompeten dalam bidang tersebut. Kegiatan pendampingan ini memang dapat dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan islam ataupun suatu lembaga keagamaan islam yang berbadan hukum atau perguruan tinggi. Salah satunya oleh Muhammadiyah dan UMM. Di sisi lain, ketua UKM KUBA, Siti Sa’adah Heru mengapresiasi pendampingan ini. Menurutnya, langkah yang diambil Halal Center UMM sangat baik sehingga puluhan anggota KUBA bisa mengerti dan mengurus self declare halal. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim yang banyak. “Tentu, produk yang halal akan menarik konsumen lebih besar lagi. Selain penyuluhan self declare, kami juga sudah berdiskusi dengan tim UMM untuk membangun eduwisata agar manfaatnya bisa lebih luas lagi,” tambahnya. (zak/wil)

UMM Pertahankan Akreditasi Unggul, Perkuat Kualitas Mahasiswa lewat CoE

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses pertahankan predikat sebagai kampus Unggul. Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan BAN-PT No. 494/SK/BAN-PT/Ak.Ppj/PT/VIII/2022 yang turun pada Selasa (30/8) lalu. Hal ini mengokohkan reputasi Kampus Putih sebagai perguruan tinggi bereputasi nasional dan internasional. Adapun predikat ini adalah puncak tertinggi dari sistem akreditasi perguruan tinggi. Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM menegaskan bahwa akreditasi ini menjadi bentuk keseriusan UMM dalam menjalankan perguruan tinggi. Menurutnya, kehebatan dan kekuatan tidak cukup diungkapkan lewat kata, tapi harus dibuktikan melalui rekognisi, baik akreditasi maupun sertifikasi. Akreditasi juga menggambarkan kredibilitas perguruan tinggi sebagai instansi yang menyelenggarakan tri dharma. Ia bersyukur bahwa UMM senantiasa dipercaya untuk mengemban predikat kampus akreditasi Unggul. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari kerjasama seluruh elemen dan pihak yang ada di Kampus Putih. Meski begitu, Fauzan menilai bahwa akreditasi ini belum cukup. Harus ada upaya mengemban tanggung jawab, salah satunya meyakinkan masyarakat bahwa UMM memang pantas menyandang akreditasi Unggul. Tidak hanya melalui jalur verbal dan audiovisual, tetapi juga harus memastikan output dan alumni UMM mampu menjadi pribadi yang mandiri.   “Maka, puluhan program Center of Excellence (CoE) yang ada di UMM memiliki peran penting untuk mewujudkan tujuan itu. Bagaimana mahasiswa mampu memiliki skill yang sesuai dengan industri sehingga bisa menjadi pribadi yang mandiri. Tidak hanya menjadi pekerja, tapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat luas,” tegasnya. Kampus Putih juga senantiasa berupaya melahirkan alumni-alumni yang mandiri sekaligus diperhitungkan di tengah masyarakat. UMM tidak ingin diakuai secara formal saja, tapi juga juga diakui unggul oleh masyarakat luas berkat kontribusinya. Maka, Program UMM PASTI memiliki andil dalam tujuan ini dengan memastikan mahasiswa lulus tepat waktu, pasti mandiri dan pasti bekerja. Dengan begitu, UMM dapat berkontribusi besar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal serupa juga disampaikan Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I UMM. Menurutnya, UMM merupakan kampus yang excellent. Maka perlu adanya upaya dalam mengapresiasi, merawat serta menjaganya dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan pemerintah dan masyarakat. Salah satu harapannya yakni adanya peningkatan minat masyarakat akan penyelenggaraan pendidikan di Kampus Putih. Begitupun dengan bertambahnya jumlah kerjasama yang diusahakan. Bentuk dari upaya lain UMM yang bisa dilihat adalah beragam sertifikasi internasional dan puluhan CoE berbasis prodi. Menurutnya, hadirnya CoE yang bekerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) memberikan kesempatan, kepastian dan pengalaman bagi mahasiswa. CoE juga dinilai bisa semakin memperkuat capaian-capaian UMM untuk memperoleh akreditasi Unggul, baik berbasis prodi maupun institusi. “Akreditasi Unggul ini adalah salah satu tahap yang harus UMM lalui. Kampus Putih senantiasa bergerak dan melakukan langkah-langkah sistematis dan strategis untuk mendapatkan pengakuan di level lebih tinggi yakni internasional,” pungkasnya. (*wil)

Lonjakan Drastis Jumlah Mahasiswa yang Banjiri Malang, Ini Kata Pakar UMM

Data mencatat bahwa akan ada 330 ribu mahasiswa yang membanjiri kota Malang pada tahun ajaran baru 2022/2023. 10.000 di antaranya merupakan mahasiswa baru UMM. Sebagian masyarakat merasa bahwa kedatangan para mahasiswa baru ini berdampak negatif berupa peningkatan kemacetan dan peningkatan kepadatan penduduk di Malang. Namun hal berbeda disampaikan oleh Dr. Wahyudi, M.Si, selaku dosen sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, kedatangan ribuan mahasiswa nyatanya juga membawa dampak baik bagi masyarakat Malang. Wahyudi menyampaikan bahwa ada beberapa faktor yang menarik kaum muda untuk merantau ke Malang. Pertama adalah ketersediaan lembaga pendidikan yang kredibel untuk meningkatkan pengetahuan. Kedua adalah sektor pariwisata yang menjamur di Malang maupun Kabupaten Batu. “Datangnya mahasiswa luar Malang juga membuat masyarakat Malang memiliki toleransi yang tinggi terhadap budaya dan nilai baru. Hal tersebut menjadikan kota Malang sebagai sebuah melting pot atau tempat peleburan berbagai nilai dan budaya. Kesiapan warga untuk menerima perantau juga terlihat dari peningkatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada,” ungkap dosen asal Jawa Tengah tersebut. Lebih lanjut, Wahyudi mengatakan bahwa tak bisa di pungkiri dampak negatif seperti kemacetan memang akan meningkat dengan bertambahnya jumlah perantau di Malang. Namun hal itu hanya akan terjadi di jam-jam tertentu saja. Hal positif yang akan mengiringi pertambahan perantau ini adalah pembangunan dan pembaharuan infrastruktur publik menjadi lebih baik. Hal ini akan bermanfaat bagi masyarakat Malang. “Pertambahan penduduk memang selalu membawa dampak negatif maupun positif. Namun masyarakat tidak perlu khawatir karena dampak negatif yang ada lebih kecil daripada efek positif yang diperoleh. Selain itu struktur sosial masyarakat Malang juga telah terbentuk dalam menangani berbagai ancaman yang ada seperti kriminalitas dan penyimpangan sosial,” tandas dosen kelahiran 1964 tersebut. Di sisi lain, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Setyo Wahyu Sulistyono, S.E., M.E, menjabarkan bahwa mobilitas penduduk akan menggerakkan komunitas ekonomi minor di sekitar kampus seperti usaha warung makan, fotokopi, dan kos. Selain itu dampak lain yang akan terjadi adalah peningkatan social entrepreneur di masyarakat. “Tak dapat dipungkiri bahwa industri pendidikan di Malang berpengaruh besar dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Hal ini juga sebagai sarana perbaikan ekonomi pasca pandemi Covid-19 menyerang Indonesia,” kata dosen asal Aceh Timur ini. Meskipun memiliki banyak dampak positif, masih ada dampak negatif dari mobilitas penduduk ini bagi ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah peningkatan harga dasar produk maupun jasa di Malang. Hal ini dapat terjadi karena dengan bertambahnya penduduk, maka permintaan akan barang dan jasa juga makin meningkat, sementara persediaan yang ada di masyarakat terbatas. “Kebiasaan dan budaya para pendatang juga turut mempengaruhi harga yang ada di Malang. Sebagai contoh, masyarakat kota besar yang terbiasa hidup dengan Air Conditioner (AC) akan mencari kos yang memiliki fasilitas tersebut. Penambahan fasilitas  ini akan meningkatkan harga kos yang awalnya berkisar 600.000 perbulan menjadi 1.000.000. Lama kelamaan peningkatan ini akan dianggap sebagai harga standart sebuah kos,” pungkasnya mengakhiri. (*syi/wil)

UMM Launching CoE Koi, Lahirkan SDM Unggul dan Entrepreneur Andal

Pendirian Center of Excellence (CoE) Koi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) dinilai dapat mendorong generasi muda menjadi entrepreneur dengan skill mumpuni. Dengan begitu, lapangan pekerjaan semakin banyak dan mampu mengentaskan kemiskinan. Hal itu disampaikan oleh Direktur Produksi dan Usaha Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI Ir. Arik Wibowo, M.Si. dalam Malang Koi Show di UMM, Minggu (28/8) lalu. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa budidaya ikan hias belakangan semakin meningkat. Maka, dengan adanya CoE Koi UMM, diharapkan muncul pengusaha muda yang fokus di bidang ini. Hingga nantinya bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. “Adapun produksi ikan pada 2021 kemarin mengalami peningkatan dibandingkan 2020 dengan jumlah 1,6 miliar ekor berbanding 1,4 miliar ekor ikan. Berkat peningkatan ini, kita menargetkan agar Indonesia mampu mendapatkan predikat sebagai penghasil ikan hias nomor satu di dunia. Mengalahkan Singapura, Cina, bahkan Jepang,” tegasnya. Arik juga memberikan apresiasi yang besar bagi UMM karena menyediakan sekolah profesional yang fokus pada ikan hias koi. Ia berharap CoE ini bisa memberikan skill baru bagi peserta sehingga mampu memberikan edukasi dan pekerjaan di kemudian hari. Adapun CoE Koi UMM menjadi satu-satunya sekolah profesional Koi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Ada tiga program utama di dalamnya yakni kelas-kelas yang materinya langsung diberikan oleh ahli dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Di kelas tersebut, peserta akan mendapatkan materi yang berbeda ketimbang yang ada di kelas. “Kemudian ada juga program praktek kerja profesional dan praktek bisnis koi yang akan memberikan mahasiswa pengalaman nyata mengelola koi dari hulu sampai hilir. Sehingga mereka bisa tahu dan paham apapun mengenai ikan koi. Apa yang harus dilakukan untuk membuat ikan-ikannya sehat, terhindar penyakit, hingga bagaimana proses bisnis koi akan terus berjalan,” tegas Riza Rahman Hakim, S.Pi., M.Sc. selaku dosen prodi akuakultur UMM. Sampai saat ini, CoE Koi prodi akuakultur UMM sudah menggaet beberapa DUDI seperti CV Indo Koi Malang, Astro Koi Blitar dan Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI). Ke depannya, akan ada banyak mitra yang turut bergabung dan berkontribusi dalam program CoE ini. “Tentu ada berbagai prospek kerja yang bisa dimasuki oleh lulusan sekolah profesional CoE Koi ini. Tidak hanya terbatas menjadi seorang peternak koi, tapi juga pebisnis, peneliti, hingga nantinya bisa memberikan terobosan atau inovasi baru dalam dunia ikan koi,” ungkap Riza mengakhiri. (*wil)

Menko PMK di Malang Koi Show UMM Sebut Bisnis Koi Bisa Kurangi Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang harus dientaskan. Maka, bisnis budidaya koi menjadi salah satu jawaban atas masalah itu. Hal itu ditegaskan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP dalam penutupan Malang Koi Show di UMM, Minggu (28/8). Turut hadir pula Wakil Bupati Malang Drs. Didik Gatot Subroto S.H., M.H. dalam ajang koi itu. Muhadjir melanjutkan pendirian Center of Excellence (CoE) Koi UMM adalah satu upaya strategis dalam pengembangan bisnis koi. Pun juga sebagai usaha mewujudkan cita-cita pemerintah Indonesia untuk menjadi poros perikanan dunia. “Kerjasama yang dibangun UMM dengan mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) adalah sebuah langkah yang bagus. Dengan begitu, kemajuan dan pendidikan akan budidaya koi bisa terlaksana,” tambahnya. Hal tak jauh berbeda disampaikan Didik. Menurutnya, hobi yang dijalankan para peserta bisa dijalankan dengan profesional sehingga menghasilkan kapital. Apalagi dengan dibukanya kelas profesional koi oleh UMM yang diharapkan mampu memberikan edukasi mumpuni. Ia juga mendorong mahasiswa untuk serius ketika menekuni dunia koi karena aktivitas ini nyatanya membantu dunia perikanan Indonesia. “Pak bupati juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dilangsungkannya Malang Koi Show ini. Pun dengan CoE yang diluncurkam oleh UMM. Bahkan nanti Pak bupati juga akan ambil bagian di kelas profesional koi,” katanya. Wabup Malang yang juga alumnus UMM itu berharap langkah-langkah yang sudah dijalankan ini bisa didampingi dengan baik oleh kementerian kelautan dan perikanan. Sehingga dapat memberikan hasil maksimal serta memberikan manfaat lebih luas ke masyarakat. Adapun yang menjadi juara umum dalam ajang Malang Koi Show itu adalah Heru Santoso, peserta asal Magetan. Ikan koinya berhasil mengalahkan peserta lainnya dengan perolehan poin sebanyak 100.350 dari 12 juri yang ada. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa ajang ini menjadi bahan bakar lahirnya CoE Koi dari prodi akuakultur UMM. Dengan begitu, lulusan sekolah profesional ini bisa mengangkat ekonomi masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan atau dengan memberikan edukasi. “Saya yakin merjasama strategis UMM dengan DUDI dapat menjadikan koi sebagai komoditas bagus dan menjadi bagian dari kemajuan ekonomi Indonesia,” harapnya mengakhiri. (*will)

Juri Malang Koi Show di UMM Beberkan Alasan Ikan Koi Mahal

Ikan koi memang dikenal sebagai ikan yang mahal. Harganya tidak hanya mencapai  jutaan, bahkan bisa mencapai milyaran. Salah satunya ikan yang diikutsertakan dalam ajang Malang Koi Show yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (27/8). Santoso selaku satu dari sederet juri Malang Koi Show menjelaskan bahwa harga koi dipengaruhi oleh berbagai aspek. “Jadi, yang mempengaruhi harga koi adalah kualitas, body, warna, serta kemenangan yang didapat diberagam kontes. Semakin banyak kejuaraan yang diraih, semakin naik pula harganya. Pun dengan keunikan warna dan corak. Semakin unik corak yang ada di kulit ikan, semakin mahal juga bandrolnya. Adapun selama ini, ikan termahal yang pernah saya temui yakni seharga 1,4 miliyar rupiah,” jelasnya. Santoso yang sudah menggeluti dunia ikan koi sejak 26 tahun lalu itu mengatakan bahwa ada beberapa aspke yang menjadi poin penilaian dalam ajang tersebut. Badan dan kualitas kulit menjadi dua hal pertama. Ia melihat apakah kulit ikan yang dinilai kusam atau cerah. Kemudian juga tata letak warna atau corak yang dimiliki oleh ikan. Namun, jika ikan yang dinilai berwarna polos, maka yang dilihat adalah kualitas kulit tanpa memasukkan corak ikan. Persentase penilaian ikan koi polos yakni 50% untuk kulit dan 50 persen untuk body. Sementara untuk ikan koi dengan corak ada tiga aspek yang dilai. Terkait pembagian penilaian, ia menyebut bahwa tim juri menilai berdasarkan jenis dan ukuran ikan. Terhitung ada 21 jenis yang dilombakan termasuk kohaku, shiro dan kawari. Kemudian juga dibedakan antara ukuran-ukuran berdasarkan selisih 5 cm. Adapun ikan yang turut serta mencapai lebih dari 1500 ikan. “Saya tentu mengapresiasi UMM karena mau dna mampu mengadakan ajang bergengsi ini. Apalagi dengan peluncuran Center of Excellence Sekolah Koi yang makin meningkatkan komoditas sektor perikanan. Apalagi ikan koi memiliki peluang bisnis yang tinggi,”tambahnya. Adapun pelaksanaan Malang Koi Show juga menjadi langkah UMM dalam mengembangkan CoE Sekolah Profesional Koi. Hal itu dikarenakan Koi dianggap sebagai komoditas yang menjanjikan di masa depan. Apalagi dengan nilai bisnisnya yang stabil dan terus berkembang. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Jawa Timur saja. Salah satunya Yayan Ainul Wahid, pemilik ikan Koi yang berasal dari Bandung. Ia mengaku bahwa ikan-ikan koi peliharaannya selalu diikutkan konten tiap minggu di berbagai kompetisi. Adapun di Malang Koi Show, ia mengikutsertakan ikan koi jenis sankai dan showa di kelas A panjang 75. “Perawatan koi sebenarnya gampang-gampang susah. Hal yang perlu diperhatikan tentu adalah kualitas air dan kadar oksigen. Maka hadirnya CoE Koi di UMM saya rasa menjadi terobosan yang bagus untuk mengembangkan potensi sektor Koi,” ungkapnya. Yayan juga senang akrena aktivitas pencinta koi kembali ramai. Apalagi dua tahun ke belakang banyak kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan karena pandemi. Ia juga berharap muncul koi-koi unik yang akhirnya mampu memenangkan banyak kontes, salah satunya Malang Koi Show yang ada di UMM. (*wil)