Malang Koi Show di UMM Tingkatkan Komoditas Bisnis perikanan

Sebanyak 1700 ekor ikan koi meriahkan Malang Koi Show, ajang hasil kolaborasi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) dengan Malang Koi Club. Digelar pada Sabtu (27/8), kompetisi ikan koi tersebut dibuka langsung secara simbolis oleh Bupati Malang Drs. Sanusi, MM. dan Rektor UMM Dr. Rektor Fauzan, M.Pd. dengan melepaskan ikan koi ke dalam akuarium. Perlombaan tersebut merupakan satu dari tiga rangkaian acara yang tersedia. Dua lainnya adalah temu bisnis koi dan launching Center of Excellence (CoE) Koi milik prodi akuakultur UMM. Ada sederet piala bergengsi yang diperebutkan dalma Malang Koi Show. Mulai dari Piala Menko PMK, Piala Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI, Piala Bupati Malang, Piala Rektor UMM, hingga Piala Rektor Institut Injil Indonesia. Para peserta juga datang dari beragam daerah se-Indonesia untuk memenangkannya. Sanusi menilai bahwa UMM selalu menangkap potensi dan peluang yang bisa dikembangkan. Salah satunya buktinya dengan peluncuran CoE Sekolah keahlian Koi. Dari sisi ekonomi, berbisnis ikan cukup menguntungkan. Disebutkan Sanusi, di lahan seluas setengah hektar di tumpang dapat menghasilakn 350 juta dalam waktu enam bulan. Maka dalam setahun dapat mendapatkan 700 jutaan. “Jika dibandingkan dengan penghasilan petani padi, dalam enam bulan mencapai 40 juta dan setahun 80 juta. Maka bisnis ikan tentu menguntungkan, apalagi dalam usaha ikan Koi. Maka, Malang Koi Show menjadi agenda yang bagus untuk mengembangkan bisnis ikan koi dan sebagai upaya edukasi,” tambahnya. Hal tak jauh berbeda disampaikan Fauzan. Menurutnya, Malang Koi Show menjadi salah satu energi pendorong bagi kelas profesional Koi untuk berkembang. Apalagi sejauh ini, UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang memiliki CoE Koi. Pengembangan puluhan CoE di UMM bukan tanpa alasan. Fauzan menegaskan bahwa 2030 menjadi awal puncak bonus demografi. Maka dengan CoE, diharapkan lahir sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam menyongsong bonus demografi. Pun dengan menyambut era Indonesia emas pada 2045 nanti. Saat ini, lulusan perguruan tinggi belum cukup menjawab permasalahan di masyarakat dan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Sebagian besar harus mengikuti pelatihan selama enam bulan hingga setahun agar bisa menjadi SDM siap pakai yang sesuai dengan kebutuhan industri. “Maka puluhan CoE sekolah profesional dari UMM ini hadir membawa angin segar untuk menjawab itu. Saat masyarakat butuh SDM yang ahli di bidang ikan Koi, UMM bisa menyediakannya. Pun di bidang anggrek, kokoa, udang, unggas, dan lainnya,” ungkap Fauzan mengakhiri. (wil)

UMM Beri Solusi lewat Icon-TINE Bahas Teknologi Transportasi hingga Internet 6G

Seiring berkembangnya teknologi trasnportasi, tidak dipungkiri ruang hidup dalam kota semakin menipis. Menanggagpi permasalahan tersebut, diperjelas oleh Prof. Matthew Bruke, bahwa saat ini 25% ruang dalam kota telah terisi oleh transportasi. Hal itu ia ungkapkan dalam International Conference on Technology, Informatics, and Engineering (Icon-TINE). Acara ini diselenggaran pada Sabtu (23/8) lalu di Ballroom, Rayz Hotel UMM. Kepala Transport Innovation and Research Hub (TIRH) di Griffth University, Queensland Australia ini berpendapat bahwa kepemilikan kendaraan pribadi semakin hari semakin bertambah. Faktor inilah yang mengakibatkan kota semakin padat. Hal tersebut juga berefek pada penggunaan kendaraan umum yang kurang efektif. Terutama Indonesia, yang mana setiap penduduknya menginginkan kendaraan sendiri. Dikatakan oleh Matthew, bahwa 85% rumah tangga di Indonesia setidaknya memiliki satu sepeda motor. Hal tersebut membuat Indonesia masuk peringkat ketiga pengguna kendaraan bermotor di dunia. Meski teknologi motor listrik semakin digalakkan, namun menurutnya hal ini tidak menjawab permasalahan karena kendaraan akan terus bertambah. Apalagi mengingat keinginan masyarakat untuk memiliki terus ada. “Perlu adanya revolusi sistem transportasi dalam mengurangi kepadatan kota di indonesia, terkhusus Jakarta dan Surabaya. Harus ada sistem berupa pemanfaatan transpotasi umum melalui aplikasi dengan sekali bayar di akhir yang memudahkan orang melakukan perjalanan. Selain itu, sistem Car Share juga bisa dicoba yakni program berbagi tumpangan dengan yang orang lain. Harapannya, dua hal itu bisa mengurangi pembeelian atau kepemilikan kendaraan pribadi. Kalau kendaraan terus bertambah, ruang hidup kita juga akan semakin sempit,” jelas Matthew selaku Keynote Speaker dalam acara ICon-TINE. Disisi lain, Prof. Dr. Abdullah Ghani memaparkan tentang ‘Quantum Internet Beyond 6G Technology’. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi networking telah berkembang, mulai dari 1G hingga kini akan memasuki 6G. Adapun Quantun Internet adalah jaringan internet dengan kecepatan 6G yang memudahkan manusia untuk mengakses suara, teks, grafis atau gambar, dan video dengan cepat meski ukuran file cukup besar. Direktur Research Manager Center Universitas Malaysia, Sabah ini mengatakan bahwa meski bagus, quantum internet 6G belum sempurna. Ada sederet probel yang harus diselesaikan. Salah satunya kerumitan struktur jaringan quantum internet sehingga persebaran untuk di beberapa negara masih sukar diterapkan. Tapi, ia yakin bahwa teknologi quantum internet ini akan segera terealisasi sekitar tahun 2026 mengingat teknologi 5G saja belom digunakan di banyak negara. Sementara itu, Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D. memaparkan energi baru terbarukan dan energi hijau. Ia mengatakan bahwa industri berbasis petrokimia dan menipisnya minyak bumi melatar belakangi inisiasi energi baru. Menurutnya, selama ini transportasi masih bergantung pada pelumas yang berbahan baku minyak bumi,. Hal tersebut menjadi faktor menipisnya cadangan minyak bumi. Kepala Prodi Teknik Mesin UMM ini juga menjelaskan gagasannya bahwa ada sebuah solusi pengganti BBM yakni dengan Vegateble Oil sebagai oli pelumas yang ramah lingkungan. Mengingat pelumas memang digunakan untuk melancarkan mesin bagi mesin motor. Sayangnya emisi karbon yang dihasilkan juga tinggi. Bukan hanya cadangan minyak yang berkurang, polusi juga mendegradasi kualitas udara kita. “Vegetable oil ini adalah sebuah solusi sebagai pelumas yang ramah lingkungan. Saya yakin pelumasini bisa bermanfaat dan tidak merusak kualitas udara karena diekstrak dari tumbuhan,” tegasnya. (haq/wil)

Ramai Kasus Ferdy Sambo, Dosen Komunikasi UMM Nilai Langkah Komunikasi Publik Polri Sudah Tepat

Indonesia belakangan dibuat ramai dengan pemberitaan kasus kematian Brigadir J yang diduga dibunuh oleh Jenderal Polisi. Tentu adanya kasus yang melibatkan pembunuhan internal kepolisian membuat citra polisi memburuk. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menuturkan beberapa hari yang lalu bahwa gara-gara kasus tersebut, citra polisi menurun hingga 23% dan menjadi PR besar, utamanya Humas Polri. Jamroji, S.Sos, M.Comms. selaku dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMM menuturkan jika langkah yang diambil oleh humas Polri belakangan sudah tepat. Utamanya dalam memperbaiki citra polisi yang buruk di masyarakat. Kepiawaian Polri dalam menangani kasus ini dinilai sigap untuk mengungkapkan fakta sesungguhnya ke masyarakat, meskipun nanti dampaknya akan  merembet ke banyak orang. “Dari sisi manajemen krisis sudah bagus, karena Kapolri langsung berbicara di depan media. Tentu ini menjadi kesempatan bagi Polri untuk mengubah krisis menjadi sesuatu yang positif. Selesaikan secara objektif dan jangan ada manipulasi informasi kembali,” ujarnya. Jamroji, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa manajemen krisis yang dihadapi oleh humas Polri adalah mengontrol segala arus informasi dari tingkat pusat hingga ke daerah. Dikhawatirkan nanti pusat sudah mengkonstruksi dan memframing secara transparan, tapi di daerah malah sebaliknya. “Hal terpenting adalah Polri harus bisa mengontrol sampai ke bawah. Selama kasus diurus, jangan sampai ada sesuatu yang mencederai rasa keadilan masyarakat,” tegasnya. Ia menekankan kepada Polri untuk dapat sigap menyampaikan informasi secara cepat dan faktual, apalagi di tengah era sosial media saat ini. Dampaknya, masyarakat bisa menerima informasi sangat cepat dan terfragmentasi luar biasa berdasarkan media yang dipilih. “Media center Polri harus punya newsroom mengenai informasi apa saja yang perlu disampaikan dan dieksekusi ke seluruh sosial media,” terang Jamroji. Lebih lanjut, masyarakat saat ini mencari informasi bukan hanya dari media mainstream atau berita, tetapi dari media sosial. Beranjak dari hal tersebut, Polri juga harus menyelami sosial media sebagai sarana menyampaikan informasi secara cepat dan responsif. “Media sosial bukan hanya dijadikan wadah posting pencapaian, tapi juga mengomentari tiap aduan yang ada di sosial media. Jika hanya dijadikan tempat posting lalu tinggal, maka tentu itu seperti telah menghianati ciri medsos yang interaktif,” ungkap Jamroji. Baginya, karena polri adalah lembaga publik, maka sangat berbeda berbeda humas di perusahaan dengan lembaga publik seperti polri. Sebab yang menyoroti polri sangat banyak dan masyarakat berhak memperoleh informasi. “pekerja humas di polri harus memiliki keahlian khusus, yaitu integritas. Karena polri telah krisis indetitas, sehingga orang humas harus punya integritas tinggi. Artinya tidak memihak A atau B, namun memihak yang benar. kalau polisi mempunya integritas dan profesional, maka semua akan mulus. Masih ada oknum polisi yg kurang punya integritas dan profesional dalam menjalankan tugasnya. Masih banyak kita temui video² candid kejadian penyuapan kepada petugas,” kata Jamroji Dosen lulusan dari alumni School Communication and Arts, Edith Cowan University, Western Australia mengingatkan kepada Polri jika yang berkewajiban untuk memiliki integritas bukan hanya humas, tetapi semua anggota polri. Sebab semua anggota polri adalah humas. Baik buruknya citra polisi tergantung dari orangnya. “PR humas sekarang adalah menyadarkan semua anggota polri adalah humas dari polri itu sendiri,” pungkasnya (ros/wil)

PPG UMM: Guru Faktor Utama Songsong Indonesia Emas 2045

Guru menjadi faktor penting dalam upaya menyukseskan Indonesia emas pada tahun 2045 nanti. Ditambah lagi dengan awal puncak bomus demografi yang akan terjadi pada 2030 mendatang. Itu ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. dalam Orientasi Akademik Program pendidikan profesi guru (PPG), Rabu (24/8) lalu. Fauzan mengajak peserta PPG untuk merenungkan siapa yang akan memegang kepemimpinan di 2030 nanti. Jawabanya ialah anak-anak didik yang kini sedang menimba ilmu di sekolah dasar. Maka, para guru dinilai mnejadi ujung tombak dalam upaya melahirkan generasi masa depan. Adapun mahasiswa PPG yang berkuliah di UMM berjumlah 661 mahasiswa. Terdiri dari bidang matematika sebanyak 34 orang, bahasa Indonesia 35 orang, PKN 35 orang, bahasa Inggris 70 orang serta 487 orang di bidang pendidikan guru sekolah dasar. Para peserta PPG juga berasal dari 106 kabupaten dan kota yang berbeda. Lebih lanjut, Fauzan juga ingin agar peserta PPG mampu memproyeksikan hal apa saja yang akan terjadi di masa depan. Salah satunya adalah lingkungan yang serba digital. Pun dengan pola komunikasi yang berbeda pula. Maka, tidak ada jalan lain selain mengupgrade diri agar bisa memberikan pengetahuan dan skill terkini kepada anak-anak didik. Terkait bonus demografi, Rektor asli Kediri tersebut menjelaskan bahwa jumlah usia produktif akan sangat tinggi dibandingkan yang tidak produktif pada 2045 nanti. Bahkan jumlah masyarakat dengan usia produktif akan mencapai 77,7 persen. Jika mampu memanfaatkannya, bukan tidak mungkin Indonesia bisa masuk di jajaran negara dengan perkembangan ekonomi raksasa. Pun sebaliknya, jika tidak bisa memaksimalkan bonus demografi, maka semua mimpi akan sirna dan sia-sia. “Sekali lagi saya tekankan bahwa pendidikan dan guru memiliki peran penting mewujudkan Indonesia emas 2045. Jadi, PPG tidak semata-mata hanya untuk administrasi maupun finansial saja. Namun yang lebih substansial adalah bagaimana guru mampu mendidik dengan baik anak-anak yang menjadi pemegang estafet selanjutnya,” tegasnya. Hal serupa juga ditegaskan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. Menurutnya, para peserta PPG UMM harus bersungguh-sungguh untuk melalui semua proses yang pendidikan. Apalagi ada sebanyak 1,4 juta guru yang masih harus menunggu giliran mengikuti PPG. “Saya yakin, jika saudara-saudara bisa bertahan dan serius melewati program pendidikan ini, maka predikat guru profesional otomatis akan melekat. Jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan baik yang ada di depan mata. Semoga teman-teman bisa lulus dan menjadi guru panutan peserta didik,” harapnya mengakhiri. (wil)

Menko PMK Tegaskan ke Wali Maba UMM Tiga Ujung Tombak Cetak Generasi Emas

Mencetak generasi emas dan lulusan berkompeten bukan perkara mudah. Meski begitu, ada tiga ujung tombak yang memiliki peran dan mampu menentukan arah langkah anak-anak muda agar bisa meraih kesuksesan. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. dalam silaturahmi wali mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang. Agenda rutin yang dilaksanakan pada Kamis (25/8) lalu itu terbagi menjadi tiga gelombang. Muhadjir, begitu ia kerap disapa, menilai bahwa persentase peran perguruan tinggi dalam membentuk generasi muda itu di kisaran 25%. Sementara peran orang tua juga memiliki kadar yang sama di angka 25%. Sementara 50% sisanya tergantung bagaimana mahasiswa atau anak muda itu bisa memaksimalkan potensinya. Mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan serta mampu menyelesaikan studinya dengan baik. “Jadi tiga hal itu harus benar-benar memainkan perannya dengan baik. Percuma jika kampus dan orangtua mengantarkan dan memfasilitasi dengan sangat, tapi nyatanya mahasiswanya tidak punya mimpi dan ambisi meraih kesuksesan,” tegasnya. Terkait prestasi UMM, ia yakin ada banyak penghargaan dan prestasi yang terus menerus diraih UMM. Salah satunya predikat kampus unggul Jawa Timur yang berturut-turut diraih UMM sebanyak 14 kali. Pun dengan raihan sebagai Kampus Islam Terbaik Dunia dan berbagai penghargaan yang silih berganti dicapai. Muhadjir juga mengenai usia produktif yang dimiliki Indonesia. Pada 2021 lalu, tercatat ada 146,1 juta penduduk yang ada di usia produktif. Di antaranya ada 7 juta yang belum mendapatkan pekerjaan sebelum pandemi, kemudian naik menjadi 9 juta saat Covid. Kini menurun menjadi 8 juta jiwa. “Belum lagi jumlah wisudawan yang diluluskan oleh perguruan tinggi mencapai 1,3 juta. Pun dengan lulusan SMA, SMK serta Aliyah yang tak bisa melanjutkan kuliah di angka 1,6 juta. Sehingga paling tidak ada 3 jutaan angkatan kerja yang membutuhkan pekerjaan. Maka saya mendorong perguruan tinggi untuk mencetak wirausaha yang mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat lain,” tambahnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memberikan selamat kepada para wali dan orang tua mahasiswa baru. Apalagi melihat kuota yang diterima hanya 7000 mahasiswa. Padahal jumlah pendaftar mencapai lebih dari 20.000 orang. Maka, ia meminta wali dan orang tua serta mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. “Kami juga memiliki program UMM PASTI, program yang memastikan anak bapak dan ibu bisa lulus tepat waktu 3,5-4tahun. Pun dengan kepribadian yang mandiri serta kepastian mendapatkan kerja usai lulus. Untuk mewujudkannya, kami sudah menyediakan berbagai kegiatan yang bisa mahasiswa ikuti untuk mengembangkan potensi dan minat yang dimilikinya,” tegas Fauzan. Di sisi lain, salah satu wali mahasiswa, Daeng Muhammad Suud menilai bahwa kualitas Kampus Putih UMM tidak perlu diragukan lagi. Apalagi dengan beragam terobosan yang sudah dilakukan, seperti Center of Excellence, UMM Pasti serta aplikasi MyUMM yang memudahkan orang tua untuk memantau perkembangan anak-anaknya. “Saya hadir di silaturahmi ini sebagai wali dari cucu saya yang berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi UMM. Sebelumnya, anak-anak saya juga meninmba ilmu di UMM dan kini sukses di bidangnya masing-masing,” jelas Suud yang berasal dari Pasuruan itu. (wil)

Gaet Perusahaan Jepang, Training Center UMM Kirim SDM Bertaraf Global ke Jepang

Makin banyak peserta training centre hasil kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang UMM) dan OS Selnajaya diberangkatkan ke Jepang. Sampai saat ini, ada lebih dari 150 peserta yang mengikuti proses pelatihan, perekrutan hingga pemberangkatan kerja ke Negeri Matahari Terbit. Aktivitas terbaru, salah satu perusahaan asal Jepang PT. SMILE berkunjung dan menyampaikan niatnya untuk bekerjasama dan merekrut lulusan training center milik Kampus Putih itu. Di dua batch sebelumnya, total ada 42 orang yang sedang mengikuti setiap proses yang ada di training center UMM-OS Selnajaya. Jumlah ini terus bertambah seiring dengan pembukaan batch-batch selanjutnya. Adapun program pelatihan tersebut berlangsung selama 6-12 bulan yang terbagi menjadi dua skill utama, yakni kemampuan bahasa Jepang dan skill khusus yang telah dipilih. “Jika sudah menguasai keduanya, para peserta akan mengikuti ujian sebagai persyaratan bekerja di Jepang serta ikut dalam proses rekrutmen dari berbagai perusahaan,” jelas Direktur Vokasi UMM Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. Di sisi lain, Kayama perwakilan dari PT. SMILE menilai bahwa sumber daya manusia (SDM) yang ada di training center UMM memiliki skill yang mumpuni. Selama ini, perusahaannya sering menggaet lulusan yang berada di Jakarta saja. Tapi, belakangan ia merasa bahwa peserta di Malang juga punya kemampuan yang bisa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di bawah naungan PT SMILE. “Ada sekitar 22 perawat yang sudah kami rekrut. Biasanya memang kita mengambil mereka yang ada di Jakarta. Tapi saya rasa peserta training center UMM juga bagus-bagus. Kami juga berencana mendatangkan staf dari Jepang untuk menjadi salah satu trainer di training center ini,” tambah Kayama. Pada kunjungan itu pula, rombongan PT SMILE juga berkesempatan untuk melihat fasilitas yang disediakan oleh TC Kampus Putih. Mulai dari asrama, ruang kelas, hingga rumah sakit umum UMM. Terkait bidang training yang disediakan, terhitung ada lima pekerjaan yang bisa dipelajari langsung oleh peserta. Ada kaigo atau caregiver, produksi makanan dan minuman, building cleaning, perikanan dan budidaya serta pertanian. Para peserta training bisa memilih salah satunya selama persyaratan yang diberikan bisa terpenuhi. Menariknya, saat bertemu rombongan PT SMILE, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. membicarakan kemungkinan pembangunan sekolah vokasi hasil kerjasama Kampus Putih dengan sederet perusahaan yang ada di Jepang. Dengan begitu, warga Jepang dan juga Indonesia bisa bersekolah di sana. Saat lulus, mereka diharapkan bisa cepat bekerja karena adanya kolaborasi dengan berbagai perusahaan. Selain itu, Fauzan juga mengenalkan program Center of Excellence yang bisa menjadi jawaban atas permasalahan SDM Jepang. “Jadi lulusan CoE-CoE dapat menjadi opsi untuk menjawab problem sumber daya manusia di sederet bidang yang dibutuhkan. Seperti misalnya bidang ruminansia, ikan koi, rumput laut, essential oil dan lainnya. Kalaupun ada kebutuhan besar di sektor lain, kami juga siap memproyeksikan dengan menyiapkan CoE sekolah keahlian yang sesuai dengan apa yang perusahaan Jepang butuhkan,” tambahnya. (wil)

Tim Mahasiswa UMM Sebut Limbah Udang Bisa Jadi Pengganti Handsanitizer Alkohol

Produksi udang di Indonesia sepanjang tahun 2022 mengalami peningkatan yang pesat yakni sebanyak 32,6 ton. Peningkatan produksi ini juga berdampak pada limbah hasil pengolahan udang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) teliti manfaat limbah udang sebagai antibakteri untuk mengobati dermatitis tangan akibat penggunaan alkohol. Pun dengan kemungkinan penggunaan limbah udang sebagai pengganti handsanitizer alkohol. Adapun Penelitian ini juga telah diajukan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan berhasil mendapat pendanaan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) 2022. Salah satu anggota tim, Shafira Rahmania, menjelaskan bahwa selain permasalahan limbah udang, Indonesia juga mengalami peningkatan penyakit dermatitis tangan. Penyakit ini meningkat akibat maraknya penggunaan handsanitizer yang mengandung alkohol. Sebelum Pandemi Covid-19, persentase penyakit dermatitis hanya sebesar 29%. Namun sejak pandemi Covid-19 berlangsung, penyakit ini meningkat sebesar 97% persen. “Alkohol yang terkandung dalam handsanitizer merupakan salah satu senyawa iritan. Penggunaan jangka panjang pada senyawa iritan ini lama kelamaan akan merusak lapisan lipid pada kulit dan menyebabkan penyakit dermatitis,” jelas anak pertama dari dua bersaudara tersebut. Untuk mengatasi dua permasalahan tersebut, Shafira dan tim melakukan penelitian terhadap kandungan limbah udang. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa limbah udang memiliki zat antibakteri bernama kitosan. Zat ini memiliki efektivitas yang baik dalam menghambat bakteri pathogen yang berada pada tangan manusia seperti E.coli, Streptococcus, Staphylococcus dan Salmonella sp. “Kegunaan lain dari zat kitosan adalah sebagai antibakteri penggati alkohol pada handsanitizer. Selain itu kitosan juga dapat dijadikan sebagai bahan dasar formulasi handsanitizer basis gel,” kata mahasiswa asal Bandung itu. Selama tiga bulan penelitian, Shafira di bantu oleh keempat anggota timnya yang merupakan kolaborasi antara jurusan Akuakultur dan Farmasi yaitu Alif Zidane Juni Wananda, Azizal Zilmi Al Afi, Silvia Putri, serta Dimas Putut Tunggorono. Saat ini penelitian telah mencapai tahap final yaitu pengolahan data terkait penelitian seperti Uji MBC dan MIC, uji iritasi pada kelinci dan siput serta penarikan kesimpulan dari penelitian. “Saya tentu berharap penelitian ini dapat membantu masyarakat, utamanya untuk dijadikan penelitian lanjutan sekaligus produksi handsanitizer menggunakan kitosan dari karapas udang. Hal ini juga akan mengurangi limbah udang serta meminimalisir terjadinya dermatitis akibat handsanitizer,” pungkas mahasiswa kelahiran tahun 1999 ini mengakhiri. (*syi/wil)

Berbekal Center for Future of Work, UMM dan Belmawa Wujudkan Kurikulum MBKM

Sejak adanya kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di tahun 2020, perguruan tinggi di Indonesia dituntut memberikan ruang kepada mahasiswa untuk dapat menambah kompetensi tambahan. Baik itu dari aspek softskill maupun hardskill dengan mengikuti program MBKM yang ada. Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator bidang pembelajaran Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Dewi Wulandari pada Bimbingan Teknis Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka Perguruan Tinggi non Vokasi. Acara tersebut diikuti oleh 50 dosen perwakilan dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Wilayah LLDIKTI VII Jawa Timur, pada Sabtu (20/8) lalu, yang bertempat di Aula BAU. Melalui MBKM, mahasiswa di Indonesia dapat mengambil program yang sesuai dengan bakat dan minat mereka. Program tersebut di antaranya adalah kampus mengajar, magang, studi independen, riset dan penelitian, pertukaran mahasiswa merdeka hingga Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA). Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki kewajiban untuk memberikan fasilitas kepada mahasiswanya agar bisa mengikuti pembelajaran MBKM. “Menariknya, kegiatan MBKM tersebut nantinya bisa dikonversikan ke dalam satuan kredit semester (SKS) ataupun diselaraskan ke kurikulum pembelajaran prodi. Sayangnya, ada banyak prodi yang masih kesulitan dan kebingungan melakukannya. Jadi, Belmawa bersama UMM berinisiatif mengadakan Bimbingan Teknis dan pendampingan kepada perguruan tinggi di Indonesia dalam membantu para dosen merancang kurikulum yang disesuaikan dengan program MBKM. Sehingga mahasiswa yang mengikuti program MBKM tidak merasa dirugikan,” jelas Dewi. Dikatakan Dewi, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak program studi, hampir 4.500 program studi tercatat di Dikti. Jadi, pendampingan ini akan dilakukan bertahap. Menurutnya, hasilnya akan kurang maksimal jika langsung diberikan ke ribuan prodi sekaligus. Oleh karenanya, Belmawa membatasi jumlah prodi yang ikut, yakni sebanyak 50 prodi saja. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd, menlai bahwa pendampingann ini dapat memperkuat pengembangan kurikulum. Utamanya yang berorientasi untuk mengantarkan mahasiswa mendapatkan pembelajaran yang sesuai passion. Fauzan juga menjelaskan bahwa UMM kini sedang merancang formula yang memiliki aksesibilitas dan cocok untuk abad ini. “Salah satu upaya kami yakni dengan membuat program Center for Future of Works (CFW) yang mana menjadi pusat pengembangan keterampilan masa depan. Implementasi program ini salah satunya adalah pendirian puluhan Center of Excellence (CoE) di UMM. sejauh ini, produk pendidikan di Indonesia masih memiliki relevansi yang rendah terhadap tuntutan dunia. Oleh sebab itu, UMM berinisiatif membentuk sekolah CoE ini agar lulusan dari Kampus Putih bisa memiliki skill yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasar,” tegas Fauzan. (zak/wil)

Kurikulum CoE Welding Inspector UMM Penuhi Kebutuhan Industri

Kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) akan sumber daya manusia (SDM) yang siap pakai sangat tinggi. Sayangnya, alumni perguruan tinggi dirasa kurang bisa mengikuti kebutuhan itu. Maka, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan terobosan dengan didirikannya beragam Center of Excellence (CoE), salah satunya sekolah keahlian Welding Inspector. Dalma rangka menjembatani kebutuhan industri, Prodi Teknik Mesin UMM mengundang sederet DUDI dalam menyusun dan mengkomunikasikan kurikulum pada pertengahan Agustus lalu. Turut hadir perwakilan dari dari PT. Barata Indonesia, PT. PAL Surabaya, PT. POMI, PT. SPINDO, PT. Dirgantara Indonesia, dan Llyod Register Asia. Mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi juga ikut berdiskusi kurikulum seperti apa yang cocok. “Satu tujuan CoE UMM ini adalah untuk mewujudkan kepastian mandiri dan kepastian kerja. Maka, kurikulum menjadi satu aspek penting agar lulusan memiliki skill yang dibutuhkan oleh industri. Jadi DUDI tidak perlu lagi menyelenggarakan pelatihan karena lulusan CoE Welding inspector sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan mereka,” kata Dr.Ir. Damat, MP. selaku kepala CoE UMM. Damat juga menegaskan bahwa kerjasama yang dijalin memang sudah banyak. Tapi itu belum cukup, ia akan terus mencari dan menggaet DUDI berkualitas agar mampu melahirkan SDM-SDM dan lulusan yang berkualitas pula. Hal serupa disampaikan oleh Nyoman Gede Suryadharma dari PT SPINDO. Selama ini pihaknya cukup kesulitan mendapatkan SDM yang siap pakai. Kebanyakan belum dibekali skill oleh kampus, khususnya skill welding inspection. Maka harapannya, mahasiswa UMM yang ikut CoE Welding Inspector ini bisa memiliki skill itu sehingga pihak industri seperti PT SPINDO bisa dengan mudah mendapatkan SDM yang berkualitas. “Perusahaan kami bergerak di bidang konstruksi dan tentu membutuhkan welding inspection dalam pelaksanaannya. Perusahaan yang bergerak di bidang serupa juga banyak. Maka, saya pikir CoE ini bisa menjadi jalan tengah. Memberikan kemudahan pekerjaan untuk alumni UMM sekaligus memberikan menjawab kebutuhan yang DUDI inginkan,” tambahnya. Di sisi lain, Kepala Prodi Teknik Mesin UMM Iis Siti Aisyah, S.T., P.hD. menjelaskan kurikulum CoE Welding Inspector akan menekankan pada aspek praktek secara langsung. Namun, sebelum terjun, para peserta akan diberi materi selama dua bulan langsung oleh para ahli dari tiap industri. Kemudian baru ditempatkan di perusahaan-perusahaan bergengsi selama empat bulan lamanya. “Pada zaman ini, unggul secara akademik saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan. Perlu adanya softskill dan hardskill yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Maka, sekolah keahlian Welding Inspector harus memiliki kurikulum yang bagus agar bisa mengakomodir hal terkait,” tambahnya. Iis, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa CoE ini tiak eksklusif untuk mahasiswa UMM saja. Mahasiswa non-UMM, para alumni, bahkan masyarakat yang memiliki minat akan Welding Inspector juga bisa mendaftar. Kemudian mengikuti prosesnya selama enam bulan sehingga bisa terserap ke dunia kerja dengan lebih mudah berkat skill yang diperloleh dari program ini. (haq/wil)

Malang Koi Show, Kontes Koi Nasional Garapan UMM

Ikan hias koi memiliki daya tarik bagi banyak kalangan dan lintas usia. Bahkan seringkali muncul sederet kompetisi ikan koi yang diikuti peserta dari berbagai daerah. Salah satu kontes yang tidak boleh terlewatkan ialah Malang Koi Show 2022 garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ajang nasional ini akan dilangsungkan pada 26-28 Agustus mendatang. Malang Koi Show menyediakan sederet piala bergengsi yang diperebutkan. Mulai dari piala-piala eksklusif seperti piala menteri, piala dirjen, piala bupati hingga piala rektor. Apalagi ada hadiah utama yang menggiurkan yakni sepeda motor dan uang tunai jutaan rupiah. Menariknya, gelaran Malang Koi Show ini sekaligus menjadi agenda launching Center of Excellence (CoE) Sekolah keahlian Koi dari Prodi Akuakultur UMM. Program ini melengkapi puluhan CoE yang sudah berdiri di berbagai jurusan yang ada di Kampus Putih seperti CoE unggas, udang, hingga komunikasi digital. “Kami yakin ini adalah satu-satunya CoE Kelas Profesional di Indonesia yang fokus pada Ikan Koi dan diselenggarakan oleh perguruan tinggi,” tegas salah satu panitia Riza Rahman Hakim, S.Pi., M.Sc. Adapun CoE Sekolah Keahlian Koi ini memiliki tiga program utama. Ada in-class yang mendatangkan para ahli dari industri untuk memberikan pemahaman lebih bagi mahasiswa. Adapula internship (magang di tempat dunia kerja industri di DUDi Koi) dan praktek usaha bisnis koi bagi mahasiswa. “Kalau kita lihat, ikan hias koi ini memang merupakan komoditas ikan yang memiliki nilai jual tinggi. Jadi tidak heran, banyak orang yang mencari dan mengembakbiakkannya,” jelas Lebih lanjut, Riza mengatakan bahwa image juara kontes memang biasanya dari Blitar Raya, Tulungagung, dan Kediri. Tapi, ia yakin akan ada ikan-ikan Koi dari daerah lain yang mampu bersaing dan memberi kejutan. Ia menilai kontes-kontes semacam ini dapat menaikkan nilai jual ikan koi. Apalagi jika lingkupnya sudah nasional dan diikuti oleh ribuan. Pun dengan uapa mengedukasi terkait bagaimana merawat dan mengembangbiakkan ikan koi. Ajang seperti ini juga bisa menjadi wadah silaturahmi para penjual, penghobi dan farm koi se-Indonesia. Koi Show ini nantinya akan memperebutkan lima piala bergengsi. Yakni Piala Menko PMK, Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI, Bupati Malang, Rektor UMM, dan Rektor Institut Injil Indonesia. (*/wil)