PPUT, Program Beasiswa UMM Lahirkan Ulama Berkualitas

Merespon keprihatinan sekaligus memupuk optimisme kehadiran ulama di masyarakat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyediakan Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT). Program tersebut merupakan salah satu dari sederet beasiswa yang bisa diperoleh mahasiswa baru di Kampus Putih UMM. Agus Supriadi, Lc., M.H.I. selaku kooordinator PPUT menjelaskan jika program itu merupakan upaya perkarderan ulama tarjih Muhammadiyah. Secara khusus, program ini mengkolaborasikan ilmu sains dengan ilmu keislaman. Sehingga tidak hanya berkompeten di ilmu agama, namun juga mumpuni dalam ilmu sains dan mampu berkontribusi ke masyarakat. Adapun tujuan dibentuknya PPUT diantaranya adalah menanamkan Islam yang komprehensif sebagai ajaran yang baik. Kedua, menanamkan pemahaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang implementatif yakni menjadi teladan di masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai Islam serta Muhammadiyah. Ketiga yakni mendidik budi pekerti luhur mahasiswa, artinya para kader diupayakan menjadi contoh utama berbasis kepada akhlakul karimah. Kemudian yang terakhir yaitu mengajar dan mendidik kader tarjih Muhammadiyah yang berwawasan tajdid. “Mahasiswa yang lolos PPUT akan mendapatkan dua kurikulum, yaitu kurikulum PPUT yang berkaitan khusus dengan keilmuan PPUT dan kurikulum yang terintegrasi langsung dengan program studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam,” ujarnya. Program PPUT sendiri memberikan beasiswa berupa pembebasan biaya Dana Pengembangan Pendidikan (DPP) dan Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) selama delapan semester. Selain itu juga beasiswa di asrama selama dua tahun, diberi materi pembinaan khusus, dan penguatan implementasi keilmuan. Keunggulan lain yang didapat adalah pemahaman akan softskill seperti pelatihan desain, karya tulis ilmiah, public speaking, english speaking, MTQ dan pelatihan salafiah. Agus menilai hal itu bisa mendorong mahasiswa PPUT untuk bisa beradaptasi dengan mudah di lingkungan masyarakat. Sehingga berimbas pada cara berdakwah dan mampu menyerukan hal baik ke lingkup yang lebih luas. “Langkah untuk mendapatkan beasiswa ini yakni dengan mendaftar di website PMB. Kemudian memilih prodi HKI dan mengikuti rangkaian seleksi berupa tes bahasa arab, hafalan Alquran, keislaman sert kemuhammadiyahan,” tambahnya. Agus, sapaan akrabnya berharap agar program ini mampu menghasilkan kader ulama tarjih Muhammadiyah yang memiliki kekokohan akidah, integrasi moral dan keluasan ilmu agama. UMM juga selalu berupaya menghasilkan ulama tarjih yang memiliki kecakapan dalam memimpin, berdakwah dan memberikan solusi keumatan yang sesuai. “Kami ingin para kader ini bisa tersebar di penjuru Indonesia. Bahkan kalau bisa, mampu mengabdi di luar negeri dan memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkasnya. (ros/wil)
Semarak Agustusan UMM, Lomba Egrang hingga Jembatan Fashion Week

Menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menyiapkan rangkaian panjang perayaan. Salah satunya beragam lomba unik dan menarik yang dilaksanakan sejak Sabtu (13/8) lalu hingga nanti pada akhir bulan Agustus. Tidak hanya lomba yang mengandalkan ketangkasan, semarak Agustusan UMM juga melestarikan permainan tradisional seperti egrang dan bakiak. Ketua Pelaksana Agustusan UMM Frendy Aru Fantiro, M.Pd. menjelaskan bahwa rangkaian ini merupakan agenda rutin yang selalu dilaksanakan oleh Kampus Putih. Sempat terhenti karena pandemi, perayaan kemerdekaan RI ini menjadi wadah euforia merayakan dan silaturahmi antar sivitas akademika yang ada di UMM. “Pada tanggal 17 Agustus nanti, upacara yang kami laksanakan akan diwarnai dengan para peserta yang mengenakan pakaian adat dan nuansa kemerdekaan. UMM ingin memberikan suasana baru setelah dua tahun tidak menggelar upacara. Kami juga akan mengundang anak-anak sekolah dasar (SD) untuk mengikuti lomba. Salah satunya lomba UMM Fashion Kids yang akan mendorong mereka untuk lebih kreatif dan percaya diri. Jadi, sederet perlombaan yang disiapkan tidak diperuntukkan bagi sivitas kami saja, tapi juga untuk pihak eksternal seperti anak-anak SD ini,” tambahnya. Frendy, begitu ia kerap disapa menambahkan bahwa antusiasime peserta lomba sangat tinggi. Hal itu terjadi karena sudah lama tidak ada acara yang mempertemukan banyak orang dalam satu waktu. Adapun pada Selasa (16/8) beberapa perlombaan dilangsungkan. Mulai dari gerak jalan kreatif yang mengadu koordinasi dan kekreatifan peserta hingga lomba kayuh bebek yang diadakan di danau Kampus Putih UMM. “Pada hari yang sama, ada juga kompetisi Jembatan Fashion Show yang menyajikan kostum-kostum menarik dari mahasiswa maupun pegawai dan dosen. Lomba ini memang terinspirasi dari Citayam Fashion Show, tapi ini kami laksanakan di jembatan depan GKB I dengan beberapa inovasi agar lebih menarik,” ungkap Frendy. Di sisi lain, salah satu mahasiswa peserta lomba Nurul Hamidah mengaku sangat menunggu rentetan lomba Agustusan UMM tahun ini. Apalagi di dua tahun sebelumnya, agenda ini tidak bisa terlaksana karena pandemi. Menurutnya, perayaan kemerdakaan merupakan momen yang tepat untuk membangun kebersamaan dan kerjasama sehingga dapat memajukan Indonesia dengan berbagai upaya. “Salah satu wadah yang bagus adalah melalui lomba-lomba ini. Tidak sekadar berkompetisi, tapi juga menjalin silturahmi yang nantinya bisa menjadi pondasi membangun Indonesia bersama,” tegasnya. Lebih lanjut, ia berharap perayaan Kemerdekaan Indonesia ini bisa dimaknai lebih dalam oleh generasi muda. Bagaimana semangat kemerdekaan senantiasa mendorong mereka untuk membekali diri dengan kemampuan yang mumpuni. Dengan begitu, mereka bisa mengambil peran untuk memajukan bangsa. (*wil)
Sanggar Jalu UMM Gaet Komunitas Artiknesia, Gelar Pameran Lukisan dan Lomba Tari

Melestarikan budayan bisa dilakukan melalui beragam kegiatan. Salah satunya lewat pameran karya lukisan dan lomba tari tradisional kreasi se-Jawa Bali oleh Lembaga Semi Otonom (LSO) Sanggar Seni Jalu Fakultas Pertanian dan peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan pada 8-10 Agustus 2022 itu merupakan hasil kolaborasi dengan Komunitas Artiknesia. Dosen pembimbing LSO Jalu Devi Dwi Siskawardani, S.TP., M.Sc. menjelaskan tema menarik “Dicari Dalang” (Dirgahayu Cita-Cita Negeri dalam Belenggu). Menurutnya, tema ini berupaya untuk melahirkan seniman-seniman yang memiliki semangat tinggi. Utamanya dari kalangan mahasiswa yang nantinya akan melanjutkan dan melestarikan budaya. Devi, sapaan akrabnya menilai bahwa salah satu jalan mewujudkan cita-cita adalah dengan karya. Termasuk tari-tari tradisional yang kurang begitu mendapat perhatian anak muda. Pun dengan lukisan-lukisan menarik yang bisa dihasilkan. Terkait lomba tari, ada beberapa kriteria penilaian dalam kompetisi tersebut. Dimulai dengan kesesuaian dengan tema lomba. Kemudian juga wiraga atau koreografi yang menunjukkan kesesuaian antara ragam gerakan tari dengan sinopsis alur cerita. Kemudian ada juga kekompakkan antar penari, formasi dan yang terakhir atraksi. Ketiga aspek dalam wiraga tersebut harus sesuai dan seirama agar menghasilkan penampilan yang apik. Selain itu, penilaian dari aspek wirasa (ekspresi) juga perlu diperhatikan. Yakni untuk mengidentifikasikan kelihaian dan keluwesan para penari dalam memaknai setiap gerakan melalui ekspresi. Sementara penilaian Wirama (musik) yakni untuk menganalisa kesesuaian irama dalam gerak saat menari. Seberapa cocok musik yang digunakan sehingga tidak terlalu menyimpang dari tarian. Pun dengan wirupa (sifat) yakni menilai sifat yang ditunjukkan dari seluruh tubuh pada setiap gerakan. “Aspek artistik (kosum) juga memiliki bagian dalma penilaian. Yakni seberapa bagus kreasi kostum dan properti yang disiapkan masing-masing tim guna mendukung penampilan dan penyampaikan alur cerita,” ungkapnya menambahkan. Dalam kesempatan itu, sederet dewan juri hadir untuk menilai. Ada Asrofi, S.Pd, M.Pd, Fandi Firdaus, S.Pd dari Malang Fair Dance dan Ki Sutopo dari Dewan Kesenian Jawa Timur. Ketiganya dinilai sangat kompeten dan obyektif dalam proses penilaian. (*/wil)
Kamar Kapsul hingga Cafe Unik, Fasilitas Hotel Kapal UMM yang Patut Dicoba

Malang merupakan salah satu kota dengan destinasi wisata yang lengkap. Tak hanya dipenuhi dengan berbagai wisata alam, Malang juga memiliki banyak wisata buatan manusia. Jika berlibur ke Malang, rasanya tak lengkap jika tidak mengunjungi hotel-hotel di Malang. Salah satu hotel unik yang wajib di kunjungi para pelancong adalah Kapal Garden Hotel by Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Apalagi dilengkapi dengan Kamar Kapsul dan Café yang menyajikan pemandangan gunung. Hotel yang berada di kawasan Taman Rekreasi Sengkaling ini, merupakan salah satu hotel tematik yang mengusung nuansa kapal pesiar. Tata letak dan interior di dalam maupun luar hotel di buat semirip mungkin dengan sebuah kapal. Uniknya, jendela pada hotel ini juga didesain bulat seperti jendela-jendela yang ada di kapal. Selain itu para pegawai juga mengenakan pakaian seperti room stewad di kapal pesiar. Manager Kapal Garden Hotel by UMM, Teguh Hadi Saputro, S.Pd., MA, menjelaskan bahwa pada awalnya bangunan hotel ini merupakan sebuah aula yang menunjang beragam pertemuan di Taman Rekreasi Sengkaling. Namun, sejak di ambil alih oleh UMM pada tahun 2018, gedung ini beralih fungsi menjadi sebuah hotel tematik. “Gedung ini dari awal memang di desain seperti kapal karena Sengkaling mengusung tema wisata air. Pada saat Sengkaling diakuisisi oleh UMM, kami berpikir untuk mengubah fungsinya menjadi sebuah hotel. Hal ini dikarenakan hotel tematik merupakan hal yang jarang pada saat itu,” kata pria kelahiran Kota Batu tersebut. Selain menyediakan sebuah kamar, Kapal Garden Hotel by UMM ini juga menyewakan sebuah cabin dormitory yang memiliki konsep mirip dengan hotel kapsul. Teguh sapaan akrabnya mengatakan bahwa cabin dormitory ini sangat cocok untuk para backpacker. Selain dapat menginap dengan nyaman, harga yang di bandrol untuk semalam menginap juga lumayan murah yaitu berkisar antara 90.000 sampai 130.000 ribu rupiah. “Kami juga menyediakan empat tipe kamar lain yang dapat digunakan untuk sendiri maupun keluarga. Tipe kamar pertama adalah superior twin yang dibandrol dengan harga 265.000 sampai 345.000. Tipe kamar yang kedua adalah deluxe double yang berharga 396.00 sampai 476.000. Tipe yang ke tiga adalah family 4 yang diberi harga 534.000 sampai 694.000. Serta tipe terakhir family suite yang dipatok harga 804.000 sampai 1.004.000,” jelasnya. Menariknya, hotel kapal ini juga menyediakan cafe kapal rooftop dan meeting room. Untuk cafe kapal rooftop tak terbatas pada pengunjung saja, tetapi juga di buka untuk masyarakat umum juga. Sehingga para masyarakat atau mahasiswa bisa berkunjung menikmati sajian sambil memandang pemandangan gunung yang menarik dari atas. (syi/wil)
Mahasiswa UMM asal Vietnam Ceritakan Kesan Menimba Ilmu di Indonesia

Banyaknya perguruan tinggi berkualitas menarik minat mahasiswa asing mengenyam pendidikan di Indonesia. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi pilihan banyak mahasiswa asing yang ingin belajar di Indonesia. Salah satunya Huỳnh Hoàng Vân Anh, mahasiswa internasional asal Vietnam yang mengambil magister pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di Kampus Putih UMM. Ada cerita menarik dibalik keputusannya untuk mengenyam ilmu di negara maritim tersebut. Huỳnh Hoàng Vân Anh yang akrab di panggil Rio mengatakan bahwa pada awalnya ua sudah berniat untuk mengambil magister bahasa Arab langsung ke negara Arab. Apalagi bidang studi yang ia ambil di jenjang sarjana juga bahasa Arab. Sayangnya, ia terkendala masalah visa. “Karena terkendala oleh visa, akhirnya saya mencari tahu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki prodi bahasa arab yang bagus. Setelah riset dan bertanya pada banyak orang, akhirnya Indonesia menjadi negara yang direkomendasikan. Tapi, saya berpikir kenapa tidak mengambil program studi yang sesuai dengan bahasa negaranya. Dari situlah saya memutuskan untuk mengambil studi bahasa indonesia dan UMM menjadi pilihan terbaik,” jelas Rio. Lebih lanjut, Rio menjelaskan sebelum masuk perkuliahan, dirinya belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu selama satu tahun di BIPA UMM. Namun saat memasuki perkuliahan, pandemi Covid-19 menyerang sehingga memaksanya untuk kembali ke Vietnam dan belajar secara daring. Hal itu membuatnya kesulitan mencari buku-buku untuk memenuhi kebutuhan belajar. Beruntung, pihak BIPA UMM dan teman-teman Indonesia-nya selalu membantu ketika ia kesulitan. “Proses belajar di UMM sangat baik dengan fasilitas kampus yang bagus pula. Pemandangan kampus yang indah membuat mahasiswanya bisa bersantai setelah waktu perkuliahan selesai. Para dosen yang mengajar juga berkualitas, mereka banyak membantu menjelaskan apa saja yang saya kurang paham tentang Indonesia,” tambahnya. Ada pengalaman menarik yang Rio rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Malang. Saat itu, ia harus pergi ke suatu tempat yang sebenarnya tidak begitu jauh. Sayangnya, ia kebingungan karena saat itu ia sama sekali belum bisa berbicara bahasa Indonesia. “Jadi saya mencoba bertanya ke masyarakat sekitar. Mungkin karena bahasa Indonesia saya kurang, alih-alih sampai di tujuan, saya malah tersesat di persawahan dan kebun. Padahal lokasinya tidak begitu jauh,” jelasnya sambil tertawa. Rio mengatakan bahwa dirinya sempat mempelajari beberapa tari, bahkan juga kesenian gamelan yang diajarkan di BIPA UMM. Selain belajar bahasa, ia juga belajar banyak terkait budaya dan kehidupan orang Indonesia. Menurutnya orang indonesia sangat ramah, sopan dan selalu membantu. Rio yang beragama Budha juga banyak belajar tentang Islam selama berkuliah di UMM. Ia mengungkapkan ketika melihat umat Islam beribadah, hatinya juga ikut merasa damai. (zak/wil)
Dosen UMM Lakukan Teaching Collaboration di Dua Kampus Polandia

Dalam meningkatkan kualitas sivitas akademikanya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memberangkatkan dosennya ke Polandia dalam program Erasmus Plus. Kali ini, Dr. Widayat, Drs. MM. selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM melakukan kunjungan ke Wroclaw University of Science and Technology (Politechnika Worclawska) dan Politechnika Warszawska, Warsaw Polandia. Adapun kegiatan ini berlangsung selama seminggu pada akhir bulan Juli. Widayat, sapaan akrabnya mengatakan bahwa program ini bertujuan dalam potensi kerjasama pengembangan Program Internasionalisasi UMM ke depan. Bentuk kerjama bisa saja berbentuk teaching collaboration dalam pelaksanaan kelas Internasional, credit transfer, hingga double degree. Sedangkan dari sisi dosen atau karyawan, akan ada potensi untuk research collaboration. Tidak menutup kemungkinan juga kajian bersama pada tema tertentu. “Bukan hanya urusan kerjasama saja, tetapi kami para dosen juga belajar agar ilmu yang kami dapat di Polandia ini bisa bermanfaat bagi kemajuan pendidikan Indonesia, khusunya UMM,” ucapnya. Selain itu, justru ia lebih tertarik kepada standarisasi perkulihan di Polandia yang tertata. Hal tersebut didasari oleh pengelolaan yang berbasis pada mekanisme pasar. Adapun mekanisme ini melihat mahasiswa sebagai primer customer atau investor primer, sedangkan orang tua dilihat sebagai inverstor sekunder. Menurutnya, mekanisme ini layak diadposi di Indonesia karena mahasiswa sebagai investor bebas memilih investasi dalam bentuk perkuliahan. Respon pasar atas instrumen investasi tersebut bisa ebrbentuk pemograman matakuliah, memilih dosen pada matakuliah tertentu, serta harus bersifat fair dan terbuka. Adapun tim di SGH Warsaw ini terbagi menjadi dua kelompok, pertama dosen yang berfokus pada research dan pembelajaran. Kedua, adalah kelompok yang berfokus pada “main responsibility” bekerja sebagai dasar, untuk memberikan pembinaan atau reward, sertifikasi mengajar, membimbing skripsi, atau aktifitas lainnya. Selain itu, sistem pembelajaran mata kuliah di sana diampu lebih dari satu dosen, sehingga paradigma yang diterima oleh mahasiswa beragam. “Saya rasa secara sistem dan pengeloaan universitas, sistem di Polandia ini layak diadopsi di Indonesia karena mahasiswa dipandang sebagai investasi besar ke depannya,” ungkapnya. Pria asli Banyuwangi ini juga kagum dengan kebiasaan positif masyarakat yang ada di Warsaw, Polandia. Ia melihat bahwa jalan kaki, bersepeda, menggunakan transportasi publik menuju kantor tempat kerja merupakan satu budaya yang bagus dan patut ditiru. Selain itu, budaya kerja hemat sumber daya dan hidup terencana juga menggugahnya. “Sumber daya manusia yang berkualitas dapat dilihat dari pendidikannya. Semakin baik sistem pendidikannya, semakin baik pula SDM yang dihasilkan. Saya berharap pendidikan Indonesia semakin berkembang dengan baik, sehingga menciptakan budaya positif dari SDM yang dihasilkan,” imbuhnya. (haq/wil)
Mexpo Teknik Mesin UMM Pamerkan Teknologi Bantu UMKM Malang Raya

Program Studi (Prodi) Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar pameran karya dari mahasiswa dan dosen bertajuk Mechanical Engineering Expo (Mexpo). Agenda pada Rabu (10/8) ini memamerkan karya mahasiswa, utamanya yang telah membantu puluhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Malang Raya dengan output pembuatan karya mesin. Iis Siti Aisyah, ST., MT. Ph.D selaku ketua pelaksana Mexpo menuturkan jika agenda ini merupakan tahun kedua terselenggarakannya Mexpo. Adapun program ini bertujuan untuk memamerkan karya cipta mahasiswa Prodi Teknik Mesin UMM yang menarik. Selain itu juga sebagai pemenuhan syarat akreditasi internasional yang sedang dipersiapkan. “Melalui program ini, para pengunjung dan masyarakat bisa menyaksikan sederet alat menarik buah ide dari para mahasiswa. Tentu, semua alat ini dirancang dan dibuat dengan melalui beragam mata kuliah yang ditempuh,” tambahnya. Iis, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa sebelum mengadakan pameran Mexpo ini, para mahasiswa telah dikriim ke 60 UMKM yang tersebar di Malang Raya. Di masing-masing UMKM, mereka diminta untuk menggali dan menemukan permasalhan yang sedang dialami apra pelaku usaha. Kemudian memberikan dan menawarkan inovasi solutif berupa karya mesin. “lewat mata kuliah project design team, kami mengajak mahasiswa untuk memberi solusi terbaiknya dari ilmu perkuliahan yang telah didapat. Mata kuliah ini wajib bagi seluruh mahasiswa teknik mesin UMM untuk melahirkan sebuah karya mesin,” ujarnya. Salah satu karya unggulan dari pameran Mexpo ini adalah roasting kopi otomatis. Mahasiswa menemukan bahwa salah satu UMKM merasa biji kopi yang diroasting tidak begitu merata. Bahkan bisa sampai gosong dan merugikan. Bernagkat dari dari hal tersebut, mahasiswa mendesain mesin agar roasting merata dan menuai hasil yang maksimal. Selain produk dari mata kuliah, adapula produk yang dipamerkan di Mexpo adalah hasil dari Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM). Pun dengan beragam penelitian maupun lomba-lomba yang diikuti sivitas akademika Prodi Teknik Mesin. Salah satunya Robot Dome yang bulan lalu meraih juara 2 dalam Kontes Robot Indonesia 2022. Uniknya, dalam gelaran kedua mexpo ini, semua hal dirancang sepenuhnya oleh mahasiswa dan alumni yang saling bersinergi untuk ikut memeriahkan. Turut hadir pula para pelaku UMKM dan ratusan pengunjung dari siswa SMA dan SMK se-Malang Raya. “Saya berharap semoga Mexpo bisa jadi kegiatan tahunan. Jika tahun ini mengundang UMKM, saya berharap kedepan bisa menjangkau sasaran lebih luas dan bisa menjadi sarana komunikasi yang baik antara alumni dan mahasiswa,” pungkasnya. Senada dengan Iis, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I UMM menilai program seperti ini berhasil menguatkan internalisasi antara mahasiswa, dosen dan alumni. Utamanya untuk mendapatkan rekognisi secara internasional. Capaian ini tidak luput dari UMM yang dipercayai oleh Kemenristekdikti lewat Prodi Teknik Mesin untuk menjalankan Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) “Saya berharap dosen dan mahasiswa bisa berkompetisi tidak hanya di regional, tetapi juga di tingkat internasional. Dan Fakultas Teknik UMM berhasil menunjukan kemampuannya. Di beberapa perlombaan, bahkan sukses menyabet juara lomba robot maupun kompetisi lainnya. Hal ini menunjukan jika dosen dan mahasiswa teknik memiliki etos berkompetisi di berbagai level,” tegasnya. (ros/wil)
Kerjasama UMM-Pelaksana Program Kartu Prakerja Komitmen Lahirkan SDM Indonesia Unggul

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berupaya untuk terus mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi (PT). Terbaru, melalui kerjasama dengan Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja pada Rabu (9/8) lalu, Kampus Putih berkomitmen untuk dapat bersinergi bersama dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Indonesia. Adapun kerja sama itu berbentuk program pelatihan kartu prakerja Cahyo Prihadi selaku Direktur Pemantauan dan Evaluasi Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menyampaikan bahwa segala bentuk pelatihan harus berdampak pada kualitas SDM. Khususnya dalam aspek kompetensi dan keterampilan masyarakat Indonesia. Dengan begitu, masyarakat dalam memiliki skill yang bagus. Pun dengan peningkatan dan proses upgrade yang maksimal sehingga melahirkan SDM unggul yang mampu bersaing dengan negara lain. “Dari sinilah akan muncul SDM yang kompeten dan mandiri. Bahkan bisa juga menciptakan lapangan pekerjaan sendiri untuk masyarakat luas,” tegasnya. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan penanggungjawab tim ahli independen program pelatihan kartu prakerja UMM, Dr. Nur Subeki, S.T., M.T. Menurutnya, program pemantauan yang telah dilakukan bersama dengan tim sejauh ini berjalan dengan lancar. Koordinasi dan kerja keras tiap anggota menjadi salah satu alasannya. “Kesolidan tim UMM tentu sangat membantu dalam melangsungkan pemantauan ini. Begitupun dengan koordinasi dengan pihak Kartu Prakerja yang baik. Kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik demi menebar kemanfaatan bagi masyarakay luas,” tegasnya. Eki, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia dan pihaknya berkomitmen untuk melakukan pemantauan pelatihan secara efektif, efisien dan kredibel. Dengan begitu, proses belajar masyarakat Indonesia dalam memahami berbagai materi bisa lebih lancar. Pun dengan upaya memperjuangkan hak peserta untuk mendapatkan sertifikat keterampilan. Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III UMM itu mengatakan bahwa upaya ini juga menjadi salah satu cara Kampus Putih UMM untuk memberikan kontribusi signifikan. Utamanya dalam aspek peningkatan kualitas SDM yang dimiliki Indonesia. Apalagi, pada 2045 nanti Indonesia mencanangkan generasi emas 2045 yang akan menentukan kemajuan negeri. (*/wil)
LK UMM Ajari Menulis Warga Binaan Lapas Perempuan Malang

Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdayakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) perempuan kelas IIA Malang melalui kemampuan menulis pada Selasa (9/8) lalu. Berlokasi di Lapas perempuan, LK UMM membeberkan langkah-langkah mudah menulis cerita, penggunaan bahasa, hingga kiat membuahkan karya menarik. Tri Anna Aryati, Bc.IP, SH., M.Si. selaku kepala Lapas Perempuan Kelas II Malang bahagia akan kedatangan rombongan dari UMM. Menurutnya, ini menjadi kesempatan yang strategis bagi warga binaan lapas untuk menggali potensi dan menajamkan kemampuan menulis. Apalagi dengan sederet ahli yang sudah dihadirkan dan siap memberikan tips menulis yang baik. “Kalau di luar, mungkin bapak dan ibu pemateri akan diberi fee sebagai balasan pemberian materi. Namun, bapak dan ibu datang ke sini dengan penuh keikhlasan untuk berbagi ilmu dan memberikan jalan masa depan yang lebih baik bagi para warga binaan. Tentu doa akan selalu dipanjatkan untuk keberkahan bapak dan ibu,” tambahnya. Tri, sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa sebelumnya, warga Lapas bersama dengan UMM telah sukses menerbitkan buku berjudul Titik nadir Penantian. Bahkan, sebentar lagi buku tersebut akan naik cetak untuk yang kedua kali. Maka, Tri mendorong agar peserta pelatihan kedua ini mampu menyerap ilmu dan melahirkan karya Lapas yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala LK UMM Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. Menurutnya, para warga binaan sudah memiliki potensi dan kemampuan menulis. Hanya perlu dikembangkan dan dipoles hingga menjadi lebih baik. Ia juga yakin, peserta akan menorehkan karya yang tak kalah menarik dari buku sebelumnya, yakni Titik Nadir Penantian. Ia juga mendorong para warga binaan untuk merenung dan membaca buku-buku. Sehingga ide dan gagasan cerita bisa muncul dan menjadi pondasi menulis cerita yang unik nan menarik. Terbukti, buku Titik Nadir Penantian kini hanya tinggal satu yang tersisa dan akan segera naik cetak yang kedua dengan beberapa revisi. “Ini juga menjadi implementasi UMM dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi, yakni aspek pengabdian kepada masyarakat. Jadi kami tidak hanya fokus pada pendidikan dan penelitian saja, tapi juga harus berupaya bagaimana caranya memberdayakan dan memberikan manfaat bagi sesama,” tegasnya. Pelatihan tersebut juga disambut baik para warga binaan, salah satunya oleh Selvi. Menurutnya, agenda itu memberikan motivasi besar bagi mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu juga mnejadi pembuka jalan bagi mereka yang ingin menapaki impian menjadi seorang penulis. “Kalaupun tidak menjadi penulis, kami bisa menyampaikan cerita menggugah dari balik jeruji. Bagaimana kami melewati ini semua dan mengubah perspektif masyarakat yang mungkin salah terkait Lapas dan WBP. Semoga melalui pelatihan ini, potensi yang kami miliki makin terasah dan bisa melahirkan sebuah karya,” tegasnya mengakhiri. Pelatihan menulis tersebut menghadirkan sederet pemateri andal yang memaparkan cara menulis kepada para warga binaan. Mulai dari materi terkait menulis ceripa pendek, bahasa dalam sebuah cerita hingga peluang budaya digital. Pun dengan fiksi sebagai perspektif pembaca. (wil)
Bantu Petani Bawang, Mahasiswa UMM Kembangkan Teknologi Monitoring Kelembapan Tanah

Lonjakan harga bawang yang tak menentu membuat masyarakat menjadi resah. Hal ini terjadi karena gagal panen yang terjadi di beberapa daerah Indonesia. Melihat hal tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan teknologi bernama MONIKEL yang merupakan akronim dari MONItoring KELembapan Tanah pada Tanaman Bawang Merah melalui Chatbot Pesan Telegram. Teknologi ini diikut sertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil mendapat pendanaan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). Salah satu anggota tim, Muhammad Iqbaludin Zaky, menjelaskan bahwa penyebab gagal panen yang melanda para petani ini terjadi akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Dari hal tersebut, mahasiswa Jurusan Informatika ini menilai kelembapan tanah memiliki efek terhadap proses pertumbuhan bawang merah. Dari penelitian tersebut, kami menyimpulkan bahwa bawang merah membutuhkan pasokan air yang banyak namun dengan memperhatikan kadar kelembapan tanah. “Cuaca di Indonesia akhir-akhir ini tak menentu. Kadang hujan turun dengan deras sehingga merendam lahan bawang merah para petani. Jika kelembapan tanah meningkat melebihi standar, maka tanaman bawang merah mudah terserang penyakit dan hama. Sementara itu, jika kelembapan tanah kurang dari standar maka bawang merah akan menjadi kecil dan itu mengurangi daya jualnya karena hasilnya tidak maksimal,” ungkap anak tengah dari tiga bersaudara itu. Lebih lanjut, Zaky sapaan akrabnya menjelaskan bahwa MONIKEL ini berkonsep Internet of Things (IoT) dengan menggunakan teknologi arduino dan chatbot pesan telegram. Cara menggunakan alat ini adalah dengan menyambungkan prototipe alatnya ke telegram para petani. Setelah itu, alat akan dipasangkan ke beberapa titik lahan. Jika lahan kering, petani akan mendapatkan notifikasi pengingat. “Saya dan tim juga ingin mengkombinasikan MONIKEL dengan garden sprinkle. Jadi nantinya, alat ini bisa menyiram lahan secara otomatis jika para petani menekan tombol penyiraman yang ada di aplikasi telegram. Terintegrasinya MONIKEL dengan garden sprinkle ini juga membantu dalam mengetahui kelembapan tahan tiap bulannya,” kata mahasiswa asal Serang tersebut. Saat ini MONIKEL masih dalam tahap pengembangan prototipe. Tak sendiri, Zaky mengembangkan alat ini bersama tiga teman lainnya yaitu Gilly Huga Anargya, Farli Nahrul Javier, dan Wahyu Budi Utomo. Zaky menjelaskan jika nanti sudah sempurna, MONIKEL akan memiliki beberapa keunggulan dibanding alat-alat serupa yang telah beredar dipasaran. Keunggulan tersebut meliputi harga alat yang lebih murah, fitur yang tersedia cukup lengkap, serta hemat listrik karena menggunakan panel surya. “Saya berharap para petani dapat terbantu dengan alat yang kami bangun ini. Kami juga berharap hasil panen bawang merah dapat meningkat setelah menggunakan alat rancangan kami dan meminimalisir kerugian para petani,” ujarnya mengakhiri. (syi/wil)