Ribuan mahasiswa UMM atasi persoalan desa pada KKN berdampak 2026

Komitmen menghadirkan pengabdian mahasiswa yang berdampak nyata terus diperkuat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak, yang menempatkan kolaborasi ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, serta solusi berkelanjutan sebagai bagian dari identitas pengembangan tridarma perguruan tinggi. Melalui semangat tersebut, UMM terus mendorong lahirnya program-program pengabdian yang tidak hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata dalam jangka panjang melalui inovasi mahasiswa. Tidak lagi sekadar menjalankan aktivitas rutin di desa, mahasiswa didorong menghasilkan karya inovatif serta solusi konkret atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor pertanian, pariwisata, pendidikan hingga pemberdayaan sosial lintas negara. Hal tersebut terlihat dalam pameran produk dan inovasi mahasiswa KKN pada 25 Februari lalu yang menjadi rangkaian akhir program pengabdian tahun ini. Sebanyak 450 mahasiswa yang tergabung dalam 17 kelompok mempresentasikan berbagai hasil program yang lahir dari proses pendampingan langsung bersama masyarakat, termasuk satu kelompok yang menjalankan pengabdian internasional di Malaysia. Berbagai inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat hadir melalui program KKN UMM, mulai dari optimalisasi sistem irigasi untuk membantu petani meningkatkan efisiensi distribusi air sekaligus menjaga produktivitas lahan melalui edukasi pengelolaan sumber daya air berbasis partisipasi warga. Di sektor pariwisata, mahasiswa turut menguatkan kembali eksistensi Kampung Warna-Warni Jodipan melalui pelatihan komunikasi bahasa asing dan pelayanan wisata bagi warga agar lebih siap menerima wisatawan mancanegara serta membuka peluang ekonomi baru. Pengabdian juga menjangkau tingkat internasional melalui pendampingan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Penang, Malaysia. Dengan membantu akses belajar, penguatan literasi dasar, motivasi pendidikan, hingga pelaksanaan kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai wujud solidaritas dan pengabdian lintas negara. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa konsep KKN Berdampak menjadi arah utama pengabdian mahasiswa setelah kampus kembali menghidupkan model KKN berbasis tinggal bersama masyarakat pascapandemi. “Program KKN harus memberi kontribusi yang tidak mungkin ada kalau mahasiswa itu tidak hadir. Jadi bukan sekadar kegiatan rutin seperti mengajar atau menjadi panitia kegiatan masyarakat, tetapi harus menghadirkan sesuatu yang baru,” ujarnya. Menurutnya, mahasiswa didorong menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, baik melalui teknologi tepat guna, pengembangan metode pendidikan, hingga penguatan ekonomi lokal. Dampak program juga harus terukur sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Selain berdampak, keberlanjutan menjadi prinsip utama pelaksanaan KKN UMM. Kampus mulai menyusun data dasar sebagai baseline pengembangan desa agar program mahasiswa tidak berhenti setelah masa pengabdian selesai. “Minimal tiga sampai lima tahun ke depan kita ingin melihat perubahan nyata di lokasi KKN. Mahasiswa berikutnya tidak lagi memulai dari nol, tetapi melanjutkan solusi yang sudah dirintis sebelumnya,” tambahnya. Apresiasi juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Ricky Meinardi, S.T., M.T., menyebut program KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai model pengabdian yang mampu menghadirkan inovasi berkelanjutan. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan program saja, tetapi memberikan berbagai inovasi yang positif dan solusi terhadap permasalahan di desa. Kami berharap kontribusi ini dapat terus berlanjut dan semakin berkembang di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya. Ia juga berharap sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah semakin diperkuat agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas. “Kolaborasi antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi seperti UMM ini sangat penting. Harapannya kerja sama ini terus terjalin sehingga inovasi mahasiswa benar-benar mampu memberikan sumbangsih nyata, tidak hanya bagi masyarakat desa, tetapi juga bagi pembangunan Kabupaten Malang secara keseluruhan,” pungkasnya.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tak Sekadar Percantik Kampung, KKN UMM Angkat Kualitas Warga Jodipan di Sektor Wisata

Sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui program pengabdian. Spirit tersebut tercermin dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tidak hanya bersifat seremonial, melainkan dirancang sebagai ruang implementasi gagasan kreatif, teknologi adaptif, dan pemberdayaan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, UMM mendorong mahasiswanya menjadi agen perubahan yang mampu membaca potensi lokal sekaligus menguatkannya secara strategis. Kampus putih yang konsisten mengusung semangat inovasi dan kemandirian, mahasiswa KKN UMM kembali menghadirkan gagasan strategis untuk menghidupkan potensi wisata lokal. Melalui program di Kampung Warna-Warni Jodipan, tim KKN tidak hanya memperkuat aspek estetika kawasan, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas warga sebagai pelaku utama pariwisata. Ketua Kelompok 13, Muhammad Syahva Putra Disa Rizki yang akrab disapa Syahva memimpin perumusan program berbasis pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kampung wisata membutuhkan sentuhan ide kreatif agar tetap hidup, relevan, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman. Program kerja yang dijalankan meliputi Speaking Color, Sparkling Jodipan, dan Jodipan Clay. Speaking Color difokuskan pada pembelajaran bahasa sederhana bagi anak-anak agar lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan. Program ini dinilai penting karena kemampuan komunikasi menjadi kunci utama dalam sektor pariwisata. “Program ini kami rancang untuk membantu memberdayakan warga, terutama agar mereka lebih siap dan percaya diri dalam menyambut serta berinteraksi dengan wisatawan,” ujar Syahva. Sementara itu, Sparkling Jodipan dan Jodipan Clay diarahkan pada pengembangan potensi ekonomi kreatif. Mahasiswa mendorong warga mengemas produk sederhana seperti minuman dan suvenir agar memiliki nilai tambah serta daya tarik baru bagi pengunjung. Upaya tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat sirkulasi ekonomi lokal berbasis kreativitas warga. Program unggulan yang paling mencuri perhatian adalah Warna Digital Jodipan. Inovasi ini menghadirkan kode QR pada mural-mural kampung. Setiap kode terhubung dengan cerita di balik lukisan, mulai dari tradisi lama masyarakat hingga simbol identitas lokal Malang. “Karena setiap lukisan memiliki QR tersendiri, pengunjung dapat langsung mengakses penjelasan, sehingga mereka tidak hanya menikmati visualnya, tetapi juga memahami arti di balik karya tersebut,” jelasnya. Digitalisasi narasi mural tersebut menghadirkan pengalaman wisata yang lebih edukatif. Pengunjung tidak sekadar berfoto, tetapi juga memperoleh pemahaman tentang nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa UMM dalam memadukan kreativitas, teknologi, dan kearifan lokal secara adaptif. Sebuah cerminan karakter kampus yang mendorong integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan sosial menjadi fondasi utama pelaksanaan program. Mahasiswa membangun kedekatan dengan warga melalui dialog santai, membeli produk lokal, hingga mendampingi anak-anak belajar pada malam hari. Cara ini memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program berjalan partisipatif. Menurut Syahva, perubahan paling nyata terlihat dari meningkatnya kesiapan warga dalam menyambut wisatawan secara lebih profesional. Ia mengamati adanya perkembangan dalam cara warga berkomunikasi, memberikan informasi, serta membangun kesan pertama yang positif bagi pengunjung. Hal tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik Jodipan sebagai destinasi yang ramah dan edukatif. “Kini warga lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan, karena bahasa dan cara menyambut tamu adalah kunci utama bagi kampung wisata seperti Jodipan,” terangnya. Dosen pembimbing, Jamroji, S.Sos., M.Comms., menilai program tersebut relevan dengan kebutuhan aktivasi kawasan wisata. Ia menyebut mahasiswa didorong untuk berpikir kreatif, adaptif, dan berorientasi pada solusi nyata yang berkelanjutan, selaras dengan visi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang terukur. Program-program yang telah dirintis selanjutnya diserahkan kepada warga untuk dikelola secara mandiri. Tim KKN juga membuka ruang komunikasi lanjutan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan akademik. Melalui KKN tematik ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak. Mahasiswa hadir bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan membawa gagasan, membangun kolaborasi, serta meninggalkan fondasi pemberdayaan yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Ramadan dan Polemik Rakaat Tarawih, Pakar UMM Ungkap Sejarah Ijtihad di Balik Perbedaan

Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap menjadi perbincangan hangat setiap Ramadan. Tak jarang, perbedaan angka seolah menjadi tolok ukur sah atau tidaknya ibadah. Padahal, di balik variasi tersebut tersimpan khazanah ijtihad yang panjang, argumentatif, dan kaya dalam tradisi fikih Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan bahwa perbedaan itu bukan bentuk pertentangan, melainkan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam. “Perbedaan jumlah rakaat tarawih terjadi karena adanya perbedaan interpretasi dan kontekstualisasi terhadap dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan qiyas. Al-Qur’an memang memerintahkan salat melalui ayat-ayat seperti aqimus shalah, tetapi tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih. Karena itu, hadis berfungsi sebagai bayan tafsir atau penjelas terhadap ayat-ayat yang bersifat global. Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, maka perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan,” ujarnya 24 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih jauh, Tanzil sapaan akrabnya menjelaskan secara historis umat Islam merujuk pada imam-imam mazhab yang memiliki metode istinbat hukum berbeda, sehingga melahirkan variasi praktik yang sama-sama memiliki landasan. Mazhab Hanafi menetapkan 20 rakaat berdasarkan ijma’ sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki menetapkan 36 rakaat dengan merujuk pada praktik penduduk Madinah. Sementara itu, Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung menetapkan 20 rakaat dengan dasar hadis mauquf dan amalan sahabat pascawafat Nabi. Sedangkan Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat dengan merujuk pada hadis Aisyah tentang praktik salat malam Rasulullah. “Dalam hadis riwayat Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Riwayat muttafaq ‘alaih itu menjelaskan bahwa Nabi salat empat rakaat dengan panjang dan kekhusyukan yang luar biasa, lalu empat rakaat berikutnya dengan kualitas serupa, kemudian ditutup tiga rakaat witir. Dari sinilah dipahami formasi 4-4-3 yang menjadi dasar praktik 11 rakaat di kalangan Muhammadiyah,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa konsep Qiyamul Ramadan pada dasarnya identik dengan Qiyamul Lail. Karena itu, tarawih tidak terlepas dari witir sebagai penutup salat malam. Variasi seperti 2-2-2-2-1 atau 4-4-3 merupakan bentuk teknis pelaksanaan yang tetap berada dalam koridor dalil sahih. Dalam beberapa riwayat, Nabi juga pernah melaksanakan witir sembilan rakaat atau dengan formasi lainnya. Dalam perspektif qiyas, karena salat malam tidak dibatasi jumlahnya, maka komposisi rakaat tarawih dipahami secara fleksibel selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip dasar syariat. “Yang menjadi persoalan justru ketika suatu amalan tidak memiliki dalil, atau dalilnya lemah bahkan maudhu’. Itu yang harus dihindari. Karena itu, umat Islam seharusnya tidak menjadikan perbedaan jumlah rakaat sebagai sumber perpecahan. Keragaman tersebut menunjukkan keluasan ijtihad dan dinamika intelektual dalam Islam. Perbedaan antara empat mazhab dan Muhammadiyah bukan perpecahan, melainkan kekayaan dalam memahami dalil,” tegasnya. Pada akhirnya, Tanzil menekankan bahwa esensi tarawih bukan terletak pada angka, melainkan pada kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa semangat qiyamul lail tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan usai, sebab salat malam merupakan sunnah yang dicontohkan Nabi sepanjang tahun. Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat hendaknya dipahami sebagai ruang toleransi ilmiah, bukan alasan untuk saling menyalahkan dalam menjalankan ibadah.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bikin Inovasi Cegah Komplikasi Kehamilan, Tim UMM Sabet Juara di Panggung Internasional

Langit Kuala Lumpur menjadi saksi langkah berani sekaligus bukti bahwa inovasi anak bangsa mampu bersaing di panggung dunia. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi internasional melalui gagasan riset berbasis teknologi kesehatan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sebagai Kampus Inovasi, Mandiri, dan Berdampak, UMM terus menunjukkan komitmennya dalam melahirkan generasi unggul yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan global. Komitmen tersebut kembali terbukti melalui raihan Silver Medal kategori Health pada ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Kuala Lumpur, Malaysia. Kompetisi ilmiah internasional yang digelar oleh Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) UPM pada 14–15 Februari 2026 ini menjadi wadah kolaborasi riset dan inovasi kewirausahaan mahasiswa dari berbagai negara. Sebanyak 100 tim finalis dari delapan negara berhasil melaju ke babak akhir, yakni Indonesia, Malaysia, Kazakhstan, Nigeria, Suriah, Brunei Darussalam, Somalia, dan Thailand. Ketua tim UMM, Vera Miftakul Rahma Kamal, mahasiswa Program Studi Kedokteran, menjelaskan bahwa kompetisi tersebut melalui proses seleksi yang ketat. “International Student Competition atau ISC merupakan kompetisi ilmiah internasional yang dimulai dari seleksi abstrak, dilanjutkan pengiriman paper lengkap, hingga presentasi final secara langsung di hadapan dewan juri,” ujarnya. Tim UMM terdiri atas empat mahasiswa lintas disiplin ilmu, yakni Vera Miftakul Rahma Kamali (Kedokteran), Wildan Hidayatullah (Farmasi), Hawa Restu Dwinanta (Pendidikan Bahasa Inggris), serta Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi). Mereka dibimbing oleh dr. Desy Andari, M.Biomed. Kolaborasi multidisipliner tersebut menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya kuat secara konsep ilmiah, tetapi juga matang dari sisi komunikasi, implementasi, hingga keberlanjutan. Pada kategori Health, tim menghadirkan inovasi “NEOSENTIA: Real Time Maternal Risk Detection and Prevention through Multilingual AI Guardian Driven System.” “Aplikasi ini kami rancang sebagai pendamping ibu hamil berbasis artificial intelligence yang terhubung langsung dengan tenaga kesehatan serta menggunakan pendekatan data ilmiah,” jelas Rahma sapaan akrabnya. NEOSENTIA merupakan sistem deteksi risiko maternal berbasis AI yang bersifat non-invasif dan dirancang untuk mendukung pemantauan mandiri selama masa kehamilan secara proaktif. Platform ini mengintegrasikan data perangkat wearable, laporan gejala dari pengguna, serta rekam medis elektronik sehingga mampu melakukan analisis risiko secara berkelanjutan. Melalui sistem tersebut, potensi komplikasi kehamilan dapat terdeteksi lebih dini sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan intervensi secara tepat waktu. Desain multibahasa yang diusung juga memperluas akses penggunaan di berbagai wilayah dan latar belakang pengguna. Selain itu, sistem berbasis website memungkinkan tenaga medis memantau kondisi pasien secara terintegrasi dan real time. Inovasi ini dinilai relevan dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menekan risiko komplikasi kehamilan melalui pendekatan teknologi preventif. Bagi Rahma, pengalaman tampil di forum internasional memberikan pembelajaran penting tentang makna kompetisi yang sesungguhnya. “Kami belajar bahwa kompetisi bukan sekadar soal gengsi atau kemenangan, tetapi tentang keberanian keluar dari zona nyaman, bertukar perspektif dengan mahasiswa dunia, dan terus berkembang,” katanya. Di sisi lain, dosen pembimbing dr. Desy Andari, M.Biomed., menilai capaian tersebut menjadi bukti kesiapan mahasiswa UMM bersaing secara global sekaligus menunjukkan kualitas ekosistem akademik yang mendukung lahirnya inovasi berdampak. Ia berharap inovasi NEOSENTIA dapat terus dikembangkan menuju tahap implementasi nyata di layanan kesehatan serta dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Prestasi ini semakin memperkuat posisi kampus putih sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak yang konsisten mendorong kolaborasi lintas disiplin, riset aplikatif, serta keberanian mahasiswa untuk tampil dan memberi kontribusi nyata di level internasional. Melalui dukungan ekosistem pembelajaran yang adaptif dan berbasis solusi, UMM terus melahirkan inovator muda yang membawa gagasan lokal menuju manfaat global. (ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Diplomasi Tak Selalu Politik, Alumnus UMM Bangun Citra Indonesia Lewat Seni di Amerika Latin

Dari ruang kelas menuju panggung diplomasi internasional, perjalanan Noegroho Darmo Samodra membuktikan bahwa keberanian mengambil peluang dapat membuka jalan menuju karier global. Alumni Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2013 itu kini dipercaya mengemban tugas sebagai Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Quito, Ekuador. Kiprahnya menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana UMM sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak terus melahirkan lulusan yang mampu berkontribusi di level internasional. Lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa aktif berorganisasi, berpikir kritis, serta berani mencoba peluang baru menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya. Karier internasionalnya bermula pada 2020 ketika ia memberanikan diri mengikuti seleksi pegawai setempat di lingkungan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Berbekal kemampuan bahasa Spanyol, ia mengirimkan curriculum vitae dan mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga akhirnya diterima dan ditempatkan di KBRI Santiago, Chile. Di sana, ia bertugas pada Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya dengan tanggung jawab mengelola informasi diplomatik sekaligus memperkuat citra Indonesia melalui pendekatan budaya dan pendidikan. Berbagai kegiatan diplomasi pun ia tangani, mulai dari konser gamelan, pertunjukan seni tari, hingga kolaborasi kerja sama antarperguruan tinggi Indonesia dan Amerika Latin. “Diplomasi tidak selalu berbicara soal politik. Lewat seni dan budaya, masyarakat bisa mengenal Indonesia lebih dekat. Dari situ hubungan antarnegara menjadi lebih hangat,” jelasnya 22 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Sejak masa kuliah, Noegroho menceritakan bahwa ia aktif mengembangkan kapasitas kepemimpinan melalui organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat sebagai Koordinator Olahraga, Seni, dan Budaya di BEM FISIP UMM sebelum dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di BEM Universitas. “Pengalaman organisasi di kampus sangat membentuk cara saya bekerja sekarang. Saya belajar mengelola tim, berkomunikasi dengan banyak pihak, dan menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya. Menurutnya, tantangan dunia kerja jauh berbeda dibanding masa kuliah. Jika tugas akademik berdampak pada individu, maka pekerjaan diplomatik membawa tanggung jawab yang lebih luas. “Setiap keputusan dalam pekerjaan bisa berdampak pada institusi bahkan negara. Karena itu saya belajar disiplin mengatur waktu antara pekerjaan, olahraga, dan istirahat,” katanya. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah keterlibatan dalam proyek film kontemporer lintas negara yang menggunakan gamelan Indonesia sebagai soundtrack. Ia bahkan turut memainkan gamelan bersama musisi asal Chile. “Rasanya bangga ketika budaya Indonesia hadir dalam karya seni internasional. Di situ saya merasa benar-benar membawa identitas Indonesia,” kenangnya. Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mencoba peluang. “Membangun karier memang tidak mudah. Tapi kalau ada kesempatan, jalani saja. Kita tidak pernah tahu jalan ke depan seperti apa. Yang penting ikhtiar dulu,” tutupnya.(rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dulu Aktivis UMM, Begini Kisah Mantan Menhan Timor-Leste Pulang ke Kampus Putih Rampungkan Doktoral

Perjalanan akademik Julio Tomas Pinto seolah kembali ke titik awal. Setelah lama berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan Timor-Leste, ia kembali ke bangku kampus tempat masa mudanya ditempa, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus itulah ia akhirnya meraih gelar doktor melalui riset tentang transformasi militer negaranya. Bagi Julio, UMM bukan sekadar tempat belajar. Ia menyebut kampus di Kota Malang itu sebagai rumah kedua yang membentuk perjalanan intelektual dan kepemimpinannya. “Saya sudah tahu tradisi akademik di kampus ini, jadi tidak ada alasan untuk tidak memilih UMM,” ujarnya 14 Februari lalu saat gala dinner dengan pimpinan UMM. Julio pertama kali datang ke Malang pada 1993 sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Di masa itu, ia dikenal aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi. Aktivitas organisasi tersebut menjadi ruang belajar politik sekaligus kepemimpinan yang kelak membawanya masuk ke pemerintahan Timor-Leste. Setelah lulus pada 1998, Julio melanjutkan studi Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Minatnya pada isu pertahanan dan keamanan semakin kuat seiring perjalanan bangsanya menuju negara merdeka. Ia kemudian terlibat langsung dalam pemerintahan dan pernah dipercaya menjadi Menteri Muda Pertahanan. Kini ia juga menjabat penasihat Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta serta anggota Dewan Tinggi Pertahanan dan Keamanan. Meski aktif di dunia politik, Julio tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan menulis sejumlah buku mengenai keamanan nasional serta hubungan sipil–militer. Kerinduan untuk kembali belajar akhirnya membawanya pulang ke UMM. Ia memilih menempuh program doktoral dengan fokus pada sosiologi militer di bawah bimbingan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Julio ingin meneliti perjalanan militer negaranya sendiri, terutama transformasi pasukan gerilya FALINTIL menjadi angkatan bersenjata nasional Falintil–Forças de Defesa de Timor-Leste (F-FDTL). “Saya kembali ke UMM karena sudah mengenal kultur akademiknya. Selain itu, saya memang tertarik meneliti sosiologi militer dan ingin belajar langsung dari pak Muhadjir Effendy,” kata Julio. Dalam penelitiannya, ia menyoroti bagaimana profesionalisme militer dibangun dalam konteks negara kecil yang baru keluar dari konflik. Menurutnya, profesionalisme militer tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan praktik sosial yang dipengaruhi sejarah, budaya, serta relasi kekuasaan. “Tidak ada model transformasi profesionalisme militer yang tunggal. Negara kecil pascakonflik seperti Timor-Leste memiliki caranya sendiri dalam membangun tentara nasional,” jelasnya. Dari riset tersebut, Julio merumuskan konsep professionalismo militar híbrido, yakni model profesionalisme militer yang memadukan dimensi historis, politik, institusional, hingga relasi internasional. Selama penelitian, ia mengaku relatif mudah memperoleh data karena memiliki kedekatan dengan banyak tokoh penting di negaranya, termasuk Perdana Menteri Xanana Gusmão. Ujian doktornya di Malang pun terasa istimewa. Sejumlah pejabat tinggi Timor-Leste hadir menyaksikan sidang promosi tersebut. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap kontribusi akademik yang diharapkan bermanfaat bagi negara tersebut. Bagi Julio, gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia berharap penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan profesionalisme militer serta kebijakan keamanan di Timor-Leste. “Secara teoritik riset ini memperkaya kajian sosiologi militer, dan secara praktis bisa membantu reformasi sektor keamanan yang lebih sesuai dengan konteks sosial dan sejarah negara kami,” tutupnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Sensasi Berbuka di Atas Kapal Pesiar, Kapal Garden Hotel Malang by UMM Luncurkan “Ramadhan – Feast of Harmony

Berbuka puasa serasa berada di atas kapal pesiar menjadi daya tarik utama yang ditawarkan salah satu unit bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, yakni Kapal Garden Hotel Malang by Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Ramadhan tahun ini. Hotel tersebut telah resmi meluncurkan menu buka puasa terbarunya dalam tajuk “Ramadhan – Feast of Harmony”. Mengusung konsep soft launching dan test food menu iftar. Acara ini dihadiri perwakilan instansi, mitra perbankan, pemerintah setempat, media, serta influencer yang turut menyaksikan dan mencicipi langsung sajian yang ditawarkan. Konsep kapal pesiar yang diangkat bukan sekadar dekorasi tematik. Secara arsitektural, Kapal Garden Hotel memang dirancang menyerupai kapal besar, sehingga identitas tersebut menjadi kekuatan utama dalam membangun pengalaman ruang bagi pengunjung. Sensasi berbuka di kapal pesiar semakin terasa karena kegiatan iftar dilangsungkan di area rooftop hotel. Dari ketinggian tersebut, tamu dapat menikmati panorama sekitar sembari merasakan hembusan angin yang cukup kencang, menciptakan suasana yang imersif layaknya berada di dek kapal. Penataan meja, tata cahaya, hingga alur penyajian menu dirancang selaras dengan konsep tersebut agar pengalaman berbuka tidak hanya soal rasa, tetapi juga atmosfer. Menu yang dihadirkan memadukan cita rasa lokal, nusantara, dan Timur Tengah. Sajian pembuka terdiri atas kurma, infus water, es dawet dengan santan premium, serta kolak pisang yang identik dengan Ramadan. Hidangan utama meliputi nasi putih, sup merah khas Surabaya, ayam bakar bumbu hitam berbahan kluwek khas Madura, bakso Malang, hingga mie ayam berkuah segar. Sentuhan Timur Tengah dihadirkan melalui signature Arus Briyani serta aneka gorengan dengan cocolan petis. Seluruh hidangan diperkenalkan melalui sesi live cooking bersama Chef Kusman yang menjelaskan bahan, teknik pengolahan, serta karakter rasa kepada para tamu undangan. Dalam sambutannya, Manager Kapal Garden Hotel Malang, Teguh Hadi Saputro, menyampaikan bahwa peluncuran menu iftar ini merupakan bagian dari komitmen hotel sebagai unit bisnis UMM untuk terus berinovasi dalam layanan hospitality. Ia menegaskan bahwa Ramadan menjadi momentum penting untuk menghadirkan pengalaman berbuka yang tidak hanya berorientasi pada sajian kuliner, tetapi juga pada nilai kebersamaan dan harmoni. Kehadiran para tamu undangan dinilainya sebagai bentuk dukungan strategis dalam memperkenalkan identitas Kapal Garden yang unik kepada masyarakat Malang Raya. “Pada Rabu, 11 Februari 2026 lalu, kami meluncurkan menu iftar dengan tema Ramadhan Feast of Harmony. Konsep ini kami angkat karena hotel kami memang berbentuk kapal, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman berbuka layaknya berada di kapal pesiar, terlebih lokasinya di rooftop yang memberikan suasana dan angin yang khas. Kami berharap momentum ini menjadi awal kolaborasi yang semakin baik, serta menjadikan Kapal Garden sebagai pilihan utama untuk berbuka puasa bersama keluarga, kolega, maupun komunitas,” ujarnya. Salah satu peserta yang hadir, Vivin Dwi Oktavia, mengaku konsep tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan tempat berbuka puasa lainnya di Malang. Menurutnya, perpaduan suasana rooftop dan bentuk bangunan yang menyerupai kapal menghadirkan kesan eksklusif sekaligus nyaman. “Menurut saya ini menarik sekali, karena belum ada di Malang yang konsepnya seperti makan di kapal pesiar. Tempatnya di rooftop, jadi anginnya terasa dan suasananya benar-benar berbeda. Makanannya juga enak dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka mie ayamnya, karena kuahnya segar dan pas setelah seharian berpuasa,” ungkapnya. Melalui peluncuran “Ramadhan – Feast of Harmony” ini, Kapal Garden Hotel Malang menegaskan upayanya dalam mengintegrasikan identitas arsitektural dengan inovasi layanan kuliner. Dengan konsep tematik yang kuat serta pengalaman ruang yang khas, program iftar tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu destinasi berbuka puasa yang berkesan di Malang Raya pada Ramadan tahun ini.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Solusi Sampah dari Kampus, Mesin Karya Dosen dan Mahasiswa Olah Limbah Harian

Sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak di tengah meningkatnya persoalan sampah dan krisis lingkungan, Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan langkah konkret melalui pembangunan sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus. Inisiatif ini tidak hanya menjadi upaya menjawab tantangan pengelolaan limbah, tetapi juga memperkuat komitmen kampus terhadap pembangunan berkelanjutan, target Sustainable Development Goals (SDGs), serta mendukung indikator penilaian UI GreenMetric World University Rankings. Program tersebut menghasilkan tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan diinstalasi secara terintegrasi oleh tim internal kampus. Berdasarkan laporan kegiatan, kampus putih dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Sampah tersebut terdiri atas plastik sebesar 45 persen atau sekitar 540 kilogram per hari, limbah organik terkontaminasi plastik sebanyak 360 kilogram (30 persen), serta limbah ranting mencapai 300 kilogram atau 25 persen. Sebelum proyek berjalan, TPS UMM hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan tanpa teknologi pengolahan, sehingga sebagian besar sampah masih bergantung pada proses pengangkutan keluar kampus. Ketua pelaksana proyek, Ir, Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM, mengatakan pembangunan sistem tersebut berawal dari kebutuhan kampus untuk menunjukkan pengelolaan lingkungan yang terukur dalam proses evaluasi GreenMetric. “Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” ujarnya 21 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Proyek ini dikerjakan oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM yakni unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik yang biasa menangani proyek rekayasa industri, sertifikasi internasional, hingga kerja sama strategis dengan berbagai lembaga. Seluruh proses mulai dari desain teknik, manufaktur, hingga instalasi dilakukan oleh tim internal yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek. “Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” kata Iis. Tiga alat utama yang dipasang meliputi mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam yang mampu menghasilkan serpihan berukuran 5–10 milimeter untuk meningkatkan nilai jual limbah botol plastik, mesin pencacah ranting berkapasitas hingga 300–500 kilogram per jam yang menghasilkan serbuk biomassa sebagai bahan media tanam atau kompos, serta alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan mencapai 90–92 persen. Sistem tersebut dirancang sebagai alur pengolahan terpadu. Sampah campuran dari kantin maupun aktivitas kampus dapat dimasukkan langsung bersama kantong plastiknya ke mesin pemilah. Plastik ringan akan terlempar ke bagian belakang, sementara sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk proses lanjutan. Lebih jauh, Iis menjelaskan bahwa tim perancang menyiapkan konsep pengembangan menuju zero waste. Limbah organik cair direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi karena posisi TPS berada di area lereng, sehingga tidak membutuhkan pompa tambahan. “Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil,” jelasnya. Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas teknis, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan inovasi riset berkelanjutan. Optimalisasi operasional, peningkatan pasokan sampah organik, serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang diyakini mampu mendorong lahirnya solusi baru berbasis teknologi tepat guna. Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, fasilitas ini berpotensi menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri, efisien, sekaligus menginspirasi institusi pendidikan lain untuk bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan minim limbah.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bangkit dari Kegagalan, Mahasiswi UMM Raih Runner Up 1 Putri Lokantara Indonesia 2026

Kegagalan tidak selalu menjadi akhir perjalanan. Bagi Octavia Nurul Rohmah Azawie, justru dari kegagalan, keberanian untuk mencoba kembali tumbuh semakin kuat. Prinsip itulah yang mengantarkan mahasiswi Program Studi Psikologi angkatan 2025 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini meraih gelar Runner Up 1 Putri Lokantara Indonesia 2026. Dalam ajang tersebut, Octavia membawa advokasi bertajuk “Culturavia”, gabungan dari kata culture dan namanya, Octavia. Advokasi ini terinspirasi dari latar belakang keluarganya yang memiliki bisnis perjalanan wisata dengan destinasi di berbagai wilayah Indonesia. Dari pengalaman itu, ia melihat besarnya potensi pariwisata dan budaya Indonesia yang perlu terus digaungkan oleh generasi muda. Melalui program “Culturavia”, Octavia ingin mengajak generasi muda tidak hanya menikmati keindahan wisata, tetapi juga memahami nilai budaya yang menyertainya. Menurutnya, promosi pariwisata seharusnya berjalan seiring dengan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan identitas lokal. “Saya ingin melestarikan budaya dengan cara dan ciri khas saya sendiri. Saya ingin menunjukkan bahwa generasi muda juga bisa menjadi wajah pariwisata Indonesia,” ujarnya kepada tim Humas UMM, 19 Februari lalu. Mahasiswi asal Kota Batu yang akrab disapa Octavia itu juga mengungkapkan bahwa perjalanannya tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami kegagalan saat mengikuti ajang pemilihan duta di tingkat regional. Namun kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia bangkit dan kembali mencoba dengan mengikuti ajang Putra Putri Tari Jawa Timur 2025 hingga berhasil menorehkan prestasi. Kepercayaan dirinya semakin meningkat ketika mengikuti Putra Putri Lokantara Jawa Timur 2025 dan berhasil meraih gelar Winner, yang sekaligus membawanya melangkah ke tingkat nasional. Bagi Octavia, satu kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari pengalaman tersebut ia belajar untuk bangkit, melangkah lebih jauh, dan membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba kembali dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih tinggi. Ia juga mengakui bahwa perjalanan menuju ajang Putra Putri Lokantara Indonesia 2026 bukanlah proses yang mudah. Sebagai mahasiswa yang aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA), Octavia harus membagi waktu antara perkuliahan, organisasi, dan persiapan kompetisi. Bahkan, waktu persiapan menuju tingkat nasional hanya sekitar dua minggu. Selama masa karantina hingga Grand Final di Semarang, Octavia mengikuti berbagai pembekalan yang semakin mengasah kemampuan dan kepercayaan dirinya. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan diraihnya gelar Runner Up 1 Putri Lokantara Indonesia 2026. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Jawa Timur dan UMM. Di sisi lain, Kepala Urusan Minat, Bakat, dan Prestasi Mahasiswa UMM, Setiya Yunus Saputra, M.Pd., turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi yang diraih Octavia merupakan langkah awal untuk kontribusi yang lebih luas. “Semoga prestasi ini menjadi motivasi bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi dan kesempatan yang sama. Kami di bidang Minat Bakat dan Pengembangan Prestasi akan terus berkomitmen menyediakan ruang, kesempatan, serta dukungan agar mahasiswa berani berproses dan berprestasi sesuai passion masing-masing,” tutupnya. (*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bukan Sekadar Bangunkan Sahur, UMM Jadikan SOTR Ruang Merawat Identitas Budaya Malang

Tabuhan kentongan bersahut-sahutan memecah sunyi dini hari di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Di antara ritme kayu yang dipukul berulang, sosok penari Topeng Malangan melangkah menyusuri gang sempit, membangunkan warga untuk sahur dengan cara yang tak biasa. Itulah wajah berbeda Sahur On The Road (SOTR) yang dihadirkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 20 Februari 2026. Jika biasanya patroli sahur identik dengan pengeras suara atau sekadar arak-arakan, kali ini UMM mengawinkannya dengan sentuhan budaya lokal. Kentongan dijadikan instrumen utama, sementara penari Topeng Malangan hadir sebagai simbol identitas kampung. Perpaduan ini membuat suasana sahur terasa lebih hidup sekaligus sarat makna tradisi. “Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi warga. Selama ini belum pernah ada keliling kampung membangunkan sahur dengan iringan penari topeng seperti ini. Ini pertama kalinya terjadi di sini,” ujar penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang akrab disapa Ki Demang. Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan sekadar meramaikan Ramadan, melainkan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap identitas budaya kampung. Ia menilai tradisi harus dihadirkan dalam ruang-ruang aktual agar tetap hidup dan tidak hanya menjadi tontonan seremonial. Setelah patroli keliling, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di salah satu titik kampung yang dikenal warga sebagai Pawon. Gerakan khas dengan karakter topeng yang kuat menjadi puncak acara. Pertunjukan itu sekaligus menjadi ruang edukasi budaya bagi mahasiswa dan generasi muda setempat. “Tari Topeng Malangan bukan hanya tontonan, tetapi warisan leluhur yang menyimpan nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang. Begitu juga kentongan, bukan sekadar dipukul untuk membangunkan sahur, tetapi alat komunikasi warga yang memiliki makna sosial. Ketika keduanya dipadukan dalam patroli sahur, ini menjadi sumbangsih yang besar,” tambah Ki Demang. Disisi lain, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, menjelaskan bahwa konsep SOTR tahun ini memang dirancang sebagai kolaborasi sosial dan budaya. Mahasiswa KKN didorong untuk membangun kedekatan dengan masyarakat berbasis kearifan lokal, bukan hanya menjalankan agenda berbagi. “Mengangkat Tari Topeng dalam momentum sahur bukan sekadar memperkuat identitas budaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang menyatu. Kentongan menjadi simbol solidaritas, sementara tari topeng merepresentasikan warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya. Rangkaian kegiatan ditutup dengan santap sahur bersama yang didukung Hotel Kapal Garden dan Sengkaling Kuliner. Mahasiswa dan warga duduk berdampingan, menikmati hidangan setelah patroli dan pertunjukan usai. Suasana hangat itu menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga ruang mempererat relasi sosial. Melalui konsep ini, UMM menunjukkan bahwa gerakan sosial mahasiswa dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Patroli sahur bukan lagi sekadar tradisi membangunkan warga, melainkan medium merawat identitas lokal. Di Polowijen, kentongan dan topeng tak hanya berbunyi dan menari, keduanya menghidupkan kembali denyut kebersamaan.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman