Dosen UMM Tanggapi Soal Pemekaran Wilayah Baru

Isu pemakaran di tanah Papua sudah sudah ada sejak kepemimpinan presidan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Isu ini kembali mencuat kembali baru-baru ini setelah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembentukan Daerah Otomi Baru di bumi Papua, pada akhir Juni lalu dalam rapat paripurna. Melihat akan hal itu, Yana Syafriyana Hijri, S.IP., M.IP. selaku dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberi tanggapannya. Yana, sapaan akrabnya mengatakan bahwa akan ada tiga provinsi baru di Papua, yaitu Provinsi Papua Selatan dengan ibukota Kabupaten Merauke dan Provinsi Papua Tengah dengan ibukota Kabupaten Nabire. Kemudian yang terakhir yakni Provinsi Papua Pegunungan dengan ibu kota di Kabupaten Jaya Wijaya. Adapun dasar pemekaran provinsi ini yakni untuk pemerataan pembangunan dan juga mendekatkan layanan public bagi masyarakat. “Tentu yang menjadi dasar pemekaran daerah sejak dulu adalah pemerataan pembangunan dan pendekatan layanan publik” ucap Yana menjelaskan. Meski begitu, ia menuturkan bahwa adanya pemekaran daerah tidak menjamin pembangunan yang merata dan kesejahteraan masyrakat. Hal itu dapat dilihat dari beberapa kabupaten di Papua yang merupakan hasil pemekaran pada tahun 2002 dan 2008. Mayoritas kabupaten itu justru masuk di daftar daerah miskin pada 2020. Salah satu contohnya yaitu Kabupaten Deiyai yang memiliki persentase 41% masyarakat miskin dari total penduduk setempat. “Aspek yang membuat pemekaran tidak maksimal adalah sumber daya manusia (SDM) yang minim. Jika SDM yang ada tidak memadai, tentu pengelolaan pemerintahan daerah pemekaran akan tidak berjalan dengan semestinya. Bahkan malah akan mengarah pada indikasi korupsi. Di samping itu juga kurangnya persiapan dari pemerintah akan daerah pemerakan,” tegasnya. Terkait proses pemekaran, Yana menjelaskan bahwa sebelum 2004, secara administratif harus melalui Kementerian Dalam negeri (Kemendagri). Persyaratan yang perlu disiapkan juga beragam serta peninjauan yang cukup pelik. Hal itu membuat pengajuan pemekaran daerah hanya sedikit. Tetapi setelah 2004, proses pengajuan pembentukan daerah otonomi baru bisa melalui DPR RI. Menurutnya, hal ini memang memudahkan namun cenderung lebih politis. “Namun saya rasa hal ini cenderung lebih politis. Apalagi melihat sikap para pejabat kita saat ini,” imbuhnya. Dosen asli Serang, Banten ini berharap pemerintah pusat harus betul-betul memikirkan pemekaran agar tidak seperti sebelumnya yang justru mengalami kemunduran. Di samping itu, pemerintah harus benar-benar menyiapkan aspek SDM guna keberlangsungan provinsi baru yang bisa lebih berkembang. “Dengan begitu, masyarakat bisa benar-benar merasa sejahtera. Pun dengan pelayanan publik yang semakin baik. Maka dari itu, pemerintah pusat harus melakukan pendampingan sehinga daerah pemekaran bisa mengembangkan potensi yang ada,” pungkasnya. (haq/wil)
Jean, Mahasiswi UMM yang Wakili Bima di Ajang Puteri Indonesia NTB

Dalam sebuah band musik, posisi drummer biasanya diisi oleh seorang pria. Namun pendapat itu dipatahkan oleh Jean Fatiha Izma. Mahasiswi tingkat akhir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut telah mengisi posisi pemain drum sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Berkat salah satu kelebihannya tersebut, ia berhasil lolos sebagai finalis Putri Indonesia mewakili kota Bima pada tingkat provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Jean, sapaan akrabnya menceritakan bahwa ketertarikannya pada dunia musik berasal dari lingkungan pertemanannya saat SMA. Bergaul dengan sekumpulan anak band, membuat Jean ingin mempelajari sebuah alat musik. Awalnya ia diajari untuk bermain gitar oleh seorang teman. Namun karena merasa tidak cocok, akhirnya ia beralih untuk bermain drum. “Awalnya sempat belajar nyanyi juga supaya bisa jadi vokalis grup band. Akan tetapi ternyata lebih seru untuk bermain drum. Meskipun menyenangkan, ada beberapa hal sulit yang pertama kali dilakukan ketika bermain drum. Salah satunya adalah menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Hal itu terjadi karena ketika memainkan drum kedua tangan dan kaki kita harus bergerak bersamaan,” ungkap mahasiswa jurusan Akuntansi tersebut. Selain menampilkan kepiawaiannya dalam bermain drum, pada acara pemilihan Putri Indonesia di NTB, Jean juga menampilkan bakat akting dan keterampilannya dalam membuat sebuah waistbag dari kain tenun khas Bima. “Jujur ini pertama kalinya saya mengikuti kegiatan seperti ini dan saya tidak menyangka dapat mewakili Bima di tingkat provinsi. Meskipun tidak bisa maju ke nasional, namun saya bangga,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara itu. Jean mengaku sempat gugup saat akan mengikuti ajang pemilihan putri Indonesia. Pasalnya, selain kegiatan ini merupakan pengalaman pertama, Jean juga seorang anak yang pemalu. Ia menjelaskan bahwa dirinya baru mulai belajar untuk bersosialisasi dengan baik ketika masuk ke dunia perkuliahan. “Awalnya gugup sekali ketika akan ikut event ini. Namun ternyata orang-orang di acara pemilihan putri Indonesia sangat baik dan ramah. Selain itu, saya juga terbantu dengan skill komunikasi yang saya latih di UMM. Pada akhirnya keputusan mengikuti Pemilihan putri Indonesia ini adalah keputusan yang tepat. Saya juga berharap teman-teman yang lain juga mau keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru,” pungkasnya. (syi/wil)
Mahasiswa Vokasi UMM Turut Kerjakan Revaluasi Aset Bank BUMN

Direktorat Program Pendidikan Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kirim sederet mahasiswa untuk melaksanakan project based learning dari PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk. Tercatat, sebanyak delapan mahasiswa diploma IV Bisnis Properti UMM ikut serta dalam proyek tersebut dan mengerjakan proyek penilaian terdiri dari 300 titik yang berlokasi di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dr. Tulus Winarsunu, M. Si selaku Kepala Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM melaporkan bahwa program ini akan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Terhitung mulai Juli 2022 hingga September 2022 mendatang. Delapan mahasiswa vokasi UMM sementara akan diberangkatkan ke Yogyakarta untuk melaksanakan koordinasi proyek. Tulus, sapaan akrabnya senang dengan dipercayanya Vokasi UMM untuk melaksanakan proyek di luar Jawa Timur. Terlebih kegiatan tersebut selaras dengan konsep besar vokasi UMM yaitu link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia industri. Lewat program tersebut ia menilai dapat melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing luas. “Vokasi UMM telah dipercaya oleh banyak pihak. Salah satunya mengerjakan proyek di balaikota terkait penentuan nilai sewa lahan. Pernah pula mengerjakan projek rutinana dari Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP) penilaian untuk agunan dan proyek lainnya. Mahasiswa juga pernah diterjunkan untuk menentukan kontribusi nilai sewa Kapal Garden UMM, penentuan nilai lelang agunan bank BPN dan sekarang revaluasi aset bank BRI di DIY dan Jawa Tengah,” paparnya. Menurutnya, proyek ini memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik mahasiswa UMM maupun juga bagi perusahaan terkait. Mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman baru terkait bagaimana keadaan dan situasi bekerja di dunia nyata. Pun dengan segudang ilmu dari para profesional. Ia menambahkan jika proyek ini berhasil, delapan mahasiwa tersebut akan mendapatkan sertifikasi sekaligus menjadi anggota Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI). Dalam kesempatan yang sama, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM menitipkan pesan kepada delapan mahasisa yang berangkat untuk tetap rendah hati dan tidak berpuas diri. Ia mendorong mereka untuk terus merasa haus pengetahuan dan ilmu sehingga bsia mendapatkan hasil yang komprehensif. “Jika sudah mendapatkan pengalamannya yang banyak, jangan lupa untuk berjejaraing. Penting untuk menunjukkan jika Vokasi UMM sejajar dengan kampus besar di Indonesia. Dalam bekerja di dunia profesional, mahasiswa UMM harus menunjukan ketelitian, komunikasi yang baik dan tidak pernah meremehkan siapapun meskipun meskipun berada di atas angin,” pungkasnya. (Ros/Wil)
DPPM UMM Raih Penghargaan Penerima Dana Pengabdian Terbanyak dari LLDikti VII

Dalam menegakkan tri dharma perguruan tinggi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu menebar kebermanfaatan bagi sesama. Salah satu caranya dengan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Berkat kerja keras yang selama ini dibangun, UMM berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) penerima dana abdimas tertinggi dan juga perguruan tinggi dengan jumlah judul abdimas terbanyak. Penghargaan ini diberikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) wilayah VII pada Juni lalu. Wakil direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si, menjelaskan bahwa kampus UMM telah melakukan sederet upaya agar proposal pengabdian yang para dosen buat dapat di danai dan dilaksanakan. Salah satu caranya adalah dengan membuat sebuah klinik proposal bagi para dosen UMM. “Adanya klinik ini juga menjadi wadah untuk saling bertukar pikiran dan inovasi. Selain itu, adapula para pemateri yang akan memberikan masukan dan koreksi agar nantinya kualitas proposal yang dihasilkan menjadi lebih baik dan meningkat. Dengan peningkatan itu, akan semakin banyak pula pengabdian masyarakat yang terpilih untuk di danai. Tak hanya berpaku pada pemerintah, kami juga menjalin kerja sama dengan pihak lain agar pengabdian dan penelitian yang dilakukan para dosen dapat terlaksana dengan apik,” ujar dosen prodi sosiologi tersebut. Terkait penghargaan yang diberikan oleh LLDikti wilayah VII, Vina sapaan akrabnya mengatakan sangat berterimakasih karena kerja keras UMM selama ini dapat membuahkan hasil yang bagus. Apalagi dengan jumlah dana hibah yang mencapai 561.080.000, Kampus Putih UMM dapat membantu berbagai pengabdian ke masyarakat. Utamanya yang dilaksanakan oleh para dosen UMM. Ia menilai, raihan ini tidak lepas dari kinerja yang baik dari banyak pihak. Mulai dari tim DPPM, dosen, tim kelas pendampingan dan sivitas akademika lain yang turut mebantu. Ke depannya, DPPM berkomitmen untuk bekerja lebih keras agar lebih banyak program pengabdian yang dapat diselenggarakan. “Untuk mendapatkan dana hibah, kita harus bersaing dengan banyak perguruan tinggi. Oleh karenanya saya sangat bersyukur DPPM UMM dapat menggapai raihan ini. Untuk kedepan, kami akan mempersiapkan proposal-proposal pengabdian yang berkualitas, sehingga proses menebar manfaat yang dilakukan para dosen UMM bisa lebih baik lagi. Semoga dengan kerja keras yang kami lakukan, dapat membantu masyarakat di berbagai bidang yang ada,” ungkap dosen asal Bandung ini mengakhiri. (syi/wil)
UMM-IPM Beri Pemahaman Literasi Digital pada Pelajar

Literasi digital dan menjadi aktivis sukses harus menjadi salah satu tujuan anak muda saat ini. Hal itu disampaikan Staf Khusus Komunikasi Publik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga pada Kopi Darat Nasional (Kopdarnas) Media, akhir Juni lalu. Adapun acara ini merupakan kolaborasi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) dengan Lembaga Media dan Komunikasi Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammdiyah (PP IPM). Lebih lanjut, Arya mengatakan bahwa untuk menjadi aktivis yang sukses, anak muda harus pintar memanajemen waktu. Begitupun dengan upaya untuk terus membagikan ilmu. “Paling tidak, kalau tidak bisa membanggakan orang tua, minimal jangan mengakhawatirkan mereka. Tapi saya yakin, teman-teman di sini punya potensi yang bisa dikembangkan agar bisa membagakan keduanya,” ungkapnya. Di sisi lain, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki menjelaskan bahwa ada tiga bekal yang harus dimiliki oleh pelajar. Pertama, yakni mampu mengantisipasi ketidakpastian. Utamanya di era yang cepat berubah seperti sekarang. Kedua, yakni mampi memimpin dimulai dari diri sendiri. Kemudian yang terakhir yang kepercayaan pada rekan yang nantinya bisa diajak kolaborasi. “Jika tiga aspek itu bisa dimiliki dan diimplementasikan dengan baik, saya yakin Indonesia tidak akan kekurangan generasi penerus bangsa yang mumpuni,” tegasnya. Terkait media, Eki, sapaan akrabnya mengatakan bahwa anak muda harus bisa memainkan media. Kalau tidak, media yang akan menggerus dan mengalahkan generasi baru. Menurutnya, saat bisa menggunakan media dengan baik, maka kepercayaan publik akan bisa didapat. Sementara itu, Nashir Efendi selaku Ketua Umum PP IPM mengatakan bahwa semua pelajar Muhammadiyah memiliki kesempatan untuk berkarya di media digital. Kader Muhammadiyah harus militan dan selalu berupaya memenangkan narasi Muhammadiyah di aspek digital. Diiringi dengan konsistensi buzzer yang positif dan influencer yang inspiratif. “Teman-teman disini memiliki kesempatan yang sama dalam rangka berkontribusi di media digital. Selamat untuk bersatu, berpadu menjalin ukhuwah dalam Kopdarnas 2022,” ucapnya. Adapun acara ini berlangsung selama tiga hari dan diikuti oleh puluhan peserta dari 13 provinsi. Tidak hanya materi, para peserta juga diajak untuk menyusun strategi media. Sederet pemateri dihadirkan untuk memberikan pemahaman terkait media plan, branding personal dan organisasi, serta data analyst. (haq/wil)
Konferensi Internasional FEB-FISIP UMM Kaji Isu Lingkungan

Ilmu sosial memiliki beragam peran dalam aspek penanganan isu lingkungan. Hal itu disampaikan Assisten Deputi Kajian Dampak Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Ir. Ary Sudjianto, M.S.E di International Conference on Humanities and Social Science (ICHSoS) pada Sabtu (2/7) lalu. Konferensi internasional itu merupakan kolaborasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ary, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa kebijakan lingkungan yang diambil pemerintah harus didukung oleh banyak pihak. Tidak hanya terbatas oleh para ilmuwan atau proses produksi dari hulur ke hilir saja. Namun juga didukung dengan kepedulian akan lingkungan yang tinggi. Begitupun dengan peran ilmu sosial yang bisa mensupport upaya tersebut. “Implementasi kebijakan lingkungan hidup yang kami usahakan memuat beberapa variabel. Di antaranya Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+), indigenous community, dan pembatasan distribusi kayu. Semua itu kami lakukan dalam rangka menjaga keberlanjutkan ekosistem lingkungan hidup. Saya rasa, ICHSos yang mengangkat tema environmental issues and social inclusion in sustainable era ini bisa memberikan sumbangsih dari para akademisi mumpuni,” ungkap Ary yang mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyebut bahwa selain mengangkat isu lingkungan, ICHSoS juga bertujuan untuk memperluan khazanah penelitian. Di samping itu juga sebagai upaya mnejaga atsmosfer akademik yang ada di kampus. “Semoga konferensi ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang agar mampu memberikan sumbangsih pemikiran serta inovasi solutif untuk permasalahan yang ada,” tegasnya. Konferensi yang dilangsungkan secara luring terbatas dan daring ini dihadiri oleh pembicara dan pakar internasional. Di antaranya dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dan Institut Penelitian Kehutanan Ghana. Turut hadir para akademisi dari dari Malaysia dan Indonesia. Jewel Andoh, Ph.D. yang merupakan peneliti institut kehutanan Ghana memaparkan tentang REDD+ yang diadopsi oleh pemerintah Ghana dalam mengurangi polusi. Adapun REDD+ adalah langkah-langkah yang didesain menggunakan insentif keuangan untuk mengurangi emisi dari gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan. “REDD+ juga mencantumkan peran dari konservasi, manajemen hutan yang berkepanjangan, dan peningkatan stok hutan karbon. Skema ini akan membantu menurunkan tingkat kemiskinan dan mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Proses penerapan REDD+ menitikberatkan pada keterlibatan para pemangku kepentingan. Suara dari masyarakat, penduduk asli dan komunitas tradisional harus dijadikan pertimbangan untuk memastikan hak mereka yang tinggal di dalam dan sekitar hutan,” tambah Jewel. Di sisi lain, pembicara dari UMM Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si membahas tentang bagaimana manajemen aliran sungai terintegrasi bisa mengambil peran dalam menangani isu lingkungan. Berdasarkan hasil riset yang ia lakukan, pemerintah pusat Indonesia mempunyai peran dominan dibandingkan dengan pemerintah daerah di dalam manajemen daerah aliran sungai. Selain itu terdapat kebijakan yang tumpang tindih dari pemerintah pusat dan juga agensi dalam manajemennya. “Dalam membahas isu lingkungan, manajemen daerah aliran sungai yang terintegrasi sangat dibutuhkan. Khususnya untuk ekonomi, sosial, budaya dan konservasi lingkungan. Keberlanjutan sistem sosial ekologi bergantung pada keterlibatan dari pemerintah dan berbagai stakeholder yang terlibat di dalamnya, ” tuturnya. Selanjutnya, R. Alam Surya Putra dari The Asia Foundation (TAF) menyampaikan bahwa skema Ecological Fiscal Transfer (EFT) dinilai cukup berhasil dalam mendorong konservasi lingkungan hidup di Indonesia. Saat ini, beberapa daerah di Indonesia telah menerapkan EFT yang berhasil meningkatkan tutupan lahan, pengembangan taman hutan raya (Tahura), pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Pun dengan peningkatan ruang terbuka hijau, serta pengelolaan sampah,” paparnya. Kemudian, adapula dua pemateri terakhir yakni Djoko Sigit, Ph.D. dari UMM dan Dr. Nik Hazimah Bt Nik Mat dari Universitas Trengganu Malaysia. Djoko memaparkan terkait inovasi data internet untuk keputusan konsumsi yang lebih baik dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Sementara Hazimah tiga pilar penting dalam keberlanjutan kehidupan yakni ekonomi, lingkungan dan sosial. (Wil)
Dhida, Mahasiswa UMM Juara Gulat Porprov Jatim

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencetak prestasi. Kali ini raihan membanggakan datang dari mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Dhida Wahyu Nusantara yang berhasil membawa pulang medali perak. Capaian itu ia catatkan di cabang gulat kelas 75 kilogram gaya greco pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2022. Adapun kompetisi ini berlangsung pasa 26-29 Juni lalu. Menurut Dhida, sapaan akrabnya, persiapan panjang sudah ia lakukan sejak lama. Tepatnya sejak sembilan bulan lalu, yakni pada November 2021 hingga Juni 2022. Dia yang mewakili Malang, mengatakan latihan rutin ia laksanakan terpusat di basecamp daerah Pakisaji. “Hampir setiap hari saya berlatih bersama dengan tenaga profesional dan atlet provinsi. Mulai dari jam enam sore hingga pukul sepuluh malam,” katanya. Menurutnya, perlombaan kemarin sangat memacu adrenalin. Hal itu dikarenakan beberapa saat sebelum bertanding, ia diharuskan mengikuti ujian di kampus UMM, kemudian langsung bertolak menuju Lumajang untuk bertanding. Meski begitu, ia sangat bersyukur karena ada banyak support dari pihak kampus, dosen, hingga teman-teman yang selalu mendulung kegiatannya. “Alhamdulillah, berkat bantuan dari banyak pihak, saya bisa menyeimbangkan kegiatan kuliah dengan kejuaraan ini,” tambah Dhida. Terkait proses perlombaan, ia mengatakan bahwa persaingannya sangat ketat. Terlelebih ia beberapa kali harus bertanding dengan teman sendiri yang mewakili daerahnya. Ia cukup kesulitan karena masing-masing sudah mengantongi kelemahan yang dimiliki. Ia bercerita bahwa ketertarikannya akan gulat muali tumbuh saat ia duduk di kelas empat SD. Kebetulan ia sering berkunjung ke basecamp latihan para atlet. Dari sana, ia akhirnya ikut dan berlatih dengan sekuat tenaga. Sampai pada akhirny ia berhasil mendapatkan gelar pertamanya saat kelas tiga SMP. Tepatnya di kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA). Kemudian berlanjut pada perlombaan praporprov, kejurda hingga kejurprov. Bahkan ia sukses memenangi event internasional di Thailand Open pada 2018 lalu. Dhida bersyukur ia berada di lingkungan yang sangat mendukug passionnya. Tidak hanya kedua orangtuanya, tapi juga teman-teman, atlet satu basecamp serta UMM yang senantiasa memberikan masukan dan motivasi. Meski ia menyukai gulat, tapi ia berkomitmen untuk menyelesaikan studinya dengan baik. Terakhir, ia berpesan kepada anak muda seusianya untuk lihai mencari peluang dan mampu mengendalikan diri sendiri. “Anak muda harus pintar mencari peluang, pandai megendalikan diri sendiri dan mengenal diri sendiri supaya kelak dapat menggali potensi dan berprestasi,” tegasnya. (Ros/Wil)
Wisudawan Terbaik UMM Ini Aktif Organisasi hingga Program ke Turki

Saat menginjakkan kaki di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berkuliah, Rizky Juda Putra Hidayat tak pernah menyangka langkahnya tersebut akan membawanya ke Eropa. Wisudawan terbaik UMM ke-104 periode dua ini menjelaskan bahwa terpilihnya ia di program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) merupakan suatu pengalaman yang tak akan terlupakan. Beragam prestasi dan pengalaman ia rasakan selama menjadi mahasiswa. Kini, Juda, sapaan akrabnya juga berhasil mendapatkan predikat wisudawan terbaik Kampus Putih UMM. Semua itu sukses diraih berkat usaha kerasnya, dukungan keluarga dan teman, serta bimbingan dari dosen UMM. Terkait pengalaman internasionalnya, Juda menceritakan bahwa proses pendaftaran program IISMA lumayan sulit. Sistem pendaftarannya sendiri terdiri dari dua seleksi. Pertama adalah seleksi dari kampus melalui lembaga International Relation Office (IRO) UMM. Selanjutnya ada seleksi dari Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek). “Seleksinya sendiri mencakup seleksi berkas dan wawancara. Salah satu kesulitan yang saya hadapi adalah Test of Academic English Proficiency (TAEP) yang saya miliki tidak dapat terpakai. Oleh karenanya saya harus tes lagi secara online menggunakan duolingo english test. Selain harus menggunakan dollar untuk pembayaran, tes yang dilakukan secara online ini cukup rumit dan sulit,” tuturnya. Kesulitan lain datang setelah tahap seleksi terlewati. Juda mengatakan bahwa IISMA yang diikutinya ini merupakan angkatan pertama. Oleh karenanya masih terdapat banyak kekurangan utamanya dalam hal pengumuman peserta terpilih. Namun untungnya Juna berhasil lolos mewakili UMM dan pergi ke Middle East Technical University Ankara Turki untuk menempuh pendidikan. “Saya bangga sekali karena bisa mewakili UMM di program ini. Sepulangnya dari Turki, saya juga menjadi mentor bagi teman-teman mahasiswa yang ingin mendapatkan beragam program. Utamanya IISMA ini,” kawa wisudawan kelahiran Tangerang tersebut. Juda menceritakan bahwa banyak pengalaman yang ia lewati selama program IISMA berlangsung. Di antaranya dapat mengetahui dan mengenal kebudayaan negara lain dengan lebih baik. Salah satu kebiasaan asing yang ditemuinya di turki adalah cara pria melakukan perpisahan. Di Indonesia, ketika akan berpisah biasanya hanya melakukan jabat tangan. Namun di Turki biasanya dilakukan dengan menempelkan pipi kanan dan kiri. “Keunikan lain ada di segi makanan, sarapan di Turki menurut saya sangat sedikit karena mereka cukup hanya makan telur, roti, dan teh saja. Meskipun ada beberapa budaya yang tidak umum, saya sangat suka dengan kebudayaan Turki, utamanya ketika memanggil seseorang. Semua orang di kampus akan dipanggil dengan sebutan hocam yang berarti guru. Jadi apapun pekerjaannya baik itu dosen, karyawan, dan mahasiswa akan dianggap sama,” ungkap Juda. Selain aktif di kegiatan internasional, Juda juga aktif di organisasi intra kampus sepeti himpunan mahasiswa jurusan. Pun dengan komunitas yang membahas dan belajar mengenai kepenulisan essai. “Banyak hal yang telah saya lalui selama berkuliah dan saya bangga terhadap apa yang telah saya capai selama ini. Saya berpesan untuk mahasiswa UMM yang lain agar tetap tegar dan semangat dalam menempuh kuliah. Proses yang kita jalani sekarang akan menentukan jadi seperti apa kita di masa depan,” pungkasnya. (syi/wil)
Tiga Mahasiswa Ikom UMM Lulus tanpa Skripsi berkat Film Dokumenter

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melahirkan lulusan dan mahasiswa penuh karya. Mulai dari tingkat regional hingga internasional. Kali ini giliran tiga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi yakni Devano Ramadhan Pratama, Ahmad Ali Mahfud, dan Muhammad Sofwan. Film yang mereka garap berhasil tayang di di Wathcdoc Documentary, pertengahan Juni lalu. Karya tersebut juga sekaligus membuat mereka bisa lulus tanpa skripsi. Devano selaku anggota kelompok menceritakan bahwa ide film ini muncul sejak awal semester dua lalu. Saat itu mereka diajak untuk membuat film yang berlokasi di Gili Ketapang. Setibanya di sana, mereka melihat permasalahan lingkungan yang memprihatinkan. Mulai dari sampah yang menumpuk, pengerukan pasir, dan pengambilan terumbu karang untuk pembangunan rumah. “Jika kebiasaan itu berlanjut, tentu akan memberikan dampak buruk bagi pulau ini ke depannya. Apalagi mengingat Gili Ketapang adalah salah satu objek wisata bahari unggulan Jawa Timur,” ucapnya. Mahfud, anggota lainnya menambahkan bahwa film “Menyisir Pesisir Gili Ketapang” ini mengangkat isu lingkungan yang sangat kompleks. Memperlihatkan kebiasaan masyarakat yang ternyata memberikan efek kurang baik bagi lingkungan. Sementara di sisi lain, pemerintah menjalankan program pariwisata tapi tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan yang ada. Selain itu, kondisi pemukiman yang bertambah menjadi 10.000 jiwa berefek pada semakin kurangnya ruang lapang di pulau tersebut. Populasi kambing liar yang ada juga semakin meningkat, padahal lahan terus berkurang. Akhirnya, sampah menjadi makanan bagi para kambing-kambing. Tidak jarang, beberapa kambing mati di pinggir pantai dan dibiarkan hanyut terbawa arus laut. “Kondisi pemukiman yang semakin padat, sampah menumpuk, kebiasaan masyarakat yang susah diubah dan solusi yang tak kunjung datang akan berujung pada hilangnya pulau ini,” imbuh Mahfud. Di sisi lain, Sofwan juga menceritakan isi dari film dokumenter tersebut. Pariwisata Gili Ketapang mulai dikenal banyak orang sejak tahun 2012-2013an, puncaknya pada 2016-2017. Tiap harinya, ada ratusan wisatawan yang datangn untuk menikmati pantai dan snorkeling. Hal ini mengubah sebagian besar pekerjaan warga sekitar. Sebelumnya bekerja sebagai nelayan, kini beralih ke operator wisatawan hingga penjual aksesoris. Sehingga masyarakat setempat tidak lagi bergantung pada hasil laut. “Banyak orang disana merasakan hal positif dari datangnya pariwisata, sehingga mulai dipandang oleh pemerintah dengan pembangunan dermaga selatan. Sayangnya, pertumbuhan pariwisata yang tinggi tidak dibarengi dengan perawatan lingkungan yang mumpuni,” tegas Sofwan. Ketiganya berharap, film ini bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Begitupun dengan pemerintah yang harus segera bergerak dan memberikan solusi kepada warga Gili Ketapang. “Jadi, program tidak hanya menjadi program saja, tapi benar-benar dilaksanakan agar memberikan dampak positif. Semoga film ini dapat mengedukasi masyarkat agar kebiasaannya berubah dan ketahanan pulau terjaga,” ungkap ketiganya. (haq/wil)
Dubes Mesir untuk RI Jelaskan Pentingnya Pendidikan bagi Kemajuan Negara di Wisuda UMM

Pendidikan memiliki peranan penting dalam perkembangan berkelanjutan sebuah negara. Kalimat tersebut disampaikan oleh duta besar (Dubes) Mesir untuk Indonesia H.E. Ashraf Mohamed Moguib Sultan pada pengukuhan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prosesi wisuda tersebut diselenggarakan di Dome UMM, pada Kamis (30/6) lalu. Lebih lanjut, Ashraf menjabarkan bahwa pendidikan memiliki peranan penting untuk membantu perkembangan bidang industri, agrikultur, dan perputaran ekonomi. Pendidikan juga membentuk masyarakat agar mampu berkembang menuju arah yang lebih baik. Namun kini akses untuk mendapatkan pengetahuan yang relevan semakin susah karena perkembangan zaman yang makin cepat. “Untuk mengembangkan pendidikan suatu negara, perlu adanya kolaborasi antara negara satu dengan yang lain. Dengan begitu, tiap negara bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas masyarakat di berbagai bidang. Hal itulah yang sedang dilakukan oleh Indonesia dan Mesir. Kami banyak melakukan pertukaran pelajar antar masing-masing negara sehingga dapat membangun pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik,” katanya. Dalam pengembangan pendidikan di Mesir, Ashraf menjelaskan bahwa pemerintah juga tengah menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan pasar. Hal ini diikuti oleh pengembangan regulasi yang cocok dengan standar modern yang berlaku. Pun dengan peningkatan kualitas universitas serta kapasitas mahasiswa. ”Penting juga bagi kita untuk membentuk generasi muda yang berpendidikan dan juga melatih mereka menjadi generasi yang kreatif serta inovatif,” ujar Ashraf. Senada dengan Ashraf, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga menjelaskan pentingnya menguasai pengetahuan akademik dan kemampuan leadership bagi wisudawan. Dua hal ini telah diajarkan UMM melalui kegiatan perkuliahan maupun kegiatan lain seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Semi Otonom (LSO). “Untuk lebih mengasah skill mahasiswa, kami juga akan segera meluncurkan program besar universitas bernama Center Of Excellence (CoE) berbasis Program Studi (Prodi). Program ini dibuat dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar terkini. Bukan hanya untuk mahasiswa UMM, tapi juga unutk alumni dan masyarakat yang ingin mendalami bidang-bidang terkait,” lanjut Fauzan. Tak hanya berfungsi sebagai sarana pengukuhan, gelaran wisuda ini juga memfasilitasi mahasiswa untuk menjajakan produk wirausahanya melalui bazar wisuda. Selain sebagai upaya mendapatkan profit, bazar ini juga menjadi sarana mengenalkan produk-produk karya mahasiswa UMM ke masyarakat luas. “Bazar ini cukup membantu bagi kami yang sedang menunggu keluarga yang diwisuda. Produknya juga bervariasi, mulai dari makanan ringan, minuman, hingga hadiah-hadian untuk para wisudawan seperti buket bunga, buket jajan, dan lilin