Hadirkan Pakar Dari Inggris, PSIB UMM Bekali Mahasiswa Agar Tidak Mudah Terbawa Narasi Provoakatif

Dominasi peradaban Barat dalam produksi ilmu pengetahuan terus menjadi ancaman serius bagi kemandirian akademisi di negara-negara berkembang. Menjawab krisis epistemik tersebut, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) berkolaborasi dengan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah taktis melalui Kajian Islam Multidisipliner. Menghadirkan Dr. Mohammad Ilyas, pakar dari University of Derby, Inggris, forum bertajuk Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars ini digelar secara luring di Aula Masjid A.R. Fachruddin UMM pada Senin (22/06). Acara ini membedah tegas bagaimana semestinya cendekiawan muslim bersikap di tengah kepungan hegemoni Barat. Dalam forum tersebut, pria itu secara tajam membongkar realitas dominasi Global North (Barat) yang memicu suburnya fenomena captive mind atau pemikiran tertawan di kalangan intelektual. Ia menjelaskan, hegemoni kultural dan akademik ini secara tidak sadar membuat cendekiawan lokal terbelenggu oleh teori-teori impor. Akibatnya, mereka kesulitan melahirkan inovasi dan memproduksi pengetahuan yang benar-benar relevan dengan realitas sosio-kultural bangsanya sendiri. Pembebasan dari jerat pemikiran ini dinilai sebagai syarat mutlak untuk membangun kemajuan. “Kita harus menyadari bahwa selama ini kita terbiasa melihat dunia menggunakan kacamata buatan Barat. Pola pikir yang terjajah inilah yang harus segera kita dekonstruksi dengan memperbanyak literatur dari pemikir lokal kita,” urainya. Di samping itu, pria yang akrab disapa Elias ini juga menyoroti fenomena ironis akademisi di negara berkembang. Banyak dari mereka berlomba-lomba mempublikasikan karya ilmiah di jurnal internasional berbahasa Inggris demi pengakuan, namun secara perlahan mulai abai pada bahasa ibu. Menurutnya, peminggiran terhadap publikasi berbahasa lokal sangat berbahaya karena berpotensi memicu pemusnahan epistemik secara sistematis dan menghilangkan fungsi bahasa asli sebagai pengantar keilmuan. “Mempublikasikan karya dalam bahasa Inggris memang bagus untuk standar global, tetapi jika kita mengabaikan jurnal berbahasa lokal, kualitas akademik di negeri sendiri tidak akan berkembang karena sekadar mereproduksi budaya kolonialisme,” tegasnya. Lebih jauh, upaya dekonstruksi pemikiran rancu dari Barat juga ditekankan Elias saat memandang isu terorisme, yang selama ini selalu distereotipkan secara sepihak dengan ajaran Islam. Ia membantah keras narasi provokatif tersebut dan menegaskan bahwa fenomena kekerasan sejatinya berakar dari ketimpangan struktural, kemiskinan ekstrem, serta eskalasi konflik politik. Simbol agama, menurutnya, sering kali hanya dieksploitasi oleh segelintir oknum sebagai alat legitimasi demi menggalang simpati massa. “Terorisme tidak disebabkan oleh agama apa pun. Pelaku kekerasan hanya meminjam bahasa agama untuk mencari simpati, sementara akar konflik sebenarnya adalah murni persoalan ketidakadilan sosial di masyarakat,” paparnya di hadapan ratusan audiens yang hadir. Kolaborasi strategis lewat kajian keilmuan ini menjadi bukti nyata komitmen Kampus Putih UMM dalam membekali mahasiswa agar tangguh menghadapi arus hegemoni global. Melalui diskursus yang mencerahkan ini, sivitas akademika didorong untuk tidak sekadar duduk manis menjadi konsumen pasif dari teori-teori asing. Pesan utamanya jelas: ke depan, generasi muda UMM dituntut berani memegang estafet sebagai cendekiawan muslim yang proaktif memproduksi pengetahuan autentik, memecahkan persoalan ketimpangan di masyarakat, serta memberi kontribusi nyata bagi kebangkitan peradaban bangsa yang mandiri.(ali/faq)   Penulis; Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Angkat Potensi Lokal di MV “Hatchu!!”, Prialangga Buktikan Kualitas Lulusan UMM di Indstri Kreatif

Sineas kebanggaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prialangga, kembali menorehkan prestasi gemilang di industri kreatif nasional. Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi ini sukses membawa wajah Kota Malang memuncaki trending satu YouTube lewat karya terbarunya sebagai sutradara music video (MV) “Hatchu!!” milik penyanyi Salma Salsabil. Keberhasilan karya yang telah menembus lebih dari 1,7 juta penonton ini semakin mengukuhkan eksistensinya setelah sebelumnya menuai sukses besar lewat MV “Bahasa Kalbu” milik Raisa. Lebih dari sekadar pencapaian komersial, Prialangga menjadikan proyek kolosal ini sebagai panggung apresiasi bagi daerah asalnya. Ia menyulap berbagai sudut ikonik Kota Malang menjadi latar visual yang dinamis. Tak hanya itu, sutradara yang telah menggarap lebih dari 200 MV ini turut menggandeng puluhan talenta lokal lintas generasi, mulai dari musisi seperti Sambadha (Coldiac) dan Onedink (SATCF), hingga kreator konten seperti Rizky Boncell dan Canda Cendol. Menurut Prialangga, pelibatan talenta lokal ini merupakan wujud dedikasinya untuk mengenalkan potensi besar Malang ke audiens luas, sembari menyampaikan pesan mendalam tentang realita para pekerja keras. “Lewat MV ini, saya ingin mengenalkan Malang yang kaya akan potensi tempat berkreasi, sekaligus melibatkan orang-orang yang menurut saya sangat berpotensi dikenal lebih luas. Ini juga untuk menggambarkan makna lagu tentang realita kehidupan para pekerja yang mengejar mimpi di tengah tekanan rutinitas pekerjaan,” ungkapnya. Reputasi Prialangga sebagai sutradara andalan musisi papan atas seperti NOAH, Rossa, Slank, hingga JKT48 tentu tidak dibangun dalam semalam. Mengawali karier dari skena musik independen Malang, ia menyadari bahwa ritme industri yang kompetitif menuntut kesiapan mental dan keterampilan teknis yang mumpuni. Ia mengakui, kemampuan adaptasinya di dunia profesional yang dinamis ini sangat dipengaruhi oleh sistem pembelajaran aplikatif selama menempuh pendidikan di Kampus Putih. “Secara ilmu, yang paling berkesan dan terasa manfaatnya sampai sekarang adalah dulu saat kuliah kami benar-benar diajarkan praktik terus, tidak melulu tentang teori. Itu membuat saya lebih siap ketika memasuki industri ini,” ujarnya. Di luar keterampilan teknis, pria itu menyebut jejaring sebagai modal yang tak kalah berharga. Sejak menjadi mahasiswa, alih-alih pasif, ia proaktif memproduksi film pendek dan membangun relasi lintas kampus. Ia menekankan bahwa kualitas karya yang baik harus senantiasa diimbangi dengan ekosistem kepercayaan antar pekerja kreatif agar mampu bertahan di ketatnya persaingan ibu kota. “Relasi menjadi faktor krusial. Kualitas karya memang penting, tetapi kepercayaan melalui jejaring sering kali menjadi pintu masuk utama di industri kreatif. Karena itu, jangan menutup diri, cari teman sebanyak-banyaknya, terus belajar, dan bangun relasi dengan siapa pun,” paparnya. Kiprah panjang Prialangga menjadi bukti nyata bahwa putra daerah mampu mendobrak dan bersaing di level tertinggi industri kreatif nasional. Sebagai penutup, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk tidak pernah ragu memulai dan pantang berhenti berkarya. Berbekal konsistensi, kesabaran, dan kemauan keras untuk terus berproses, setiap dedikasi pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri menuju puncak kesuksesan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Faqih Ahmad Wafir Rahman

Suntik Keberanian Hadapi Masa Depan, Sekolah Binaan UMM ini Buktikan Kualitas Lewat Peningkatan Siswa hingga 200 Persen

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya memberikan pendampingan akademik, tetapi juga hadir langsung memeriahkan pelepasan siswa sekolah binaannya. Dalam acara Wisuda SMA Muhammadiyah 3 (SMADIGA) Bungah Gresik pada Sabtu (20/7), Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd. yang merupakan salah satu tim pendamping sekolah tersebut dalam orasi ilmiahnya menegaskan mengenai pentingnya karakter yang responsif dalam melihat peluang. Tak sekadar membagikan ilmu, UMM juga turut menghadirkan Mobil Pintar guna meningkatkan literasi, sekaligus membagikan puluhan doorprize bagi para wisudawan. Dalam orasinya, Pria yang juga merupakan Ketua Program Studi (Kaprodi) Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern UMM itu menjelaskan bahwa menjadi pribadi yang sukses di masa depan tidak melulu bergantung pada kecerdasan akademik semata. Seseorang harus memiliki keberanian untuk tampil di depan dan sigap mengambil kesempatan agar mampu menciptakan keberuntungannya sendiri. “Kalau kalian kurang pintar, maka kejarlah keberuntungan. Keberuntungan itu datang kepada mereka yang berani mengambil peluang dan kesempatan lebih dulu,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa bekal utama untuk menghadapi dunia kerja maupun perguruan tinggi adalah kedisiplinan, rasa percaya diri, hingga murah senyum. Menurutnya, kemampuan akademik yang biasa saja akan bernilai tinggi jika dibarengi dengan etos kerja yang kuat dan bakti kepada orang tua. “Adab lebih tinggi daripada intelektual. Saya yakin lulusan SMADIGA hari ini adalah orang-orang yang beruntung dan memiliki adab yang baik untuk menjadi pemimpin di masa depan,” tambahnya. Untuk menyemarakkan momen kelulusan tersebut, kehadiran Mobil Pintar UMM langsung disambut antusias oleh para siswa dan tamu undangan. Fasilitas perpustakaan keliling ini menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam membumikan budaya literasi masyarakat. Suasana semakin hangat ketika perwakilan UMM membagikan berbagai doorprize menarik yang memantik tawa dan kegembiraan wisudawan sebelum mereka melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya. Di sisi lain, Kepala SMA Muhammadiyah 3 Gresik, Mufrikha, S.Pd., M.M., memaparkan bahwa sekolahnya mengalami kemajuan pesat sejak resmi menjadi binaan UMM pada awal 2024. Pendampingan tersebut terbukti komprehensif, mencakup penataan mutu akademik, perbaikan tata kelola, hingga perumusan strategi pemasaran sekolah yang berimbas pada kenaikan jumlah siswa baru hingga 200 persen. “Semua sistem dibantu oleh UMM. Kami jadi tahu apa saja yang harus dikerjakan. Bahkan sampai marketing pun diajari oleh UMM,” ungkapnya. Momen wisuda ini menjadi tonggak penting bagi kelanjutan kolaborasi antara UMM dan SMADIGA. Harapannya, lulusan yang dilepas tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang mumpuni, tetapi juga keberanian, wawasan literasi yang luas, serta adab yang mulia. Ke depan, UMM berkomitmen untuk terus mendampingi sekolah-sekolah binaan agar mampu menjadi institusi pendidikan yang unggul, adaptif, dan senantiasa dipercaya oleh masyarakat luas.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Nyalakan Spirit Malik Fadjar Masa Kini, Mahasiswa UMM Bikin Inovasi Literasi Lewat Board Game

Upaya merawat wawasan dan semangat literasi Guru Bangsa, almarhum Prof. A. Malik Fadjar, terus direalisasikan melalui langkah inovatif yang relevan dengan generasi kiwari. Salah satu terobosan nyata tersebut adalah pengembangan sembilan inovasi purwarupa board game edukasi karya mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025. Karya kolaboratif bersama Lets Play Indonesia dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute ini resmi diuji coba di hadapan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Jumat (19/6). ​Direktur RBC Institute, Dr. Faizin, M.Pd., menegaskan bahwa media edukasi ini dirancang secara intensif selama tiga bulan sebagai langkah strategis memajukan pendidikan nasional, sekaligus mewariskan nilai-nilai intelektual ketokohan Abdul Malik Fadjar kepada generasi muda. “Kami sangat berharap game-game inovatif ini nantinya tidak hanya beredar eksklusif di lingkungan PPI AMF, tetapi dapat didistribusikan secara nasional untuk mendongkrak kapasitas, kualitas pendidikan, dan mutu sumber daya manusia kita,” tegasnya. ​Manajer Riset RBC Institute AMF, Ahmad Sulaiman, M.Ed., M.Ag., menjelaskan bahwa proyek hilirisasi ini merupakan hasil integrasi delapan pertemuan kelas yang dirancang khusus sebagai instrumen pengukur ketangguhan psikologis (psychological capital) melalui skema pretest dan posttest. Dan kedepan akan di daftarkan dalam Hak Kekayaan Intelektual. “Sembilan purwarupa game ini akan segera kami publikasikan ke dalam jurnal ilmiah bereputasi dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)-nya atas nama institusi serta mahasiswa pembuatnya,” paparnya. ​Merespons lahirnya purwarupa inovatif tersebut, CEO Lets Play Indonesia, Arif Bawono Surya, sangat mengapresiasi kinerja mahasiswa dan mengarahkan agar evaluasi uji coba hari itu difokuskan murni pada fungsionalitas permainan oleh santri SMP dan SMA. “Bagi teman-teman pembuat game, presentasikan karya kalian dan terbukalah menerima masukan. Upayakan penyempurnaan ke depan lebih difokuskan pada penguatan alur mekanika permainan atau gameplay, tanpa perlu merombak desain visual yang sudah sangat baik ini,” pesannya. ​Lahirnya sembilan board game ini membuktikan bahwa luaran akademik perguruan tinggi mampu bertransformasi menjadi instrumen dakwah pendidikan yang interaktif. Lebih dari sekadar medium bermain yang menyenangkan, inovasi ini menjadi tongkat estafet untuk menjaga nyala api literasi Abdul Malik Fadjar, guna memastikan generasi penerus bangsa tumbuh dengan kecerdasan kognitif dan ketangguhan mental yang mumpuni dalam merespons tantangan zaman.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Ciptakan Panel Peredam Suara dari Limbah, Santri PPI AMF Raih Juara di Kancah Internasional

Prestasi membanggakan di kancah internasional kembali ditorehkan oleh santri tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tim unggulan dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang yang digawangi oleh Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir sukses meraih medali perak lewat inovasi panel peredam suara bernama “Ecouiet” pada Kompetisi Bali International Science Fair (BISF) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) yang diikuti oleh berbagai delegasi pelajar dari Amerika Serikat, kawasan Asia Tenggara, Kazakhstan, hingga Uzbekistan. Inovasi Ecouiet ini memanfaatkan limbah organik berupa ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas bekas untuk menekan polusi suara di lingkungan belajar. Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita, menjelaskan bahwa panel peredam ini memiliki ketebalan 2,5 sentimeter dengan tekstur akhir yang padat menyerupai semen, di mana strukturnya juga ditambahkan material khusus agar fungsinya optimal. “Juga ada campuran arang hitam pada proses pembuatannya agar struktur panel lebih padat dan menyerap suara dengan baik,” jelas siswa kelas 8 yang akrab disapa Abi tersebut pada Senin (15/6). Guna membuktikan efektivitas kinerjanya, tim melakukan serangkaian uji coba menggunakan kotak kardus yang bagian dalamnya telah direkatkan panel Ecouiet. Mereka menyetel musik bervolume tinggi dari dalam kotak dan mengukur tingkat kebisingan yang berhasil diredam menggunakan alat ukur suara digital berbasis aplikasi telepon pintar. “Dan alat pendeteksi suara yang kita pakai saat uji coba itu decibel meter. Aplikasinya sangat praktis karena bisa diunduh langsung di Playstore,” imbuhnya. Dalam proses perakitannya, tim pelajar ini tidak lepas dari sejumlah kendala teknis selama empat pekan masa pengerjaan. Anggota tim lainnya, Muhammad Mahir dan Faizul Umam, memaparkan bahwa waktu yang relatif singkat cukup menyulitkan mereka dari tahap ideasi hingga perakitan, terlebih saat mereka harus menyesuaikan komposisi bahan agar adonan merekat sempurna. “Waktu yang mepet membuat kami harus bekerja ekstra cepat, apalagi mencari tekstur panel yang pas dan sesuai keinginan itu terbukti cukup sulit,” ungkap Mahir. Pencapaian luar biasa di tingkat internasional ini diharapkan mampu menjadi teladan dan pemacu semangat berkarya. Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, merasa sangat bersyukur dan bangga atas dedikasi serta capaian inovatif yang berhasil ditunjukkan oleh anak didiknya. “Semoga santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan prestasi yang membawa kebermanfaatan luas bagi masyarakat,” pungkas Nabila. Keberhasilan para santri PPI AMF ini menjadi bukti nyata bahwa usia belia bukanlah halangan untuk melahirkan produk ramah lingkungan yang berdaya guna tinggi. Ke depannya, inovasi Ecouiet diharapkan mendapat dukungan riset lanjutan agar dapat disempurnakan dan diproduksi secara massal, sehingga masalah kebisingan di ruang-ruang kelas maupun fasilitas umum dapat teratasi secara berkelanjutan dengan material hijau.(*)

Sering Ganti Pekerjaan Bukan Berarti Tak Loyal, Akademisi Manajemen UMM Beberkan Fakta Karier Gen Z

Fenomena kutu loncat atau kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan kerap dilekatkan pada Generasi Z (Gen Z), sehingga memunculkan stigma dari banyak perusahaan bahwa mereka kurang loyal dan mudah menyerah. Menanggapi hal tersebut, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kenny Roz S.Kom., M.M., menegaskan bahwa tingginya tingkat pengunduran diri pada Gen Z bukan semata-mata masalah krisis loyalitas, melainkan pergeseran mendasar terkait cara mereka memandang makna dan tujuan dari sebuah pekerjaan. Jika generasi sebelumnya menjadikan pekerjaan sebagai sumber stabilitas ekonomi jangka panjang, Gen Z justru melihat dunia kerja sebagai wadah untuk terus belajar, berkembang, dan mengaktualisasikan diri. Kenny saapn akrabnya menjelaskan bahwa tingginya perputaran karyawan muda ini sangat dipengaruhi oleh ekosistem digital yang serba cepat, di mana ketidakcocokan antara janji perusahaan dan kondisi asli di lapangan menjadi pemicu utama kepergian mereka. “Faktor utama yang membuat mereka lebih rentan resign adalah ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas kerja. Karena mereka terbiasa memperoleh informasi secara instan, ketika perusahaan tidak memberikan ruang berkembang atau visi misinya tidak sejalan, mereka tidak ragu mencari peluang lain yang dirasa lebih pas,” ujarnya 18 Juni lalu pada Humas UMM. Lebih dari itu, kompensasi finansial atau gaji besar kini bukan lagi senjata pamungkas untuk mengikat loyalitas Gen Z. Talenta muda masa kini memiliki standar evaluasi yang lebih kompleks saat memilih tempat berkarier, yang mencakup fleksibilitas jam kerja, keseimbangan hidup (work-life balance), kesehatan mental yang terjaga, serta hubungan atasan-bawahan yang suportif. “Kini mereka tidak hanya bertanya soal besaran gaji, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut memberikan kesempatan berkembang, memiliki makna, dan membuat mereka merasa dihargai sebagai individu seutuhnya. Bahkan, banyak yang bersedia menerima gaji lebih rendah jika lingkungan kerjanya sehat dan tidak toksik,” jelasnya. Menyikapi dinamika angkatan kerja baru ini, perusahaan dituntut untuk segera merombak strategi retensi karyawan agar tidak terus-menerus kehilangan talenta potensial. Langkah strategis yang krusial adalah menjembatani kesenjangan komunikasi antara pemimpin senior yang masih mendewakan hierarki dan senioritas, dengan Gen Z yang lebih menyukai transparansi, budaya kerja inklusif, dan kolaborasi aktif. “Perusahaan yang berhasil mempertahankan talenta Gen Z bukanlah yang sekadar menawarkan gaji tertinggi, tetapi yang mampu mendengarkan kebutuhan karyawannya secara proaktif. Perusahaan harus bisa menciptakan lingkungan kerja yang menghargai manusia sebagai aset utama melalui survei kepuasan maupun kanal dialog yang aman,” tegasnya. Pada akhirnya, fenomena Gen Z sebagai kutu loncat ini semestinya tidak lagi dilihat sebagai kelemahan, melainkan sinyal dan kritik konstruktif bagi dunia industri agar mau beradaptasi. Sinergi antara perusahaan yang responsif terhadap budaya kerja modern dan generasi muda yang terus mengasah kompetensinya akan bermuara pada terbentuknya ekosistem profesional yang jauh lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan di masa depan.(*)

Siapkan Fasilitator Berkelas, UMM Gelar ToT DPL KKN 2026 Guna Tingkatkan Kualitas Pengabdian

Pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab esensial dalam memecahkan persoalan nyata yang ada di tengah masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, UMM sebagai kampus Inovasi Mandiri dan berdampak terus berkomitmen menghadirkan program pengabdian yang terstruktur, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Guna merumuskan format pendampingan yang maksimal, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan strategis bertajuk Training of Trainers (ToT) Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Internasional, KKN Berdampak, dan KKN Mas 2026. Agenda pembekalan ini dilaksanakan pada tanggal 17/06/2026 bertempat di Aula GKB IV UMM. Acara ini menjadi langkah awal krusial untuk menyamakan persepsi para dosen sebelum terjun mendampingi total 4.134 mahasiswa di lapangan. Tahun ini, skala pengabdian mahasiswa dirancang sangat komprehensif. Ribuan mahasiswa tersebut terdiri atas 1.707 peserta KKN MAS, 2.370 peserta KKN Berdampak, dan 57 peserta KKN Internasional Berdampak. Lokasi penerjunan tidak hanya difokuskan di kawasan Malang Raya, tetapi juga tersebar luas hingga 17 kabupaten/kota. Bahkan, jangkauan program internasionalnya telah merambah Malaysia dan Thailand, serta tengah dikembangkan menuju Taiwan dan Korea Selatan. Dr. Arina Restian., M.Pd., Kepala Divisi Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) menyampaikan bahwa pelatihan bagi DPL ini sangat penting agar dosen dapat membekali mahasiswa dengan rancangan program yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing desa. “KKN Berdampak merupakan transformasi pelaksanaan yang menekankan pada penciptaan manfaat nyata, terukur, dan berkelanjutan guna memperkuat kemandirian komunitas di masyarakat,” urainya. Di samping memberikan sentuhan sosial langsung kepada warga, pelaksanaan KKN juga dituntut untuk merekam jejak akademik yang baik. Wakil Ketua II KKN MAS, Konsorsium LPPM PTMA, Prof. Dr. Muhtadi, memaparkan bahwa sinergi antara dosen dan mahasiswa harus mampu menghasilkan luaran akademik yang terstandar. Ia merinci bahwa publikasi di media massa, pembuatan video dokumentasi edukatif, hingga penyusunan artikel jurnal adalah elemen capaian yang wajib direalisasikan. Tidak berhenti di situ, ia juga mendorong penyusunan buku profil desa dan pembuatan teknologi guna mendongkrak capaian keilmuan institusi. “Setiap kelompok KKN diharapkan mampu memaksimalkan luaran kegiatannya, baik dalam bentuk jurnal ilmiah terakreditasi maupun perumusan prototipe teknologi tepat guna,” paparnya. Pada sesi pendalaman konsep pemberdayaan, Wakil Ketua I KKN MAS, Konsorsium LPPM PTMA, Dr. Aris Slamet Widodo., S.P., M.Sc, membedah hakikat DPL yang sesungguhnya harus bertindak sebagai fasilitator sejati. Ia mengingatkan bahwa KKN bukanlah sekadar ajang event organizer kepanitiaan mahasiswa semata. Sebuah pemberdayaan harus dilakukan secara terukur melalui tahapan peningkatan pengetahuan, keterampilan, sikap, hingga bermuara pada perubahan perilaku nyata di masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa harus diarahkan agar mampu merangkul warga secara langsung dan membantu melepaskan rasa ketidakberdayaan masyarakat. “Keberhasilan mutlak kita sebagai fasilitator diukur dari sejauh mana kita mampu mengkapasitasi masyarakat agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya secara mandiri,” tegasnya. Melalui penyelenggaraan ToT yang terarah ini, UMM mematangkan persiapannya agar pelaksanaan KKN 2026 berjalan sukses dan tepat guna. Langkah konkrit ini sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai perguruan tinggi terkemuka yang selalu hadir menebar kebermanfaatan nyata bagi kemajuan bangsa.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dosen Hukum UMM Tegaskan Relokasi PKL Jalan Veteran Tak Boleh Bunuh Ekonomi Rakyat Kecil

Rencana penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan pendidikan Jalan Veteran, Kota Malang, mendapat sorotan tajam dari akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pemerintah Kota Malang dituntut untuk tidak melakukan penggusuran sepihak dengan dalih estetika kota, melainkan wajib menggunakan pendekatan hukum progresif yang mengedepankan solusi relokasi manusiawi tanpa mematikan urat nadi mata pencaharian para pedagang kecil. Keberadaan deretan lapak PKL di sepanjang Jalan Veteran selama ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut ekonomi kerakyatan yang melayani kebutuhan masyarakat sekitar. Menanggapi polemik penertiban ini, Dosen Hukum UMM, Dr. Surya Anoraga, S.H., M.Hum., menilai penerapan aturan tata ruang kota tidak boleh dilakukan secara kaku atau mengabaikan hak-hak ekonomi warga. Menurutnya, pendekatan hukum progresif mengamanatkan agar pemerintah daerah tetap menjamin kelangsungan hidup serta memberikan perlindungan nyata bagi pelaku usaha kecil. “Prinsip utamanya, usaha kecil di kawasan manapun harus mendapatkan perlindungan komprehensif dari negara. Keadilan bagi usaha kecil juga berarti memberikan kemudahan dan kepastian akses ruang bagi mereka untuk tetap bisa berdagang serta bertahan hidup di tengah dinamika pembangunan kota,” jelasnya 17 Juni lalu pada Humas UMM. Upaya penataan tata ruang kota yang bersih dan tertib tidak semestinya direduksi maknanya menjadi sekadar ajang pemberantasan eksistensi PKL dari ruang publik. Surya memaparkan bahwa apabila letak lapak pedagang terbukti mengganggu fungsi utama jalan raya atau kelancaran arus lalu lintas, pemerintah daerah berkewajiban penuh untuk menyediakan opsi tempat pengganti yang menjanjikan secara hitungan ekonomi. “Jika penertiban dan pemindahan mutlak harus dilakukan, maka jalan keluarnya harus dilakukan relokasi. Lokasi baru tersebut wajib merupakan titik strategis yang sama sekali tidak jauh dari jangkauan konsumen lama mereka, sehingga roda perekonomian harian pedagang tidak sampai terhenti,” paparnya. Lebih dari sekadar memindahkan lokasi fisik dagangan, Surya juga menyoroti krusialnya proses penyusunan kebijakan ruang publik yang wajib dilandasi asas partisipatif dan musyawarah. Melibatkan tokoh masyarakat dan perwakilan pedagang sangat penting guna mencegah tindakan represif yang berpotensi memicu eskalasi konflik sosial di lapangan. “Tentu sangat perlu dilakukan musyawarah mufakat yang intensif, transparan, dan setara untuk menyelesaikan benturan kepentingan ini demi mencari solusi bersama. Oleh karena itu, peran serta masyarakat dan keterbukaan ruang dialog sangat penting di sini, bukan sekadar pemberitahuan atau sosialisasi satu arah dari pihak penguasa,” jabarnya. Sebagai pesan penutup sekaligus refleksi bersama, Surya kembali memberikan peringatan keras bahwa memaksakan relokasi ke tempat yang terlampau jauh dari pusat aktivitas warga sama halnya dengan membunuh usaha para pedagang secara perlahan. Rencana penataan kawasan Jalan Veteran sudah sepatutnya dijadikan momentum bagi Pemerintah Kota Malang untuk melahirkan terobosan kebijakan tata kota yang lebih inklusif dan berkeadilan sosial. Penertiban tata ruang yang ideal sejatinya bukan perihal memilih antara estetika kota atau kesejahteraan perut rakyat, melainkan pembuktian bagaimana pemerintah mampu merangkul keduanya agar bisa berjalan harmonis, beriringan, dan saling menghidupi. (rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Faqih Ahmad Wafir Rahman

Belasan Mahasiswa CoE BIPA UMM, Dipercaya Mengajar di Vietnam dan Thailand

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara agresif terus memperluas kiprah internasionalnya melalui program unggulan Center of Excellence (CoE). Kali ini, Kampus Putih menerbangkan 15 mahasiswa dari kelas CoE Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Belasan duta bahasa tersebut resmi ditugaskan menjadi tutor bahasa Indonesia selama dua bulan penuh di dua perguruan tinggi terkemuka ASEAN, yakni Open University di Vietnam dan Srinakharinwirot University di Thailand. Langkah taktis ini menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di pasar global. Ketua Program Studi (Kaprodi) Bahasa dan Sastra Indonesia Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., menjelaskan bahwa pemberangkatan belasan mahasiswa ini tidak dilakukan serentak, melainkan dibagi ke dalam dua gelombang menuju negara tujuan masing-masing. “Ada 15 orang yang berangkat. Sepuluh orang menuju Open University di Vietnam yang berangkat lebih dulu pada 18 Juni. Sementara lima orang lainnya akan berangkat ke Srinakharinwirot University di Thailand pada bulan Agustus,” ujarnya. Untuk menjamin kelancaran dan kenyamanan mahasiswa selama menjalankan tugas kebahasaan di mancanegara, pihak universitas memberikan dukungan material secara penuh. Isnaini menuturkan bahwa kampus menyalurkan subsidi yang secara spesifik dialokasikan untuk menjamin kebutuhan tempat tinggal dan beberapa persiapan teknis para tutor muda tersebut. “Dari kampus memfasilitasi untuk tempat tinggal mereka di sana, sama beberapa item persiapan kegiatannya itu. Nominalnya tidak dipukul rata, karena disesuaikan dengan studi kasus kebutuhan masing-masing di negara tujuan,” tambahnya. Terakhir, ia berharap agar program ini mampu membekali mahasiswa dengan keterampilan mengajar praktis, sekaligus meresmikan peran mereka sebagai ujung tombak promosi budaya dan bahasa Indonesia di kancah internasional. “Harapannya mereka bisa menjadi diplomat bahasa dan tutor bahasa Indonesia untuk penutur asing. Karena memang keunggulan utama dari Prodi Bahasa Indonesia UMM adalah mencetak diplomat bidang BIPA,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas keberanian, antusiasme, dan dedikasi para mahasiswa untuk mengambil peran strategis di level ASEAN. Ia secara khusus berpesan agar para mahasiswa senantiasa menjaga marwah almamater dan menampilkan karakter luhur bangsa Indonesia yang santun selama berinteraksi di lingkungan global. Ia meyakini, pengalaman mengajar di kampus mancanegara ini tidak hanya mengasah kompetensi pedagogik, tetapi juga mematangkan kedewasaan kultural mahasiswa, sekaligus semakin mengokohkan reputasi UMM sebagai institusi pendidikan bertaraf internasional.

Tampil di ICCD Uzbekistan, UMM Pamerkan Inovasi untuk Berantas Stunting

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menawarkan solusi konkret untuk menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting melalui optimalisasi potensi lokal masyarakat. Gagasan ini dipresentasikan langsung oleh Kepala Direktorat Sains dan Teknologi UMM, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., dalam ajang International Conference of Community Development (ICCD) ke-12 yang diselenggarakan oleh AMCA di Uzbekistan pada 18–22 Mei 2026. Ia memaparkan gagasan tersebut berdasarkan implementasi Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M) UMM di Desa Bonleu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Desa Benpasi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Pendekatan program ini tidak sekadar mengejar kuantitas hasil panen, melainkan berupaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat guna memutus rantai kemiskinan dan stunting secara komprehensif. “Di kedua desa itu kita mendampingi bagaimana mereka memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan peternakan. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan hasil produksi, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga daya beli mereka meningkat dan pada akhirnya bisa menekan kemiskinan ekstrem serta stunting,” jelasnya. Pelaksanaan program di lapangan bertumpu pada penciptaan kemandirian para peternak dan petani setempat. Tim UMM mengajarkan warga memproduksi pakan silase untuk menjamin ketersediaan pakan sapi potong di musim kemarau, serta memproduksi pupuk organik dan pestisida nabati guna mengurangi ketergantungan pada bahan kimia. Bersama Universitas Timor (Unimor), UMM juga memberikan pendampingan pemasaran yang terbukti sukses menaikkan nilai jual produk sayuran lokal. “Ketika mereka menggunakan pupuk organik maupun pestisida nabati yang dibuat sendiri, produktivitas sayurnya meningkat dan kualitasnya lebih bagus. Itu membuat mereka bisa menjual hasil panennya dengan harga yang lebih baik,” tambahnya. Inovasi Biofarm yang dibawa UMM ini sejatinya telah menuai kesuksesan di berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Meski demikian, penerapannya di NTT menghadapi tantangan alam yang lebih berat serta kebiasaan budidaya petani yang masih bergantung pada musim. Oleh karena itu, pendampingan ditekankan pada transformasi pola pikir warga dalam memaksimalkan dan mengelola sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka. “Harapan kami selama tiga tahun ke depan adalah terjadi perubahan yang signifikan, baik pada peningkatan pendapatan masyarakat maupun penurunan angka stunting. Karena stunting dan ekonomi itu saling berkaitan, maka penyelesaiannya juga harus dilakukan secara terpadu,” tegasnya. Ke depan, upaya pembangunan desa dan pengentasan masalah sosial di pelosok negeri menuntut sinergi yang lebih luas. Keterlibatan lintas disiplin, mulai dari pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur. Membuktikan bahwa kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat adalah kunci utama untuk mewujudkan pembangunan pedesaan yang berdampak dan berkelanjutan.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman