Pertama di PTS Jatim, UMM Resmi Buka Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Berbasis Sport Science

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi meluncurkan Program Studi (Prodi) baru, yakni Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO). Gebrakan ini mencatatkan UMM sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pertama di Jawa Timur yang memiliki prodi tersebut. Peluncuran prodi ini merupakan langkah strategis Kampus Putih dalam merespons cepat dinamika dan kebutuhan industri olahraga modern. Fokus utamanya adalah melahirkan lulusan unggul yang siap menjadi pelatih profesional, guru olahraga, hingga wirausahawan yang berlandaskan pada keilmuan sport science. Pembentukan prodi PKO ini bukanlah langkah reaktif, melainkan telah melalui proses kajian dan pematangan yang komprehensif sejak tahun 2015. Kampus putih menyadari tingginya antusiasme masyarakat serta kebutuhan ekosistem olahraga nasional yang kini semakin bergantung pada pendekatan ilmiah dan data analitik. Ketua Program Studi PKO UMM, Frendy Aru Fantiro, M.Pd., menegaskan bahwa prodi ini dirancang untuk memberikan nilai tambah yang spesifik. Mahasiswa tidak hanya dibekali keahlian fisik, tetapi juga penguasaan sport science, teknologi analitik olahraga, serta penguatan karakter nilai-nilai keislaman. “Ekosistem pendidikan dan nama besar UMM menjadi poin plus. Sport science dan teknik kepelatihan olahraga merupakan fondasi utama kurikulum kami, sehingga mahasiswa mampu menganalisis proses ilmiah di balik performa seorang atlet juara,” jelas Frendy. Untuk mendukung iklim akademis dan praktik, UMM telah memiliki infrastruktur olahraga yang sangat mumpuni. Area stadion kampus secara aktif mewadahi kegiatan olahraga masyarakat, dan dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan multievent bergengsi berskala internasional, ASEAN University Games pada tahun 2025. Sebagai komitmen pengembangan, prodi PKO juga akan segera membangun laboratorium sport science khusus guna memenuhi standar kebutuhan industri olahraga kekinian. Nantinya, lulusan PKO tidak sekadar mengantongi ijazah strata satu (S1). Mereka dipastikan akan lulus dengan lisensi kepelatihan profesional pada masa akhir studi sesuai cabang olahraga fokusnya. Hal ini membuka prospek karier yang sangat luas, mulai dari guru pendidikan jasmani, dosen, analis performa atlet, pelatih fisik, personal trainer, hingga instruktur kebugaran. Peluang penyerapan tenaga kerja semakin terjamin karena UMM aktif merajut kolaborasi strategis dengan berbagai pihak. Prodi PKO menggandeng Sekolah Olahraga (SMANOR) Sidoarjo, KONI, hingga klub-klub profesional di cabang sepak bola, basket, pencak silat, dan bola voli. Inovasi lainnya adalah kolaborasi lintas disiplin ilmu dengan prodi Teknik Informatika dan Elektro UMM untuk mengembangkan perangkat lunak penunjang performa olahraga. Selain itu, UMM turut menyiapkan jalur pendaftaran khusus bagi atlet agar mereka tetap bisa menempuh pendidikan tinggi dengan jadwal kuliah yang fleksibel tanpa mengorbankan karier olahraganya. Bagi calon mahasiswa yang berminat, pendaftaran telah dibuka melalui beberapa jalur. Jalur Reguler Periode 1 berlangsung pada 21 April–30 Juni 2026, disusul Periode 2 pada 1 Juli–31 Agustus 2026. Tersedia juga Jalur Prestasi yang dibuka mulai 21 April hingga 25 Juni 2026. Melihat besarnya peluang tersebut, Frendy mengajak para pelajar untuk tidak ragu memilih PKO UMM sebagai tempat mengasah keahlian. “Tidak perlu ragu, kuliahnya sangat fleksibel dan lebih banyak praktik. Peluang kerja di PKO sudah terpampang nyata, ditambah banyak beasiswa yang menunggu para calon mahasiswa berprestasi,” pesan Frendy. Hadirnya Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga di UMM ini diharapkan menjadi pionir dalam mendongkrak kualitas sumber daya manusia keolahragaan, baik di wilayah Jawa Timur maupun di tingkat nasional. Melalui fasilitas lengkap dan kurikulum terstruktur, Kampus Putih menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi juara yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas secara ilmiah dan tangguh.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kupas Tuntas SDGs, Konferensi Internasional Pascasarjana UMM Bahas Transformasi Sosial hingga Energi Hijau

Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan 4th International Conference on Science and Technology for Sustainable Development (IC-STSD 2026) di Aula BAU UMM pada Sabtu (13/6). Mengusung tema integrasi inovasi, kesehatan, pendidikan, dan transformasi sosial, konferensi internasional ini menghadirkan para pakar dunia untuk membedah kesiapan masyarakat global dalam menghadapi tantangan berat seperti perubahan iklim, potensi gesekan sosial, hingga tata ruang kota demi mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs). Menyoroti urgensi transformasi sosial, Assc. Prof. Mun’im Sirry dari Departemen Teologi, University of Notre Dame, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa fondasi utama keberlanjutan sebuah negara majemuk seperti Indonesia adalah kemampuan warganya dalam merawat kerukunan. Berdasarkan risetnya, masyarakat perlu memupuk cinta sosial dan kepedulian antarumat beragama, di mana perbedaan keyakinan harus dijadikan ruang interaksi yang sehat untuk saling belajar dan memperkuat ikatan kemanusiaan. “Untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan, kita harus membangun budaya saling peduli di tengah masyarakat majemuk melalui pemahaman lintas agama, sehingga setiap individu merasa aman dan diterima,” paparnya. Dari perspektif geografi, Dr. Irna Nurlina bt Masron, peneliti ISEAS Yusof Ishak Institute, Singapura, membahas dilema pelestarian sejarah kawasan kota tua yang kerap tergilas oleh arus komersialisasi pariwisata. Berpijak pada studi kasus di Little India, Singapura dan Pekojan, Jakarta, ia mengingatkan bahwa pelestarian warisan budaya wajib melibatkan masyarakat asli agar ambisi kota global dan derasnya arus modal investor tidak mengusir warga dari ruang hidup mereka. “Konservasi tata kota harus dipandang sebagai proses kehidupan sehari-hari yang mengutamakan kesejahteraan penduduk lokal, bukan sekadar menjaga struktur bangunan kuno demi memenuhi ekspektasi sektor pariwisata semata,” urainya. Menyambung ancaman krisis ekologi perkotaan, pakar energi terbarukan Fakultas Teknik UMM, Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., memaparkan dampak fatal ketergantungan pada bahan bakar fosil yang terus menyumbang emisi mematikan. Solusi utama yang ditawarkan adalah transisi menuju energi hijau yang terintegrasi jaringan listrik pintar, sebuah terobosan yang telah diaplikasikan langsung oleh Kampus Putih lewat operasional Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan deretan panel surya di atap Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5. “Untuk mewujudkan kota yang benar-benar tangguh, kita perlu memanfaatkan teknologi cerdas dan menggunakan energi terbarukan agar emisi gas berbahaya dapat dikurangi serta kebutuhan energi di masa depan tetap terpenuhi,” tegasnya. Forum berskala internasional ini kembali menegaskan kapasitas UMM sebagai institusi pendidikan yang responsif dalam mencari solusi atas krisis multidimensi. Penyelenggaraan IC-STSD 2026 diharapkan tidak berhenti pada diskursus akademik, melainkan menjadi stimulus lahirnya kolaborasi nyata dan jejaring riset konkret lintas negara. Melalui langkah proaktif ini, Kampus Putih berkomitmen untuk terus melahirkan agen perubahan yang matang secara keilmuan, siap menjaga kelestarian bumi, dan berkontribusi langsung pada kesejahteraan peradaban manusia.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tangkal Doomscrolling dan FOMO, Mahasiswa UMM Diajak Terapkan Detoks Digital

Menjawab ancaman kelelahan mental akibat penggunaan gawai yang tak terkendali, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara tegas membekali mahasiswanya dengan keterampilan digital mindfulness. Edukasi krusial ini disampaikan pada penutupan Kuliah Sabtu Subuh (KSS) Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum (MKWK) UMM, Sabtu (13/6). Mengusung tema “Mindfulness di Era Digital”, kegiatan ini difokuskan untuk mentransformasi mahasiswa dari kondisi digital distress yang merusak menuju kesadaran penuh yang berlandaskan pada nilai-nilai ajaran Islam. Fenomena krisis fokus pada generasi muda menjadi perhatian utama dalam forum tersebut. Psikolog Pendidikan sekaligus Ketua Korps Immawati DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Wilda Kumala Sari, S.Psi., M.Psi., memaparkan bahwa mahasiswa saat ini sangat rentan mengalami digital distress akibat FOMO (fear of missing out), kecemasan akan validasi, hingga kebiasaan doomscrolling. “Gejalanya bisa muncul dalam berbagai bentuk. Secara psikologis seseorang menjadi sulit berkonsentrasi, gelisah, cemas saat jauh dari ponsel, mudah marah, hingga akhirnya mengalami burnout akademik,” jelasmya. Lebih jauh, Wilda menyoroti bagaimana kecemasan digital sering kali merenggut kesadaran mahasiswa akan realitas saat ini, sehingga mereka kerap kehilangan kendali atas prioritas belajar dan produktivitas mereka. “Sering kali kita terjebak pada masa lalu atau kecemasan tentang masa depan secara berlebihan. Karena itu, bersikap bijak terhadap masa lalu dan masa depan dimulai dengan kemampuan untuk hadir sepenuhnya di masa kini,” ungkapnya. Mengatasi persoalan tersebut, integrasi antara psikologi dan agama menjadi solusi utama, yakni dengan menerapkan digital mindfulness melalui konsep khusyuk dan ihsan. Ia menerangkan bahwa khusyuk melatih mahasiswa untuk memusatkan pikiran agar terlepas dari distraksi gawai, sementara ihsan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah Swt. selalu mengawasi setiap aktivitas, termasuk di ruang siber. “Ihsan membuat kita memiliki filter dalam berperilaku di media sosial. Dengan begitu, kita tidak akan melakukan cyberbullying, menyebarkan hoaks, atau melakukan plagiarisme digital,” tegasnya. Untuk mengimplementasikan kesadaran tersebut, mahasiswa diarahkan untuk melakukan langkah praktis seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, membiasakan monotasking daripada multitasking, serta menerapkan teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) sebelum membuka media sosial. “Pada jeda tersebut, mahasiswa dapat bertanya kepada diri sendiri, ‘Apakah Allah rida dengan apa yang aku lakukan? Apakah ini membawa manfaat?’ sebelum memutuskan untuk berinteraksi di dunia maya,” tambahnya. Melalui pembekalan mindfulness ini, mahasiswa UMM diharapkan mampu menjadi pengendali penuh atas teknologi yang mereka gunakan, bukan justru menjadi budak algoritma. Kegiatan ini menitipkan pesan mendalam bahwa menjaga kesehatan mental dan spiritual melalui batasan digital yang sehat adalah fondasi wajib bagi mahasiswa untuk meraih kesuksesan akademik dan kehidupan yang menenangkan di masa depan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kuliah Tamu Sosiologi UMM Soroti Hilangnya Tradisi Berpikir Kritis Mahasiswa di Tengah Dominasi Teknologi

Krisis intelektual yang melanda generasi muda hari ini bukanlah soal rendahnya kapasitas kecerdasan, melainkan pudarnya keberanian untuk berpikir kritis dan melawan ketidakadilan yang terjadi di depan mata. Realitas tersebut menjadi sorotan utama Founder Social Movement Institute, Eko Prasetyo, S.H., dalam agenda Kuliah Tamu Nasional Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (13/6). Mengusung tema besar “Kaum Cendekiawan dan Krisis Moral Perlawanan”, acara bergengsi ini memantik kesadaran para mahasiswa untuk merefleksikan kembali fungsi sejati kampus sebagai rahim lahirnya intelektual pemberani yang mengoreksi realitas sosial. Dalam pemaparannya di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 Lantai 6 UMM, Eko menguraikan bahwa krisis moral perlawanan tidak muncul dari ruang hampa, melainkan akibat perubahan struktural di dunia pendidikan. Orientasi pendidikan yang kian pragmatis, menjamurnya budaya individualisme, serta dominasi teknologi secara perlahan menggeser marwah kampus. Lembaga pendidikan tinggi dinilai kini lebih menyerupai pabrik pencetak tenaga kerja dibandingkan ruang pembentukan karakter yang berpihak pada kebenaran, sehingga mahasiswa semakin terasing dari tradisi menyuarakan kepentingan publik. “Kampus ini dunia yang dinamis, jangan hanya hidup monoton. Mahasiswa perlu memanfaatkan lingkungan akademik sebagai ruang berdiskusi, berorganisasi, dan menguji gagasan, bukan hanya mengejar nilai atau menyelesaikan perkuliahan. Keberanian mempertanyakan persoalan sosial merupakan fondasi utama bagi lahirnya kaum intelektual yang mampu membawa perubahan,” tegasnya. Lebih lanjut, Eko mengkritisi tajam fenomena komersialisasi pendidikan dan disrupsi informasi yang menggerus daya nalar kritis mahasiswa. Menurutnya, ketika akses pendidikan semakin mahal dan eksklusif, ruang perjumpaan lintas kelas sosial otomatis menyempit, sehingga empati bermasyarakat terkikis habis. Di sisi lain, banjir informasi akibat gawai justru sering kali melahirkan pemahaman yang dangkal karena mahasiswa mengetahui banyak isu tetapi gagal memetakan akar masalah akibat abai terhadap budaya literasi, dialog komprehensif, dan ketajaman berpikir analitis. “Egoisme dan hasrat kekuasaan kini mengakar kuat karena terus dipelihara oleh berbagai lembaga dalam masyarakat. Kondisi ini berkontribusi terhadap melemahnya keberanian masyarakat untuk mengkritik ketidakadilan, di mana budaya kepatuhan dibuat lebih dominan daripada budaya berpikir independen. Dalam kondisi seperti itu, kampus memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi intelektual agar tetap hidup,” urai Eko dengan gamblang. Menutup jalannya kuliah tamu nasional tersebut, terdapat pesan penting yang harus direfleksikan bersama oleh seluruh civitas academica. Krisis moral perlawanan ini hanya bisa diakhiri jika mahasiswa berani menanggalkan sikap apatis dan mulai turun langsung membedah ragam persoalan rakyat. Esensi seorang intelektual sejati sejatinya tidak pernah diukur dari tumpukan gelar akademik mentereng, melainkan dari seberapa besar nyali dan keberaniannya dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan secara nyata. Kampus harus kembali ditegakkan sebagai ruang subur bagi tumbuhnya gagasan kritis, independen, dan mutlak berpihak pada kepentingan masyarakat luas.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Diakui Nasional, RS UMM Raih Pujian Dirut BPJS Kesehatan atas Komitmen Layanan Prima

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Dr. dr. Prihati Pujowaskito, secara langsung mengapresiasi tingginya standar kualitas pelayanan dan tingkat keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM). Apresiasi tersebut disampaikan dalam kunjungan kerjanya pada Kamis (11/6) sebagai wujud pengakuan atas dedikasi RS UMM dalam mendukung penuh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ia mengungkapkan bahwa RS UMM telah membuktikan kapasitasnya sebagai fasilitas kesehatan yang mumpuni dan mematuhi standar ketat sebagai mitra strategis BPJS Kesehatan. “Rumah Sakit UMM bagus, sudah standarisasi, dan sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Jadi rumah sakit-rumah sakit yang sudah terstandarisasi ini melakukan pelayanan yang bermutu, menjaga keselamatan pasien. Dan ini penting sekali untuk melaksanakan, mendukung program JKN BPJS, ya,” tegasnya. Pujian tersebut sangat relevan dengan fakta bahwa RS UMM memiliki keunggulan fasilitas dan infrastruktur berskala besar yang dibangun di atas lahan seluas 90.000 meter persegi. Rumah sakit ini telah mengantongi akreditasi tingkat kelulusan “PARIPURNA” (bintang lima) dari Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI). Reputasi unggul ini juga dibuktikan dengan raihan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai rumah sakit rujukan tipe C dengan predikat terbaik dalam penanganan pandemi Covid-19 pada tahun 2021. Memegang status Tipe C dengan fasilitas setara rumah sakit Tipe B, layanan prima rumah sakit ini ditopang oleh total 590 Sumber Daya Manusia (SDM), yang di antaranya meliputi 96 tenaga medis , 212 tenaga perawat , serta 150 tenaga kesehatan lain. Guna menunjang kepuasan pasien, RS UMM menghadirkan pelayanan medis yang komprehensif melalui 28 pilihan klinik rawat jalan dan total 150 tempat tidur rawat inap. Menanggapi kunjungan dan apresiasi dari pimpinan BPJS, Direktur RS UMM, Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp.PD, KPTI, menegaskan komitmen lembaganya dalam menghadirkan pelayanan medis prima yang terpadu. “Kami terus berkomitmen dalam pelayanan. Kerja sama berkelanjutan dengan BPJS Kesehatan adalah bukti nyata dedikasi kami untuk hadir melayani masyarakat luas, memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik dengan aksesibilitas yang mudah,” ungkapnya. Kunjungan serta atensi langsung dari pucuk pimpinan BPJS Kesehatan ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi RS UMM untuk terus konsisten merealisasikan visinya, yakni menjadi rumah sakit pilihan masyarakat dengan keunggulan pelayanan yang bermutu tinggi, aman, dan efektif. Kolaborasi erat antara penyedia fasilitas kesehatan dengan pemerintah merupakan kunci mutlak guna mewujudkan sistem layanan medis yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
GKB 5 Resmi Beroperasi, UMM Bersiap Jadi Episentrum Medis Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si pada Kamis (11/6). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban. Haedar sapaan akrabnya memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih karena dinilai tak pernah lelah berinovasi dan sukses menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegasnya. Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” urainya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektar, struktur tahan gempa ini mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, dan memastikan sirkulasi udara sehat. Gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh. Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dari Deteksi Anemia hingga Kedaulatan Energi, Gebrakan 4 Guru Besar Baru UMM Hadirkan Manfaat untuk Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan empat Guru Besar baru di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III UMM pada Kamis, 11 Juni 2026. Pengukuhan ini menjadi langkah strategis Kampus Putih dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin, sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil riset mendalamnya mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Ia menyampaikan bahwa metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian sebuah negara. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan sebuah terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik. Ia menjelaskan bahwa inovasi mutakhir tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien yang kemudian langsung dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tegas Lailis. Sementara itu, Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng. menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri. Ia memaparkan bahwa ketergantungan yang terlampau tinggi terhadap pasokan energi fosil konvensional akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam kesetabilan ekonomi makro nasional. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Selanjutnya, Prof. Ir. Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM. dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya beralih ke sistem pengendalian hayati demi memulihkan kerusakan tanah tropis akibat paparan zat kimia pertanian yang berlebihan. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan akut petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit) yang harus segera diambil oleh seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kita yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik. Sementara itu, Rektor UMM menegaskan bahwa penambahan profesor baru ini merupakan momentum penting untuk memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak nyata bagi peradaban. “Keempat orasi ilmiah yang disampaikan hari ini tidak hanya meneguhkan kedudukan akademik para profesor, tetapi juga mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bangsa, dan peradaban,” ujar Rektor. Acara pengukuhan akbar ini diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial akademik tahunan di lingkungan kampus. Kehadiran para pakar baru di puncak karier akademisnya harus menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika UMM untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi. Implementasi nyata dari setiap inovasi lintas disiplin ilmu tersebut menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan zaman dan membawa dampak positif bagi kemandirian bangsa yang berkemajuan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Respons Era Digital, UMM Cetak Puluhan Trainer Pembelajaran Transformatif

Merespons tantangan era digital dan kecerdasan buatan (AI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Training of Trainers (TOT) Penerapan Pembelajaran Transformatif. Diikuti oleh 32 dosen perwakilan fakultas dan unit kerja, agenda ini berlangsung secara bauran pada 6–9 Juni 2026 di Ruang Sidang Senat UMM guna mencetak trainer yang mampu menggerakkan perubahan praktik pembelajaran di lingkungan kampus. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa dosen di era modern tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, melainkan bertindak sebagai agen perubahan. Ia menyebutkan bahwa pendidik dituntut untuk membantu mahasiswa membangun cara berpikir kritis, reflektif, dan berorientasi pada pemecahan masalah yang nyata. “Di era digital, informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Tantangan dosen saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi bagaimana membimbing mahasiswa untuk mengolah informasi, melakukan refleksi kritis, membangun perspektif baru, dan menghasilkan tindakan yang berdampak,” ujarnya. Sejalan dengan hal tersebut, Fasilitator Nasional Pembelajaran Transformatif, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, MM., menjelaskan bahwa pendekatan ini akan mendorong perubahan perspektif melalui pengalaman belajar. Menurutnya, pembelajaran di kelas harus melampaui paradigma transfer pengetahuan menuju transformasi pemahaman mahasiswa terhadap dirinya dan tantangan di masyarakat. “Pembelajaran yang baik bukan hanya membuat mahasiswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka melihat sesuatu secara berbeda. Ketika mahasiswa mulai mempertanyakan asumsi yang selama ini diyakini, melihat persoalan dari berbagai perspektif, dan kemudian mengambil tindakan berdasarkan refleksi kritis, di situlah transformasi pembelajaran terjadi,” jelasnya. Selama pelatihan, peserta tidak hanya dibekali strategi dari tahap perencanaan hingga asesmen, tetapi juga didorong untuk meninjau ulang praktik mengajar mereka selama ini. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini mengguncang cara pandangnya, di mana kesuksesan belajar seharusnya tidak lagi diukur sebatas dari pemerolehan nilai akademik semata. “Selama ini saya menganggap pembelajaran berhasil ketika mahasiswa memahami materi dan memperoleh nilai yang baik. Namun dalam pelatihan ini saya disadarkan bahwa pembelajaran seharusnya membantu mahasiswa mengalami perubahan cara berpikir, membangun kesadaran baru, dan mampu memaknai pengalaman yang mereka hadapi,” ungkapnya. Peserta lainnya turut menyoroti urgensi efektivitas desain pembelajaran yang selama ini diterapkan di perguruan tinggi. Ia terdorong untuk mengevaluasi secara mendalam sejauh mana proses belajar-mengajar di kelas benar-benar memberikan dampak nyata bagi pembentukan karakter mahasiswa. “Pelatihan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri, apakah mahasiswa saya hanya memperoleh pengetahuan atau benar-benar mengalami transformasi cara berpikir? Pertanyaan itu terus muncul dan mendorong saya untuk mendesain ulang pembelajaran agar lebih bermakna,” tuturnya. Ke depannya, inisiatif UMM dalam mencetak trainer pembelajaran transformatif ini menjadi wujud nyata komitmen kampus untuk terus menghadirkan inovasi pendidikan abad ke-21. Transformasi yang berakar dari perubahan cara berpikir dosen ini diharapkan dapat menular secara luas, sehingga UMM konsisten melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh menjadi agen perubahan yang solutif bagi bangsa dan kemanusiaan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kembangkan Mesin Pencuci Singkong untuk UMKM, Tim Mahasiswa UMM Sabet Juara Nasional

Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kualitasnya dengan menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Tim mahasiswa yang diketuai oleh Nova Sinanti berhasil meraih gelar juara berkat karya inovatif mereka berupa Mesin Pencuci Singkong Semi Mekanis Berbasis Drum Spray dan Water Recirculation. Pengumuman kemenangan membanggakan ini secara resmi dilangsungkan pada hari Senin (18/5/2026). Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi mahasiswa UMM mampu memberikan solusi aplikatif bagi masyarakat. Ajang perlombaan bergengsi ini diselenggarakan langsung oleh Asosiasi Program Studi Teknik Mesin – Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APSTM-PT). Kompetisi ini menjadi wadah adu gagasan yang diikuti oleh para mahasiswa aktif dari Program Studi Teknik Mesin PTMA se-Indonesia. Persaingan di babak final berjalan sangat ketat, karena mempertandingkan total 15 tim unggulan, di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga hingga lima orang mahasiswa. Tim delegasi UMM yang beranggotakan Nova Sinanti, Azka Firosyan Samana Putra, dan Raihan Rosyadi tampil memukau para juri lewat rancangan mesin mereka yang dinilai sangat solutif dan tepat guna. Keunggulan utama dari inovasi buatan mahasiswa UMM ini terletak pada kombinasi teknologi efisiensi dan kapasitasnya yang besar. Nova Sinanti selaku ketua tim menjelaskan bahwa rancangan mesin semi mekanis ini ditujukan untuk memangkas waktu produksi secara drastis pada skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang selama ini sangat bergantung pada pencucian manual. Nova menerangkan bahwa alat tersebut dilengkapi dengan sistem ulir untuk mengarahkan bahan baku serta perangkap sedimen untuk memisahkan kotoran secara otomatis. “Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari yang awalnya butuh empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja. Kami juga menambahkan fitur drum spray dan sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap, sehingga pemakaian air jauh lebih hemat dan kotoran tidak bercampur kembali dengan singkong,” ungkapnya. Selain memangkas beban kerja, alat pembersih ini diyakini mampu menjaga stabilitas mutu bahan baku yang sangat krusial. Nova menegaskan bahwa teknologi air yang mereka kembangkan didesain sedemikian rupa agar tidak merusak tekstur daging singkong. “Penggunaan sistem sirkulasi pada alat kami berperan layaknya bantalan air, sehingga kulit singkong bisa terkelupas dan bersih tanpa melukai dagingnya. Dengan hasil pencucian yang maksimal, UMKM nantinya bisa memproduksi keripik dengan warna yang lebih cerah dan rasa yang tidak pahit akibat sisa getah atau pasir,” tegasnya. Keberhasilan Nova dan kawan-kawan tentu tidak terlepas dari bimbingan intensif pihak kampus. Dosen pendamping proyek ini, Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T., menyampaikan rasa bangganya atas dedikasi serta kerja keras tim. Beliau berharap alat tersebut segera masuk ke tahap fabrikasi dan tidak sekadar menjadi prototipe perlombaan, melainkan bisa langsung diimplementasikan. “Inovasi ini adalah bukti bahwa mahasiswa UMM mampu menerjemahkan ilmu teknik ke dalam solusi nyata, dan saya sangat berharap mesin pencuci singkong ini dapat segera diproduksi agar dirasakan manfaatnya secara langsung oleh para pelaku UMKM kita,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Ancaman ISPA di Balik Dinginnya Cuaca Bediding, Begini Penjelasan Pakar UMM

Cuaca “bediding” yang belakangan dirasakan masyarakat tidak hanya menimbulkan rasa dingin, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dosen Keperawatan UMM, Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa suhu dingin menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran virus dan bakteri, sekaligus melemahkan pertahanan tubuh. Menurutnya, meningkatnya kasus batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas saat cuaca dingin dipengaruhi oleh kombinasi ketahanan patogen yang lebih baik, penurunan imunitas tubuh, dan perubahan perilaku masyarakat selama suhu udara menurun. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan. Udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia serta mempermudah penyebaran melalui partikel udara,” ujarnya 08 Juni lalu pada Humas UMM. Lebih lanjut, Titik menjelaskan bahwa saluran pernapasan memiliki mekanisme pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika seseorang menghirup udara dingin dan kering secara mendadak, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran napas, meningkatkan produksi lendir, serta memperlambat kerja silia atau rambut getar yang berfungsi membersihkan kotoran dan mikroorganisme dari saluran pernapasan. Akibatnya, proses pembersihan alami tubuh menjadi kurang efektif dan risiko infeksi meningkat. Menurutnya, penurunan suhu yang drastis juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs), yaitu komponen pertahanan alami dalam rongga hidung yang berfungsi menangkap dan melawan virus. Selain itu, penyempitan pembuluh darah di area hidung mengurangi distribusi sel-sel imun ke saluran pernapasan sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit. “Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang. Beberapa virus pernapasan, termasuk rhinovirus penyebab flu biasa, justru berkembang lebih optimal pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia,” katanya. Titik mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki ciri khas berupa bersin berulang, hidung gatal, mata berair, dan gejala yang muncul ketika terpapar udara dingin lalu membaik saat suhu menghangat. Sebaliknya, demam menjadi salah satu tanda penting yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan. Sebagai langkah pencegahan, ia menilai penggunaan jaket saja tidak cukup. Masyarakat perlu menjaga hidrasi tubuh dengan minuman hangat, memenuhi kebutuhan vitamin A dan vitamin D, serta mengonsumsi lemak sehat yang mengandung omega-3 untuk mendukung fungsi sistem imun. Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, serta pekerja yang berada di ruangan ber-AC dalam waktu lama. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkasnya.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Okatavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman