UMM Sabet Anugerah Kampus Unggulan LLDIKTI VII 2026 Lewat Capaian Hibah Riset Terbanyak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses meraih Anugerah Kampus Unggulan 2026 dari LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Penghargaan bergengsi ini diraih untuk kategori Penerima Program Hibah Penelitian dengan Pendanaan dan Judul Terbanyak 2026 (Bentuk Universitas/Institut), yang diserahkan dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (Rakerpim) pada 22 Juni 2026 lalu. Capaian ini secara langsung mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai institusi pendidikan dengan ekosistem riset terkuat yang adaptif terhadap tantangan global. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama (BRBK) UMM, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak diperoleh secara instan. Menurutnya, keberhasilan UMM merupakan hasil dari sistem dukungan yang dibangun secara komprehensif oleh universitas, mulai dari aspek pendanaan hingga pendampingan bagi dosen dalam menyusun proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Yang pertama berkait dengan dukungan universitas terhadap program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang sangat komprehensif. Ada pendanaan internal, kemudian pendampingan proposal mulai dari tingkat fakultas sampai universitas, termasuk klinik proposal yang dilakukan secara terpusat di LPPM,” ujarnya. Selain dukungan pendanaan, UMM juga dinilai memiliki ekosistem riset yang kuat dan terstruktur. Berbagai unit pendukung seperti Lembaga Pengembangan Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Bursa Intelektual, KPI, hingga pusat-pusat studi menjadi bagian penting dalam menciptakan budaya akademik yang produktif. Keberadaan struktur organisasi tersebut memungkinkan dosen memperoleh dukungan yang berkelanjutan dalam melaksanakan penelitian maupun pengabdian. Lebih lanjut, Salahudin sapaan akrabnya menegaskan bahwa strategi utama untuk meningkatkan produktivitas dosen adalah membangun kesadaran bahwa penelitian dan pengabdian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tridarma perguruan tinggi. Oleh karena itu, universitas terus menghadirkan berbagai skema pendukung agar para dosen dapat menjalankan kewajiban akademiknya secara optimal. “Penelitian dan pengabdian itu merupakan urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh dosen karena menjadi bagian dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, UMM mendukung Bapak-Ibu dosen dengan berbagai cara, mulai dari pendampingan, pendanaan, hingga struktur organisasi yang mendukung pelaksanaan penelitian,” katanya. Menurutnya, kuantitas penelitian harus berjalan beriringan dengan kualitas dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Untuk memastikan riset yang dilakukan benar-benar berdampak, UMM telah membentuk klaster penelitian dan pengabdian unggulan serta melakukan pemetaan wilayah sasaran berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga mampu menjawab persoalan sosial yang ada di lapangan. “Lokasi penelitian dan pengabdian harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Misalnya, ketika UMM mengirim tim penelitian dan pengabdian ke Nusa Tenggara Timur, itu karena daerah tersebut memang membutuhkan. Jadi, penelitian dan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh dosen, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat agar benar-benar berdampak,” jelas Salahudin. Keterlibatan mahasiswa juga menjadi perhatian penting dalam setiap program hibah di UMM, Salahudin menyebut bahwa universitas memiliki kebijakan yang mewajibkan setiap kegiatan penelitian dan pengabdian melibatkan mahasiswa. Keterlibatan tersebut mencakup proses penyusunan proposal, pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan luaran penelitian berupa publikasi, poster ilmiah, maupun bentuk luaran akademik lainnya. Ke depan, UMM berkomitmen untuk terus meningkatkan capaian riset dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki. Mulai dari dosen muda hingga dosen senior akan terus didorong untuk aktif meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. Karena prestasi riset tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi juga kualitas serta sejauh mana penelitian tersebut mampu memberikan perubahan sosial bagi masyarakat.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahmab

Lawatan Strategis ke Jepang, UMM Buka Peluang Karir Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengukuhkan posisi tawarnya di kancah global. Pada 17-23 Juni lalu, Kampus Putih melangsungkan lawatan strategis ke Jepang, tepatnya ke Shimonoseki City University, Miyazaki University, serta salah satu mitra industri kehutanan Nosuta Kabushi. Kunjungan ini difokuskan pada realisasi kerja sama akademik, pertukaran mahasiswa, riset tingkat lanjut, hingga ekspansi bisnis institusi. Kehadiran delegasi UMM di Shimonoseki City University merupakan undangan kehormatan dalam rangka perayaan ulang tahun ke-70 kampus tersebut. Kunjungan ini sekaligus mematangkan kerja sama resmi yang telah dirintis sejak sepuluh tahun lalu. Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. menjelaskan bahwa kemitraan ini membuahkan hasil nyata bagi mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), berupa program transfer kredit dan beasiswa pendidikan. “Kita sudah ada slot dua belas mahasiswa yang dipersiapkan, nanti lulus mereka akan kuliah S2 di Shimonoseki di bawah beasiswa mereka,” ungkapnya. Selain mengirimkan delegasi, UMM juga akan menerima kunjungan balasan dari pihak Shimonoseki pada bulan September mendatang untuk pengembangan riset dan bisnis. Salis sapaan akrabnya menuturkan bahwa kolaborasi ini turut merambah pada pengembangan sektor bisnis komersial seperti perikanan salmon, serta komoditas stroberi dan kopi. “Nanti September empat orang mahasiswa bersama dua orang profesor, serta ada lima belasan orang yang ke mari akan kerja sama dengan kita untuk pengembangan riset, kajian, dan juga peluang usaha kopi di Jepang,” tambahnya. Sebagai fasilitas penunjang, UMM dan Shimonoseki telah mendirikan Japan Corner yang dilengkapi dengan pengajar penutur asli (native speaker) dari Jepang guna membekali kemampuan bahasa mahasiswa. Ia memaparkan bahwa fasilitas tersebut diprioritaskan bagi mahasiswa yang akan berangkat studi ke Jepang, meski tidak menutup kesempatan bagi mahasiswa lain secara umum. “Nanti belajar bahasa Jepangnya di situ, tapi Japan Corner juga membuka untuk mahasiswa yang lain yang mau belajar Jepang boleh datang ke situ,” jelasnya. Sementara itu, kunjungan ke Miyazaki University berfokus pada perluasan jangkauan institusi. Mengingat empat dosen UMM merupakan alumni dari kampus tersebut, penjajakan skema riset bersama dan pertukaran pelajar menjadi lebih terarah. Dalam rangkaian lawatan yang sama, UMM turut memperkuat hubungan dengan mitra industri kehutanan Jepang, Nosuta Kabushi. Kemitraan yang telah meluluskan program magang batch pertama ini akan diakselerasi dengan pembangunan Forestry Japan Training Center di kawasan Pujon Hill. Pria itu menerangkan bahwa pihak industri Jepang bersedia berinvestasi dalam penyediaan sarana, kurikulum, hingga tenaga ahli untuk mempersiapkan kuota magang yang lebih masif. “Mereka akan invest tenaga, kurikulum, perlengkapan untuk Forestry Japan Training Center di Pujon Hill, sehingga membuka peluang dari teman-teman kehutanan untuk berkarir internasional,” terangnya. Langkah UMM di negeri sakura ini sepenuhnya sejalan dengan visi internationalisasi. Ke depan, rangkaian kolaborasi strategis dengan Jepang diharapkan mampu meroketkan kualitas riset universitas agar lebih mutakhir, sekaligus mencetak lulusan dengan daya saing tinggi. Tidak hanya sekadar transfer ilmu, jejaring internasional ini diproyeksikan mampu memberikan keuntungan ganda bagi institusi, salah satunya berupa kesempatan kerja eksklusif bagi alumni.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Raih Penghargaan Pemprov Jatim sebagai PTS Pemberi Beasiswa Terbanyak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai Kampus Berdampak yang peduli pada pendidikan inklusif. Hal ini dibuktikan melalui raihan apresiasi bergengsi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan alokasi beasiswa penuh dan potongan biaya pendidikan terbanyak. Penghargaan prestisius tersebut diserahkan secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur pada Jumat (19/6) di Gedung Grahadi, Surabaya, sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi Kampus Putih dalam membuka akses pendidikan seluas-luasnya. Penghargaan tingkat provinsi ini menjadi bukti nyata konsistensi UMM dalam menjawab tantangan kesenjangan kesempatan belajar yang kerap dialami masyarakat akibat keterbatasan ekonomi. Melalui puluhan skema beasiswa yang terus dikembangkan, UMM berupaya keras memastikan lebih banyak generasi muda potensial dari berbagai pelosok daerah tetap dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menuturkan bahwa sumber pendanaan beasiswa di kampus ini didesain sangat beragam, mencakup kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), hingga pendanaan mandiri dari universitas. “Kriteria pertama itu UMM memberikan banyak sekali skema beasiswa, baik yang berasal dari negara maupun dari UMM sendiri. Karena itu, kami diundang oleh Ibu Gubernur untuk mendapatkan apresiasi sebagai salah satu perguruan tinggi yang memberikan banyak beasiswa,” paparnya. Lebih lanjut, Tatag merinci secara spesifik bahwa saat ini UMM telah mengelola sekitar 15 hingga 20 skema bantuan pendidikan yang aktif berjalan. Tidak hanya bergantung pada mitra eksternal, UMM secara mandiri merumuskan sejumlah program beasiswa unggulan dari internal kampus. Beberapa di antaranya meliputi beasiswa prestasi akademik dan non-akademik, beasiswa Pendidikan Ulama Tarjih (PUT), hingga beasiswa khusus bagi putra-putri alumni. Pilihan skema yang bervariasi ini menegaskan prinsip keadilan sosial yang dianut UMM, di mana permasalahan finansial tidak boleh lagi menjadi penghalang bagi calon mahasiswa untuk meraih pendidikan yang berkualitas. “Program ini pasti akan terus berlanjut atau sustainable. Selain sebagai perguruan tinggi, UMM juga berada di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah yang memiliki komitmen kuat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, program beasiswa akan terus dilestarikan dan jumlahnya juga akan terus ditingkatkan ke depannya,” tegasnya. Kehadiran berbagai program beasiswa ini mempertegas identitas UMM yang tidak hanya hadir sebagai institusi akademik pencetak sarjana, melainkan juga sebagai motor penggerak perubahan sosial. Melalui pemerataan akses pendidikan ini, UMM menaruh harapan besar agar para penerima beasiswa kelak mampu bertransformasi menjadi pemimpin masa depan dan generasi unggul. Mereka diharapkan dapat kembali ke masyarakat untuk memberikan solusi nyata, berbakti pada nusa, serta membawa kemajuan yang signifikan bagi bangsa dan negara.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Begini Cara DIMPA UMM Ubah Tantangan Alam Jadi Pendidikan Karakter

Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (DIMPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar Pengembaraan Anggota Muda XLII pada 11–18 Juni 2026. Kegiatan yang mengusung prinsip utama “Safety First” ini menjadi ujian lapangan terakhir di tiga medan ekstrem sebelum para anggota resmi dilantik, sekaligus sarana mencetak generasi muda yang berkarakter tangguh. Pengembaraan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ujian mental dan kerja sama tim. Sebanyak lima Anggota Muda beserta pendamping diterjunkan langsung ke dalam tiga divisi kegiatan alam bebas, yaitu susur gua, panjat tebing, dan arung jeram. Seluruh rangkaian ini merupakan hasil dari persiapan fisik, teknis, dan simulasi lapangan yang dilakukan secara intensif selama dua bulan penuh. Setiap divisi menghadapi tantangan yang spesifik. Divisi susur gua harus menjelajahi gelapnya Gua Manten, Gua Tledek, dan Gua Tengger yang memiliki medan vertikal maupun horizontal dengan ruang gerak sangat terbatas. Di tempat lain, divisi panjat tebing diuji keberaniannya menaklukkan Tebing Sepikul setinggi 250 meter yang menuntut konsentrasi tinggi serta penguasaan teknik. Sementara itu, divisi arung jeram harus berjibaku menjinakkan deras dan liarnya jeram di Sungai Pekalen dengan mengandalkan kekompakan mengendalikan perahu karet. Menghadapi medan yang tidak mudah tersebut, mahasiswi program studi Akuntansi sekaligus peserta dari divisi panjat tebing, Fara Ardinarasti, menuturkan bahwa pengembaraan ini sangat efektif melatih kemampuannya dalam mengendalikan ketakutan dan mempercayai rekan setim dalam situasi kritis. “Pengembaraan ini bukan hanya tentang melewati gua, menaklukkan tebing, atau menghadapi derasnya arus sungai. Kami belajar bagaimana mengendalikan rasa takut, mengambil keputusan dalam kondisi sulit, dan yang paling penting adalah percaya kepada tim. Setiap rintangan yang kami hadapi menjadi pengalaman yang akan selalu kami ingat sebagai bagian dari proses menjadi anggota DIMPA,” ungkap Fara. Senada dengan hal tersebut, Pembina UKM DIMPA sekaligus Dosen Program Studi Perikanan UMM, Rindya Fery Indrawan, menegaskan bahwa penaklukan medan alam sejatinya adalah medium pendidikan karakter yang menanamkan kedisiplinan, kepemimpinan, dan kesadaran akan keselamatan. “Pengembaraan bukanlah sekadar kegiatan untuk menguji kemampuan fisik dan teknik di alam bebas, tetapi merupakan proses pembentukan karakter. Melalui berbagai tantangan di gua, tebing, dan sungai, peserta belajar tentang disiplin, kepemimpinan, kerja sama, serta pentingnya keselamatan dalam setiap aktivitas,” paparnya. Lebih jauh, Rindya berharap pendidikan yang digembleng melalui organisasi pecinta alam ini mampu menghasilkan mahasiswa yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga peka terhadap kondisi sosial dan bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan. “Harapan kami, Anggota Muda XLII tidak hanya bangga karena telah menyelesaikan sebuah pengembaraan, tetapi mampu membawa semangat menjaga alam, memiliki jiwa pengabdian kepada masyarakat, serta menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” tambahnya. Pada akhirnya, pengembaraan ini memberikan pesan penting bahwa alam terbuka adalah guru terbaik untuk menaklukkan ego manusia. Rangkaian uji nyali dan mental ini diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan semasa menjadi Anggota Muda, melainkan menjadi bekal nyata bagi mahasiswa untuk terus tangguh berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan dengan bekal jiwa kepemimpinan yang kuat.(Faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dukung Net Zero Emission 2060, UMM Diakui DEN Sebagai Kampus Mandiri Energi

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki keunggulan tersendiri sebagai institusi pendidikan yang secara konkret telah merespons krisis energi global melalui praktik Energi Baru Terbarukan (EBT) sejak tahun 2007. Hal tersebut ditegaskan dalam Diskusi Publik bertajuk “Arah Kebijakan Energi Menuju Net Zero Emission Melalui Pembangkit Energi Baru Terbarukan” di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (25/6). “Di satu sisi, UMM sudah melakukan praktik-praktik energi baru terbarukan, yaitu dengan adanya PLTMH di kampus UMM maupun PLTS. Ini memberikan kontribusi nyata. Selain pembelajaran di ruang kelas yang sesuai dengan kurikulum, hal-hal yang berkaitan dengan praktik bidang energi baru terbarukan sudah benar-benar dilaksanakan sebagai laboratorium hidup,” tegasnya. Kunjungan DEN ke Kampus Putih ini didasari oleh urgensi ketahanan energi nasional di tengah berbagai tantangan nyata yang mendesak. Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan turunnya produksi minyak bumi yang diiringi oleh meningkatnya impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis gasoline. Tantangan pemenuhan energi primer ini diperberat dengan fakta bahwa tingkat pemanfaatan EBT secara nasional masih tergolong rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, Numberi sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pemerintah mematok sasaran capaian puncak emisi pada tahun 2035 dan terwujudnya dekarbonisasi untuk pencapaian Net Zero Emission (NZE) sebesar 129 juta ton CO2e pada tahun 2060. Demi mendukung kedaulatan serta swasembada energi, porsi bauran energi primer EBT ditargetkan melonjak signifikan hingga mencapai 70 persen sampai 72 persen pada tahun 2060 mendatang. Lebih jauh, kehadiran perguruan tinggi diharapkan mampu membantu penyelesaian persoalan elektrifikasi masyarakat melalui kegiatan tridarma, seperti inovasi desalinasi air laut yang digagas oleh dosen dan mahasiswa UMM di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyatakan kekaguman dan apresiasinya atas upaya pemanfaatan energi surya oleh sivitas akademika UMM untuk menghasilkan pasokan air bersih bagi masyarakat di daerah yang rasio elektrifikasinya masih tergolong rendah. “Tadi dari hasil presentasi, saya lihat beberapa kegiatan sudah dilakukan oleh teman-teman di UMM. Misalnya, desalinasi air laut menjadi air tawar (air bersih) di NTT dengan memanfaatkan energi surya/matahari untuk pembangkitnya. Nah, ini adalah wujud pengabdian dan penelitian yang bagus, yang diterapkan langsung ke masyarakat,” ungkapnya. Sinergi dan kolaborasi strategis antara pemangku kebijakan pemerintah dan institusi pendidikan tinggi seperti UMM menjadi kunci utama dalam mengakselerasi transisi energi hijau di Indonesia. Melalui penerapan riset aplikatif dan program pengabdian yang menyentuh akar rumput di masyarakat, kemandirian energi nasional dan pencapaian target bebas emisi karbon bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan wujud nyata masa depan yang kini tengah dibangun bersama demi kesejahteraan generasi mendatang.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Listrik Sering Padam, Ini Mitigasi Aman Ala Pakar UMM

Pemadaman listrik yang terjadi secara berulang bukan hanya mengganggu aktivitas harian masyarakat, tetapi juga membawa ancaman fatal yang jarang disadari bagi perangkat elektronik rumah tangga. Pakar Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., IPM., Asean Eng., menegaskan bahwa kerusakan perangkat elektronik yang paling parah justru terjadi bukan pada saat listrik padam, melainkan ketika aliran listrik kembali menyala akibat adanya lonjakan tegangan yang drastis (power surge). Machmud sapaan akrabnya menjelaskan bahwa selama ini masyarakat kerap keliru memahami akar penyebab rusaknya barang-barang elektronik mereka. Secara teknis, risiko tertinggi dan paling merusak justru muncul saat pasokan listrik pulih, di mana energi listrik masuk ke dalam komponen dalam jumlah sangat besar di waktu yang amat singkat, sehingga merusak komponen yang dirancang pada rentang tegangan tertentu. “Secara umum, yang lebih berpotensi merusak alat elektronik adalah saat listrik kembali menyala. Pada saat jaringan listrik dipulihkan, sering terjadi lonjakan tegangan sesaat yang dapat jauh melebihi tegangan normal 220 volt. Kondisi ini berisiko merusak televisi, komputer, charger, router Wi-Fi, mesin cuci, hingga AC,” tegasnya 24 Juni lalu pada Humas UMM. Selain kerusakan pada komponen keras elektronik rumah tangga, pemadaman mendadak turut berdampak sangat krusial pada perangkat digital seperti komputer dan server, yang dapat memicu hilangnya data secara masif hingga kegagalan sistem saat melakukan proses booting. “Pada perangkat yang sedang menulis data, dampaknya bisa sangat serius. Tidak hanya kehilangan data, tetapi file dapat menjadi rusak, sistem operasi gagal berjalan, hingga terjadi kerusakan fisik pada media penyimpanan seperti hard disk jika kejadian berlangsung berulang,” jelasnya. Ia juga menyoroti bahaya spesifik pada kompresor perangkat pendingin seperti AC dan kulkas, serta tingginya risiko latent damage atau kerusakan tersembunyi. Kondisi ini mempercepat penuaan mikroskopis komponen karena perangkat langsung dipaksa bekerja ekstra saat tekanan belum stabil, sehingga kegagalan fungsi sering kali baru muncul berminggu-minggu setelah pemadaman terjadi. “Banyak perangkat tampak normal setelah listrik kembali menyala. Namun, bisa saja komponen di dalamnya telah mengalami kerusakan mikroskopis yang baru menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena itu, setiap gangguan listrik sebaiknya dianggap sebagai peristiwa yang serius,” paparnya. Kejadian mati listrik sebaiknya tidak lagi dianggap sebagai hal sepele yang berlalu begitu saja saat lampu kembali menyala. Sebagai langkah antisipasi yang bijak, masyarakat diimbau untuk segera mencabut steker perangkat elektronik sensitif ketika pemadaman terjadi. Biasakan memberi jeda dua hingga lima menit sebelum menyalakan alat-alat rumah tangga secara bertahap pasca listrik pulih. Selain itu, menginvestasikan dana pada perangkat surge protector berkualitas merupakan perlindungan dasar yang wajib dimiliki setiap rumah tangga guna menyerap lonjakan tegangan, menjaga keamanan aset digital, dan memastikan perangkat elektronik berumur panjang.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kolaborasi UMM dan Martha Tilaar, Dorong Mahasiswa Jadi Inovator Dunia Kosmetik

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kolaborasi strategis dengan Martha Tilaar Group guna mendorong mahasiswa menjadi inovator tangguh di industri kosmetik berbasis kearifan lokal. Komitmen ini diwujudkan melalui Kuliah Tamu Kewirausahaan bertajuk “Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead” di Aula GKB IV Lantai 9, Selasa (23/6). Kegiatan ini berlangsung antusias dan diikuti ratusan mahasiswa UMM yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, seperti Fakultas Teknik (FT), Fakultas Psikologi (Fapsi), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Farmasi, hingga Fisioterapi. Sinergi ini dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan industri kecantikan sekaligus merangsang generasi Z agar bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi pengusaha (beautypreneurs). Co-Founder Smith, Tri Putra Salim, membagikan pengalaman inspiratifnya saat merintis bisnis perawatan kulit organik asli Nusantara dari sebuah eksperimen di dapur kos-kosan. Ia menyadari banyak produk lokal masih bergantung pada bahan kimia, sehingga peluang untuk mengembangkan produk berbahan organik sangat terbuka lebar. Ia menekankan kepada para mahasiswa bahwa untuk membangun merek yang adaptif, pengusaha muda harus berani memperbaiki desain kemasan agar lebih eksklusif dan gencar memanfaatkan media sosial sebagai medium edukasi konsumen. “Jika kalian ingin membangun bisnis yang kuat, jangan hanya menjual barang yang sama dengan pesaing, karena kecepatan membaca tren dan keberanian untuk terus berinovasi adalah kunci agar produk lokal bisa mendunia,” tegasnya. Disisi lain, CEO Martha Tilaar Group, Dr. Kilala Tilaar, memaparkan bahwa industri kecantikan Tanah Air terbukti solid dan mampu bertahan di tengah berbagai krisis ekonomi. Ia menceritakan rekam jejak perusahaannya yang bermula dari salon kecil berukuran empat kali enam meter hingga sukses menjadi raksasa kosmetik nasional berkat kegesitan membaca tren pasar di era digital. Di hadapan ratusan mahasiswa tersebut, Kilala mengingatkan bahwa tantangan terberat industri lokal saat ini adalah tingginya ketergantungan impor bahan baku kosmetik yang mencapai 85 persen, padahal Indonesia sangat kaya akan bahan alam nusantara. “Bangsa kita mewariskan ribuan resep kecantikan tradisional dan keanekaragaman hayati yang kaya, sehingga jika potensi ini tidak segera kita olah menjadi inovasi, selamanya kita hanya akan menjadi sasaran pasar bagi negara lain,” urainya. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., menyampaikan bahwa Kampus Putih telah merancang ekosistem pembelajaran aplikatif untuk mencetak lulusan unggul yang siap terjun ke dunia wirausaha. Hal ini direalisasikan melalui program Center of Excellence (CoE) yang berfungsi menjembatani kesenjangan teori akademik dengan praktik riil di industri, sekaligus memberikan akses inkubasi bisnis yang relevan dengan berbagai disiplin ilmu. “Fasilitas Center of Excellence ini secara khusus kami hadirkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas industri, agar kalian memiliki kemampuan teknis dan praktis yang mumpuni untuk menjadi pengusaha sukses,” pungkas Subeki. Kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan praktisi industri ini membawa angin segar bagi masa depan ekonomi kreatif di Indonesia. Keterlibatan ratusan mahasiswa dari keilmuan teknik, sosial, hingga kesehatan diharapkan mampu melahirkan kolaborasi multidisiplin untuk memodernisasi warisan kecantikan lokal. Ke depannya, langkah strategis ini diproyeksikan tidak hanya menekan angka impor bahan baku, tetapi juga mencetak generasi tangkas yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan membawa merek kosmetik nasional bersaing secara global.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

PGSD UMM Hadirkan Bocah Petualang di Kampus Putih, Ajak Ratusan Siswa Olah Sampah dan Lestarikan Permainan Tradisional

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar program liburan edukatif bertajuk “Bocah Petualang di Kampus Putih”. Digelar dalam dua gelombang, yakni pada tanggal 23 dan 24 Juni 2026, kegiatan perdana ini membludak dan berhasil menarik antusiasme ratusan siswa tingkat TK dan SD dari berbagai wilayah di Malang Raya. Berbeda dengan program liburan pada umumnya, inisiatif ini mengajak peserta merasakan pengalaman belajar langsung di lingkungan perguruan tinggi. Rangkaian kegiatan dirancang secara komprehensif dan tidak membosankan dari pagi hingga siang hari. Setelah senam ceria, anak-anak mendapatkan sesi literasi seru dan edukasi pengolahan sampah untuk melatih kepedulian lingkungan. Selain itu, peserta juga diajak bermain permainan tradisional yang melatih kekompakan, menjelajah berbagai sudut menarik kampus, hingga menyelesaikan tantangan kreasi budaya secara berkelompok. Ketua Program Studi PGSD UMM sekaligus penanggung jawab acara, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini lahir dari komitmen prodi untuk menghadirkan ruang belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar. “Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak agar mengenal lingkungan kampus sejak dini melalui aktivitas eksploratif, edukatif, kreatif, dan menyenangkan,” ujarnya. Lebih lanjut, Beti memaparkan bahwa pendekatan experiential learning atau belajar melalui pengalaman langsung ini sangat sejalan dengan karakter pembelajaran di PGSD UMM. Antusiasme masyarakat terhadap metode ini juga terbukti sangat tinggi, menilik dari lonjakan peserta dalam waktu singkat. “Alhamdulillah, program Bocah Petualang di Kampus Putih mendapat sambutan baik dari masyarakat. Hanya dalam dua hari setelah pendaftaran dibuka, sudah ada seratus anak yang mendaftar,” ungkapnya. Respons positif turut datang dari para wali murid yang mendampingi. Indria, salah satu orang tua siswa, sangat mengapresiasi dan merasa terbantu karena program ini mampu menjadi alternatif kegiatan positif yang edukatif untuk mengisi waktu luang di masa libur sekolah. “Anak-anak sangat senang dan bahkan menantikan kegiatan seperti ini lagi. Kami berharap program berikutnya dapat dikembangkan dengan konsep yang lebih variatif sehingga pengalaman belajar anak semakin beragam,” jelas Indria. Antusiasme yang tinggi ini menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap ruang liburan yang memiliki nilai edukasi yang kuat. Ke depannya, “Bocah Petualang di Kampus Putih” diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang membawa manfaat luas. Pada akhirnya, program ini menjadi jembatan strategis untuk menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak, mengasah kreativitas, serta membangun mimpi mereka agar kelak semangat menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.(rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Maharesigana UMM Cetak Generasi Siaga Bencana di SD Muhammadiyah 08 Dau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Maharesigana secara nyata terus membuktikan diri sebagai kampus yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kali ini, UMM membekali lebih dari 100 warga SD Muhammadiyah 08 Dau, Kabupaten Malang, dengan program pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Jumat (19/6). Langkah strategis ini difokuskan untuk membangun kapasitas sekolah sekaligus menanamkan budaya sadar bencana sejak usia dini. Pemilihan jenjang sekolah dasar dinilai sangat krusial karena pembentukan karakter mitigasi bencana jauh lebih efektif ditanamkan pada usia anak-anak. Melibatkan jajaran siswa, guru, hingga tenaga kependidikan, para relawan Maharesigana memberikan pelatihan intensif untuk menghadapi situasi darurat, khususnya ancaman gempa bumi. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, peserta diajak langsung melakukan simulasi. Anak-anak diajarkan cara berlindung yang benar saat gempa, teknik membaca jalur evakuasi secara cepat, hingga langkah taktis untuk mengelola kepanikan agar tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain di sekitar. Ketua Umum Maharesigana UMM, Indra Fery, menjelaskan bahwa pendampingan SPAB ini tidak sekadar berfokus pada transfer pengetahuan teoritis semata, melainkan dirancang khusus untuk menanamkan nilai kepedulian dan kesiapsiagaan permanen sebagai bagian integral dari karakter generasi masa depan. “Pendampingan SPAB yang kami lakukan merupakan bentuk dukungan nyata terhadap implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program SPAB. Regulasi tersebut menegaskan bahwa sekolah wajib membangun sistem penanggulangan terintegrasi. Edukasi dan simulasi sejak usia dini ini menjadi langkah penting untuk mencetak generasi tangguh yang siap merespons berbagai potensi risiko bencana di lingkungannya,” tegas Indra. Indra juga menambahkan bahwa keterlibatan para mahasiswa dalam program kemanusiaan ini pada dasarnya adalah sarana pembelajaran empiris untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai sosiologis dan kemanusiaan yang selama ini mereka peroleh selama proses perkuliahan. “Mahasiswa tidak hanya dituntut belajar di dalam ruang kelas. Mereka diwajibkan hadir langsung di tengah masyarakat, peka mengidentifikasi kebutuhan warga, merumuskan solusi komunikasi yang tepat, dan berkontribusi aktif dalam agenda pengurangan risiko bencana. Inilah esensi dan bentuk nyata dari sistem pembelajaran yang berdampak,” tambahnya. Antusiasme yang tinggi terlihat jelas selama pelaksanaan acara. Salah seorang guru SD Muhammadiyah 08 Dau mengakui bahwa kegiatan simulasi kebencanaan dari UMM tersebut sukses memberikan pengalaman baru sekaligus pemahaman esensial bagi siswa mengenai prosedur evakuasi diri. “Anak-anak luar biasa antusias mengikuti setiap tahapan simulasi. Mereka tidak hanya pasif mendengar penjelasan fasilitator, tetapi juga proaktif mempraktikkan secara langsung prosedur penyelamatan saat terjadi gempa bumi. Ilmu ini tentu sangat penting untuk membangun kesiapan fisik dan mental mereka apabila bencana darurat benar-benar terjadi,” ungkapnya. Di tengah tingginya ancaman dan potensi bencana di wilayah Indonesia, investasi pada sektor edukasi mitigasi sejak dini merupakan sebuah keharusan mutlak. Kiprah Maharesigana dalam program SPAB ini menegaskan kembali komitmen berkelanjutan UMM untuk mencetak lulusan sekaligus agen perubahan yang tak hanya unggul secara akademis, namun sigap menghadirkan kontribusi humanis dan solusi konkret demi menjaga keselamatan masyarakat luas.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lewat Kuliah Tamu, EP UMM Kupas Tuntas Ekosistem Fintech Syariah dan Bahaya Pinjol Ilegal

Kemudahan akses teknologi di sektor perbankan tak selamanya membawa keuntungan jika tidak dibarengi dengan pemahaman literasi keuangan yang baik. Merespons maraknya korban jebakan pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol) di masyarakat, Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) mengambil langkah strategis. Berkolaborasi langsung dengan pakar dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, EP UMM menggelar kuliah tamu bertajuk “Transformasi Perbankan dan Fintech Syariah di Era Revolusi Industri 4.0”. Acara yang berlangsung di Aula BAU UMM pada Senin (22/6) ini bertujuan untuk mengupas tuntas perubahan sistem perbankan sekaligus menjadi wadah edukasi untuk membentengi generasi muda dari kejahatan finansial siber. Pakar Ekonomi UMM, Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia perbankan syariah akibat arus digitalisasi. Ia menjelaskan bahwa bank syariah saat ini sudah meninggalkan cara lama yang berpusat pada perluasan kantor cabang fisik, dan kini lebih fokus membangun jaringan bisnis digital yang terintegrasi. Kehadiran inovasi teknologi keuangan (fintech) dinilai sangat mempermudah masyarakat. Namun, di sisi lain, kepraktisan ini memunculkan risiko baru yang rentan. Risiko tersebut berkaitan erat dengan bagaimana data nasabah dikelola, aturan hukum yang berlaku, hingga ancaman dari pihak tertentu yang memonopoli data digital. “Arsitektur keuangan syariah saat ini telah bergeser drastis dari sekadar membuka cabang fisik menjadi ekosistem data yang saling terhubung luas. Teknologi digital ini sejatinya bisa membawa manfaat besar (maslahah) untuk memperkuat layanan perbankan. Namun, hal ini bisa berbalik membawa kerusakan (mafsadah) jika sistem kelolanya buruk. Oleh karena itu, keamanan data dan perlindungan konsumen mutlak menjadi prioritas utama,” tegasnya. Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, Asisten Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) 1 Kantor OJK Malang, Retno Heruwati, memaparkan betapa pentingnya peran negara dalam mengawasi arus keuangan digital. Retno menekankan bahwa pesatnya kemajuan teknologi di Indonesia wajib diimbangi dengan pengetahuan masyarakat terkait literasi finansial. Publik dituntut cerdas dalam membedakan mana layanan pendanaan daring yang berizin dan mana yang sekadar jebakan utang. Hal ini sangat penting mengingat OJK mencatat saat ini hanya ada sepuluh aplikasi pinjol syariah yang berstatus legal dan berada di bawah pengawasan ketat negara. “Masyarakat luas, khususnya generasi muda dan kalangan mahasiswa, harus tampil sangat cerdas serta rasional dalam menggunakan fasilitas kemudahan akses keuangan digital. Lewat forum ini saya mengingatkan dengan keras, terus tingkatkan pengetahuan kalian dan selalu waspada. Jangan sampai kalian atau keluarga terjerat tipu daya pinjaman online ilegal, iming-iming investasi bodong, apalagi terjerumus bahaya judi online yang semakin merusak tatanan ekonomi masyarakat,” ujar Retno memperingatkan. Pada akhirnya, pesatnya kemajuan transformasi perbankan dan fintech syariah di era digital bukan semata-mata soal seberapa canggih teknologi yang diaplikasikan, melainkan tentang seberapa kuat benteng literasi masyarakatnya. Kemudahan mendapat kucuran dana di era internet ini harus selalu dibarengi dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Lewat kegiatan strategis ini, mahasiswa EP UMM diharapkan tidak hanya cerdas menjadi penikmat layanan aplikasi perbankan. Lebih dari itu, mereka ditargetkan mampu menjadi agen edukasi yang aktif melindungi masyarakat awam di sekitarnya dari ancaman bahaya kejahatan finansial yang kian marak mengintai.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman