Lincoln Arsyad Dorong Lulusan UMM jadi Problem Solver di Tengah Masyarakat

Lulusan baru sepatutnya juga menjadi harapan baru bagi masyarakat, keluarga dan diri sendiri. Mengawali langkah untuk berkiprah di masyarakat, memberikan solusi atas pelbagai permasalahan yang ada. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. H. Lincoln Arsyad, M.Sc., P.Hd. selaku Ketua Majelis Perguruan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Wisuda ke 102 periode IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Turut hadir sebagai undangan Prof. He Zubin selaku Presiden Guanxi Normal University (GXNU), Cina. Adapun wisuda ini dilangsungkan secara luring dengan beberapa gelombang pada bulan Januari. Agenda tersebut juga dilaksanakan dengan menerapkan berbagai protokol kesehatan yang ketat. Lincoln, sapaan akrabnya berpesan bahwa manfaat ilmu yang dipelajari tidak hanya digunakan untuk diri sendiri. Melainkan harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat serta menjadi oase di tengah gurun permasalahan yang ada. Ia juga berharap para wisudawan tetap rendah hati ketika terjun ke dunia nyata karena pasti masih ada orang yang lebih berilmu. Lebih lanjut, menurutnya Covid-19 melahirkan beragam bidang dan jurusan baru. Maka perlu adanya peningkatan dan pemahaman digital yang mumpuni dalam rangka menghadapi zaman. Kampus Putih UMM sebagai salah satu universitas terbaik diharapkan bisa mengembangkan sistem informasi dan SDM. Kedua aspek ini dinilai dapat menjadi pondasi untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang maju. “Pengembangan sistem informasi sudah dan akan sangat dibutuhkan. Maka saya berharap UMM bisa mengembangkannya demi mengambil peran untuk menunjang kehidupan yang akan datang,” jelasnya. Dalam kesempatan yang sama, He Zubin menjelaskan bagaimana cara Cina meningkatkan mutu perguruan tinggi. Semua diawali dengan penerimaaan mahasiswa baru jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang meningkat hingga 54% di tahun 2020. Berbeda pada tahun 1948 yang pendaftarannya masih berada di rasio 0,26 %. Saat ini, tercatat ada 48 juta mahasiswa di Cina yang berkuliah melalui jalur SNMPTN sekaligus membuatnya menjadi negara dengan penerimaan mahasiswa terbanyak di dunia. He Zubin juga memaparkan langkah-langkah Cina untuk membangun pendidikan yang baik. Pertama, membangun sistem pendidikan yang terencana berdasarkan skala. Selanjutnya, pengadaan konferensi tenaga ahli untuk memperkuat negara dengan talenta. Selain itu juga mengandalkan teknologi informasi untuk mempercepat infrastruktur baru pada perguruan tinggi dan melakukan evaluasi efektif universitas dan jurusan unggulan dunia. Semua itu Selain itu, He Zubin menegaskan bahwa perlu adanya penguatan integrasi indisipliner dan pengembangan bakat serta evaluasi untuk meninjau pendidikan dan pengajaran. Perguruan tinggi juga didorong untuk menebarkan manfaatnya dalam usaha membantu revitalisasi pedesaan. Begitupun dengan memperkuat reformasi gelar profesor serta tenaga pelajar di universitas-universitas. “Terakhir yakni mengontrol universitas secara rutin untuk menyetarakan pendidikan. Hal-hal itulah yang menjadi penunjang dalam mengembangkan pendidikan di Cina. Tidak hanya untuk sekarang, tapi juga bagi masa depan,” ucapnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. membahas tentang Center of Excellence, yaitu pembinaan dan pengembangan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Kampus Putih. Dari program tersebut, pihaknya telah melahirkan program turunan, di antaranya Sekolah Unggas, Rumansia, Rumput Laut, Udang, Anggrek, Welding Inspector, dan Essential Oil. Menariknya, UMM juga tengah mengembangkan kelas teknologi digital bersama dengan pihak-pihak lain. “Ini langkah konkret kami untuk mengembangkan SDM berbasis digital, sehingga ekonomi dan aspek-aspek lainnya bisa berjalan secara baik mengikuti zaman,” ujar Fauzan mengakhiri. (haq/wil)
Wisudawan Terbaik UMM Pelopori Penggunaaan Produk Ramah Lingkungan

Tumbuh di keluarga petani membuat Wahid Muhammad Shodiq terbiasa dengan berbagai sistem pertanian sejak dini. Wisudawan terbaik program Strata Dua (S2) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, mulai memantapkan karir di bidang pertanian sejak mengetahui tentang perbedaan harga yang cukup tinggi antara harga panen dan harga di pasaran. Meski keluarganya bermata pencaharian sebagai petani, namun mereka tidak bisa melakukan manajemen pasca panen dengan baik. Hal ini berpengaruh pada hasil jual produk pertanian yang sudah ditanam. Oleh karenanya, selepas Sekolah Menengah Atas (SMA) ia bertekad untuk mendalami bidang Agribisnis. “Di lapangan, penjualan produk pertanian harus melalui beberapa tangan sehingga harga melambung tinggi. Sebab itu, edukasi mengenai manajemen pasca panen sangat penting. Dalam lingkup kecil mungkin saya bisa mengedukasi keluarga saya dulu, lalu pelan-pelan mulai beralih ke lingkup yang lebih besar,” jelas alumnus kelahiran Bojonegoro itu. Dengan ilmu yang didapatkannya, Wahid semakin terpacu untuk mempelajari Agribisnis. Anak tunggal ini bercerita bahwa perolehan wisudawan terbaik tersebut bukan yang pertama kali diraihnya. Sebelumnya, saat menempuh pendidikan strata satu (S1) di UMM, ia juga menjadi wisudawan terbaik di Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Wahid mengatakan bahwa tesisnya di S2 ini melanjutkan penelitian saat S1 dahulu. “Kalau di tingkat sarjana, saya membahas tentang perilaku ramah lingkungan secara umum. Namun di S2 ini saya membahas tentang perilaku ramah lingkungan berfokus pada restoran fast food. Seperti yang kita ketahui, penggunaan produk yang tidak ramah lingkungan pada akhirnya akan menyebabkan pencemaran pada tanah subur. Namun sampai sekarang tidak ada standar pasti dari pemerintah mengenai kemasan ramah lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya regulasi agar para brand fast food tidak asal klaim,” ungkap Wahid. Menurutnya, pemerintah perlu memmbuat ukuran baku terkait produk ramah lingkungan. Begitupun dengan brand yang tidak sepatutnya asal klaim, namun benar-benar membuat produk yang pro akan kebaikan lingkungan. Ia juga mengimbau agar masyarakat turut mengambil peran dalam upaya menciptakan lingkungan yang baik. “Perilaku-perilaku seperti buang sampah sembarangan nyatanya bisa memengaruhi kesuburan tanah di sekitarnya. Maka perlu adanya edukasi luas mengenai ini,” tegasnya. Raihan wisudawan terbaik ini merupakan hadiah untuk orang tuanya yang telah bersusah payah menyekolahkan sampai S2. Raihan ini juga menjadi apresiasi terbaik dari beragam usaha yang telah diperjuangkannya hingga saat ini. “Semoga bisa belajar lebih banyak hal lagi dan membagikan ilmu yang saya peroleh ke masyarakat luas. Saya juga akan terus mengupayakan mimpi saya, yakni membuka toko pertanian yang pro petani di daerah asal,” pungkasnya. (syi/wil)
Menteri BUMN Erick Thohir Resmikan Rayz Hotel UMM

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, B.A., M.B.A. meresmikan Rayz Hotel Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (16/1) lalu. Sebelumnya, Erick juga sempat memberi materi kepada para mahasiswa baru di Hall Dome UMM terkait terkait transformasi digital. Turut hadir Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto, S.H., M.H. didampingi Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd beserta jajaran wakil rektor dan Badan Pembina Harian (BPH) UMM. Erick menilai Rayz Hotel yang menjadi salah satu unit bisnis dan laboratorium terapan Kampus Putih UMM ini merupakan contoh luar bisa, bagaimana upaya sebuah universitas untuk menjadi mandiri. Tidak terbatas pada sektor pendidikan saja namun juga di sektor lainnya. Sehingga, pengembangan universitas tidak hanya bergantung pada dana pemerintah. “Jadi, UMM ini tidak hanya memberikan pelayanan pada mahasiswa dan keluarganya saja, tapi sekaligus kepada masyarakat luas. Hal-hal seperti ini sudah sepatutnya universitas lakukan,” tutur Erick. Lebih lanjut, Ia juga mendorong Kampus Putih untuk lebih meningkatkan peran para alumni. Salah satunya melalui pembentukan lembaga funding. Para alumi didorong untuk iktu aktif dalam aktivitas funding yang sudah dibangun. Kemudian, dana yang diperoleh diharapkan bisa menjadi jenis perputaran usaha baru untuk ke depannya. Erick menambahkan bahwa pihaknya sangat terbuka dalam membangun kerja sama. Ia berharap hubungan baik dengan UMM dapat terus diintregasikan. Utamanya dalam hal research and development (R&D). “Sekarang kita tidak begitu fokus dengan R&D karena akan aspek ini dapat melalui kerja sama. Apalagi sudah ada berbagai kerja sama yang dijalin dengan universitas untuk komersialisasi,” tegas Erick. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa Rayz Hotel ini merupakan salah satu unit bisnis yang memberikan hasil positif. Bahkan menjadi salah satu destinasi hotel bintang empat terbaik yang ada di Malang. “Tentu kami berharap dengan diresmikannya Rayz Hotel UMM oleh menteri BUMN ini bisa meningkatkan kinerja serta kualitas pelayanan yang diberikan kepada para pengunjung. Begitupun dengan pengembangan bisnis-bisnis lain yang segera dibuka,” harap Fauzan mengakhiri. Erick, Fauzan dan Didik juga sempat mengunjungi beberapa titik di Rayz Hotel. Melihat kolam renang yang tersedia hingga beberapa villa yang yang berada di hotel tersebut. Selain menyediakan kamar yang mewah, Rayz yang merupakan laboratorium terapan UMM juga memberikan pelayanan villa menarik bagi mereka yang menginginkan. Adapula roof top, kids corner, meeting room dan lain sebagainya. (wil)
Menteri BUMN Erick Thohir Ajak Mahasiswa UMM Jadi Pioner Transformasi Digital

Transformasi digital dan ekosistem ekonomi memiliki peran vital dalam membangun negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI H. Erick Thohir, BA., M.B.A. kepada para mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berkesempatan mengisi agenda Student Day Talkshow yang membahas Tranformasi Digital pada Sabtu (15/1) lalu di Dome UMM. Hadir pula secara langsung Wakil Bupati Malang Didik Gatoto Subroto, S.H., M.H., dan Direktur Lippo Plaza Batu Suwanto. Adapula Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, S.H., M.IP yang turut serta mengisi agenda secara daring. Erick melanjutkan bahwa target Indonesia di 2025 adalah menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor empat di dunia. Tapi, mimpi itu hanya akan menjadi mimpi jika kita tidak mengusahakannya dengan baik, terutama dalam aspek ekonomi. Tentu akan banyak tantangan yang harus dimenangkan agar bisa mencapai mimpi itu. Ia mengatakan dalam beberapa tahun kedepan, ekonomi tidak hanya berfokus pada Sumber Daya Alam (SDA) lagi. Namun akan fokus pada kemampuan manusia dalam mengelola ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Sehingga mampu mendorong ekonomi negara menjadi lebih maju. Oleh karenanya, di era digital seperti sekarang, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kapabilitas di bidang digital. “Kita harus menyiapkan 17,5 juta tenaga kerja yang mempunyai kemampuan di bidang digital agar bisa memenangkan persaingan dengan negara lain. Maka, pembangunan infrastruktur digital serta pembentukan ekosistem yang baik dalam pengelolahan SDA menjadi poin utama. Dengan begitu, pembangunan ekonomi nasional bisa berjalan dengan lancar,” ungkapnya. Menurut Erick, saat ini banyak sumber daya alam yang dikirim ke luar negeri dengan harga yang murah. Kemudian pengelolaannya juga dilakukan oleh negara luar. Tentu, hal ini merugikan Indonesia. “Jangan jadi generasi rebahan dan konsumtif. Jadilah generasi produktif agar bisa bersaing dengan bangsa lain,” tegasnya. Sementara itu, Ganjar menilai pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi hal yang penting. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari mereka yang menggunakan fasilitas digital. Maka, ia mendorong mahasiswa untukt erjun langsung ke masyarakat dalam rangka mengupayakan peralihan bisnis menuju digitalisasi. “Saya rasa, digitalisasi harus bisa masuk ke desa-desa sehingga UMKM mampu bertahan di arus digital yang semakin besar ini. Ada banyak manfaat proses digitalisasi yang bisa dirasakan, khususnya pembayaran online yang dirasa mampu menurunkan angka korupsi,” tuturnya menjelaskan. Ia juga ingin agar mahasiswa turun menjawab permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Begitupun dengan menginsiasi aktivitas kolaborasi sehingga kendala pemasaran, permodalan, izin usaha serta hal lainnya dapat menemukan jalan terang. Pengembangan jejaring juga perlu ditingkatkan untuk mendorong penggunaan sistem dan pembayaran digital. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menerangkan bahwa slogan Student Today Leader Tomorrow membuat Kampus Putih memfokuskan proses pendidikan dalam dua hal, kompetensi akademis dan leadership. “Dan agenda Student Day ini menjadi salah satu upaya untuk membangun leadership yang kuat. Khususnya melalui berbagai kegiatan mahasiswa, organisasi serta agenda-agenda yang menarik,” jelasnya. Fauzan juga menjelaskan terkait terobosan baru UMM untuk menyiapkan lulusan yang mandiri yakni dengan Centre of Excellence (CoE). Beberapa di antaranya adalah sekolah udang, unggas, anggrek, rumput laut, welding inspector dan lainnya. Kampus Putih juga terus mengidentifikasi pengembangan aspek digital sehingga para mahasiswa UMM tidak tertinggal dengan keterampilan digital yang kini dibutuhkan. (wil)
Bawakan Karya Usmar Ismail, Mahasiswa UMM Menangi Ajang Dramatical Reading

Seakan tak pernah berhenti, prestasi demi prestasi senantiasa dicetak oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) meraih juara satu nasional lomba dramatical reading. Ajang tersebut dilangsungkan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PBSI Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada akhir Desember lalu. Afif Yudi Kurniawan selaku koordinator kelompok menjelaskan bahwa dramatical reading adalah sebuah penampilan membaca naskah. Tidak sekadar membaca, tapi mereka harus memperagakan dan mendaramakannya. Pada ajang tersebut, ia dan tim membawakan naskah karya Usmar Ismail berdujul ‘Ayahku Pulang’. “Sebenarnya naskah ini pernah kami bawakan di sebuah mata kuliah yang berkaitan dengan drama. Kemudian kami kembangkan dan lengkapi untuk bisa memberikan hasil maksimal dalam ajang kali ini,” tambahnya. Secara garis besar, naskah ini menceritakan seorang ayah yang meninggalkan keluarganya ketika menghadapi masalah. Namun, saat ia pulang, keluarga tidak menerimanya dengan baik. Pengambilan latar dan suasana dirasa Afifi cukup menarik, yakni pada bulan Ramadan. Dituturkan Afif, selama perlombaan mereka merasa apa yang dipelajari dalam mata kuliah gerak dan oratori sangatlah membantu. Pada mata kuliah tersebut, mereka diajarkan bagaimana mengolah nafas, gerak dan ekspresi. Ketiga aspek yang dipelajari dinilai memiliki peranan penting dalam kemenangan yang diraih. Mahasiswa asli Lumajang ini kembali menambahkan bahwa salah satu motivasi terbesarnya adalah ingin mengimplementasikan apa yang sudah dipelajari selama kuliah. Jadi tidak sebatas materi saja, tapi bisa langsung mempraktekkannya dalam berbagai kegiatan. Dengan begitu, ia dan teman-teman bisa semakin mengingat seluruh hal yang sudah diajarkan. Afif tidak sendirian terjun dalam persaingan lomba tersebut. ia ditemani lima kawannya yang berperan sebagai aktor antara lain Septi Karina, Novita Eka Miranda, Aryandi Bimbi Arifatur, M. Khikam Zahidi dan M. Azrul Nizam. Sempat terkendala penataan waktu dan pengambilan video, namun mereka berhasil menanggulanginya dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak. Apalagi ini adalah lomba virtual pertama yang diikuti. “Sebenarnya kami ingin bisa tampil secara luring di hadapan para penonton yang riuh. Ingin merasakan bagaiman atsmosfer panggung yang dilihat langsung oleh para peserta dan pencinta sastra. Semoga apa yang kami raih bisa mendorong mahasiswa lain untuk iut berprestasi,” tegasnya. (haq/wil)
UMM Buka Kelas Profesional Essential Oil

Pengembangan Centre of Excellence (CoE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berlanjut. Demi mengantarkan mahasiswa menjadi pribadi mandiri, Kampus Putih kini menggaet PT. Pemalang Agro Wangi untuk membuka kelas profesional essential oil. Tanda tangan kerja sama yang dilaksanakan pada Rabu (13/1) ini diharapkan mampu menciptakan peluang-peluang yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. ingin CoE yang ada di Fakultas Pertanian dan peternakan dan Fakultas Ilmu Kesehatan ini bisa benar-benar menjadi mercusuar bagi mahasiswa. Bukan hanya menjadi program gaya-gayaan dan gengsi semata. Apalagi terobosan ini sudah diapresiasi oleh banyak pihak, baik dari kalangan akademisi maupun dari Industri dan Dunia Kerja (Iduka). Menurut Fauzan, membangun CoE memang bukan perkara yang mudah. Perlu adanya upaya serius agar bisa menyiapkan pondasi yang kuat. Ia juga mendorong program ini bisa melahirkan produk-produk turunan. Membentuk ekosistem yang mendukung untuk mahasiswa, dosen bahkan juga industri. “Jangan hanya berhenti di proses tanda tangan kerja sama saja. Harus ada aktivitas yang implementatif sehingga kita mampu mengantarkan mahasiswa serta alumni yang mandiri. Kini, kalau hanya berpikir linier kita tentu akan ketinggalan. Harus segera berpikir maju dan zig-zag,” imbuhnya. Hal itu diamini oleh Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PT. Pemalang Agro Wangi Muhammad Aminudin. Harus ada pengembangan bisnis dengan cara baru yang mengikuti teknologi. Utamanya produk yang dihasilkan oleh perusahaannya. Menurutnya, tren essential oil kini sedang naik di kalangan masyarakat. Meski telah memiliki lebih dari 80 hektar lahan, namun pihaknya tetap kewalahan dalam memenuhi permintaan, khususnya untuk kebutuhan ekspor. Maka kerja sama ini diharapkan dapat memberikan inovasi serta masukan sehingga bisa menciptakan peluang. Tidak hanya bagi PT. Pemalang Agro Wangi saja tapi juga untuk Kampus Putih UMM. Lebih lanjut, dalam rangka mencapai tujuan masing-masing institusi, diperlukan langkah-langkah konkret dan action plan yang tertata. “Hal paling penting adalah bagaimana kita bisa bergerak dengan cepat. Action dulu, kalaupun modal belum mencukupi insyaAllah Allah akan memberi nanti. Selain itu saya rasa kalau untuk perut, kita semua juga merasa lebih dari cukup. Namun, upaya ini adalah bagian untuk memajukan pengusaha-pengusaha lokal lainnya,” tegas Amin. Sementara itu Koordinator Asisten Rektor UMM Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. menilai UMM dan perusahaan sama-sama membutuhkan satu sama lain. Apalagi didorong dengan adanya kebijakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Kemdikbudrisek. Kerja sama ini juga dirasa mampu memberikan jaminan keamanan produk dan juga keamanan pengguna. Dengan begitu, tingkat kepercayaan masyarakat akan meningkat karena produk yang digunakan sudah melalui proses ujicoba. Begitupun dengan Kampus yang bisa memberikan pengalaman kerja bagi para mahasiswa. “Sehingga tujuan untuk mengantarkan mereka menjadi lulusan mandiri bisa dicapai dengan langkah-langkah pasti dan terukur,” tambah Jono. (wil)
Wani Sabu Ajak Mahasiswa UMM Antisipasi Cyber Crime

Meningkatnya berbagai fitur digital di era pandemi memudahkan masyarakat dalam segala bentuk aktivitas. Namun selain kenyamanan, fitur digital juga membawa ancaman baru yaitu cyber crime. Hal tersebut disampaikan oleh Executive Vice President Sentra Layanan Digital BCA, Wani Sabu pada acara kuliah tamu Cyber Crime Awareness di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu (12/01) dan selenggarakan secara offline di Hall BCA GKB 4 UMM serta disiarkan secara online melalui kanal Youtube Ummtube. Wani mengatakan bahwa kasus cyber crime paling banyak berada di ranah perbankan. Hal ini terjadi karena di masa pandemi sebanyak 99.5% nasabah bank lebih menggunakan fitur layanan online dalam berbagai bertransaksi. Kasus yang sering terjadi adalah penipuan nasabah saat proses jual beli barang melalui platform digital. Salah satu model penipuannya adalah dengan membuat akun toko palsu. “Toko online ini menggunakan nama toko lain yang lebih kredibel, membeli followers di sosial media, dan juga memberikan diskon secara besar-besaran. Hal-hal tersebut akan memancing masyarakat untuk membeli dan mentranfer sejumlah uang. Kemudian sang penjual akan kabur tanpa mengirimkan barang kepada pembeli,” terang Wani. Jika nasabah telah mengalami penipuan seperti itu, Wani menyarankan agar segera melaporkan ke bank dan melakukan penundaan transaksi. Jika uang belum ditarik dari bank, kemungkinan besar bank masing bisa mengembalikan dana yang telah di transfer. “Dalam kasus seperti ini, semakin cepat nasabah sadar akan penipuan maka semakin besar kemungkinan uang yang telah ditransfer dapat ditarik kembali,” kata wanita asal Jambi tersebut. Kasus lain yang sering terjadi adalah pencurian data pribadi. Anak pertama dari empat bersaudara tersebut menyampaikan bahwa banyak penipu yang menggunakan data orang lain untuk membuat rekening bank. Hal tersebut menyulitkan pihak bank dan kepolisian untuk menangkap pelaku penipuan. “Masyarakat Indonesia masih belum mengerti tentang pentingnya perlindungan data pribadi. Oleh karenanya, saya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak memberikan data pribadi atau membuatkan akun bank untuk orang lain. Masyarakat juga diharapkan untuk tidak memberikan pin ATM maupun kode One Time-Password (OTP) pada sembarang orang,” jelas Wani. Di lain sisi, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., mengatakan bahwa pandemi telah mengubah kebiasaan kita dalam beraktivitas. Semua hal yang dahulu dilakukan secara offline harus berpindah menjadi online. Begitupun dengan pembayaran dan jasa keuangan. “Dengan adanya acara kuliah tamu ini, saya harapkan para mahasiswa dapat memahami ancaman-ancaman yang akan terjadi di balik transaksi online serta dapat menghadapi proses digitalisasi ini dengan dengan lebih baik,” tandasnya. (wil)
Fikes UMM Buka Peluang Beasiswa dan Kerjasama Internasional

Tak dapat dipungkiri, jalinan kerja sama memiliki peranan penting dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia. Meningkatkan kapasitas hingga mencapai global competitiveness bersama dengan universitas-universitas top dunia. Hal tersebut disampaikan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. pada seminar Internasional Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (12/1) lalu. Membahas tuntas peluang beasiswa dan kerjasama partnership di bidang kesehatan, seminar ini turut mengundang pihak kedutaan besar internasional di Eropa dan Asia. Ada dari Kedubes Polandia yang diwakili oleh Michal Weglarz, Kedubes Malaysia yang dihadiri oleh Farid Ma’ruf serta Kedubes Taiwan yang diwakili oleh Fajar Nuradi. Ketiganya memperkenalkan beragam kesempatan dan akses terkiat beasiswa bagi mahasiswa serta dosen. Begitupun dengan langkha-langkah yang bisa dilakukan untuk menggaet pihak-pihak internasional. Menurut Fauzan, ini adalah langkah penting untuk meningkatkan kualitas universitas, khususnya dalam bidang kesehatan baik di jurusan keperawatan, farmasi dan fisioterapi. “Kita harus terus melebarkan sayap berinisiatif mengenalkan UMM sekaligus membangun kerja sama dengan universitas-universitas di dunia. Bisa berupa pertukaran dosen, penelitian bersama bahkan dimungkinkan untuk pertukaran mahasiswa,” imbuhnya. Michal mengatakan bahwa ada sederet universitas yang menyediakan pendidikan kesehatan dengan menggunakan bahasa Inggris. Lublin, Gdanks, Krakow adalah beberapa kota yang memiliki univesitas dengan pendidikan bidang kesehatan. Ada berbagai keuntungan yang bisa didapatkan saat menimba ilmu di Polandia. Pertama, lulusan diploma dari program bisa diakui di beragam negara eropa serta dunia. Termasuk Australia dan Amerika. Adapula satu tahun program premedical course yang bisa diikuti serta pelatihan usai menyelesaikan studi. “Biaya studi dan hiduo di Polandia juga cukup kompetitif. Jadi saya rasa belajar di Polandia merupakan satu pengalaman yang menarik bagi teman-teman,” tambahnya. Sementara itu, Dekan Fikes UMM Yoyok Bekti Prasetyo menjelaskan bahwa Kedubes merupakan perwakilan dari negara masing-masing yang memiliki hubungan erat dengan Indonesia. Maka, situasi ini Yoyok rasa sangat strategis untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia, khususnya SDM yang ada di Fikes UMM. “Alhamdulillah sejauh ini para mahasiswa dan dosen FIKES UMM selama ini mampu memainkan peran penting ini dengan baik. Berkolaborasi dalam kegiatan, penelitian serta seminar yang sudah dilaksanakan beberapa kali. salah satunya dengan berkolaborasi dengan para atase dan kedutaan yang ada di Eropa dan Asia. Saat ini pihaknya juga tengah membangun komunikasi dengan universitas dan kedutaan yang ada di benua Amerika. Selanjutnya, Fikes UMM juga akan mengadakan acara-acara serupa guna mempercepat pengenalan fakultas tersebut di mata masyarakat global. Sehingga, eksposur yang didapat lebih besar. (*/wil)
Sekolah Unggas dan Udang UMM Kewalahan Layani Permintaan Iduka

Kelas profesional unggas dan udang sebagai bagian dari program Centre of Excellence (CoE) berbasis program studi di Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) kewalahan layani permintaan Industri dan Dunia Kerja (Iduka). Program yang sudah berjalan sejak 2018 ini sangat diminati oleh mahasiswa UMM dan mahasiswa kampus lain. Koordinator kelas profesional unggas UMM Dr. Ir. Abdul Malik, MP. mengatakan kelas unggas mendapat animo yang sangat baik. Ada lebih dari 2000 peserta yang sudah mengikuti kelas ini dan mendapatkan manfaat dari prosesnya melalui materi serta magang. Kelas profesional ini juga sudah menggaet berbagai stakeholder dari Iduka untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. PT. Jatinom Indah Farm, PT. Charoen Pokphand, dan PT. Sanbe Farma adalah tiga di antaranya. Adapula PT. Mensana, dan PT. Sapta Karya Megah, dan sederet perusahaan lain. “Ini adalah sebuah program yang prospektif, khususnya bagi masa depan mahasiswa. Laporan magang yang dibuat bisa dikonversi menjadi tugas akhir sehingga ketika pulang magang, mereka bisa mengikuti yudisium dan wisuda. Sejauh ini, permintaan dari Iduka juga tinggi pada program CoE yang ada di UMM,” tambahnya. Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) PT Jatinom Indah Farm, Sigit Prastyo, SE. mengatakan bahwa ada sembilan lokasi dengan 20 kandang close house yang digunakan untuk program kelas unggas ini. Setengahnya akan dimanfaatkan untuk pembesaran ayam pullet, sementara yang lainnya untuk kandang layer. Menurut Sigit, kelas unggas ini tidak hanya memberikan materi secara teori saja, tapi juga langsung praktek di perusahaan. “Para mahasiswa juga bisa belajar bagaimana berinteraksi di lingkungan kerja dan masyarakat peternakan. Jadi tidak hanya berkutat dengan unggas saja,” ujar Sigit. Selain sekolah unggas, UMM juga menyediakan kelas profesional udang. Koordinator kelas udang UMM Ganjar Adhywirawan Sutarjo, M.P. menuturkan peminat program yang Kampus Putih garap ini cukup tinggi. Pihaknya sudah membuka dan menyeleksi dengan ketat puluhan peserta dari mahasiswa yang berminat. Tingginya antusiasme mahasiswa dan Iduka bukan tanpa alasan. Disampaikan Ganjar, kelas ini menyediakan pengalaman langsung bekerja di lingkungan industri. Apalagi ada lebih dari 17 perusahaan yang sudah bekerja sama dengan kelas udang, sehingga memudahkan dalam penempatan para peserta. Beberapa perusahaan yang sudah digaet di antaranya PT. Garin Agro Sejahtera (GAS), CP Prima, STP (Japfa Akuakultur), PT. Summa Benur, CV. Kawang Royal Vaname, PT. Tanjung Bumi Akuakultur (TBAI), dan perusahaan lainnya. “Terbaru, ada sejumlah peserta yang sudah direkrut padahal mereka belum lulus dari perkuliahan. Saya rasa Pihak Iduka juga diuntungkan karena tidak perlu repot-repot membuka lowongan pekerjaan berkat adanya CoE ini,” tegasnya. Sementara itu, CEO PT. Garin Agro Sejahtera Ir. Hery Sudarmono mengatakan pihaknya telah membuka sejumlah tambak udang yang berlokasi di luar jawa. Ia ingin agar mahasiswa-mahasiswa UMM bisa menjadi motor penggerak dalam menjalankan tambak-tambak itu dengan menciptakan inovasi dan input yang maksimal. Salah satu alumni kelas profesional udang, Achmad Fatchurrohim mengaku bahwa program ini memberikan dampak yang besar baginya. Setelah mendapatkan pengalaman dan teori langsung dari perusahaan, ia segera mempraktekkannya di kediamannya. Bahkan ia menggaet dinas perikanan Kabupaten Trenggalek untuk mensosialisasikan sistem kontrol air dan limbah kepada para peternak. “Kolam saya akhirnya jadi salah satu kolam percontohan yang ada di kecamatan. Saya mengajak para peternak udang lainnya untuk lebih memperhatikan pengaliran air dan limbah. Karena selama ini saya lihat hanya segelintir yang melakukannya,” kata Fatchurrohim. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa program-program CoE ini dihadirkan dalam rangka melahirkan generasi yang cakap dan mandiri. Tidak terbatas bagi mahasiswa, tapi bagi siapapun yang ingin meningkatkan kapasitas diri di masing-masing bidang. Sampai saat ini, Kampus Putih telah memiliki berbagai kelas profesional yang bisa diikuti. Kelas unggas, udang, kakao, anggrek, welding inspector adalah beberapa di antaranya. “Di samping sebagai komitmen melaksanakan MBKM, program kelas profesional berbasis prodi juga dilaksanakan sebagai langkah strategis bagi para mahasiswa untuk bisa lulus tepat waktu serta menjadi lulusan yang mandiri,” jelas Fauzan. (*wil)
Mahasiswa PBSI UMM Menangi Lomba Cerpen Nasional

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harum di kancah nasional. Kali ini Nirwana Chendra Kasih, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UMM yang berhasil meraih medali emas lomba cerpen nasional. Adapun perlombaan tersebut masuk dalam event Pekan Seni Mahasiswa-Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PSM – PTMA) ke V. Perhelatan ini diadakan secara daring pada akhir Desember lalu oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Universitias Muhammadiyah Magelang (UNIMMA). Chendra, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ia sangat antusias akan kepenulisan dan sastra. Ketertarikannya terus tumbuh dan mengantarkannya pada sederet prestasi yang membanggakan di bidang kepenulisan. “Alhamdulillah hingga saat ini saya masih antusias terhadap penulisan sastra. Bukan agar menang lomba, tapi memang saya cinta sekali dengan bidang sastra,” ujarnya. Dalam perlombaan kali ini, ia menyusun karya cerpen dengan judul ‘Tanaq Colong’. Ia mencoba menceritakan konflik sosial di masyarakat, yakni perebutan tanah antara tuan tanah dengan investor yang ingin mengubah desa menjadi wisata. Seluruh warga setuju dengan gagasan desa wisata, namun tidak dengan Amaq Pi’il, sang tuan tanah. Ia beralasan bahwa desa wisata akan merusak keasrian alam yang dimiliki desa. Ia bersyukur dapat dipercaya untuk mewakili UMM dalam event bergengsi PSM-PTMA se-Indonesia ini. Menurutnya, ini adalah bekal yang bagus untuk menapaki kompetisi-kompetisi lain yang harus ditaklukkan. “Alhamdulillah, target untuk memenangkan lomba ini bisa tercapai dengan sukses. “Para dosen, teman dan keluarga terus mendorong saya untuk melakukan yang terbaik. Merekalah yang menjadi bahan bakar saya untuk menggali ide dan menuliskannya dalam bentuk sebuah cerpen,” ucapnya. Mahasiswi asli Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berharap ia bisa menemukan wadah yang bisa membuatnya fokus mengembangkan skill kepenulisan dan sastra. “Saya juga berencana membangun wadah itu sehingga teman-teman yang tertarik dengan sastra bisa bergabung dan saling mendukung untuk meningkatkan kapasitas diri,” jelasnya. (haq/wil)