IRO UMM Pastikan Mahasiswa Asing Pahami Aturan Keimigrasian

Menjadi mahasiswa asing di negara orang bukanlah perkara mudah. Perlu adanya beragam penyesuaian, utamanya terkait norma dan peraturan yang ada di tengah masyarakat. Jika mampu melewatinya, studi yang dijalani akan relatif lebih mudah. Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Yudi Suharsono, S.Psi. M.Si. kepada para mahasiswa asing pada Rabu (8/12) lalu. Tepatnya dalam agenda Sosialisasi Keimigrasian yang dilaksanakan oleh International Relation Office (IRO) UMM di Hotel Swiss Belinn Malang. Yudi, sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa UMM senantiasa berusaha memastikan mahasiswa asing yang menimba ilmu di Kampus Putih tetap berada di kondisi yang aman. Termasuk di antaranya perizinan tempat tinggal dan keimigrasian. “Saya berharap selama saudara-saudara berada di sini, tidak ada masalah yang terjadi. Jikalau ada hambatan, bisa langsung menghubungi pihak kampus, baik IRO maupun Biro Kemahasiswaan,” imbuhnya. Tak jauh berbeda, Kepala IRO UMM Latipun, P.hD. mengaku selama ini pihaknya sudah memberikan banyak informasi kepada mahasiswa asing dengan maksimal. Bahkan juga memberikan langkah-langkah yang harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum mereka datang ke Indonesia. Namun, ia merasa tidak cukup sehingga akhirnya IRO mengadakan sosialisasi tersebut. “Ada lebih dari 100 mahasiswa asing yang sedang menjalani studi di UMM. Namun hanya ada sedikit yang berada di Indonesia dikarenakan pandemi. Banyak yang harus mengikuti pembelajaran secara daring dari negara masing-masing. Semoga mereka bisa datang dan merasakan Malang serta dapat menaati peraturan yang ada,” ujar Latipun. Kemudian, Roy Pambudi Wibowo dari Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Malang menuturkan bahwa pandemi Covid-19 memberikan banyak dampak. Dalam hal ini, banyak perubahan peraturan yang harus dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintahan. Salah satunya oleh Kantor Imigrasi. “Tidak seperti sebelumnya, dinamika peraturan belakangan sungguh cepat karena harus menyesuaikan dengan kondisi dan situasi terkini,” ungkapnya. Roy, sapaan akrabnya melanjutkan ada beberapa jenis visa yang disediakan. Mulai dari visa diplomatik, dinas, tetap hingga kunjungan. Namun, saat ini Indonesia membatasi masuknya warga asing karena pandemi yang belum mereda. Bahkan pada awal pandemi di tahun 2020, yang boleh masuk wilayah Indonesia hanya mereka yang memiliki urusan bisnis. Namun kini, visa pelajar sudah diperbolehkan untuk masuk ke wilayah Nusantara. “Sepanjang saya berdinas di Malang, mahasiswa UMM relatif tidak memiliki masalah secara keimigrasian. Jadi mohon bisa dipertahankan hal tersebut agar semua urusan bisa lebih lancar,” harapnya. Pada kesempatan yang sama, Dina Ambar dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) memaparkan pentingnya pengurusan Surat Keterangan Tinggal (STT). Khususnya bagi warga negara asing yang tinggal di Indonesia. Ia menjelaskan langkah-langkah mengurus STT hingga persyaratan apa saja yang perlu disiapkan. Ada beragam izin dan kepengurusan, maka pihaknya mendorong mahasiswa asing untuk aktif mencari tahu. Baik kepada pihak IRO UMM maupun langsung ke kantor Dispendukcapil. “Pengurusan ini saya rasa penting dan esensial dalam rangka menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pun juga untuk memudahkan teman-teman dalam aspek lain, seperti pendaftaran Peduli Lindungi salah satunya,” pungkas Ambar. (wil)

Dosen UMM Menangkan Kompetisi Film Anti Korupsi Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berlaga di kancah nasional. Baru-baru ini, salah satu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Novin Farid Styo Wibowo, M.Si bersama mahasiswa serta alumni berhasil membawa pulang juara ketiga kategori Ide Cerita Terbaik di ajang Anti Corruption Film Festival 2021 (ACFFEST). Kompetisi tersebut diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Sabtu (4/12). Lewat film pendeknya yang berjudul Persen-an, Novin sapaan akrabnya, berhasil menyisihkan ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Dalam pembuatan film ini, Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi (Ikom) tersebut berperan sebagai produser dan penulis skenario. Novin mengatakan bahwa ide cerita yang ditulisnya dalam film Persen-an berhasil mengalahkan 424 proposal ide cerita yang masuk di panitia ACFFEST. “Awalnya proposal dipilih 40 besar kemudian dipilih lagi 20 besar. Dari 20 proposal itu lalu dipertemukan dengan para juri, salah satu diantaranya adalah Kamila Andini yang merupakan seorang sutradara ternama di Indonesia. Dari 20 proposal dipersempit lagi menjadi 10 karya. Kemudian sepuluh karya tersebut didanai masing-masing 30 juta per karya. Alhamdulillah Persen-an lolos didananai dan dimentori untuk kemudian diwujudkan dalam sebuah produksi,”ungkap Novin. Lebih lanjut, Novin menjelaskan bahwa film Persen-an bercerita tentang dua orang filmmaker, yaitu Ocir dan Jon, yang terjebak dalam lingkaran korupsi karena mendapatkan proyek dari pemerintah lokal. Korupsi yang dilakukan berupa persenan atau potongan yang dilakukan oleh para pejabat lokal. Dalam cerita ini pemotongan yang dilakukan sangat mengganggu proses produksi. Sebab hal itu menyebabkan hasil karya film yang dihasilkan menjadi turun kualitasnya, akibat banyaknya pengurangan dana di banyak sisi akibat pejabat yang minta komisi. “Persenan ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya hadiah atau pemberian. Jadi film ini mengangkat fenomena di pemerintahan yang menerapkan potongan sejumlah beberapa persen dana sehingga mengurangi jumlah uang proyek yang sudah diterima. Film yang dihasilkan dalam ACFFEST nantinya akan dijadikan sebagai media untuk sosialisasi KPK,” ujarnya. Melalui bendera Raya Media Creative, Novin menggandeng dosen, alumni dan mahasiswa Ikom UMM dalam pembuatan film. Beberapa diantaranya yaitu Rahadi, M.Si yang berperan sebagai Pak Bowo, Lukman Hakim sebagai sutradara, Bhekti Setyowibowo sebagai Pak Karyo, makelar proyek dan alumni Ikom, Grise Febrianto yang memerankan Jon, si film maker. Dosen asal Kediri itu menceritakan bahwa kendala terbesar dalam proses produksi film  adalah faktor cuaca. Hujan di daerah Ketapanrame Trawas, yang menjadi lokasi pengambilan gambar film, sempat mengganggu proses produksi. Namun hal itu bisa diatasi oleh timnya, sehingga proses produksi yang memakan waktu tiga hari tersebut bisa berjalan dengan lancar. “Tak hanya sebagai sarana edukasi mengenai korupsi, ke depannya film ini akan saya ikutkan ke berbagai festival film di dalam maupun luar negeri,”  tandasnya. (syi/wil)

Malang memang memiliki banyak tempat nongkrong yang menarik untuk dikunjungi, baik untuk mengerjakan pekerjaan atau hanya menghabiskan akhir pekan. Tidak sedikit pula kafe di Malang yang menyediakan co-working space. Salah satunya yakni Kontainer Café UMM yang berlokasi di dalam wilayah Universitas Muhammadiyah Malang UMM). Tepatnya di sebelah timur lapangan sepak bola. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd selaku tim set up menjelaskan bahwa kontainer café memiliki konsep ramah lingkungan dan hemat energi. Hal itu bisa dilihat dari pemanfaatan kontainer bekas sebagai kafe dan co-working space. Sedangkan dari segi hemat energi, kafe ini memanfaatkan tenaga listrik dari Pembangkit Listrik Tenga Mikro Hidro (PLTMH). “Konsep tersebut memanfaatkan kontainer bekas tidak terpakai yang dirubah menjadi lebih bermanfaat sebagai café didukung dengan listrik yang dipasok dari PLTMH milik UMM” ujarnya. Krisna, sapaan akrabnya kembali mengatakan bahwa kafé ini bertujuan untuk memfasilitasi mereka yang ingin fokus belajar, bekerja, diskusi maupun hanya sekadar nongkrong. Apalagi dengan disediakannya co-working space. Meski begitu, masyarakat umum juga dapat menikmati layanan menarik tersebut. Ia kembali menjelaskan bahwa Kontainer Cafe ini telah siap beroperasi sejak 2019, namun pandemi Covid-19 datang dan menunda operasi kafé ini. Hingga akhirnya bisa beroperasi tiga bulan terakhir 2021 belakangan. Adapun kafe ini menjadi salah satu bagian dari My Dormy Hostel UMM. Disampaikan Krisna, Kontainer Café juga memiliki menu yang beragam. Mulai dari kopi, teh, smooties, dan berbagai macam makanan. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UMM ini mengatakan bahwa dalam pelaksanaannya, kontainer café juga memberdayakan mahasiswa sebagai partimer dan pegawai. Menurut pengakuan Krisna, banyak mahasiwa yang berminat dan mendaftar untuk bekerja di kontainer café. “Alhamdulillah banyak mahasiwa yang berminat mendaftarkan diri. Ini menjadi salah satu upaya pemberdayaan di kafe ini,” ucapnya. Dosen asal Lombok ini berharap co-working dan café ini bisa berkembang dengan lebih baik lagi. Menyediakan layanan yang menarik dan bermanfaat bagi pengunjung. Begitupun juga bisa menjadi tempat berkarya dan berkreasi. “Dengan model kafe edukasi ini, mahasiswa UMM tak perlu keluar kampus lagi untuk ngopi atau mengerjakan tugas. Begitupun dengan masyarakat yang bisa menikmati layanan menarik dari Kontainer Café,” pungkasnya. (haq/wil)

UMM Sukses Menangkan Bidang Kemahasiswaan Terbaik AKU 2021

Prestasi demi prestasi berhasil diraih oleh Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada akhir November lalu, UMM kembali meraih Anugerah Kampus Unggulan (AKU) untuk yang ke-14 kalinya. Menariknya, pada penghargaan tersebut UMM juga meraih peringkat pertama kemahasiswaan terbaik. Perolehan ini diserahkan kepada pihak Kampsu Putih UMM pada hari yang sama. Wakil Rektor III bagian kemahasiswaan, Dr. Nur Subeki, ST, . MT, mengatakan bahwa UMM sangat mendukung iklim berprestasi di kalangan mahasiswa. Pada beberapa tahun terakhir, Kampus Putih telah mengirimkan banyak peserta dalam berbagai perlombaan. Hal ini juga berbanding lurus dengan raihan prestasi yang dimenangkan oleh mahasiswa. “Mahasiswa UMM juga sangat aktif dalam mengikuti berbagai agenda yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI). Pengadaan acara dan kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa juga berjalan lancar meskipun berada di tengah pandemi covid. Mungkin itu salah satu alasan mengapa UMM ini mampu meraih juara pertama kemahasiswaan terbaik versi AKU,” ujar dosen Teknik Mesin UMM itu. Dalam menjaga iklim berprestasi, Eki sapaan akrabnya, menceritakan bahwa Kampus Putih terus mengembangkan center of excellence. Mahasiswa juga dapat mengasah minat dan bakat mereka melalui berbagai Lembaga Semi Otonom (LSO) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang tersedia di UMM. Keterampilan berorganisasi pun juga akhirnya dapat terasah melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Senat Mahasiswa Universitas (SEMU) tersebut. “Kami membebaskan mahasiswa untuk mendalami hobi mereka melalui berbagai organisasi yang ada di UMM. Kami juga mendukung minat-minat baru dengan pendirian UKM ataupun LSO yang sebelumnya tidak ada. Salah satu contohnya adalah pendirian Roundnet Club UMM beberapa waktu yang lalu,” ungkap Eki. Lebih lanjut, Eki mengatakan bahwa iklim berpretasi di UMM terus berlanjut karena dukungan dan apresiasi yang baik dari kampus. Hal ini sesuai dengan slogan UMM yaitu tiada hari tanpa prestasi dan tiada prestasi yang tidak dihargai. Beberapa apresiasi yang diberikan berupa hadiah juara, lalu konversi nilai ke mata kuliah terkait, serta publikasi. Tak hanya pada prestasi saja, apresisasi juga dilakukan pada kegiatan relawan bencana dan kepenulisan di media konvensional. “Pada beberapa perlombaan tahunan seperti Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) serta Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) kami melakukan pendampingan yang ketat. Kami juga memiliki tim khusus untuk mendampingi, mulai dari riset sampai persiapan serta fasilitas untuk lomba,” kata Eki. Di akhir wawancara, Eky mengatakan kebanggaannya akan raihan prestasi yang diperoleh UMM ini. Raihan ini juga sangat membahagiakan karena kerja keras tim UMM diapresiasi oleh lembaga lain.“Kita akan mempertahankan raihan ini dan terus meningkatkan berbagai inovasi dan prestasi untuk kedepannya,” tandasnya. (wil)

Maharesigana UMM Kirim Tim Bantuan ke Lokasi Erupsi Lumajang

Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kirim tim ke lokasi erupsi Lumajang. Berangkat pada Sabtu (4/12) lalu, Maharesigana mengirim dua tim dengan masing masing lima orang di setiap tim. Rindya Fery Indrawan selaku Ketua Maharesigana UMM mengatakan bahwa timnya akan berada di lokasi bencana hingga status tanggap darurat dicabut oleh pemerintah. Untuk saat ini, mereka akan bertugas selama dua minggu sesuai dengan surat tugas yang dimiliki. “Kalaupun setelah dua minggu statusnya masih tanggap darurat, kami akan tetap di sini dengan perpanjangan surat tugas yang ada,” ungkapnya. Fery, sapaan akrabnya mengatakan bahwa timnya ditugaskan memberikan bantuan ke wilayah Lumajang barat, tepatnya di Kecamatan Pronojiwo. Sampai saat ini pihaknya telah melakukan asesmen ke beberapa desa serta melakukan visitasi ke para korban yang mengalami patah tulang. Maharesigana juga telah menyiapkan tim media di lokasi bencana. Tidak sendiri, mereka bekerja sama dengan Rumah Sakit UMM, Rumah Sakit Aminah Blitar, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC serta beberapa pihak lainnya. Mereka bahu membahi menyiapkan dapur relawan, dukungan psikososial, relawan serta bantuan lain yang dibutuhkan oleh para penyintas. Terkait kondisi di lokasi, Fery mengungkapkan bahwa keadaannya cukup parah. Namun, ia dan tim optimis Lumajang bisa kembali pulih dan melakukan aktivitas normal seperti sebelumnya. Apalagi dengan bantuan yang terus mengalir dari beragai wilayah di Indonesia. “Kondisinya cukup parah di daerah Supiturang. Beberapa titik pengungsian juga sudah didirikan untuk membantu para penyintas. Namun, kita harus selalu optimis bahwa bencana ini bisa segera berlalu. Tentu membutuhkan banyak dukungan dari seluruh masyarakat pelosok negeri,” imbuhnya. Fery yang juga dosen UMM ini juga berharap bantuan yang mereka lakukan bisa memberikan manfaat bagi para korban. Tidak hanya bantuan barang dan bahan makanan, tapi juga bantuan tenaga yang sudah dan akan dilakukan ke depannya. Sehingga bisa mempercepat pulihnya wilayah terdampak erupsi Semeru. (wil)

Pasca Sarjana UMM Gelar Pelatihan Penulisan Jurnal Internasional

Rangkaian program visiting professor Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar. Kali ini UMM melaksanakan pelatihan penulisan artikel ilmiah jurnal internasional bereputasi. Acara ini berlangsung pada Sabtu (4/11) lalu dan diikuti dosen dari 100 perguruan swasta, 30 perguruan negeri serta dua peserta dari luar negeri. Mereka akan berada di Kampus Putih selama tiga hari untuk mengikutinya hingga tuntas. Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. selaku Direktur Pasca Sarjana UMM mengatakan bahwa agenda ini berusaha memberikan stimulan dan wawasan terkait penulisan jurnal internasional bereputasi (JIB). Menurutnya, pelatihan ini juga nantinya akan memberikan jalan baru bagi peserta untuk berkarya. Baik menulis karya sendiri ataupun bekerja sama dengan para peserta lain. “Akan ada tiga gelombang di batch ini. Saya rasa, agenda ini juga bisa menjadi ajang untuk saling bertukar pikiran dan akhirnya dapat saling bantu membantu agar kara yang ditulis dapat masuk di JIB,” tambahnya. In’am, sapaan akrabnya juga mengatakan para peserta akan didampingi saat penulisan. Mulai dari cara penulisan monograph, book chapter hingga referensi. Dengan begitu, para peserta bisa lancar dalma melakukan penelitian dan menuliskannya. Lebih lanjut, ia juga merasa bahwa problem dosen dalam pengurusan kenaikan jabatan adalah penulisan karya ilmiah. “Kalau pendidikan dan pengabdian biasanya relatif lebih mudah. Maka acara ini hadir untuk membantu mencapai tujuan dari para peserta. Di akhir nanti mereka juga diwajibkan untuk publikasi karyanya, baik di bookchapter maupun JIB,” tutur In’am. Pada kesempatan yang sama, Wakil Rekot IV UMM Dr. Sidik Sunaryo, M.Si. M.Hum. menuturkan bahwa menulis jurnal memang butuh perjuangan. Salah satunya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan semacam ini. Selain itu juga perlu adanya kesungguhan dan niat yang jelas. “Mudah-mudahan dengan beberapa hari mengikuti acara ini di UMM bisa memudahkan dan membuka jalan saudara-saudara. Selamat berdiskusi dan berlatih serta bertukar pikiran dan pengalaman,” imbuh Sidik. Sementara itu, salah satu peserta Desak Nyoman Sithi dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya mengaku baru pertama kali mengikuti program visiting professor. Menurutnya, agenda tersebut memberikan banyak hal dan manfaat baru. Tidak hanya memberikan teori, para pemateri juga turut mendampingi langsung. “Kami juga diberi kiat-kiat agar bisa menjadi guru besar nantinya. Saya tentu berharap agenda ini bisa meningkatkan kemampuan para peserta dalam menulis, publikasi dan kolaborasi antara sivitas akademika. Begitupun dengan hubungan baik antar dosen dari berbagai universitas,” ujarnya mengakhiri. (wil)

Mahasiswa UMM Sabet Juara Debat Akuntansi Nasional

Prestasi membanggakan kembali diberikan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satu tim UMM berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi debat nasional, tepatnya dalam perhelatan NASTEC (National Accounting Seminar and Debate Competition). Adapun lomba yang dilaksanakan secara daring ini dilaksanakan oleh Politeknik Negeri Malang (Polinema) pada 27-28 November lalu. Salah satu anggota tim, Iffany Amelia Widhi mengatakan bahwa timnya membutuhkan waktu hampir dua bulan untuk persiapan. Hal itu tidak lepas dari tema debat yang membahas terkait akuntansi, padahal tidak ada satupun anggotanya yang berkecimpung dan berasal dari jurusan ekonomi maupun akuntansi. “Saya sendiri dari fakultas hukum, sementara dua anggota lainnya berasal dari jurusan hubungan internasional dan psikologi. Jadi mau tidak mau kami harus banyak membaca dan menggali informasi tentang ekonomi,” imbuhnya. Iffany, panggilan akrabnya kembali menjelaskan bahwa sebelum terjun ke perlombaan debat tersebut, ia harus melewati seleski terlebih dahulu di internal Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) International language Forum (ILF) untuk bisa mewakili UMM. Akhirnya terpilihlah enam orang yang terbagi menjadi dua tim untuk bersaing dengan tim-tim lain se-Indonesia. Dituturkan Iffany, tantangan paling sulit yang timnya hadapi adalah pemantapan materi yang membahas mengenai ekonomi. Mereka diharuskan membaca banyak literatur, melihat berita dan memetakan materi-materi yang berbeda dengan latar belakang masing-masing. “Kami dua hari dalam satu minggu yakni pada hari Sabtu dan Minggu. Beruntung, banyak senior berpengalaman dan berperestasi yang membantu dan melatih kami. Tentu, hal ini memberikan semangat tersendiri bagi kami untuk berprestasi,” ungkap mahasiswa hukum tersebut. Iffany juga memberikan kiat-kiat agar lancar berbicara saat lomba debat. Pertama, yakni memahami topik dan materi yang dilombakan dengan mendalami berbagai platform terkait tema terkait. Kedua, belajar untuk berargumentasi dengan baik agar apa yang dibicarakan terstruktur dan sistematis. Kemudian yang terakhir yakni banyak berlatih, karena semakin banyak latihan yang dilakukan semakin terbiasa ia dalam berargumen. “Berbekal kemenangan ini, saya dan tim tentu ingin mengajak mahasiswa-mahasiswa lain untuk turut serta menorehkan prestasi. Hasl ini membuktikan bahwa semua bisa meraih juara meskipun dengan keterbatasan jarak. Ayo bersama-sama keluar dari zona nyaman dan mengukir kemenangan di kancah nasional maupun internasional,” ajaknya mengakhiri. (syi/wil)

UMM-FURB Brazil Teken Kerja Sama Percepat Akselerasi Pendidikan

Kerja sama demi kerja sama terus dibangun oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, Kampus Putih mulai menjalin Kerjasama dengan Universidade Regional de Blumenau (FURB) Brazil. Agenda yang dilangsungkan secara daring tersebut dihadiri oleh Duta besar Indonesia untuk Brazil H.E Edi Yusup. Adapun penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) ini dilaksanakan pada Kamis (3/12) lalu Edi mengungkapkan apresiasinya akan kerja sama yang dibangun oleh kedua universitas. Menurutnya, agenda ini adalah inisiatif yang strategis dalam sektor pendidikan. Salah satunya adalah untuk menjembatani hubungan baik antara Indonesia dan Brazil. Ia juga mendorong kedua institusi untuk terus mengeskplor dalam berbagai hal. Mulai dari pengadaan riset, joint research, kesehatan, agrikultur hingga ekonomi digital. Edi juga mendorong keduanya untuk mengembang penelitian dalam bidang renewable energy. “Ini adalah langkah pertama dari perjalanan panjang kolaborasi antara UMM dengan FURB. Semoga bisa memberikan kebaikna untuk keduanya,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mendorong semakin cepatnya akselerasi kemajuan perguruan tinggi masing-masing. Utamanya di level internasional. Apalagi melihat potensi kedua universitas yang sama-sama bisa berkembang dengan baik. “MoU dan MoA ini tidak hanya sebagai acara seremonial dan formalitas belaka. Namun esensi penting yang harus dipahami adalah implikasi dan aplikasi setelahnya. Bagaimana kedua belah pihak bisa saling membantu dalam rangka memajukan dan mencapai target masing-masing,” jelasnya. Fauzan juga menyampaikan bahwa UMM telah membangun kerja sama dengan berbagai institusi dari 24 negara. Adapun FURB ini merupakan extended program kerja sama Kampus Putih UMM di Kawasan amerika latin. “Semoga akan muncul banyak manfaat dari kerja sama antara UMM dan FURB ini,” tuturnya. Pada kesempatan yang sama, Rektor FURB Marcia Cristina Sarda Espindola senang dengan jalinan kerja sama yang sudah dirintis. Menurutnya, sudah ada banyak target yang menunggu untuk diselesaikan. Adapun UMM merupakan partnership pertama yang mereka bangun dengan Indonesia. Disampaikan Marcia, kolaborasi ini dirasa bisa memberikan beragam manfaat. Tidak hanya bagi kedua universitas, tapi juga bagi Indonesia dan Brazil.  Maka, perlu adanya komitmen yang kuar agar bisa memberikan kesempatan untuk saling bertukar pikiran dan wawasan agar bisa lebih saling memahami. “Kami juga ingin agar kerja sama dengan UMM ini bisa menjadi langkah awal untuk bisa menjalin kolaborasi dengan yang lainnya,” pungkasnya. (wil)

Mahasiswa UMM rancang AJARI, Aplikasi Pembelajaran Alquran

Kabar membanggakan kembali datang dari mahasiswa Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, tim mahasiswa Program Studi (Prodi) Informatika UMM berhasil menorehkan prestasi dengan menyabet juara dua nasional lomba aplikasi web dan mobile. Juara itu diraih dalam event Lomba Nasional Kreatifitas Mahasiswa (LO Kreatif) 2021 yang diadakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) dan Lembaga Layanan Pendidikan Pendidikan Tinggi Wilayah VII Jawa Timur. Diselenggarakan sejak September, pengumuman pemenang diumumkan pada Selasa (30/11) lalu. Mochamad Alghifary selaku ketua tim menjelaskan bahwa ide ini bermula dari kegundahannya akan pendidikan belakangan ini. Pandemi Covid-19 yang belum mereda dan pendidikan yang masih dibatasi, menghambat pembelajaran Taman Pendidikan Quran (TPQ). Bahkan menurutnya, proses pembeljaran secara daring tidak memberikan efek masif layaknya pembelajaran luring. “Melihat hal itu, saya dan tim akhirnya memutuskan untuk merancang aplikasi yang kami sebut AJARI: Belajar Iqro. Aplikasi ini diharapkan bisa membantu proses pembelajaran TPQ dan mengaji,” ungkapnya. Ghifary, sapaan akrabnya memaparkan bahwa aplikasi ini memiliki konsep e-learning dan multimodal earning. Adapun multimodal learning adalah suatu konsep pembelajaran yang memiliki acuan pada  empat aspek utama. Keempat aspek tersebut ialah visual, audio, reading dan wiriting, serta kinesthetic. “Adapun kinesthetic adalah sistem yang memungkinkan aplikasi untuk memiliki kemampuan memproses informasi melalui gerakan,” jelasnya. Secara teknis, penggunaan aplikasi ini akan digunakan oleh dua pengguna. Pertama, yakni peserta didik atau santri. Kemudian adapula pihak kedua yakni guru atau ustad. Para santri nantinya akan mendapatkan pembelajaran iqro’, baik secara video call maupun materi yang disediakan. Sementara pihak pendidik bisa langsung memonitor progressnya melalui aplikasi dan fitur yang disediakan. Ghifary tidak sendiri. Pada perlombaan tersebut ia ditemani tiga temannya yaitu Nur Syahfei, Hananda Gagas, dan Iskandar Sholeh. Keempatnya merupakan mahasiswa informatika yang tergabung dalam satu tim. Mereka ingin agar aplikasi yang sudahd irancang bisa berlanjut ke tahap pengembangan sleanjutnya. Mampu memberikan sistem dan fitur-fitur baru dalam rangka membantu pembelajran TPQ berbasis aplikasi. Kemungkinan aplikasi ini akan kami launching di Playstore pada pekan depan. Semoga bisa segera digunakan dan mendapatkan respon yang baik nantinya,” ujarnya mengakhiri. (haq/wil)

LPT Psikososial UMM Adakan Pelatihan Dasar Relawan Bencana

Tingkat potensi bencana yang dimiliki Indonesia cukup tinggi. Melihat hal itu, Laboratorium Psikologi Terapan (LPT) Psikososial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan pelatihan dasar psikososial untuk mahasiswa. Agenda tersebut dilaksanakan pada Sabtu (27/11) lalu, bertempat di Aula BAU UMM dengan format bauran daring dan luring. Dalam keterangannya, perwakilan LPT Psikososial UMM Alifah Nabilah Masturah, M.A., menyampaikan tujuan dari pelatihan ini. Di antaranya untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas mahasiswa Fakultas Psikologi mengenai kesiapsiagaan bencana dan layanan dukungan psikososial unutk penyintas. Hal itu tidak lepas dari potensi bencana Indonesia yang cukup tinggi. “Kami ingin agar para peserta bisa menyerap banyak wawasan dan pengetahuan baru. Sehingga sudah siap ketika diminta menjadi bagian dari dukungan psikososial. Kami juga berharap agar pelatihan ini bisa menumbuhkan semangat siap, tanggap, dan tangguh bencana,” jelas Alifah. Pada agenda tersebut, ada enam materi yang disampaikan kepada para peserta. Mereka dibekali materi terkait self-care dan kode etik relawan serta kesehatan mental dan layanan dukungan psikososial. Selain itu adapula dasar-dasar asesmen, teori dan praktek dukungan psikologis awal serta teknik pelaporan. Terakhir, para peserta juga dibekali dengan pemahaman mengenai teknik fasilitasi. Adib Asrori, M.Psi selaku pemateri berpesan bahwa sebelum membantu orang lain, hal pertama yang perlu disadari adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis diri sendiri. Maka, menurutnya para peserta harus sudah menyiapkan diri fisik dan mental, sehingga bsia memberikan manfaat maksimal kepada orang lain. “Be mindfull and take care of yourself first. Setelah itu baru teman-teman bisa memberikan bantuan ke sesama,” tuturnya menjelaskan. Sementara itu, pemateri lain Muhammad Fath Mashuri, M.A menjelaskan mengenai dasar-dasar asesmen. Tahap ini akan menjadi dasar untuk pendampingan psikologis penyintas lebih lanjut. Fath, panggilan akrabnya juga menuturkan ada beragam metode dan instrumen dalam melakukan asesmen dalam situasi bencana. Salah satu instrumen yang bisa digunakan adalah orientasi komunal masyarakat setempat. Jenis ini mengungkap kapasitas masyarakat setempat untuk saling membantu dan menjaga di masa krisis pasca bencana. Sementara itu, salah satu peserta, Baiq Santi Ayu Safitri merasa senang bisa mengikuti pelatihan dasar psikososial ini hingga akhir. Banyak manfaat yang bisa ia serap, mulai dari menjadi relawan yang baik hingga teknik-teknik psychological first aid. “Apalagi para pemateri yang dihadirkan adalah mereka yang sudah berpengelaman terjun langsung dalam situasi bencana serta komunikatif sehingga membuat kami nyaman dalam mengikuti pelatihan,” ungkapnya menjelaskan. (wil)