UMM Selenggarakan Kompetisi Pencak Silat Nasional

Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses selenggarakan lomba pencak silat tingkat nasional secara virtual. Perlombaan yang diadakan pada Minggu (18/11) lalu ini disiarkan secara live streaming melalui kanal Youtube UMM Championship 2021. Adapun kejuaraan ini diikuti oleh puluhan atlet dari berbagai universitas yang ada di Indonesia. Ketua penyelenggara lomba, Rafif Naufal Sembiring mengatakan bahwa persiapan perlombaan ini berlangsung cukup singkat. Mereka hanya membutuhkan waktu persiapan kurang dari satu bulan. Dalam rentang waktu tersebut, tim panitia berhasil mempersiapkan lomba untuk dua kategori, yaitu kategori tunggal putra dan putri serta kategori beregu. “Awalnya kami sempat pesimis bahwa lomba ini akan diikuti oleh banyak tim. Pasalnya lomba ini dipersiapakan hanya dalam waktu 28 hari. Meski begitu, kami bersyukur dalam waktu yang relatif singkat ada 20 universitas yang mendaftarkan diri baik di kategori tunggal maupun beregu,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum tersebut. Lebih lanjut, Rafif panggilan akrabnya menceritakan bahwa panitia sempat mengalami kendala pada pemilihan juri. Awalnya tim panitia ingin meminta juri dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pusat. Namun karena agenda yang berdekatan dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) akhirnya tim juri di ganti dengan IPSI Kota Malang. “Kami sempat terkendala ketika mengajukan juri ke IPSI Jawa Timur. Hal ini terjadi karena para juri di IPSI pusat baru saja merampungkan penjurian di PON. Akhirnya, karena waktu semakin menipis, kami akhirnya meminta juri dari IPSI Kota Malang,” ungkap mahasiswa asal Medan itu. Di akhir wawancara, Rafif mengaku bersyukur bahwa kompetisi ini di sambut baik oleh berbagai kalangan. Meski proses persiapannya yang singkat, kompetisi pencak silat ini dapat berjalan dengan lancer dan tanpa kendala berarti. Pada kejuaraan tersebut, prestasi membanggakan ditorehkan oleh perwakilan Kampus Putih UMM. Mereka mampu menjadi juara umum pertama dengan perolehan medali yang dicapai. Di antaranya empat medali emas, dua medali perak, serta dua buah medali perunggu. “Saya mengucapkan terima kasih pada para panitia yang sudah bertugas dengan sangat baik. Tentu, masih banyak aspek yang harus diperbaiki. Dengan begitu, kejuaraan selanjutnya bisa memberikan hasil yang lebih positif. Kami juga berharap gelaran UMM Championship utamanya pencak silat bisa menjadi kegiatan tahunan. Semoga dari persaingan di kompetisi ini, muncul atlet-atlet yang bagus dan profesional,” tandasnya mengakhiri. (syi/wil)

Dosen-Mahasiswa UMM Tulis Buku Kaji Pembelajaran Alternatif

Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) terus mendorong dosen dan mahasiswanya untuk mengembangkan literasi. Kali ini, beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi UMM bersama-sama menyusun buku dengan judul “Mencari Pedagogi Kritis”. Buku ini telah dirilis pada Senin (15/11) lalu. Ahmad Sulaiman, S.Psi., M.Ed. sebagai inisiator  menceritakan bahwa buku ini bermula dari acara bedah buku di Forum Baca Kritis, komunitas yang ia rintis. Adapun buku yang dibedah pada saat itu adalah buku berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paul Freire. Hasil dari rentetan diskusi-diskusi tersebut, munculah ide unutk menuliskan refleksi pedagogi kritis. Kemudian kumpulan tulisna tersebut dijadikan satu menjadi buku. “Tulisan-tulisan yang terkumpul tidak terbatas dari kalangan dosen saja. Adapula beberapa mahasiswa yang memberikan kontribusi tulisan,” tambahnya. Humada, pangilan akarabnya kembali menjelaskan bahwa buku ini bertujuan untuk mempopulerkan model pembelajaran pedagogi kritis. Model ini adalah alternatif pembelajaran yang memanusiakan para peserta didik. Juga mendorong mereka untuk aktif dalam pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Hal lain yang ada dalam buku ini adalah bagaimana menentukanan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sekitar. “Pedagogi kritis adalah model pembelajaran alternatif yang memanusiakan peserta didik dan mendorong untuk aktif pada kehidupan sekitar, sehingga mampu menciptakan solusi dan menumbuhkan rasa empati,” pungkasnya. Di samping itu, tujuan lain buku ini adalah meluruskan makna dan pengertian dari pedagogi kritis. Mengingat makna yang selama ini tersebar di dunia maya berbeda dengan pengertian pedagogi kritis secara autentik. Dalam dunia maya, pedagogi kritis dipahami sebagai model pendidikan kritis terhadap kekuasaan. Menurut Humada perlu adanya pelurusan makna terkait pedagogi kritis ini. Dosen kelahiran Surabaya ini kembali menjelaskan bahwa kendala utama adalah  memastikan tulisan tetap pada jalur yang mengkaji pedagogi kritis. Menurutnya, ada beberapa tulisan yang sedikit melenceng dari bahasan dan topik utama. Sehingga perlu adanya proses penyuntingan maksimal sembari memberi kritik dan saran pada penulis. Lebih lanjut, Humada mengungkapkan bahwa buku ini adalah karya pertama dari proyek pedagogi kritis, yang rencananya akan dialnjutkan perilisan buku kedua buldan depan. Ia berharap karya ini bisa menginspirasi dosen, mahasiswa, serta masyarakat luas untuk bisa menulis buku sendiri. “Tentu dengan adanya buku ini, saya berharap semakin meningkatnya minat mahasiswa dan dosen untuk menulis,” jelas Humada mengakhiri. (haq/wil)

FPP UMM-Moodco Kerjasama Buka Kelas Profesional Kakao

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meresmikan Centre of Excellence (CoE) baru. Kali ini, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) menggaet PT. Kakao Bhineka Sejahtera (Moodco) untuk membuka kelas profesional kakao di prodi Ilmu Teknologi Pangan. Kerjasama tersebut tertuang dalam agenda memorandum of agreement (MoA) antara kedua belah pihak pada Rabu (1/12) lalu. Kemudian, adapula kuliah tamu terkait kakao yang diperuntukkan untuk para mahasiswa baru teknologi pangan. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengungkapkan bahwa masing-masing prodi di UMM memang diharuskan membuka kelas profesional dengan berkolaborasi bersama dunia industri. Pemilihan sebutan ‘sekolah’ dibandingkan ‘konsentrasi’ juga memiliki alasaan khusus. “Jika menggunakan sebutan konsentrasi, hanya aka nada mahasiswa ITP UMM saja di dalamnya. Berbeda jika kita menggunakan sebutan sekolah. Mahasiswa selain dari prodi ITP bisa turut serta. Begitupun dengan mahasiswa di luar Kampus Putih UMM,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi FPP yang telah membangun ekosistem yang berorientasi pada entrepreneurship. Sebelumnya, FPP UMM sudah mendirikan beberapa CoE, mulai dari sekolah unggas, ruminansia, hingga sekolah udang. Kelas-kelas ini adalah fasilitas pendidikan yang juga sarana untuk menanamkan kompetensi kewirausahaan yang akan dimiliki para mahasiswa. “Kami ingin agar nanti pada tahun 2022, setiap prodi sudah memiliki CoE di berbagai bidang. Tidak hanya satu tiap prodi, tapi bisa lebih dari itu sehingga akan banyak opsi kelas profesional yang bisa diikuti. Baik oleh teman-teman mahasiswa UMM maupun mahasiswa lain,” imbuh Fauzan. Sementara itu, Dosen Teknologi Pangan Hanif Alamudin, S.Gz. M.Sc. menjelaskan bahwa akan ada beberapa kegiatan besar yang akan dilangsungkan. Pertama, yakni kelas profesional kakao yang bisa diikuti oleh para mahasiswa. Kedua, mahasiswa juga bisa melakukan riset bersama dosen, khususnya dalam pengembangan kakau dan produl turunannya. “Diharapkan riset ini bisa memberikan manfaat dengan menciptakan inovasi produk. Kemudian juga hilirisasi penelitian terkait kakao serta rencana untuk membentuk sentra kakao di masa depan,” ungkap Hanif. Pemilihan CoE kakao juga bukan tanpa alasan. Menurut Hanif, Indonesia adalah penghasil coklat biji kakao nomor enam se-dunia. Sementara untuk produk kakao dan turunannya, Indonesia menempati posisi ketiga. Maka pengembangan kakao memiliki potensi yang sangat bagus. Sayangnya, saat ini kakao produksi nusantara tidak bisa bersaing dengan kakao-kakao lain di level internasional. “Maka prodi membaca adanya peluang bagi saudara-saudara mahasiswa untuk berpartisipasi memajukan industry kakao. Salah satu caranya dengan menyelenggarakan keals profesional yang dimulai sejak hari ini,” tuturnya. Pada kesempatan itu, adapula kuliah tamu yang diisi oleh dua pemateri dari masing-masing pihak. Satu di antaranya disampaikan oleh Lois Merry Sujiati Wijianto, S.T., owner dari Moodco. Ia menjelaskan mengenai wawasan dan pengetahuan kakao serta prospek pengembangannya di Idndonesia. Sementara Dr. Ir. Damat, M.P. IPM dan Prof. Dr. Ir. Noor Harini, M.S. memberikan materi mengenai gambaran umum prospek prodi teknologi pangan untuk mahasiswa baru. (wil)

Permudah Mobilitas, UMM Sediakan Mobil Golf di Area Kampus

Dalam rangka memudahkan mobilitas para sivitas akademika, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyediakan fasilitas mobil golf bertenaga listrik sebagai sarana transportasi umum. Fasilitas ini sudah bisa dinikmati oleh mahasiswa, pegawai, dosen bahkan juga tamu sejak Selasa (16/11) lalu. Pengadaan ini tidak lepas dari adanya berbagai fakultas dan laboratorium yang dimiliki oleh UMM. Meski demikian, transportasi ini baru bisa dinikmati di kampus tiga UMM yang berlokasi di Jalan Raya Tlogomas No.246 Malang. Kepala Urusan Transportasi dan Kendaraan UMM Karianto mengatakan bahwa mobil golf ini berusaha memudahkan para sivitas akademika untuk sampai di tujuan dengan lebih cepat dan efisien. “UMM memiliki lima unit mobil golf yang siap sedia beropreasi. Tiga unit dapat menampung empat penumpang sementara dua unit lainnya mampu menampung enam penumpang. Jika digunakan semua sekaigus, akan mampu menampung 24 penumpang sekali jalan. Kami beroperasi setiap hari senin sampai jumat selama dua sesi yaitu, jam 09.00 -11.00 dan jam 13.00-15.00,” jelas Karianto. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa untuk saat ini ia membatasi jumlah penggunaan mobil golf tiap sesi. Timnya hanya meluncurkan tiga unit tiap sesi agar mobil-mobil itu dapat digunakan secara bergantian. Di samping itu juga berjaga-jaga jika ada kendala atau kehabisan baterai. Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Keuangan, Kepegawaian, dan Umum (BKKU) Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menuturkan bahwa pada awalnya pembelian mobil ini ditujukan untuk kendaraan tamu VIP maupun rombongan dosen saat wisuda. Namun sekarang fungsinya ditambah sebagai transportasi umum yang menghubungkan titik satu dengan titik lain yang ada di Kampus Putih UMM. “Penggunaan mobil golf sebagai transportasi umum ini diharapkan dapat membantu aktivitas para sivitas akademika saat cuaca tak mendukung seperti sekarang. Selain dapat menjaga dari sinar matahari, transportasi ini juga dilengkapi dengan enclosure yang dapat melindungi penumpang dari hujan,” ungkap dosen Program Studi Akuntansi tersebut. Selain itu, Juanda sapaan akrabnya, mengatakan bahwa penggunaan mobil golf sebagai transportasi umum ini berguna untuk menyongsong era Energy Baru dan Terbarukan (EBT). Ia berharap area kampus akan semakin ramah lingkungan dengan berkurangnya polusi di dalam kampus. Hal ini selaras dengan visi misi kampus UMM yaitu green and clean kampus. “Kami berharap masyarakat, terutama civitas UMM semakin akrab dengan transportasi listrik. Selain itu, besar harapan kami bahwa kedepannya mahasiswa UMM mampu merancang serta menciptakan mobil-mobil dengan menggunakan EBT seperti mobil golf ini,” pungkasnya di akhir wawancara. (syi/wil)

Bela Negara FPP UMM Dorong Maba Pahami Kebhinnekaan dan Pola Digital

Rangkaian panjang Diklat Bela Negara Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhirnya berakhir pada Sabtu (20/11). Ratusan mahasiswa baru dilatih untuk menguatkan fisik dan mental agar dapat melewati perkuliahan dengan maksimal. Selama enam hari, para mahasiswa baru diharuskan menginap di Pusat Pendidikan Arteri Pertahanan Udara (Pusdik Arhanud). Rangkaian acara resmi diakhiri dengan upacara penutupan yang khidmat. Adapun Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, ST. MT. didapuk menjadi inspektur upacara. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) dan Diklat Bela Negara memiliki makna yang luar biasa. Salah satunya agar mahasiswa dapat mengetahui, memahami serta menumbuhkan kesadaran akan kebhinekaan. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan sudah mengenal dan menerapkan nilai nilai dari empat pilar Indonesia. Di antaranya Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. “Pada agenda bela negara ini, saudara-saudara juga sudah diberikan materi tentang nusantara serta bagaimana pemuda menghadapi tantangan zaman. Semua itu disiapkan agar saudara-saudara bisa menyongsong masa depan dengan baik,” tuturnya. Nur Subeki, panggilan akarabnya, juga menyampaikan bahwa adanya Covid-19 telah mengubah pola kehidupan. Hal serupa juga mengakibatkan cepatnya impelemntasi revolusi industri 4.0 dengan pola-pola digitalnya. Beberapa pola yang Nur Subeki sampaikan antara lain internet of thing dan remote controlling technology. Di samping itu, belakangan juga muncul pola-pola digital farming serta artificial intelligent (AI).  “Mahasiswa baru harus segera berbenah dan menyiapkan diri. Memahami berbagai pola digital yang semakin ke sini semakin banyak. Setlah itu, memanfaatkannya untuk menciptakan inovasi-inovasi solutif di tengah masyarakat nanti,” tambahnya. Selain memahami pola digital, Nur Subeki juga menuturkan bahwa menjadi seorang pemimpin juga harus menguasai 5C. Pertama, communication yakni kemampuan untuk bisa berinteraksi dengan baik sehingga mampu memunculkan kesempatan-kesempatan. Kemudian kemampuan critical thinking dan creative and innovative. Ia mengatakan bahwa berpikir kritis akan memberikan jalan keluar dari sbeuah masalah, sementara kreativitas akan memberikan hal-hal baru yang bisa membantu masalah terkait. “Dua yang terakhir yakni collaboration dan confindence. Maka, gantungkan cita-cita saudara setinggi langit dan bangunlah tangga untuk menggapainya. Ingatlah semboyan Kampus Putih ‘Student Today, Leader Tomorrow’,” jelasnya mengakhiri. (wil)

E-Sport UMM Gelar Kejuaraan Mobile Legend Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya mendorong mahasiswanya untuk mengembangkan diri dalama spek akademis. Kampus Putih juga menyediakan fasilitas dalam aspek non-akademis. Hal tersebut dibuktikan dengan event UMM Championship Mobile Legend Bang-Bang (MLBB) 2021, yang diadakan oleh Mobile Legend Club-ID (MLCID) UMM. Perlombaan ini diselenggrakan pada Jumat (19/11) lalu dan dilaksanakan secara daring. Adapun siaran pertandiangannya dapat ditonton di platform YouTube dan aplikasi Zoom. Nizar Muttaqin selaku ketua MLCID UMM mengatakan bahwa event UMM Championship ini menjadi ajang kejuaraan E-Sport tingkat nasional pertama yang mereka selenggrakan. Inisiasi kejuaraan ini berawal dari pihak kemahasiswaan yang terus mendorong agar segera melangsungkan kejuaraan e-sport.  “Awalnya, pihak Kemahasiswaan UMM yang terus mendorong kami untuk melangsungkan kompetisi di cabang e-sport. Apalagi cabang ini semakin ke sini semakin diperhitungkan” tuturnya menjelaskan. Nizar, sapaan akrabnya, memaparkan bahwa kejuaraan ini diikuti 56 tim dari universitas se-Indonesia. Sistem yang diberlakukan adalah knockout, sehingga sekali tim kalah maka ia sudah tersingkir dari perebutan juara. Adapun pada babak penyisihan dengan mekanisme sekali kemenangan sementara semi final harus meraih dua kemenangan. Terakhir, tiap tim harus mendapatkan tiga kemenangan dalam babak final untuk bisa menjadi juara. Ditanya ihwal kendala, ia mengaku bahwa kurangnya angota menjadi salah satu yang mereka hadapi. Meski pemain Mobile Legend di kalangan mahasiswa cukup banyak, namun hanya segelintir yang menggelutinya dengan serius. Apalagi club ini baru berdiri dua tahun lalu, tepatnya pada 2019.  “Untuk mengatasi kendala tersebut, kami akhirnya membuka open recruitment sebagai panitia. Sehingga SDM dapat mencukupi dan membuat kejuaraan ini lebih lancar dan terorganisir,” tutur Nizar. Meski banyak tantangan saat pelaksanaan, kejuaraan UMM Championship MLBB ini mendapat respon baik dari peserta universitas lain. Disampaikan Nizar, jika ada kompetisi MLBB lagi di UMM, mereka akan dengan semangat mendaftar dan bersaing.  Adapun juara pertama lomba tersebut dimenangkan oleh Univeristas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya. Juara kedua diraih oleh Univeristas Muhammdiyah Riau (UMRI) dan posisi ketiga dimenangkan oleh tim UMM. Mahasiswa Prodi Informatika UMM ini berharap nantinya e-sport di kalangan mahasiswa bisa berkembang, utamanya di Kampus Putih UMM. Pun dengan perkembangan cabang e-sport lainnya sehingga tidak terbatas pada MLBB saja. “Semoga dari sini kami bisa melahirkan atlet-atlet e-sport ptofesional yang handal,” pungkasnya. (haq/wil)

Tim UMM-SD Aisyiyah Kota Malang Tampilkan Kisah Wendit ke Korea Selatan

Menandai satu tahun kolaborasi, SD Aisyiyah Kota Malang dan Dajeong Primary School Korea Selatan merayakan dengan cara yang berbeda. Melalui pertemuan secara daring, kedua sekolah ini sukses menyelenggarakan Virtual Drama Performance yang mengusung tema kearifan lokal dari masing-masing negara pada Senin (22/11) lalu. Didampingi oleh tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), SD Aisyiyah Kota Malang berhasil mewujudkan pementasan tanpa harus abai pada protokol kesehatan saat pandemi COVID-19. Dituturkan oleh Rina Wahyu Setyaningrum, Ketua Program Pengabdian, pertunjukan Virtual The Tale of Wendit merupakan pertunjukan yang lain dari yang lain. Hal itu dikarenakan Sebagian pemeran berada di rumah masing-masing. Tidak seperti pertunjukan biasanya yang harus berada di satu lokasi. “Pertunjukan ini hampir saja batal karena PPKM yang tidak mengizinkan siswa belajar di sekolah dan berkumpul untuk melaksanakan latihan. Namun, dengan mengadaptasi pertunjukan secara langsung di panggung, para pemain dapat dikondisikan dengan tetap menjalankan perannya dan mementaskannya dalam panggung pertemuan Zoom,” tuturnya. Agenda ini juga mendapatkan apresiasi dari perwakilan guru Dajeong Primary School, Korea Selatan. Eujin menyampaikan bahwa Virtual Drama Performance ini merupakan sebuah kesempatan yang baik bagi para siswa. Tidak hanya bagi siswa-siswi Korea selatan saja, namun juga seluruh dunia karena dapat saling bertukar informasi tentang budaya dari masing-masing negara. “Ini adalah kesempatan yang sangat menarik untuk siswa kami. Mereka sangat tidak sabar untuk melihat bagaimana budaya-budaya negara lain, khususnya Indonesia yang teman-teman tunjukkan dalam panggung Zoom,” jelasnya. Penampilan yang telah disiapkan sejak bulan Oktober ini merupakan sebuah masterpiece yang memberikan pengalaman belajar hal baru bagi para pemeran drama. Kegembiraan akan hasil kolaborasi ini juga disampaikan oleh Bayu Hendro Wicaksono, ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. “Kami bangga akan kolaborasi dosen, alumni, dan mahasiswa ini. Ke depan, kegiatan semacam ini harus sering dilaksanakan untuk menunjukkan bahwa prodi Pendidikan Bahasa Inggris berkomitmen untuk memberikan manfaat bagi pendidikan. Selain itu juga untuk membangun komunikasi yang erat antara antara prodi dengan alumni,” tandasnya. Selain penampilan drama yang dipersembahkan oleh siswa-siswi SD Aisyiyah Kota Malang, para siswa di Dajeong Primary School juga menampilan pertunjukan drama yang menarik. Mereka melakukannya secara live saat Zoom Meeting dilangsungkan. (wil)

Agribisnis UMM Dorong Petani Milenial Manfaatkan Potensi Pertanian Indonesia

Peringati dies natalis yang ke 36 tahun, prodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar webinar nasional bertema Potensi Sektor Pertanian dan Peran Pemuda pada Pertumbuhan Ekonomi Nasional. Webinar yang berlangsung pada Sabtu (20/11) ini dihadiri oleh 485 mahasiswa dari dalam maupun luar UMM baik secara daring maupun luring. Pada sambutannya, Wakil Rektor I UMM,  Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengucapkan selamat kepada Program Studi (Prodi) Agribisnis UMM atas capaian-capaian yang telah diraihnya selama 36 tahun berdiri. Ia juga mendukung penuh terselenggaranya acara webinar ini serta berharap event ini dapat menambah pengetahuan para mahasiswa terhadap potensi pertanian. Utamanya dalam upaya untuk menumbuhkan ekonomi nasional. “Saya tentu bangga terhadap Prodi Agribisnis, baik penyelenggaraan webinar ini maupun capaian-capaian prestasinya. Terbaru, Agribisnis juga telah mendapat sertifikasi akreditasi unggul. Ini tentu berkat kerja keras dan kerja kolektif teman-teman Agribisnis yang senantiasa berusaha meningkatkan kualitas sampai tahap tersebut,” imbuhnya menerangkan. Di lain sisi, Kepala Pusat Penelitian & Pengembangan (Puslitbang) Tanaman Pangan Dr. Ir Priatna Sasmita, M.Si., mengatakan bahwa presiden telah menyampaikan beberapa arahan dalam pengembangan sektor pertanian. Arahan tersebut juga meliputi pengolahan produk pertanian. Sehingga nantinya diharapkan bisa memberikan nilai tambah pada produk yang dijual. “Untuk mendukung program tersebut, diperlukan skema pembiayaan dan pendampingan yang intensif. Pendampingan itu mencakup pengelolaan  keuangan, aspek kemasan, pemasaran, serta dukungan Kredit Usaha Rakyat  (KUR). Presiden juga mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  (UMKM) yang bergerak di sektor pertanian untuk melakukan kolaborasi dengan pihak lain. Dengan begitu, mereka bisa membentuk usaha yang lebih besar,” ujar Priatna. Lebih lanjut, Priatna mengatakan bahwa Indonesia memiliki beberapa potensi untuk mendukung sektor pertanian di masa depan. Pertama adalah ketersediaan lahan pertanian dan bonus demografi yang melimpah, di mana generasi muda dapat diarahkan menjadi petani milenial. Selanjutnya, Petani milenial diharapkan mampu berinovasi serta memiliki gagasan kreatif sehingga dapat bersaing di bidang teknologi pertanian. “Dengan potensi yang ada, sangat disayangkan para generasi muda justru tidak ingin bekerja di sektor ini. Oleh hal tersebut, kami sedang mengupayakan untuk mendorong pertumbuhan dan pemberdayaan 2,5  juta petani milenial. Selain itu kami juga mengembangkan smart farming, food estate, korporasi petani, dan digitalisasi pertanian demi kemajuan bangsa,” pungkasnya. (wil)

Mahasiswa Baru UMM Sukses Juara LKTII Nasional

Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi yang membanggakan. Kali ini kabar bahagia datang dari tiga mahasiswa baru Fakultas Kedokteran (FK) yang berhasil menyabet juara tiga dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Islam (LKTII) Nasional. Kompetisi ini diadakan secara daring oleh Universitas Airlangga (Unair) pada Sabtu (20/11) lalu. Salah satu anggota tim, Yasmin Zakiyyatuzzahra, mengatakan bahwa tulisan ilmiah yang diikutsertakan oleh timnya membahas terkait gagasan baru vaksinasi keliling. Selain untuk mengurangi kerumunan orang ketika antre vaksin, cara ini dirasa ampuh untuk menambah silaturahmi antara tenaga kesehatan dan juga masyarakat. “Kami mengerjakan tulisan ini dalam waktu yang lumayan singkat, kurang dari dua minggu. Untuk bagian abstrak kami dapat menyelesaikannya dalam waktu tiga hari. Sementara untuk bagian isi butuh waktu sekitar satu minggu,” ungkap mahasiswa asal Malang  tersebut. Meskipun dapat menyelesaikan tulisan ilmiah secara cepat, Yasmin, sapaan akrabnya mengaku kesulitan dalam proses pengerjaannya. Sebagai mahasiswa baru yang masih beradaptasi dengan dunia perkuliahan, membagi waktu lomba dan kuliah dirasa cukup sulit. Selain itu, kompetisi ini juga pengalaman pertamanya mengikuti lomba karya tulis ilmiah. “Awalnya saya iseng mengikuti kompetisi ini karena waktu luang yang banyak sebelum dimulainya masa perkuliahan. Saya sama sekali tidak menyangka kalau abstrak yang tim kami kirimkan akan lolos. Kami sempat berpikir untu berhenti saja karena jadwal perkuliahan yang smeakin padat. Namun pada akhirnya saya dan teman-teman tetap melanjutkan karena tidak mau mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah,” ujar Yasmin. Selain Yasmin, tim ini juga dianggotai oleh Amelia Putri Nasution dan Kanina Alma Dystanti. Yasmin bersyukur timnya dapat memperoleh juara tiga meskipun ini baru pertama kalinya mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Jika nantinya diberi kesempatan, Yasmin dan teman satu timnya ingin merealisasikan gagasan vaksinasi keliling ini ke masyarakat luas sehingga semakin banyak orang yang mendapatkan manfaatnya. “Alhamdulillah, kerja keras tim kami terbayar dengan baik. Saya berterimakasih kepada para anggota tim karena tidak menyerah untuk terus mengikuti perlombaan ini. Raihan juara ini membuat kami semakin terpacu untuk mengikuti berbagai perlombaan di masa yang akan datang. Tentu kemenangan ini kami harap bisa menginspirasi teman-teman lain untuk berprestasi,” tuturnya di akhir wawancara. (wil)

Mengenang Sang Guru Bangsa, UMM Launching 3 Buku tentang Malik Fadjar

Memperingati Hari Guru Nasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan refleksi dengan mengenang Prof. H. Malik Fadjar, M.Sc., Sang Guru Bangsa. Diikuti oleh dosen dan karyawan secara daring dan luring, Kampus Putih turut menghadirkan pembicara yang merupakan kerabat dan saksi hidup kiprah Malik Fadjar pada Kamis (25/11) lalu. Menariknya, dalam gelaran tersebut juga ada pelucuran tiga buku yang membahas Malik Fadjar dan juga launching lagu ‘Ampunkanku Ya Rabbi’ karya warga binaan Lapas Perempuan Kota Malang. Hadir dalam acara itu Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Ia mengaku bahwa telah mengetahui Malik sejak kelas 3 SMP. Diceritakan Muhadjir, Malik sempat ingin pergi ke Jakarta namun diyakinkan untuk berkiprah di UMM. “Bersama salah satu teman, kami berhasil meyakinkan Pak Malik bahwa dia bisa menjadi orang hebat meski berada di Malang, tepatnya berjuang membangun UMM,” tuturnya. Sayangnya, Malik waktu itu belum memiliki kartu anggota Muhammadiyah. Sehingga tidak bisa mencalonkan diri menjadi rektor UMM. Muhadjir mengatakan bahwa ia sampai bersusah payah ke Yogyakarta untuk mengurusnya. “Berbagai pengalaman yang telah dilalui oleh Pak Malik menjaid pengingat bagi kita untuk terus meneladani kehumanisan dan pandangan-pandangan yang luar biasa,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengatakan bahwa pada agenda ini para peserta bisa memahami pemikiran Malik. Apalagi dengan hadirnya berbagai narasumber sehingga bisa memahami dengan beragam perspektif. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Si mengatakan bahwa agenda ini merupakan hal yang penting. Apalagi jika para peserta dan tamu ingin menjadi manusia yang sukses. Maka, Malik Fadjar adalah sosok yang tepat karena telah sukses dalam aspek keluarga, perjuangan politik, dan juga dalam dunia pendidikan Imam menyampaikan hal menarik bagaimana Malik Fadjar sangat menghargai dan menghormati istrinya. Ia selalu berdiskusi terkait keputusan-keputusan yang ia buat. Bakan masalah-masalah pelik yang sedang Malik hadapi. “Kehidupan Pak Malik yang lapang dan lancar tentu salah satunya ditopang oleh doa-doa, puasa dan juga tahajud dari Bu Malik. Tidak seperti istri Abu Lahab yang malah mengompori, ketika Pak Malik pulang dengan kepenatan, Bu Malik hadir untuk mendinginkan,” tuturnya. Ia juga mengenang bagaimana Malik tidak suka sama sekali dengan budaya ‘titip-menitip’. Mereka yang dititipkan adalah mereka yang bermasalah. Jika orang yang bermasalah dimasukkan ke universitas, maka tinggal menunggu waktu saja menjadi perguruan tinggi yang bermasalah. “Dulu, Pak Malik juga berpesan bahwa dosen itu memberikan cahaya. Selalu terang di berbagai aspek seperti agama, ilmu dan lainnya. Jika seorang dosen gelap, maka akan melahirkan kegelapan. Sebaliknya, jika terang, akan menghasilkan cahaya terang,” tegasnya. Dalam rangkaian peluncuran buku, Prof. Dr. Siti Zuhro, MA, peneliti BRIN mengungkapkan bahwa Malik sudah menjadi seseorang yang pentig dalam dunia pendidikan. Semua sepak terjang Malik ketika menjadi rektor hingga menteri senantiasa memberikan teladan. “Nanti mungkin bisa kita ajukan menjadi pahlawan yang concern dalam bidang pendidikan,” tuturnya. Ia teringat tatkala Malik menghubunginya untuk mengajukan permintaan buku untuk rumah baca yang didirikan Malik. Saat ini, rumah baca itulah yang menjadi inspirasi Siti untuk menggalakkan Desa Cerdas di berbagai wilayah. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Setya Yuwana, M.A. menerangkan terkait kebijakan-kebijakan yang luar biasa ketika Malik menjadi Menteri. Ada tiga hal utama yang Malik inisiasi yakni otonomi pendidikan, kurikulum berbasis kompetensi dan Human Investmen. “Kebijakan otonomi pendidikan misalnya yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengembangkan. Pak Malik Fadjar sudah meletakkan dasar-dasar kuat bagi pendidikan di Indonesia,” ungkap Setya. Kesan yang tak jauh berbeda disampaikan Prof. Dr. Franz Magnis Suseno. Bertemu sejak 30 tahun lalu, ia melihat Malik Fadjar sebagai sosok intelektual yang menyenangkan dengan senyuman. Malik Fadjar juga senantiasa mementingkan multikulturalisme dan menghadapi perbedaan dengan bijak. “Terimakasih Malik Fadjar atas persahabatan yang telah kita rajut dan sudah mampir di kehidupan saya,” pungkas Franz. (wil)