Syafiq Rizqy, Mahasiswa UMM Penulis Buku Best Seller

Galau itu bisa menjadi sebuah karya, jangan galau terus. Itulah yang diucapkan Syafiq Rifqy Zakin mahasiswa Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam acara UMM Talks. Adapun UMM Talks mengangkat tema “Merawat Motivasi Self-Improvement lewat Buku” yang dilaksanakan secara live platform YouTube UMM. Acara ini dilaksanakan pada tanggal (19/11), hari Jum’at lalu. Syafiq, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa buku berjudul “Pura-Pura menjadi Manusia” adalah karya terbarunya sekaligus buku keenam yang sudah diterbitkan. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa ada perbedaan buku jenis ini di masa dahulu dan sekarang. Dahulu, buku-buku sejenis menyediakan motivasi kuat sebagai manusia. “Sedangkan self improvement masa sekarang lebih kepada bagaimana menyadarkan akan diri sendiri. Perbedaan-perbedaan inilah yang ingin saya coba tuangkan dalam buku ini,” imbuhnya. Syafiq kembali menerangkan bahwa lima buku yang a garap sebelumnya adalah novel dengan genre romance. Maka, di buku keenamnya ini dia memberanikan diri untuk menulis buku self improvement. Ia juga mengaku bahwa pada awal-awal penyusunan, penerbit memberikan beberapa buku referensi sebagai acuan untuknya dalam menulis. Selain itu, ia juga diharuskan untuk melakukan riset agar tulisan yang dihasilkan bisa lebih maksimal. Ia melakukan interview kepada beberapa informan yang memiliki perbedaan latar. Hal itu demi memperkaya bahan dan informasi serta memperluas bahasan. Ditanya ihwal tentang motivasinya dalam menulis, ia bercerita bahwa semua karyanya berawal dari salah satu novel yang ia baca. Buku tersebut berjudul ‘Negeri Lima Menara’ karya Ahmad Fuadi. Buku tersebut mengisahkan satu kelompok santri yang berjuang untuk mendapatkan ilmu dan wawasan baru hingga emnggapai cita-cita yang diimpikan. Hal itu selaras dengan apa yang Syafiq rasakan ketika menempuh pendidikan di Pondok Pesantren ar-Rahmah, Malang. Hal itu membuatnya sangat khidmat ketika membaca satu persatu halaman buku tersebut. Pun ia mengagumi sosok Ahmad Fuadi sebagai salah satu penulis favoritnya. “Saya kira enam tahun pendidikan di pesantren juga turut andil dalam membentuk jati dirinya. Begitupun dengan keahliannya dalam menulis buku dan melahrikan karay-karya menarik,” ungkapnya. Selain menulis buku, Syafiq kini juga aktif di berbagai media sosial. Ia mengunggah konten-konten yang memberikan beragam quotes menarik di akunnya @sdavincii. Utamanya dalam hal self improvement dan romance, sesuai dengan tulisan yang sudah ia susun dalam buku-bukunya. (wil)

Raih AKU 14 Kali Berturut-turut, UMM Jadi Kampus Swasta Paling Unggul

Untuk keempat belas kalinya secara berturut-turut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali sukses meraih penghargaan Anugerah Kampus Unggulan (AKU) 2021 dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur (Jatim). Capaian membanggakan itu diterima pada agenda Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur di Grand Mercure Malang, Rabu (24/11). Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. merasa bersyukur Kampus Putih bisa kembali memenangkan penghargaan ini. Ia mengatakan bahwa prestasi ini merupakan bentuk konsistensi dari sivitas akademika UMM untuk terus berkomitmen akan kualitas pelayanan pendidikan. “Prestasi ini tidak boleh berhenti pada raihan ini saja, tetapi harus ditingkatkan kembali. Karena masyarakat membutuhkan pembuktian kualitas, karya nyata, dan tentu contoh konkret. Inilah yang kini menjadi tantangan besar perguruan tinggi, khususnya Kampus Putih UMM,” ungkap Fauzan. Pada kesempatan yang sama, Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. secara khusus memberikan apresiasi kepada UMM yang sukses memperoleh penghargaan AKU 14 kali berturut-turut. Ia berharap UMM bisa terus meningkatkan kinerja dan mendapatkan beragam penghargaan bergengsi lainnya. Tidak terbatas di tingkat nasional saja, tapi juga level internasional. “Saya kira UMM pantas mendapatkan penghargaan kampus ini. Tentu target UMM selanjutnya adalah prestasi di tingkat yang lebih tinggi serta mampu memberikan kebermanfaatan dalam skala yang lebih luas,” harap Soeprapto. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. yang mewakili rektor menerima penghargaan AKU, turut mengapresiasi capaian tersebut. Menurut Syamsul, UMM dianggap telah mampu menjaga mutu pendidikan selama bertahun-tahun. “Tentu prestasi ini tidak lepas dari kerja keras kolektif yang telah diupayakan oleh kawan-kawan di UMM. kualitas ini akan senantiasa kami rawat demi keberhasilan lain di masa depan,” tuturnya menerangkan. Selain dinyatakan sebagai kampus terunggul Jatim 2021, Kampus Putih UMM juga berhasil meraih empat penghargaan kampus unggulan khusus lain. Kampus Putih menempati posisi pertama kategori sebagai universitas dengan Kinerja Kemahasiswaan Terbaik dan kategori Akselerasi Jabatan Akademik Terbaik. Di samping itu juga sukses dinobatkan sebagai kampus dengan Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Terbaik dan yang terakhir peringkat ketiga kategori Kualitas Pelaporan Terbaik. Sejauh ini, Kampus Putih UMM telah mendapatkan total tiga piala AKU Kartika. Untuk diketahui, Penghargaan Piala AKU Kartika tersebut diberikan kepada kampus yang telah meraih AKU selama empat tahun berturut-turut. Setelah UMM yang menempati posisi pertama kampus swasta paling unggul se-Jatim, ada lima kampus swasta lain yang menduduki posisi kedua hingga keenam. Secara berurutan, universitas tersebut di antaranya Universitas Surabaya, Universitas Kristen Petra, Universitas Katolik Widya Mandala, Universitas 17 Agustus Surabaya dan Universitas Islam Malang. (wil)

Mahasiswa UMM Juara Nasional berkat Inovasi Penyembuhan TBC

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harum di kancah nasional. Kali ini, M. Dodik Pastiyo, mahasiswa Profesi Ners UMM raih juara satu lomba essay pada event Nursing of Andalas. Adapun perlombaan tersebut diadakan oleh Universitas Andalas secara daring tersebut dilangsungkan sejak bulan Oktober dan berakhir pada Rabu (17/11) lalu. Ditanya ihwal kemenangannya, Dodik, sapaan akrabnya mengatakan bahwa topik yang ia ambil sesuai dengan tema utama event yaitu kesehatan paru. Lebih rinci, ia Menyusun tulisan dengan judul “Tuberculosis Patient Centered Care: Pengembangan Website-Aplikasi Terintegrasi sebagai Media Pemantauan Tenaga Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis”. Ia menjelaskan bahwa essaynya berisi terkait inovasi penyembuhan bagi pasien Tubercolusis (TB). Menariknya, upaya penyembuhan ini berbasis website dan aplikasi. Dodik memaparkan bahwa inovasi website-aplikasi ini nantinya memberikan pembinaan guna menyembuhkan pasien TB. Para penderita juga akan dimonitor langsung oleh tenaga kesehatan (nakes) melalui website dengan sistematika pengobatan selama enam bulan. Sementara aplikasinya khusus diberikan kepada pengidap TB Paru. mereka diharuskan mengirim laporan terkait proses pengobatannya. Jika tidak menyampaikan laporan, akan ada peringatan khusus yang dikirim oleh nakes melalui website. “Jadi para pasien khusus TB paru akan menggunakan aplikasi dalam mengirimkan laporan. Sementara nakes bisa melakukan pengawasan melalui websitenya. Dua platform ini terintegrasi untuk memudahkan monitoring para pasien TB,” imbuhnya. Selain itu, aplikasi ini juga dilengkapi dengan beberapa fitur lain yang turut membantu. Sebut saja fitur Ketahui Tubercolusis, Patuhi Pengobatan, Perawatan Merokok, Konseling Kesehatan, Latihan Nafas, Status Gizi dan Nutrisi. “Fitur-fitur ini diharapkan bisa memberikan terobosan untuk memantau dan menurunkan total pasieon TB. Apalagi masih banyak dari mereka yang merokok padahal kegiatan tersebut sangat berbahaya,” ujarnya menjelaskan. Dodik berharap ide yang ia tuangkan melalui essay tersebut bisa segera terealisasi. Tentu diawali dengan membangun kerja sama yang baik dengan beberapa pihak sehingga bisa diimplementasikan. “Inovasi ini juga sejalan dengan program Kementerian Kesehatan yakni Tuntas TB. Dengan begitu, kita bisa menekan angka pasien TB di Indonesia,” tuturnya mengakhiri. (wil)

Puluhan Penari Unjuk Kebolehan di UMM Championship Tari Tradisional

Rangkaian kompetisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Championship kembali bergulir. Kali ini Kampus Putih menggelar UMMC Tari Tradisional 2021 nasional yang dilaksanakan pada Minggu (21/11) lalu. Adapun formatnya masih dilakukan secara daring karena masih berada di situasi pandemi. Ketua pelaksana lomba tari, Sadida Faza Nur Syari’ah mengatakan ada lebih dari 20 tim yang turut serta untuk bersaing mendapatkan juara. Usai mendaftarkan tim, para peserta diminta menyusun video dan mengunggahnya di website agar nantinya bisa segera dilakukan penilaian. “Para peserta tidak hanya berasal dari universitas di pulau Jawa saja, ada juga yang berasal dari Sumatera bahkan Kalimantan. Ketika proses penjurian, mereka juga diundang hadir untuk mendengarkan komentar dan melihat sistem penilaian sehingga bisa transparan,” imbuhnya. Sasa, panggilan akrabnya menuturkan bahwa kompetisi ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan para anak muda akan budaya Indonesia, khususnya tari. Selain itu juga menjadi wadah bagi para peserta yang ingin mengembangkan minat, bakat serta karya meskipun masih di tengah pandemi. Ditanya ihwal penilaian, Sasa menjelaskan ada lima kriteria utama yang dinilai. Pertama, yakni wiraga yaitu penilaian berdasarkan harmoni dan kreativitas gerak, pengembangan pola lantai dan juga penampilan gerak penari. Kemudian adapula wirama yang melihat bagaimana ketepatan antara gerak dan musik. Ketiga, wirasa yang menilai keselarasan gerak tari, penjiwaan, penghayatan, dan ekspresi gerak dalam tari. “Adapula wirupa yang memperhatikan tata rias dan tata busana. Kemudian yang terakhir adalah kreativitas video. Para juri memberikan nilai terkiat bagaimana Teknik pengambilan video teaser serta proses editing,” imbuh Sasa. Mahasiwa Sosiologi tersebut menuturkan bahwa tidak ada Batasan atau syarat khusus bagi para peserta untuk menampilkan tarian apa. Pihak panitia membolehkan semua tari selama masih berada dalam wilayah tari tradisional. Para peserta juga diberikan kebebasan dalam berimprovisasi untuk memberikan keunikan tersendiri. Sasa berharap kompetisi tidak hanya dinilai sebagai ajang bersaing, tapi juga gelaran silaturahmi antar universitas agar bisa mengenal satu dengan lainnya. Ia berharap, budaya tari tradisional semakin dicintai, utamanya bagi para anak muda yang akan mengemban kepemimpinan di masa depan. “Tentu, melestarikan budaya adalah tugas kita para pemuda. Bisa dimulai dengan mencintai tari-tari tradisional atau bahkan juga memperagakannya,” pungkasnya (wil)

Mahasiswa BIPA UMM Asal Mesir Juara Vlog Bahasa Indonesia Nasional

Mahasiswa Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Lamees Ahmed Esmat, berhasil memperoleh juara dua pada kompetisi bahasa Indonesia ISS-UMIFEST 2021 kategori vlog. Acara yang diselenggarakan oleh Office of International Affairs (OIA) Universitas Negeri Malang (UM) itu mulai digelar sejak tanggal 30 Agustus 2021. Adapun pengumuman juara lomba untuk orang asing yang berstudi di Indonesia tersebut diumumkan pada Senin (08/11) lalu. Lamees, sapaan akrabnya, mengaku cukup kesulitan dalam persiapan lomba. Pasalnya, ia baru saja belajar bahasa Indonesia selama dua bulan. Ia mengatakan bahwa ia harus banyak melakukan beragam persiapan. Tidak terbatas pada aspek pengambilan video saja, tapi juga bagaimana berbicara Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ia bahkan harus menyiapkan diri selama satu setengah bulan. “Saya masih berada di tingkat awal dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Kosa kata bahasa Indonesia saya masih belum banyak. Sehingga saya cukup kesulitan ketika mempersiapkan teks untuk lomba ini. Oleh karena itu saya membutuhkan persiapan yang cukup lama. Belajar dan berdiskusi dengan teman saya yang sudah cukup baik berbahasa Indonesia,” ungkap mahasiswa asal Mesir tersebut. Lebih lanjut, Lamees menceritakan bahwa awalnya ia hanya ingin mempraktekkan pelafalan Bahasa Indonesianya yang masih kaku. Apalagi di posisinya sekarang yang masih di tingkat awal. Dalam mengolah teks vlog untuk dilombakan, Lamees di bantu oleh salah satu teman Mesirnya yang juga sedang mendalami bahasa Indonesia. “Meskipun sulit, saya mengerjakan vlog tersebut dengan senang dan bahagia. Apalagi ada banyak teman yang memberikan masukan dan bantuan. Pembelajaran di BIPA UMM juga sangat membantu saya dalam mengembangkan kosa kata bahasa Indonesia yang masih terbatas,” ungkap Lamees. Meskipun masih baru dalam belajar, nyatanya Lamees dapat mengalahkan berbagai peserta dari seluruh Indonesia. Hal itu tidak lepas dari kerja kerasnya untuk membuat video yang bagus. Lamees mengatakan bahwa ia senang dengan capaian yang sudah diraih. Ia ingin agar teman-teman lain yang sedang belajar bahasa Indonesia bisa semakin cinta dan bersemangat. “Saya semakin termotivasi untuk mengikuti berbagai kegiatan, utamanya perlombaan bahasa Indonesia. Saya yakin, kalau ada kompetisi lagi saya pasti bisa meraih juara pertama,” tuturnya di akhir wawancara. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Jadi Wakil 2 Joko Kabupaten Malang 2021

Bermimpi menjadi duta pariwisata sejak Sekolah Menengah Atas (SMA), Dimas Setyadi Putra berhasil menjadi wakil dua dalam ajang pemilihan Joko Roro Kabupaten Malang tahun 2021. Ajang bergegnsi ini diselenggarakan pada Rabu (10/11) di Shanaya Resort, Karangploso, Kabupaten Malang. Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengaku bahwa ia sempat merasa minder dengan peserta lain. Pasalnya, ia menjadi salah satu peserta terpendek saat pemilihan Joko Roro tersebut. Meski begitu, Dimas sapaan akrabnya, mengatakan bahwa ia tidak menyerah dan lebih menguatkan diri di bidang-bidang yang lain. Menurtunya, tinggi badan bukanlah suatu halangan untuk bisa meraih prestasi. “Tinggi badan saya 170 cm dan itu adalah tinggi minimum untuk mendaftar sebagai peserta Joko Roro. Meski sempat merasa rendah diri, saya berusaha mengunggulkan kemampuan saya di bidang lain. Sebagai mahasiswa Ilmu kesehatan, saya memiliki nilai lebih karena dapat memberikan edukasi terkait vaksinasi Covid-19 untuk membantu pulihnya pariwisata dan ekonomi di Kabupaten Malang,” ujar Mahasiswa asli Malang itu. Dimas kembali mengungkapkan bahwa pemilihan Joko Roro ini bukan event pemilihan duta pertama baginya. Sejak menempuh pendidikan strata satu (S1) di UMM, ia sudah aktif di berbagai organisasi seperti duta budaya malang dan duta anti narkoba. Sebelumnya, pada tahun 2020 Dimas juga terpilih menjadi lima peserta terbaik dalam  Pemilihan Duta Bahasa Jawa Timur beberapa waktu lalu. “Pengalaman-pengalaman tersebut sangat membantu saya dalam proses seleksi Joko Roro. Selama mengikuti tes wawancara, tes tulis, focus group discussion, dan presentasi program saya tidak mendapatkan kendala yang menyulitkan,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara tersebut. Ke depannya, Dimas bertekad untuk berusaha sekeras mungkin untuk lebih berusaha memperkenalkan wisata di kabupaten malang ke masyarakat luas. Disampaikan Dimas, para Joko Roro 2021 dan dinas pariwisata Kabupaten Malang juga telah bekerja sama untuk membuat berbagai program peningkatan pariwisata. Salah satunya yakni dengan memanfaatkan media sosial dan platform Youtube. “Selain itu, saat ini kita juga harus berfokus untuk memperbaiki berbagai pariwisata agar dapat dikunjungi dengan aman di kala pandemi. Saya harap akan banyak pemuda Malang yang bangga akan pariwisata di daerahnya masing-masing. Turut membantu perkembangan pariwisata serta promosi pariwisata lokal ke masyarakat luas,” tutur Dimas mengakhiri. (syi/wil)

Salvinia Salvy, Mahasiswa UMM Duta Lingkungan Kabupaten Malang

Kabar baik kembali datang dari Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini Salvania Salvy Prihanta, mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan (Fikes) UMM mendapatkan predikat sebagai Duta Lingkungan Kabupaten Malang di ajang Joko Roro 2021. Adapun babak grand final kompetisi Joko Roro ini dilaksanakan pada Rabu (10/11) lalu, bertempat di Shanaya Resort Karangploso, Kabupaten Malang. Ditanya ihwal hal tersebut, Salvi, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa sebelum terjun dalam kompetisi ia melakukan berbagai persiapan. Mulai mentoring, persiapan secara mental dan materi terkait pariwisata Kabupaten Malang. Ia juga menjelaskan berbagai seleksi yang harus dilewati hingga bisa mendapatkan predikat tersebut. Dimulai dengan tes tulis dan open interview, deep interview dan diskusi kelompok terpimpin, dan yang terakhir yakni presentasi wisata. Pada tahap terakhir, Salvi memilih kecamatan Dau untuk dipresentasikan. Ia menilai bahwa banyak destinasi wisata yang dikelola oleh masyarakat. Salvi juga menerangkan berbagai UMKM menarik milik warga setempat. “Tentu kami tidak hanya ingin mengembangkan wisata saja, tetapi juga usaha milik masyarakat yang memiliki potensi menjanjikan,” tegasnya. Setelah lolos tahap seleksi, ia harus mengikuti proses karantina selama satu bulan lebih yang tersebar di berbagai lokasi. Karantina tersebut tidak hanya dilakukan secara luring, tapi juga dilakukan secara daring. Pada format luring, para peserta diajarkan materi terkait bagaimana mempromosikan wisata dan membuat video. Sementara untuk yang daring lebih berfokus pada pendalaman materi yang sudah diberikan. “Saya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan koneksi. Hal ini tentu mampu memberikan wawasan yang belum pernah saya dapat sebelumnya,” ujarnya. Terkait predikat Duta Lingkungan yang ia raih, Mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan UMM ini menjelaskan nantinya ia akan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan. Ia akan melakukan promosi mengenai agenda dan acara dinas lingkungan kepada masyarakat. Hal itu bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat lingkungan. Adapun gelaran Joko Roro 2021 ini telah berlangsung sejak bulan Februari lalu, namun babak grand final baru diadakan November ini. Hal itu dikarenakan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarkat (PPKM). Terakhir, Salvi berharap ia dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan urgensinya lingkungan bagi kehidupan. Terutama bagi mereka generasi muda yang akan mengemban amanah dan jabatan di masa depan. “Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi Duta Lingkungan yang mampu memberikan perubahan signifikan. Terutama dalam aspek lingkungan dan bagaimana cara menjaganya,” pungkasnya. (wil)

Gandeng IDUKA dan Sekolah, FKIP UMM Tingkatkan SDM Malang Raya

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas kerja samanya. Kali ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Kampus Putih menggandeng Industri dan Dunia Kerja (IDUKA) dan sekolah-sekolah SD-SMA Sederajat Malang Raya dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia. Selain itu juga mengadakan sharing session terkait pembelajaran STEAM. Dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana, SE., M.M. dan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. gelaran ini dilaksanakan pada Kamis (18/11) lalu di Hotel Klub Bunga Butik Resort. Pada kesempatan itu, Suwarjana menyambut baik Langkah kerja sama yang dibangun oleh UMM. Apalagi pengembangannya tidak hanya dalam aspek keilmuan saja, tapi juga dari aspek praktek dengan menggandeng IDUKA. Menurutnya, para siswa bukan hanya harus memahami ilmu semata, namun perlu pemahaman tentang hal-hal kontekstual. Ia juga mengungkapkan bahwa FKIP tidak hanya menggandeng tapi juga menjembatani sekolah dan IDUKA. Apalagi mengingat ada beberapa sekolah-sekolah Adiwiyata yang perlu memiliki sinergisitas yang baik. “Jadi ini adalah praktek pengembangan jejaring yang luar biasa. Semoga bisa memberikan hasil dan dampak yang positif,” tegasnya. Terakhir, ia juga menekankan bahwa pihaknya sangat mendukung adanya upaya dalam pengembangan sumber daya manusia. “Kami membutuhkan usaha-usaha semacam ini. Malang Raya juga merasa diuntungkan karena adanya banyak perguruan tinggi ini. Kesempatan untuk mengembangkan SDM jadi sangat besar,” tuturnya. Sementara itu, Fauzan mengatakan bahwa UMM terus mendorong semua program studi untuk membangun Centre of Excellence (CoE) berbasis keunggulan masing-masing. Dari situ, munculah beragam kelas professional seperti sekolah unggas, sekolah udang, sekolah anggrek dan kelas khusus lainnya. Maka menurutnya, prodi tidak bisa bergerak sendiri. Perlu adanya kerja sama yang masif dengan para pelaku industri. “Ada dua visi yang ingin kami sematkan kepada para mahasiswa. Berhasil dalam aspek akademik sekaligus mampu menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian bisa diwujudkan melalui berbagai pintu. Mulai dari peningkatan skill individu agar terserap di dunia kerja hingga pengembangan wirausaha,” ungkapnya. Fauzan juga menuturkan bahwa Dinas, perguruan tinggi, sekolah dan IDUKA harus berpikir secara komprehensif. Terutama dalam upaya mengantarkan generasi muda calon pemimpin bangsa. Semakin baik persiapannya, maka akan semakin baik pula masa depan yang akan disongsong. “Kini, bapak-ibu bukan lagi menjadi stakeholder saja, tapi juga bagian dari pengembangan sumber daya manusia yang digalakkan olek FKIP UMM,” terang Fauzan. Terkait dengan STEAM, Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. mengungkapkan bahwa pembelajaran harus diorientasikan pada teknologi dalam rangka menyiapkan generasi abad 21. Menurutnya, pembelajaran STEAM merupakan pendekatan interdisipliner yang inovatif. Hal tersebut tidak lepas dari integrasi IPA, teknologi, teknik, seni dan matematika yang berfokus pada proses pemecahan masalah. Utamanya yang dihadapi di kehidupan nyata. “Sistem ini dapat mengasah tingkat literasi para peserta didik. Selain itu, STEAM akan berguna dalam perkembangan kehidupannya serta menunjang kinerja yang kompetitif serta kolaboratif,” tuturnya mengakhiri. (wil)

UMM Selenggarakan Wokshop Jurnal Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mengembangkan literasi para sivitas akademikanya. Tidak terkecuali para dosen yang diberi materi mengenai penulisan jurnal internasional. Hal tersebut juga dilaksanakan oleh Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) melalui Workshop Penulisan Artikel Jurnal Internasional Bereputasi. Adapun kegiatan ini digelar secara berkala dengan kluster pertama diadakan pada Kamis (18/11) lalu di Aula Ruang Sidang Senat. Ketua panitia,  Dr. Fardini Sabilah, S.Pd., M.Pd, mengatakan bahwa workshop ini bertujuan mendorong para dosen untuk menangkap peluang dalam pengiriman naskah jurnal. Begitupun dengan penerimaan naskah oleh lembaga jurnal internasional bereputasi. Lebih lanjut, Fardini sapaan akrabnya, mengatakan bahwa untuk membantu masing-masing bidang secara mendalam workshop ini dibagi menjadi empat kloter. “Salah satu hal penting ketika mengirimkan artikel ilmiah adalah metode analisis datanya. Masing-masing penelitian maupun bidang mempunyai metode yang berbeda. Oleh karena itu, kami membuka empat kloter workshop dengan sembilan pemateri yang berbeda. Para dosen dibebaskan untuk mengikuti workshop sesuai dengan kebutuhannya,” ujar Ketua LPPI tersebut. Antusiasme para dosen UMM sangat tinggi terhadap agenda workshop ini. Fardini mengatakan bahwa workshop ini panitia membatasi jumlah peserta menjadi 25 dosen karena pandemi. Namun karena peserta melebihi target, akhirnya jumlah peserta ditambah menjadi 30 peserta per sesi. “Saya tentu berharap workshop ini dapat membantu penulisan artikel ilmiah para dosen ke jurnal bereputasi internasional. Selain itu saya juga ingin kedepannya ada peningkatan yang signifikan dari publikasi ilmiah para dosen UMM. Tidak hanya dari segi kuantitas tapi juga kualitasnya,” tutur Dosen Pendidikan Bahasa Inggris itu. Di sisi lain, salah satu peserta workshop, Tinuk Dwi Cahyani, SH., S.HI., M.Hum, mengatakan bahwa workshop ini dinilai sangat membantu. Terutama dalam dalam pengerjaan disertasi pendidikan strata tiganya. Tinuk, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa dengan adanya kloter-kloter dalam workshop, para peserta memiliki kebebasan untuk memilih kelas yang ingin diikuti. Begitupun dengan kemudahan untuk memilih materi sesuai kebutuhan masing-masing. “Wokshop ini benar-benar memberi banyak inspirasi dan wawasan baru. Tidak hanya bagi saya, tapi juga teman-teman dosen lainya dalam menulis jurnal. Lebih khusus saya yang sedang mengerjakan disertasi. Ada banyak ilmu dan strategi dalam menulis jurnal internasional berakreditasi yang baru saya ketahui di sini. Semoga budaya akademis seperti ini terus berlanjut dan berkembang di Kampus Putih UMM,” pungkas Dosen Hukum Pidana tersebut. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Berdayakan Penghuni Panti dan Bangun Kolam Lele

Selain didorong untuk kegiatan akademik, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga terus diarahkan untuk mengabdi pada negeri. Salah satunya dilakukan oleh tim Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) gelombang 2 yang terjun ke Rumah Asuh Anak dan Lansia (RAAL) Griya Asih, Lawang sejak awal Oktober. Adapun Pengabdian tersebut ditutup pada Selasa (16/11) lalu. Pada kegiatan pengabdian tersebut, para mahasiswa tidak hanya menemani dan merawat para oma saja. Mereka juga mengajak anak-anak panti untuk belajar serta bermain. Memberikan wawasan baru melalui beragam aktivitas baru dan inovatif. Di antaranya membuat bunga dari sedotan, merangkai gelang bahkan juga melukis vas. Menariknya, mahasiswa juga membangun kolam lele yang bisa dijadikan lahan produktif serta membuat taman bunga. Wakil Rektor I UMM Prof. Syamsul Arifin, M.Si. menjelaskan bahwa aktivitas ini sangat berkesan baginya. Terutama karena ada proses dialog antar keyakinan. Menurutnya, hal itu menjadi topik yang menarik dan ia tekuni. “Kita hidup di tengah perbedaan yang tidak mungkin dihindari. Kita memiliki perbedaan kulit, budaya, agama dan lainnya. Namun kita dapat dipertemukan dengan perasaan sebagai manusia yang memiliki rasa kemanusiaan yang sama,” imbuhnya. Syamsul, sapaan akrabnya menurutkan bahwa sangat penting mengedepankan rasa kemanusiaan. Apalagi mengingat bahwa setiap agama mengajarkan dan menjunjung kemanusiaan di dalam ajaranya. Maka, disampaikan olehnya bahwa kita tidak perlu memandang agama untuk membantu dan mengasihi sesama. “Kami atas nama pimpinan mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Griya Asih yang memberi tempat mahasiswa untuk belajar terkait nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap Syamsul. Pada kesempatan yang sama, Pengurus RAAL Griya Asih Ellen Natalie Poluan mengungkapkan bahwa ia sangat senang para mahasiswa datang dan membantu. Sebelum ada mahasiswa, ada beberapa program yang belum terlaksana. Namun semenjak mereka datang membantu, banyak program yang bisa dilakukan dengan baik. “Bahkan ada kehgiatan-kegiatan baru yang membuat penghuni panti senang,” tuturnya. Natalie mengatakan bahwa pengabdian yang dilakukan tidak akan berakhir sia sia. Menurutya, apa yang ditabur oleh manusia akan menuai hasil yang setimpal. Ia juga meminta agar hubungan baik yang sudah dijalin dengan mahasiswa gelombang 2 tidak putus begitu saja. Pihkanya selalu membuka pintu jika suatu saat ada yang berkunjung dan menemui para oma yang sudah sebulan terakhir dirawat. “Orang tua di sini sudah seperti orang tua mahasiswa, begitupun dengan adik-adik yang sudah seperti adik sendiri. Terlebih lagi kebersamaan yang dibangun melalui kegiatan membuat pot, melukis vas dan merangkai gelang tentu memberikan kesan yang tidak terlupakan,” pungkasnya. (/wil)