Aktivitas Internasional UMM Antar Bayu ke Negeri Paman Sam

Impikan ke luar negeri sejak Mahasiswa Baru (Maba), Bayu Dharmala raih beasiswa fulbright scholarship Strata Dua (S2) di The University of Arizona. Alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengaku telah mengasah bakatnya dalam berbahasa inggris sejak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Meskipun SMK-nya berfokus pada bidang bodi otomotif, Bayu sapaan akrabnya telah sering mewakili sekolah pada berbagai perlombaan debat bahasa Inggris. “Saya merasa lebih berbakat di bidang bahasa Inggris di bandingkan otomotif karena itu saya memilih jurusan pendidikan bahasa inggris untuk studi Strata Satu (S1),” ungkap anak tunggal tersebut. Melihat banyak peluang ke luar negeri yang disediakan oleh UMM, Bayu bertekad untuk memperdalam kemampuan berbahasa inggrisnya dengan pergi ke negara lain. Kunjungan pertamanya ke negara orang dimulai pada tahun kedua Bayu berkuliah. Setelah beberapa kali mencoba mendaftar program pertukaran pelajar ke luar negeri, ia akhirnya mendapat kesempatan untuk menjadi mahasiswa pertukaran pelajar di Singapura selama satu bulan. “Pada tahun 2017, dua tahun setelah saya pergi ke Singapura, Saya mendapat kesempatan lagi untuk pergi ke Spanyol dengan menggunakan beasiswa Erasmus+ selama enam bulan. Kesempatan-kesempatan pergi keluar negeri ini selain untuk mengasah keterampilan berbahasa inggris, juga menjadi kesempatan bagi saya untuk menjadi bagian dari global citizen,” ungkap alumni asal Pasuruan itu. Tak sampai disitu, Bayu mulai memikirkan untuk melanjutkan pendidikannya masternya di luar negeri. Perjalanannya mendapat beasiswa ke luar negeri tidak selalu mulus. Untuk mendapatkan beasiswa fulbright scholarship ke Amerika, banyak kendala dan penolakan yang dialaminya. Bayu mengaku ditolak sebanyak delapan kali selama empat tahun. “Benar-benar perjuangan sekali untuk mendapat beasiswa S2 ini. Selain harus pintar-pintar membagi waktu untuk belajar dan bekerja, saya juga harus bolak balik melakukan tes International English Language Testing System (IELTS) maupun Test Of English as a Foreign Language (TOEFL),” kata Bayu. Saat ini Bayu sedang bergelut dengan berbagai tugas serta cuaca musim panas di Amerika. Meskipun tuntutan perkuliahan sangat tinggi, Bayu mengatakan sangat senang dengan capaiannya sekarang. “Saya bersyukur memilih Kampus Putih UMM sebagai tempat berproses. Semangat dari Muhammadiyah untuk bangsa yang dikobarkan para dosen juga menjadi pemacu semangat saya,” jelasnya mengakhiri. (syi/wil)

UMM Gelar Silaturahmi Wali Mahasiswa Baru

Dalam rangka memperkuat hubungan baik antara kampus dan wali mahasiswa baru, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda silaturahmi. Dilaksanakan pada Sabtu (14/8) lalu, Silaturahmi tersebut turut mengundang Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) sekaligus Ketua BPH UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Adapun agenda ini digelar dengan format daring mengingat keadaan pandemi yang belum membaik. Dalam sambutannya, Muhadjir menjelaskan bahwa silaturahmi ini sudha menjadi tradisi yang UMM lakukan sejak lama. Tradisi ini penting sebagai usaha untuk saling mengenal lebih dekat baik, tidak hanya secara pribadi tapi juga kelembagaan. “Silaturahmi ini juga dapat menjadi tempat penyampaian masukan dan saran baik dari orang tua, mahasiswa maupun pihak pimpinan universitas,” imbuhnya. Ia berharap akan lahir komitmen bersama untuk mencapai satu tujuan baik yakni mengantarkan para mahasiswa ke tujuan yang dicita-citakan. Tidak hanya cita-cita mahasiswa saja, tapi juga harapan orang tua bahkan juga bangsa Indonesia. Di samping itu, UMM juga memiliki cita-cita besar yang selalu digaungkan uakni menjadi gerakan pendidikan akademik dan vokasi yang berbekal semangat dari Muhammadiyah untuk bangsa. “Maka  semua elemn harus saling bahu membahu untuk bisa mewujudkannya agar mampu memberikan manfaat kepada masyarakat yang lebih luas,” tegasnya. Muhadjir sempat menyinggung akan perubahan keadaan yang disebabkan oleh pandemi. oleh karenanya, ia berpesan kepada UMM untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan yang dibutuhkan agar bisa menjawab tantangan, berdaptasi dan mengahadapi berbagai perubahan. Ia menekankan agar tidak menunda dalam pemberian wawasan dan pandangan bahwa pada akhirnya mahasiswa akan terjun di dunia kerja. Terakhir, ia berpesan akan pentingnya self-planning. Bagaimana mahasiswa diajarkan bagaimana menyusun perencanaan diri, membangun cita-cita dan juga cara merealisasikannya. Menurutnya, tanpa perencanaan yang jelas dan akurat, mereka akan bingung hal apa yang harus diperbuat. “Prestasi dan reputasi yang UMM miliki akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan kerja keras dan kesungguhan dari mahasiswanya,” tutupnya. Senada dengan Muhadjir, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor mengatakan bahwa silaturahmi ini dapat membangun persepsi yang sama di antara universitas dan wali mahasiswa. Selain itu juga bertujuan untuk meminimalisir kesalah pahaman antara keduanya. “Kami juga mengucapkan selamat karena putra-putri bapak telah diterima sebagai mahasiswa UMM. Tidak semua yang mendaftar di Kampus Putih mampu lolos seleksi dan berhasil hingga titik ini,” ucapnya. Fauzan juga mengungkapkan bahwa Kampus Putih juga menyediakan pembinaan, tidak hanya di dalam kampus tapi juga di luar kampus. Berbagai organisasi intra kampus telah disiapkan untuk diikuti sesai dengan minat dan bakatnya. “Semua ini bertujuan untuk melahirkan kader-kader dan pemimpin yang sesuai dengan bidangnya di masa depan,” tegasnya. Di samping itu, ia juga sempat menerangkan menyebutkan beberapa beasiswa yang bisa diperoleh. Mulai dari bidik misi, UKT, beasiswa kader Muhammadiyah, KNB, hingga beasiswa prestasi. Ia menambahkan bahwa beasiswa prestasi ini merupakan motivasi yang disediakan agar para mahasiswa bisa terus mencetak prestasi di semua level. “UMM memiliki tagline yakni tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi yang tidak dihargai,” tutur Fauzan. Pada gelaran tersebut, diadakan pula penandatangana surat pernyataan menjadi mahasiwa UMM yang dilaksanakan oleh perwakilan mahasiswa baru didampingi oleh rektor.  Kemudian dilanjutkan dengan agenda pertemuan dengan jajaran dekanat di masing-masing fakultas. (wil)

UMM Langsungkan UTBK FK-Farmasi dengan Prokes dan Keamanan Ketat

Setelah diundur beberapa kali karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhirnya digelar. Ujian yang dilaksanakan untuk menyeleksi calon mahasiswa baru Fakultas Kedokteran dan Farmasi ini memiliki dua format yakni daring dan luring. Adapun gelaran yang dilangsungkan pada 10-15 Agustus ini diikuti oleh 997 peserta Kedokteran dan 220 untuk Farmasi. Dr. Ir. Suwarsono, MT. selaku ketua pelaksana UTBK mengatakan bahwa ujian gelombang dua ini dilakukan dengan protokol kesehatan yang lebih ketat dari sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari pelaksanaannya yang masih berada di dalam PPKM. “Seharusnya ujian ini dilangsungkan pada akhir Juli lalu namun diundur karena ada PPKM. Kemudian diundur kembali karena adanya perpanjangan pembatasan tersebut. Hingga akhirnya kami selenggarakan pada beberapa hari ini,” tegasnya. Dijelaskan Suwarsono, beberapa hal yang dilakukan yakni dengan menyediakan masker, pengecekan suhu, handsanitizer, sarung tangan medis dan lainnya. Jumlah peserta dalam satu ruangan juga dikurangi yakni tidak lebih dari sepuluh orang. “Kami juga menyiapkan metal detector untuk meminimalisir kecurangan. Pun bekerja sama dengan kepolisian untuk memeriksa ruangan maupun peserta,” tuturnya. Terkait format ujian yang disediakan, ia menjelaskan ada dua yakni luring dan daring. Adapun kebijakan ujian daring ini diambil dan diperuntukkan bagi mereka yang berada di rayon merah Covid-19. Mereka diwajibkan untuk menggunakan satu laptop atau komputer dan dua kamera. “Satu kamera untuk merekam gambar peserta dan satu lagi utuk merekam keadaan sekitar. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan adanya joki. Porsi peserta yang diterima dari kedua format ini juga dibedakan nantinya,” tambahnya. Terakhir, Suwarsono berharap ujian gelombang dua Fakultas Kedokteran dan Farmasi UMM ini bisa menyeleksi dan mendapatkan mahasiswa baru yang berkualitas. Hingga nantinya bisa melahirkan lulusan-lulusan yang menebar manfaat bagi masyarakat luas. Sementara itu, salah satu peserta UTBK Sintia Rahmawati mengatakan bahwa sebelum masuk ruangan, ia harus melewati deretan protokol kesehatan. Di samping itu juga harus melewati pengecekan keamanan dengan metal detector. “Protokol kesehatan dan keamanannya cukup ketat. Hanya ada segelintir peserta ujian saja di ruangan saya,” tuturnya. Calon mahasiswa asal Kabupaten Bintuni, Papua Barat ini mengaku bahwa perjuangannya untuk bisa mengikuti tes luring ini cukup panjang. Dari kediamannya, ia harus menempuh waktu selama tujuh jam. Kemudian terbang menuju pulau Jawa dan sampai di Malang. “Kebetulan saya ditemani oleh ayah saya. Semoga perjuangan saya berbuah manis dan diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UMM,” pungkasnya. (wil)

Sukses Jadi Youtuber, Dosen UMM Ini Ceritakan Keunikan India

Negara India memiliki beragam hal unik yang tersembunyi. Mulai dari film ikonik, rempah-rempah yang khas, hingga keunggulan di bidang teknologi dan transportasi. Menariknya, semua hal itu telah diulas dengan apik oleh salah satu dosen Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kanal Youtubenya yang memiliki lebih dari 499.000 subscriber. Ia adalah Mohammad Agoes Aufiya, S.Ip, M.A, M. Phil. yang kini tengah menempuh studi doktoralnya di India. Adapun UMMTalk berkesempatan mengundangnya dan menyibak rahasia sukses kanal Youtubenya pada Sabtu (7/8) lalu. Dosen Prodi Hubungan Internasional ini mengungkapkan bahwa ada berbagai alasan mengapa ia membuat konten tentang India. Terlepas karena dia memang studi di negara Bollywood itu, menurutnya India memiliki keunikan yang menarik. Ada banyak kontradiksi di negara tersebut. Misalnya saja masih ada yang menggunakan sapi sebagai penarik kendaraan padahal sudah ada kendaraan canggih MRT di ibukota New Delhi. “Ada beberapa orang yang dikenal sebagai orang terkaya di Asia, tapi juga ada banyak masyarakat yang hidupnya pas-pasan bahkan miskin. Keadaan yang bertolak belakang inilah yang menjadikan negara Bollywood ini menarik dan unik,” tambahnya. Agoes yang kini menempuh pendidikan di Jawaharlal Nerhu University mengatakan bahwa bahasa, budaya serta sistem pemerintah juga bisa menjadi bahan yang asyik untuk diceritakan. Ia memberi contoh beberapa kata yang tidak perlu diucapkan ketika berkomunikasi. Cukup hanya dengan gestur kepala khas India. Begitupun ucapan terima kasih yang seringkali disampaikan menggunakan gestur khas tersendiri. “Jadi awal-awal di India, saya sempat heran karena orang-orang tidak mengucapkan terimakasih. Malah memberikan gesture geleng-geleng kepala. Hingga  beberapa minggu kemudian, saya paham gerakan-gerakan tersebut yang bermakna terima kasih,” ungkapnya. Selain bahasa, hal unik lain yang bsia ditemui adalah sistem kasta yang sudah ada sejak ratusan tahun lamanya. Deretan kasta yang ada terdiri dari Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan di luar kasta namanya Dalit. Menurutnya, sistem kasta ini susah dihilangkan dalam budaya India karena pernikahanan di negeri tersebut hampir 90% adalah dijodohkan.  “Perjodohan ini dilakukan dan menjadi tradisi dalam rangka menjaga harkat dan martabat dari keluarga agar sesuai dengan kastanya. Jarang sekali kita menemui pernikahan beda kasta,” imbuhnya. Tidak dipungkiri Agoes bahwa diskriminasi masih tetap ada di India, tetapi diskriminasi kasta secara negatif sudah dilarang oleh pemerintah setempat. Sedangkan diskrimasi positif memberikan porsi kepada kasta rendah untuk tetap belajar di universitas. Bahkan juga diberi porsi untuk bekerja sebagai Pegawai Negeri meskipun kecil. Lebih lanjut, ia juga menerangkan situasi dan kondisi pandemi di India yang sempat mnejadi bahan perbincangan di dunia global. Dosen asal Kalimantan Selatan ini mengatakan bahwa penanggulangan Covid-19 sebenarnya cukup baik. Pun dengan angka kematian yang berangsur menurun. India juga berhasil memproduksi vaksin untuk menanggulangi pandemi. Bahkan menjadi salah satu produsen vaksin terbesar di Dunia. “Faktor inilah yang membuat angka positif virus Corona melandai akhir-akhir ini,” ungkapnya. Agoes kembali mengatakan bahwa penanganan cepat yang dilakukan pemerintah juga menjadi hal menarik. Kini, kesehatan yang menjadi proritas pertama, sementara ekonomi berada pada prioritas nomor dua. Masyakarat juga berhak mendapatkan bantuan, baik itu sandang dan pangan. “Usaha-usaha ini menjadi upaya pemerintah India untuk menekan angka Covid-19. Gerakan dan penanggulangan cepat ini juga bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menangani Covid-19 agar bisa lebih baik lagi,” tutupnya. (haq/wil)

Dalam rangka mendukung pemerintah dalam pelaksanaan Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan kelas khusus Profesional Udang. Dilaksanakan pada Senin (09/08) lalu, kelas ini mengundang dua pakar secara online untuk membahas tantangan dalam budidaya udang. Adapun kegiatan tersebut diikuti oleh para mahasiswa yang berminat di bidang budidaya udang. Head of TS dan Training Center dari PT. Suri Tani Pemuka, Sarwana, mengatakan bahwa overfeeding dan penyakit merupakan dua di antara masalah-masalah dalam budidaya udang. Pembicara yang berasal dari Aquafeed Division tersebut menyampaikan bahwa pemberian pakan umumnya menggunakan metode tradisional dengan cara ditebar. Hal ini berpotensi sebagian pakan tidak sampai dan tidak termakan oleh udang. “Hal tersebut akan memicu timbulnya penyakit akibat menumpuknya limbah sisa pakan di dasar kolam. Untuk itu, sudah saatnya petambak beralih ke sistem budidaya intensif untuk memaksimalkan keuntungan,” ujar Sarwana. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, para peternak udang bisa menggunakan alat bernama autofeeder machine. Mesin ini dilengkapi dengan komponen yang dapat diatur untuk memberikan pakan secara perlahan dengan interval waktu tertentu serta dalam durasi yang sudah ditentukan. Pengaturan otomatis tersebut mempermudah pekerjaan petambak dalam mengontrol jumlah pakan yang akan diberikan pada udang. Dengan pakan yang terkontrol, diharapkan akan mengurangi limbah sisa pakan di dasar kolam. Hingga nantinya bisa menjaga kualitas air di mana udang tersebut dibudidayakan. “Meski demikian, teknologi autofeeder masih memiliki beberapa kelemahan salah satunya adalah pakan yang keluar dari mesin bisa terlontar diluar area tambak. Apalagi jika kolam yang dimiliki terlalu kecil. Selain itu, ketika musim hujan, terkadang pellet pakan cenderung lengket akibat basah sehingga tidak bisa keluar dari mesin,” ungkap Sarwana. Sementara itu, Head Div. FM Technical Service & Lab dari CP. Prima, Dr.Ir.Heny Budi Utari, MSi, menjelaskan bahwa 90% kematian dalam budidaya akuatik disebabkan oleh penyakit. Untuk mengatasi masalah tersebut, penerapan biosecurity menjadi solusi yang patut dicoba. Bisa dimulai dengan memanajemen pakan dan limbah yang baik. Dengan meminimalisir limbah sisa pakan di dasar kolam, kesehatan udang juga akan lebih baik. “Sudah saatnya para petambak untuk menerapkan manajemen kesehatan dalam pembudidayaan aquatik ini. Bagi para petambak berskala rumah tangga, usahakan memiliki alat untuk mengontrol kualitas air untuk meminimalisir penyakit. Sebut saja alat cek transparansi air, pHmeter dan thermometer,” pungkas Heny. (syi/wil)

Gunakan Kurikulum OBE, Teknik Sipil UMM Raih Akreditasi Baik Sekali

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa meningkatkan kualitas pendidikannya. Kali ini kabar gembira datang dari Program Studi (Prodi) Teknik Sipil yang mendapatkan akreditasi Baik Sekali dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Peningkatan akreditasi ini diperoleh pada Rabu (04/08) lalu. Kepala Prodi Teknik Sipil, Ir. Rofikatul Karimah, M.T., mengatakan sebelum mendapat akreditasi Baik Sekali, Prodi Teknik Sipil berakreditasi B. Rofi bercerita bahwa akreditasi B ini sebenarnya masih berlaku sampai tanggal 13 Oktober mendatang. Namun Prodi Teknik Sipil memutuskan untuk mengajukan koversi lebih awal kepada BAN-PT. “Alhamdulillah pengajuan kita diterima dan berhasil mendapatkan akreditasi Baik Sekali,” ungkap dosen kelahiran Madura tersebut. Dalam proses peningkatan akreditasi, ada beberapa aspek yang dinilai oleh BAN-PT. Rofi mengatakan ada empat kriteria dalam penilaian. Pertama adalah dari aspek tenaga pengajar yang dimiliki. Utamanya jumlah Dosen Tetap Program Studi (DTPS) yang ada di Teknik Sipil. Kemudian ada juga penilaian dari aspek kurikulum, Bagaimana Teknik Sipil UMM menyusun dan menjalankan kurikulumnya. Ketiga adalah capaian pembelajaran mahasiswa. Terakhir, adapula penilaian dari segi jaminan mutu yang dimiliki oleh Teknik Sipil UMM. Dijelaskan kembali oleh Rofi, kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran di Prodi Teknil Sipil adalah sistem Outcome Based Education (OBE). Sistem ini menekankan pada keberlanjutan proses pembelajaran secara inovatif, interaktif, dan efektif. Sehingga akan melahirkan mahasiswa dan lulusan yang bisa memberikan solusi di tengah permasalahan. “Kami juga telah mempersiapkan kelas unggulan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). Harapannya mereka bisa lebih memahami bagaimana penggunaan PLTMH untuk memberikan manfaat bagi warga sekitar,” ungkap sekretaris Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) tersebut. Terakhir, Rofi mengungkapkan rencan prodi Teknik Sipil UMM sleanjutnya yakni akan fokus pada kegiatan-kegiatan untuk menyiapkan program akreditasi internasional. Pun dengan akreditasi unggulan yang tersedia. Rofi juga mengatakan bahwa keberhasilan prodi Teknik Mesin meraih hasil akreditasi ini adalah berkat kerja keras semua dosen, karyawan, dan mahasiswa Teknik Sipil. Kolaborisi dan sinergitas semua pihak menjadi kunci keberhasilan tersebut.  “Semoga Teknik Sipil UMM bisa terus berkembang dan senantiasa mengembangkan diri sehingga mampu menjadi Prodi yang lebih baik lagi,” pungkasnya. (syi/wil)

Jarvis, Aplikasi Pintar Pemutar Alquran Karya Mahasiswa UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong para mahasiswanya untuk mengembangkan skill, kemampuan serta mengaplikasikannya dalam rangka menebar manfaat. Melalui Program Kreatifitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC) dengan judul “Aplikasi Asisten Pintar Pemutar Alquran Beserta Arti dan Tafsir Dengan Perintah Voice Command”, Tim mahasiswa UMM ciptakan aplikasi asisten pemutar Alquran bernama Jarvis Qur’an. Adapun inovasi mereka telah lolos pendanaan Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dikti) pada bulan Mei lalu. Amarul Akbar, salah satu anggota tim mengatakan bahwa ide aplikasi Alquran ini berawal dari perkumpulan majelis ta’lim yang ada di kediamannya. Salah satu ustad yang mengisi ingin agar ada aplikasi yang berbeda, utamanya terkait asisten Alquran. “Kami melihat fitur dan kegunaan dari kebanyakan aplikasi Alquran memiliki banyak kesamaan. Maka dari itu, kami berinisiatif menciptakan inovasi terbaru yang berbeda,”ucapnya melanjutkan. Mahasiswa kelahiran Mataram ini melanjutkan bahwa Jarvis Alquran telah dilengkapi dengan fitur voice command. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memberikan perintah agar aplikasi langsung memutar salah satu surat. Hanya perlu mengucapkan bagian apa yang ingin diputar, Jarvis akan segera menyediakannya. Menurut Akbar, fungsi ini yang membedakannya dari aplikasi lain yang ditemui. “Di samping itu, tersedia pula fitur pada microphone yang mampu mendeteksi ayat dan surat di Alquran ketika ada yang membacakannya. Jadi bisa lebih mudah mencari dan menemukan ayat terkait,” imbuh Akbar. Ia mengungkapkan, sistem kerja Jarvis Quran ini mirip dengan sistem command “Oke Google” maupun “Hai Siri” yang ada di Google dan Apple. Hingga saat ini, Akbar dan tim sedang berada di tahap penyelesaian aplikasi. “Alhamdulillah, kami sudah merampungkan sekitar 70% dari proses pembuatan. Tinggal sedikit lagi hingga dapat diuji coba serta bisa digunakan oleh masyarakat luas,” tambahnya melanjutkan. Dalam proses  pembuatan Jarvis Quran ini, Akbar tidak sendiri. Ia ditemani oleh Shofiyah dari Prodi Informatika dan Syahara Biamalina dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Mahasiswa Informatika tersebut berharap aplikasi ini bisa membantu dalam pembelajaran di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan juga dalam kajian-kajian. Lebih luas juga bisa digunakan oleh masyarakat dalam memudahkan belajar dan memabca Alquran. Selain itu, ia berharap garapan PKM ini bisa lolos di Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) periode depan dan juga mampu meraih juara. “Tentu kami ingin mengembangkannya lebih lanjut agar bisa menebar kebaikan lebih luas pula,” tutupnya di akhir. (haq/wil)

UMMTalks Hadirkan Satpol PP, Kaji PPKM

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat lonjakan kasus Covid-19 di Jawa dan Bali menjadi sorotan masyarakat. Salah satu hal yang disorot media beberapa hari akhir adalah penertiban para pedang kaki lima oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Melihat isu tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berusaha mengambil sudut pandang lain dengan mengundang pakar manajemen organisasi pelayanan sosial UMM dan Satpol PP kota Malang melalui acara UMMTalks. Sekretaris Satpol PP Kota Malang Tri Oky Rudianto P.,S.E.,M.Si., mengatakan bahwa tugas dari Satpol PP adalah mengawal kebijakan pemerintah untuk menertibkan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Satpol PP kota Malang berusaha untuk tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat terkait. “Kami berkaca dari kejadian di daerah lain agar tidak berbuat semena-mena dan menyimpang dari aturan. Kami selalu menghimbau para anggota yang akan turun ke lapangan untuk tidak menggunakan kekuatan saat berkomunikasi dan tetap sopan. Namun juga harus tegas dalam menindak masyarakat yang melanggar aturan PPKM,” terang Oky. Oky menjelaskan bahwa ketika menertibkan masyarakat terutama para pedagang, tak jarang harus melakukan pengambilan kursi atau bangku dari pedagang kaki lima. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kerumunan. Namun bangku dan meja tersebut dapat diambil kembali dalam jangka waktu empat sampai tujuh hari setelahnya. “Jadi kami tidak menutup usahanya tetapi mengambil beberapa hal yang akan menimbulkan kerumunan. Pun barang-barang tersebut bisa diambil kembali oleh pedagang. Dengan begitu usaha dapat tetap berjalan dengan sistem take away atau dibawa pulang,” ungkap Oky. Dalam menindak para oknum nakal, lembaga ini telah memiliki pengawas internal bernama Petugas Tindak Internal (PTI). Oky mengatakan bahwa para Satpol PP yang kurang dalam hal etika juga akan diberi sanksi sesuai ketetuan-ketentuan yang berlaku oleh PTI. “Namun ketika tidak bisa ditangani oleh PTI, kasus tersebut akan dibawa ke biro kepegawaian,” kata Oky. Di sisi lain dalam menanggapi kasus tersebut, dosen UMM Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa konflik tidak selalu bersifat merusak. Konfik juga bisa menghasilkan suatu bentuk baru dan membangun yaitu ketertiban sosial. “Hal ini dapat berjalan ke arah baik jika ketika terjadi suatu konflik, masyarakat maupun Satpol PP melakukan penyesuaian-penyesuaian antara satu sama lain.  Jika penyesuaian itu berjalan lancar, maka ketertiban sosial akan peraturan baru PPKM akan tercipta. Untuk kota Malang sendiri, Alhamdulillah tidak ada kasus kekerasan saat penertiban PPKM,” kata pakar manajemen organisasi pelayanan sosial UMM tersebut. (syi/wil)

PBSI UMM Prodi Pertama di antara PTM se-Indonesia yang Raih Akreditasi Unggul

Tidak hanya kuantitas, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga senantiasa meningkatkan kualitasnya. Hal serupa dilakukan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) yang berhasil meraih akreditasi unggul. Adapun akreditasi tersebut merupakan akreditasi format baru yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Berkat raihan tersebut, Prodi Bahasa Indonesia UMM menjadi prodi pertama di antara Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia yang mendapatkannya. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini telah lama siap menjalankan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Terlihat dari berbagai kegiatan akademis yang sudah dijalankan. Berbagai aspek yang dibutuhkan untuk mencapai akreditasi unggul juga berhasil dipenuhi dengan sangat baik. Sementara itu, Dr. Sugiarti, M.Si selaku Kepala Prodi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM, akreditasi tersebut dapat dicapai berkat kelengkapan komponen penilaian. Ada empat aspek kunci yang sukses dipenuhi yakni dosen tetap prodi, kurikulum, sistem penjaminan mutu internal serta tracer study. “Jumlah dosen yang kami miliki sudah memenuhi standar. Ditambah lagi dengan jumlah doktor dan kandidat doktor yang cukup banyak menjadi tenaga pengajar di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM,” tuturnya melanjutkan. Sugiarti kembali menjelaskan penerapan kurikulum yang menyesuaikan perkembangan zaman juga menjadi poin penting meraih akreditasi unggul. Termasuk bagaimana menjalankan pembelajaran di masa pandemi. Sedangkan dari aspek penjaminan mutu internal, ia mengaku bahwa Prodi sudah memiliki sinergitas dan kerjasama kolaboratif dengan lembaga strategis seperti Unit Pelaksanaan Teknik-Akreditasi dan Pemeringkatan (UPT – AP), Lembaga Informasi dan Publikasi (LIP) dan Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM.  “Kami mendapatkan kemudahan dengan adanya BPMI yang menjadi penjamin mutu internal bagi program studi di UMM. Usaha ini juga menjadi bentuk kerja kolaboratif kami dalam meraih akreditasi Unggul,” jelasnya. Satu lagi komponen penting ialah tracer study, yaitu umpan balik alumni terkait kemampuan dan skill. Dari hasil pelacakan, masa tunggu kerja lulusan Prodi PBSI UMM rata-rata hanya tiga bulan, angka tersebut telah memenuhi ketentuan yakni maksimal enam bulan. Selain itu kesesuaian bidang kerja yang masih linier seperti guru dan editor juga berpengaruh dalam penilaian akreditasi. Meski sudah meraih akreditasi unggul, Sugiarti mengaku bahwa PBSI UMM akan terus memperbaiki diri dan berusaha mendapatkan akreditasi internasional. Selain itu juga berusaha menjadi program studi rujukan bagi banyak pihak, baik nasional maupun internasional. “Karena sudah mulai banyak jurusan Bahasa Indonesia di luar negeri atau Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), maka akreditasi internasional adalah hal yang penting agar kami mampu menjadi rujukan utama,” ungkapnya. Terakhir, Sugiarti berharap banyak hal-hal baik datang berkat adanya akreditasi unggul ini. Mulai dari proses pembelajaran yang bagus, hingga kuantitas dan kualitas mahasiswa serta alumni. “Kami selalu berupaya meningkatkan layanan dan pendidikan terbaik demi mencetak mahasiswa serta lulusan yang mumpuni di kemudian hari,” tutupnya menerangkan. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Manfaatkan Limbah Mangga Jadi Masker Wajah

Banyak masyarakat yang menyukai buah mangga. Sayangnya, setelah habis, kulitnya langsung dibuang begitu saja. Padahal ada banyak manfaat dari limbah kulit mangga. Salah satunya yang ditemukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim mahasiswa UMM ini berhasil memanfaatkan limbah tersebut sebagai masker wajah. Dituangkan melalui Program Kreatifitas Mahasisiwa – Kewirausahaan (PKM-K), ide itu berhasil lolos tahap pendanaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Mei lalu. Elvira Putri selaku ketua tim menjelaskan ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk mengubah limbah  kulit mangga menjadi produk masker wajah. Pertama yakni mengumpulkan limbah kulit mangga yang kemudian dicuci dan dikeringkan. Selanjutnya, harus melalui proses ekstraksi kulit. Tidak cukup sampai di situ, hasil dari ekstraksi lalu masuk pada proses produksi formula masker hingga berakhir pada uji pengukuran pH (power of hidrogen) agar sesuai dengan pH kulit wajah. “Tahap pengujian pH ini sangatlah penting agar tidak terjadi iritasi pada wajah saat menggunakannya. Pun agar konsumen merasa nyaman dengan masker tersebut,” tegas Elvira. Setelah berbagai tahapan usai dilakukan, Mango Mask Dream sudah siap untuk dikemas serta dipasarkan ke masyarakat luas. Mahasiswa kelahiran Lumajang ini kembali menambahkan kandungan dari kulit mangga sangat kaya akan antioksidan yang baik bagi kulit. “Kami menilai akan sayang jika limbah kulit mangga ini tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Terdapat berbagai kandungan yang mampu membersihkan dan merawat kulit agar lebih sehat. Di samping itu juga dapat mencegah noda yang akan merusak kulit,” lanjutnya menerangkan. Elvira mengaku, proses pemasaran produk ini dilakukan dengan memanfaatkan platform media sosial, baik itu Whatsapp maupun Instagram. Adapun harga masker wajah ini dipatok dengan harga sekitar Rp. 20.000 untuk satu produknya. Kedepannya, ia dan tim ingin agar ide PKM ini bisa terus berkembang dan menjadi usaha yang strategis. Ia mengatakan bahwa mereka berharap usaha ini mampu bersaing dengan produk lokal atau bahkan produk internasional lainnya. Apalagi mengingat produk ini adalah hasil olahan limbah yang tidak banyak orang mengetahui manfaatnya. Adapun Elvira tidak sendiri dalam menemukan ide serta mengembangkannya. Ia ditemani Nabilah Hanuun Haniiifah, Mega Amelia Tri Adinda, Novia Parameswari Putri, dan Dita Ayu Novitasari yang tergabung dalam satu tim. (haq/wil)