Student Day Rawat Tradisi Berprestasi UMM

Rangkaian panjang Student Day Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditutup pada Sabtu (7/8) lalu. Berbagai perlombaan telah dilakoni oleh para mahasiswa hingga akhirnya sampai pada event ini. Menariknya, ada berbagai penampilan serta penghargaan yang turut memeriahkan penutupan Student Day kali ini. Adapun penampilan dan para tamu hadir secara langsung di Hall Dome UMM dengan protokol kesehatan ketat, sementara mahasiswa mengikutinya melalui platform Zoom. Pada kesempatan itu, Dr. Fauzan, M.Pd selaku rektor mengatakan bahwa Student Day adalah tradisi yang sudah lama dilakukan oleh UMM selama bertahun-tahun. Tradisi inilah yang nantinya menumbuhkan dan mampu mengidentifikasi minat serta bakat dari para mahasiswa. Utamanya mereka yang masih baru di Kampus Putih. Selain itu juga memiliki fungsi untuk membentuk iklim prestasi dan kompetitif di kalangan sivitas akademika, khususnya para mahasiswa. “UMM menyadari bahwa masing-masing mahasiswa memiliki potensi sendiri baik dibidang minat, bakat, maupun akademik. Oleh karenanya itu Student Day menjadi agenda yang strategis untuk membangun kepercayaan diri agar mampu mengukir nama di berbagai kompetisi. Tidak hanya di tingkat kampus, tapi juga di tingkat regional, nasional hingga internasional,” tegas Fauzan menjelaskan. Meski dua tahun belakangan Student Day tidak bisa dilaksanakan dengan semestinya, Fauzan menilai keadaan inilah yang seharusnya menjadi tantangan tersendiri. Lebih lanjut, ia terus mendorong mahasiswa UMM agar dapat menjelajah ke bidang-bidang lain yang sebelumnya tidak pernah dikembangkan dengan optimal. “Kondisi pandemi seharusnya tidak mempengaruhi tingkat kreativitas dan inovasi. Malah sebaliknya, harus menjadi pelecut agar bisa menjadi mahasiswanya yang diperhitungkan dan diubah menjadi peluang berprestasi. Terhitung, setiap semester ada lebih dari 500 prestasi yang telah diukir para mahasiswa. Tidak hanya di level nasional saja tapi juga tingkat dunia,” tutur Fauzan. Ia juga menyinggung terkait jargon UMM yakni tiada hari tanpa prestasi serta tiada prestasi yang tak dihargai. Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi mahasiswa untuk berjuang sekuat tenaga mengembangkan diri dan berkontribusi bagi negeri. “Jangan jadi mahasiswa yang hanya kuliah pulang kuliah pulang saja. Manfaatkan waktu dan kesempatanmu untuk berkecimpung di dalam berbagai organisasi. Baik itu lembaga intra kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), atau juga Lembaga Semi Otonom (LSO) yang ada di tingkat fakultas,” pesannya. Terakhir, Fauzan menerangkan bahwa lahirnya pemimpin tidak hanya dari satu pintu saja. Namun berbagai pintu juga bisa membentuk pemimpin yang baik. Ia berharap para mahasiswa mampu mewujudkan jargon UMM yang diciptakan oleh Prof. Abdul Malik Fadjar yaitu Students Today Leaders Tomorrow. Sementara itu, berbagai penghargaan juga telah disiapkan bagi para mahasiswa berprestasi dan penuh kreatif. Mulai dari mereka yang berkecimpung di dunia kewirausahaan, konten kreator media sosial, reputasi, serta mereka yang berhasil meraih penghargaan regional dan nasional. Adapula penghargaan internasional, karir organisasi, karya ilmiah, inovasi, serta kategori mahasiswa mandiri. Adapula penampilan menarik dan apik dari band-band mahasiswa yang merupakan anggota UKM IKABAMA UMM. (wil)
FPP UMM Kaji Pengembangan Bioenergi untuk Keseimbangan Global

International Conference on Bioenergy and Environmentally Sustainable Agriculture Technology (IcoN-BEAT) kembali digelar untuk yang kedua kali oleh Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pemateri lintas negara juga dihadirkan untuk memberikan wawasan baru terkait topik ini. Ada Prof. Hiroyuki Sakakibara dari Jepang, Assoc. Prof Juris Burlakovs dari Estonia dan Assoc. Prof Zane Vincevica Gaile yang berasal dari Latvia. Hadir pula Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Prof. Didiek Hadjar Goenadi serta Henik Sukorini, Ph.D pada Rabu (28/7) lalu. Paparan pertama diawali oleh Dadan dengan memberikan penjelasan lebih lanjut tentang pentingnya peran bioenergi dalam mendukung transformasi energi. Ia memulai dengan menerangkan perkembangan bioenergi di Indonesia. Mulai dari pengembangan bioenergi berbasis power plant dan meningkatkan penggunaan biofuel pengganti bahan bakar fosil. Pun dengan biomass sebagai pengganti batu bara serta memanfaatkan municipal solid waste dan sampah organik. “Pengembangan dan pemanfaatan biogas untuk industri dan sektor transportasi juga menjadi penting untuk transformasi energi. Potensi pemanfaatan bioenergi untuk listrik juga sangat besar. Berdasarkan survey beberapa tahun lalu, potensi yang diberikan ekuivalen dengan tenaga listrik sebesar 32 gigawatt. Sementara sekarang, kita menggunakan daya sebesar 2 gigawatt,” tutur Direktur Energi Terbarukan dan Konservasi Energi tersebut. Hal tersebut diperkuat oleh Didiek yang terus mendorong masyarakat untuk berpikir lebih jauh terkait kelestarian alam. Peneliti Lembaga penelitian Bioteknologi dan Bioindsutri indonesia itu terus mengajak untuk memelihara stok karbon organik tanah yang ada. Kemudian Zane dari University of Latvia yang senantiasa mengingatkan bahaya dan dampak buruk penghancuran lahan gambut di masa depan. Salah satunya adalah menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan global. Hal serupa disampaikan oleh Juris Burlakov. Ia menilai perlu adanya peningkatan efisiensi sumber daya dan pendauran ulang. Keduanya menjadi upaya untuk mengurangi konsumsi bahan baku utama sekaligus sebagai usaha dalam melestarikan lingkungan. Sementara itu, paparan menarik diberikan oleh Hiroyuki Sakakibara. Menurutnya, lingkungan yang baik akan berdampak pada kualitas organisme, termasuk di dalamnya adalah tanaman. Tanah yang penuh dengan nutrisi akan mendukung tanaman agar mampu melakukan biosintesis senyawa bioaktif. Ia menyebut senyawa flavonoid adalah salah satu senyawa yang bermanfaat. Hal itu tidak lepas dari perannya dalam melindungi tanaman akan kerusakan akibat paparan sinar UV. “Sehingga besar harapannya, para petani dapat menghasilkan produksi tanaman apapun dengan kualitas yang maksimal,” tuturnya melanjutkan. Konferensi tersebut ditutup dengan penyampaian materi oleh Henik. Menurutnya, agrikutur merupakan sektor strategis yang memberikan sumbangan terbesar kepada Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karenanya, ia mengatakan bahwa pengembangan kelestarian lahan dan menjaganya dari kerusakan lingkungan adalah sebuah tantangan besar. Sementara itu, Dr. Ir. Damat, M.P. selaku ketua panitia mengatakan bahwa gelaran ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para peserta terkait pertanian dan kelestarian lingkungan. Di samping itu juga meningkatkan publikasi para dosen di jurnal yang terindeks Scopus. Menurut Damat, publikasi-publikasi ilmiah tentu diperlukan oleh dosen serta perguruan tinggi. “Gelaran IcoN-BEAT ini juga menjadi upaya kami dalam membangun kerja sama internasional. Kali ini kami bekerja sama dengan Jordan Journal dari Jordania dan Sarhad Journal dari pakistan untuk memberikan materi di workshop yang dilaksanakan pada hari kedua,” terangnya melanjutkan. (wil)
Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Mitigasi Bencana Tanah Longsor

Potensi bencana alam yang terjadi di Indonesia cukup besar. Salah satu bencana alam yang sering terjadi adalah tanah longsor. Tercatat, sepanjang tahun 2021 ada 218 kasus tanah longsor yang terjadi di Indonesia. Untuk mengurangi korban akibat bencana alat tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan sistem peringatan dini bencana tanah longsor berbasis Internet of Things melalui pesan Telegram. Salah satu anggota tim, Retno Diajeng Putri mengatakan bahwa sistem ini merupakan pengembangan dari sistem yang telah ada di Indonesia. Retno melanjutkan, meskipun tanah longsor sering terjadi Indonesia, sistem yang dikembangkan oleh pemerintah masih berbasis Short Message Service (SMS). Pengiriman peringatan ini terkendala karena masyarakat telah berpindah dari SMS ke aplikasi pesan berbasis internet. “Karena sudah tidak menggunakan SMS untuk berkirim pesan, kadang masyarakat tidak tahu jika ada pemberitahuan peringatan tanah longsor. Untuk itu kami menggunakan sistem Internet of Things (IoT) untuk mengirim peringatan bencana tanah longsor ke masyarakat melalui Bot Telegram,” ungkap mahasiswa Teknik Elektro tersebut. Retno menjelaskan, untuk mendeteksi bencana tanah longsor, mereka menyematkan dua sensor dalam alatnya yaitu sensor humidity dan ultrasonic. Kedua sensor tersebut dapat mendeteksi pergeseran tanah, kelembaban tanah, dan intensitas curah hujan di suatu daerah. Data dari kedua sensor itu akan diolah di raspberry pi model B+ dan akan menghasilkan empat peringatan yaitu aman, waspada, siaga, dan awas. “Telegram dipilih sebagai aplikasi pengirim peringatan bencana karena lebih cepat dalam hal pengiriman data dibanding aplikasi yang lain. Untuk sistem penyampaian informasi alat ini ke masyarakat akan melalui undangan di aplikasi Telegram. Jadi penggunaan alat ini memang hanya terbatas pada daerah-daerah rawan longsor,” terang Retno. Saat ini, Retno dan tim telah menyelesaikan pembuatan alat pendeteksi bencana tanah longsor tersebut. Namun ke depannya akan ada beberapa penyesuaian dan evaluasi setelah diuji coba. Selain Retno, tim ini terdiri dari Ade Musthafa Alwi dan Devi Krista Ferani. Adapun alat ini telah diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan lolos pada tahap pendanaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Saya tentu berharap alat ini dapat dapat membantu mitigasi bencana tanah longsor di Indonesia lebih baik lagi. di samping itu juga mampu mengurangi jumlah korban,” pungkasnya. (haq/wil)
Tingkatkan Ekonomi, Tim FEB UMM Dorong Warga Manfaatkan Potensi Singkong

Singkong menjadi salah satu bahan makanan penghasil karbohidrat terbesar ketiga setelah padi dan jagung. Bahan baku ini juga memiliki potensi untuk dikelola menjadi beragam jenis makanan. Namun, Desa Wonokerto, Trenggalek sebagai salah satu desa penghasil singkong kurang memanfaatkan potensi tersebut. Melihat hal itu, tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan pelatihan pembuatan keripik dari singkong. Adapun program pengabdian masyarakat ini berlangsung selama dua bulan dari tanggal 1 Juni – 30 Juli 2021. Saat ditemui, ketua tim pengabdian dosen Novi Puji Lestari.,SE.,M.M., mengatakan bahwa sebagian masyarakat Desa Wonokerto bermata pencaharian sebagai petani singkong. Sayangnya, mereka hanya menjual hasil panen mentah kepada tengkulak. Hal itu membuat harga jualnya juga lebih rendah. Padahal menurutnya, jika diolah produk dari singkong bsia memberikan keuntungan yang lebih banyak. “Masyarakat tidak memanfaatkan potensi bahan makanan ini dengan baik. Padahal produk olahan singkong seperti makanan ringan sangat menjamur di perkotaan. Karena itu, kami mengadakan pelatihan pembuatan keripik singkong bagi warga desa,” ungkap dosen Prodi Manajemen tersebut. Dalam rangkaian kegiatannya, Novi mengatakan selain mengajari masyarakat tentang pengolahan singkong menjadi produk layak jual, tim ini juga memberikan pemahaman mengenai merek dagang. Pemberian materi mengenai merek dagang ini bertujuan agar masyarakat mampu membangun brand keripik singkong sendiri di pasaran. “Kami juga memberikan beberapa alat yang bisa mendukung produksi keripik kentang di desa Wonokerto. Mulai dari sealer, spinner, alat pengiris singkong, plastik untuk kemasan, bumbu dengan berbagai rasa-rasa, hingga stiker untuk label di kemasan produk,” ujar Novi lebih lanjut. Novi tidak sendiri dalam melaksanakan program pengabdian masyarakat ini. Pada kesempatan itu ia dibantu oleh Widhiyo Sudiyono.,ST.,M.BA. Selain itu ada lima orang mahasiswa lain yang turut serta terjun langsung memberi pelatihan yaitu, Abidin Muchlis El Ab’ror, Omita Arindya, Adinda Rizky Yuanitasari, Evrila Restu Goetama Saputri dan Tassya Marchella Adelina Wahyudi. Terakhir, Novi berharap kegiatan pengabdian ini dapat memberikan manfaat bagi warga desa Wonokerto. “Di samping itu saya juga berharap agenda ini dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar. Begitu pula untuk memberikan keterampilan baru bagi masyarakat,” tandasnya. (syi/wil)
Tekan Angka Kekerasan Anak, Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi Track Child

Sejak tahun 2017 angka kekerasan pada anak telah menyentuh lebih dari 50 kasus. Baik itu penculikan, seksualitas, hingga perdagangan. Meski sudah berada dalam pengawasan orang tua dan pendidik, kekerasan pada anak-anak masih sering terjadi. Melihat fenomena tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiatif menciptakan Alat Pelacak yang mereka beri nama Track Child. Alat itu diharapkan bisa menjadi solusi dalam pengawasan anak. Dicky Marcellio Akbar selaku ketua kelompok menjelaskan bahwa alat pelacak ini berbentuk persegi panjang dan dipasangkan pada ikat pinggang anak. Alat tersebut akan disambungkan dengan aplikasi Track Child, sehingga orang tua dapat mengetahui lokasi anak. Pada alat tersebut juga terdapat dua tombol yaitu warna hijau dan kuning. Tombol hijau akan memberikan sinyal bahwa anak telah pulang dan aman, sedangkan kuning memberikan sinyal bahwa mereka sedang berada dalam masalah. “Jika anak belum memberikan sinyal atau bahkan pelacak terlepas, alat itu akan memberikan sinyal bahaya otomatis pada aplikasi Track Child,” jelasnya. Mahasiswa Teknik Elektro ini menambahkan bahwa alat pelacak ini memiliki sebuah magnet yang akan membantu dalam pemasangan ke ikat pinggang anak. Alat navigasi ini juga memiliki fitur GPS yang dapat memberikan lokasi alat dengan lebih akurat. Adapula security system yang menghalangi oknum lain saat ingin mengakses alat serta aplikasi terkait. “Kami juga telah menanamkan baterai dengan kapasitas 2.000 mAh yang bisa direcharge kembali,” imbuhnya. Ide dari tim yang beranggotakan Dicky Marcellino Akbar, Revaldo Yuanda, Kholil Maharno, Rega Suharsyah Khumaini, serta Atika Nur Azzahra ini berhasil lolos tahap pendanaan Program Kreatifitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC). Mereka juga telah selesai merancang dan akan segera merealisasikan teknologi ini. “Semua rancangannya sudah rampung dan dibuat. Kami akan segera melakukan uji coba dengan keadaan yang sebenarnya,” jelasnya melanjutkan. Terakhir, Dicky berharap agar alat pelacak dan aplikasi Track Child ini bisa didukung oleh pihak pemerintah. Jika tidak memungkinkan, ia bersama tim akan terus berusaha mengembangkan dan juga memasarkannya kepada masyarakat luas. “Tujuan dari PKM adalah agar dapat mengurangi serta mencegah kekerasan pada anak. Selain itu, menurut kami pengawasan yang dilakukan oleh orang tua lebih aman jika menggunakan alat dan aplikasi ini,” tutupnya. (haq/wil)
UMM Langsungkan KMMI, Program Peningkatan Skill Industri Mahasiswa

Dalam rangka mendekatkan dunia pendidikan dan industri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud-RI) bersama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar program Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI) pada bidang pertanian dan peternakan. Program ini digelar selama dua bulan mulai tanggal 2 Agustus sampai 31 September 2021 nanti. Perwakilan dari Dirjen Belmawa, Sukino S.Pd, M.A.P., mengakatan bahwa KMMI merupakan program rintisan untuk meningkatkan softskill dan kemampuan mahasiswa. Utamanya pada bidang serta peminatan yang mereka disukai. Program ini juga mendukung kebijakan belajar kampus merdeka yang telah canangkan oleh Kemendikbud sebelumnya. “KMMI berfungsi untuk melengkapi sistem pembelajaran di kelas. Kami berharap mahasiswa dapat memperoleh kemampuan aktual dan komprehensif yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Pemilihan UMM sebagai pengelola KMMI juga didasarkan pada keseriusan Kampus Putih dalam meningkatkan karakter dan pretasi mahasiswanya. Tidak hanya di tingkat nasional tapi juga di level Internasional,” ujar Sukino. Disisi lain Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, mengungkapkan bahwa pelaksanaan program KMMI ini akan memiliki banyak keuntungan bagi mahasiswa. Salah satunya adalah kemudahan untuk dapat belajar dari manapun. Mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia dapat bergabung dengan program ini dan memperoleh kemampuan baru yang bermanfaat. “Program ini juga membuka peluang bagi para mahasiswa untuk mempelajari jurusan lain yang ia minati. Selain itu KMMI akan menjadi modal penerapan dari program unggulan UMM. Sekaligus menjadi salah satu percepatan perguruan tinggi dalam memberikan kepastian pekerjaan sesuai passion,” ungkap Syamsul. KMMI yang digelar oleh Kemendikbud dan UMM telah menjaring sebanyak 2.500 mahasiswa dari seluruh Indonesia. dalam pembahasannya, ketua KMMI UMM, Dr. Ir. Abdul Malik, M.P., IPU., mengatakan bahwa KMMI UMM memiliki lima course. Course tersebut terdiri dari Manajemen Kandang Sistem Closed House, Teknologi Pakan dan Formulasi Rasum, Manajemen Breeding dan Hatchery, Manajemen Kesehatan Unggas, serta Manajemen Bisnis Ayam Ras. “Masing-masing course akan membina 400 mahasiswa. Jadi 2500 mahasiswa akan dibagi menjadi 50 kelas dan masing-masing kelas akan diisi oleh 40 mahasiswa. Adapun program ini diikuti oleh 165 perguruan tinggi PTS dan PTN di Indonesia. Kami juga didukung oleh 12 mitra yang berpengalaman yaitu, PT. Jatinom Indah Agri, PT. Charoen Pokphand, PT Sanbe, PT. Mensana, PT. Jatinom Indah Farm. Adapula PT. Anugrah Jaya Sedaya, PT. Sembada Karya Mandiri, PT Jatinom Unggas Jaya, PT BIGMAN, PT. Vaksindo Satwa Nusantara. Kemudian, dua nama terakhir yakni CV Cahaya Gemilang, dan PT Lestari Agroniaga,” pungkasnya. (syi/wil)
ICoN-BEAT, Konferensi Internasional FPP UMM Bahas Bioenergi dan Lingkungan
Berbagai konferensi internasional terus diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Salah satunya adalah gelaran International Conference on Bioenergy and Environmentally Sustainable Agriculture Technology (IcoN-BEAT). Agenda tahunan yang digelar oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM ini dilangsungkan secara daring pada Rabu (28/7) lalu. Diikuti ratusan peserta dari dalam dan luar negeri, ICon BEAT turut mengundang pemateri dari berbagai negara. Ada Prof. Hiroyuki Sakakibara dari Jepang, Assoc. Prof Juris Burlakovs dari Estonia dan Assoc. Prof Zane Vincevica Gaile yang berasal dari Latvia. Adapula tiga pemateri lain dari Indonesia yang turut memberikan paparannya yakni Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Prof. Didiek Hadjar Goenadi serta Henik Sukorini, Ph.D. Ditambah lagi dengan kegiatan workshop pada hari kedua. Dr. Ir. Damat, M.P. selaku ketua panitia mengatakan bahwa gelaran ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para peserta terkait pertanian dan kelestarian lingkungan. Di samping itu juga meningkatkan publikasi para dosen di jurnal yang terindeks Scopus. Menurut Damat, publikasi-publikasi ilmiah tentu diperlukan oleh dosen serta perguruan tinggi. “Gelaran IcoN-BEAT ini juga menjadi upaya kami dalam membangun kerja sama internasional. Kali ini kami bekerja sama dengan Jordan Journal dari Jordania dan Sarhad Journal dari pakistan untuk memberikan materi di workshop yang dilaksanakan pada hari kedua,” tambahnya. Sementara itu, keenam pembicara menyampaikan pilihan topik yang menarik. Sebut saja Dadan, Direktur Energi Terbarukan dan Konservasi Energi yang membuka materi dengan memaparkan pentingnya peran bioenergi. Menurutnya, energi tersebut punya peran dalam mendukung transformasi energi ke depannya. Hal tersebut diperkuat oleh Didiek yang terus mendorong masyarakat untuk berpikir lebih jauh terkait kelestarian alam. Peneliti Lembaga penelitian Bioteknologi dan Bioindsutri indonesia itu juga mengajak untuk memelihara stok karbon organik tanah yang ada. Kemudian Zane dari Department of Environment Science, University of Latvia juga mengingatkan bahwa penghancuran lahan gambut akan memberikan dampak buruk untuk masa depan. Salah satunya adalah menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan global. Di samping itu, Juris Burlakov menilai perlu adanya peningkatan efisiensi sumber daya dan pendauran ulang. “Deratan usaha ini merupakan upaya untuk mengurangi konsumsi bahan baku utama sekaligus untuk melestarikan lingkungan,” imbuhnya. Hal senada juga dijelaskan oleh Hiroyuki Sakakibara. Menurutnya, lingkungan yang baik akan berdampak pada kualitas organisme, termasuk di dalamnya adalah tanaman. Tanah yang penuh dengan nutrisi akan mendukung tanaman agar mampu melakukan biosintesis senyawa bioaktif. Salah satunya adalah senyawa flavonoid yang dapat melindungi tanaman dari kerusakan akibat paparan sinar UV. “Sehingga besar harapannya, para petani dapat menghasilkan produksi tanaman apapun dengan kualitas yang maksimal,” tuturnya melanjutkan. Terakhir, Henik menutup konferensi tersebut dengan menyampaikan bahwa agrikutur merupakan salah satu sektor yang strategis. Hal itu tidak lepas dari perannya yang memberikan sumbangan terbesar kepada Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karenanya, Henik mengatakan bahwa pengembangan kelestarian lahan dan menjaganya dari kerusakan lingkungan adalah sebuah tantangan besar. Semua usaha tersebut bertujuan untuk menjaga kesuburan tanah yang nantinya bisa memberikan dampak positif bagi pertumbuhan tanaman. (wil)
Wangsaku, Layanan Uang Elektronik Ciptaan Mahasiswa UMM

Dalam rangka meminimalisir penularan virus Covid-19, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan layanan uang elektronik bernama Wangsaku. Inovasi yang mereka buat ini telah diikutsertakan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dan berhasil lolos tahap pendanaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada Mei lalu. Salah satu anggota tim, Tanthowi Jauhari mengatakan ide pembuatan layanan pembayaran virtual tersebut berawal dari kegelisahan mereka akan tingginya kasus penularan Covid-19. Utamanya mereka yang berada di usia kanak-kanak. Terhitung dari bulan Januari sampai Maret 2021 ada sebanyak 120.000 kasus anak yang tertular virus tersebut. “Kami khawatir nanti saat sekolah kembali dibuka, angkanya akan semakin naik karena kontak fisik akan semakin banyak. Sehingga membentuk klaster penularan baru. Karena hal itu, kami berinovasi untuk mengganti penggunaan uang tunai dengan uang elektronik di lingkungan sekolah,” terang mahasiswa Prodi Informatika tersebut. Antho, sapaan akrabnya menerangkan bahwa teknologi Wangsaku akan ditanamkan pada gelang sebagai media transaksinya. Gelang ini dilengkapi dengan teknologi Near Field Communication (NFC) yang akan memudahkan anak untuk membeli sesuatu tanpa harus melakukan kontak fisik. “Selain berfungsi sebagai media transaksi keuangan, gelang ini juga bisa digunakan sebagai parental controlling karena struk belanja anak akan dikirim ke orang tua,” ujar Antho. Sampai saat ini Antho dan tim telah merampungkan pembuatan aplikasi wangsaku dan akan menguji coba pada salah satu sekolah Muhammadiyah yang ada di Malang. Ia bercerita bahwa kendala tersulit dalam pembuatan Wangsaku adalah proses penyusunan database. “Kami harus menghubungkan proses layanan di kasir kantin dan aplikasi wangsaku. Hal itu cukup rumit untuk kami,” kata mahasiswa kelahiran Lombok tersebut. Dalam pembuatan Wangsaku Antho ditemani oleh Andhika Dwi Aditya, Lale Wiega Arifah Chopsah, dan Alif Syifa Arsyila dari Prodi Informatika serta Permaisuri Fatimah Azzahra dari Prodi Akuntansi. Antho berharap dengan adanya Wangsaku akan meminimalisir kontak anak-anak dengan benda serta menurunkan proses penularan Covid di sekolah nantinya. “Saya berharap teknologi ini dapat diterima oleh banyak kalangan dan bermanfaat bagi masyarakat. Semoga Wangsaku juga bisa terus dikembangkan agar dapat memberikan dampak yang lebih dari ini,” pungkasya. (syi/wil)
Gubernur Jatim Apresiasi RS Covid dan Canangkan Vaksinasi Difabel serta Nakes di UMM

Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa hadir secara langsung pada gelaran vaksinasi massal yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (2/8) lalu. Didampingi Dr. Fauzan, M.Pd selaku rektor Kampus Putih dan Drs. Sutiaji Walikota Malang, Khofifah sempat melihat perkembangan pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) Covid UMM. Ia juga menyampaikan terkait pemberian vaksin khusus bagi difabel dan sumber daya manusia (SDM) kesehatan. Sebelum menuju lokasi vaksinasi, gubernur Jatim mengunjungi RS UMM terlebih dahulu. Ia menyempatkan diri untuk menyapa para pasien covid yang sedang menjalani perawatan di Instalasi Perawatan dan Infeksi RS UMM. Di samping itu juga berdialog dan melihat perkembangan para pasien yang ada. Kemudian, saat di Dome Khofifah menyampaikan apresiasi akan usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh Kampus Putih UMM. Ia menilai bahwa RS UMM merupakan rumah sakit yang inklusif dilihat dari berbagai sisi. “Saya bisa mengatakan demikian karena sejak Maret tahun lalu, saya sudah seperti manajer rumah sakit di Jawa Timur,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa hanya ada segelintir rumah sakit yang menyiapkan layanan seksio bagi pasien terkonfirmasi positif. Tidak banyak pula yang menyiapkan tempat persalinan bagi ibu hamil yang terkonfirmasi Covid-19. Pun tidak banyak yang memberikan layanan hemodialisis bagi mereka. “Namun, ketiga layanan tersebut bisa ditemui di RS Universitas Muhammadiyah Malang,” imbuhnya. Khofifah juga ingin agar rumah sakit lain bisa mengikuti jejak RS UMM, yakni menyediakan layanan-layanan persalinan bagi mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19. Menurutnya, menyiapkan layanan tersebut bukanlah hal yang sederhana. Maka ia mengapresiasi RS UMM karena telah mengemban tanggung jawab yang luar biasa selama ini. Berikutnya, inklusivitas RS UMM juga bisa dilihat dari domisili pasien. Saat berkunjung, Khofifah sempat berdialog dengan beberapa pasien yang domisilinya bukan hanya Malang. Menurutnya, masyarakat harus memiliki harapan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang baik. “Dan salah satu pihak penyedia layanan ini adalah RS UMM yang saya kunjungi tadi,” tegasnya. Ia menyebut bahwa Malang memiliki semangat yang luar biasa untuk mendapatkan vaksin. Proses akselerasi memang sudah menjadi kebutuhan dan UMM adalah pihak yang telah berkali-kali melaksanakannya. “Saat berkoordinasi dengan Rektor UMM kemarin, kami juga berencana mengirim para nakes UMM ke berbagai sekolah untuk memberikan layanan,” lanjut Khofifah. Vaksinasi para difabel dan SDM Kesehatan juga sempat disampaikan oleh Khofifah. Jenis yang diberikan juga berbeda dengan yang lain. Bagi difabel yang berusia 18 tahun ke atas akan diberi vaksin jenis Sinovam. Sementara bagi para SDM Kesehatan akan disediakan vaksin Moderna untuk vaksinasi ketiga. “UMM juga menjadi pihak yang memulai memberikan dua vaksin jenis ini. Pun dengan Malang sebagai daerah pertama yang menggunakan Moderna bagi SDM kesehatan dan Sinovam bagi penyandang disabilitas,” tutur Khofifah. Sementara itu, Fauzan menyampaikan terimakasih kepada Gubernur Jatim yang berkenan untuk hadir serta meninjau pelaksanaan vaksinasi hari ketiga di UMM. Ia menyampaikan bahwa gelaran ini merupakan insiatif dari Gubernur Jatim yang bekerja sama dengan Pemkot Malang, Pemkab Malang, serta UMM. “Vaksinasi ini merupakan upaya akselerasi dalam melakukan percepatan, khususnya kepada masyarakat Malang Raya. Namun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat luar Malang yang berdomisili dan berkepentingan di Malang,” ungkapnya. Terakhir, Fauzan juga berterimakasih karena Pemprov telah memberikan sumbangan berupa tempat tidur bagi RS Covid UMM. Hal itu tentu memberikan dampak positif bagi pelayanan untuk masyarakat. “RS Covid ini sebenarnya belum diresmikan, namun tuntutan kondisi memaksa kami untuk segera menggunakannya dan Alhamdulillah berjalan dengan baik,” tutupnya. (wil)
Galakkan Program GESIT, UMM Gelar Vaksinasi

Ikut berkontribusi dalam akselerasi vaksinasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar vaksinasi massal dalam dua hari yakni pada 31 Juli-1 Agustus 2021. Adapun gelaran ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi UMM dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa beberapa hari sebelumnya. Sebanyak 5.000 vaksin disiapkan untuk disebarkan kepada sivitas akademika dan keluarga besar UMM serta masyarakat umum. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa UMM telah lama berkontribusi dalam situasi pandemi lewat program GESIT. Melalui gerakan ini, Kampus Putih terus mengkampanyekan terkait vaksinasi dan protokol kesehatan, berempati serta peduli pada masyarakat, dan bersinergi dengan berbagai pihak dalam mengatasi pandemi Covid-19. Di samping itu, gerakan GESIT ini juga diimplementasikan melalui inisiatif-inisiatif UMM dalam meringankan beban masyarakat, utamanya mereka yang terdampak langsung. Selain itu juga menekankan pentingnya menjaga diri demi mewujudkan Indonesia bebas dari Covid. Fauzan juga mengatakan UMM telah lama merespon serangan pandemi dengan membentuk tim Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk menanganinya. Salah satunya adalah Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) yang terus membantu dalam segala aspek di masa pandemi “Kami juga sempat bekerja sama dengan Kodim dan Pemda untuk melaksanakan vaksinasi massal beberapa minggu lalu. Tentu ini adalah bentuk ikhtiar dan pengabdian kami demi kebaikan bersama,” tegasnya. Sementara itu, Zakarija Achmat, S.Psi. M.Si., selaku koordinator lapangan vaksinasi menjelaskan ada sebanyak 5.000 dosis yang akan diberikan dalam dua hari pelaksanaan. Adapun mereka menargetkan keluarga besar sivitas akademika dan masyarakat umum yang belum divaksin. “Ibu Khofifah, Gubernur Jawa Timur juga akan hadir pada hari kedua untuk memantau jalannya agenda ini. Gelaran ini juga tidak lepas dari dukungan Pemprov Jatim yang terus mendorong gerakan sadar vaksinasi Covid-19,” lanjutnya. Zakarija, panggilan akrabnya mengatakan bahwa acara ini memiliki konsep yang berbeda dibandingkan vaksinasi di tempat lain. Sebut saja penampilan band dari alumni dan mahasiswa yang akan menghibur para nakes serta peserta. Uniknya, mereka akan mengenakan alat pelindung diri (APD) dan hazmat level 2 dan 3. “Meski begitu, kami pastikan tidak akan membuat kerumunan dan menerapkan prokes dengan ketat,” tegas Zakarija. Terakhir, ia juga sempat membahas mengenai program UMM GESIT yang sudah digalakkan sejak awal pandemi. Dijelaskan oleh Zakarija, GESIT ini merupakan singkatan dari Gencar kampanyekan vaksinasi, Empati pada masyarakat, Sinergi dengan berbagai pihak, Insiatif, serta Terapkan prokes dengan ketat. “Harapannya vaksinasi yang dilaksanakan oleh UMM ini mampu berkontirbusi dan menekan angka penularan Covid-19 di masyarakat luas,” tutupnya menerangkan. (wil)