Undang Dubes RI untuk Slowakia, FEB UMM Bahas Ekspor Impor

Bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen , FEB Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan Mahapreneur 8 pada Jumat (16/7). Agenda ini merupakan acara tahunan yang membahas terkait bisnis dan usaha. Adapun kali ini Mahapreneur 8 mengusung tema “Create Export Opportunities in the World of Virtual Business” dengan mengundang dua pemateri utama. Keduanya adalah Adiyatwidi Adiwoso Aswadi,MA selaku Duta besar RI untuk Bratislava, Slowakia serta Fernanda Reza Muhammad selaku Wakil Ketua Indoensia Japan Business Network (IJB-Net). Ada sekitar 8.000 peserta yang berasal dari SMA dan perguruan tinggi se-Indonesia. Membuka Mahapreneur, Dekan FEB UMM Dr. Idah Zuhroh, MM. menyampaikan bahwa potensi ekspor Indonesia sangatlah besar. Apalagi dalma upaya meningkatkan devisa negara. Maka dari itu, menurut Idah, gelaran ini dapat memberikan pandangan akademis kepada mahasiswa terkait peluang ekspor yang diimbangi dengan perkembangan teknologi informasi. “Semoga Mahapreneur 8 ini bsia memberikan wawasan dan ilmu baru terkait ekspor dan impor bagi para peserta,” harapnya. Sementara itu, Wike, panggilan akrabnya mengawali materi dengan mengenalkan negara slowakia kepada para peserta. Ia menjelaskan bahwa negara ini merupakan negara landlock dengan total populasi 5,4 juta jiwa. Menurut economic intelligence yang dilakukan oleh KBRI Bratislava, ada lima produk yang memiliki potensi bagus untuk masuk ke pasar slowakia. “Beberapa di antaranya adalah food & beverages, karpet, timah, aksesoris kendaraan, dan minyak sawit,” jelas Dubes kelahiran Jakarta tersebut. Ia juga menuturkan bahwa impor utama Indonesia dari Slowakia berada di sektor elektronik dan otomatif. Dilanjutkan olehnya, hubungan ekonomi Indonesia-Slowakia tidak mengendur meski berada di masa pandemi Covid-19. Hal itu terjadi karena adanya adaptasi yang dilakukan oleh kedua negara dengan memanfaatkan teknologi dalam melaksanakan bisnis. Pada kesempatan yang sama, Reza menjelaskan bahwa Indonesia menjadi negara importir terbesar ke-10 di Jepang pada 2017. Adapun nilai totalnya berada di angka 22,3 milyar USD dari total 753,7 Milyar USD yang ada. Lebih lanjut, Pria yang juga menjadi tenaga teknis Ekspor Center Surabaya itu juga menyampaikan bahwa masyarakat Jepang kini sudah aware dengan makanan- serta minuman halal. Hal ini memberikan peluang bisnis yang besar bagi UMKM yang ada di Indonesa untuk memasarkan produknya di Jepang. “Peluang-peluang inilah yang harus dimanfaatkan dengan baik sehingga dapat membantu perkenomian negara,” tegasnya mengakhiri. (wil)
TRIbute to Live, Tema 35 Tahun Komunikasi UMM

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini memasuki usia yang ke-35 tahun. Memperingati miladnya, Prodi Komunikasi dengan apik melaksanakan rangkaian acara menarik. Dibuka dengan gelaran virtual Tribute to Life pada Rabu (28/07). Acara yang disiarkan melalui channel Youtube itu didedikasikan kepada para pendahulu prodi yang telah wafat serta mengapresiasi pejuang Covid-19 yang sedang bertarung di masa pandemi ini. Ketua Prodi Komunikasi UMM, Muhammad Himawan Sutanto, S.Sos., M.Si mengatakan bahwa peringatan ulang tahun kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam suasana prihatin, pihaknya tetap ingin membangun optimisme agar mampu melewati kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat di dunia. “Di usianya yang ke-35 ini, Komunikasi UMM bertekad untuk terus berprestasi, kreatif dalam berkarya, komunikatif dalam kehidupan sosial, serta kolaboratif dalam memberi solusi kepada masyarakat,” tegas Himawan. Sementara itu, ketua panitia Milad ke-35 Komunikasi UMM, Arum Martikasari, M.Med.Kom., menerangkan bahwa kemasan acara Tribute to live ini menekankan pada semangat Tridharma Perguruan Tinggi. Di samping itu juga sebagai perwujudan dari tagline “Kreatif, Komunikatif, Kolaboratif”. Acara yang dipandu oleh sekretaris Prodi Komunikasi UMM, Widiya Yutanti, S.Sos, M.A. ini, selain menampilkan alunan musik mahasiswa, pembacaan puisi, dan testimoni para dosen, juga menampilkan testimoni dari keluarga para dosen yang telah wafat. Apresiasi diberikan kepada tiga orang dosen yang telah mendedikasikan diri dan berjasa bagi Prodi Komunikasi UMM. Ketiganya adalah alm. Prof. Dr. Hamidi, alm. Dr. Abdullah Masmuh, MS.i, dan alm. Drs. Rudi Lelono, M.Si. Agenda tersebut juga dimeriahkan dengan pemutaran tayangan para pejuang Covid-19 yang terus berusaha untuk bertahan. Beberapa mahasiswa yang terpapar virus ini memberikan testimoni serta pengalamannya dalam menjalani isolasi mandiri dengan tetap mengikuti perkuliahan bahkan ujian skripsi secara daring. Mereka berterima kasih kepada Prodi yang terus memberikan perhatian baik berupa asupan gizi, obat-obatan, maupun motivasi. Video tersebut diakhiri dengan pelukan virtual oleh para dosen kepada siapa saja yang sedang berjuang melawan Covid-19. Adapun peringatan 35 tahun Komunikasi UMM ini akan terus berlanjut hingga Oktober 2021 nanti. Beberapa agenda yang disiapkan adalah Social Media Campaign #TRIbuteToLife, Open Donation, Commtalk Special Edition: Kawal Infodemik, berbagai kompetisi untuk mahasiswa, serta launching buku karya kolaborasi Dosen Komunikasi UMM yang membmahas ilmu komunikasi dalam situasi pandemi. “Puncaknya, nanti akan digelar peluncuran buku, penyerahan dana untuk penyintas Covid-19 serta penganugerahan kepada para pemenang lomba,” pungkas Arum. (*/wil)
ICon-TINE, Konferensi Internasional FT UMM
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menjaga tradisi akademis dan keilmuannya. Salah satunya melalui gelaran International Conference on Technology, Informatics, and Engineering (ICon-TINE) 2021. Agenda yang dilaksanakan oleh Fakultas Teknik (FT) ini dilangsungkan pada Rabu (28/7) lalu. Turut hadir Prof. Dr. Taufik dari California Polytechnic University State , Assoc. Prof. Dr. Eng Yasuhiro Mizutani dari Osaka University Jepang, serta Prof. Ilyas Masudin Ph.D dari Kampus Putih UMM. Membuka konferensi, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengungkapkan bahwa FT UMM memiliki berbagai kegiatan internasional, salah satunya adalah Icon-TINE. Menurutnya, konferensi ini menjadi langkah yang baik dalam menjaga tradisi akademis dan ilmu pengetahuan. “Saya turut mengapresiasi para panitia dan dekanat yang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelenggarakan agenda ini. Sekalipun masih berada di tengah pandemi,” tuturnya. Syamsul berharap Icon-TINE bisa menjadi gelaran yang mampu mengembangkan sains, utamanya dalam bidang teknik. Selain itu juga bisa menjadi forum komunikasi para akademisi terkait penelitian dan riset yang sudah dilakukan. “Dengan begitu teman-teman lain juga bisa memberikan saran, kritik serta masukan agar penelitian yang sudah terlaksana bisa diperbaiki dan menjadi lebih baik,” ungkapnya. Sementara itu, Taufik menerangkan terkait “Direct Current (DC) House System for Future Homes and Off-grid Electrical System” dalam materinya. Menurutnya, sistem DC memiliki banyak keuntungan dalam penggunaan sehari-hari. Selama ini, pengaliran listrik ke berbagai pemukiman dilakukan dengan sistem Alternating Current (AC) dari Pembangkit Listrik. Namun saat listrik disalurkan ke elektronik, listrik AC perlu dikonversi menjadi DC oleh adaptor. Menurut Taufik, proses ini kurang efisien karena membuang banyak energi. Sebaliknya, jika mengaplikasikan sistem DC, maka kita bisa langsung menyalurkan listrik tanpa mengubah serta membuang energi. Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa sistem ini akan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Utamanya energi yang didapat dari panel surya. Sistem ini juga akan memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk merasakan layanan listrik meskipun berada di pedalaman. “Jadi rumah masa depan akan memiliki sumber tenaga sendiri tanpa bergantung pada pembangkit listrik skala besar. Meski begitu, sistem ini masih perlu pengembangan lebih lanjut dengan berbagai disiplin ilmu berbeda. Salah satu yang kami kembangkan adalah dalam aspek software.” terang Taufik. Pada kesempatan yang sama, Yasuhiro membahas megenai “High Speead-High Resolution Ghost Imaging with Deep Learning”. Alih-alih menggunakan mega pixel, Ghost imaging memungkinkan kita untuk mengambil gambar menggunakan single pixel. Dengan begitu, ukuran yang tadinya cukup besar bisa ditekan menjadi lebih kecil. “Tentu aspek ini akan sangat berguna, utamanya di era industru 4.0 saat ini,” jelasnya lebih lanjut. Di samping itu, sistem ini juga memiliki kelebihan lain. Sebut saja hasil ukuran yang lebih kecil serta deteksi yang tergolong cepat. Ditambah lagi dengan sensitivitas yang cukup tinggi sehingga memudahkan dalam mengambil gambar. Adapula kelebihan lain dari sistem ini adalah fleksibilitas pada panjang gelombang. Terakhir, ada paparan dari Ilyas yang membahas mengenai “Food Cold Chain in Indonesia during the Covid-19 Pandemic: Current Situation and Mitigation”. Dijelaskan Ilyas, food cold chain adalah sistem distribusi makanan di mana produk diurus dengan temperatur yang sesuai. Mulai dari proses panen hingga proses konsumsi masyarakat. “ Sistem ini tentu membutuhkan fasilitas untuk bisa menyimpan makanan di berbagai kondisi. Salah satunya yakni dengan suhu rendah,” tuturnya. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa bisnis food cold chain memiliki potensi yang besar untuk Indonesia. Baik di sektor perikanan, peternakan, industri pangan bahkan farmasi. Meski begitu, serangan pandemi membuat bisnis food cold chain harus segera beradaptasi dan melakukan strategi baru. khususnya dalam hal teknologi. “Langkah-langkah tersebut diambil untuk meminimalisir food loss serta food waste,” pungkasnya dalam paparan. (wil)
International Conference Pascasarjana UMM Kaji Tantangan dan Peluang Era New Normal

Setelah lebih dari setahun menghadapi pandemi dan menjalani era new normal, muncul berbagai tantangan dan peluang untuk kembali membangun segala bidang. Berangkat dari hal itu, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Conference dengan topik “Under New Normal: Challenge & Opportinities”. Adapun gelaran ini diselenggarakan secara daring melalui kanal Zoom serta terbagi menjadi dua sesi yaitu pada tanggal 10 Juli untuk kluster pendidikan. Dilanjutkan dengan kluster non pendidikan pada 17 Juli lalu. Membuka acara, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I memaparkan analisisnya terkait pandemi Covid-19. Menurutnya, virus ini telah membuat berbagai aspek kehidupan terganggu bahkan tidak berjalan dengan semestinya. Pandemi juga memaksa manusia untuk menjaga jarak dalam menjalankan aktivitasnya. “Tentu pandemi ini merupakan anomali yang tidak normal. Hal itu berujung pada keadaan krisis di mana-mana,” tuturnya menerangkan. Dosen kelahiran Madura ini menambahkan, pendidikan juga menjadi aspek yang tidak luput dari efek serangan pandemi. Sistem pembelajaran berubah sedemikian rupa. Harus beradaptasi dan mengubah pendidikan yang sebelumnya dilakukan secara luring menjadi daring hingga saat ini. Hal itu dilakukan agar para murid masih bisa bersekolah sekaligus menekan angka penularan Covid-19. “Untuk menyelesaikan problematika ini perlu adanya pendekatan semesta atau universal baik itu sains maupun medis. Ditambah dengan pendekatan kultural,” imbuh Syamsul. Adapun pada kluster pertama terkait pendidikan, konferensi ini menghadirkan Dr. Dennis Alonzo dari University of South Wales Australia, Prof. James Peacock dari Amerika Serikat, Dr. Abdul Harris, MA., dan Cherry Zin Oo, Ph.D, M.Ed, B.Ed salah satu dosen dari Yangon University of Educations Myanmar. Mengawali pemaparan, Dr. Dennis Alonzo mengkaji situasi pandemi yang berimbas pada pendidikan hingga mengharuskan adanya sistem baru, yakni daring. Menurutnya, ada berbagai peluang bagi instansi dan para pengajar untuk dapat memanfaatkan berbagai platform dalam pembelajaran. “Khusus untuk para pengajar, mereka harus segera ebradaptasi dan juga segera menjalankan kurikulum yang baru agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkapnya. Sementara itu, Prof. James Peacock menjelaskan bahwa Indonesia mengalami tiga fase krisis. Pertama ialah ketika G-30S PKI, yakni fase dimana terjadi krisis kepercayaan dan krisis toleransi. Selanjutnya yakni krisis pandemi Covid-19 saat ini yang melumpuhkan banyak sektor kehidupan, khususnya ekonomi dan pendidikan. Kemudian yang terakhir adalah perubahan iklim dan pemanasan global. Fase ketiga tersebut terjadi akibat proses akselerasi perubahan iklim yang ekstrem. Beberapa factor pemicunya adalah polusi udara, perusakan lingkungan dan limbah dari industri. Pemateri berikutnya, Dr. Abdul Haris, M.A. dalam pemaparannya menerangkan bagaimana manajemen yang baik untuk work from home dan learn from home. Jika diimplementasikan dengan baik maka tentu akan memudahkan dalam beradaptasi. Sedangkan Cherry Zin Oo membahas hasil risetnya pada era new normal. Menurutnya, pendidikan masa ini perlu menarik partisipan. Selain itu juga adanya masalah di aspek isu media. Adapun peluang yang muncul adalah keterbukaan askes individu pada pendidikan serta pengembangan karakter dengan memanfaatkan waktu selama pandemi. Sementara itu pada sesi kedua, konferensi tersebut menghadirkan Asst. Prof. Dr. Donludee Jaisut dari Kasertssart University Thailand, Assoc. Prof. Dr. Abdurrahman Raden Aji Haqqi dari University of Sultan Sharif Ali Islamic Brunei Darussalam, Dr. Ir. Rahayu Relawati, M.M., serta Dr. Magdalena Sztukiel dari Polandia. Berbeda dengan sesi sebelumnya, kali ini mereka membahas tema-tema di luar pendidikan. Mereka mengkaji mengenai bagaimana efek pandemi bisa melemahkan berbagai aspek kehidupan. Sleian itu juga perlu adanya persiapan matang dalam upaya memulihkan diri dari krisis. (haq/wil)
Didukung Gubernur Jatim, UMM Gelar Vaksinasi Massal dalam Waktu Dekat

Program akselerasi vaksinasi terus dilakukan oleh pemerintah, mulai dari tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Hal serupa juga akan segera dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Didukung oleh Pemprov Jawa Timur (Jatim), Kampus Putih akan melaksanakan vaksinasi massal keluarga besar dalam beberapa hari ke depan. Adapun koordinasi yang dilakukan pada Selasa (28/7) lalu tersebut dihadiri oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan rektor serta wakil rektor UMM. Khofifah, panggilan akrab Gubernur Jatim berpesan agar UMM bisa segera menyiapkan tim teknis pelaksanaan vaksinasi ini. Dengan begitu, agenda tersebut bisa segera dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan. Pihak Pemprov juga akan membantu dalam penyaluran serta berbagai kebutuhan lainnya. “Nanti, vaksin akan disalurkan melalui pemerintah kota maupun kabupaten setempat. Tapi tetap ada label peruntukan bagi UMM. Kalau memungkinkan, vaksinasi ini bisa segera digelar dalam beberapa hari ke depan,” tutur Khofifah. Adapun pemberian vaksin diutamakan pada sivitas akademika Kampus Putih terlebih dahulu, kemudian akan menyasar pada keluarga lalu alumni. Disampaikan Dr. Ir. Wahid Wahyudi, MT., harapannya gelaran ini mampu memberikan vaksin sekitar 2500-3000 dalam satu hari. “Jika berkaca pada vaksinasi yang dilangsungkan sebelumnya, kemungkinan jumlah yang diberikan mampu mencapai 3000 vaksin sehari,” harap Kepala Dinas Pendidikan Jatim tersebut. Menanggapi hal tersebut, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM mengaku siap dan akan segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang bersangkutan. Ia mengungkapkan bahwa UMM sudah memiliki tim khusus untuk Covid-19 sehingga akan lebih mudah dalam menentukan titik sasaran. “Nanti tim ini akan memilih titik-titik sasaran strategis agar akselerasi vaksinasi dapat berjalan lancar. Apalagi dengan dukungan fasilitas yang tersedia di UMM,” tegas Fauzan. Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada pilihan lain selain membantu pemerintah dalam percepatan agar bisa menciptakan herd immunity seperti yang diharapkan. Fauzan menilai bahwa usaha ini diharapkan bisa menjadi ladang pahala dan ibadah bagi semua pihak yang mengusahakannya. “Kami siap dan akan segera berkoordinasi agar gelaran ini bisa dilaksanakan hanya dalam hitungan hari ke depan,” tuturnya. Pada kesempatan yang sama, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 UMM, dr. Thontowi Djauhari, M.Kes juga sempat melaporkan perkembangan fasilitas dan pasien di Rrumah Sakit (RS) Covid UMM. Ia mengatakan kini ada 72 pasien yang sedang dirawat dengan enam ruang isolasi serta satu ruang operasi bagi ibu hamil yang terjangkit Covid-19. “Sebelumnya, ruangan ini adalah ICU namun sengaja kami ubah untuk keperluan operasi kelahiran bagi ibu hamil,” terangnya. Tomy, panggilan akrabnya juga melaporkan bahwa sejak pandemi menyerang, sudah ada sebanyak 1787 pasien yang dirawat di RS UMM. Adapun pada Juli tahun ini, ada sekitar 190 pasien yang sedang dirawat. Meski kini angka penularan semakin menurun dan stabil, Tomy masih khawatir dengan persediaan oksigen yang belakangan cukup sulit didapatkan. “Semoga gelaran vaksinasi ini nantinya bisa kembali menekan angka penularan Covid-19 yang ada di tengah masyarakat dengan signifikan,” tutup Tomy di akhir laporannya. (wil)
Dosen UMM Raih Penghargaan Social Impact Award di Gelaran Nasional

Angkat isu perkembangan teknologi dan Hak Asasi Manunia (HAM) dalam hukum, Sholahuddin Al-Fatih, S.H., M.H. dapatkan penghargaan Social Impact Award. Penghargaan ini dikeluarkan oleh Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) pada acara Seminar Nasional Artificial Intelligence dalam Bidang Hukum di Era Teknologi Informasi pada Kamis (22/07). Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut bercerita bahwa pada projek tulisannya ini, ia mengulas tentang perilaku masyarakat Indonesia dalam bersosial media. Fatih melanjutkan meskipun perkembangan teknologi sangat pesat, namun mayarakat tidak memiliki literasi yang baik dalam menyikapi teknologi tersebut. “Meskipun berpendapat dalam ranah sosial media merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) namun jika tidak dikontrol dengan baik, hal tersebut akan memunculkan dampak-dampak negatif. Dampak tersebut dapat berupa penyebaran berita bohong, penipuan, hacking, serta pencemaran nama baik,” ungkap Fatih menerangkan. Untuk menghindari dampak-dampak buruk tersebut, dosen kelahiran Gresik ini memberi beberapa solusi. Menurutnya, tiap orang harus memiliki batasan moral dan kontrol yang baik. Jadi, kebebasan berpendapat di sosial media bisa diwujudkan secara bertanggungjawab. Selain kesadaran Individu, pemerintah juga harus melakukan langkah-langkah konkrit untuk mengurangi dampak negatif yang timbul dari dunia maya. “Bisa saja pemerintah melakukan pembatasan kepemilikan gadget berdasarkan kelompok usia untuk melindungi anak dibawah umur. Pemerintah juga bisa melakukan pembatasan penggunaan akun media sosial dengan batasan usia minimal 17 tahun. Lalu adapula pemblokiran akun yang bermuatan SARA. Cara terakhir yakni dengan mengkampanyekan konten positif,” ungkap Fatih. Selain Fatih, salah satu Instruktur Laboratorium FH UMM, Ilham Dwi Rafiqi juga mendapat penghargaan sebagai Best Presenter. Terakhir, Fatih berharap masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam berkomentar ataupun memposting sesuatu di dunia maya, terutama di media sosial. “Semoga masyarakat bisa terus membenahi diri dan menjadi lebih santun dalam berinteraksi secara virtual. Sehingga tidak ada lagi konten-konten hoaks, hate speech, penipuan dan hal buruk lainnya di dunia maya,” tandasnya. (syi/wil)
Milad ke-14, PGSD UMM Launching 14 Buku Karya Mahasiswa dan Dosen

Berdiri sejak 2007, Program studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan agenda miladnya yang ke-14. Diramu dengan konsep talkshow, agenda ini dilangsungkan pada Sabtu (24/7) lalu melalui Zoom dan kanal Youtube. Tidak hanya itu, adapula launching 14 buku hasil kolaborasi mahasiswa dan dosen yang ada di Prodi terkait. Rangkaian panjang agenda milad PGSD diawali dengan penulisan karya buku oleh seluruh mahasiswa aktif PGSD angkatan 2018, 2019, dan 2020. Hingga berakhir pada agenda puncak yakni launching buku dan talkshow bertema “Generasi Emas Produktivitas Pemimpin Masa Depan”. Uniknya, gelaran itu juga menjadi pembuka acara menarik lainnya, yakni Paksi Fest 2021. Mengawali talkshow, Belinda Dewi Regina, S.Pd, M.Pd. mengungkapkan bahwa gelaran ini menjadi pengingat agar PGSD terus berinovasi agar mampu melahirkan pendidik-pendidik yang inovatif. Ia juga berharap agar prodi ini bisa semakin unggul dan terdepan dalam memberikan manfaat. “Tentu kami ingin memberikan yang terbaik agar para peserta didik nantinya bisa mendapat pengajaran yang baik,” tutur Belinda dalam sambutan. Pada kesempatan yang sama, Arina Restian, S.Pd, M.Pd selaku Kaprodi PGSD UMM menuturkan bahwa milad ini berangkat dari spirit kampus merdeka. Terbukti dengan lahirnya 14 karya buku ber-ISBN dari para mahasiswa dan tenaga pengajar yang ada. “Untuk memperingati milad yang ke-14 kami juga sengaja melaunching buku yang berjumlah 14 pula. Adapun isinya berfokus pada tema tema pembelajaran,” imbuh Arina menjelaskan. Beberapa judul buku yang sudah disusun antara lain Menuju Pendidik Profesional dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar, Pendidik Berkarakter Menuju Bidang Studi PPKn SD, Pentingnya Psikologi Pendidikan SD, serta Pendidik Multitasking Bidang Matematika SD. Adapula buku-buku yang membahas terkait pendidikan abad 21, memiliki skill komunikasi, kolaborasi, kritis dan kreatif. Pun dengan literatur yang berisi terkait seni budaya bahkan juga pembelajaran yang kreatif dan inovatif internasional. Kemudian, agenda dilanjutkan dengan talkshow yang mengundang Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si selaku Wakil Rektor I UMM yang dimoderatori Dr. Siti Fatimah Soenaryo, M.Pd. Pada kesempatan itu ia memaparkan mengenai kebijakan kampus merdeka serta merdeka belajar yang ada di universitas. Disampaikan Syamsul, para mahasiswa kini memiliki kebebasan dalam menentukan pendidikannya. Mereka bisa mengambil mata kuliah di jurusan bahkan universitas lain. Mahasiswa juga bisa mengambil magang yang bersertifikat untuk menunjang masa depannya. “Harapannya, kreativitas dan inovasi mahasiswa dapat terwadahi melalu kebijakan merdeka belajar yang sudah terlaksana,” tegas Syamsul di akhir paparan. (*/wil)
Mantapkan Hubungan Indonesia-Vietnam, BIPA UMM Gelar Simposium

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut aktif dalam membangun kerja sama bilateral Indonesia dengan negara lain. Salah satunya melalui aspek bahasa. Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM mengambil peran dengan menggelar simposium hubungan bilateral Indonesia-Vietnam melalui pembelajaran BIPA pada Jumat (23/7) lalu. Turut hadir H.E. Denny Abdi, duta besar Indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam dan Musa Derek Sairwona selaku acting konsulat jenderal Ho Chi Minh City Vietnam. Adapun gelaran ini dilangsungkan secara daring melalu Zoom dan kanal Youtube BIPA UMM. Membuka acara, Dr. Sidik Sunaryo, S.H., M.Si., M.Hum. selaku Wakil Rekotr IV UMM menuturkan bahwa simposium ini merupakan bagian dari rangkaian panjang internasionalisasi Kampus Putih. Usaha itu semakin dikuatkan dengan tujuan pada Milad UMM yang akan memantapkan diri sebagai kampus keals dunia dengan spirit solidaritas internasional. “Kerja sama ini tentu tidak melulu hanya pada kegiatan rutin saja. Tapi juga mampu mendekatkan perasaan emosional antara warga kedua negara,” terangnya. Sidik, panggilan akrabnya berharap gelaran ini bisa melahirkan ide cerdas nan maju. Hingga akhirnya bisa memunculkan empati dan kebersamaan antara kedua negara. Terutama untuk mendorong lahrinya upaya-upaya dalam menghadapi situasi yang tidak mudah seperti saat ini. Pada kesempatan yang sama, Duta Besar indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam, H.E Denny Abdi memulai sambutannya dengan menceritakan persamaan-persamaan kedua negara. Mulai tanggal kemerdekaan yang berdekatan hingga konsep pembangunan yang cukup mirip. “Maka tidak heran kalau founding fathers kedua negara cukup dekat, antara Soekarno dan Ho Chi Minh. Hal itu karena keduanya memiliki semangat yang sama,” tegasnya. Selain kedekatan dalma bidang ekonomi, Indonesia dan Vietnam juga memiliki hubungan yang baik dalam aspek politik, sosial bahkan juga budaya. Maka Denny mengatakan bahwa program BIPA ini menjadi agenda andalan bagi KBRI maupun KJRI Ho Chi Minh City. Menurutnya, sambutan masyarakat Vietnam untuk belajar bahasa Indonesia terlihat cukup tinggi. Namun, ia juga ingin agar warga Indonesia melakukan hal yang sama, mempelajari bahasa Vietnam agar terjadi pendekatan dua arah. Lebih lanjut, Denny mengatakan kedekatan yang dibangun tidak akan berhenti pada aspek bahasa saja. Namun berlanjut dengan melakukan kerja sama di berbagai aspek. “Vietnam bisa menjadi mitra strategis Indonesia karena bisa menjadi engine of growth di ASEAN. Selain itu, kedua negara nantinya juga bisa berkontribusi dalam aspek peace and security. Jadi, bahasa bisa digunakan sebagai perekat keduanyam,” tutupnya. Sementara itu, Nguyen Thanh Tuan, Ph.D yang didapuk menjadi pembicara utama menjelaskan tentang prospek Bahasa Indonesia di Kota Ho Chi Minh. Dimulai dengan menerangkan bahwa pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bagi masyarakatnya untuk menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris. Salah satunya adalah bahasa Indonesia. “Bahkan beberapa tahun belakangan, Bahasa Indonesia telah masuk beberapa universitas. Sebut saja Universitas Nasional Vietnam serta Universitas Terbuka,” tuturnya. Ia juga sempat menganalisis pengembangan Bahasa Indonesia di Vietnam dengan menggunakan SWOT. Hal pertama yang ia paparkan adalah kekuatan bahasa Indonesia. Menurutnya, hubungan bilateral kedua negara membuat animo masyarakat meningkat. Selain itu, bantuan fasilitas dari KJRI juga mempermudah pembelajaran bahasa serta budaya Indonesia. Ditambah lagi dengan bantuan pengajar yang dikirimkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI serta beberapa universitas di Indonesia. Meski begitu, ia juga mengungkapkan kelemahannya yakni tenaga pengajar yang relatif sedikit. Apalagi bahan ajar yang terbatas membuat pembelajaran bahasa ini cukup sulit. Namun, ia yakin ada peluang yang cukup bagus bagi bahasa Indonesia. Hal itu tidak lepas dari banyak beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Indonesia untuk warga Vietnam. Pun dengan kesempatan mereka yangbisa bekerja di perusahaan asing. “Tapi masih ada segelintir tantangan bagi pengembangannya. Banyaknya perusahaan yang tidak tahu jika ada warga vietnam yang bisa Bahasa Indonesia. Banyak pula orang Vietnam yang berpikir ulang alasan belajar bahasa ini,” tutur wakil dekan Faculty of Oriental Studies di University of Social Sciences & Humanities Vietnam itu. Selain Nguyen Thanh Tuan, Dr. Arif Budi Wurianto sebagai Kepala UPT BIPA UMM dan Faizin, M.Pd selaku Kepala Divisi Internasionalisasi BIPA UMM juga dipercaya memberikan pemaparan. Arif menjelaskan mengenai BIPA di Vietnam, sarana peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara. Sementara Faizin memaparkan terkait aktualisasi teknologi dalam pengembangan keBIPA-an. (wil)
Mahasiswa UMM Ciptakan Masker Khusus bagi Tuna Rungu

Penggunaan masker di setiap aktivitas menjadi sebuah keharusan dalam situasi pendemi seperti saat ini. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Sayangnya, penggunaan masker ini menyulitkan para disabilitas tuna rungu dalam berkomunikasi. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi masker transparan sebagai solusinya. Habibah Latifus Syaidah, salah satu anggota tim menjelaskan bahwa masker kain tembus pandang ini terdiri dari dua lapis masker. Lapis luar pertama Nampak seperti masker biasa yang berisikan filter penyaring. Filter tersebut diharuskan untuk diganti tiga hari sekali. Sementara lapis kedua yang berada di dalam merupakan masker transparan. Sehingga orang dapat melihat ekspresi dan gerak bibir dari para tuna rungu dan memudahkan dalam berkomunikasi. Di samping itu mereka juga memanfaatkan limbah sedotan sebagai bahan dasar strap masker (pengait masker). Menurut Habibah, pemilihan bahan dasar berbahan limbah ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastic yang sering ditemui. “Ini menjadi salah satu upaya kita bersama agar terus menjaga lingkungan dan mengurangi penggunaan sampah plastik” ujarnya. Adapun ide masker ini berawal dari mata kuliah kewirausahaan yang mereka jalani di UMM. Saat itu, Habibah dan timnya membuat model usaha penjualan masker dengan desain yang unik. Keunikan itulah yang menjadi potensi dari model usaha yang mereka bangun hingga akhirnya mendaftarkannya ke Program Kreatifitas Mahasiswa – Kewirausahaan (PKM-K). Apalagi diperkuat dengan dorongan serta motivasi dari dosen keriwausahaan. PKM-K yang digarap oleh Habibah Alifatus Syaidah, Aulia Amanda, Briliant Ghaustin Yoly Ala, dan Annisa Firdaus Ramadhini ini berhasil lolos pendanaan dari Direkorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI) pada bulan Mei lalu. Saat ini mereka berada di tengah proses pembuatan masker dan akan dipasarkan pekan depan secara online. Harga masker yang dipatok yakni di kisaran Rp35.000-Rp40.000. harga tersebut juga sudah termasuk masker, tiga filter serta strap masker.“Proses pemasaran akan kami mulai pekan depan secara online. Menurut kami ini harga yang cukup terjangkau mengingat pembeli bisa mendapatkan satu paket lengkap masker,” imbuhnya. Terakhir, mahasiswa kelahiran Kediri ini berharap masker transparan ini bisa menjadi opsi untuk membantu komunikasi tuna rungu di tengah pandemi. Dia juga ingin agar usaha ini bisa menjadi peluang bisnis yang baru. “Komunikasi adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan. Maka dengan adanya inovasi kami ini, smeoga bisa memberikan manfaat luas kepada masyarakat, utamanya mereka para disabilitas tuna rungu,” jelasnya. (haq/wil)
Kodim 0818 Gelar Vaksinasi Massal di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu lokasi vaksinasi yang diadakan oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 0818, Malang-Batu. Proses vaksinasi tersebut digelar selama dua hari yakni pada tanggal 22-23 Juli lalu bertempat di Hall Dome UMM. Adapun pelaksanaannya dilakukan dengan menaati protokol kesehatan yang ketat sesuai dengan peraturan yang ada. Pada kesempatan tersebut, Mayor CKM Hartoko selaku wakil koordinator pelaksana vaksinasi menjelaskan pasokan vaksin yang diberikan berasal dari pusat kesehatan (Puskes) TNI dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur. Adapun target vaksin yang diberikan adalah sejumlah 3000 vaksin Sinovac perhari. “Jadi kalau dua hari, target kami yakni sekitar 6000 vaksin. Kalau jumlah vaksin berlebih, akan kami alihkan ke tempat lain. Sebaliknya, jika jumlahnya kurang akan kami mintakan ke Puskes ataupun Dinkes. Adapun vaksin yang diberikan tidak dipungut biaya apapun, gratis,” tuturnya. Dijelaskan Hartoko, pemilihan UMM sebagai lokasi vaksinasi tidak lepas dari fasilitas yang baik dan memungkinkan. Ada beberapa hal yang diperhatikan, mulai dari tempat parkir, lokasi yang strategis hingga jumlah penampungan yang bisa disediakan. Menurutnya, pertimbangan itu penting agar agenda vaksinasi bisa digelar dengan prokes yang ketat sesuai ketetapan pemerintah. Ia juga mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tinggi akan adanya vaksinasi. Hartoko berharap agenda ini bisa meminimalisir penularan Covid-19 yang belakangan makin naik. “Saya juga mengajak para masyarakat yang belum divaksin agar segera mendaftar dan mendapatkannya agar bisa menekan penularan Covid-19,” jelas Hartoko. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, ST. MT. mengungkapkan bahwa pemilihan Kampus Putih sebagai lokasi vaksinasi adalah hal yang tidak mengejutkan. Menurutnya, UMM memiliki tempat yang representatif untuk menyelenggarakan kegiatan terkait. “Kami juga menerjunkan tim Satgas Covid UMM, Maharesigana serta beberapa relawan dari BEM untuk turut serta membantu di lokasi,” imbuhnya. Eki, panggilan akrabnya berharap agar proses vaksinasi ini mampu membentuk ekosistem baru yang dapat berdampingan dengan virus Covid-19. Tidak hanya bagi sivitas akademika kampus saja tapi juga untuk masyarakat luas, utamanya warga sekitar UMM. “Kami juga akan terus berusaha untuk menjadi motor perubahan di setiap aspek kehidupan masyarakat,” tuturnya. Turut hadir pula Wakil Bupati Malang, Drs. Didik Gatot Subroto, S.H., M.H. pada agenda vaksinasi tersebut untuk memantau. Ia menyampaikan agar masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan meskipun sudah mendapatkan vaksin. Didik juga berterima kasih kepada para tenaga kesehatan yang selama ini telah berusaha semaksimal mungkin. “Mari sama-sama kita doakan agar para nakes diberi kesehatan sehingga mampu beraktifitas dan memberikan kontribusi serta bantuan kepada kita semua,” tutupnya. (wil)