Mahasiswa UMM Kampanyekan Umbi Porang Pengganti Padi

Untuk mengurangi krisis makanan akibat ledakan populasi Indonesia di masa depan, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) galakan penggunaan umbi porang sebagai pengganti nasi. Ide ini diikutsertakan pada Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Gagasan Futuristik Kontekstual (GFK) dan lolos pada tahap pendanaan oleh Ditjen Dikti pada Mei lalu. Salah satu anggota tim, Chrisna Chandra Eka Iriawan, mengungkapkan bahwa lahan dan sumber makanan akan semakin berkurang jika populasi penduduk makin bertambah kedepannya. Maka dari itu, untuk mengatasi permasalahan lahan tersebut, tim PKM-GFK ini mencari berbagai bahan baku yang mungkin bisa menjadi alternatif pengganti padi. “Tim kami akhirnya menemukan pengganti padi yang ideal yaitu beras analog yang berasal dari umbi porang. Umbi jenis ini sangat mudah ditanam dan dilestarikan. Bahan makanan ini juga tidak memakan banyak tempat, jadi tidak akan sulit untuk dibudidayakan,” ujar mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) tersebut. Chan sapaan akrabnya, kembali bercerita bahwa hasil akhir dari PKM-GFK yang dikerjakannya adalah sebuah video sosialisasi yang diperuntukkan bagi masyarakat. Ia dan tim telah merampungkan proses syuting pada 25 Juni lalu. Mahasiswa asal Sorong Papua tersebut juga berencana merampungkan tahap editing pada awal Agustus nanti, sehingga bisa segera disosialisasikan kepada khalayak luas. “Dalam mengedukasi masyarakat terkait umbi porong, kami menggunakan sarana film fiksi. Proses syuting tidak mengalami banyak kendala karena saya pribadi telah beberapa kali membuat film dokumenter. Mungkin cuma ada masalah-masalah kecil seperti menyamakan waktu luang antara talent dan kru,” ungkap Chan. Tak sendiri, Chan menggarap film ini bersama tiga teman sejwatnya yang lain. Ada Audy Rika Putri dan Adella Putri Cahyani. Mereka juga ditemani oleh Dewi Rahma Musyarofah. Terakhir, Chan juga berharap pemanfaatan ubi porang sebagai pengganti padi ini dapat diterapkan di masa depan. Sehingga jika ledakan penduduk terjadi, kemungkinan kurangnya sumber pangan dapat ditekan. Selain itu ia juga berharap, produk video ini akan menjadi batu loncatan timnya untuk berlanjut ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). “Hal terpenting menurut saya adalah bagaimana pesan yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat bisa terlaksana melalui film fiksi ini,” tandasnya menutup. (syi/wil)

Taekwondo UMM Borong Medali di Kejuaran Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencetak prestasi di tingkat internasional. Kali ini medali datang dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo yang berhasil membawa pulang lima medali emas, lima medali perak, dan enam medali perunggu pada Kejuaraan Bandung International E-Poomsae Tournament 2021. Adapun perlombaan ini diselenggarakan oleh Pengurus Kota Taekwondo Indonesia Bandung pada 26-27 Juni lalu dan diikuti sebanyak 1.850 peserta dari 16 negara. Pelatih tim Taekwondo UMM, Muhammad Luqman Hakim mengatakan bahwa persiapan lomba cukup berat bagi para atlet taekwondo UMM. Selain karena faktor pandemi yang menyulitkan untuk pertemuan tatap muka, tidak banyak atlet taekwondo yang berada di Malang juga menjadi tantangan tersendiri. “Pada perlombaan ini, kami mengirimkan 16 atlet untuk berlomba. Banyak sekali kendala yang kami hadapi di fase persiapan, baik dari atlet sendiri maupun saya selaku pelatih. Bagi mereka yang berada di Malang, mungkin bisa dengan mudah berlatih bersama-sama dengan yang lain. Namun bagi atlet yang sedang di luar Malang, saya harus melatih mereka secara virtual. Padahal untuk menyelaraskan berbagai gerakan harus melihat secara langsung perkembangan atlet,” ujar mahasiswa Teknik Mesin tersebut. Kendala saat latihan juga dialami oleh Sintia Rahmah. Salah satu atlet taekwondo UMM ini mengaku bahwa waktu persiapan lomba tergolong sangat pendek yaitu tiga minggu. Selain kekurangan waktu untuk berlatih, Sintia bercerita bahwa background atlet taekwondo UMM adalah kyourugi atau pertarungan, sementara lomba tersebut adalah poomsae atau seni dalam taekwondo. Perbedaan gaya tersebut menyebabkan beban latihan menjadi lebih berat. “Perlombaan ini diadakan secara online dengan cara mengirimkan video perlombaan. Jadi dalam waktu yang singkat selain harus latihan, kami juga harus meluangkan waktu untuk mengambil video. Proses pengambilan video juga dilakukan bersama-sama, karena itu teman-teman yang di luar Malang harus kembali ke sini untuk pengambilan video,” ungkap mahasiswa peraih medali emas tersebut. Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) ini tidak menyangka bahwa timnya akan membawa pulang banyak medali. Pasalnya persaingan di lomba ini sangat ketat, tidak hanya harus bersaing dengan atlet di tingkat universitas, mereka juga harus bersaing dengan tim nasional Indonesia dan tim-tim dari luar negeri. “Saya sangat bersyukur atas capaian yang diraih oleh tim kami. Saya berpesan kepada para atlet-atlet UMM yang belum bertanding selama pandemi untuk tetap semangat dan makin giat dalam berlatih. Semoga kedepannya UKM taekwondo UMM semakin berkembang menjadi lebih baik,” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Ajak Warga Gampingan Olah Limbah

Rasa prihatin akan tumpukan sampah kertas yang terus menggunung, Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdayakan warga desa Gampingan, kecamatan Pagak, Kabupaten Malang untuk mendaur ulang sampah. Adapun kegiatan ini mereka langsungkan sejak Mei lalu. Elma, salah satu anggota tim menuturkan bahwa tumpukan sampah kertas yang dibiarkan secara terus menerus akan  berakibat buruk bagi kesehatan warga. Hal ini disebabkan oleh berbagai zat berbahaya yang terkandung dalam sampah kertas-kertas tersebut. “Tumpukan sampah kertas hasil limbah pabrik dibiarkan menggunung di desa ini. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan warga karena sampah kertas mengandung zat-zat berbahaya seperti kadium (Cd) serta beberapa logam berat jenis Hg dan Cu. Jika seseorang terus menerus menghirup zat-zat tersebut, maka lama kelamaan ia akan mengalami gangguan pernafasan,” ungkap mahasiswa prodi Ilmu Keperawatan tersebut. Untuk mengurangi dampak limbah pabrik terhadap kesehatan masyarakat, Elma dan tim merancang beberapa program. Program pertama adalah mengedukasi warga desa Gampingan terhadap bahaya penumpukan sampah. Agenda edukasi ini dilaksanakan melalui sosialisasi secara luring kepada para warga sekitar. “Selain itu kami juga menanam beberapa tanaman lidah mertua untuk mengurangi polusi yang diakibatkan oleh sampah kertas,” ungkap Elma. Pada program yang terakhir, tim Elma menggalakan kepada masyarakat untuk menjual kembali limbah sampah kertas ke pabrik-pabrik pembuat kertas. Selain mengurangi limbah, dengan menjual limbah sampah juga akan menambah pendapatan warga. Proses penjualan limbah sampah ini tergolong sederhana yaitu dengan cara mengeringkan sampah-sampah kertas yang telah basah lalu menjualnya. “Agar masyarakat tidak terpapar zat berbahaya selama proses pengeringan, kami memberikan bantuan alat pengering sampah. Dalam sekali proses, alat ini mampu mengeringkan sebanyak sepuluh kilogram sampah kertas basah. Alat ini dirancang secara mandiri oleh tim kami,” ungkap mahasiswa asal Kalimantan Barat tersebut. Adapun program ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat (PM) yang mereka gagas. Menariknya, PKM tersebut jugatelah lolos pada tahap pendanaan Kemenristek Dikti pada Mei lalu. Tak sendiri, dalam pelaksanaannya Elma ditemani oleh tiga anggota lain yaitu Yazid Abdullah dan Ade Noval Triawan dari  Prodi Ilmu keperawatan serta Wahyudiansyah Pawallo dari Prodi Teknik Mesin. Terakhir, ia berharap program garapannya ini bisa memberikan edukasi yang lebih baik akan sampah serta agar masyarakat bisa lebih peduli dengan kesehatannya. Timnya juga ingin sampah-sampah yang berserakan bisa diubah menjadi pendapatan tambahan bagi masyarakat desa Gampingan. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Radar Pelacak Barang untuk Keamanan Laut Indonesia

Seringkali penangkapan ikan oleh nelayan asing secara illegal ditemukan di wilayah zona laut Indonesia. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Kreatifitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM – KC), membuat Radar Pelacak Barang untuk Zona Laut Ekonomi Eksklusif. Adapun rancangan PKM ini juga dikerjakan oleh Awwaludin Rasyid Al-Malik, Atha Caesarda Rafi Naufal, Zidni Ilman Nafian, Bagus Setyawan dan Rafiqa Nur Pratiwi, yang tergabung dalam satu kelompok. PKM berjudul “Implementasi Teknologi Internet of Think (IoT) Berbasis Radar Sebagai Pendeteksi Illegal Fishing di Zona Ekonomi Eksklusif” ini pun telah lolos pendanaan Direktorat Jendral Perguruuan Tinggi (Dikti) pada bulan Mei lalu. Awwal, selaku ketua kelompok menjelaskan bahwa rancangan radar pelacak ini adalah buah dari implementasi Teknologi Internet of Think. Pembuatan radar ini juga bertujuan untuk menjaga laut Indonesia dari illegal fishing atau bahkan benda asing seperti drone yang terjadi pada awal tahun lalu. “Kejadian illegal fishing dan juga bebasnya drone asing di lautan Indonesia membuat kami berinisiatif menciptakan radar pelacak benda ini,” ujarnya. Dilanjutkan Awwal, radar pendeteksi ini sendiri dilengkapi dengan fitur yang canggih dengan pemanfaatan panel surya sebagai sumber daya listrik. Mahasiswa Teknik Mesin ini menjelaskan dengan adanya listrik dari sinar matahari, harapannya bisa melepas ketergantungan pada listrik kabel yang biasa digunakan. Radar ini juga mampu bertahan selama 4-6 hari meskipun matahari jarang menyinari. “Penggunaan listrik berbasis panel surya pada alat ini juga dirasa lebih bersahabat dengan alam,’ imbuhnya. Di samping itu, sistem radar pelacak tersebut juga dapat mendeteksi adanya barang di permukaan bahkan juga dalam lautan. Salah satunya adalah kapal beserta barang-barang yang ada di dalamnya. Menurut Awwal, hal ini tentu bisa menjadi terobosan baru untuk meningkatkan keamanan laut Indonesia. Alat yang berada pada tahap perancangan 50 persen ini diharapkan bisa membantu menjaga kemanaan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Laut Indonesia. Mahasiswa kelahiran Jombang ini juga berharap alat ini bisa dikembangkan lebih lanjut sehingga pengawasan laut Indonesia bisa dilakukan dengan lebih efektif. “Tentu kami ingin agar nantinya radar pelacak ini bisa digunakan oleh pemerintah atau bahkan militer dalam usaha menjaga zona laut yang dimiliki oleh Indonesia,” tutupnya. (haq/wil)

Berbagi untuk Negeri, UMM Bagikan Hewan Kurban ke Lapas dan Warga

Berbagai kalangan berlomba-lomba untuk berkontribusi dalam kebaikan, begitupun dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kampus Islam  terbaik dunia itu memberikan bantuan berupa hewan kurban ke beberapa pihak dan wilayah. Mulai dari pihak desa hingga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang ada di Malang Raya. Adapun agenda tersebut dilangsungkan pada Senin (19/7) lalu. Kukuh Dwi Kurniawan selaku ketua panitia pelaksana menjelaskan bahwa ada sebanyak dua lembu dan 15 kambing yang sudah siap didistrubiskan. Satu lembu akan diantar ke Lapas kelas IA Lowokwaru dan satu lainnya akan didistrubiskan ke Lapas Perempuan kelas II A Sukun, Malang. “Sementara sebanyak lima belas kambing akan diberikan ke beberapa wilayah dan pihak yang membutuhkan,” tuturnya melanjutkan. Kukuh, panggilan akrabnya mengatakan bahwa UMM tidak asal memilih wilayah untuk pembagian hewan kurban. Ada beberapa kriteria yang diberikan, utamanya adalah warga sekitar kampus yang terdampak pandemi dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Lebih lanjut, Kukuh juga menuturkan bahwa sudah dua tahun belakangan UMM tidak menyembelih hewan kurban. Kampus putih lebih memilih mendistribusikannya ke beberapa wilayah yang dirasa membutuhkan. Hal itu tidak lepas dari keadaan pandemi yang melanda sejak awal tahun 2020 lalu. “Ini menjadi tahun kedua bagi kami untuk melaksanakan kurban dengan model seperti ini. Mungkin jumlah hewan pada tahun ini tidak sebanyak tahun lalu karena sebagian dana disalurkan melalui paket sembako bagi para warga dan mahasiswa yang sedang isolasi mandiri,” tegasnya. Dalam pelaksanaannya, Kukuh mengaku tidak mendapat banyak kendala dan kesulitan. Hewan kurban bisa didapat dengan mudah dari para pegawai UMM yang juga memelihara lembu dan kambing. “Mungkin hanya ada beberapa kendala kecil seperti komunikasi dan pengiriman hewan terkait,” jelasnya. Terakhir, ia berharap distribusi ini bisa membantu dan meringankan beban masyarakat. Utamanya mereka yang tedampak langsung akna PPKM seperti pedagang kaki lima (PKL) serta pekerja harian. “Menebar kebaikan di hari raya Idul Adha tidak hanya terbatas pada pembagian hewan kurban. Banyak hal yang bisa kita lakukam, seperti menggalang dana, membagikan bahan pokok, pun dengan menyalurkan bantuan-bantuan lainnya,” tutup Kukuh. Sementara itu, Tri Anna Aryati, Bc.IP, SH., M.Si. selaku Kepala Lapas Perempuan IIA Malang mengapresiasi agenda pembagian hewan kurban yang UMM lakukan. Tak lupa, ia juga berterimakasih karena kampus putih terus memberikan berbagai agenda yang bermanfaat selama ini. “Dulu rencananya ada acara khusus di hari Idul Adha dengan Rektor UMM, Pak Fauzan. Sayangnya, tingkat pandemi covid terys meningkat sehingga pemerintah menerapkan PPKM yang membatasi kegiatan sehingga tidak bisa dilaksanakan,” ungkapnya menjelaskan. Tri Anna, panggilan akrabnya juga berharap agar UMM dan Lapas bisa terus bersinergi sehingga mampu memberikan kegiatan menarik seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Sebut saja pelatihan menulis bagi warga binaan lapas, bedah buku, vocal group, pembuatan video klip hingga buka bersama pada Ramadan lalu. “Tentu kami ingin agar kegiatan-kegiatan serupa bisa terus berlanjut agar para warga binaan bisa dengan baik menyalurkan bakat dan minatnya,” pungkasnya menerangkan. (wil)

Dulu Menwa UMM, Kini Jadi Wakil Bupati Kaimana Papua

Lika-liku masa perkuliahan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengantarkan Hasbulla Furuada menjadi Wakil Bupati Kaimana Periode 2021-2024. Alumni Fakultas Pertanian dan Peternakan tersebut  berkata bahwa pengalaman organisasi yang dijalaninya di kampus putih memiliki peran vital dalam perjalanan hidupnya. Salah satunya adalah membentuk jati diri dan sikap yang ia miliki sekarang. Hasbulla bercerita bahwa niat awalnya bergabung dengan organisasi di kampus dulu adalah untuk mencari makan. Merantau jauh dari tanah Papua membuat Hasbulla harus banyak beradaptasi. Belum lagi keadaan ekonomi yang kurang membuatnya kerap kelaparan selama beberapa hari. Dengan kondisi yang cukup sulit tersebut, pria kelahiran Kaimana ini mengandalkan konsumsi acara untuk mengganjal perut. “Tujuan utama saya dulu memang untuk mencari makan gratis. Saat kuliah uang bulanan biasanya paling cepat dikirim tiga bulan sekali. Karena hal tersebut, saya berusaha bertahan dengan mencari kotak makan di acara-acara kampus. Saya juga pernah mendonorkan darah hanya untuk mendapat roti dan susu. Keputusan untuk menjadi panitia di kegiatan-kegiatan kampus juga saya ambil agar bisa mendapat makanan,” kenang Hasbulla. Selain kesulitan untuk makan, Hasbulla juga kesulitan mencari tempat berteduh. Hasbulla bercerita bahwa dirinya pernah diusir dari kos-kosan. Hal itu dikarena ia tidak bisa membayar uang sewa kos bulanan. Untungnya, ia bisa tinggal di gedung Student Center UMM tempat sekretariat organisasinya berada secara diam-diam. “Waktu itu kos yang saya tinggali biaya sewanya 300.000 selama enam bulan. Pada enam bulan pertama saya masih aman, tapi pada enam bulan kedua saya diusir karena tidak bisa membayar. Akhirnya saya memutuskan untuk diam-diam menaruh barang pribadi saya di sekretariat organisasi dan tidur di student center ataupun masjid,” kata Hasbulla. Meskipun niat awalnya untuk mencari makan, namun niat tersebut berubah saat ia terjun secara langsung di kepengurusan organisasi. Hasbulla berkata bahwa selama menempa diri dan berproses di organisasi, ia mendapat banyak ilmu dan pengalaman. “Selama berkuliah, saya mengikuti tiga organisasi yaitu, Senat Fakultas, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Resimen Mahasiswa (Menwa). Dari organisasi-organisasi tersebut saya belajar cara bersosialisasi, berbicara di depan umum, membentuk sikap tegas, dan yang terakhir adalah cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” terang Hasbulla. Dalam menjalani perkuliahan, Hasbulla juga berkata bahwa dirinya dibantu oleh banyak pihak. Ketika kesulitan membayar uang Kuliah Kerja Nyata (KKN) misalnya, dirinya dibantu oleh salah satu dosen UMM. Lalu ketika Hasbulla sedang menempuh tugas akhir kuliah, Rektor UMM kala itu juga selalu memberi motivasi agar bisa segera diselesaikan. “Dulu setiap ketemu pak Muhadjir, saya selalu ditanya tentang skripsi. Beliau juga kerap memberikan petuah-petuah agar saya cepat lulus. Setelah saya lulus, saya mendapat kesempatan untuk menyebarkan ilmu saya kepada masyarakat dan memajukan tanah kelahiran saya. Salah satu jalannya ya dengan menjadi Wakil Bupati Kaimana seperti saat ini,” pungkasnya menerangkan. (*wil)

Mahasiswa UMM Gelar Pengembangan Wisata di Kampoeng Heritage Kajoetangan

Meski kegiatan dibatasi karena adanya kenaikan kasus pandemi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak berhenti untuk berkontribusi. Menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampoeng Kajoetangan Malang, mereka melangsungkan agenda Pengembangan Pariwisata Kampoeng Heritage Kajoetangan Malang pada 10-11 Juli lalu. Uniknya, agenda forum yang juga mengundang pihak internal kampung dan beberapa pemateri ahli ini juga disingkat dengan PPKM. Pada hari pertama, diskusi tersebut membahas terkait rekonsolidasi dan penguatan komunikasi internal Kampoeng Heritage Kajoetangan. Tri Sulihanto, Sekjen East Java Ecotourism Forum menjelaskan akan pentingnya perencanaan pariwisiata yang terukur. Selain itu juga harus bisa sustainable dan memiliki kelembagaan yang baik untuk menunjang pengelolaan wisata terkait. “Dalam menjalankan pariwisata perlu adanya Kelompok Kerja Lokal Pariwisata (KKLP) yang nantinya menjadi wadah koordinasi dan komunikasi pemangku kepentingan di desa atau destinasi wisata,” imbuh Founder Malang Travelista tersebut. Dalam diskusi tersebut, peserta kegiatan juga sepakat bahwa pariwisata menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Lebih penting lagi yakni untuk melindungi warisan sejarah yang ada di Kampoeng Heritage Kajoetangan itu. Mereka juga merasa bahwa partisipasi masyarakat juga penting mengingat kegiatan pariwisata berbasis masyarakat menggunakan aset publik dalam pelaksanaannya. Sementara itu, pada hari kedua agenda ini mengkaji terkait strategi branding pariwisata di tengah pandemi. Tema ini diangkat melihat keadaan pariwisata yang dihentikan selama beberapa waktu. Arum Martikasari yang didapuk menjadi pemateri mengatakan bahwa branding tempat wisata di tengah pandemi adalah hal yang perlu diperhatikan. Hal itu tidak lepas dari kunjungan wisata yang menurun akibat pembatasan. Arum, panggilan akrabnya menjelaskan ada 4 syarat utama untuk mengembangkan pariwisata. Mulai dari attraction (atraksi), accessibility (akses), amenity (fasilitas khusus) hingga ancillary (pelayanan tambahan). Penggalian warisan yang ada di lokasi wisata juga bisa menjadi daya tarik tersendiri sehingga para pengunjung akan merasakan pengalmaan yang tidak terlupakan. “Pasti ada berbagai warisan yang ada di lokasi Kampoeng Heritage Kajoetangan. Maka perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk bisa memberi kesan yang baik,” tutur pemateri yang kini menjadi strategic planner of Anagata Kreatif Consultant. Pada kesempatan yang sama, Ibu Sri Arniati selaku anggota Pokdarwis divisi UMKM merasa puas dengan kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa UMM tersebut. Ia juga mengaku bahwa Kampoeng Heritage Kajoetangan telah ke 4 pilar tersebut. “Saya kira tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan manajemen yang baik serta melibatkan warga masyarakat sehingga mampu memanfaatkan budaya lokal yang tersedia,” ungkapnya melanjutkan. Tiim CAC.Co dari Ilmu Komunikasi UMM dan juga Pokdarwis sebagai penyelenggara berharap kegiatan ini bisa menjadi ajang silaturahmi sekaligus wadah komunikasi guna memaksimalkan branding wisata Kampoeng Heritage Kajoetangan. Harapannya kampung ini bisa menjadi pariwisata berkelanjutan yang sukses. (*/wil)

UMM Finalis Semua Kategori KJI dan KBGI 2021

Setelah vakum selama satu tahun karena pandemi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali gelar Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI). Pada pagelaran tahun ini, tim Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali lolos menjadi finalis di semua kategori lomba. Adapun daftar finalis lomba ini diumumkan pada Jumat (09/07) lalu. Wakil ketua Lembaga semi-otonom (LSO) Surya Tim, Nova Pradana, menjelaskan bahwa di tahun ini UMM menjadi satu-satunya universitas swasta yang lolos di semua kategori. Perlombaan ini mencakup empat kategori yaitu, KJI model rangka baja, KJI model lengkung, KBGI model bangunan gedung kayu, dan KBGI model bangunan gedung baja canai dingin. “Untuk lolos sampai ke tahap finalis, kami telah melakukan enam kali presentasi dari tanggal 15 Mei sampai 19 Juni kemarin. Tim kami terdiri dari dua orang di setiap cabang lomba jadi totalnya ada empat tim dan delapan anggota. Saya tentu bersyukur dengan hasil yang diraih. Semua tim kami dapat lolos menjadi finalis di perlombaan kali ini,” ungkap mahasiswa kelahiran Pamekasan tersebut. Disisi lain, salah satu finalis lomba, Erwin Yoga Pratama, berkata bahwa pada perlombaan ini timnya mengikuti lomba KJI model rangka baja. Inovasi yang diangkat pada kompetisi ini adalah konfigurasi atau bentuk rangka jembatan yang lebih kokoh. “Jembatan ini kami rancang agar bentuk rangkanya dapat mengurangi lendutan pada jembatan. Ketika rangka jembatan dapat mengurangi lendutan maka jembatan akan menjadi lebih kokoh dari jembatan pada umumnya,” kata mahasiswa Teknik Sipil tersebut. Erwin mengaku bahwa dirinya tidak menyangka akan lolos menjadi finalis. Pasalnya jadwal pelaksanaan lomba lebih awal dibanding perkiraan timnya. Awalnya Erwin merasa ragu untuk mengikuti kompetisi tersebut. Namun berkat banyak bantuan dari teman-teman dan senior di LSO, akhirnya ia dapat melakukan persiapan dengan baik dan tertata. Erwin berkata bahwa ini hanya permulaan untuk memperebutkan juara di lomba KJI dan KBGI 2021. “Untuk perlombaan final nanti kami telah memulai mempersiapkan fabrikasi baja dan latihan perakitan. Berbagai latihan ini kami lakukan agar sesuai dengan metode pelaksanaan yang sudah kami rencanakan. Di samping itu juga agar bisa sesuai dengan durasi pengerjaan yang kami rencanakan. Kami berharap dapat kedepannya dapat membanggakan kampus dan membawa kemenangan untuk universitas. Tidak hanya di lomba ini saja, tapi juga di lain kesempatan,” pungkasnya. (syi/wil)

Community Chain, Solusi dari Dosen UMM di Tengah Pandemi

Beberapa hari terakhir, masyarakat dihujani dengan berbagai berita kenaikan angka covid di Indonesia. kenaikan secara drastis ini menyebabkan berbagai Rumah Sakit rujukan di Jawa dan Bali menjadi over kapasitas. Ditambah lagi dengan persediaan oksigen yang menipis di beberapa daerah. Akibatnya para pasien penderita covid -19 belum mendapatkan pertolongan yang tepat dengan maksimal, bahkan beberapa pasien meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah. Ditanya ihwal tersebut, Muhammad Muslih, S.Kep., NS., M.Sc., dosen Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memngatakan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah kesiapan dari lintas sektor dalam menghadapi pandemi yang dirasa masih kurang. Kemudian yang kedua yakni masyarakat Indonesia yang kurang menaati protokol kesehatan. “Dengan semakin maraknya berita-berita hoaks, membuat pemerintah dan sektor kesehatan kewalahan dalam mengedukasi masyarakat. Saya pikir waktu satu setengah tahun belum cukup bagi negara kita untuk beradaptasi terhadap pandemi,” ucap Muslih. Dosen kelahiran Tuban ini kembali menjelaskan bahwa dalam penanganan pandemi, Indonesia kurang memperhatikan community chain. Padahal community chain berperan penting dalam proses penyebaran penyakit dan menjadi kunci utama untuk menangani pandemi. Dengan memperhatikan aspek ini, pemerintah dapat menerapkan strategi yang tujuannya untuk memutus persebaran di berbagai aspek kehidupan. “Community chain yang saya tekankan disini lebih mengarah pada konektivitas antar unsur yang ada dalam komunitas atau masyarakat. Taiwan adalah salah satu negara yang berhasil mengatasi pandemi dengan memperhatikan community chain. Rantai komunitas yang ada di Taiwan memiliki penaruh yang cukup signifikan mulai dari ditemukan kasus, tracking, sampai ke program pencegahan,” ungkap ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan tersebut. Untuk menghadapi pandemi yang semakin parah ini, Muslih berkata ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh masyarakat. Pertama adalah kewaspadaan, Jangan meremehkan keadaan dan persiapkan untuk kemungkinan terburuk. Kedua adalah belajar dari pengalaman. Masyarakat sudah lebih dari satu setengah tahun hidup bersama pandemi, sekarang harusnya sudah banyak belajar dari kondisi yang telah di lalui  atau dari negara-negara lain yang sukses dalam penanganan Covid-19. Adapula yang ketiga, pemerintah juga dirasa perlu menambah kecepatan, baik dalam aspek penanganan maupun informasi terkait Covid-19. Terakhir yakni transparansi terkait akses informasi untuk khalayak luas. “Selain itu perlu adanya kolaborasi yang stratgeis pada lintas kementerian dan departemen. Layanan kesehatan juga harus bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Terakhir, masyarakat juga dihimbau agar jangan mudah percaya pada berita hoaks yang menyesatkan,” pungkasnya. (syi/wil)

UMM Beri Dukungan Logistik Warga Isolasi Mandiri

Kasus penularan Covid-19 kian hari kian bertambah. Banyak daerah yang dulunya termasuk wilayah hijau kini berubah menjadi merah bahkan hitam. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyalurkan bantuan kepada para penderita yang melakukan isolasi mandiri (isoman) pada Selasa (13/7) lalu. Kampus putih menyiapkan berbagai logistik, sembako dan makanan pokok sebagai bentuk bantuan agar penyintas tak perlu repot keluar kediaman. Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan respon UMM terhadap banyaknya mahasiswa, karyawan, dosen bahkan warga sekitar yang terpapar virus Covid-19. Mereka yang terjangkit mau tidak mau harus melakukan isolasi mandiri (isoman) agar tidak menularkannya kepada orang lain. “Maka dengan bantuan ini para penerima tidak perlu repot-repot keluar rumah dan membahayakan warga dan orang lain. Kami juga memasukkan beberapa vitamin dan probiotik agar mereka bisa segera membaik,” tuturnya menjelaskan. Zakarija, panggilan akrabnya melanjutkan pemberian bantuan ini sebenarnya masih menjadi bagian program UMM Berbagi untuk Negeri yang sudah lama digalakkan oleh kampus putih. Sebut saja bantuan bencana ke NTT dan gempa Malang Selatan beberapa waktu lalu. Dikatakan oleh Zakarija, bentuk bantuan yang disiapkan disesuaikan dengan kebutuhan penderita Covid-19. Beberapa di antaranya susu, obat-obatan, roti, madu, buah, suplemen dan kebutuhan lainnya. Demi menjaga kesehatan sivitas akademika yang turut memberikan bantuan, UMM juga mengirim Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) untuk menemani sepanjang program dilaksanakan. Selain itu juga ditemani oleh tim dokter yang memantau keadaan warga penderita Covid-19. Protokol kesehatan terus diberlakukan dengan ketat agar tidak ada yang terpapar virus saat memberikan bantuan. “Tentu saya berharap agenda ini bisa memupuk dan meningkatkan kepedulian yang kita miliki. Utamanya dalam ranah kemanusiaan,” tutupnya mengakhiri. Sementara itu, salah satu penerima bantuan, Trisno Iryanto yang merupakan warga Tegalgondo menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak UMM. Menurutnya, bingkisan yang diberikan mampu meringankan beban dan kebutuhan yang diperlukan. Apalagi ada tiga orang yang sedang isoman di rumahnya sehingga jumlah kebutuhan yang diperlukan juga sebanding. “Alhamdulillah saya sudah merasa baikan meski sesekali batuk dan sesak. Hari ini adalah hari ketujuh semenjak saya melakukan isolasi mandiri. Semoga saya bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala,” ungkapnya menerangkan. (wil)