Tim Mahasiswa UMM Cetuskan DISESPACK, Program Tanggap Bencana

Bencana alam seringkali menimpa wilayah negara Indonesia. Gempa, longsor, bahkan juga erupsi gunung berapi. Meski sosialisasi penanggulangan tanggap bencana sudah diselenggarakan oleh pemerintah, tingkat kesiapan tanggap bencana masyarakat masih rendah. Berangkat dari hal itu, tim Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencetuskan sebuah program melalui Program Kreatifitas Mahasiswa – Gagasan Futuristik dan Konstruktif (PMK-GFK). Tim yang terdiri dari Vani Rizka, Resky Maharani, Septianingrum, dan Alzena Firyal itu menyebutnya dengan program Disaster Emergency Starter Pack (DISESPACK). Tim PKM yang lolos pendanaan pada bulan Mei ini ingin agar alat ini bisa mendorong masyarakat untuk lebih tanggap bencana. Hal tersebut dapat direalisasikan melalui langkah Triple E Programs. Pertama yakni emergency backpack (ransel darurat), kemudian educate of housewives (edukasi ibu rumah tangga), dan e-socialization of disaster response (sosialisasi elektronik program tanggap bencana). Menurut Vani Rizka selaku ketua tim menerangkan bahwa meski sudah cukup matang, program tersebut membutuhkan dukungan kuat dari pemerintah. Sehingga inovasi DISESPACK tersebut bisa sampai pada masyarakat luas. Lebih lanjut, mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM ini menjelaskan tiga realisasi program terkait. dimulai dengan emergency backpack yakni ransel darurat yang menjadi alat bantu dalam menghadapi bencana. Di dalamnya bisa ditemukan persediaan pangan dan bahan pokok. “Rencananya akan ada satu ransel di setiap rumah. Sehingga ketika terjadi bencana, tiap rumah sudah siap menghadapi dengan persediaan yang ada di dalam tas tersebut,” terusnya. Vani juga menjelaskan terkait educate of wifehouse. Menurutnya, program tersebut masih memiliki hubungan dengan program pertama. Nantinya akan diberikan edukasi kepada para ibu rumah tangga untuk mengganti secara rutin makanan dan bahan-bahan yang akan kadaluarsa pada tas darurat itu. Hingga nanti ketika bancana alam melanda, stok bahan pangan dan kebutuhan sudah terjamin dengan aman. Terakhir, yakni e-socialization of disaster response yakni aktivitas sosialisasi. Tidak hanya dari pemerintah saja tapi juga bisa dari pihak lain. “Bisa melalui media sosial atau alat informasi lainnya. Inginnya kami juga mengutamakan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana,” tegasnya menerangkan. Terakhir, Mahasiswa kelahiran Pasuruan ini juga berharap agar program DISESPACK dapat disosialisasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Timnya juga akan menyebarkan edukasi dan program tersebut melalui video animasi yang dikemas dengan menarik. Hal itu dilakukan agar edukasi tersebut bisa dipahami dengan mudah oleh semua kalangan. “Sosialisasi tanggap bencana ini bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama dilakukan oleh pihak yang berwajib seperti BNPB. Kemudian juga bisa dilaksanakanoleh pihak lain melalui media elektronik yang sebagian besar menggunakan media sosial,” tuturnya mengakhiri. (haq/wil)

Lectures & Student Exchange PGSD UMM Bahas Tiga Skema Utama Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Lectures & Student Exchange pada Jumat (2/7) lalu. Kali ini mereka bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam rangka membahas tiga skema utama, yakni perkembangan peserta didik, pendidikan inklusi, dan pembelajaran tematik. Adapun agenda ini dilangsungkan secara daring dan diikuti oleh para mahasiswa angkatan dua tahun terakhir. Mengawali gelaran tersebut, Arina Restian, M.Pd. selaku ketua Prodi PGSD UMM mengungkapkan bahwa tiga skema itu sengaja dipilih. Hal itu tidak lepas dari misi prodi untuk mengantarkan para mahasiswa menjadi pakar di tiga bidang terkait. Ia ingin agar seluruh mahasiswa menyambut positif dan baik agenda tersebut. “Kami ingin agar para peserta bisa menjadi lulusan yang profesional, unggul, praktisi dan siap menjadi akademisi yang juga terampil di tengah-tengah masyarakat,” tuturnya. Sementara itu, Nur Amalia, M. Teach yang didapuk menjadi pemateri utama menerangkan terkait “Merancang a well-designed Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)”. Menurutnya, implementasi lembar kerja peserta didik yang berorientasi Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) sangat diperlukan mahasiswa dalam menyusun inovasi LKPD. “Apalagi dalam pembelajaran daring seperti saat ini yang membutuhkan inovasi agar peserta didik mampu belajar dengan nyaman. Semoga setelah kegiatan ini, para mahasiswa dapat menyusun LKPD yang sistematis sesuai dengan karakteristik peserta didik. Hingga akhirnya mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan,” tandas Ketua Prodi PGSD UMS itu. Tidak hanya menyuguhkan materi, kegiatan ini juga dikemas dengan interaktif dan inovatif. Beberapa kali diselingi tanya jawab dan kuis sederhana sebagai pemantik awal terkait paparan-paparan yang akan disampaikan. Di samping itu, para peserta juga diberi waktu untuk menyusun LKPD melalui live worksheet. Kemudian diberi kesempatan untuk mempresentasikan apa yang berhasil dirampungkan dan disusun. Pada kesempatan yang sama, Dr. Minsih sebagai pemateri kedua memaparkan terkait pendidikan inklusi. Ia menjelaskan bahwa pendidikan jenis ini sudah diterapkan sejak tahun 2010. Menurutnya, sistem pendidikan inklusi apda dasarnya memiliki perbedaan dengan sekolah inklusi. “Beberapa aspek yang membedakan keduanya adalah tujuan, materi, proses hingga evalusi,” terangnya melanjutkan. Lebih lanjut, sebelum tahun 2010, wadah anak berkebutuhan khusus hanya berada di sekolah khusus dengan nama “Sekolah SLB”. Namun dengan adanya sekolah inklusi, anak berkebutuhan khusus juga dapat bersekolah dengan anak regular lainnya. Minsih juga sempat membagikan tips, trik hingga solusi mengahadapi problematika pada pelaksanaan pendidikan inklusi. Terakhir, adapula pemaparan terkait perkembangan peserta didik yang disampaikan oleh Dr. Murfiah Dewi Wulandari, M.Pd. Dalam keterangnnya ini, Murfiah menggarisbawahi bahwa kecerdasan majemuk dapat dikembangkan melalui kegiatan ektrakurikuler yang sesuai. Proses pembelajaran juga dapat dirancang sesuai dengan karakteristik siswa yang bersangkutan. Sebagai penutup, Murfiah juga sempat memberi tips kepada para mahasiswa mengenai cara menghadapi perbedaan individu peserta didik. “Dalma menghadapi problematika perbedaan karakteristik individu peserta didik, perlu adanya pembiasaan diri. Para mahasiswa bisa mengikuti kegiatan-kegiatan seperti program kampus mengajar, KKN, magang dan lainnya,” pungkasnya menerangkan. Adapun kegiatan Lecturer & Students Exchange ini merupakan bagian dari hibah Kerja Sama Kurikulum dan Implementasi (KSKI) program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diperoleh Prodi PGSD UMM. Dalam hibah ini, Prodi PGSD mengusung pengembangan kurikulum berbasis Local Wisdom melalui Niche Market. Program dielaborasi menjadi lima kegiatan, mulai dari pertukaran mahasiswa, asistensi mengajar, penelitian dan pengabdian, workshop media digital assessment, serta workshop enterpreneurship berorientasi niche market. (*/wil)

Periode ke 100 Wisuda UMM: Siapkan Lulusan Berdaya Saing Internasional

Raihan predikat kampus bintang tiga dari lembaga QS Stars yang dicapai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melengkapi rekognisi internasional yang sudah diperoleh. Sebelumnya, UMM juga telah dianugerahi sebagai kampus Islam terbaik di dunia versi UniRank. Kampus putih juga telah menyiapkan mahasiswa dan lulusannya dengan berbagai kemampuan agar mereka memiliki daya saing internasional. Salah satu cara untuk mendapatkan daya saing internasional yakni dengan membentuk manusia unggul. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang, H.E. Mr. Heri Akhmadi, dalam  wisuda ke 100 UMM yang dilangsungkan secara daring dan luring dengan protokol kesehatan yang ketat. Menurutnya, manusia unggul adalah mereka yang merdeka, beriman dan bertaqwa, berilmu serta berbudaya. “Pun mereka yang selalu berusaha mengabdi kepada masyarakat dengan ide-ide inovatifnya,” tutur Heri. Ciri-ciri manusia unggul yang Heri sebutkan selaras dengan program dan kegiatan yang ada di UMM. Sebut saja Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) yang berusaha mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik serta memiliki jiwa kepemimpinan. Adapula program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) yang mendorong mahasiswa untuk berkontribusi dengan inovasi-inovasi unik dan menarik. Selain dua hal tadi, UMM juga menyediakan berbagai kegiatan agar para alumni bisa terbentuk menjadi manusia unggul. Demi mendapatkan tujuan tersebut, Heri mengungkapkan bahwa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digagas Kemendikbud memiliki peran strategis. Berbagai kebebasan diberikan oleh MBKM kepada kampus untuk menerjang sekat-sekat yang dulu membatasi. Begitupun dengan para mahasiswa yang memperoleh kebebasan untuk memilih mata kuliah, belajar di universitas lain, bahkan juga di negara lain. “Semua kebebasan dalam proses belajar mengajar tersebut bisa ditemukan dengan mudah di UMM ini,” tuturnya lebih lanjut. Selain itu, menyiapkan para lulusan untuk bisa terjun di ekonomi digital juga menjadi aspek penting dalam rangka membentuk pribadi yang berdaya saing internasional. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Dubes Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok (RTT), H.E. Mr. Djauhari Oratmangun bahwa ada potensi besar yang dimiliki oleh sektor ekonomi digital. Djauhari, panggilan akrabnya, mengatakan jika berkaca pada RRT, ada sekitar 162 unicorn yang memiliki transaksi e-commerce mencapai 2,4 triliun dollar US. Sementara Indonesia memiliki lima unicorn dan satu decacorn serta transaksi e-commerce sebesar 44 miliar dolar US. “Ada potensi besar di bidang ekonomi digital Indonesia. Apalagi adanya daya tarik yang luar biasa dari generasi muda, termasuk para wisudawan dan wisudawati yang hadir hari ini,” tuturnya di sesi wisuda ke 100 UMM, Selasa (29/6) lalu. Maka dari itu, dijelaskan Djauhari, para wisudawan sebagai pengemban tongkat estafet selanjutnya harus memanfaatkan kesempatan dan potensi yang ada di depan mata. Sehingga mereka mampu mengambil bagian dan menentukan arah positif bagi Indonesia. “Semua orang punya peran. Upaya positif apapun memiliki kontribusi bagi kejayaan bangsa yang kita cintai ini. Jadi, teruslah berkarya dan bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya menjelaskan. Sertifikat profesional juga memiliki peran penting agar para alumni bisa bersaing di dunia kerja level nasional dan internasional. Maka dari itu, UMM juga telah menyediakan Lembaga Sertifikasi Profesi untuk menyelenggarakan sertifikasi kompetensi bagi para mahasiswa yang akan lulus. “Tidak hanya disiapkan untuk bekerja, di UMM para mahasiswa juga didorong dan dibekali kemampuan untuk creating the job, menciptakan lapangan pekerjaan,” tutur Kunjung Masehat, S.H., M.H. Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Sementara itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P menerangkan bahwa UMM sudah membekali para alumninya dengan beragam hal. Dua di antaranya adalah ilmu dari pembelajaran yang didapat dalam proses belajar mengajar. Kemudian juga menyiapkan bekal dalam aspek pembentukan karakter. “Saya rasa aspek inilah yang memberikan corak berbeda pada diri wisudawan. Hal itu pula yang membuat keterserapan alumni UMM relatif tinggi. Terbukti dengan raihan bintang lima pada sisi employability yang diperoleh dari QS Stars,” jelasnya menerangkan. Terakhir, hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM. Ia merasa capaian bintang lima aspek employability menjadi bukti bahwa kompetensi dan kemampuan yang dimiliki wisudawan bisa bersaing dengan mereka di tingkat internasional. “Artinya modal untuk sukses secara institusional sudah diberikan oleh kampus. Tinggal bagaimana saudara memanfaatkan peluang yang ada di depan mata. Saya yakin para wisudawan memiliki energi positif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Teruslah optimis dalam menghadapi fase kehidupan selanjutnya,” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Wastafel Canggih Kaya Fitur

Mencuci tangan sudah menjadi keharusan untuk mencegah penularan virus Covid-19. Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil merancang wastafel otomatis. Tempat pencuci tangan otomatis tersebut dirancang oleh Anwar Syaddad, Nasihul Fattah, dan Sania Umazatul Amsa, yang tergabung dalam satu kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC). Setelah lolos pendanaan PKM Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dikti) pada (5/5), mereka melanjutkan perancangan alat itu pada bulan Juni ini. Selain berangkat dari situasi pandemi virus corona ini, Anwar menjelaskan bahwa ketika mencuci tangan, masyarakat masih diharuskan untuk menutup keran. Hal itu membuat bakteri tidak benar-benar hilang. Pemasalahan kecil itulah yang memancing ide inovatif mereka hingga akhirnya mampu merancang tempat cuci tangan tanpa harus menyentuh. “Alat ini sekaligus mengurangi resiko penularan melalui bakteri bekas sentuhan yang masih tertinggal di keran,” tegasnya. Mahasiswa kelahiran Pamekasan ini juga sempat menjelaskan bagaimana cara kerja wastafel otomatis yang dibuat. Alat tersebut memanfaatkan teknologi sensor penghalang, sehingga bisa mendeteksi ada tidaknya tangan sebagai penghalang. Jadi, air akan menyala tanpa adanya sentuhan di bagian keran. Uniknya, wastafel ini juga memanfaatkan panel surya sehingga tidak bergantung pada listrik bangunan di sekitarnya. “Panel surya yang terpasang akan disandingkan dengan baterai sebesar 20 volt. Ukuran tersebut akan tetap bertahan selama dua hari meski tidak ada sinar matahari bahkan hujan,” ujarnya melanjutkan. Mahasiswa Teknik Elektro ini juga menambahkan bahwa ada fitur lain yang disematkan di alat wastafel otomatis, salah satunya fitur pengukur suhu. Ketika ada orang mencuci tangan, wastafel tersebut juga secara otomatis mengukur suhu tubuhnya. “Data suhu setiap orang yang mencuci tangan nantinya akan ditambahkan dan didaftar di database website. Jadi pengecekan suhu otomatis tersebut bekerja secara offline dan online. Daftar yang didapat tentu akan sangat berguna untuk data medis sebagai bahan penelitian,” terang Anwar. Anwar selaku ketua kelompok PKM berharap dengan adanya alat ini bisa menjadi solusi dan upaya pencegahan virus corona. Terlebih lagi angka penularan yang semakin hari semakin naik. “Alat yang kami buat ini adalah bentuk kontribusi kami agar bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Pun kalau ada inovasi tambahan untuk wastafel ini, tentu akan dibuat sedemikian rupa agar lebih memberikan dampak positif,” ungkapnya mengakhiri. (haq/wil)

Laisya, Atlet Panahan yang Jadi Wisudawan Terbaik UMM

Tekuni dunia panahan sejak kecil, antarkan Nur Laisya Mayeda menjadi peraih mendali emas tingkat provinsi. Wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode dua tahun 2021 ini telah memborong medali perunggu sampai emas dalam rentang waktu tiga tahun. Terhitung ada delapan medali emas, tiga medali perak, dan satu medali perunggu yang didapatkannya dalam perlombaan di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur serta Kalimantan Selatan. Laisya sapaan akrabnya berkata bahwa bakatnya dalam panahan ini diturunkan dari sang ibu yang juga merupakan atlet panahan. Ia berkata ketertartarikannya pada dunia panahan tumbuh karena sejak kecil selalu di ajak ibu untuk latihan.“Sudah dikenalkan dengan olahraga panahan sejak saya kecil. Untuk mendaftar di UMM dulu saya juga menggunakan jalur minat bakat dengan melampirkan piagam internasional ketika mengikuti lomba panahan BIMP-EAGA,” ungkap wisudawan Fisioterapi tersebut. Selain aktif di Persatuan panahan Indonesia (Perpani) Kota Malang, Laiya juga kerap mengikuti agenda internasional seperti projek AIESEC Clean Our Planet yang dilaksanakan selama enam minggu di Malaysia. Meskipun sangat aktif dalam kegiatan non akademik, Laisya tidak melupakan tugas-tugas akademiknya. Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku bahwa niat awalnya hanya menyeimbangkan sisi akademik dan non akademik. Ia tidak menyangka akan menjadi wisudawan terbaik pada periode dua tahun 2021. “Di Fakultas Fisioterapi jadwalnya cukup padat. Saya juga sempat tertinggal di bidang akademik pada semester awal. Ketika saya izin untuk mengikuti perlombaan, pihak Prodi berkata apakah saya sanggup menyeimbangkan keduanya. Mereka takut kesehatan saya menurun. Dari situ, saya mulai bertekad untuk menyeimbangkan latihan dan akademik serta membagi waktu dengan baik,” kata wisudawan asal Tapin, Kalimantan Selatan tersebut. Laisya mengaku bahwa tanggung jawab kepada orang tua membuatnya bertahan dan merampungkan kuliah tepat empat tahun. Laisya juga berkata bahwa ia ingin menjadi contoh yang baik untuk adiknya. “Saya ingin memberikan yang terbaik kepada kedua orang tua. Setelah lulus ini, saya juga  ingin ilmu saya bermanfaat untuk masyarakat di sekitar tanpa mengesampingkan hobi dan minat saya. Rencananya saya akan segera mengikuti Porprov selanjutnya,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Menko PMK Ingatkan Pentingnya Karakter dan Moral Pada Wisudawan UMM

Gelaran wisuda ke-100 Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar pada Jumat (2/7) lalu. Berlokasi di Dome UMM, acara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Muhadjir Effendy selaku Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) serta Kepala LLDIKTi Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Adapun gelaran itu menjadi penutup rangkaian wisuda UMM yang ke-100. Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM menjelaskan bahwa para wisudawan telah memiliki bekal secara institusional karena telah dilahirkan oleh UMM, kampus yang memperoleh banyak pengakuan internasional. Satu di antaranya diperoleh dari UniRank, lembaga survei yang berlokasi di Australia. UMM berhasil dinobatkan menjadi perguruan tinggi Islam terbaik di dunia. “Terbaru, kampus putih juga sukses meraih predikat kampus bintang tiga dari lembaga pemeringkatan QS Stars pada minggu lalu,” terang Fauzan. Dijelaskan Fauzan, Ada dua aspek yang meraih nilai sempurna lima bintang. Salah satunya adalah Employability, aspek yang memiliki peluang strategis bagi wisudawan. Hal itu membuktikan bahwa kompetensi dan kemampuan para wisudawan dapat dijadikan modal untuk bersaing di dunia kerja. Tidak hanya di lecel nasional tapi juga internasional. “Artinya modal untuk sukses secara institusional sudah diberikan oleh kampus. Tinggal bagaimana saudara memanfaatkan peluang yang ada. Saya yakin saudara memiliki energi positif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Teruslah optimis dalam menghadapi fase kehidupan selanjutnya,” tuturnya. Sementara itu, Muhadjir Effendy mengatakan bahwa para wisudawan yang akan meninggalkan kampus dan berkiprah di masyarakat merupakan fenomena yang mesti terjadi. Menurutnya, UMM sudah memberikan bekal yang cukup bagi mereka untuk mengarungi dan menghadapi dunia yang sebenarnya. “Satu di antaranya adalah pengalaman belajar. Bagaimana pengabdian para tenaga pengajar dalam mencerdaskan para wisudawan. Begitupun dengan fasilitas belajar yang memiliki andil besar dalam pembentukan aspek akademis dan intelektual,” jelas Muhadjir. Hal kedua yang UMM bekali adalah dari aspek pembentukan karakter. Bagaimana para wisudawan dibentuk agar bisa memiliki cara berpikir, sikap serta tindakan berdasarkan standar-standar UMM. Menurut Muhadjir, aspek inilah yang membuat keterserapan para alumni dalam dunia kerja cukup tinggi. “Tidak hanya unutk mendapatkan kerja, UMM juga memberikan bekal para alumni untuk bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas,” tegasnya melanjutkan. Ia juga tidak lupa memberi pesan kepada para wisudawan agar mengisi malam-malamnya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Di samping itu juga mendorong mereka untuk berjalan di atas bumi dengan rendah hati serta tidak pongah dan menyombongkan diri. “Jika kita dilecehkan, jangan membalas dengan cara yang sama. Tapi doakan mereka agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan lupa juga untuk berinfak serta mendekatkan diri pada Allah. Karena jika kita dekat dengan Allah, Ia juga akan dekat dengan kita,” pungkas Muhadjir. Pada kesempatan yang sama, Kepala LLDIKTi Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Menyebutkan bahwa ada dua syarat perguruan tinggi yang bagus. Hal pertama ialah dipenuhi atau tidaknya syarat formal. Beberapa diantaranya mencakup sarana prasana, akreditasi, bahkan juga dosen-dosennya. “ Saya rasa UMM sudah melebihi itu semua. Jumlah doktornya melimpah, pundengan profesornya. Akreditasi prodinya juga banyak yang A maupun B,” terangnya. Kemudian adapula syarat substansial, yakni bagaimana UMM menjalankan pembelajarannya. Jika dilihat dari capaian UMM yang meraih berbagai rekognisi internasional, maka UMM tentu sudah melewati standar-standar tersebut. Soeprapto, panggilan akrabnya juga berpesan agar para wisudawan terus berpikir kritis. Ditambah dengan kemampuan kreatif dalam menghadapi dunia yang semakin dinamis. Begitupun dengan aspek komunikasi. Menurutnya, para wisudawan tidak cukup jika hanya memiliki kemampuan bahasa Indoensia. Harus ada kemampuan bahasa internasional lainnya. Di samping itu, para wisudawan juga harus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Tidak hanya terbatas apda teman saja, tapi juga mereka yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia, bahkan juga bangsa lain yang bisa diajak kolaborasi. “Terakhir, saya juga berpesan agar terus memperbaiki moral. Namun saya rasa UMM sudah sangat cukup membekali para wisudawan dalam berbagai aspek ini. Maka ketika semua aspek ini dimiliki, jalan kesuksesan akan mudah ditemui,” pungkasnya di akhir sambutan. (wil)

Mahasiswa UMM Rancang Teknologi Optimalisasi Budidaya Lobster

Budidaya lobster memiliki peluang yang besar di wilayah Indonesia. Tak hanya yang sudah dewasa, bayi lobster pun banyak diburu oleh masyarakat. Namun sampai saat ini budidaya lobster masih jarang dilakukan. Masyarakat masih mengandalkan hasil alam dalam memperoleh hewan laut satu ini. Dalam rangka meningkatkan komoditas lobser di Indonesia, tim mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rancang alat optimalisasi budidaya lobster air laut bernama Smart Pond. Dhia Balqis salah satu perwakilan tim berkata bahwa permasalahan utama dalam budidaya lobster di Indonesia adalah masalah marikultur. Sebut saja pemanfaatan potensi lahan perikanan budidaya yang belum optimal. Selain itu juga sistem produksi dan tracebility pembudidayaan lobster belum ditangani dengan baik. “Menurut kami, di kawasan budidaya lobster kurang tersedia infrastruktur yang mendukung. Beberapa permasalahan itu memicu adanya masalah baru seperti penjualan benih lobster secara ilegal dan korupsi terhadap penjualan maupun pembelian lobster,” ungkap mahasiswa asal Bekasi tersebut. Mengenai cara kerja Smart Pond, Dhia menjelaskan bahwa alat tersebut dapat mengondisikan kolam budidaya sesuai dengan habitat asli lobster di laut. Ketika dipasang, alat ini secara otomatis akan menyesuaikan indikator atau parameter kolam seperti di air laut. “Misalkan kolam memiliki pH  9 sementara lobster membutuhkan pH 7-8. Hal itu akan langsung diatur secara otomatis oleh alat tersebut. Selama dua setengah bulan perancangan alat ini, tim kami telah sampai pada perakitan sensor dan pemrograman Smart Pond,” kata Dhia. Menariknya, alat satu ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil lolos ke tahap pendanaan pada Mei lalu. Dalam perancangan Smart Pond, Dhia ditemani oleh empat anggota lainnya yaitu Zidni Ilman Nafian, Fia Sulis Setiani, Doliansyah, dan Andre Juan Pradipa. Saat ini mereka sedang menyelesaikan prototype dari Smart Pond. Kedepannya timnya berharap alat ini dapat membantu permasalahan dan kendala dalam meingkatkan budidaya lobster air laut. “Saya juga ingin agar nantinya inovasi ini dapat digunakan oleh semua kalangan masyarakat serta dapat mendongkrak perekonomian negara. Selain itu, saya juga berencana menyusun jurnal atau artikel untuk mempublikasikan Smart Pond dalam rangka mendukung penelitian penerapan teknologi di dunia pendidikan,” tandasnya. (syi/wil)

Bisnis Travel Alumni UMM Raih Penghargaan Terbaik se-Malang

Hobi traveling sejak kuliah mengatarkan Fikri Bagus Zakaria menjadi pemilik agen travel terbaik di Kota Malang. Alumni Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah mendirikan bisnis travelnya ‘Smartway.id’ sejak empat tahun yang lalu. Smartway.id miliknya berhasil terpilih menjadi agen travel terbaik se-Malang versi TripAdvisor Traveller’s Choice. Fikri, sapaan akrabnya bercerita bahwa ia mulai suka traveling ke dalam maupun luar negeri ketika masuk kuliah. Dari hobi tersebut ia berkeinginan untuk mendirikan bisnis travel sendiri. Berbekal ilmu soft marketing dari penjurusan Publik Relation (PR) Ikom UMM serta pengalaman dua tahunnya sebagai marketing BMW, Fikri mulai merintis bisnisnya. “Sebenarnya, keluarga saya memang sudah bergerak di bisnis Food And Beverage (F&B), jadi pemikiran untuk membuka bisnis sudah ada sejak lama. Meski memiliki keinginan untuk membuka bisnis, saya tidak tahu cara berjualan dan mau bisnis apa. Maka dari itu bekal penjurusan PR di UMM, pengalaman mengikuti komunitas, serta juga pengalaman kerja selama dua tahun benar-benar membuka wawasan saya serta menambah relasi bisnis,” ungkap Fikri. Anak ketiga dari empat bersaudara ini menceritakan perjuangan bisnisnya selama pandemi. Masuknya Covid-19 ke Indonesia benar-benar memukul sektor pariwisata. Hal tersebut juga berdampak pada jalannya bisnis Smartway.id. Namun dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ia dan bisnis agen travelnya mulai bangkit kembali. “Di masa yang serba sulit seperti ini, kita harus pintar-pintar mencari peluang. Sisi positifnya, kami dapat melakukan beberapa pengembangan di bidang-bidang yang dulu tidak terlalu diperhatikan. Kami juga menambah beberapa tim baru salah satunya adalah tim dokumentasi untuk mendukung proses bisnis,” kata Fikri. Di tengah-tengah kesulitan seperti ini, Fikri sangat bersyukur karena Smartway.id dinobatkan sebagai agen travel terbaik di Malang. Fikri berharap ke depannya keadaan akan segera membaik dan berjalan normal seperti sebelum pandemi. “Semoga pandemi segera berlalu, masyarakat juga segera divaksinasi, sehingga teman-teman dari sektor pariwisata dapat bangkit lebih baik daripada tahun sebelumnya,” pungkasnya. (syi/wil)

Dubes Indonesia untuk RRT Ajak Wisudawan UMM Ambil Peran di Ekonomi Digital

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan gelaran wisuda pada Selasa (29/6) lalu. Wisuda UMM yang ke-100 tersebut dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Djauhari Oratmangun dan juga Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Kunjung Masehat, S.H., MH. Adapun agenda ini dilangsungkan secara daring dan luring dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Mengawali agenda dengan sambutan, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM mengungkapkan bahwa reputasi UMM telah diakui dan mendapatkan rekognisi internasional. Terbukti dengan penetapan kampus putih sebagai kampus Islam terbaik dunia pada awal tahun 2021. Disusul dengan predikat kampus bintang tiga yang didapat dari lembaga pemeringkatan QS Stars. “Satu dari dua aspek UMM yang mendapat nilai sempurna yakni employability. Ini menunjukkan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh alumni kampus putih ini layak untuk bersaing di nasional bahkan juga internasional,” tegasnya. Pada gelaran wisuda itu pula dilaksanakan penyerahan sertifikat kelayakan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM yang diserahkan oleh Kunjung Masehat selaku ketua BNSP. Usai penyerahan, Masehat dalam sambutannya mengatakan pengakuan yang didapat UMM dari berbagai lembaga internasional membuktikan, bahwa sistem yang berlaku di kampus putih ini bisa diterima dengan baik di dunia industri. Menurutnya, sistem tersebut juga sudah link dan match dengan kebutuhan dunia industri yang ada. “Bahkan tidak hanya disiapkan untuk bekerja, di sini para mahasiswa juga didorong dan dibekali kemampuan untuk creating the job, menciptakan lapangan pekerjaan,” tutur Masehat. Sementara itu, Djauhari Oratmangun yang hadir secara virtual dari Beijing mengawali orasi ilmiahnya dengan mengajak para wisudawan untuk membayangkan keadaan di 20 tahun yang akan datang. Momen di mana tongkat estafet sudah dipegang oleh mereka. “Pada 2045 nanti, saat NKRI memperingati 100 tahun kemerdakaan akan ada berbagai pertanyaan yang mendatangi saudara. Pertama adalah bagaimana kontribusi saudara terkait pembangunan manusia. Kemudian juga pembangunan ekonomi yang berkelanjutan serta pemerataannya. Lalu yang terakhir adalah pemantapan ketahanan nasional,” tuturnya. Djauhari juga menerangkan bahwa sebelum pandemi, perkenomian Indonesia terus berkembang. Terbukti dengan pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,02%. Namun sayang, pandemi datang disusul dengan resesi global yang mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia dengan kontraksi minus 2,07%. “Meski begitu, ada banyak perkembangan positif terkait kerjasama bilateral Indonesia. Terakhir, kedua negara sepakat untuk menjalin kerjasama kemitraan strategis komprehensif di berbagai bidang. Dirangkum dalam tiga pilar yaitu politik keamanan, politik ekonomi dan sosial budaya. Selain itu kedua negara juga melakukan sinergi program pembangunan bersama pada 2018 lalu,” lanjutnya. Menurut Djauhari, pandemi yang terjadi sama sekali tidak mengendorkan kerja sama keduanya, justru semakin erat dan baik. Kerja sama di berbagai bidang dilakukan hingga berdampak pada penyediaan lapangan kerja di Indonesia melalui pembukaan kawasan industri. “Secara khusus, saya melihat ada peluang besar di bidang ekonomi digital. Apalagi adanya daya tarik yang luar biasa dari generasi muda termasuk para wisudawan dan wisudawati yang hadir hari ini. Jika dilihat, Tiongkok merupakan negara ekonomi digital terbesar kedua dengan 162 unicorn serta transaksi e-commerce yang mencapai 2,4 triliun dollar US. Indonesia juga memiliki potensi yang luar biasa dengan lima unicorn dan satu decacorn serta transaksi e-commerce sebesar 44 miliar dolar US,” terangnya. Di samping itu, adapula kerja sama lain di bidang  infrastuktur kesehatan. Sebut saja kerjasama produksi vaksin dan juga pelayanan kesehatan. Begitupun dengan pembangunan manusia. Djauhari mengatakan ada berbagai program yang memungkinkan warna negara Indonesia untuk mengembangkan potensinya. Disediakan berbagai beasiswa jenjang sarjana dan juga pendidikan vokasi bagi warga Indonesia. Maka dari itu, dijelaskan Djauhari, generasi muda termasuk wisudawan sebagai pengemban tongkat estafet selanjutnya harus memanfaatkan eratnya kerja sama kedua negara. Apalagi melihat ekonomi digital RRT yang harus dimanfaatkan dan menjadi pelecut agar mampu mengambil bagian serta menentukan arah positif bagi Indonesia. “Semua orang punya peran. Upaya positif apapun memiliki kontribusi bagi kejayaan bangsa yang kita cintai ini. Jadi teruslah berkarya dan bermanfaat bagi sesama. Sekali lagi selamat, semoga para wisudawan bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat dengan baik ke depannya,” pungkasnya dalam orasi. (wil)

Ini Rahasia Lovie Jadi Wisudawan Terbaik UMM

Mendapatkan nilai dan prestasi yang konsisten tidaklah mudah. Banyak usaha dan kedisiplinan yang dikerahkan untuk mencapai itu semua, hal itulah yang dialami oleh Lovie Kartika Sari. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris ini dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang ke-100 periode II tahun 2021. Lovie sapaan akrabnya bercerita bahwa menjaga prestasi dan nilai selama kuliah adalah tekadnya sejak menjadi mahasiswa baru. Baginya dimanapun ia berada, asal memiliki tekad yang kuat dan konsisten prestasi akan turut menyertai. “Saya sempat minder dengan teman-teman yang masuk PTN. Tapi saya mencoba untuk membuktikan bahwa prestasi bisa diperoleh dari mana saja. Karena itu, saya bertekad untuk selalu berprestasi baik secara akademik maupun non akademik,” kata mahasiswa asal Sidoarjo tersebut. Untuk mempertahankan konsistensi untuk menjadi yang terbaik, Lovie membagikan kiat-kiat belajarnya. Hal paling penting ketika memahami materi dosen adalah mendengarkan dengan baik dan mencatat setiap hal yang sudah dijelaskan. Selain itu, Lovie juga kerap merekam materi ketika dosen menerangkan. Selama proses kuliahnya di UMM, ia sangat menghindari tidur larut malam. “Kalau saya tidur larut malam, saya tidak bisa berkonsentrasi dengan maksimal ketika pagi hari. Maka dari itu, saya memilih untuk tidur cepat dan bangun lebih pagi. Selain itu, kebiasaan saya adalah membawa laptop ke manapun saya pergi. Jadi ketika nongkrong atau rapat tetap dapat mengerjakan tugas dan mengulang materi. Dalam mengerjakan tugas juga jangan pernah setengah-setengah. Mending sekalian capek tapi hasilnya memuaskan,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara tersebut. Selain memperhatikan nilai akademik, Lovie juga ikut dalam berbagai non akademik. Terbaru, Lovie mengikuti program kampus merdeka untuk mengajar di SDN 2 Landungsari ketika masa pandemi. Lovie berkata jadwal harian membantunya untuk tetap imbang antara akademik dan organisasi. “Kalau ada jadwal harian serasa lebih tertata saja. Jam segini harus apa, jam segitu harus memulai apa. Adanya runtutan jadwal ini juga menjadi pengingat akan banyaknya tanggungan yang ada,” ujarnya menjelaskan. Ketika menerima kabar bahwa dirinya terpilih sebagai wisudawan terbaik, Lovie mengaku sangat tak menyangka. Pasalnya ia melihat banyak teman lain yang lebih berprestasi dan juga memiliki IPK yang sempurna. “Saya bersyukur kerja keras yang saya lakukan terbayar dengan baik. Saya harap kedepannya dapat lebih membanggakan orangtua dan mampu membagikan ilmu saya kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (syi/wil)